tag:

29 September 2008

LASKAR PELANGI: Ketidak Adilan Indonesia

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Laskar Pelangi

Sutradara:
Riri Riza

Produser:
Mira Lesmana

Penulis:
Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana

Pemeran:
Lukman Sardi, Cut Mini Theo, Slamet Rahardjo Djarot, Mathias Muchus, Teuku Rifnu Wikana, Ario Bayu, Alex Komang, Jajang C Noer, Tora Sudiro, Robby Tumewu, Ikranegara, Rieke Diah Pitaloka, Zulfanny, Verrys Yamarno, Ferdian, Yogi Nugraha, M. Syukur Ramadan, Suhendri, Febriansyah, Jeffry Yanuar, Suharyadi Syah Ramadhan, Dewi Ratih Ayu Safitri, Marcella El Jolia Kondo, Levina

Musik:
Titi Syuman, Aksan Syuman

Distributor:
Miles Production dan Mizan Sinema


Cerita:
Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.


Catatan:
Saat mulai rame kabar-kabar tentang produksi film ini, saya masih belom baca novelnya. Malah saya lagi asyik nanya-nanya singkat soal musik film ini ke Aksan Syuman dalam masa promo film Karma. Akhirnya pada Ramadhan tahun ini, tuntas juga saya baca habis novel yang mendasari film ini.

Sejak saya selesai baca novelnya, saya justru banyak mikirin gimana caranya filmnya akan dibuat, terutama mengenai alur ceritanya. Dari tulisan dalam novel yang lebih mirip blog itu, tentunya penulis skenario filmnya bakal kesulitan menyusun tuturan cerita untuk filmnya. Belum lagi kompleksitas karakter-karakter utama yang minimal mengangkat 10 anak Laskar Pelangi. Tapi dari acara Kick Andy yang mengangkat tema tentang produksi film ini, saya jadi tahu seperti apa kira-kira cerita film ini. Dalam acara itu Andrea menyatakan sudah approved pada skenario yang disodorkan tim produksi film Laskar Pelangi (ditulis oleh Salman Aristo dan dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana). Dan Andrea juga menyatakan bahwa skenario tersebut masih menangkap spirit dari novelnya.

Dari situ saya berkesimpulan bahwa sudah bisa dipastikan bahwa akan terjadi beberapa perbedaan antara novel dengan filmnya, namun saya tidak kuatir karena skenario filmya sudah approved oleh penulis novelnya sendiri. Dan memang di setiap adaptasi sebuah novel menjadi film, adalah hal yang tidak bisa dihindari adalah terjadinya perbedaan dalam penuangan ke dalam dua media yang memang berbeda itu.

Film spesial seperti ini sudah semestinya saya tonton dengan cara yang special juga. Maka berangkatlah saya ke Blitz Megaplex untuk menontonnya! (makasih untuk Miles dan Blitz Megaplex atas ‘kerja sama’nya :D ) Dan yang menarik kali ini, saya menonton film ini bersama istri saya yang sama sekali belum membaca novel Laskar Pelangi. Jadi menarik karena dalam niatan menonton film ini, istri saya nyaris tidak memiliki ekspektasi apa pun. Sedangkan saya dengan agak susah payah menghilangkan ekspektasi karena sudah menyelesaikan membaca novelnya. Bahkan istri saya sempat bilang bahwa sebenarnya dia tidak terlalu tertarik untuk menyaksikan film yang mengangkat tema tentang anak-anak, apalagi kalo temanya hampir mirip dengan Denias. Padahal kami belum sempat menonton Denias.

Selesai film diputar dan ternyata istri saya bisa menikmati film ini secara utuh, meski di sana sini muncul pertanyaan seperti apa kalo di novelnya. Saya akui ada beberapa adegan yang cuma bisa dimengerti bagi mereka yang sudah membaca novelnya. Tapi secara umum film ini cukup bisa mengangkat spirit dari novelnya. Bahkan tema kesenjangan kesempatan pendidikan dan kesenjangan sosial lebih dipertajam dalam film ini. Fokus penokohan lebih diutamakan pada karakter Bu Mus dan Pak Harfan. Dan tema kesenjangan lebih diangkat melalui dialog tokoh-tokoh utama dengan tokoh-tokoh rekaan ‘tambahan’ seperti Pak Bakri, Pak Zul dan Pak Mahmud.

