tag:

24 Januari 2009

PINTU TERLARANG: Warning: No Spoiler Allowed!



Judul:
Pintu Terlarang

Sutradara:
Joko Anwar

Pemeran:
Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe


Catatan:
Kayaknya bener deh apa yang dibilang Joko Anwar supaya ngga baca novelnya sebelum nonton film ini. Karena udah baca, di sepanjang film gue jadi lebih memperhatikan alur cerita dengan sedikit terjebak membandingkannya dengan cerita di novelnya. Padahal banyak tampilan-tampilan visual yang memerlukan lebih banyak konsentrasi dibandingkan sekedar alur cerita.

Dalam film ini cerita keseluruhan terfokus pada pencarian jati diri seorang Gambir melalui pemecahan misteri semua kejadian di sekelilingnya pada orang-orang terdekatnya. Dalam proses pencarian tersebut, ditampilkan banyak sekali gambar-gambar yang menggugah kewarasan gue. Bahkan sejak adegan awal dan juga divisualkan dalam opening title bikin gue tersedot ke dalam sebuah dark ride yang semakin bikin gue deg-degan.

Struktur penceritaan yang rapi bikin gue ngga bisa sempat berhenti untuk bosan dan mengantuk. Mirip novelnya yang dengan sempat gue taruh sampai dengan selesai, film ini selalu bikin mata gue ngga lepas dari layar. Kayaknya gue diajak ikutan pusing oleh si tokoh utama dalam proses pencariannya.

Adegan penyiksaan si anak kecil misterius, bikin gue mikir banyak soal efek kekerasan pada anak-anak di masa dewasa mereka, ato bahkan di masa sebelum mereka dewasa. Ngeri banget!! Musti lebih hati-hati kayaknya untuk semua jenis kekerasan dan adegan kekerasan yang bisa dilihat/didengar anak-anak, sekalipun cuma ‘kekerasan’ verbal.

Ada pengurangan tokoh dari novelnya, tapi memang tujuannya supaya penonton lebih fokus kepada tokoh utama. Misteri dan kejadian-kejadian di luar dugaan yang dihadapi Gambir memancing gue berpikir apakah hal-hal itu juga ada di dunia nyata.

Joko Anwar sepertinya bersenang-senang sekali dalam pembuatan film ini. Sepertinya seluruh kemampuan dan kesenangannya dituangkan secara menyeluruh dalam film ini. Mulai dari desain opening title terlihat jelas seperti apa genre film favorit si sutradara. Beberapa adegan mengerikan sayangnya ngga terlalu menusuk gue yang udah baca novelnya (ato gue yang udah mati rasa ya??).

Tapi secara keseluruhan film ini menyampaikan sebuah pengalaman menyaksikan film yang sebenarnya; film yang banyak bercerita dengan bahasa visual dalam ‘kekuatan penuh’. Ngga cuma adegan dan akting (semua aktor bermain dengan mantap dan catatan tersendiri untuk akting Marsha Timothy yang tampil beda dan bagus!) tapi juga tone warna, pencahayaan bahkan beberapa billboard/papan nama jalan/nomor pintu ruangan yang ajaib, membuat atmosfir film ini betul-betul thriller dan sinting!

Visualisasi pemecahan misteri jati diri gambir bikin gue nyaris teriak, “YES!!” Sekalipun berbeda dengan yang di novel, justru scene seperti itu yang tepat dengan alur cerita dalam film ini. Ada perasaan lega begitu film selesai, seperti perjalanan gelap baru aja selesai. Tapi ending yang keren, jadinya tetep bikin film ini jadi melekat terus di kepala.

Dari novelnya yang drama thriller diadaptasi dengan bebas menjadi film yang psychological thriller. Ngga terlalu menakutkan secara visual tapi lebih meneror mental. Gue sebenernya jarang banget berani nonton film thriller kayak gini. Tapi berhubung film sejenis masih jarang diproduksi oleh sineas asli Indonesia, tentunya wajib gue tonton. Apalagi gue selalu jadi fans bagi seorang Joko Anwar, yang katanya masih belom punya DVD film pertamanya.

