tag:

20 November 2010

ONROP! Musikal: Penciptaan Trend Baru Teater Indonesia

onrop


Ah sudah lama sekali gue ga nonton panggung teater. Terakhir kali nonton lakon panggung Teater Koma yang judulnya pun gue sudah lupa. Itu terakhir nonton panggung teater dan terakhir pula nonton pertunjukan bersama almarhum Bokap.

Ada sensasi yang ajaib sewaktu menanti pertunjukan ONROP! Musikal (ONROP) ini. Gue merasakan kegirangan yang luar biasa hingga jantung selalu berdebar-debar dalam seminggu terakhir menjelang Hari-H pertunjukan. Kalo dipikir kayaknya gejala ajaib itu dikarenakan 2 hal: pertama, karena gue sudah lama ngga nonton pertunjukan teater secara langsung; kedua, karena ONROP ini karya Joko Anwar, sutradara film favorit gue, yang tentunya bikin penasaran bakal seperti apa teater musikal besutannya.

Rasa penasaran pun semakin menumpuk karena gue pesan tiket untuk pertunjukan hari pertama sebulan sebelum Hari-H. Mungkin terdengar agak gila karena gue secara khusus mengejar pertunjukan hari pertama. Sebenernya gue menuruti 'nasehat' alm. Bokap gue yang selalu bilang bahwa waktu yang paling baik untuk menyaksikan teater panggung adalah pertunjukan perdana, karena saat itulah energi dan excitement sedang pada puncaknya, sekalipun kita juga bakal melihat kesalahan-kesalahan di sana sini. Maklumlah, namanya juga tampil perdana.

Setelah beberapa hari pertunjukan kondisi fisik pemain juga bakal menurun. Sekalipun ada juga aktor senior Indonesia yang bilang bahwa top performa teater panggung adalah pada hari ke-3 atau ke-4, karena sudah banyak evaluasi sana sini, tapi gue yakin bahwa energi dan excitement-nya tidak akan menandingi pertunjukan hari pertama.

Sambil menunggu Hari-H, gue ngga berhenti membayangkan akan seperti apa jadinya ONROP nanti. Sebenernya gue pernah tau bocoran ceritanya dari sutradaranya sendiri. Waktu itu masih ditujukan untuk dibuat menjadi film. Namun dari ceritanya, gue ngga berani ngebayangin bakal seperti apa filmnya nanti. Bukan cuma itu, gue pun ngga berani ngebayangin bakal seperti apa kontroversinya karena dari bocoran ceritanya saja sudah penuh dengan kritik sosial yang keras dan langsung tuding meski setting-nya di masa depan.

Awal tahun 2010 gue denger kabar konsep cerita ONROP diubah dan disiapkan jadi panggung musikal! Salut deh! Konversi ini adalah langkah cerdas Joko Anwar dalam mempertahankan karya seninya tanpa kompromi. Kalo masih dalam bentuk film, kemungkinan gunting sensor bakal amat sangat tajam mencacahnya (golok sensor mungkin tepatnya). Kalo dari panggung teater, kan kita belum pernah lagi dengar ada kasus breidel sebuah pertunjukan teater, bukan?! Belum lagi, teater itu sifatnya agak eksklusif dan segmented yang hanya menarik bagi kalangan tertentu saja.

Mendengar kabar konversi ini, gue langsung terkenang masa-masa 'pendidikan' menonton teater yang dimentori alm. Bokap gue. Masih ingat pertama kali diajak nonton teater di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (lagi-lagi gue lupa apa judul lakonnya), malam-malam, sepi-sepi dan banyak nyamuk. Waktu itu usia gue belom lagi 10 tahun. Ke mana-mana masih bercelana pendek. Ngga aneh kalo sepanjang pertunjukan teater yang ngga ada seru-serunya itu gue selalu misuh-misuh pelan-pelan. Iya, misuh-misuh pelan-pelan karena ‘ditahan’ oleh Bokap gue yang galak banget kalo urusan tata tertib nonton panggung teater, nggak boleh bersuara! Itu pengalaman pertama gue.

Pengalaman berikutnya tentunya lebih seru lagi, sore-sore disuruh Bokap siap-siap pergi dan mengenakan celana panjang. Waktu itu usia gue sudah 10 tahun. Ternyata gue diajak ke pertunjukan Teater Koma! Saat itu gue udah mulai kenal betapa ‘nakal’nya Teater Koma dari beberapa booklet yang dibawa pulang Bokap dari pertunjukan-pertunjukannya. Ngga heran kalo Bokap nyuruh gue bercelana panjang supaya sedikit ‘mengelabui’ panitia, seolah-olah gue sudah cukup umur untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Mulai saat itu, gue jadi 'partner in crime' Bokap gue yang hampir selalu bersama nonton pertunjukan teater. Dan pelan tapi pasti gue 'dikenalin' dengan pertunjukan-pertunjukan teater yang berkelas dari Teater Koma dan Bengkel Teater Rendra (emang cuma dua itu sih Teater favorit Bokap). Yang cukup berkesan adalah lakon Kampung Suku Naga (KSN) oleh Bengkel Teater Rendra dan Opera Ikan Asin (OIA) oleh Teater Koma. KSN mantap dengan kritik sosialnya yang tajam dan temanya aktual selama berpuluh tahun. Sedangkan OIA, adaptasi dari Three Penny Opera, sangat cerah dengan tari dan nyanyi meski juga bertemakan kritik sosial.

Khusus KSN, kali itu gue nonton versi revisited-nya. Ceritanya sama persis, bahkan sebagian pelakonnya pun sama dengan versi aslinya di tahun 70-an. Tapi situasi politik Indonesia yang membedakan. Menurut Bokap gue, jatuhnya rezim otoriter Indonesia sejak 1998 membuat nonton lakon KSN saat itu tidak sewas-was saat menonton versi aslinya. Pada masa rezim otoriter berkuasa, lakon teater dapat dihentikan tiba-tiba ditengah berlangsungnya pertunjukan! Dan memang terbukti KSN 'revisited' tidak pernah dihentikan di tengah jalan.

Saat itu rasanya hidup gue sangat berkelas karena suka nonton teater. Tapi suatu waktu sempat tersentak karena ada pertanyaan dari seorang yuppies, "Emang keren ya teater Indonesia?" "Keren seperti pertunjukan-pertunjukan Broadway?"

Hmmm bisa gue jawab sih tapi tentunya akan sulit meyakinkan kerennya teater Indonesia kepada orang yang punya pertanyaan dan referensi teater semacam itu. Teater Indonesia tentunya khas sekali, sekalipun beberapa lakonnya adalah hasil adaptasi, tapi selalu punya muatan kritik kepada kondisi sehari-hari. Hal ini mungkin karena pada sejarahnya teater Indonesia pernah menjadi alat perjuangan tersamar melawan penguasa/penjajah.

Pengalaman pernah mencintai pertunjukan teater pastinya menjadi referensi gue untuk jadi sangat antusias menyaksikan ONROP. Dan dengan ‘persiapan’ sebulan penuh (kan beli tiketnya sebulan sebelomnya) nyaris selalu deg-degan.

tiket onrop


Akhirnya sampai juga pada Hari-H!

Dan .....semua yang ditampilkan ONROP di luar ekspektasi gue! Sebagai besutan seorang sutradara film, ONROP dibuat dengan sangat berani dan tidak setengah-setengah. Joko Anwar yang terkenal dengan sikapnya yang tidak kenal kompromi, membuat ONROP begitu lugas, terang-terangan dalam mengritik tapi juga mengetengahkan visual panggung yang hebat dan megah.

ONROP, sesuai dengan temanya yang musikal, dikemas dalam tari dan lagu. Dan banyak bagian dialognya dinyanyikan dalam bentuk lagu yang utuh. Fakta yang cukup mengejutkan adalah bahwa seluruh lirik lagu ditulis sendiri oleh Joko Anwar!

Gue selalu suka tontonan musikal yang sebagian dialognya dinyanyikan seperti ONROP ini. Mau tidak mau, semua referensi tontonan musikal favorit gue muncul sebagai pembanding: OIA-nya Teater Koma, Bahz Luhrman's Moulin Rouge, dan musikal fenomenal abad 21, Rent.

Perbandingan itu malah membuat gue menyejajarkan ONROP dengan tontonan musikal favorit gue karena ONROP punya kelebihannya sendiri: pertama, karena kisahnya orisinil bukan saduran/adaptasi. Kedua, tema yang diangkat adalah bentuk kritik sekaligus kekhawatiran pembuatnya terhadap kondisi aktual di Indonesia, yang juga bisa jadi kekhawatiran penontonnya. Kritik yang dilontarkan tanpa tedeng aling-aling. Menyebut langsung 'Jakarta' dan 'Indonesia', sekalipun tidak menyebutkan nama tokoh tertentu dan setting cerita adalah Jakarta - Indonesia di tahun 2020.

Yang ketiga, panggung musikal digarap amat serius dan detil. Mulai dari tata panggung, tata cahaya, tata gerak dan tata musiknya. Tata gerak dan tari ditangani langsung Eko Supriyanto yang sudah berkaliber Internasional (koreografer tour musik Madonna). Semua tarian digarap dengan tepat dan pas, ngga berlebihan dan ngga bikin gue mikir berat untuk menafsirkan artistiknya (ngga seperti pertunjukan musik dan tari yang pernah gue tonton yang maunya ngepop tapi tariannya yang terlalu over the top, bikin capek gue yang nonton).

Trio musisi music score paling handal yang dimiliki Indonesia, Aghi, Bemby, Mondo, bersatu ‘bahu-membahu’ pada pengalaman pertama mereka menyusun musik untuk panggung musikal. Ngga tanggung-tanggung, mereka sukses menggubah 17 lagu yang juga disusun untuk komposisi orkestra. Dan musiknya diisi langsung dengan orkestra dan choir, live on stage! Musik dan lagu yang disuguhkan dengan tipe musik panggung. Mungkin saja referensi musiknya diambil dari beberapa pertunjukan panggung musikal yang pernah ada di dunia. Yang menarik, buat gue nyaris semua lagu yang ada dalam ONROP ini bisa dijagokan sebagai single. Beberapa pilihan gue sebut aja “Bram Baby, One Kiss Please”, “Pulau Onrop”, “Ultra-nasionalisimo!”, “Kalau Nggak Ada Kamu Apa Gunanya”, “Pulau Cinta”, “Jangan Takut, Malam Tiba Dunia Milik Kita”, “Incompatible”, “Ini Cuma Cinta Kalian Takut Apa?” dan yang paling gue jagokan dari semuanya adalah “Kenapa Harus Drama?” Kita tunggu saja realisasi rekaman musiknya segera dalam bentuk CD audio.