Gaya bercerita yang berbunga-bunga di novel diadaptasi sedemikian rupa untuk dibumikan di dalam film. Kita tetap dapat melihat tokoh Lintang yang cerdas namun tetap dekat dengan kewajaran keseharian. Cerita dari novel disusun menjadi runtut, lebih lugas. Seperti adegan Lintang pamit yang dibuat dengan pas dan tidak terjebak menjadi melarat-larat dalam kesedihan. Dalam hal tema kesenjangan, terasa sekali bahwa Salman Aristo mengeluarkan ‘keahlian’nya dalam penulisan dialog-dialog yang cukup kena dengan kritik-kritik sosialnya.

Bohong kalo saya mengaku tidak sekalipun membandingkan novel dengan filmnya. Jujur aja, saya deg-degan menantikan beberapa visualisasi adegan dari cerita yang tersampaikan dengan indah dalam novelnya. Dalam hal visualisasi adegan menurut saya tidak mengecewakan, terutama untuk adegan-adegan ‘penting’ seperti tarian di karnaval, kuku cantik di toko, pertemuan Ikal dengan Aling, Ikal patah hati dan pamitnya Lintang. Bahkan saya memuji adegan kuku cantik dan Ikal yang patah hati bisa divisualkan dengan pas, karena saya menilai adegan ini pasti sulit sekali dituangkan ke dalam film. Dalam novelnya, Andrea mampu melukiskannya dengan persis seperti perasaan anak kecil yang baru mengenal cinta. Dan Riri cukup pas menuangkannya ke dalam adegan film.

Dari obrolan singkat dengan Aksan Syuman beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengharapkan musik film ini menjadi megah, indah dan mendayu-dayu melayu. Tapi ternyata malah musik film ini terasa melebur dengan gambar-gambar indahnya. Adegan dan musiknya menjadi seimbang.

Mungkin membumikan novel menjadi film Laskar Pelangi bisa mengecewakan bagi beberapa penggemar fanatik novelnya. Tapi apakah seorang sutradara dan penulis skenario boleh begitu saja dibatasi visi dan kreativitasnya? Dan dengan gampang melupakan semangat dari produksi film ini dalam memberdayakan aktor-aktor lokal dari Belitong?

Kalo saja saya boleh berpendapat, mungkin sutradara yang pas untuk menuangkan novel Laskar Pelangi ke dalam film adalah seorang Julie Taymor yang dengan sukses pernah membesut Across the Universe dengan segala artisitik visualnya yang memang selalu menjadi ciri khasnya. Tapi serta merta saya menjadi tidak adil dengan membandingkan seorang Riri Riza, yang selalu bersemangat mengangkat keIndonesiaan dalam film-filmnya, dengan Julie Taymor yang kiprahnya sudah diakui secara internasional.

15 September 2008

HARRY POTTER DAN RELIKUI KEMATIAN: Habis Gelap Terbitlah Terang

Judul:
Harry Potter dan Relikui Kematian

Penulis:
J. K. Rowling

Judul asli:
Harry Potter and Deathly Hallows

Penerjemah:
Listiana Srisanti

Ilustrator:
Mary GrandPré (AS, RI)

Negara:
Inggris Raya

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Serial:
Harry Potter

Genre:
Fiksi, Fantasi

Penerbit:
Gramedia (Indonesia)

Tanggal terbit:
3 Januari 2008 (hardcover), 26 Januari 2006 (softcover)

Halaman:
759 (AS)


Catatan:
Setelah kelelahan membaca seri sebelumnya, membaca seri yang ketujuh ini juga sempat membuat kening berkerut tapi tetep penasaran. Jadi saya baca buku ini terus melaju aja, menggempur maju! Niat saya cuma ingin menuntaskan petualangan Harry Potter yang pernah ‘menjebak’ saya beberapa tahun yang lalu. Banyak yang bilang kalo bacaan Harry Potter sudah tidak pantas, atau bahkan memang tidak pantas saya baca, jika dilihat dari golongan umur dan sisi mistis/sihirnya. Tapi anggapan semacam itu tidak saya hiraukan.

