tag:
Showing posts with label Singapore. Show all posts
Showing posts with label Singapore. Show all posts

22 January 2021

Diet Ketogenic Saya: Pencerahan

 

“Cara Luar Biasa untuk Tampil Biasa-biasa”

catatan Edwin Rizky Supriyadi

 

Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal saya menuliskan catatan ini.

 tulisan sebelumnya ...

 

Pencerahan

Obrolan sambil ngopi-ngopi seringnya lebih serius dibanding bahasan dalam meeting resmi, bahkan pencerahan dan ide-ide bagus nggak jarang malah hadir dalam obrolan di sela nyruput kopi panas. Sama halnya dengan ngopi-ngopi bareng Herbert pada pertengahan Desember 2017 itu. Obrolan yang awalnya bertemakan belajar ngopi versus belajar diet Keto malah jadi lebih banyak update mengenai diet Keto, yang pada ujungnya memberikan pencerahan bagi saya yang sudah nyaris putus asa untuk urusan hidup sehat.

Urusan pencerahan bagi saya yang sempat menolak ikut diet Ketofastosis adalah bukan hal yang gampang. Tapi anehnya obrolan yang lebih kurang lamanya cuma 2 jam malah banyak mencerahkan dan langsung memotivasi saya untuk menjalankan diet yang “di-update” oleh Herbert yang juga dikenal dengan diet Ketogenic.

Diet Ketogenic sebenarnya nyaris sama dengan dengan diet Ketofastosis. Nama kedua diet ini sama-sama berasal dari kata “Keto”, sama-sama bertujuan mencapai kondisi Ketosis supaya tubuh berbahan bakar Ketones dengan menjaga stabilitas kadar glucose dalam tubuh.

Mungkin bisa dibilang diet Ketogenic adalah salah satu dari dua aliran besar dari diet Keto selain diet Ketofastosis. Yang membedakan keduanya adalah kalau dalam diet Ketofastosis sudah sangat teratur dengan penentuan fase atau tahapan serta aturan-aturan makan dan makanannya, sementara diet Ketogenic lebih fleksibel untuk aturan makan dan jenis makanan tetapi dengan tetap mendasarkan pada “formula” zero sugar + low carbohydrate + high healthy fat + middle protein volume.

Contoh fleksibilitas diet Ketogenic antara lain adalah meski disarankan untuk tidak sarapan tetapi tetap diperbolehkan untuk makan pada pagi hari apabila merasakan perut sudah lapar. Diet Ketogenic tidak memaksa untuk langsung “berpuasa” sejak jam 8 malam hingga jam 12 siang. Menu makanannya silakan dipilih sendiri yang masuk kategori “Keto friendly”, yang tidak melulu dimulai dengan telur rebus, tetapi dipersilakan untuk langsung menyantap Soto Betawi bersantan kental misalnya.

Soto Betawi

 

Makanan dan Motivasi

Diet Ketogenic lebih mendorong untuk mengonsumsi makanan yang asli atau real food, bukan makanan-makanan pengganti apalagi makanan yang diawetkan atau processed food. Sangat disarankan untuk mengonsumsi makanan Keto friendly yang bisa ditemui dalam menu makanan masakan sehari-hari, tidak perlu makanan khusus dengan bahan-bahan pengganti.

Contoh-contoh menu real food masakan asli Indonesia lainnya yang tergolong Keto friendly antara lain adalah Soto Betawi kuah santan dengan isi daging dan jeroan sapi, Gulai Otak Sapi, Tongseng Kambing, Gulai Tunjang, Rendang Daging, Opor Ayam, Ayam Bakar, Opor Telor, Krecek, Sate Kambing Bumbu Kecap, Gulai Kambing, Ikan Bakar, Telor Bebek Rebus dan masih banyak lagi.

Sate & Sop Kambing

Macam-macam menu makanan itulah yang dijadikan Herbert jadi bahan motivasi untuk mendorong saya menjalankan diet Ketogenic. Menu makanan Keto friendly lebih banyak di Indonesia, lebih mudah ditemui, banyak pilihan dan jelas lebih murah dibanding di Singapore tempat Herbert tinggal. Selama menjalankan diet Ketogenic di Singapore, Herbert lebih sering memasak menu makanannya sendiri, kecuali kalau sudah mulai bosan maka barulah ia berangkat ke resto masakan India atau masakan Melayu di sana.

