tag:

25 June 2008

THE CHRONICLES OF NARNIA: PRINCE CASPIAN: Narnian with a ’Vengeance’

Title:
The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Director:
Andrew Adamson

Plot:
A year after their first adventure in Narnia, Peter, Susan, Edmund, and Lucy are pulled back in by Susan's magic horn. They find that hundreds of years have passed, and Narnia is now ruled by the bloodthirsty General Miraz, uncle to the true heir, Prince Caspian, now in exile. Now the children must find Caspian and help him depose Miraz...but how will they get home after it's done?

Note:
Sekalipun gue terharu banget dengan cerita dari sekuel pertama film ini, gue ngga terlalu suka dengan visualisasi film pertamanya. Terlalu anak-anak visualnya. Makanya gue sempet ragu dengan sekuelnya ini. Tapi memang ngga boleh lah sering-sering prejudice. Karena ternyata setelah nonton, gue suka dengan film ini. Visualisasinya jauh lebih ‘dark’ daripada film pertamanya dan menurut gue ceritanya jauh lebih seru.
Memang ngga banyak quoted yang bisa disimak dari visualisasi sekuel novel CS Lewis kali ini. Tapi pace cerita yang bagus bikin gue terbawa bener ke dalam ceritanya. Ada perasaan heroik bercampur haru waktu Narnian bersama Princa Caspian menyerang Kastil Telmarine. Banyak cara yang ngga pernah dibayangkan manusia, digunakan dalam penyerangan itu.
Sekalipun ngga banyak quoted-nya, tapi justru gue banyak nangkep makna yang tersirat dari cerita film ini. Sekalipun Pevensies adalah orang-orang muda (kalo ngga mau dibilang masih anak-anak) tapi kapabilitas mereka dalam mempertahankan Narnia (baca: kebenaran) semangatnya tak bisa ditandingi oleh Telmarine. Strategi Narnian juga cukup jitu.
Dan ada pesan tersirat yang gue rasa cukup relevan dengan kondisi bumi akhir-akhir ini: jangan coba-coba merusak dan melawan alam. Anda ngga akan sanggup menerima balasan dari alam!!

14 June 2008

RAMBO: Reload ...... Ready ........ Fire!!

Title:
Rambo

Director:
Sylvester Stallone

Cast:
Sylvester Stallone, Julie Benz, Paul Sculze

Plot:
In this latest Rambo installment, John Rambo has retreated to a simple life in a rural Thai village near the Burmese border, capturing snakes for local entertainers, and transporting roamers in his old PT boat. Following repeated pleas, Rambo helps ferry a group of Christian aid workers into war-torn Burma, where the local Karen villagers are regularly tortured and massacred by Major Tint's sadistic soldiers. The humanitarian mission is going well, until the village is attacked and the missionaries are kidnapped, and Rambo is once again asked to transport - but this time a group of mercenaries, assembled by the missionaries' minister on a deadly rescue mission. This time he doesn't stay behind.

Note:
Emang telat banget gue nonton film ini. Tapi emang mood-nya baru dapet. Padahal ngga lama setelah film ini premiere di Jakarta, temen gue udah ngomporin gue untuk nonton film ini. Dia bilang puas banget nonton film ini. Dia tertarik nonton Rambo karena liat trailernya yang untuk release di Jerman. Trailer US ngga ada apa-apanya dibanding trailer Jerman. Wah kayaknya emang keren nih.
Sambil nunggu mood, bolak balik gue liat-liat review film ini di mana-mana. Banyak yang bilang keren sih. Akhirnya sampai juga mood-nya.
Ngga salah kalo tagline film ini bilang ‘Heroes never dies ..... they just reload’. Rambo di film ini nunjukin bagaimana seharusnya Rambo beraksi. Bisa jadi begini ini seharusnya film perang aksi (action-war) dibuat. Awalnya sempet kebayang film ini bakal seperti film-filmnya Steven Seagal. Tapi bayangan gue ngga terbukti. Rambo jauh lebih asyik daripada film-filmnya Steven Seagal. Filmmaker-nya pinter banget manfaatin ‘era keterbukaan’ perfilman mutakhir dunia. Mungkin kalo film ini dirilis 25 tahun yang lalu bakal kena banned di mana-mana.
Adegan pertempurannya efektif banget. Pace-nya terjaga dengan bagus. Dar der dor yang cukup panjang ngga terasa melelahkan. Plot-nya cukup bagus dalam hal menggiring gue untuk terus mau nonton film ini sampe habis. Padahal ‘trend’ nonton gue akhir-akhir ini adalah ketiduran (kecuali di bioskop) :D
Heroisme Rambo ngga digambarkan dengan sok megah, sekalipun Ki Rambo tetep invincible. Ngga ada tuh gambar-gambar Rambo yang ‘diagungkan’. Cukup terwakili dengan visualisasi pertempuran habis-habisan sekaligus mengerikan.