Saya tidak percaya sihir, tapi saya mengagumi Ms. Rowling sepenuhnya. Bagaimana tidak, saya selalu penasaran bagaimana cerita epik anak-anak terbesar yang pernah ada akan berakhir? Dan saya yakin bahwa Ms. Rowling sudah memiliki keseluruhan cerita epik ini di dalam kepalanya sejak pertama kali dia menuliskan bab pertama buku Harry Potter and The Sorcerer Stone.

Dalam buku ketujuhnya, terbukti sekali lagi bahwa ketujuh buku ini adalah satu kesatuan yang utuh, suatu maxi seri sebuah cerita tentang anak yang terpilih yang terentang sepanjang tujuh tahun kehidupan masa remajanya. Keliatannya tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, tapi menceritakan masa tujuh tahun ke dalam cerita bukanlah hal yang mudah. Apalagi ini adalah cerita berbalutkan fantasi sihir.

Kegelapan yang terus melingkupi cerita sampai ke penuntasannya (yang juga berdarah-darah) semata-mata sebagai sarana untuk penyelesaian cerita yang sudah dijembatani sebelumnya dengan seri keenam dengan amat sangat kelam.

Secara linier, kita semua bisa melihat bahwa cerita ini sesederhana yang baik mengatasi segala macam kejahatan. Namun pencapaian kepada kebenaran dan cahaya keselamatan dicapai dengan cara yang cenderung melingkar dan berliku. Saya kira pembaca dewasa dapat lebih mendalami moral cerita seri ketujuh ini dibanding pembaca anak-anak. Cerita jadi semakin seru dan semakin menawan. Sekalipun tentang dunia sihir anak-anak, ceritanya dibuat sedekat mungkin dengan kenyataan, kenyataan yang manusiawi. Tidak semua yang baik harus selamat. Dan juga ada beberapa karakter abu-abu yang ternyata berperan untuk sisi yang putih.

Buku yang tebal ini penuh dengan cerita yang intense dan memuncak pada adegan pertempuran besar nan heroik. Kekelaman yang melingkupi sejak awal ditebus untuk mencapai terang di Stasiun King Cross pada era yang baru.

14 September 2008

LASKAR PELANGI: Inspiratif Puitis

Judul:
Laskar Pelangi

Penulis:
Andrea Hirata

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Genre:
Roman

Penerbit:
Bentang Pustaka, Yogyakarta 2005

Halaman:
XI, 529 halaman

ISBN:
ISBN 979-3062-79-7


Catatan:
Begitu buku ini dibahas di acara Kick Andy, gue baru ngeh bahwa sebenernya gue udah pernah ‘kenal’ sama yang namanya Andrea Hirata. Iya bener. Jauh-jauh hari sebelum Kick Andy memwawancaranya, profil Andrea Hirata pernah ditulis secara berseri di tabloid Nova. Tapi waktu itu gue ngga hirau, mungkin karena adanya di tabloid ‘ibu-ibu’. Malah waktu itu gue mengira Bung Andrea adalah seorang perempuan perkasa karena sekilas aja liat fotonya dan sama sekali ngga baca tulisan tentang profilnya. Malunya saya! :D

Abis nonton Kick Andy langsung deh tertarik beli bukunya. Katanya kan tetralogi, ya mulai beli buku pertamanya dulu deh. Dan emang kebeneran waktu itu lagi punya uang agak lebih, dan gue emang kalo pas punya uang lebih pasti nyisihin untuk beli buku, minimal 1 buku. Berhubung waktu itu masih banyak buku yang belum terbaca (sampe sekarang juga masih sih) jadinya ngga langsung dibaca deh, cuma diliat-liat dikit-dikit.

Dari baca-baca sekilas, jujur aja sempet ngga tertarik karena gaya bahasanya. Menurut gue cenderung ajaib dan nyastranya ngga nendang. Bukannya sombong, tapi gue suka baca karya-karya Kahlil Gibran dan juga suka baca karya-karya ‘revolusioner’nya Ayu Utami. Dan dari sekilas, karya Andrea Hirata ini ngga ada di antara ke duanya. Kayaknya masih di bawah deh.