Sekalipun katanya seorang Joko Anwar juga turun tangan sendiri untuk mengarahkan visual panggung sekaligus dengan tata cahayanya, pertunjukan ini diproduseri oleh Afi Shamara (produser film ‘Ca Bau Kan’, ‘Biola Tak Berdawai’, ‘Arisan!’) yang dengan ONROP ini, seorang Bunda Afi (begitu biasa dia dipanggil oleh orang-orang terdekat) kembali kepada cinta pertamanya, yaitu teater. Gue selalu salut dengan produser yang mau kerja bareng seorang Joko Anwar yang tidak kenal kompromi dan isi kepalanya yang ngga pernah sederhana. Tapi lucunya, di suatu kesempatan obrolan singkat sebelum pertunjukan perdana ONROP, Bunda Afi terang-terangan memuji kerja Joko Anwar yang nyaris ‘all in’ untuk semua aspek di pertunjukan itu.

Onrop Perdana 01

Onrop Perdana 03


‘Kegilaan’ Joko Anwar ngga hanya sebatas kerjanya yang all in di ONROP ini, tapi sejak awal dia mengadakan open casting untuk semua pemeran, penari dan penyanyi dalam pertunjukan ini. Dalam hasil akhirnya, sebagai penonton kita boleh saja bilang bahwa akting di ONROP tidak sulit karena sebagian besar pemerannya adalah aktor terkenal dan langganan kerja bareng dengan Joko Anwar. Tapi musti diingat adalah ini panggung teater musikal, para pemeran/penari harus selalu tampil live! Semua dialog dan nyanyian tidak ada dubbing! Sebagian besar pemeran dalam ONROP ini adalah bukan aktor teater profesional. Sebagian besar kita kenal dalam produksi layar lebar atau pun televisi. Maka dari itu gue ngga berani membayang betapa hebatnya pendidikan dan penempaan bagi para pemeran/penari dalam produksi ini sejak awal audisi hingga bisa tampil dengan diberi standing ovation beberapa malam berturut-turut. Tampil live on stage bagi semua penampil di ONROP pastinya menjadi pengalaman yang tak ternilai.

Onrop Perdana 04


Kemasannya boleh musikal, tapi seperti halnya karya Joko Anwar sebelumnya, kisah ONROP tidak sesederhana judulnya. Cerita tentang kritik sosial dipadati dengan dialog (yang sebagian dinyanyikan) yang cerdas. Balutan lagu dan humor malah menjadikan kritiknya semakin nyaring! Dan satu hal yang paling gue suka dengan teater panggung, yang juga menjadi kelebihannya, adalah improvisasi-improvisasi di sana sini oleh pemerannya, baik di dalam dialog maupun dalam gerak, yang terkait dengan topik-topik aktual yang baru saja terjadi. Celetukan atau tambahan pendek dan sekilas dalam dialog yang menyentil berita/gossip terbaru dimungkinkan dalam teater. Hal ini yang ngga mungkin kita dapati di dalam sebuah karya film.

Onrop Perdana 02


Kemasan dan bertaburnya bintang panggung ONROP kali ini juga menjadikan teater sebagai tempat keren terbaru di Jakarta. Banyak yang penasaran dengan karya terbaru dari Joko Anwar, sebagian lagi pingin mendengarkan musik yang dikreasikan Aghi-Bemby-Mondo, dan sebagian lagi juga penasaran seperti apa panggung musikal dengan aktor-aktor yang bernyanyi-nyanyi di dalamnya. Ditampilkan dalam gedung pertunjukan paling anyar di Jakarta juga bisa menjadi hal yang menarik penonton berbondong-bondong membeli tiketnya.

Mungkin pada awal penjualan tiketnya masih bisa pesan sambil santai dan pilih-pilih seats, namun setelah penampilan perdana, penjualan tiket di kantor produksi selalu ada antrian. Bahkan penjualan di loket tiket yang dibuka di depan gedung pertunjukan selalu sold out dalam hitungan menit.

Memang menjadi fenomena menarik ketika ONROP menjadikan teater sebagai sesuatu yang cool. Dan ONROP juga yang menjadikan teater sebagai tontonan menarik bagi semua kalangan masyarakat. Eksklusivitas teater sebagai tempat pengkultusan seni berhasil didobrak oleh produksi ini. Tapi kondisi ini juga sedikit melunturkan kesakralan tata tertib menonton teater. Pertunjukan teater yang pasti tepat waktu memerlukan kepatuhan penontonnya untuk datang hadir dan duduk beberapa menit sebelum lakon dimulai. Tidak ada toleransi bagi yang terlambat, kecuali baru akan diperbolehkan masuk auditorium pada jeda istirahat.

Berbagai kalangan masyarakat yang hadir juga membuat ketenangan dalam pertujukan teater menjadi sulit dijaga. Para penampil harus perform live on stage, tentunya membutuhkan konsentrasi khusus yang bisa saja terganggu dengan obrolan/celetukan penonton. Memang ada beberapa bentuk pertunjukan panggung yang formatnya bisa berinteraksi langsung dengan penontonnya, tetapi secara umum pertunjukan teater tidak melakukan hal itu. Agak sebel juga sih karena sempat duduk di sebelah/depan penonton yang cukup sering ngobrol ngebahas pertujukannya. Tapi di sisi lain, kondisi itu gue anggap sebagi resiko teater kembali menjadi milik semua kalangan.

Joko Anwar sekali lagi membuktikan bahwa berkarya tanpa berkompromi dengan pasar ternyata mampu menggugah pasar itu sendiri, dan bahkan menciptakan trend baru, yang bakal terus diperbincangkan dan diperbandingkan dengan karya-karya sejenis.

Onrop undangan

13 November 2010

MADAME X: Sebagai Produk Peradaban Sesuai Zamannya

madame-x

Judul:
Madame X

Sutradara: Lucky Kuswandi
Produser: Nia Dinata
Skenario: Khalid Kashogi, Agasya Karim
Penata Musik: Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro
Penata Suara: Khikmawan Santosa
Penata Gambar: Roni Arnold
Penata Artistik: Eros Eflin
Penata Kostum: Tania Soeprapto, Isabelle Patrice
Penata Rias: Yoga Septa
Penata Tari: Rusdi Rukmarata
Penata Laga: Petruska Karangan
Efek Khusus Grafis Komputer: Harris Reggy

Para Pemeran:
Aming, Robby Tumewu, Vincent Rompies, Fitri Tropika, Ria Irawan, Joko Anwar, Saira Jihan, Marcel Siahaan, Titi DJ, Shanty, Sarah Sechan

Sinopsis:
Ketika Ibukota di sebuah negeri antah berantah terancam oleh kemunculan Kanjeng Badai dan partai politiknya yang militant dan homophobia, keselamatan negeri ini bergantung pada Adam, seorang penata rambut yang kemayu. Dengan kekuatan tas make-up dan peralatan dandan, juga perpaduan seksi antara seni bela diri dan gerak tari, adam haru mengalahkan Kanjeng Badai dan istri-istrinya dengan gemulai sebelum Kanjeng Badai memenangkan Pemilu. Akankah sepatu berhak tingginya berubah menjadi pantofel, riasan glitter-nya menjadi debu, atau celana kulitnya jadi celana kain? Ketika semua menjadi samara, hanya satu yang pasti: Adam harus memenuhi takdirnya sebagai seorang super hero Madame X, super hero pembela kaum minoritas.


madame-x tiket


Catatan:
Dari yang gue tau, kebudayaan adalah produk dari sebuah peradaban. Sebagaimana film yang juga adalah bentuk/ produk dari sebuah kebudayaan, maka sebuah film biasanya mencerminkan sebuah peradaban sesuai zamannya.

Sebagai contoh adalah film Madame X ini, gue melihat film ini adalah potret atau cerminan peradaban di Indonesia pada saat ini. Dengan cara penuturan komikal, film ini memuat banyak sekali potret sosial yang aktual.

'Gambar besar' dari film ini adalah tentang diskriminasi dan perlawanan terhadap diskriminasi. Yang paling utama adalah potret tentang diskriminasi atas perbedaan orientasi seksual. Dari mereka yang orientasi seksualnya didiskriminasikan dan dipinggirkan malah lahir super hero yang memiliki jurus pamungkas yang didasari dari tari tradisional.

Bagi penonton yang rajin mengikuti perkembangan berita-berita aktual dalam negeri, mestinya mampu menyerap semua satire yang disajikan dalam film ini. Dan bagi yang jeli pasti sadar sekali bahwa film ini tidak hanya sebuah komik satire tetapi juga merupakan suguhan satire yang padat sekali. Hampir setiap adegan adalah sebuah parodi dan sindiran dari kondisi aktual di Indonesia, termasuk tarian dan visualisasi menarikannya. Sindirian dalam film ini tak hanya dalam dialog tetapi juga disampaikan melalui visual.

Dengan cukup cerdas si penyusun cerita menggelar semua parodi dan sindiran menjadi suguhan komedi yang mengocok perut, bukan saja karena kelucuannya saja, tetapi juga karena sindirian-sindirannya. Dari film ini pula kita bisa mendapatkan gambaran apabila seorang transgender nantinya menjadi angel setelah meninggal dunia.

Bagi sebagian penonton bisa saja bakal terbengong-bengong dengan banyaknya dialog yang menggunakan bahasa gaul transgender Jakarta tingkat tinggi. Tapi hanya menyaksikannya begitu saja, tanpa memusingkan bahasa gaulnya dan satire yang disuguhkan,, film ini tetap bisa menghibur yang selain karena lucu juga karena adegan-adegan pertarungan super yang sudah tidak lagi muncul di layar lebar bioskop Indonesia mutakhir.

Mungkin bagi mereka yang termasuk golongan agamis puritan bakalan ‘gatal-gatal’ sepanjang menyaksikan film ini. Tapi inilah potret dari jaman kita sekarang, manusia yang diberikan kehendak bebas oleh Tuhan namun dikekang oleh sesamanya sendiri. Menurut gue boleh saja kita tidak setuju dengan pilihan dan orientasi mereka, tapi bagaimana pun mereka juga punya hak hidup yang sama dengan semua manusia.