Pertimbangan kemudahan menu makanan Keto friendly asli masakan Indonesia sangat memotivasi saya untuk segera menjalankan diet Ketogenic. Herbert bilang untuk mencoba diet Ketogenic hingga kelihatan hasilnya tidak perlu lama-lama, cukup 3 bulan aja, dipersilakan mencoba selama 1 minggu dulu, yang penting jangan makan kalau belum lapar dan makanlah yang kenyang supaya ngga ngemil sampai betul-betul merasa lapar lagi.

Gulai Kambing

Makanlah pada saat lapar dan makanlah yang kenyang, sehingga mampu menghindari ngemil, adalah cara yang ampuh untuk menjaga stabilitas kadar glucose dalam darah. Kalau glucose stabil, rasa lapar dan keinginan untuk ngemil sangat bisa ditekan.

Rentang waktu diet “ketat” selama 3 bulan yang disarankan adalah rentang waktu rata-rata pelaku diet Ketogenic mencapai kondisi Fat Adapted. Kondisi Fat Adapted adalah kondisi tubuh manusia yang telah beradaptasi sehingga bahan bakar tubuhnya beralih dari glucose ke bahan bakar yang berasal dari pengolahan lemak yang disimpan tubuh (stored body fat), kondisi yang disebut Ketosis. Ketosis adalah kondisi tubuh manusia yang bahan bakarnya berasal dari Ketones. Ketones adalah bahan bakar tubuh Fat Adapted yang merupakan hasil pengolahan stored body fat oleh liver.

Sebelum mencapai kondisi Fat Adapted atau Ketosis disarankan sebaiknya untuk tidak berolahraga supaya tubuh lebih dulu mencapai kondisi beradaptasi penuh berbahan bakar Ketones sehingga dapat berolahraga dengan lancar tanpa terganggu kebutuhan glucose.

 

Diet dan Hunter & Gatherer Lifestyle

Menurut kamus Merriam-Webster, diet adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi secara kebiasaan. Mungkin dengan kata lain, diet bisa disebut sebagai pola makan dan minum. Pengertian “pola makan dan minum” di sini belum tentu berujung pada penurunan berat badan karena tergantung dari jenis makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi.

Apabila diet diartikan sebagai kebiasaan makan dan minum atau pola makan dan minum, maka diet Keto juga bisa diartikan sebagai kebiasaan makan dan minum yang membuat badan manusia menjadi Ketosis dan tetap menjaganya dalam kondisi tersebut.

Meski diet Keto baru terkenal dalam 1 dekade terakhir ini tetapi nenek moyang manusia yang hidup ratusan ribu tahun lalu sudah menjalani pola makan dan minum yang sama dengan diet Keto dalam pola hidup Pemburu & Pengumpul (Hunter & Gatherer lifestyle). Sebelum mengenal cara bertani, manusia menjalankan pola hidup Hunter & Gatherer selama 99,6% dari total masa manusia berevolusi, sehingga dapat dikatakan pola hidup ini lah yang membentuk genetika manusia.

Cara hidup berburu tentu saja untuk mengonsumsi hewan hasil buruan. Makanan yang paling pertama dan utama adalah protein dan lemak hewani. Bahkan mungkin makanan yang paling pertama dimakan adalah jeroan/isi perut hewan untuk membersihkan dan membuat hewan hasil buruan lebih awet serta tahan lebih lama untuk bisa dibawa hingga ke tempat tinggal keluarga si pemburu.

Berburu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan makan. Apakah sebelum berangkat si pemburu mempersiapkan diri dengan makan sesuatu? Ya mungkin saja para pemburu sempat makan sebelum berangkat berburu apabila ada sisa makanan hasil buruan hari sebelumnya, tetapi lebih mungkin mereka berangkat berburu dalam kondisi perut yang kosong sejak kemarin terakhir kali makan.

Di sinilah letak kesamaan pola makan minum nenek moyang manusia dengan diet Keto, dari menu makanan yang lebih banyak bersumber dari hewan dan juga rentang waktu perut kosong yang cukup lama sejak kemarin malam. Mungkin saja mereka juga mengonsumsi carbohydrate yang berasal dari umbi-umbian yang mereka temukan di perjalanan berburu atau di sekitar tempat tinggal mereka tapi tentulah itu bukan makanan yang utama.