Mulai tertarik mulai baca novel roman ini setelah gue tau kalo bakal difilmkan. Dan ngga tanggung-tanggung filmnya bakal dibesut Riri Riza, diproduseri Mira Lesmana dan didukung musik score karya Sri Aksana Sjuman. Dan Bung Aksan sampai bela-belain bikin instrumen musik khusus supaya bisa dapetin nuansa Melayu Belitongnya. Dari hasil ngobrol-ngobrol ringan dengan Bung Aksan, gue dapet gambaran betapa susahnya memfilmkan Laskar Pelangi. Nah sebagus apa sih bukunya?

Awal Ramadhan sepertinya waktu yang tepat buat gue untuk membaca Laskar Pelangi. Selain karena ‘utang’ gue baca Harry Potter sudah tuntas, mood membaca novel masih bagus untuk nerusin baca novel lainnya. Dan Laskar Pelangi adalah model tulisan novel yang baru untuk gue baca. Seperti yang gue duga sebelumnya, gaya tulisannya sempet bikin gue ngernyitkan dahi; ini mo nyastra ato mo plintiran sih?! Tapi ternyata yang bikin gue kagum, sekalipun sambil mengernyitkan dahi dan udah agak-agak mengantuk waktu itu, gue sempet baca sampe habis bab kelima!
Akhirnya gue hanyut juga terbawa cerita Laskar Pelangi sampai selesai. Memang Bung Andrea Hirata menuliskan tentang mimpi, cita-cita dan semangat. Tapi dari cara penyampaiannya yang terbang mengawang berbunga-bunga (ngingetin gue dengan cara bercerita si karakter Ed Bloom di film Big Fish) malah bisa memancing gue untuk melihat sisi-sisi lain dari cerita utamanya. Misalnya gue jadi tau betapa ‘jahat’nya rezim orde baru dalam mengeksploitasi timah di Pulai Belitong (kita kenal sebagai Pulau Belitung, bagian dari Propinsi Babel), tidak cuma dalam eksploitasi timah tapi juga menciptakan struktur masyarakat berjenjang yang cenderung menjajah penduduk asli Belitong.

Dari sisi pembangunan bangsa, buku ini menyampaikan bahwa sampai hari ini masih saja terjadi ketidak merataan kesempatan berpendidikan yang salah satunya disebabkan ketidak merataan pembangunan infra struktur. Ibu Muslimah kebetulan adalah orang asli Belitong yang mau mengabdikan seluruh usianya untuk kemajuan pendidikan di Kampong Gantong. Dari sini bisa dibayangkan seberapa betahnya seorang guru dari Jawa ditugaskan untuk mengajar di pedalaman Papua sana.

Cerita Laskar Pelangi tidak hanya sebatas luas Belitong tapi dengan puitis juga memotret kondisi pedalaman Indonesia.

07 September 2008

THE TATTOOIST: Horror from Other Side of Our World

Image and video hosting by TinyPic

Title:
The Tattooist

Director:
Peter Burger

Writers:
Matthew Grainger & Jonathan King

Casts:
Jason Behr, Mia Blake, David Fane, Robbie Magasiva, Caroline Cheong, Michael Hurst, Nathaniel Lees

Plot:
American tattoo artist Jake Sawyer (Jason Behr) wanders the world, exploring and exploiting ethnic themes in his tattoo designs. At a tattoo expo in Singapore, he gets his first glimpse at the exotic world of traditional Samoan tattoo (tatau), and, in a thoughtless act, unwittingly unleashes a powerful angry spirit. In his devastating journey into Pacific mysticism, Jake must find a way to save his new love, Sina (Mia Blake) and recover his own soul.

Note:
Iseng-iseng nyobain liat film ini. Apalagi udah ‘ngintip’ review-nya di imdb.com. Adalah sedikit rasa penasaran karena dibilang film ini ngga seperti film-film horror yang pernah ada di Hollywood. Dan bener aja beda, karena secara cerita dan produksi, film ini dibuat oleh produksi New Zealand. Kultur tattoo Suku Samoa coba diangkat sebagai latar cerita di film ini.