24 October 2010

AKU atau DIA?: Kasus Patah Hati Orang Dewasa yang Rumit

Judul:
AKU atau DIA?

Run time
: 97 menit

Sutradara: Affandi Abdul Rachman
Penulis Skenario: Affandi Abdul Rachman dan Nataya Bagya
Produser Pelaksana: Syaiful Wathan
Penata Kamera: Enggong Supardi
Penata Artistik: Benny Lauda
Penyunting: Yoga Krispratama
Penata Suara: Khikmawan Santosa
Penata Music: Aghi Narottama dan Bemby Gusti

Para Pemeran:
Julie Estelle, Rizky Hanggono, Aline Adita, Fedi Nuril, Sophie Navita, Lukman Sardi, Verdi Solaiman, Shara Aryo, Alex Abbad, Yama Carlos, Edo Borne, TJ, Ringgo Agus Rahman, Ananda Omesh, Lenna Tan


Sinopsis:
Novi dan Dafi adalah ‘campus sweetheart’, bertemu saat kuliah dan berpacaran terus hingga keduanya lulus. Walaupun hubungan mereka tidak tanpa cacat, Novi dan Dafi berhasil menjalaninya selama 4 tahun. Novi sangat mencintai Dafi dan selalu berusaha mendukung apapun yang dikerjakan Dafi, termasuk karirnya sebagai pengacara. Sebagai pengacara muda, Dafi menginginkan karirnya melesat. Amara, pengacara senior di Amara & Partners, melihat keinginan Dafi dan memanfaatkan situasi ini dengan menawarkan posisi partner untuk Dafi. Dafi tidak menolak dan menyambut baik tawaran Amara.

Konsekuensinya, Dafi terpaksa mengorbankan hubungannya dengan Novi demi posisi. Novi tidak menyangka Dafi percaya dan sedih bukan kepalang. Untung bagi Novi, di tengah rasa putus asanya, ada Pipit, Wawan dan Asep, saudara-saudaranya yang selalu siap menghibur dan membantunya melupakan Dafi.

Secara kebetulan Novi mendengarkan acara radio Heart-Break.Com di mana Mbak Elza membahas kisah patah hati karena orang ketiga. Novi pun menghubungi Mbak Elza untuk membantunya menemukan jawaban atas apa yang dilakukan Dafi padanya.

Dibantu tim Heart-Break.Com dengan special agent Rama yang bekerja sama dengan saudara-saudaranya, Pipit, Asep dan Wawan, Novi berusaha merebut kembali perhatian Dafi. Kebersamaan Novi dengan Rama membuat perhatian Rama terpecah antara menyelesaikan misi dan perasaannya terhadap Novi.


Catatan:
Kali ini agen-agen Heart-Break.Com (HBDC) kembali beraksi untuk menangani kasus yang lebih dewasa dan berbahaya. Intinya tetap kasus patah hati dan HBDC diminta bantuannya untuk ‘mengembalikan’ Dafi kepada Novi. Dan Mbak Elza, selaku CEO HBDC mengambil resiko untuk menurunkan Rama, agen andalannya. Dan kisahnya pun menjadi semakin berbahaya.

Kalo dalam seri pertama film ini ceritanya lebih berfokus kepada kisah perjuangan Agus, dibantu karibnya Wawan, mengembalikan Nayla dengan diatur penuh oleh HBDC, kali ini kita disuguhkan langsung ‘operasi’ HBDC yang ternyata begitu besar dan cukup rumit untuk kasus patah hati yang kadang dilihat sepele oleh sebagian dari kita. Dan memang kisah patah hati orang dewasa ternyata bisa jadi lebih ribet dibanding kasus sejenis yang melanda kaum yang lebih muda.

Bila dalam kasus Agus-Nayla kita diperlihatkan sebatas perencanaan operasi oleh HBDC, kali ini boleh dibilang kita menyaksikan langsung bagaimana agen-agen itu bekerja. Nyaris semua agen HBDC dibuka ‘kedok’nya dalam film ini. Ngga cuma identitasnya yang dibuka, dilema pekerjaan dan pribadinya pun juga dipaparkan. Sebagian agen HBDC ketauan aslinya dalam film ini.

Dan ternyata HBDC juga memanfaatkan semua hal yang bisa dimanfaatkan untuk melancarkan operasinya. Kalo dulu cuma Wawan yang ‘direkrut’ untuk bantuan, kali ini ngga tanggung-tanggung deh, satu rumah direkrut!

Dengan 15 aktor yang namanya sudah dikenal luas di masyarakat Indonesia, kali ini Affandi Abdul Rachman, sutradara sekaligus penulis skenario, memiliki tugas yang berat. Memang dalam cerita apa pun miliknya, setiap karakter yang ada pasti penting meski ‘tugas’nya kelihatan kecil, namun kali ini layar seperti kepenuhan dengan tokoh karakter tanpa mendapat waktu yang cukup. Kita mungkin bakal sering bertanya-tanya kenapa si anu atau si anu cuma tampil nyaris sekilas. Namun dalam ketatnya penceritaan, kita tetap mampu digiring untuk tetap berfokus kepada 3 karakter intinya, Dafi – Novi – Rama.

Beberapa dari 15 aktor itu adalah debutan dalam film ini, seperti TJ, Lenna Tan dan Aline Adita. Ketiganya tampil cukup pas sesuai porsi dalam cerita. Hanya saja kita melihat sisi dari TJ yang mungkin agak aneh bagi penonton yang sudah akrab dengannya dalam acara-acara di TV nasional.

Boleh saja penonton mungkin merasa Rizky Hanggono terlihat kurang cocok memerankan Dafi. Tapi justru dengan terlihat gamang, Rizky malah cocok memerankan orang baik-baik namun tergoda dengan karir yang bakal cemerlang. Dan Rizky pun sukses menampilkan sisi emosionalnya di adegan puncak film ini.

Buat yang pernah mengagumi Fedi Nuril dalam film yang bertemakan religi itu, siap-siap kecewa karena Fedi bakal memerankan Rama yang keras dengan tatapan cenderung galak namun sekaligus jiwanya rapuh karena kasus terdahulunya. Menarik malah bisa melihat Fedi memerankan karakter yang berbeda lagi dengan film-film terdahulunya. Dan ternyata Fedi ini adalah aktor yang cukup jarang tampil di layar lebar, setahun hanya sekali.

Yang ngga kalah menarik adalah peran Omesh sebagai Wawan yang kali ini seperti menjadi pendamping buat Asep, yang diperankan Ringgo. Duo ini cukup mampu menghadirkan kelucuan-kelucuan yang jauh lebih sinting daripada di film pertama. Sekalipun terlihat sebagai pendamping dan pelengkap penderita bagi Asep, karakter Wawan justru tetap bisa dimaksimalkan oleh Omesh untuk tetap bisa mencuri perhatian penonton. Dan perlu dicatat bahwa film ini adalah film kedua bagi Omesh.

Padatnya penceritaan dengan mencampur adukan elemen drama, komedi, dan aksi intelijen ini cukup bisa dinikmati tanpa harus membuat kening berkerut. Mungkin kita bisa merasa kurang durasi, namun film yang diklaim bergenre Romantic Comedy ini cukup bisa dinikmati dengan lancar dan lapang tanpa lebih dipadatkan dengan pesan-pesan verbal tentang patah hati dan kehidupan.

27 September 2010

A BAREFOOT DREAM: Sekali Lagi Kisah Nyata tentang Kekuatan Mimpi.

barefoot dream a


Title:
A Barefoot Dream

Director:
Kim Tae-Gyun

Casts:
Hee-soon Park, Kei Shimizu

Plot:
Coach Kim Won-Kang is a former soccer player who failed to manage his business - post soccer career. After his business goes under, Kim Won-Kang travels to the small country of East Timor to coach a youth soccer team. The East Timor youth soccer team has been in existence for only one year but will go on to win two international youth soccer events with the help of Coach Kim Won-Kang.


Note:
Sebagai orang Indonesia, gue ngga terlalu ngikutin perkembangan Timor Leste sejak merdeka dari Republik Indonesia. Cuma pada masa awal mereka merdeka aja yang masih sempet denger-denger berita tentang negeri yang dulunya pernah jadi propinsi yang disebut Timor Timur. Beritanya jarang yang bagus, sebagian besar tentang kemiskinan, masih minimnya infra struktur yang vital untuk kehidupan sehari-hari, dan yang paling parah adalah masih kuatnya keberadaan golongan-golongan yang saling bertikai berebut kekuasaan.

Dari semua berita buruk yang besar (atau dibesar-besarkan) itu tentunya membuat kabar kemanusiaan menjadi luput dari perhatian. Boleh ditanya kepada sebagian besar penduduk Indonesia siapa yang tau (atau memang sudah tidak peduli apa-apa) tentang keberadaan pengusaha bangkrut, yang juga mantan pesepak bola profesional, asal Korea Selatan yang sukses melatih dan membawa kumpulan sepak bola anak-anak Timor Leste hingga sukses menjuarai kejuaraan Internasional Rivelino Cup di Hiroshima tahun 2004.

Perjuangan Kim Won-Kang, si pelatih ‘dadakan’ asal Korea itu, diadaptasi dengan baik ke dalam film ini. Semua elemen mampu disampaikan dengan apik. Kondisi Timor Leste yang masih miskin dengan ketegangan pertikaian antar golongan tergambar dengan muram, mampu membuat penonton tercenung dan menaruh simpati dengan apa yang diperjuangkan Coach Kim di sana. Cara berkomunikasi Coach Kim dengan penduduk lokal menggunakan bahasa yang bercampur-campur, bahkan tidak sedikit terdengar potongan kata-kata bahasa Indonesia, juga menarik untuk disimak menjadi bagian penceritaan pendekatan dan adaptasi si Guus Hiddink dari Timor Leste ini dengan anak-anaknya.