Cameo cukup bertaburan dalam film ini. Bukan cameo juga sih, karena beberapa meski tampil singkat tapi cukup mencuri penampilannya. Tapi ada satu penampilan cameo yang bikin gue kaget karena beliau sudah lama tak terdengar kabarnya; George Sapulete, seorang pelawak senior yang pernah tergabung di Srimulat, yang selalu melafalkan namanya sendiri jadi, “Josss…….Sapulete!”

Gue capek (tapi puas!) waktu nonton filmnya. Tapi lebih capek waktu nulis ini supaya bisa nahan ngga ngasi spoiler apa pun! Kali ini spoiler dalam bentuk apa pun dan sekecil apa pun bakalan mengurangi keasyikan menonton Pintu Terlarang.

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN: Surga Memang Harus Selalu Diperjuangkan

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Perempuan Berkalung Sorban

Sutradara:
Hanung Bramantyo

Pemeran:
Revalina S. Temat, Oka Antara, Widyawati, Joshua Pandelaki, Reza Rahadian, Francine Roosenda

Catatan:
Awalnya tahu kalo Hanung berniat membuat film ini dari info-info ngga lama setelah AAC dirilis. Terbersit kayaknya Hanung lagi suka dengan tema-tema reliji karena AAC menjadi box office waktu itu. Tapi ditambahkan juga bahwa filmnya kali ini bertemakan ‘feminisme’ dalam Islam. Wah temanya ini malah bikin menarik minat gue untuk menontonnya.

Gue siapkan hati dan jiwa untuk menontonnya. Gue selalu tertarik kalo ada yang mengusung feminisme (baca: penyetaraan gender) dalam Islam. Gue selalu sadar bahwa Islam selalu dicitrakan sebagai agama yang berpihak kepada laki-laki. Memang sih udah banyak yang ‘menengahi’ dengan mengutip Ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an atau Hadits Nabi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan dalam Islam. Tapi pada kenyataannya masih banyak perempuan muslim ‘terjerumus’ dalam ketidak adilan gender.

Dalam persiapan itu, ngga sengaja gue nemuin novelnya!! Ternyata film ini didasari dari sebuah novel yang ditulis oleh seorang aktivis muslim perempuan. Langsung aja gue beli dan langsung gue baca sampai selesai (agak di luar kebiasaan gue untuk langsung baca sampai habis buku yang baru aja gue beli). Hasilnya: gue malah makin antusias untuk menyaksikan filmnya.

Dan filmnya berhasil menuturkan dengan indah apa yang disampaikan lugas dalam buku. Tokoh Anissa (tokoh utama) digambarkan mampu berkembang menjadi dewasa dan semakin dewasa dalam hidup. Sekalipun pada setengah jam pertama gue sempet merasa capek dengan lompatan-lompatan adegan yang rasanya ngga terlalu ngalir (mungkin karena gue sempet kecapekan antri di depan loket, 1 jam berdiri!!). Untungnya begitu sampai pada ‘babak pendewasaan’ film ini semakin mengalir dengan deras dan semakin menusuk.

Banyak adegan yang ngga ada di novel ditambahkan dalam film ini untuk lebih mengangkat tema kesetaraan gender tersebut. Dan proses pendewasaan tokoh utama berkembang dalam adegan-adegan itu. Belum lagi dikaitkan dengan buku-buku yang dilarang pemerintah pada waktu itu (kurun waktu cerita pada tahun 80-an). Tokoh utama semakin terbuka wawasannya. Anissa tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kaum perempuan secara keseluruhan.

Revalina yang sehari-harinya halus dalam bertutur kata (kalo gue liat di televisi sih), di sepanjang film ini hampir selalu tampil berwajah keras dengan nada bicara yang tegas sebagai tokoh Anissa. Gugatan yang dilakukan Anissa sejak kecil sepertinya tergambar jelas pada perilaku dan raut wajahnya, seperti halnya mungkin guratan wajah seseorang bisa juga melukiskan betapa dia selalu kesusahan di sepanjang hidupnya. Jarang sekali wajah Anissa terlihat lembut. Yang kadang muncul adalah raut wajah lelah.