Cerita cukup mengalir dengan baik. Dan film ini menyuguhkan kisah horor yang ngga memakai formula thriller apalagi slasher. Yang biasa liat horor made in Hollywood kayaknya bakalan kurang nyaman nonton film ini. Tapi buat yang pingin tau horor yang beda dari New Zealand, dijamin bakal ngikutin sampe habis (kayak gue :D). Ngga hanya dengan horor made in Hollywood, film ini juga beda formula dengan horor Thailand dan horor Asia umumnya. Tapi gue ngerasa lebih ada kedekatan tema dengan horor Asia, mungkin karena New Zealand itu berada ‘cuma’ di Samudera Pasifik yang ngga jauh-jauh amat dari Asia, apalagi Asia Tenggara.

Emang enak sih kalo bisa nonton suatu film dengan meminimalisir ekspektasi kita kepada film itu.

TARIX JABRIX: The Changcuters pada Masanya

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Tarix Jabrix

Sutradara:
Iqbal Rais

Penulis:
Hilman Hariwijaya & Sofyan Jambul

Pemeran:
Tria Changcut, Erick Changcut, Qibil Changcut, Alda Changcut, Dipa Changcut, Carissa Putri, Francine Roosenda

Cerita:
Sahibul hikayat di Bandung ada seorang pemuda yang bangga dipanggil ‘Cacing’ ingin sekali bergaya bersama gank motornya ‘Tarix Jabrix’ sekaligus ingin mengubah image buruk gank motor menjadi kelompok yang tertib, sopan dan hormat kepada orang tua! Disela-sela perjuangannya mengusung gank motor santunnya, Cacing juga terlibat dalam romansa dengan seorang gadis cantik di sekolahnya, yang sialnya adalah adik dari dedengkot gank motor ‘Smokers’yang terkemuka di Bandung! Akankah Tarix Jabrix menjadi culun berhadapan dengan Smokers?

Catatan:
Nonton film ini jadi teringat WARKOP DKI (d/h WARKOP Prambors) yang awalnya terkenal karena acara bodor di radio dan karena ketenarannya sampai dibikinkan film (bahkan menjadi serial). Formula semacam ini juga diikuti oleh beberapa kumpulan bodor lainnya, seperti Srimulat, Pancaran Sinar Petromax, Bagito, Lenong Rumpi dan lain sebagainya.

The Changcuters bisa dikategorikan ke dalam kelompok bodor sekalipun mereka aslinya adalah musisi (tapi musisi dengan semangat bebodoran). Entah termasuk strategi pemasaran ato memang memanfaatkan ketenaran grup musik ini, film ini sepertinya mendadak dibikin. Kalo ‘membaca’ riwayat grup musik ini, bisa jadi film ini ngga mendadak dibikin mengekor ketenaran The Changcuters. Karena sebenernya The Changcuters sudah terkenal di scene musik anak muda sebagai band Indie sebelum albumnya dirilis ulang oleh major label.

Kalo suka ato bahkan ngefans dengan The Changcuters pastinya bakalan seru nonton Tarix Jabrix. Dari sisi akting boleh juga koq. Changcuters cukup bisa mentransfer gaya bodor mereka dari musisi menjadi anggota gank motor yang tetep hormat pada orang tua. Ceritanya juga cukup enak mengalir sekalipun gimmick gaya Bandung tetep kental. Musik di film ini pun banyak diambil dari albumnya The Changcuters. Film yang bercerita secara flash back ini diselipkan banyak penampilan cameo yang beberapa di antaranya sebagai kejutan. Bahkan ada penampilan cameo yang namanya ‘dipelintir’!

Sekalipun ada beberapa gimmick dan joke yang ngga kena di gue tapi film ini lumayan segar di antara film-film komedi lain yang ngga kreatif. Enak untuk hiburan. Dan untuk The Changcuters, film ini bisa jadi memorabilia. Belom tentu akan ada film lain lagi yang dibintangi The Changcuters.

WALL.E: Kalo Bukan Kite Nyang Ngurusin Bumi Kite, Siape Lagi?