Selain drama interaksi antar bangsa yang disampaikan dengan menarik dan mengharukan, elemen terpenting, yaitu adegan-adegan sepak bola, disampaikan nyaris sempurna. Pengenalan karakter-karakter anak-anak pesepakbola mampu menuntun penonton untuk terus penasaran akan seperti apa nantinya setelah dilatih oleh Coach Kim. Adegan pertandingan sepak bola, mulai dari tanding ‘tarkam’ hingga turnamen Rivelino Cup yang shooting langsung di Hiroshima, tergarap dengan apik sekali. Semua adegan sepak bola disampaikan dengan baik hingga penonton seperti disuguhkan drama pertandingan sepak bola yang sedang nyata berlangsung di layar. Bohong kalo penonton ngga ikutan nahan nafas karena tegangnya menyaksikan skuad anak-anak Timor Leste itu berusaha mengejar ketinggalan mereka melawan skuad tuan rumah.

Meski gue sedikit mempertanyakan di mana informasi yang jelas tentang keabsahan kisah nyata film ini tapi jauh termaafkan dengan alur dramanya yang cukup solid dan terjaga hingga mencapai end credit.

Film ini bercerita tentang pencapaian tekad yang berawal dari mimpi (premisnya terdengar mirip dengan ‘saga’ dari Indonesia) tapi film ini tidak menyampaikan mimpi di layar, melainkan bisa memotivasi penontonnya untuk mulai bangun dan berusaha mewujudkan mimpinya.

17 September 2010

Umbrella

It’s nothing to do with that song which sung prettily by Rihanna. It’s something about men’s chauvinism. Yes it’s about men’s chauvinism, especially Indonesian men’s chauvinism. And for me it’s stupid one.

As the obedient boy, I do carry small folded umbrella in my bag (my schoolbag, working bag, you named it). My mom always worried my weak health against rain and cold. I used to be too easy to catch a cold or flu. Almost once a month I always had to go to a doctor to got help for my laryngitis. My mom’s worries always push me to be a ‘paranoid’ about weather. So that small folded umbrella never leaves my bag.

I always get insulted for carrying umbrella to my daily activity. Everyone says boys don’t carry any umbrella. But my mom always reminds me my weak health if I catch by rain. And I never like carry any jacket because it’s too heavy, makes my bag full and also makes me sultry (I was a fat boy, FYI).

As time goes by and I learned so many lessons about health and healthy life. And I do learn about my weaknesses. My father especially taught me about being suggestive for my weaknesses. He taught me that I should think that I’ll survive whenever in cold and rainy weather. Think positively and hard so I’ll never be paranoid about rain again. My health gets better and better. I no longer susceptible to flu and fever, even after got rained.

Even now I am immune to rain but I never leave home without small folded umbrella, especially in cloudy weather or rainy season. First of all, it’s the ‘answer’ of my mom’s worries about my health. She always asks me to get prepared to carry small folded umbrella every time I got ready to leave home. She has that worries until now.

Been trained prepare and carrying small folded umbrella for years makes me comfort being prepared like that. So why bother to feel heavy to carry one small folded umbrella in my bag?! That’s my second reason why I still carry that small folded umbrella every where.

In some rainy times I didn’t use that small folded umbrella. I choose to find some shelter from rain. And when will I use that umbrella? Maybe I won’t use it at that time. But I will lend it to one beautiful girl who’s come across me! Ha ha ha ha! That thought comes from one of my favorite fiction character, which created by Hilman Hariwijaya, called Lupus. This Lupus boy, who’s eternally in high school, once carried a one wrapped umbrella and walking under the rain. One people who have come across him ask this: “Why you don’t use that umbrella while you walking under this rain?” And this Lupus boy casually answered: “Maybe I’ll use it later whenever I meet a beautiful girl and I’ll lend it to her.”

That’s all the reasons why I’ll always carry my small folded umbrella. But seriously I’ll use it myself whenever I need it, doesn’t have to meet a beautiful girl or not!

Been trained for years carrying umbrella wherever I go makes me don’t feel insulted no more. I have no worries got insulted with some stupid chauvinist boys, who’ll let rain soak them wet rather using some umbrella for so called prestige. Or more violently when they happily rent some umbrella from kids. They walk dry but let the kids soak wet for two or three thousand umbrella rent.

Not every man had a chance raised like me. But I think a necessity should pass any man’ prestige for carry one umbrella to get prepared for any rainy day. Man health has a limitation and its no one medicine or vitamin could go over that. In my opinion we should do any preemptive efforts to maintain our health. One of those efforts is by using umbrella for rainy outdoor situations. So any man, especially Indonesian men, please don’t chew your hardened prestige over necessity carrying one single umbrella. In extreme climate like this we never know when the rain would come. And for the lightest reason maybe we should think again what Lupus has said before.

15 September 2010

Jadikanlah Saya Lebih Kuat

Boleh ngga sih saya menangis cengeng? Cuma bisa meratapi apa-apa yang terjadi yang tidak mengenakan hati saya?

Mata saya seringkali melihat sekeliling saya tidak berubah. Tidak berubah dari kebodohan kelakuan yang mestinya sudah mereka tinggalkan sejak lama. Di mata saya mereka tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang lalu. Di mata saya mereka tidak pernah menerima dan melakukan apa-apa dari masukan saya. Bahkan seringkali saya melihat mereka melakukan apa-apa yang mereka larang bagi orang lain, khususnya saya. Dan juga mereka seringkali tidak melakukan apa yang mereka ajarkan sendiri kepada saya.

Sebelum terlanjur cengeng, sebenarnya saya sudah lelah melihat semuanya itu. Dan semakin lelah karena dalam lingkungan terdekat saya masih juga berlaku seperti itu. Saya bilang lelah karena memang semua itu melelahkan saya. Mungkinkah kalau saya cengeng, semua itu tidak menjadi sebegini melelahkannya??

Saya berhenti sebentar dalam kelelahan. Saya terpikir kembali pada apa yang pernah saya lakukan sebelumnya. Saya temukan kesalahan saya sebelum ini. Namun dalam kelelahan nyaris tidak mungkin dapat menemukan kesalahan sendiri, apalagi menemukan cara memperbaikinya.

Terpikir juga untuk memperbaiki hal-hal kecil seperti kebiasaan-kebiasaan ringan namun masih sering terjebak dalam kelalaian. Saya menyadari bahwa kelalaian saya atas kebiasaan-kebiasaan ringan itu memang menjauhkan saya dari kedisiplinan dalam hidup. Tapi dalam ego saya berkata juga bahwa kelalaian menjalani kebiasaan-kebiasaan ringan tidaklah akan menjadi dosa-dosa yang besar yang bakal mengguncang peradaban di lingkungan saya. Sementara saya kelelahan melihat kebodohan kelakuan yang di mata saya jauh lebih besar dari kelalaian atas kebiasaan-kebiasaan ringan saya.

Apakah dimungkinkan apabila kebodohan kelakuan mereka itu ditebus dengan perbaikan saya untuk kebiasaan-kebiasaan ringan??

08 September 2010

SHREK FOREVER AFTER: Cara Cerdas Menutup Sekuel

shrek_forever_after_movie_poster_01

Title:
Shrek Forever After

Director:
Mike Mitchell

Writers:
Josh Klausner, Darren Lemke

Voice Casts:
Mike Myers, Eddie Murphy, Cameron Diaz, Antonio Banderas, Julie Andrews, John Cleese, Walt Dohrn

Plot:
A bored and domesticated Shrek pacts with deal-maker Rumpelstiltskin to get back to feeling like a real ogre again, but when he's duped and sent to a twisted version of Far Far Away -- where Rumpelstiltskin is king, ogres are hunted, and he and Fiona have never met -- he sets out to restore his world and reclaim his true love.

Note:
Kayaknya baru dua kali deh seumur-umur gue nonton 2 film back to back di bioskop. Seinget gue, yang dulu itu begitu selesai film pertama langsung lari ke loket beli lagi tiket film selanjutnya. Kalo kali ini masih sempet break delayed lunch dulu bareng-bareng sebelom lanjut ke theater selanjutnya. Iya, 2 film tapi beda theater sekalipun berdekatan lokasinya, bahkan terasa masih dalam gedung pertokoan yang sama (cuma di Jakarta kayaknya bisa begitu).

Anyway, yang terpenting dari ‘acara’ menonton back to back itu adalah gue masih bisa menikmati kedua film itu dan bisa ingat apa-apa saja yang memorable dari kedua film itu. Itu juga tergantung dari seberapa bagus keduanya sih. Beruntung kali ini ngga salah pilih film. Dan salah satunya adalah installment terakhir dari Shrek ‘saga’ ini.

Kesan pertama dari cerita film ini adalah kehabisan ide. Tapi justru dari cara bercerita seperti itu malah membawa kesegaran tersendiri untuk babak akhir dari perjalanan raksasa hijau dodol ini. Dan ternyata dalam cerita kali ini, si raksasa hijau ngga sedodol yang dikira; lebih dodol deh!

Menyaksikan film ini terasa sama segarnya seperti pertama kali liat seri pertamanya. Sekalipun ceritanya berbeda, tapi semuanya terkait langsung dengan cerita di seri-seri sebelumnya yang mampu bikin gue tertawa fresh dan pikiran refresh. Logika cerita sama berantakannya dengan cerita di seri pertama, bahkan memang sengaja diacak-acak dari ‘pakem’ Shrek series. Dan di situlah letak kesegarannya. Mengacak-acak pakem jadi cara cerdas untuk mengakhiri quadrilogy ini hingga meninggalkan kesan bagi penggemarnya (yang mungkin hampir aja bosan dengan tiga installment sebelumnya). Akhirnya beneran jadi forever after.

Hiburan yang maksimal ini juga bisa dipilih dalam format 3D. Tapi dengan cerita yang segar malah bikin gue lupa kalo ada format 3D-nya. Hahahaha

06 September 2010

KICK-ASS: I AM Super-hero!

kick-ass_poster 01

Title:
Kick-Ass

Director:
Matthew Vaughn

Writers:
Jane Goldman, Matthew Vaughn

Casts:
Aaron Johnson, Lyndsy Fonseca, Christopher Mintz-Plasse, Mark Strong, Chloe Moretz, Nicolas Cage, Jason Flemyng, Yancy Butler

Plot:
Dave Lizewski is an unnoticed high school student and comic book fan with a few friends and who lives alone with his father. His life is not very difficult and his personal trials not that overwhelming. However, one day he makes the simple decision to become a super-hero even though he has no powers or training.



kick-ass_poster 04 horizon


Note:
Mungkin anak-anak usia di bawah 10 tahun masih ada yang kepingin jadi super hero. Tapi kayaknya sebagian besar anak-anak usia 10 tahun ke atas (bahkan orang-orang dewasa) udah ngga ada lagi yang kepingin jadi super hero (padahal usia 10 tahun ke atas malah makin banyak yang suka baca komik super hero). Kenapa ngga mau sih? Kan jadi super hero ngga selalu mesti punya kekuatan super, kekuatan di atas manusia normal. Batman itu contoh super hero yang ngga punya kekuatan super. Memang sih dia amat sangat kaya raya hingga mampu ngongkosin bikin segala macam gadget canggih, selain dia memang jago dalam banyak jenis ilmu bela diri.