Dari cara hidup dan pola makan manusia purba inilah bisa disimpulkan bahwa jenis makanan yang Keto friendly lah yang sesuai dengan desain asli tubuh manusia sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Manusia mengenal makanan mengenyangkan yang mengandung banyak carbohydrate baru dimulai sejak manusia mengenal cara hidup bercocok tanam dan bertani. Manusia mengenal roti, kue dan sugar setelah pertanian semakin maju dan industri pengolahan bahan makanan semakin berkembang.

Dengan demikian memang selayaknya manusia mengonsumsi jenis-jenis makanan yang lebih sesuai dengan desain asli metabolisme dan sel tubuhnya, dan ini sangat masuk akal. Hal ini juga diperkuat oleh asumsi beberapa dokter yang menyatakan bahwa metabolisme manusia tidak banyak berubah sejak ratusan ribu tahun yang lalu.

Pola makan diet Keto seperti membalik piramida nutrisi makanan yang pernah diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) dan Departemen Agrikultur Amerika Serikat (U.S. Department of Agriculture - USDA). Kalau pada piramida nutrisi makanan sesuai standar umum menyarankan manusia untuk lebih banyak mengonsumsi makanan carbohydrate yang berasal dari tepung olahan, justru pada diet Keto lebih diutamakan untuk mengonsumsi lemak hewani, yang pada piramida nutrisi makanan standar umum diletakan pada puncak (karena disarankan hanya untuk sedikit dikonsumsi).

1992 USDA Food Pyramid


Primal Blueprint food pyramid



Fat Burner

Tubuh manusia yang menggunakan bahan bakar lemak tubuh, atau dalam kondisi Ketosis, juga disebut sebagai Fat Burner. Untuk menjadi Fat Burner tentunya harus beradaptasi dan berubah dari berbahan bakar glucose menuju Fat Adapted. Caranya hanya dengan stop asupan sugar, menekan konsumsi carbohydrate serendah-rendahnya dan lalu mengonsumsi banyak lemak sehat.

Konsumsi carbohydrate harus ditekan serendah-rendahnya karena carbohydrate yang masuk ke dalam akan diubah menjadi glucose. Kalau masih ada kadar glucose yang tinggi dalam darah, tubuh manusia akan tetap mengutamakan glucose sebagai bahan bakar.

Konsumsi lemak sehat yang tinggi berguna untuk memancing tubuh untuk memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar, karena apabila glucose sangat rendah dalam darah maka liver akan mengolah lemak yang ada dalam tubuh menjadi Ketones untuk selanjutnya menjadi bahan bakar.

Lemak yang sehat adalah lemak yang langsung bersumber dari hewan. Selain yang berasal dari hewan, lemak yang sehat juga berasal dari kelapa (minyak kelapa, santan) dan juga dari buah zaitun. Lemak sehat ini tidak melalui proses yang rumit untuk sampai bisa dikonsumsi oleh manusia.

Seperti pada pola makan manusia Hunter & Gatherer, tubuh manusia tidak membutuhkan sugar sebagai asupan untuk bahan bakar tubuhnya. Hanya organ otak dan otot tubuh manusia yang membutuhkan glucose, dalam bentuk glycogen, sebagai bahan bakar dalam jumlah yang sangat sedikit. Karena sedikitnya kebutuhan glucose, dalam darah tubuh manusia sehat seharusnya hanya terdapat glucose seukuran 1½ sendok teh saja. Berbeda dengan kemampuan tubuh manusia menyimpan puluhan kilogram body fat yang memang adalah bahan bakar natural terbaik.

Lalu apakah manusia Hunter & Gatherer mengalami kesulitan berpikir dan sering sakit kepala karena tidak adanya asupan sugar yang dibutuhkan otaknya? Ternyata liver manusia bisa memenuhi kebutuhan itu dengan mengubah lemak tubuh menjadi glucose sesuai jumlah yang dibutuhkan otak.

Setiap kali kita makan, makanan yang masuk cenderung memicu kenaikan level glucose. Apabila terjadi kenaikan level glucose, pankreas terpicu untuk menghasilkan hormon Insulin yang berguna mengendalikan dan menekan level glucose dalam darah. Selain mengendalikan level glucose, Insulin juga bertugas menyebarkan glucose dan nurtrisi ke dalam sel-sel tubuh. Kelebihan glucose akan “diinstruksikan” oleh insulin untuk disimpan tubuh menjadi stored body fat.

