tag:

28 Juni 2008

'Rekaman' Band SMA



High School Band

Tidak lama setelah lulus SMA, saya pernah iseng-iseng mengumpulkan lagu-lagu yang pernah band kami bawakan semasa SMA. Tentunya yang terkumpul adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi aslinya, karena band kami belum pernah merekam lagu-lagu itu dalam versi kami sendiri. Dan lagu-lagu yang terkumpul itu saya rekam menjadi 1 kaset.

Sleeve ‘proyek rekaman’ album kaset kami pada waktu itu adalah seperti di bawah ini :

------------------------------------------------------------------------------------------

Songs

Lead Vocals

Original Artists

Rhythm of The Rain

Edwin

Jason Donovan

It Must Have Been Love

Rina & Bong Stephanie

Roxette

Spending My Time

Arthy

Roxette

Till Death Do Us Part

Arthy/Edwin

White Lion

Love of A Lifetime

Arthy/Edwin

Fire House

Ice Ice Baby (unfinished)

----

Vanilla Ice

The Time Alone with You

Martin

Bad English

Nothing Else Matter

Edwin

Metallica

Stand By Me

Edwin

Ben E. King

Smells Like Teen Spirit

Edwin

Nirvana

Can’t Cry Hard Enough

Martin

William Brothers

To Be With You

Martin

Mr.Big

When A Man Loves A Woman

Edwin

Michael Bolton

My Girl

Edwin

The Temptations

It’s Over Now

Edwin

L.A. Guns

You Don’t Love Me Anymore

Edwin

’Weird’ Al Yankovic

Heaven Knows

Edwin

Rick Price

Silver Bells

Edwin

Ray Conniff Singers

Just Wanna Be Your Friend

Edwin

Puck & Natty

The Album Crew
Producer : Edwin
Co-Producers : Yonas, Lesly ’nkunk’, Renanta ’otong’
Executive Producers : Lesly, Edwin
Sound Engineer : Lesly

Mixed & Re-recorded at SEGA Team’s Headquarter (Lesly’s Room)


The Band (1990 – 1993) are :
Martin : lead vocals, guitars, basses, background vocals
Yonas : keyboards, background vocals
Ferry : drums, background vocals
Edwin : lead vocals, guitars, basses, background vocals
Arthy : lead vocals, background vocals (member 1990 – 1992)
Adhit : guitars, background vocals (member 1992 – 1993)
Sandra : keyboards, background vocals (member 1992 – 1993)


Additional Musicians

Rina

lead vocal on

It Must Have Been Love

Bong Stephanie

lead vocal on

It Must Have Been Love

Andre ’cablak’

drums on

Nothing Else Matter



The Time Alone With You



Smells Like Teen Spirit


The Band
Producers : Ferry, Yonas, Martin
Executive Producers : Yonas, Martin
Music Director : Yonas

Produced 1990 – 93
Compiled 1993

The Band Production 1993

------------------------------------------------------------------------------------------


Last Action Band

Pada saat yang bersamaan, saya juga mengumpulkan dan merekam ’edisi khusus’ lagu-lagu yang dibawakan oleh band kami pada penampilannya yang terakhir. Sama seperti proyek rekaman sebelumnya, rekaman kali ini juga merekam lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi aslinya.

Sleeve ‘proyek rekaman’ album kaset edisi khusus kami pada waktu itu adalah seperti di bawah ini :

------------------------------------------------------------------------------------------

Songs

Lead Vocals

Original Artists

Just Wanna Be Your Friend

Edwin

Puck & Natty

Easy

Edwin

Faith No More

Looking Through Patient Eyes

Edwin

P.M. Dawn

Goodbye

Martin

Air Supply


The Album Crew
Producer : Edwin
Co-Producers : Ka-el
Executive Producers : Edwin, Ka-el
Sound Engineer : Edwin

Mixed & Re-recorded at Ceger Raya 27 (Ka-el’s Room)


The Band (in the last action) are :
Martin : lead vocals, basses, background vocals
Yonas : keyboards, background vocals
Edwin : lead vocals, bass, background vocals
Adhit : guitars, background vocals
Sandra : keyboards, background vocals
Andre ’cablak’ : drums, background vocals
Nadia : background vocals


The Band
Producers : Ferry, Yonas, Martin
Executive Producers : Yonas, Martin
Music Director : Yonas

Produced 1993
Compiled 1993


The Last Action Band Production 1993

------------------------------------------------------------------------------------------


Mungkin sekarang kasetnya udah ngga bisa diperdengarkan lagi. Tapi kenangannya selalu ’terdengar’ dengan jelas saat saya baca sleeve kasetnya.