Penulis novelnya diajak untuk menjadi cameo dalam salah satu adegan yang berinterkasi langsung dengan Anissa. Dan si sutradara pun berusaha exist tampil di salah satu adegan yang sebenernya sih ngga penting-penting amat….. he he he he he ma’af ya Mas Hanung.

Dari sisi tema yang diangkat, gue melihat ada ‘kontra’ dari karya film reliji Hanung sebelum ini. Mungkin saja setelah menyaksikan AAC, para lelaki bisa bilang, “Islam tuh seperti itu.” Tapi juga bisa jadi setelah menyaksikan Perempuan Berkalung Sorban, para perempuan yang akan angkat bicara, “Yang ngaku Islam tuh mustinya seperti itu pada perempuan.” Yang sering didengar adalah Surga Ada di Telapak Kaki Ibu (baca: Perempuan), tapi kenapa ‘surga’nya perempuan Muslim cuma bisa ada kalo ada surga bagi suaminya?

Buat gue, urusan keyakinan adalah hak masing-masing Individu. Ngga usah deh diganggu-ganggu ato diatur-atur oleh orang lain. Toh aturan bakunya udah ada dalam Kitab suci masing-masing. Tapi menurut gue ada yang lebih besar daripada sekedar beribadah pribadi kepada Tuhan, yaitu memperjuangkan kemanusiaan bagi semua umat manusia.

15 Januari 2009

PINTU TERLARANG: Novel yang Memang Sudah Siap untuk Dijadikan Film

Judul:
Pintu Terlarang

Penulis:
Sekar Ayu Asmara

Penerbit:
AKOER, Indonesia, Mei 2005; 227 hlm.

ISBN:
979-98229-0-4


Catatan:
Heboh upcoming thriller movie yang berjudul Pintu Terlarang karya Joko Anwar ternyata ngga selalu membuat banyak orang yang tahu kalo film itu didasari dari sebuah novel terbitan tahun 2004 yang berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara, yang selain penulis juga seorang sutradara dan produser film (di antaranya memproduseri film Ca Bau Kan, produser-sutradara film Biola Tak Berdawai).

Sebenernya gue udah lama tahu adanya novel ini, bahkan pada awal perilisannya gue udah ‘kenal’. Entah kenapa gue ngga terlalu tertarik membacanya, kayaknya sih waktu itu memang gue lagi ngga terlalu suka baca buku/novel, mungkin sedang asyik-asyiknya nonton banyak film.

Joko Anwar selalu jadi sutradara favorit gue. Dan waktu tersiar kabar akan muncul film terbarunya yang berjudul Pintu Terlarang, seperti biasanya gue selalu mencari tahu banyak soal film ini. Selain karena memang fans Joko Anwar, gue juga penasaran karena film ini punya judul yang sama dengan novel karya Sekar Ayu Asmara. Dan akhirnya gue tahu juga kalo film Pintu Terlarang memang didasari novel ini.

Kebiasaan gue yang satu lagi, kalo ada film yang didasari sebuah tulisan/buku/novel biasanya gue baca dulu. Ini gue lakukan pada ‘kasus’ serial Harry Potter, Flemming’s Casino Royale dan Laskar Pelangi, sekalipun ngga gue lakukan pada trilogy Lord of The Ring dan Twilight. Namanya juga kebiasaan kan, bisa aja pada beberapa waktu ngga kepingin melakukan kebiasaan itu dengan berbagai pertimbangan.

Khusus untuk Pintu Terlarang pun sebenernya gue seperti bimbingan untuk harus membaca novelnya karena pas datang ke salah satu event diskon di grand opening salah satu toko buku terbesar di pusat Jakarta, novel ini seperti mendatangi gue dengan tergeletak persis di ujung sepatu gue!! Waktu itu sih baru sebatas tertarik beli sih. Gue juga punya kebiasaan banyak beli buku (khususnya kalo lagi berlebih uang) tapi belum tentu langsung dibaca. Tapi khusus novel ini menjadi salah satu buku yang langsung gue baca ngga lama setelah gue beli, selain buku Keberanian Bernama MUNIR.

