tag:

27 January 2021

Diet Ketogenic Saya: Permulaan

 

“Cara Luar Biasa untuk Tampil Biasa-biasa”

catatan Edwin Rizky Supriyadi

 

Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal saya menuliskan catatan ini.

 tulisan sebelumnya [Pencerahan]

 

Permulaan

Pada akhir Desember 2017 saya bulat memutuskan, saat saya memang masih “bulat”, untuk memulai diet Ketogenic pada awal Januari 2018. Dan setelah memberi jeda waktu karena merayakan Tahun Baru Masehi, karena masih berkesempatan “dibebaskan” mengonsumsi makanan “tidak terbatas”, akhirnya saya melaksanakan diet Ketogenic pada Hari Kamis tanggal 4 Januari 2018.

Sebetulnya tidak ada hal khusus kenapa saya memulainya pada tanggal tersebut, tetapi selain karena memberi kesempatan diri merayakan liburan Tahun Baru, pilihan memulai diet pada hari kerja karena mempertimbangkan kondisi kantor yang seperti biasanya akan lebih teratur dibanding pada kondisi saat liburan di rumah. Belum lagi pilihan makanan Keto Friendly yang ada di sekitar kantor lebih banyak dan lebih mudah diakses dibanding di rumah.

Saya memulai diet tanpa target mencapai berat badan tertentu. Saya memulai diet hanya khusus untuk membuktikan seperti apa kondisi sebenarnya pelaksanaan diet Ketogenic sehari-harinya dan apa yang akan badan saya alami selama minimal 3 bulan menjalaninya.

Karena melakukan diet tanpa target berat badan, saya tidak pernah mengambil foto diri saya pada awal memulai diet Ketogenic. Saya juga tidak melakukan pengukuran lingkar perut, lingkar pinggang, lingkar dada dan ukuran tubuh lainnya sebelum melaksanakan diet kecuali mengukur/menimbang berat badan pada pagi hari tanggal 4 Januari 2018.

 

4 Januari 2018

Berat badan saya pada pagi hari tanggal 4 Januari 2018 waktu itu adalah 105,5 kilogram. Ukuran kemeja yang saya pakai saat itu nomor 16½, untuk merk Alisan, yang mungkin setara dengan XXL, sedangkan ukuran celana kira-kira nomor 40, yang berdasarkan perkiraan saja karena dalam beberapa tahun terakhir saya lebih banyak menggunakan celana yang dijahit khusus.

Pada pagi hari tanggal 4 Januari 2018 saya memulai hari pertama diet yang sekaligus memastikan jadwal kebiasaan yang baru. Waktu untuk bangun pagi tidak berubah, kegiatan ke kamar mandi untuk buang air kecil setelah bangun pagi juga tidak berubah, tetapi ada beberapa kegiatan lain setelah itu yang berubah.

Segera setelah buang air kecil pagi hari saya menimbang berat badan untuk dicatat lengkap dan detail beserta angka koma/desimalnya. Lalu selanjutnya saya minum lemon infused water yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Baru lah setelah itu saya lanjutkan pagi dengan mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.

Saya langsung “memaksa” badan saya untuk tidak mengonsumsi sarapan pagi, saya memilih untuk memulai makan pertama pada jam 12 siang yang berbarengan dengan waktu makan siang. Meski langsung makan pada jam makan siang, pada hari pertama itu saya masih membawa bekal grilled fish dan tumis frozen vegetables, menu sarapan untuk diet saya selama beberapa tahun terakhir, untuk dikonsumsi sebagai tambahan menu makan siang saya.

 

Sarapan dan Kopi

Pilihan untuk tidak sarapan tentu saja membutuhkan adaptasi. Pada awalnya saya tetap merasakan kepala agak pusing. Adaptasi kepala pusing dan perut yang agak keroncongan terjadi hingga 7 hari selanjutnya, mirip-mirip adaptasi saya pada setiap permulaan berpuasa di bulan Ramadan.

Tetapi yang sangat membedakan dengan hari-hari awal puasa bulan Ramadan adalah dalam diet Ketogenic masih diperbolehkan minum kopi pada pagi hari, yang tentu saja kopi tanpa gula, tanpa cream atau susu. Hal ini sangat menyenangkan hati saya meski pada awalnya sempat bikin saya ragu.