Glucose adalah bahan bakar yang mudah habis. Kondisi tubuh yang memerlukan asupan bahan bakar ditandai dengan rasa lapar. Karena glucose mudah habis maka tubuh yang masih berbahan bakar glucose akan lebih mudah lapar sehingga memicu tubuh untuk lebih sering makan atau ngemil.

Kondisi ini berbeda pada tubuh Fat Burner yang livernya mampu mengolah stored body fat menjadi Ketones untuk dijadikan bahan bakar tubuhnya. Ketersediaan glucose untuk otak akan tetap terjaga karena tidak tergantung pada asupan sugar dari luar tubuh sehingga otak tidak pernah kekurangan asupan energi. Stamina juga menjadi membaik dan meningkat karena Ketones selalu tersedia.

Lalu apakah dengan demikian liver akan bekerja semakin keras karena harus sering-sering memproses lemak tubuh menjadi Ketones? Yang pertama perlu dipahami bahwa meski stamina meningkat tidak berarti tubuh menjadi tidak mengenal istirahat. Diet Keto juga memperbaiki proses metabolisme. Tubuh dengan metabolisme yang baik akan dengan sendirinya meminta waktu jeda untuk beristirahat. Saat beristirahat inilah juga waktunya bagi liver juga untuk beristirahat.

Perlu diketahui juga bahwa dengan level glucose yang stabil dalam darah meminimalisir pankreas dalam memproduksi Insulin. Dengan minimnya hormon Insulin dan level glucose yang rendah maka tidak ada proses penyimpanan kelebihan glucose menjadi stored body fat, termasuk penumpukan lemak pada liver yang sering dikenal sebagai fatty liver. Dengan pengurangan kadar fatty liver ini tentunya membuat liver menjadi semakin sehat sehingga dapat bekerja semakin optimal.

Kondisi tubuh Fat Burner yang paling terasa dan kelihatan jelas adalah semakin berkurangnya rasa lapar dan berkurangnya keinginan ngemil. Rasa lapar cuma akan muncul apabila tubuh sudah membutuhkan asupan.

Bisa dibilang perubahan pola makan saya kali ini sangat-sangat mendasar setelah hampir seumur hidup selalu bersandar pada pola yang sangat umum; tidak pernah meninggalkan sarapan, selalu makan tepat waktu dengan komposisi menu makanan sehat, tinggi carbohydrate dan sugar. Belum lagi mengikuti saran untuk tetap menjaga lambung tetap terisi dengan ngemil sebelum makan siang dan menjelang sore atau menjelang waktu makan malam.

Ada yang bilang bahwa lambung kita tetap bekerja meski tidak diisi makanan, maka supaya dinding lambung tidak bergesekan saat kosong karena selalu tetap bekerja, kita harus sering makan untuk menjaga lambung tetap terisi. Tetapi apakah lambung benar-benar tidak pernah beristirahat?

Kandungan sugar dan carbohydrate yang tinggi dalam menu makanan yang sering disantap juga menyumbang tingginya keinginan kita untuk selalu makan. Dorongan selalu ingin makan yang terjadi diakibatkan kandungan glucose dalam darah yang cepat sekali habis. Mungkin saja dari sinilah muncul “saran kesehatan” yang mengatakan sebaiknya kita makan tidak sekaligus dalam porsi besar tetapi lebih sering dalam porsi yang kecil-kecil sebanyak 6 sampai 8 kali dalam 1 hari. Nah silakan kaitkan dengan keterangan saya sebelumnya yang menjelaskan kerja Insulin terhadap naiknya level glucose setiap kali ada makanan masuk.

 

Diet Low Fat dan Diabetes

Pola makan rendah lemak baru diperkenalkan pada tahun 1960-an, berdasarkan hasil penelitian resiko penyakit jantung koroner yang dipengaruhi konsumsi lemak hewan, yang penelitiannya diadakan setelah Dwight Eisenhower, Presiden AS pada waktu itu, mengalami serangan jantung pada tahun 1955. Tetapi penelitian ini, yang selama puluhan tahun diyakini sebagai kebenaran scientific yang mutlak, ternyata tidak bisa menjawab fenomena French Paradox; Perancis memiliki menu makanan yang tinggi kandungan lemak hewani namun dengan rata-rata kasus resiko penyakit jantung koroner yang rendah.

Dalam pola makan rendah lemak juga mendorong konsumsi makanan sehat yang mengandung oat, jagung, susu dan lemak dari minyak tumbuh-tumbuhan. Tetapi setelah diperkenalkannya pola makan tersebut justru terjadi peningkatan tajam pada jumlah pasien kegemukan/obesitas, penyakit diabetes dan penyakit jantung koroner khususnya di Amerika Serikat.