Bukunya ngga tebel, tapi tulisannya cukup kecil-kecil, sekalipun masih dalam ukuran standar. Liat hurufnya, hampir aja gue mengurungkan niat untuk mulai membacanya. Sambil ‘nongkrong’ pagi-pagi gue coba mulai baca novel ini. Dan akhirnya gue malah ngga bisa gitu aja naruh novel ini karena beneran tersedot rasa penasaran untuk baca sampai abis! Novel lain yang sebelumnya jadi temen gue ‘nongkrong’ pagi-pagi malah jadi ditinggal sementara.

Udah lama gue ngga baca novel/cerita yang bikin gue penasaran sampai selesainya. Novel ini bisa bikin gue penasaran dengan gaya penceritaan yang naik turun dan maju mundur dan selalu menebak-nebak plot dan endingnya. Tebakan gue hampir tepat tapi ngga bisa sampai 100% karena ada deskripsi situasi tokoh utamanya yang bikin gue merinding dan tidak gue duga dari awal!

Yang juga cukup menarik untuk terus dibaca adalah penulisan dengan jenis huruf (font type) yang berbeda-beda untuk beberapa tokoh dalam novel ini. Buat gue, pembedaan penulisan jenis huruf ini jadi membangkitkan konsentrasi tertentu untuk karakter tertentu juga.

Novel dengan ending yang asyik dan ‘berani’ ini semakin bikin gue penasaran dengan adaptasi filmnya yang diaku Joko Anwar hanya sebatas ‘loosely based’ saja.

3 DOA 3 CINTA: Kesederhanaan Do’a, Kesederhanaan Cinta, Kesederhanaan Hidup



Judul:
3 Doa 3 Cinta

Sutradara:
Nurman Hakim

Skenario:
Nurman Hakim

Para Pemeran:
Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Butet Kertaradjasa




Catatan:
Dalam 3 bulan terakhir ini gue nonton film di bioskop, ini salah satu film yang gue tonton dengan enak sampai selesainya. Sama sekali ngga ada yang menggantung dan mengganggu. Dan ternyata ngga terganggu juga dengan mood jelek gue sebelom masuk bioskop. Begitu film mulai, gue pun mulai masuk ke dalam dunia yang digambarkan di layar.

Film yang mungkin sekali adalah semi-autobiografi dari sang sutradara disampaikan dengan sederhana dan mengalir tenang. Ibarat sungai, kita sedang memandangi aliran sungai yang sudah tidak dekat dengan air terjun namun masih jernih hingga dasarnya. Seperti juga 3 karakter santri yang dalam masa akhir pemondokannya di sebuah pesantren miskin di Bantul. Dalam dunia mereka yang terbatas (tanpa media massa dalam format apa pun) ‘cita-cita’ mereka pun sederhana.

Sepertinya film ini menyampaikan supaya dalam hidup kita tidak boleh neko-neko, tidak boleh ‘maju’. Namun dalam kesederhanaan pun tak lepas dari godaan dan ujian. Dalam ajaran mengenai kesederhanaan yang mungkin membosankan bisa saja membuat kita menengok ke arah yang ‘lain’ yang belum tentu baik bagi kita. Hal ini menjadi konflik yang disampaikan dalam film ini. Namun niatan hati yang luhur digambarkan dapat menyelamatkan manusia pada akhirnya.

Apa pun pilihan hidup kita, apa pun keinginan kita, semuanya pasti ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan pada akhirnya harus kita pertanggung jawabkan. Sekalipun itu hanyalah sebuah kesederhanaan.

THE SPIRIT: Kapan Ya Gue Bisa Ketemu Frank Miller?

Image and video hosting by TinyPic

Title:
The Spirit

Director:
Frank Miller

Writer:
Frank Miller

Casts:
Jaime King, Gabriel Macht, Eva Mendes, Samuel L. Jackson, Scarlett Johansson, Sarah Paulson

Plot:
Down these mean streets a man must come. A hero born, murdered, and born again. When a Rookie cop named Denny Colt returns from the beyond as The Spirit, a hero whose mission is to fight against the bad forces from the shadows of Central City. The Octopus who kills anyone unfortunate enough to see his face who has other plans. He's going to wipe out the entire city. The Spirit tracks this cold hearted killer from the city's rundown warehouses, to the damp catacombs, to the windswept waterfront all the while facing a bevy of beautiful women who either want to seduce, love or kill the masked crusader.