Sebelumnya saya selalu takut minum kopi dalam kondisi perut kosong yang belum diisi makanan. Sementara dalam diet Ketogenic sangat disarankan untuk tidak sarapan. Dalam ngopi-ngopi bulan Desember 2017, Herbert memberikan logika sederhana untuk menjawab keraguan dan ketakutan saya, “lambunglu itu isinya asam, kopi juga asam. Logikanya, kalo asam ketemu asam mustinya ngga apa-apa. Tapi kalo elu merasa ngga yakin, coba pagi-pagi minum lemon infused water dulu atau cuka apel. Kalo abis minum itu lambunglu aman-aman aja, artinya lambunglu juga aman untuk kemasukan kopi.”

Badan saya sejak lama memiliki toleransi yang tinggi terhadap kafein, seberapa banyak kopi yang saya konsumsi dalam 1 hari dan pada jam berapa pun, kafein kopi tidak bisa menghalangi saya untuk ngantuk apabila jam tidur sudah tiba. Apalagi sejak saya “belajar” ngopi beberapa tahun yang lalu, saya sangat bisa menikmati kopi straight black tanpa gula, tanpa pemanis, tanpa cream/susu. Kopi pagi saya selalu bebas dari zat-zat tambahan. Kopi pagi saya selalu untuk ritual kesenangan, bukan sekadar moodbooster.

 

Menu Makan Siang

Persiapan mental yang paling penting dalam diet Ketogenic buat saya adalah menyiapkan menu makan siang yang bisa didapat dari lingkungan di sekitar kantor. Beberapa hari sebelumnya saya sudah meng-interview office boy tentang menu makanan apa saja yang ada. Dan ternyata banyak yang tergolong Keto Friendly. Di antaranya ada Soto Betawi, Sate Kambing, Tongseng Kambing, Gulai Kambing, Cincang Padang, Krecek, Opor Telor, Gulai Tunjang, Rendang Daging, dan Gulai Cumi. Dari sekian banyak pilihan menu makan siang itu sempat juga saya atur jadwalnya karena barangkali saya akan menemukan kebosanan. Tetapi pada prakteknya kemudian saya malah sering memilih makan siang dengan salah satu di antara 3 menu berikut ini; Sate dan Gulai Kambing, Ayam Bakar dengan porsi besar lalapan, atau 1½ porsi Soto Betawi full jeroan.

Gulai Tunjang, Telur, Daun Singkong

 

 

Selanjutnya ...

22 January 2021

Diet Ketogenic Saya: Pencerahan

 

“Cara Luar Biasa untuk Tampil Biasa-biasa”

catatan Edwin Rizky Supriyadi

 

Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal saya menuliskan catatan ini.

 tulisan sebelumnya ...

 

Pencerahan

Obrolan sambil ngopi-ngopi seringnya lebih serius dibanding bahasan dalam meeting resmi, bahkan pencerahan dan ide-ide bagus nggak jarang malah hadir dalam obrolan di sela nyruput kopi panas. Sama halnya dengan ngopi-ngopi bareng Herbert pada pertengahan Desember 2017 itu. Obrolan yang awalnya bertemakan belajar ngopi versus belajar diet Keto malah jadi lebih banyak update mengenai diet Keto, yang pada ujungnya memberikan pencerahan bagi saya yang sudah nyaris putus asa untuk urusan hidup sehat.

Urusan pencerahan bagi saya yang sempat menolak ikut diet Ketofastosis adalah bukan hal yang gampang. Tapi anehnya obrolan yang lebih kurang lamanya cuma 2 jam malah banyak mencerahkan dan langsung memotivasi saya untuk menjalankan diet yang “di-update” oleh Herbert yang juga dikenal dengan diet Ketogenic.

Diet Ketogenic sebenarnya nyaris sama dengan dengan diet Ketofastosis. Nama kedua diet ini sama-sama berasal dari kata “Keto”, sama-sama bertujuan mencapai kondisi Ketosis supaya tubuh berbahan bakar Ketones dengan menjaga stabilitas kadar glucose dalam tubuh.