24 Juni 2008

THE CHRONICLES OF NARNIA: PRINCE CASPIAN: Narnian with a ’Vengeance’

Image and video hosting by TinyPic


Title:
The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Director:
Andrew Adamson

Plot:

A year after their first adventure in Narnia, Peter, Susan, Edmund, and Lucy are pulled back in by Susan's magic horn. They find that hundreds of years have passed, and Narnia is now ruled by the bloodthirsty General Miraz, uncle to the true heir, Prince Caspian, now in exile. Now the children must find Caspian and help him depose Miraz...but how will they get home after it's done?

Note:

Sekalipun gue terharu banget dengan cerita dari sekuel pertama film ini, gue ngga terlalu suka dengan visualisasi film pertamanya. Terlalu anak-anak visualnya. Makanya gue sempet ragu dengan sekuelnya ini. Tapi memang ngga boleh lah sering-sering prejudice. Karena ternyata setelah nonton, gue suka dengan film ini. Visualisasinya jauh lebih ‘dark’ daripada film pertamanya dan menurut gue ceritanya jauh lebih seru.

Memang ngga banyak quoted yang bisa disimak dari visualisasi sekuel novel CS Lewis kali ini. Tapi pace cerita yang bagus bikin gue terbawa bener ke dalam ceritanya. Ada perasaan heroik bercampur haru waktu Narnian bersama Princa Caspian menyerang Kastil Telmarine. Banyak cara yang ngga pernah dibayangkan manusia, digunakan dalam penyerangan itu.

Sekalipun ngga banyak quoted-nya, tapi justru gue banyak nangkep makna yang tersirat dari cerita film ini. Sekalipun Pevensies adalah orang-orang muda (kalo ngga mau dibilang masih anak-anak) tapi kapabilitas mereka dalam mempertahankan Narnia (baca: kebenaran) semangatnya tak bisa ditandingi oleh Telmarine. Strategi Narnian juga cukup jitu.

Dan ada pesan tersirat yang gue rasa cukup relevan dengan kondisi bumi akhir-akhir ini: jangan coba-coba merusak dan melawan alam. Anda ngga akan sanggup menerima balasan dari alam!!

14 Juni 2008

RAMBO: Reload ...... Ready ........ Fire!!

Title:
Rambo

Director:
Sylvester Stallone

Cast:
Sylvester Stallone, Julie Benz, Paul Sculze


Plot:

In this latest Rambo installment, John Rambo has retreated to a simple life in a rural Thai village near the Burmese border, capturing snakes for local entertainers, and transporting roamers in his old PT boat. Following repeated pleas, Rambo helps ferry a group of Christian aid workers into war-torn Burma, where the local Karen villagers are regularly tortured and massacred by Major Tint's sadistic soldiers. The humanitarian mission is going well, until the village is attacked and the missionaries are kidnapped, and Rambo is once again asked to transport - but this time a group of mercenaries, assembled by the missionaries' minister on a deadly rescue mission. This time he doesn't stay behind.


Note:

Emang telat banget gue nonton film ini. Tapi emang mood-nya baru dapet. Padahal ngga lama setelah film ini premiere di Jakarta, temen gue udah ngomporin gue untuk nonton film ini. Dia bilang puas banget nonton film ini. Dia tertarik nonton Rambo karena liat trailernya yang untuk release di Jerman. Trailer US ngga ada apa-apanya dibanding trailer Jerman. Wah kayaknya emang keren nih.

Sambil nunggu mood, bolak balik gue liat-liat review film ini di mana-mana. Banyak yang bilang keren sih. Akhirnya sampai juga mood-nya.

Ngga salah kalo tagline film ini bilang ‘Heroes never dies ..... they just reload’. Rambo di film ini nunjukin bagaimana seharusnya Rambo beraksi. Bisa jadi begini ini seharusnya film perang aksi (action-war) dibuat. Awalnya sempet kebayang film ini bakal seperti film-filmnya Steven Seagal. Tapi bayangan gue ngga terbukti. Rambo jauh lebih asyik daripada film-filmnya Steven Seagal. Filmmaker-nya pinter banget manfaatin ‘era keterbukaan’ perfilman mutakhir dunia. Mungkin kalo film ini dirilis 25 tahun yang lalu bakal kena banned di mana-mana.

Adegan pertempurannya efektif banget. Pace-nya terjaga dengan bagus. Dar der dor yang cukup panjang ngga terasa melelahkan. Plot-nya cukup bagus dalam hal menggiring gue untuk terus mau nonton film ini sampe habis. Padahal ‘trend’ nonton gue akhir-akhir ini adalah ketiduran (kecuali di bioskop) :D

Heroisme Rambo ngga digambarkan dengan sok megah, sekalipun Ki Rambo tetep invincible. Ngga ada tuh gambar-gambar Rambo yang ‘diagungkan’. Cukup terwakili dengan visualisasi pertempuran habis-habisan sekaligus mengerikan.