Sebagian besar penyakit yang ada di dunia bisa ditangani secara medis, sebagian besar sudah ada obatnya tetapi hanya sebagian penyakit saja yang benar-benar bisa disembuhkan. Untuk penyakit-penyakit seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner dan penyakit kanker masih hanya sebatas dikendalikan secara medis sebelum akhirnya kondisi pasien menjadi semakin memburuk dan/atau sewaktu-waktu kambuh parah hingga menyebabkan kematian.

Pertanyaannya jadi menarik, apakah memang untuk penyakit diabetes, jantung koroner dan kanker benar-benar belum ada obatnya? Akhir-akhir ini muncul asumsi dari sebagian dokter di dunia bahwa terjadi kesalahan mendasar dalam menangani penyakit-penyakit tersebut sehingga tidak memperbaiki penyebab utamanya.

 

 

Selanjutnya  …


19 January 2021

Diet Ketogenic Saya: “Cara Luar Biasa untuk Tampil Biasa-biasa”

 

catatan Edwin Rizky Supriyadi

 

Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal saya menuliskan catatan ini.

 

Tahun 2018 yang lalu menjadi tahun dengan salah satu pengalaman terbesar dalam hidup saya karena dalam tahun itu saya mencatat turun berat badan sebanyak 30,5 kg. Berat badan saya pada awal tahun tercatat 105,5 kg sedangkan pada akhir tahun tercatat 75 kg.

Berat 75 kg memang bukan berat badan yang paling ringan dalam masa dewasa saya, karena pada usia 18 tahun saya pernah mengalami berat badan 72 kg. Namun kali ini pengalaman saya turun berat badan paling drastis dalam waktu yang relatif cukup singkat.

Kali ini pun sebenarnya bukan usaha pertama saya untuk menurunkan berat badan, karena seingat saya ini adalah kali ketiga saya berusaha menurunkan berat badan. Pada usaha pertama kali tahun 1993 saya berhasil menurunkan berat badan hingga 5 kg dalam waktu 6 bulan, dari 77 kg mencapai 72 kg, sedangkan usaha kedua kalinya pada tahun 1999 turun 10 kg dalam waktu 1 tahun dari 87 kg mencapai 77 kg.

Pengalaman saya kali ini bukan sekadar hanya urusan turun berat badan, karena bertahun-tahun sebelumnya saya sudah hampir putus asa untuk menurunkan berat badan dan selama itu pula saya hanya fokus untuk menjaga kesehatan saja yang saya lakukan di sela-sela kemalasan saya berolahraga.

Cara saya menjaga kesehatan di antaranya dengan mengonsumsi menu makanan yang secara standar diet umum dianggap sehat dan menyehatkan, termasuk mengonsumsi oat, sayuran, buah, ikan serta menjauhi lemak, minyak dan santan. Pola konsumsi makanan sehat itu juga dimulai setelah pada tahun 2009 saya terindikasi menderita kolesterol tinggi.

Oat

Dengan mengonsumsi menu makanan standar diet umum selama lebih dari 5 tahun ternyata hanya menurunkan berat badan lebih kurang 2-3 kg saja, meski sekali lagi dalam program konsumsi makanan sehat menyehatkan itu saya memang tidak berfokus untuk menurunkan berat badan.

Hingga sampailah waktunya saya berkenalan dengan diet Keto yang ternyata bukan hanya urusan turun berat badan.

 

Perkenalan

Saya berkenalan dengan diet Keto pada pertengahan tahun 2017 karena waktu itu Mama dan adik saya menjalankan diet yang disebut dengan diet Ketofastosis. Kalo ada yang bertanya apa itu diet Ketofastosis, pasti mereka berdua tidak pernah sanggup menjelaskannya secara sederhana, dan pasti mereka akan menyuruh kita membaca “brosur” penjelasan diet tersebut.

Saya perhatikan mereka cukup lancar dan tekun menjalankan diet ini, yang menurut Mama diperkenalkan oleh salah seorang kawan di gerejanya. Adik saya yang biasanya paling malas menuruti pola makanan sehat apalagi berdiet, kali ini cukup semangat menjalani diet ini.