Mungkin bisa dibilang diet Ketogenic adalah salah satu dari dua aliran besar dari diet Keto selain diet Ketofastosis. Yang membedakan keduanya adalah kalau dalam diet Ketofastosis sudah sangat teratur dengan penentuan fase atau tahapan serta aturan-aturan makan dan makanannya, sementara diet Ketogenic lebih fleksibel untuk aturan makan dan jenis makanan tetapi dengan tetap mendasarkan pada “formula” zero sugar + low carbohydrate + high healthy fat + middle protein volume.

Contoh fleksibilitas diet Ketogenic antara lain adalah meski disarankan untuk tidak sarapan tetapi tetap diperbolehkan untuk makan pada pagi hari apabila merasakan perut sudah lapar. Diet Ketogenic tidak memaksa untuk langsung “berpuasa” sejak jam 8 malam hingga jam 12 siang. Menu makanannya silakan dipilih sendiri yang masuk kategori “Keto friendly”, yang tidak melulu dimulai dengan telur rebus, tetapi dipersilakan untuk langsung menyantap Soto Betawi bersantan kental misalnya.

Soto Betawi

 

Makanan dan Motivasi

Diet Ketogenic lebih mendorong untuk mengonsumsi makanan yang asli atau real food, bukan makanan-makanan pengganti apalagi makanan yang diawetkan atau processed food. Sangat disarankan untuk mengonsumsi makanan Keto friendly yang bisa ditemui dalam menu makanan masakan sehari-hari, tidak perlu makanan khusus dengan bahan-bahan pengganti.

Contoh-contoh menu real food masakan asli Indonesia lainnya yang tergolong Keto friendly antara lain adalah Soto Betawi kuah santan dengan isi daging dan jeroan sapi, Gulai Otak Sapi, Tongseng Kambing, Gulai Tunjang, Rendang Daging, Opor Ayam, Ayam Bakar, Opor Telor, Krecek, Sate Kambing Bumbu Kecap, Gulai Kambing, Ikan Bakar, Telor Bebek Rebus dan masih banyak lagi.

Sate & Sop Kambing

Macam-macam menu makanan itulah yang dijadikan Herbert jadi bahan motivasi untuk mendorong saya menjalankan diet Ketogenic. Menu makanan Keto friendly lebih banyak di Indonesia, lebih mudah ditemui, banyak pilihan dan jelas lebih murah dibanding di Singapore tempat Herbert tinggal. Selama menjalankan diet Ketogenic di Singapore, Herbert lebih sering memasak menu makanannya sendiri, kecuali kalau sudah mulai bosan maka barulah ia berangkat ke resto masakan India atau masakan Melayu di sana.

Pertimbangan kemudahan menu makanan Keto friendly asli masakan Indonesia sangat memotivasi saya untuk segera menjalankan diet Ketogenic. Herbert bilang untuk mencoba diet Ketogenic hingga kelihatan hasilnya tidak perlu lama-lama, cukup 3 bulan aja, dipersilakan mencoba selama 1 minggu dulu, yang penting jangan makan kalau belum lapar dan makanlah yang kenyang supaya ngga ngemil sampai betul-betul merasa lapar lagi.

Gulai Kambing

Makanlah pada saat lapar dan makanlah yang kenyang, sehingga mampu menghindari ngemil, adalah cara yang ampuh untuk menjaga stabilitas kadar glucose dalam darah. Kalau glucose stabil, rasa lapar dan keinginan untuk ngemil sangat bisa ditekan.

Rentang waktu diet “ketat” selama 3 bulan yang disarankan adalah rentang waktu rata-rata pelaku diet Ketogenic mencapai kondisi Fat Adapted. Kondisi Fat Adapted adalah kondisi tubuh manusia yang telah beradaptasi sehingga bahan bakar tubuhnya beralih dari glucose ke bahan bakar yang berasal dari pengolahan lemak yang disimpan tubuh (stored body fat), kondisi yang disebut Ketosis. Ketosis adalah kondisi tubuh manusia yang bahan bakarnya berasal dari Ketones. Ketones adalah bahan bakar tubuh Fat Adapted yang merupakan hasil pengolahan stored body fat oleh liver.