Terinspirasi dari Batman itulah yang bikin Dave Lizewski terobsesi menjadi super hero. Tapi berbeda dengan Batman, anak cupu penggemar komik tapi suka mikir porno ini cuma bermodalkan kostum yang dibelinya di e-bay. ITU AJA!

Dari itu aja udah kebayang dong gimana ceritanya nanti. Modal kostum asal dan nantinya juga mendapat nama/julukan karena ‘kecelakaan’ alias kepepet, ngga bakalan deh di Dave Lizewski bisa sukses memberantas kejahatan. Adanya kejahatan yang demen bikin Kick-Ass jadi bulan-bulanan.

Tapi ramuan dan balutan cerita adaptasi dari komik karya Mark Millar, yang juga kreator Komik Wanted, mampu menyampaikan drama ‘super hero juga manusia’ tanpa harus segelap Watchmen. Idiom, gimmick dan musiknya yang kekinian juga bikin film ini sangat segar. Leluconnya pun ngga lepas dari acara TV yang sedang ‘In’. Dan pastinya sangat membumi bagi generasi Youtube dan MySpace. Siapa tahu film ini mampu menginspirasi generasi sekarang untuk jadi super hero!

Segala hal tentang super hero tidak lagi jadi konsumsi anak-anak udah lama menjadi paradigma komik super hero di pusatnya sana, di Amerika Serikat. Dan ngga sedikit komik super hero yang ratingnya ‘suggested for mature readers’. Begitu pula dengan film-film adaptasinya.

Kick-Ass ini memang bukan diperuntukkan bagi audience segala umur. Ngga cuma anak-anak, mungkin orang-orang dewasa yang kurang membuka wawasan bisa jadi misuh-misuh pas liat Hit Girl, yang usianya sekitar 10-11 tahunan, ngomong dalam bahasa yang amat sangat kasar tanpa tedeng aling-aling. Belom lagi banyak adegan berdarah-darah saat super hero di film ini beraksi dan ‘beraksi’.

Tapi menurut gue, omongan kasar dan adegan berdarah-darah bukanlah jualan utama film ini. Hal-hal tadi sebagai penunjang realita karakter yang ada dalam cerita ini. Buat gue, hal-hal tadi mungkin saja terjadi di dunia nyata kalo melihat latar belakang karakternya.

Nonton film ini sama aja gue lagi belajar tentang kesalahan. Minimal kalo nanti gue jadi super hero, gue bakal belajar banyak dari kesalahan yang dilakukan si Kick-Ass.


kick-ass_poster 03 horizon smaller

21 July 2010

KAMUI GAIDEN: Real Ninja, Real Nippon


Title:
Kamui Gaiden

Director:
Yoichi Sai

Writers:
Sampei Shirato (comic)
Kankurô Kudô (screenplay)

Casts:
Ken'ichi Matsuyama, Koyuki, Kaoru Kobayashi, Kôichi Satô, Hideaki Ito, Sei Ashina, Ekin Cheng, Yuta Kanai, Naoyuki Morita, Shigeru Nakano, Suzuka Ohgo, Panta, Daisuke Ryû

Plot:
KAMUI is a Ninja on the run from the world of Ninja bound by rules in search of true freedom. However, he is burdened with the fate, where it is not allowed to take the secret of their powers outside of the tribe -- if you are born as Ninja, you must die as Ninja. This brings him to constantly fight for his life against other Ninjas who trie to kill him and hide the secrets within. He does not trust, and he does not love. Showing weakness leads to immediate death. An incident brings him to an old fisherman's village, where he finally starts to feel trust and affection towards other people. However, his pursuers where just minutes away from setting up a huge trap on Kamui...

Note:
Film yang diadaptasi dari manga berjudul sama ini mungkin bakal bikin bingung penonton film yang sudah ‘terbiasa’ dengan film-film ninja sebelumnya. Ninja di sini merupakan gambaran dari ninja yang sebener-benernya. Action-nya lebih keras namun gerakan halus khas ninja sangat-sangat menonjol. Tapi jangan berharap menemukan action yang banyak dan berdarah-darah sekalipun tetap terlihat sadis.

Film ini amat sangat Jepang. Tapi semua action disampaikan dengan pas dan tidak berlebihan. Mungkin buat yang kurang mengenal budaya Jepang (baca: budaya film Jepang asli) bakalan jatuh bosan dan terkantuk-kantuk. Masih ‘untung’ film ini bercerita tentang ninja yang masih bisa mengetengahkan adegan tarung yang cukup seru. Semuanya digambarkan dengan tajam dan dalam. Buat yang pernah nonton film samurai yang asli Jepang pasti tahu bagaimana ‘membosankan’nya adegan duel antar dua ahli pedang.

Yang bikin menarik buat gue adalah film ini menyampaikan sesuatu yang cukup orisinil dari budaya Jepang. Gue dibikin betah mengikuti bagaimana film ini divisualkan cara-cara yang berbeda dari yang gue pernah lihat dalam film-film Jepang pop lainnya. Mungkin itu keuntungannya apabila gue selalu bisa menekan ekspektasi gue untuk menyaksikan sebuah film. Gue jadi lebih bisa menikmati sebuah film apa adanya, sekalipun mungkin gue belom cukup cerdas untuk dapat mengerti seperti apa yang dimaksudkan oleh filmmaker-nya.

10 June 2010

MELODI: Kritik Sosial dalam Balutan Keceriaan Anak-anak



Judul:
Melodi

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Skenario:
Harry Dagoe Suharyadi

Para Pemeran:
Emir Mahira, Nadya Amanda, Yasamin Jasem, Tengku Wikana, Daus Separo, TJ Extravaganza, Djenar Maesa Ayu, Vety Vera, Mario Maulana



Sinopsis:
Ruli dan Mili adalah kakak beradik yang tinggal di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi orang tua tunggal. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh keceriaan.. Ruli yang pandai bernyanyi bekerja sebagai pelayan sebuah warung kopi. Mili yang hobi menggambar selalu mengintil ke mana pun abangnya pergi. Mereka juga tengah bahu-membahu menabung demi mewujudkan impian keluarga, yaitu mempunyai sebuah sepeda motor bekas untuk ayahnya bekerja sebagai pengojek. Setidaknya bila memiliki motor sendiri, maka hasil ngojek ayahnya tidak lagi mesti disetorkan ke Bandar Ojek dan hidup mereka pasti menjadi sedikit lebih baik.. .

Saat impian indah tersebut sudah di depan pelupuk mata, tak disangka ayah Ruli mengalami sebuah musibah yang mengakibatkan uang tabungan mereka terkuras habis dan bahkan masih memikul hutang yang amat besar.

Apa pun yang terjadi sebagai bocah yang ulet dan tabah, Ruli pantang menyerah. Di tengah upaya membantu ayahnya mencari biaya tambahan, ia bertemu Chika, anak perempuan Bu Wita yang menjadi bagian musibah.

Tak disangka pertemuan mereka berkembang menjadi persahabatan sejati dan keterikatan bathin yang dalam hingga mereka menjadi bertrio bersama Mili.

Malangnya persahabatan mereka malah menuai kemurkaan Bu Wita, Ibunda Chika yang menyama-ratakan dengan menganggap semua anak miskin itu jahat. Namun Chika tetap menjalani persahabatan yg manis itu secara diam-diam…

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa “besar” hinggap pada mereka yang membuat kehidupan mereka justeru akan bertabur bintang…… .


Catatan:
Ngeliat posternya yang cukup sederhana namun penuh keceriaan, kesan pertama udah ketauan bahwa film ini ditujukan untuk anak-anak. Itu ngga salah, lagipula sebagian besar karakter utamanya memang anak-anak. Kalo menilik judulnya, ngga usah jauh-jauh menebak bahwa film ini penuh dengan musik alias musikal. Itu juga ngga salah.

Buat yang belom kenal Harry Dagoe Suharyadi, film pertama yang dibesutnya adalah ‘Ariel dan Raja Langit’ yang juga film anak-anak. Setelah membesut 3 film untuk ‘pasar’ orang dewasa, kali ini Harry Dagoe kembali membesut tema seperti film pertamanya.

Dengan mengedepankan aktor cilik yang pernah menjadi tokoh utama dalam film ‘Garuda di Dadaku’, Emir Mahira, Harry Dagoe terasa santai sekali mengarahkan film ini. Mungkin memang ini genre film yang cukup fasih untuk diarahkannya. Dengan cerdiknya dipasang juga gadis cilik menggemaskan, Yasamin Jasem, sebagai sang adik.

Penonton usia anak-anak bisa dibikin betah dengan adegan-adegan dan gambar-gambar ceria yang penuh warna. Banyak sekali adegan nyanyi dan tari di sana sini. Yang menarik, semua adegan nyanyi divisualisasikan dengan latar belakang kesederhanaan. Memang karakter-karakter utamanya bukan dari kalangan kaya raya. Karakter utamanya adalah anak tukang ojek yang duda. Sedangkan karakter sahabat baru mereka adalah dari golongan menengah. Cuma satu saja keluarga golongan kaya, itu pun muncul belakangan membumbui cerita dalam kontes menyanyi.

Adegan nyanyi-nyanyi mungkin terkesan dilebih-lebihkan namun sah-sah saja untuk film musikal anak-anak. Meski begitu, adegan lomba nyanyi bisa tampil begitu penuh warna dan glamour sekalipun divisualkan di sebuah pasar malam ‘kampung’ pinggiran Jakarta! Eh lagu-lagunya dibuat sendiri oleh Harry Dagoe loh!