Note:
Gue beruntung termasuk salah satu dari sedikit yang berkesempatan menyaksikan film ini sebelum dirilis luas di seluruh dunia. Buat para moviegoers di Indonesia sih pasti tahu kalo tadinya film ini bakal dirilis khusus sebagai closing film INAFFF, sebulan lebih awal dari jadwal rilis worldwide-nya. Tapi karena kesulitan teknis dalam shipping-nya (itu juga katanya sih), jadinya diundur sampai 2 hari menjelang perayaan Natal tahun 2008.

Sutradaranya lebih dulu ternama sebagai penulis komik yang bergaya dark. Sepak terjang dalam dunia komik sudah banyak mendapat pengakuan positif dari para pecinta komik di seluruh dunia, terutama setelah Mr. Miller melakukan ‘penulisan ulang’ sejarah Batman dalam cerita Batman: Year One. Karyanya sudah 2 kali diangkat ke layar lebar; Sin City dan 300. Dan debut penyutradaraannya dimulai saat menjadi co-director dalam film Sin City bersama Robert Rodriguez.

Kali ini dalam film ini Mr. Miller dengan santainya malah mengadaptasi komik yang bukan karyanya sendiri, komik yang menurut sejarah adalah salah satu komik tertua yang pernah diciptakan setelah Superman.

Dari trailer yang keren, tentunya pasti banyak moviegoers yang tertarik sekali untuk menyaksikan film ini. Cuma dari trailernya saja, bagi moviegoers yang pernah menonton Sin City sebelumnya, pasti berekspektasi film ini memiliki nyawa sophiticated yang sama. Apalagi katanya film ini dibuat dengan teknik pengambilan gambar terbaru yang disebut dengan teknik Phantom.

Tapi setelah menyaksikan filmnya ngga sedikit penonton yang kecewa. Harapan film ini bakal satu nyawa dengan Sin City hanya ‘muncul’ di sisi visualnya saja. Sedangkan dari sisi cerita, kemungkinan besar membingungkan sebagian besar penonton.

Gue termasuk penonton yang kebingungan. Dan makin bingung karena beberapa penonton, termasuk yang duduk persis di sebelah gue, terlihat menonton dengan enjoy bahkan sampai tertawa terbahak-bahak merespon joke-joke yang menurut gue banyak garingnya.

Dari kebingungan malah akhirnya muncul rasa penasaran gue; seperti apa sih sebenernya komik The Spirit ini aslinya?? Koq bisa ya sebagian penonton enjoy banget nonton film ini??

Sampai saat ini sih gue masih belom dapet kesempatan untuk baca komiknya. Tapi gue berkesimpulan kemungkinan besar kebingungan gue nonton film ini karena gue ngga kenal dengan komik The Spirit dan gue bukan yang cukup mengerti dengan kebudayaan Amerika. Kemungkinan karena ada cultural gap di sini. Cukup aneh bagi seorang Frank Miller yang cukup sukses menuliskan kembali sejarah Batman dalam Batman: Year One (gosipnya komik ini jadi salah satu referensi Christopher Nolan untuk membesut Batman Begins) dan mengusung dark komik semacam Sin City, dan juga katanya nge-fans banget dengan Komik The Spirit, mau nekad begitu saja mengadaptasi dan membesut film ini dengan hasil membingungkan.

Ada juga sih yang bilang bahwa The Spirit ngga ‘nyambung’ dengan style Mr. Miller yang dark dan gritty. The Spirit jauh lebih ringan dibandingkan Sin City. Ada juga yang bilang asyik-asyik aja nonton film ini karena kayak lihat graphic novel di layar lebar.