Sebelum mencapai kondisi Fat Adapted atau Ketosis disarankan sebaiknya untuk tidak berolahraga supaya tubuh lebih dulu mencapai kondisi beradaptasi penuh berbahan bakar Ketones sehingga dapat berolahraga dengan lancar tanpa terganggu kebutuhan glucose.

 

Diet dan Hunter & Gatherer Lifestyle

Menurut kamus Merriam-Webster, diet adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi secara kebiasaan. Mungkin dengan kata lain, diet bisa disebut sebagai pola makan dan minum. Pengertian “pola makan dan minum” di sini belum tentu berujung pada penurunan berat badan karena tergantung dari jenis makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi.

Apabila diet diartikan sebagai kebiasaan makan dan minum atau pola makan dan minum, maka diet Keto juga bisa diartikan sebagai kebiasaan makan dan minum yang membuat badan manusia menjadi Ketosis dan tetap menjaganya dalam kondisi tersebut.

Meski diet Keto baru terkenal dalam 1 dekade terakhir ini tetapi nenek moyang manusia yang hidup ratusan ribu tahun lalu sudah menjalani pola makan dan minum yang sama dengan diet Keto dalam pola hidup Pemburu & Pengumpul (Hunter & Gatherer lifestyle). Sebelum mengenal cara bertani, manusia menjalankan pola hidup Hunter & Gatherer selama 99,6% dari total masa manusia berevolusi, sehingga dapat dikatakan pola hidup ini lah yang membentuk genetika manusia.

Cara hidup berburu tentu saja untuk mengonsumsi hewan hasil buruan. Makanan yang paling pertama dan utama adalah protein dan lemak hewani. Bahkan mungkin makanan yang paling pertama dimakan adalah jeroan/isi perut hewan untuk membersihkan dan membuat hewan hasil buruan lebih awet serta tahan lebih lama untuk bisa dibawa hingga ke tempat tinggal keluarga si pemburu.

Berburu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan makan. Apakah sebelum berangkat si pemburu mempersiapkan diri dengan makan sesuatu? Ya mungkin saja para pemburu sempat makan sebelum berangkat berburu apabila ada sisa makanan hasil buruan hari sebelumnya, tetapi lebih mungkin mereka berangkat berburu dalam kondisi perut yang kosong sejak kemarin terakhir kali makan.

Di sinilah letak kesamaan pola makan minum nenek moyang manusia dengan diet Keto, dari menu makanan yang lebih banyak bersumber dari hewan dan juga rentang waktu perut kosong yang cukup lama sejak kemarin malam. Mungkin saja mereka juga mengonsumsi carbohydrate yang berasal dari umbi-umbian yang mereka temukan di perjalanan berburu atau di sekitar tempat tinggal mereka tapi tentulah itu bukan makanan yang utama.

Dari cara hidup dan pola makan manusia purba inilah bisa disimpulkan bahwa jenis makanan yang Keto friendly lah yang sesuai dengan desain asli tubuh manusia sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Manusia mengenal makanan mengenyangkan yang mengandung banyak carbohydrate baru dimulai sejak manusia mengenal cara hidup bercocok tanam dan bertani. Manusia mengenal roti, kue dan sugar setelah pertanian semakin maju dan industri pengolahan bahan makanan semakin berkembang.

Dengan demikian memang selayaknya manusia mengonsumsi jenis-jenis makanan yang lebih sesuai dengan desain asli metabolisme dan sel tubuhnya, dan ini sangat masuk akal. Hal ini juga diperkuat oleh asumsi beberapa dokter yang menyatakan bahwa metabolisme manusia tidak banyak berubah sejak ratusan ribu tahun yang lalu.

Pola makan diet Keto seperti membalik piramida nutrisi makanan yang pernah diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) dan Departemen Agrikultur Amerika Serikat (U.S. Department of Agriculture - USDA). Kalau pada piramida nutrisi makanan sesuai standar umum menyarankan manusia untuk lebih banyak mengonsumsi makanan carbohydrate yang berasal dari tepung olahan, justru pada diet Keto lebih diutamakan untuk mengonsumsi lemak hewani, yang pada piramida nutrisi makanan standar umum diletakan pada puncak (karena disarankan hanya untuk sedikit dikonsumsi).