Setiap hal baru yang terjadi dalam keluarga pasti menarik perhatian saya. Dari perjalanan diet Ketofastosis yang dijalankan mereka, saya jadi mengenal lebih detail beberapa istilah dan nama seperti ketones, ketosis, blood sugar, VCO, Barco dan Shirataki, meski saya tetap malas untuk membaca dan meneliti “brosur” penjelasan diet ini yang panjangnya lebih kurang 3 halaman folio.

Yang paling jelas dari pola konsumsi diet ini adalah meminimalisir konsumsi karbohidrat/carbohydrate dan menghilangkan konsumsi gula/sugar. Pola konsumsi ini sempat saya tiru, meski tidak sama persis, dengan ikut mengonsumsi jenis-jenis makanan yang mereka konsumsi dalam diet Ketofastosis.

Seiring mereka terus menjalankan diet ini, pelan-pelan saya juga mengenal Ketofastosis semakin dalam. Tapi semakin dalam saya mengenal diet ini malah bikin saya malas mengikutinya. Peribahasa “tak kenal maka tak sayang” untuk diet Ketofastosis ini justru saya lengkapi menjadi “makin kenal malah makin tak sayang”.

Ada beberapa hal dalam diet Ketofastosis ini yang bikin saya malas mengikutinya. Hal yang paling bikin saya malas adalah karena diet ini sangat diatur dalam beberapa fase dan dalam tiap fase ada menu makanan yang dikhususkan. Contohnya pada tahap permulaan diet ini hanya membolehkan kita makan protein dan lemak hingga kadar gula darah (glucose) mencapai angka ukuran tertentu. Kalau pada fase ini kadar glucose dalam darah belum mencapai angka yang ditentukan, maka kita belum boleh mengonsumsi sayuran.

Sejak permulaan diet Ketofastosis langsung menginstruksikan kita untuk tidak sarapan dan baru boleh mulai makan di waktu jam makan siang. Apabila kita merasa lapar atau kelaparan pada waktu-waktu yang ditentukan untuk “berpuasa”, kita dipersilakan untuk “mengganjal” perut yang lapar itu dengan meminum virgin coconut oil (VCO).

Untuk makanan yang low carbohydrate, terutama menu makanan yang mengenyangkan, selain VCO dan lemak atau santan atau keju atau buah alpukat, juga disarankan untuk mengonsumsi makanan pengganti carbohydrate yang terbuat dari tepung rendah kalori seperti mie Shirataki. Semua jenis makanan yang wajib dikonsumsi tersebut tergolong mahal untuk ukuran isi dompet saya. Belum lagi beberapa jenis makanan pendukung seperti whipped cream dan susu almond yang juga tergolong mahal.

Dalam proses mengikuti diet Ketofastosis, Mama sempat sakit kesulitan buang air besar yang diduga karena kekurangan serat, yang belakangan saya ketahui kemungkinan karena kekurangan mineral Potassium. Meski pada saat sakit itu Mama sudah memasuki fase diet yang lebih lanjut, dugaan karena kurang mengonsumsi sayuran menjadi penyebab kotoran sisa pencernaannya menjadi keras.

Meski akhirnya saya tidak mengikuti diet Ketofastosis ini tapi saya belajar beberapa hal yaitu bahwa menjaga kadar glucose dalam darah cukup penting dalam sebuah proses diet, belum lagi menambah wawasan saya bahwa lemak santan, minyak kelapa, lemak hewani adalah lemak yang baik untuk tubuh manusia. Diet Ketofastosis ini juga terbukti cukup efektif untuk menurunkan berat badan karena Mama dan adik saya bisa menurunkan berat badan lebih dari 10 kilogram dalam waktu lebih kurang 5 bulan saja.

 

Desember 2017

Pada tanggal 17 Desember 2017, ketika saya sedang makan siang di sebuah resto di mall yang ngga jauh dari rumah kami, Herbert, kawan saya, post/memasang foto Soto Betawi di grup WhatsApp alumni SMA kami sebagai menu makan siangnya. Namun saya seperti mengenali profil meja makannya. Ternyata dugaan saya benar, setelah saya konfirmasi, meja itu adalah meja makan di food court di mall yang sama dengan resto tempat kami makan siang. Saya dan Herbert segera janjian bertemu pada sore itu juga.

Karena Herbert adalah coffee enthusiast, yang katanya baru aja “belajar ngopi” melalui post saya tentang kopi di grup WhatsApp, maka kami janjian bertemu di salah satu recommended coffee shop di mall itu juga. Berhubung kami sama-sama baru saja selesai lunch, maka kami hanya memesan masing-masing secangkir single origin coffee tanpa cemilan/snack.