Image and video hosting by TinyPic

Title:
WALL•E

Director:
Andrew Stanton

Writers:
Andrew Stanton & Pete Docter

Voice Casts:
Ben Burtt, Elissa Knight, Jeff Garlin, Fred Willard, MacInTalk, John Ratzenberger, Kathy Najimy, Sigourney Weaver

Plot:
In a distant, but not so unrealistic future, where mankind has abandoned earth because it has become covered with trash from products sold by the powerful multi-national Buy N Large corporation, WALL-E, a garbage collecting robot has been left to clean up the mess. Mesmerized with trinkets of earth's history and show tunes, WALL-E is alone on Earth except for a sprightly pet cockroach. One day, Eve, a sleek (and dangerous) reconnaissance robot, is sent to earth to find proof that life is once again sustainable. WALL-E falls in love with Eve. WALL-E rescues Eve from a dust storm and shows her a living plant he found amongst the rubble. Consistent with her "directive" Eve takes the plant and automatically enters a deactivated state except for a blinking green beacon. WALL-E, doesn't understand what has happened to his new friend, but true to his love, he protects her from wind, rain, and lightening, even as she is unresponsive. One day a massive ship comes to reclaim Eve, but WALL-E, out of love or loneliness hitches a ride on the outside of the ship to rescue Eve. The ship arrives back at a large space cruise ship, which is carrying all of the humans who evacuated earth 700 years earlier. The people of earth ride around this space resort on hovering chairs which give them a constant feed of TV and video chatting. They drink all of their meals through a straw out of laziness and/or bone loss, and are all so fat that they can barely move. When the auto-pilot computer, acting on hastily given instructions sent many centuries before, tries to prevent the people of earth from returning, by stealing the plant, WALL-E, Eve, the portly captain, and a band of broken robots stage a mutiny

Note:
Kalo aja ngga diajak gathering oleh anak-anak Forum Movie Kaskus, kayaknya gue ngga bakalan nonton film ini pada waktu-waktu awal pemutarannya di Indonesia. Jaman gue nguber-nguber film tayang premiere di bioskop udah lewat. Sekalipun tetep pingin nonton film asyik di bioskop, tapi gue udah ngga suka lagi berlama-lama antri tiket untuk film-film yang baru premiere. Tapi untuk film ini boleh juga sih, apalagi sekalian gathering rame-rame. Mungkin lain waktu boleh juga gathering Forum Movie Kaskus di acara pemutaran film-film festival ato film indie.

Kalo film ini sih kayaknya ngga perlu dibahas panjang-panjang deh. Secara pribadi, film-film animasi bikinan Pixar sejauh ini ngga pernah mengecewakan gue. Tapi secuil ekspektasi gue ada yang salah untuk film ini. Kalo dipikir lagi sih ngga apa-apa juga, karena adegan-adegan di Axiom menjadikan film ini bisa diterima untuk kalangan yang lebih luas. Dan dari ‘penjelasan’ di situlah akhirnya jadi jelas bahwa Planet Bumi ini memang diciptakan untuk manusia, bukan untuk Wall.E! Seburuk apa pun kondisi Planet Bumi ini, manusia harus bertanggung jawab dan harus terus mengusahakan yang terbaik untuk perbaikan tempat tinggalnya.

01 September 2008

THE DARK KNIGHT: Fight for Humanity: Insanity versus Insanity



Title:
The Dark Knight (2008)

Director:
Christopher Nolan

Writers:
Jonathan Nolan, Christopher Nolan

Casts:
Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Michael Caine, Maggie Gyllenhaal, Gary Oldman, Morgan Freeman, Cillian Murphy, Chin Han, Nestor Carbonell, Eric Roberts

Plot:
Batman raises the stakes in his war on crime. With the help of Lieutenant Jim Gordon and District Attorney Harvey Dent, Batman sets out to dismantle the remaining criminal organizations that plague the city streets. The partnership proves to be effective, but they soon find themselves prey to a reign of chaos unleashed by a rising criminal mastermind known to the terrified citizens of Gotham as The Joker.

Note:
Ada yang pernah nonton langsung konser musik grup/penyanyi idolanya?? Nonton langsung liat dari deket idolanya di panggung?? Terasa amat sangat euphoria?! Seperti itu kira-kira perasaan gue waktu nonton film ini.