1992 USDA Food Pyramid


Primal Blueprint food pyramid



Fat Burner

Tubuh manusia yang menggunakan bahan bakar lemak tubuh, atau dalam kondisi Ketosis, juga disebut sebagai Fat Burner. Untuk menjadi Fat Burner tentunya harus beradaptasi dan berubah dari berbahan bakar glucose menuju Fat Adapted. Caranya hanya dengan stop asupan sugar, menekan konsumsi carbohydrate serendah-rendahnya dan lalu mengonsumsi banyak lemak sehat.

Konsumsi carbohydrate harus ditekan serendah-rendahnya karena carbohydrate yang masuk ke dalam akan diubah menjadi glucose. Kalau masih ada kadar glucose yang tinggi dalam darah, tubuh manusia akan tetap mengutamakan glucose sebagai bahan bakar.

Konsumsi lemak sehat yang tinggi berguna untuk memancing tubuh untuk memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar, karena apabila glucose sangat rendah dalam darah maka liver akan mengolah lemak yang ada dalam tubuh menjadi Ketones untuk selanjutnya menjadi bahan bakar.

Lemak yang sehat adalah lemak yang langsung bersumber dari hewan. Selain yang berasal dari hewan, lemak yang sehat juga berasal dari kelapa (minyak kelapa, santan) dan juga dari buah zaitun. Lemak sehat ini tidak melalui proses yang rumit untuk sampai bisa dikonsumsi oleh manusia.

Seperti pada pola makan manusia Hunter & Gatherer, tubuh manusia tidak membutuhkan sugar sebagai asupan untuk bahan bakar tubuhnya. Hanya organ otak dan otot tubuh manusia yang membutuhkan glucose, dalam bentuk glycogen, sebagai bahan bakar dalam jumlah yang sangat sedikit. Karena sedikitnya kebutuhan glucose, dalam darah tubuh manusia sehat seharusnya hanya terdapat glucose seukuran 1½ sendok teh saja. Berbeda dengan kemampuan tubuh manusia menyimpan puluhan kilogram body fat yang memang adalah bahan bakar natural terbaik.

Lalu apakah manusia Hunter & Gatherer mengalami kesulitan berpikir dan sering sakit kepala karena tidak adanya asupan sugar yang dibutuhkan otaknya? Ternyata liver manusia bisa memenuhi kebutuhan itu dengan mengubah lemak tubuh menjadi glucose sesuai jumlah yang dibutuhkan otak.

Setiap kali kita makan, makanan yang masuk cenderung memicu kenaikan level glucose. Apabila terjadi kenaikan level glucose, pankreas terpicu untuk menghasilkan hormon Insulin yang berguna mengendalikan dan menekan level glucose dalam darah. Selain mengendalikan level glucose, Insulin juga bertugas menyebarkan glucose dan nurtrisi ke dalam sel-sel tubuh. Kelebihan glucose akan “diinstruksikan” oleh insulin untuk disimpan tubuh menjadi stored body fat.

Glucose adalah bahan bakar yang mudah habis. Kondisi tubuh yang memerlukan asupan bahan bakar ditandai dengan rasa lapar. Karena glucose mudah habis maka tubuh yang masih berbahan bakar glucose akan lebih mudah lapar sehingga memicu tubuh untuk lebih sering makan atau ngemil.

Kondisi ini berbeda pada tubuh Fat Burner yang livernya mampu mengolah stored body fat menjadi Ketones untuk dijadikan bahan bakar tubuhnya. Ketersediaan glucose untuk otak akan tetap terjaga karena tidak tergantung pada asupan sugar dari luar tubuh sehingga otak tidak pernah kekurangan asupan energi. Stamina juga menjadi membaik dan meningkat karena Ketones selalu tersedia.

Lalu apakah dengan demikian liver akan bekerja semakin keras karena harus sering-sering memproses lemak tubuh menjadi Ketones? Yang pertama perlu dipahami bahwa meski stamina meningkat tidak berarti tubuh menjadi tidak mengenal istirahat. Diet Keto juga memperbaiki proses metabolisme. Tubuh dengan metabolisme yang baik akan dengan sendirinya meminta waktu jeda untuk beristirahat. Saat beristirahat inilah juga waktunya bagi liver juga untuk beristirahat.