20 May 2008

IN THE NAME OF LOVE: Bimbang dalam Penantian

Title:
IN THE NAME OF LOVE

Director:
RUDI SOEDJARWO

Written by:
TITIEN WATTIMENA, RUDI SOEDJARWO, FAHMI RIZAL, CASSANDRA MASSARDI

Music:
ADDIE MS

Director of Photography:
RUDI SOEDJARWO

Producers:
TUTIE KIRANA, RUDI SOEDJARWO, KOKO SUNARSO T. U.

Executive Producers:
PANJI WISESO, TUTIE KIRANA, RAMA NALAPRAYA

Casts:
VINO G. BASTIAN, ACHA SEPTRIASA, CHRISTINE HAKIM, TUTIE KIRANA, ROY MARTEN, COK SIMBARA, LUKMAN SARDI, LUNA MAYA, TENGKU FIRMANSYAH, NINO FERNANDEZ, YAMA CARLOS, DICKY WAHYUDI, MARSHA TIMOTHY, HELMALIA PUTRI, ARIO BAYU, PANJI RAHADI

Synopsis:
Adalah manusia yang bernama Satrio Hidayat yang mencintai Citra tapi karena ketidakberaniannya melamar Citra, dengan alasan kemapanan yang belum dicapai, maka Citra memilih menikah dengan Triawan Negara.
Ketika kemudian, baik Satrio maupun Triawan, sukses di bidangnya masing-masing, kebencian di antara mereka pun mereka bawa, hingga di satu titik mereka mempertunjukkan permusuhan mereka dengan saling menjatuhkan di depan publik. Sejak itulah kebencian mereka menjadi abadi.
Satrio yang kemudian menikah dengan Kartika, memiliki tiga anak lelaki, Aryan, Aditya, dan Abimanyu. Triawan dan Citra pun memiliki anak-anak Rianti, Panji, Banyu, Saskia dan Dirga.
Baik Satrio maupun Triawan menurunkan benih-benih permusuhan itu ke dalam jiwa anak-anaknya. Hingga kemudian Saskia dan Abimanyu saling jatuh cinta.
Saskia, yang menjadi junior Abimanyu di kampus, menjalani hubungan yang mereka tau tidak akan disetujui keluarga mereka. Tapi mengatasnamakan cinta, mereka berjuang, di tengah permusuhan dan carut marut keluarga mereka. Mereka pun tinggalkan keluarga demi cinta itu.
Perseteruan pun meningkat karena kenekadan mereka. Kedua keluarga pun saling buru, sementara dalam keluarga mereka masing-masing pun masalah tak pernah berhenti menghampiri.
Abimanyu dan Saskia pun bertahan, hingga satu persatu kebencian itu luruh melihat perjuangan mereka.
Abimanyu dan Saskia yang masih sama-sama muda, namun ternyata bisa mengajarkan satu hal kepada keluarga mereka, bahwa cinta harus diperjuangkan… sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang tua mereka.

Note:
Kepingin banget liat lagi Rudy Soedjarwo bikin film yang bertemakan cinta setelah beberapa kali dia dengan ngototnya membesut film-film bertemakan pocong! Setelah AADC, Rudy banyak ‘bereksperimen’ membesut berbagai macam tema sampai akhirnya tergiur banget dengan pocong. Rada susah mengkategorikan sutradara macam apa Rudy Soedjarwo itu. Hampir semua tema pernah dia coba. Bekerja sama dengan berbagai macam produser pun pernah juga dia coba. Bahkan duet ‘abadi’nya dengan Monty Tiwa ternyata tidak juga abadi. Tapi ngga masalah karena memang untuk era perfilman Indonesia mutakhir masih ‘wajib’ bagi para film maker untuk mencoba membuat berbagai tema film. Siapa tau bisa jadi trendsetter. Salah-salah bisa juga dicaci sebagai pembuat film sampah.

Cerita cinta yang kali ini diangkat Rudy bukan cerita yang baru dan orisinil. Cerita cinta dari dua manusia yang mana kedua keluarganya saling bermusuhan tentunya mengingatkan kita pada karya klasik dari Shakespeare. Bisa jadi film ini merupakan saduran bebas dari naskah drama Romeo and Juliet.

Rudy mencoba membumikan kisah itu ke dalam ‘rasa’ Indonesia. Bahkan Rudy berusaha menyampaikan sebab musabab dari cerita perseteruan yang nyaris tak terselesaikan ini. Dan memang cerita cinta yang terlarang tidak pernah secara formal menjadi milik salah satu bangsa di dunia ini. Cerita cinta yang terlarang selalu ada di setiap pojok kehidupan manusia.

Tapi film ini menjadi tontonan yang melelahkan buat gue. Tema yang sudah duluan ketauan dengan tutur visual yang nyaris datar malah bikin gue menunggu kapan film ini berakhir. Yang paling gue tunggu cuma bagaimana film ini akan berakhir, sementara kita semua udah tau bagaimana kisah asli Romeo and Juliet berakhir. Apalagi ditambah dengan warna film yang suram tapi ngga imbang kontrasnya. Sepanjang film gue tonton mengenakan kaca mata item.

Dan penantian gue yang cukup panjang harus diakhiri dengan kekecewaan. Dan gue sampai saat ini masih bimbang, apakah gue harus melanjutkan penantian ataukah harus gue sudahi saja penantian ini?