Sekalipun kebingungan, gue masih bisa merasakan sense of humor seorang Frank Miller di film ini; sense of humor yang gelap yang mungkin ngga cocok dengan karakter The Spirit yang asli. Rasanya mungkin tanggung; maunya dark tapi karakter The Spirit lebih ke arah light dan colorful.

Kayaknya cara menuntaskan kebingungan gue cuma ada 2; baca komik The Spirit ato nanya langsung ke Frank Miller.

KAMBING JANTAN: SEBUAH KOMIK PELAJAR BODOH Buku 1: Yang Ringan dan Yang Lucu

Judul:
Kambing Jantan: Sebuah Komik Pelajar Bodoh
Buku 1


Penulis:
Raditya Dika

Ilustrator:
Dio Rudiman

Penerbit:
Gagas Media, Jakarta, 2008; 240 hlm.


Catatan:
Pada masanya bukunya dulu heboh, gue ngga terlalu tertarik. Istri gue sih punya juga, tapi tetep gue ngga tertarik. Mungkin karena waktu itu gue emang lagi enggak tertarik baca buku, tapi mungkin juga waktu itu gue sedang terlalu sombong untuk baca buku yang isinya menurut gue cuma konyol-konyolan aja. Padahal sampe hari ini gue belom baca satu halaman pun buku itu. Salah ngga sih gue bikin judgement sembarangan??

Suatu saat gue lagi bosan baca buku yang tebel-tebel dan serius. Kalo ngga salah waktu itu gue baru kelar baca Laskar Pelangi. Abis baca yang tebel, kayaknya asyik kalo baca yang ringan-ringan aja. Akhir gue ambil deh komik ini.

Ah iya, isinya emang banyak kekonyolan demi kekonyolan. Tapi kekonyolan yang digambarkan ngga bikin gue buru-buru tinggalkan komik ini karena muak. Dan akhirnya selesai juga baca komik ini. Setiap kali ada waktu luang di rumah waktu itu, pasti komik ini gue baca.

Sekalipun ringan dan konyol, gue juga bisa sedikit ngambil cerita bagaimana survival seorang mahasiswa di negeri orang dalam keterbatasan. Lumayan juga ceritanya.

Sekalipun ini baru buku pertama, mungkin karena gue terlalu sombong, kalo pun terbit yang selanjutnya ya gue sih ngga bakal antusias menyambutnya. Santai-santai aja deh.

CINTA SETAMAN, Cinta menurut Harry Dagoe



Judul:
Cinta Setaman

Sutradara:
Harry Dagoe

Catatan:
Banyak orang maka banyak pula pendapat. Begitu juga dengan ekspektasi calon-calon penonton film bisa macam-macam terhadap film yang sama. Belum lagi kalau dikaitkan dengan selera. Ekspektasi bisa muncul karena terpancing dengan trailer filmnya. Bisa juga muncul karena membaca susunan cast dan crew filmnya; kalo sutradanya si anu biasanya filmnya mantap, kalo bintangnya si anu satu bioskop bakal tergetar, misalnya.

Gue pribadi bisa banyak macam cara gue lakuin untuk berekspektasi tentang suatu film yang akan gue tonton; bisa aja gue cari info sebanyak-banyaknya dari sumber mana saja, bisa juga niatin baca bukunya kalo film itu diangkat dari sebuah buku/novelnya. Tapi begitu masuk bioskop untuk film pilihan gue, biasanya gue hilangkan semua ekspektasi yang ada dalam hati dan pikiran gue. Dan hasilnya : film pilihan gue itu bisa ditonton dengan nyaman.

Sekalipun gue udah ‘kenal’ dengan karya Harry Dagoe, tentunya di film ini gue kepingin tahu seperti apa lagi yang ingin disampaikan Harry. Dengan meminimalisir ekspektasi, gue nonton aja langsung.

Film yang bercerita tentang cinta dalam beberapa fragmen kisah kelihatan sekali merupakan ‘opini’ pribadi seorang Harry tentang cinta. Seperti kisah yang disampaikan dalam film ini, seperti ini juga kira-kira cinta yang ‘dimengerti’ oleh Harry sekalipun mungkin kisah ‘cinta’ yang belum dialami langsung secara pribadi. Harry ‘memotret’ kehidupan ‘bercinta’ dari banyak sisi - cinta kepada ibu, problema poligami, cinta monyet anak bau kencur sampai cinta dalam keluarga yang agak materialis -. Semuanya terasa subyektif sekali.