Perlu diketahui juga bahwa dengan level glucose yang stabil dalam darah meminimalisir pankreas dalam memproduksi Insulin. Dengan minimnya hormon Insulin dan level glucose yang rendah maka tidak ada proses penyimpanan kelebihan glucose menjadi stored body fat, termasuk penumpukan lemak pada liver yang sering dikenal sebagai fatty liver. Dengan pengurangan kadar fatty liver ini tentunya membuat liver menjadi semakin sehat sehingga dapat bekerja semakin optimal.

Kondisi tubuh Fat Burner yang paling terasa dan kelihatan jelas adalah semakin berkurangnya rasa lapar dan berkurangnya keinginan ngemil. Rasa lapar cuma akan muncul apabila tubuh sudah membutuhkan asupan.

Bisa dibilang perubahan pola makan saya kali ini sangat-sangat mendasar setelah hampir seumur hidup selalu bersandar pada pola yang sangat umum; tidak pernah meninggalkan sarapan, selalu makan tepat waktu dengan komposisi menu makanan sehat, tinggi carbohydrate dan sugar. Belum lagi mengikuti saran untuk tetap menjaga lambung tetap terisi dengan ngemil sebelum makan siang dan menjelang sore atau menjelang waktu makan malam.

Ada yang bilang bahwa lambung kita tetap bekerja meski tidak diisi makanan, maka supaya dinding lambung tidak bergesekan saat kosong karena selalu tetap bekerja, kita harus sering makan untuk menjaga lambung tetap terisi. Tetapi apakah lambung benar-benar tidak pernah beristirahat?

Kandungan sugar dan carbohydrate yang tinggi dalam menu makanan yang sering disantap juga menyumbang tingginya keinginan kita untuk selalu makan. Dorongan selalu ingin makan yang terjadi diakibatkan kandungan glucose dalam darah yang cepat sekali habis. Mungkin saja dari sinilah muncul “saran kesehatan” yang mengatakan sebaiknya kita makan tidak sekaligus dalam porsi besar tetapi lebih sering dalam porsi yang kecil-kecil sebanyak 6 sampai 8 kali dalam 1 hari. Nah silakan kaitkan dengan keterangan saya sebelumnya yang menjelaskan kerja Insulin terhadap naiknya level glucose setiap kali ada makanan masuk.

 

Diet Low Fat dan Diabetes

Pola makan rendah lemak baru diperkenalkan pada tahun 1960-an, berdasarkan hasil penelitian resiko penyakit jantung koroner yang dipengaruhi konsumsi lemak hewan, yang penelitiannya diadakan setelah Dwight Eisenhower, Presiden AS pada waktu itu, mengalami serangan jantung pada tahun 1955. Tetapi penelitian ini, yang selama puluhan tahun diyakini sebagai kebenaran scientific yang mutlak, ternyata tidak bisa menjawab fenomena French Paradox; Perancis memiliki menu makanan yang tinggi kandungan lemak hewani namun dengan rata-rata kasus resiko penyakit jantung koroner yang rendah.

Dalam pola makan rendah lemak juga mendorong konsumsi makanan sehat yang mengandung oat, jagung, susu dan lemak dari minyak tumbuh-tumbuhan. Tetapi setelah diperkenalkannya pola makan tersebut justru terjadi peningkatan tajam pada jumlah pasien kegemukan/obesitas, penyakit diabetes dan penyakit jantung koroner khususnya di Amerika Serikat.

Sebagian besar penyakit yang ada di dunia bisa ditangani secara medis, sebagian besar sudah ada obatnya tetapi hanya sebagian penyakit saja yang benar-benar bisa disembuhkan. Untuk penyakit-penyakit seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner dan penyakit kanker masih hanya sebatas dikendalikan secara medis sebelum akhirnya kondisi pasien menjadi semakin memburuk dan/atau sewaktu-waktu kambuh parah hingga menyebabkan kematian.

Pertanyaannya jadi menarik, apakah memang untuk penyakit diabetes, jantung koroner dan kanker benar-benar belum ada obatnya? Akhir-akhir ini muncul asumsi dari sebagian dokter di dunia bahwa terjadi kesalahan mendasar dalam menangani penyakit-penyakit tersebut sehingga tidak memperbaiki penyebab utamanya.

 

 

Selanjutnya  …