Kalo mau ngomentarin style musikalnya, menurut gue mungkin film ini lebih cocok disebut sebagai campuran film musikal dengan film yang berlatar belakang cerita tentang musik; sedikit pikiran karakter utama ada yang dinyanyikan tapi juga si karakter utama diceritakan mampu menyanyi dengan baik dan mengikuti kontes menyanyi setingkat kelurahan.

Menurut gue kalo film musikal itu adalah film dengan sebagian besar dialognya dinyanyikan, seperti dalam film ‘Rent’, ‘Moulin Rouge’, ‘Sounds of Music’ dan ‘Petualangan Sherina’. Kalo yang berlatar belakang cerita tentang musik itu seperti ‘La Bamba’, ‘The Blues Brothers’ dan ‘Rock Star’. Tapi gue bisa salah persepsi sih.

Latar belakang keluarga sederhana dalam film ini bisa saja untuk menggugah anak-anak penontonnya untuk tetap bisa ceria dalam keadaan apa pun, tanpa melihat kelimpahan harta dan tingkat status sosial. Dan persahabatan bisa saja dijalin dengan siapa saja dalam ketulusan.

Tapi gue perhatikan malah banyak kritik sosial yang ‘diselipkan’ oleh sutradaranya; dari sisa poster pilkada DKI yang menempel di pintu rumah Rully (Emir Mahira) yang tampak dicorat-coret, lirik lagu yang isinya ngga mau ribut gara-gara uang dan celetukan Mang I’ing yang bilang, “Kalo pinter sih saya udah jadi anggota DPR!”

Visualisasi glamour kontes nyanyi di pasar malam pun bisa jadi kritik terhadap kontes-kontes nyanyi sejenis yang sedang marak di televisi Indonesia. Dalam film ini, pemenang kontes nyanyi itu dinilai dengan fair oleh 3 orang juri yang hadir, sementara juri yang dalam kontes sejenis di televisi hanya ‘bertugas’ sebagai komentator dan pemenangnya ditentukan oleh banyaknya sms yang diperoleh. Serunya lagi, kontes yang dibikin di tengah-tengah pasar malam itu bisa tervisualisasikan sama glamour dan megahnya dengan kontes nyanyi di televisi, sekalipun itu hanya kontes nyanyi setingkat kecamatan! Emang rada aneh sih, kenapa juga kontes nyanyi tingkat kecamatan ngga dibikin di aula/gedung pertemuan kecamatan?! Itulah ‘ajaib’nya Harry Dagoe!

Film ini bisa membuat penonton anak-anak tertawa menikmati keceriaan dan sebagian kekonyolan karakter-karakternya. Dan film ini juga mampu bikin gue tertawa dengan selipan kritik sosialnya.

09 June 2010

Another Friday Morning Trip

Last week Friday morning was another morning trip that I should take use public transportation whenever my friend had another tour of duty. Even it was not my first trip to office alone, but it always excited me because it has so many ‘challenges’ to use Jakarta public transportation.

Few years ago I did 4 times public transport exchange to reach my office. But nowadays I only have to do two exchange public transports to reach the same destination.

The first ‘challenge’ is I had to get out of my house earlier to catch the first angkot. That was the first phase. I need this angkot to reach the nearest Trans Jakarta bus stop, called as Taman Kota bus stop, even tough I had to ride it in almost half an hour to get there. And it depends on how the driver’s mood, it could be early or vice versa.

After that bumpy trip through many alleys with bad road, especially in kembangan area, I had to walk to the bus stop through pedestrian bridge above one of longest street in Jakarta. Only with IDR 2,000, its IDR 3,500 after 7 am, I had my ticket to catch the latest invention of mass transportation in Jakarta.

Even I had the ticket not mean that I got easy to catch the first bus arrived. Mostly I had to take long queue with unpredictable bus arriving time. But that day I found only four others waiting in that small bus stop. And I catch the second bus arrived which crowded as usual.

There are two routes of Trans Jakarta which passes that bus stop. One route is Kali Deres to Pulo Gadung and the other, which is the original route, is Kali Deres to Pasar Baru. Both routes surely have to make a stop at Trans Jakarta Central Station in Harmoni area.

My office location is in Lapangan Banteng area, so I have to take the Pasar Baru route. But since both routes have to make a stop at Trans Jakarta Central, I could take the other route and make a quick transit then catch the Pasar Baru route from there. The interesting thing is that different routes have different crowd……..and different smell! Pasar Baru route buses always filled with office workers and students. But Pulo Gadung route buses mostly filled with market worker because it stops by several big markets like Pasar Senen and ITC Cempaka Mas.

Jakarta public transportation passengers won’t wait longer for less crowded transport mode. It happened because the old kind Jakarta public transport mode never on time. So the passengers always flood the first bus or angkot. That habit carried to this newest Jakarta public transportation which also called ‘Busway’. So the first bus always flooded with passengers but the next ones probably less crowded or even almost emptied. And nowadays the provider smartly launched emptied one or two buses to take awaited passengers at several bus stop within crowded peak hour.

Even crowded or emptied, whenever I got it the bus, I only take less than half an hour to reach Pasar Baru because Trans Jakarta given exclusive ways within the busy street of Jakarta. That Friday I took only 20 minutes to reach Pasar Baru, included quick stop at Trans Jakarta Central.

From Pasar Baru bus stop, I should take 15 minutes top walk to my office area. On my half way walking, there was a man who got off from taxi and walked behind me. He almost had the same path as I took. It keeps me wondering, in what reason he did that? Did he want to do some small sports or did he has limited cash to pay the taxi, exactly as shown in the meter?

That day I took exactly 11 minutes. Then I got my hand scanned in nearest attendance machine to make me officially ‘in’ the office. But my trip isn’t over yet. I must continue my walk for next 10 minutes to be seated in my official cubicle. That was the last phase of my trip.

I took more or less 60 minutes trip to my office, that was included all my awaited and also walked by foot minutes. With that early departure from my home I’ll never late for office hours unless there is something beyond measure happened. Or I’ll be late whenever I want to be late.

06 June 2010

CAPITALISM: A LOVE STORY: Pre-apocalypse True Horror



Title:
Capitalism: A Love Story

Director:
Michael Moore

Writer:
Michael Moore

Casts:
William Black, Jimmy Carter, Congressman Elijah Cummings, Baron Hill

Plot:
Capitalism: A Love Story examines the impact of corporate dominance on the everyday lives of Americans (and by default, the rest of the world). The film moves from Middle America, to the halls of power in Washington, to the global financial epicenter in Manhattan. With both humor and outrage, the film explores the question: What is the price that America pays for its love of capitalism? Families pay the price with their jobs, their homes and their savings. Moore goes into the homes of ordinary people whose lives have been turned upside down; and he goes looking for explanations in Washington, DC and elsewhere. What he finds are the all-too-familiar symptoms of a love affair gone astray: lies, abuse, betrayal...and 14,000 jobs being lost every day. Capitalism: A Love Story also presents what a more hopeful future could look like. Who are we and why do we behave the way that we do?

Note:
Kalo menilik judul filmnya, tentunya sebagian besar pembaca pasti bisa menebak bahwa judul itu ‘ngga jujur’, judul itu bermuatan sarkasme yang jelas. Apalagi apabila tahu bahwa film dokumenter berdurasi 2 jam ini ditulis dan disutradarai oleh Michael Moore, the ‘Notorious’ Michael Moore.

Pada awalnya, Michael Moore berniat membuat sekuel dari Fahrenheit 9/11 setelah George W. Bush terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya. Filmnya akan berfokus pada Amerika sebagai negara korporasi. Namun kondisi krisis finansial tahun 2008 membuat Moore mengerjakan ulang filmnya hingga menjadi seperti sekarang.

Moore selalu punya cara untuk membuat sebuah film dokumenter menjadi menarik untuk terus diikuti sampai selesai. Tentunya berbeda dengan film dokumenter tentang keindahan alam yang mengetengahkan gambar-gambar cantik, Moore seringkali menyelipkan cuplikan film-film lama dengan sedikit ‘penyesuaian’ dialog sehingga kontekstual dengan film arahannya. Salah satu yang kebagian ‘disesuaikan’ adalah beberapa cuplikan dari film Jesus of Nazareth. Tanpa harus menyinggung umat Kristiani, justru Moore mampu menyangatkan topik bahwa Injil Kristen tidak pernah secara eksplisit maupun implisit mendukung kapitalisme. Dan jangan lupa bahwa Michael Moore adalah penganut Kristen Katholik yang taat, maka tidak mungkin dia mengolok-olok Kitab Sucinya sendiri.

Paradigma kebebasan berusaha bagi individu yang didengung-dengungkan oleh paham kapitalisme, di Amerika Serikat telah mengerucut menjadi kesejahteraan tak terbatas bagi pemodal-pemodal besar. Dan lebih mengerikannya lagi, para pemodal besar yang sedikit itu mendapat banyak ‘fasilitas’ dari pemerintah yang didukungnya sehingga banyak mendapat keringanan pajak dan keringan lainnya. Gue melihat ini sebagai kejahatan terorganisir yang lebih jahat daripada mafia narkotika karena membuat rakyat kebanyakan terjebak konsumerisme serta menjadi mudah dihilangkan pekerjaan dan penghasilannya demi kesejahteraan pemodal.

Kapitalisme ala Amerika Serikat mulai meredup seiring datangnya angin perubahan dengan terpilihnya mayoritas Partai Demokrat menduduki House of Representative. Dan puncaknya adalah terpilihnya Obama sebagai Presiden, menggusur George W. Bush beserta pemerintahan Republiknya. Obama yang disebut-sebut sebagai penganut Sosialisme, berpikiran lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat banyak.

Apakah itu kapitalisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme paham ekonomi lainnya (bahkan komunisme sekalipun!), menurut gue adalah ngga menjadi masalah asalkan memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat banyak. Bisa saja di tiap negara berbeda dalam penerapan paham ekonominya, sejauh itu cocok untuk kesejahteraan dan kemajuan ekonomi rakyatnya masing-masing. Apabila nantinya terjadi penyimpangan pelaksanaan dari paham ekonomi tersebut, tentunya masih ada kekuatan rakyat yang akan mengoreksi atau bahkan menumbangkannya, seperti yang disampaikan dalam film ini.