Dalam event “ngopi-ngopi keren” itu, karena ada saya yang ngopi tentunya, kami cuma berkangen-kangenan sebentar. Meski kami tidak bertemu selama lebih dari 20 tahun sejak sama-sama lulus SMA, bahasan kami saat itu bukan soal kenangan SMA dan kabar-kabar yang umum ditanyakan. Kami lebih banyak ngobrolin kopi enak dan selebihnya justru pencerahan mengenai diet Keto.


Herbert yang menetap di Singapore, bekerja sebagai arsitek, sudah menikah dan beranak dua, ternyata pernah mengalami kegemukan. Herbert yang saya kenal semasa SMA berpostur langsing cenderung kurus ternyata pernah mencoba pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat dan rajin berolahraga di gym. Tetapi justru pada masa-masa itulah ia mengalami kegemukan, dari berat badan 61 kg hingga mencapai 71 kg, meski saat itu Herbert rutin melakukan heavy weight training 3 kali seminggu di gym.

Meski berat badannya waktu itu termasuk ringan dibanding berat badan saya, tetapi berat 71 kg memang sudah tergolong kegemukan untuk orang-orang seukuran kami. Tentunya badan seberat itu sangat berlebihan bagi Herbert yang pernah kurus langsing. Selain kegemukan, Herbert mengaku pada masa-masa itu merasakan stamina yang tidak bagus dan sering terkena diare.

Pada tahun 2008, sebelum berkenalan dengan diet Ketogenic, Herbert terlebih dulu berkenalan dengan Primal Blueprint dari Marks Daily Apple blog yang secara detail menjelaskan perbedaan gaya hidup/lifestyle Hunter & Gatherer dibandingkan dengan gaya hidup modern (untuk gaya hidup Hunter & Gatherer akan saya singgung lagi nanti). Blog tersebut secara komprehensif telah mencerahkan Herbert untuk beralih gaya hidup hingga nantinya berkenalan dengan diet Ketogenic.

Pencerahan mengenai Primal Blueprint dan gaya hidup Hunter & Gatherer yang dilengkapi dengan pemahaman diet Ketogenic membuat Herbert menerapkan pola diet dan pola makan yang baru. Setelah itu Herbert mengalami banyak perubahan dan perbaikan pada tubuhnya, selain berat badannya kembali turun ke ukuran ideal, staminanya juga membaik dan kesehatannya sangat terjaga. Belum lagi Herbert bisa memiliki bentuk perut six pack dengan olahraga yang lebih santai.

Dalam waktu ngopi-ngopi lebih kurang 2 jam, topik diet Ketogenic dari Herbert cukup memberikan pencerahan. Tidak sungkan-sungkan Herbert menyarankan saya untuk menjalani diet yang sama dengan pertimbangan karena menu makanan yang cocok dengan diet ini lebih mudah didapati di Indonesia dibanding di Singapore.

Diet ini menjadi semakin menarik karena Herbert menyarankan untuk mencoba cukup 3 bulan saja dan selama itu disarankan untuk tidak berolahraga. Untuk saya yang pemalas, meski sempat merencanakan berolahraga sepeda malam mulai Januari 2018, tentu saran diet tanpa olahraga ini sangat-sangat mengusik dan menarik.

Lalu bagaimana dengan kopi dan ngopi? Ternyata asalkan kopinya minus susu/cream dan minus sugar malah disarankan untuk dilanjutkan.



Penjelasan diet Ketogenic dari Herbert bisa dianggap sebagai update dari diet Ketofastosis yang sudah saya kenal sebelumnya. Prinsip-prinsipnya sama persis, tetapi diet Ketogenic relatif lebih mudah karena tidak mengenal fase-fase pola makan tertentu, langsung mengubah menu makanan dan pola makan, dan lebih murah karena tidak mengenal makanan pengganti, serta semua menu makanannya adalah real food.

Penjelasan dan saran-saran Herbert dalam waktu yang tergolong singkat itu bukan lagi menjadi pertimbangan saya untuk mengikuti diet Ketogenic, malah justru sudah membuat saya memunculkan hitung-hitungan persiapan untuk langsung menjalaninya. Akhirnya saya putuskan untuk mulai menjalani diet Ketogenic pada awal bulan Januari 2018.

 

 

Selanjutnya .....