The Dark Knight emang gue tunggu-tunggu supaya bisa gue tonton di layar lebar. Sekalipun ngga sempet nonton premiere-nya di Indonesia, tapi thanks to Blitz Megaplex yang tetep bisa kasi experience nonton layar lebar yang asyik sekalipun sudah hampir lewat masa tayangnya di Jakarta.

Sejak menit pertama film ini dimulai, perasaan gue ngga brenti diaduk-aduk cerita dan adegan-adegannya. Mulut gue terasa menganga karena kagum. Tapi kepala gue tetep berpikir. Dan pikiran yang langsung terlintas adalah bahwa film ini bukan film anak-anak! Film ini juga memanjakan para pecinta komik Batman. Dan yang perlu dicatat di sini adalah Christopher Nolan membuat film ini dengan rasa senyata-nyatanya. Gue dibikin percaya bahwa di dunia ini memang ada karakter jahat seperti Joker yang cuma mau bersenang-senang dengan kejahatannya tanpa ingin kemakmuran apa pun, dan cuma punya tujuan satu; membunuh Batman!!

Joker menjadi karakter psycho yang absolut di tangan almarhum Heath Ledger. Keseluruhan aspek karakter Joker dimainkan dengan sempurna. Gue sampe ngga mengenali bahwa Joker yang ada di layar film itu diperankan oleh Mr. Ledger, yg biasanya gue ngga suka aktingnya. Biasanya dalam berdialog, Ledger cenderung ngga jelas dan ngga pernah terlihat membuka lebar mulutnya untuk berartikulasi. Tapi kali ini gue ngga lihat Ledger yang itu!! Temen gue ada yang bilang kalo aja Ledger dari dulu bisa berperan seperti yang dilakukan sebagai Joker, mungkin udah dari dulu dapet Oscar! Rasanya ngga apa-apa juga Ledger meninggal dunia. Dia ibarat meninggal di panggung, meninggal dalam puncak performanya. Ledger jadi tak tergantikan. Instant legend!!

Perseteruan ‘abadi’ Joker vs Batman divisualkan dengan keren. Batman kali ini bener-bener diadu frontal dengan Joker. Adegan Batman head to head dengan Joker yang tergantung terbalik menyampaikan simbolisasi perseteruan abadi kedua kutub ekstrim kewarasan. Batman dalam ‘kegilaannya’ berusaha sekuat tenaga dan dengan segala cara untuk mengalahkan kegilaan Joker.

Kalo Dark Knight terasa nyata, bukankah sebenernya comic diciptakan sebagai ‘parodi’ kepada dunia nyata?! Rasanya ngga salah kalo Christopher Nolan bikin film ini jadi senyata-nyatanya. Batman begitu membumi dan manusiawi. Tapi juga terasa bahwa mungkin saja dunia sekarang ini bener-bener butuh sosok Batman, bukan sebagai pahlawan (hero) tapi lebih sebagai pejuang ksatria (knight) yang terus-menerus berjuang tanpa putus demi kebenaran. Persis seperti apa yang Gordon bilang kepada anak laki-lakinya.

Dalam keterpukauan gue atas Dark Knight, ada juga hal yang bikin gue terpukau; ada mahkluk cantik duduk selang 2 seat dari gue. Waktu itu theater tidak penuh, jadi sekalipun selang 2 seat gue bisa liat dengan jelas kecantikan mahkluk itu. Sebenernya sih perempuan cantik sih banyak (secara istri gue juga cantik). Yang menarik di sini, mahkluk cantik itu nonton Dark Knight sendirian!!! Apa ‘kehebatan’ Dark Knight sehingga bisa bikin mahkluk secantik itu rela nonton sendirian?? Faktor kegantengan Christian Bale kah?? Ato memang mahkluk cantik itu begitu hebatnya dalam menikmati suatu film seperti Dark Knight sehingga mampu dan mau nonton sendirian di bioskop?? Seinget gue sih emang sempet liat perempuan itu di lobby dan keliatannya emang sendirian. Kalo aja waktu itu gue sendirian ..........