Sekalipun film ini cukup terlambat dirilis di Indonesia, gue melihat hal-hal yang disampaikan Moore masih sangat aktual. Apalagi dampak krisis tahun 2008 itu masih terasa jelas di Indonesia, khususnya dengan bergulirnya kasus bail out Bank Century. Tapi gue membayangkan hal-hal lebih buruk dari yang disampaikan dalam film itu bisa saja terjadi karena DPR Indonesia malah menjadi ‘lubang’ bagi kemaslahatan rakyat Indonesia dengan kelakuannya yang memboroskan keuangan negara.

Adakah seorang Michael Moore di Indonesia yang juga berkata, “I refuse to live in a country like this, and I'm not leaving.” (terjemahan bebasnya “Gue nggak demen tinggal di negara kayak begini, tapi gue nggak bakalan pergi.” –penulis).

24 May 2010

Saya dan Uptown Girl

Uptown girl
She's been living in her uptown world
I bet she's never had a backstreet guy
I bet her momma never told her why

I'm gonna try for an uptown girl
She's been living in her white bread world
As long as anyone with hot blood can
And now she's looking for a downtown man
That's what I am

And when she knows what
She wants from her time
And when she wakes up
And makes up her mind

She'll see I'm not so tough
Just because
I'm in love with an uptown girl
You know I've seen her in her uptown world
She's getting tired of her high class toys
And all her presents from her uptown boys
She's got a choice

Uptown girl
You know I can't afford to buy her pearls
But maybe someday when my ship comes in
She'll understand what kind of guy I've been
And then I'll win

And when she's walking
She's looking so fine
And when she's talking
She'll say that she's mine

She'll say I'm not so tough
Just because
I'm in love
With an uptown girl
She's been living in her white bread world
As long as anyone with hot blood can
And now she's looking for a downtown man
That's what I am

Uptown girl
She's my uptown girl
You know I'm in love
With an uptown girl




Sejak pertama kali liat video clip-nya di Top Pop series, jaman video cassette masih booming dulu, gue selalu cinta dengan lagu ini. Video clip-nya amat sangat menarik hati. Gayanya begitu asyik, yang ternyata terinspirasi dari gaya 60-an, pas dengan musiknya. Belom lagi dengan penampilan ‘bisu’ dari modelnya, Christie Brinkley, yang saat itu seolah jadi perempuan paling cantik sedunia.

Lagu ini nempel banget di kuping dan di kepala gue. Ngga heran waktu temen gue punya kaset lagu ini di dalam walkman-nya (gile ye, walkman masih pake kaset) gue langsung pinjem di tempat dan dengerin di situ! Ngga sadar gue sampai nyanyi keras-keras ngikutin lagunya. Sontak seisi rumah temen gue sampai nyari sumber suara keras gue, sementara temen gue sibuk colak colek gue supaya gue ngurangin volume nyanyi-nyanyinya. Ya maap, kuping ketutupan mana dengar suara luar! Sekalipun begitu, gue ngga malu tuh! Hahahaha

Menurut sumber yang gue pernah baca, lagu ini ditulis Billy Joel karena terinspirasi hubungan pacarannya dengan model Elle Macpherson. Tapi akhirnya malah terinpirasi hubungannya dengan model Christie Brinkley, yang akhirnya diperistri Billy Joel, setelah bubar pacaran dengan Elle Macpherson. Musiknya terinspirasi gaya doo-wop 60-an dengan gaya bernyanyi mirip Frankie Vallie, gaya dan musik yang pada tahun 80-an cukup melawan trend New Wave yang sedang mewabah waktu itu.

Gue ngga ketinggalan trend pada waktu itu, tapi lagu Uptown Girl seperti membimbing gue untuk menemukan akar musik gue. Ini terjadi sebelum gue mulai jatuh cinta dengan Rock N’ Roll, Blues dan Soul.

‘Selucu-lucu’nya band gue dulu ternyata sempat ‘terselip’ pengalaman seru ngebawain lagu ini, khusus untuk salah satu Pensi berbahasa Inggris, acara salah satu fakultas di Universitas Atma Jaya Jakarta. Sambutannya cukup meriah karena ternyata banyak juga di antara penonton yang kangen dengan lagu ini! Bertepatan banget dengan turning point band gue kembali tegak setelah ditinggal personil utamanya. Dan juga bisa dibilang band gue sempet mengembalikan hype lagu ini sebelum akhirnya booming mendunia lagi karena Westlife!



Cinta dengan versi orisinilnya ngga berarti gue jadi benci dengan remake-nya. Gue juga suka dengan versi remake-nya yang dibawakan oleh Westlife. Bedanya, kalo di versi orisinilnya gue suka banget dengan musik dan video clip-nya. Sedangkan di versi remake-nya gue lebih memahami lyric-nya, karena pada saat yang hampir bersamaan gue juga lagi jatuh cinta dengan ‘uptown girl’ beneran!

Iya tuh waktu itu pas bener gue lagi jatuh cinta dengan uptown girl. Namanya lagi jatuh cinta ya pasti seneng banget dah! Tapi karena merasa beda kelas, jadinya ngga pede deh. Sekalipun ngga pede, gue jadi makin cinta dengan lagu ini. Sekalipun tetep ngga pede, gue malah makin asyik ‘curhat’ nyanyiin lagu ini makin kenceng. Setiap kali gue inget dia, lagu ini terngiang kenceng banget di telinga gue.

Si uptown girl itu memang ngga pernah jadi pacar gue. Tapi dia menjadi bagian yang membuat lagu ini jadi semakin memorable buat gue.

12 May 2010

CLASH OF THE TITANS: Haruskah Diperbandingkan?

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



Karena kebiasaan gue telat nonton film-film yang ‘mengandung’ box office, maka sempat deh baca review film remake dari film tahun 1981 di sana sini. Dan juga karena gue ngga anti review dan spoiler ya hampir semua review yang ‘mampir’ gue baca deh. Dari semua itu, ngga sedikit reviewer yang menyatakan kecewa dengan hasil remake kali ini. Katanya, film remake ini ngga meninggalkan kesan apa-apa, ngga seperti film orisinilanya. Film remake-nya hanya sebatas seru-seruan aja. Belum lagi banyak juga yang mencerca visual 3 dimensinya yang menurut mereka ngga jadi beneran 3 dimensi (makasih buat James Cameron yang sudah sukses ‘merusak’ mata penonton bioskop :D ).

Untuk catatan-catatan mengenai visual 3 dimensinya memang bisa bikin gue mutusin untuk ngga menyaksikan film remake itu dalam versi 3 dimensinya. Tapi ceritanya tetep bikin gue penasaran. Jujur aja saat itu gue belom pernah nonton versi orisinilnya dengan sadar dan konsekuen! *apa sih*

Terus terang gue enjoy banget menikmati film remake garapan Louis Leterrier itu. Semuanya dibikin megah, penuh dengan aksi. Teknologi efek visual pun dimaksimalkan. Belum lagi iringan musik score yang cukup mendukung adegan per adegan. Dan di antara ‘keriuhan’ itu, gue menemukan inti cerita bahwa Perseus menjadi juru selamat meski diawali dari dendam membara. Kematian seluruh keluarga angkatnya membuat Perseus nyaris termakan habis dendam kesumat. Bahkan pertolongan Zeus nyaris ditolaknya mentah-mentah. Namun sisi manusiawi akhirnya membimbing Perseus untuk menumbangkan angkara murka yang dikendalikan oleh pamannya sendiri dan menyelamatkan seluruh semesta termasuk tahta Dewa Dewi di Olympus.

Pada dasarnya, cerita film remake itu sama dengan versi orisinilnya. Secara mendasar menceritakan perjalanan dan perjuangan Perseus untuk melawan angkara murka yang ‘diwakili’ oleh monster Kraken. Memang untuk beberapa karakter mengalami sedikit perubahan. Dan juga ada penambahan dan pengurangan beberapa karakter dari versi orisinilnya.

Perbedaan yang cukup jelas di antara kedua film ini adalah motivasi Perseus dalam usahanya menghancurkan Kraken. Dalam versi film orisinilnya, Perseus mati-matian dalam perjalanannya mencari ‘anti’ Kraken adalah rasa cintanya kepada Andromeda. Dan dalam perjalanannya itu Perseus juga harus berhadapan dengan Calibos yang merupakan kekasih asli dari Andromeda.

Cerita versi film orisinilnya merupakan adaptasi dari legenda/mitos Yunani kuno. Dan adaptasi yang terjadi bukanlah murni dari mitos Yunani saja karena monster Kraken berasal dari mitos Skandinavia. Nah di sinilah mungkin letak ‘celah’ cerita untuk kebebasan adaptasi untuk film remake-nya.

Mungkin saja penulis versi film orisinilnya memilih monster Kraken karena namanya terdengar lebih sangar dan secara fisik lebih mengerikan dibandingkan dengan monster Cetus, yang menurut mitos adalah lawan asli Perseus, yang fisiknya mirip ikan paus. Dan kalimat ‘Release the Kraken’ terdengar lebih keren sebagai pemuncak horror dan terror kepada dunia mitos Yunani.

Versi remake mengadaptasi kembali dengan lebih bebas dan lebih kekinian. Mungkin terinpirasi dengan kondisi bumi yang semakin terancam saat ini, sosok Perseus jadi lebih ‘ditinggikan’ sehingga menjadi penyelamat semesta. Dramatisasi cerita lebih didekatkan kepada aksi heroik perjuangan melawan semua halangan berupa monster dan sihir.

Drama yang indah dan dalam lebih terasakan dalam kisah film orisinilnya. Karena dasar cintanya kepada Andromeda yang membuat Perseus rela mempertaruhkan jiwa raganya menyongsong sorot mata Medusa demi senjata pemusnah Kraken.

Menurut gue, aksi seru dalam film versi remake tidak dapat dibandingkan secara terbuka dengan drama perjalanan kisah cinta pada film versi orisinilnya. Apalagi ceritanya sendiri bukanlah cerita yang orisinil dan murni dari mitos Yunani (bahkan Perseus bukanlah penjinak dan penunggang asli Pegasus!).

Gue mengakui kedua film ini adalah film yang bagus. Tapi gue membiarkan kedua film ini menjadi karya film yang berbeda. Mungkin bisa disamakan dengan cara gue ‘membedakan’ karya novel dengan adaptasi filmnya.

Bisa saja generasi muda sekarang bakal jauh lebih suka versi remake-nya karena berjalan dalam pace cepat dan cukup ketat dengan visual keren dibandingkan dengan versi orisinilnya yang pace-nya rada lambat dengan visual yang cupu (apalagi film orisinilnya rilis setelah Star Wars yang keren efek visualnya). Menurut gue sih silakan aja.