Banyak sekali aktor dan aktris berbobot yang nimbrung dalam film ini. Gue merasa mereka ‘cuma’ datang dan pergi dalam cerita bertumpuk-tumpuk. Bahkan ada yang muncul berbeda dari biasanya. Hampir ngga ada benang merah di antara semua fragmen kisah kecuali semuanya mengetengahkan tema cinta dari banyak sisi.

Mungkin sekali buat yang sering menonton film-film kisah cinta dari belahan bumi manapun – apalagi film-film kisah cinta produksi Hollywood – bakal banyak mengernyitkan dahi menyaksikan film ini. Buat gue bukan baru kali ini menyaksikan film unik (kalo ngga boleh dibilang aneh) seperti ini; Ada lelucon garing, ada yang cuma lari-larian sepanjang film, ada pelacur yang kegatelan melulu, ada homoseks yang sayang Ibunya, ada Bapak yang nyantai banget berpoligami. Mungkin juga ngga sedikit penontonnya yang bakal teriak, “Nih film maunya apa sih?!”

Tapi buat gue, sekalipun kurang menghibur, cukup asyik mengikuti film ini sampai selesai. Dan pada akhirnya gue berkesimpulan ya mungkin seperti itulah cinta yang dimengerti oleh Harry Dagoe. Subyektif?? Pastinya!!

11 Januari 2009

AUSTRALIA: The Ballad (or Epic??) of The Unwanted Children


Title:
Australia

Director:
Baz Luhrmann

Casts:
Hugh Jackman, Nicole Kidman

Plot:
In northern Australia at the beginning of World War II, an English aristocrat inherits a cattle station the size of Maryland. When English cattle barons plot to take her land, she reluctantly joins forces with a rough-hewn stock-man to drive 2,000 head of cattle across hundreds of miles of the country's most unforgiving land, only to still face the bombing of Darwin, Australia, by the Japanese forces that had attacked Pearl Harbor only months earlier.

Note:
Gue termasuk telat nonton film ini. Tapi gue tetep mo nonton meskipun banyak juga yang bilang kalo film ini ngga terlalu worth untuk ditonton. Dan seperti biasanya gue ngga terlalu peduli dengan review, resensi dan bahkan spoiler sekalipun, gue pun tetep kepingin nonton film ini. Satu-satunya alasan gue kepingin nonton karena film ini disutradarai oleh Baz Luhrmann.

Sutradaranya termasuk yang paling tidak produktif dalam membuat film layar lebar. Dan Australia adalah film layar lebar keempatnya. Dua dari tiga film sebelumnya udah gue tonton dan selalu memberikan kesan nyeleneh namun menyentuh emosi sentimental gue. Dan film Australia pun meninggalkan kesan yang sama pada tema yang berbeda.

Dalam film ini Luhrmann seperti mewakili ‘kaum pendatang’ kulit putih Australia atas ‘kejahatan’ mereka di masa lalu yang ‘menghasilkan’ Stolen Generation di benua yang juga sering disebut dengan Down Under. Berlatar kisah perebutan penguasaan ternak di awal Perang Dunia II, ‘borok’ benua kangguru ini diangkat dengan penceritaan yang indah namun menusuk perasaan gue.

Anak-anak keturunan hasil ‘campuran paksa’ pendatang kulit putih dan Suku Aborigin tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Bahkan langsung diasingkan oleh kaum kulit putih. Hal ini seperti memiliki pertalian emosi karena membuat gue teringat akan sepupu gue nun jauh di sana yang hampir-hampir diambil dan diasuh oleh negara karena ayah kandungnya mengaku tidak mampu mengurusnya lagi; bukan karena kekurangan ekonomi, tapi karena sedang dalam proses menikah lagi!

Mungkin aja karena gue termasuk emosionil dan sentimental, tapi tema unwanted children di film ini pas bener gue sedang kangen dengan sepupu kecil gue itu. Perasaan kangen jadi bercampur sedih karena menyaksikan kebimbangan Nullah dalam mencari jati dirinya. Dan film ini menegaskan bahwa kasih sayang Tuhan tidak selamanya sama dengan hubungan darah dan keturunan. Manusia yang baik –dan yang mau menjadi baik- selalu berada dalam lindungan alam. King George –sebuah personifikasi dari alam- selalu melindungi Nullah, melalui wejangan dan nyanyiannya.

Betapa bahagianya gue yang selalu masih diinginkan.

03 Januari 2009

KEBERANIAN BERNAMA MUNIR: Belajar Menjadi Pemberani ala Munir

Judul:
Keberanian Bernama MUNIR: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir

Penulis:
Meicky Shoreamanis Panggabean

Penerbit:
Mizan, Bandung, Desember 2008, 289 hlm.


Catatan:
Kayaknya hampir ngga ada orang Indonesia yang ngga kenal dengan Almarhum Munir. Sebagian mengenal Munir sebagai aktivis pergerakan, bahkan menganggapnya sebagai pahlawan pejuang kemanusiaan yang menemui ajalnya secara tragis. Dan sebagian lagi menganggap Munir sebagai musuh tentara, musuh negara, antek Yahudi, antek Komunis yang mengancam stabilitas dan keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia.

Saya mengenal sosok Munir dari berbagai macam pemberitaan/tulisan/artikel dan dari banyak cerita/obrolan dari orang-orang yang cukup dekat dengan almarhum. Saya belum pernah bertegur sapa dengan Munir sekalipun pernah sama-sama menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat saya sekitar tahun 2000 lalu.

Saya yang pernah melihat Munir secara langsung (kalau tidak mau dikatakan bertemu langsung) selalu terkesan dengan tidak nyambungnya antara sosoknya secara fisik dengan reputasinya (baik itu positif maupun ‘negatif’). Sosoknya yang santun, santai, cenderung pendiam dan sedikit cengengesan tak terbayangkan bisa menjadikan Munir sebagai momok menakutkan bagi rezim pemerintahan otoriter. Dan dari buku inilah saya jadi tahu kenapa sesosok Munir yang merdeka menjadi begitu menakutkan bagi rezim otoriter yang paranoid.

Buku ini cukup berimbang dalam menyampaikan sosok Munir. Almarhum terlukiskan dari sisi manusiawi dengan segala kekurangannya, ketimbang heroisme pemikiran dan perjuangannya. Dari sisi itulah saya bisa belajar bagaimana sosok Munir bisa mengatasi ketakutannya dan terror yang terus menghantamnya yang justru menjadi pemicu kekuatan perjuangannya. “Jangan pernah biarkan terror menjadikan anda takut, sebab kalau itu terjadi, artinya terror tersebut sukses melakukan tugasnya,” begitu kira-kira prinsip Munir dalam menghadapi terror.

Saya banyak tersenyum-senyum sendiri dalam membaca buku ini karena banyak menemukan ‘kecurangan’ yang dilakukan penulis. ‘Kecurangan’ yang saya maksud adalah hubungan kedekatan antara penulis dengan Munir dan orang-orang terdekat Munir yang ‘dimanfaatkan’ penulis sebagai narasumber. Ngga heran kalau di dalam buku ini terdapat beberapa wawancara eksklusif dengan Munir dan beberapa tokoh aktivis dengan topik dan gaya bahasa yang paling personal, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini. Termasuk di dalamnya adalah celotehan komedian Almarhum Taufik Savalas mengenai rambut merahnya Munir dalam salah satu resepsi pernikahan yang juga saya hadiri waktu itu.

Buku ini tidak secara langsung menginspirasikan saya untuk mengikuti jejak Munir menjadi aktivis. Tapi dengan mengenal sisi-sisi personal Munir melalui buku ini, mudah-mudahan bisa menjadikan saya lebih peduli dengan kehidupan dan kemerdekaan dan juga dapat membuat saya menjadi lebih berani berpikir merdeka.