Demikian juga dengan generasi yang ‘lebih tua’ yang lebih menyukai drama perjalanan menuju kemenangan cinta dalam film versi orisinilnya. Itu juga ngga jadi masalah.

Yang jelas buat gue, kedua karya ini biarkan aja menjadi ikon sesuai dengan masanya. Karena karya film, sebagaimana karya seni lainnya, memiliki subyektifitasnya sendiri-sendiri.

03 May 2010

HOT TUB TIME MACHINE: 80s Rocks!



Title:
Hot Tub Time Machine

Director:
Steve Pink

Writers:
Josh Heald, Sean Anders, John Morris

Casts:
John Cusack, Clark Duke, Craig Robinson, Rob Corddry, Sebastian Stan, Lyndsy Fonseca, Crispin Glover, Chevy Chase, Charlie McDermott, Lizzy Caplan, Collette Wolfe

Plot:
Disappointed at the way their lives have turned out, four longtime friends reunite at the ski resort where they used to party and find themselves transported back to the year 1986 by a magical jacuzzi. Adam (John Cusack), Lou (Rob Corddry), Nick (Craig Robinson), and Jacob (Clark Duke) have all seen better days; Adam's and Nick's love lives are in the dumps, Lou is clinging to his hard-partying past, and video-game addict Jacob can't even muster the courage to walk outside. A fun stay at the ski resort where the gang made some of their best memories seems like just the thing to cheer everyone up, but after a night of heavy drinking in the hot tub, the four friends wake up to find they're about to live through the '80s a second time. Determined not to make the same mistakes twice, Adam, Lou, Nick, and Jacob decide to take full advantage of the unique opportunity presented to them, and create the lives they've always wanted.

Note:
Ide cerita sih ngga wajib untuk selalu orisinil dan gimmick juga hampir ngga ada yang orisinil. Nah ide cerita time travel dan gimmick 80s juga udah pernah ada yang pakai sebelumnya. Tapi kali ini keduanya digabung untuk memberi kesegaran tersendiri.

Bisa jadi penulisnya ngga cuma kepingin bikin cerita yang mengolok-olok kondisi warna warni tahun 80-an, tapi juga karena ada rasa rindu dengan era itu di mana semuanya masih lugu dan seru. Era 80-an tergolong era transisi identitas dari masa 70-an, yang ‘memapankan’ identitas generasi 60-an, menuju masa depan yang masih belum terjamah akal. Jadinya warna warni sekali dan ‘memaksa’ semuanya terlihat seolah sudah tiba di masa depan. Bagi yang pernah melaluinya pasti akan senyum-senyum geli mengingatnya.

Dengan ‘cerdas’ penulis menempatkan cerita di area rekreasi ski yang cukup terpencil hingga memudahkan membuat set waktu tahun 1986. Semua gimmick 80-an ditampilkan cukup frontal, dari kostum, musik dan ngga ketinggalan attitude. Banyak sekali gimmicks 80-an yang bikin ngakak.

Kelucuan film ini cukup berimbang antara gimmicks 80-an dengan kekonyolan semua karakter utamanya yang sebagian juga terkait dengan attitude pada masa itu. Cerita yang ngalir lancar-lancar aja ngga perlu bikin kening berkerut koq. ‘Bumbu-bumbu’nya udah cukup, ngga perlu dibikin ribet. Dan ngga lupa mereka juga memasang beberapa wajah yang cukup familiar, terutama bagi pecinta film-film drama komedi 80-an.

Sekalipun terasa lebih pas disaksikan oleh mereka yang pernah menikmati indahnya era 80-an, tapi daya hiburnya tetap maksimum.

26 April 2010

D2 / DEMI DEWI: Ciri Penanda Charles Gozali



Judul:
D2 / Demi Dewi

Sutradara:
Charles Gozali

Penulis Skenario:
Charles Gozali

Para Pemeran:
Wulan Guritno, Winky Wiryawan, Widyawati, Sendy Taroreh, Ray Sahetapy, Volland Humonggio, Robertino, Linawati Halim.
Pemain cilik: Bulan Ayu dan Bella Grace Amanda Putri.


Plot:
Kisah perjuangan seorang ibu dalam menyelamatkan anaknya dari aksi penculikan. Konflik meningkat seiring terkuaknya misteri jati diri sang penculik, yaitu seorang ayah dengan dendam karena kehilangan buah hatinya...!


Catatan:
Sutradara ini selalu bersemangat dalam menceritakan proses-proses berfilmnya. Bahkan kadang terlalu bersemangat sehingga membuat gue bertanya-tanya, “Ini beneran ato cuma promosi?” Dan isi ceritanya selalu ‘lucu’ karena seringkali menceritakan proses shooting adegan action yang seru, padahal filmnya masuk kategori drama.

Yah mungkin itu salah satu bentuk curahan semangatnya. Dan juga kalo bukan karena semangatnya yang tinggi dan janjinya tidak akan membuat film yang ‘brengsek’, mungkin semua undangannya gue tolak.

Rasa skeptis gue (karena pengalaman dengan film pertamanya) justru dimentahkan secara mengejutkan! Film ini cukup rapi dan cerdas dalam penuturan cerita. Rasa penasaran yang muncul ketika menyaksikan trailernya, bisa dijabarkan dengan baik dalam filmnya. Semuanya tidak terburu-buru sekalipun kisah dramanya berbalut thriller.

Terlepas dari beberapa dialog yang kadang terdengar tidak perlu, tapi lapis demi lapis cerita mampu disampaikan dengan baik, yang bisa membuat gue tertarik untuk terus mengikuti ceritanya sampai film selesai. Mungkin ini yang menjawab dengan tegas bahwa adalah vital apabila sebuah skenario haruslah fixed sebelum proses shooting dimulai. Dan si sutradara terlihat sudah memegang kendali penuh atas filmnya ini.

Setiap aktor/aktris yang terlibat berperan cukup baik, tidak terkecuali beberapa aktor dengan peran kecil dalam film ini. Namun dari semuanya, akting Widyawati mampu mencuri perhatian sekalipun hanya dalam peran kecil dan dalam keterbatasan durasi adegannya.

Yang paling menarik secara keseluruhan adalah film ini memiliki nuansa berbeda dengan film-film Indonesia mutakhir. Mungkin sebagian film Indonesia terasa nuansa Hollywood-nya, sebagian lagi terasa nuansa gaya Eropa, sebagian lagi mungkin terasa Bollywood-nya, khusus film ini gue merasakan nuansa film-film drama Hong Kong era akhir 80-an. Mungkin gaya nuansa ini tidak disengaja oleh sutradara yang besar dalam produksi film-film drama Indonesia 80-an. Tapi gue melihatnya sebagai ciri khas sebagai penanda untuk karya-karya selanjutnya.

10 March 2010

GIE: NASKAH SKENARIO : Demonstran Legendaris Indonesia


Judul:
GiE: Naskah Skenario

Penulis:
Riri Riza

Penerbit:
Jakarta: Nalar
Cetakan Pertama, September 2005
Xiii + 152 hal.; 14 x 21 cm

ISBN:
979-99395-5-0

Catatan:
Awalnya baca buku ini karena mau belajar penulisan skenario. Buku ini udah lama ngga dibaca karena filmnya udah nonton duluan. Beli buku ini karena kepingin koleksi aja. Akhir-akhir ini gue sedang belajar penulisan skenario film. Yah salah satu cara belajarnya gue coba banding-bandingin beberapa skenario film. Dan salah satu buku skenario film yang gue punya ya buku ini.

Awalnya hanya ingin memperhatikan cara-cara dan tata cara penulisan skenario, mulai dari heading, shot, action, character, dialogue, transition. Ngga salah milih buku sih, karena skenario ini ditulis Riri Riza yang udah jaminan mutu deh :D

‘Masalah’nya lama-lama baca skenario ini gue jadi melenceng dari tujuan awalnya. Makin lama gue malah makin asyik ngikutin ceritanya. Padahal gue udah pernah nonton filmnya, bahkan sempet nonton di bioskop dulu itu. Walaupun ngga gue baca sekaligus sampai selesai, tapi skenario ini cukup mudah diikuti. Mungkin juga karena gue pernah nonton filmnya.

Makin dibaca, gue makin kangen dengan filmnya. Makin dibaca gue makin ‘kangen’ dengan sosok Soe Hok Gie sebagai mahasiswa yang cerdas, tangguh namun tajam dalam semua kritikannya kepada penguasa. Gue suka banget visualisasi demonstrasi mahasiswa dalam filmnya, keras tapi cerdas.

Ngga sengaja gue baca skenario ini pas banget dengan kisruh dalam demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini terkait dengan penyelidikan DPR atas kasus bail out Bank Century. Gue jadi bertanya-tanya seandainya Gie masih hidup di jaman sekarang, apa sikap yang beliau ambil atas kisruh kasus itu, apa komentar beliau dengan anarkisme yang sering terjadi dalam demonstrasi-demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini dan apa sikap beliau atas demokrasi yang sedang tumbuh kembali dalam republik ini.

Buku catatan harian beliau dan beberapa buku karyanya sudah gue baca habis. Masih menunggu buku tentang beliau yang terbaru untuk gue baca. Tulisan beliau selalu membimbing gue untuk jadi radikal tanpa harus jadi kurang ajar! Menjadi radikal dengan menggunakan akal sehat, berontak kepada penguasa dengan dasar-dasar yang kuat. Mungkinkah jaman mampu mengikis prinsip ‘lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan’ yang selalu dipegang oleh demonstran kesepian legendaris Indonesia ini?

03 March 2010

Sekolah ya Sekolah

Ditulis 1 April 2006

(tanggapan atas artikel ”Sekolah yang Memenjara: Catatan Seorang Menteri” oleh P Bambang Wisudo, Kompas, Sabtu 1 April 2006)


Membaca artikel ”Sekolah yang Memenjara: Catatan Seorang Menteri” oleh P Bambang Wisudo, Kompas, Sabtu 1 April 2006 di halaman 12, terus terang mengugah saya untuk menyampaikan beberapa hal yang saya rasakan dan perhatikan sejak masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar dan menengah sampai saat saya bekerja sekarang ini di bidang pengelolaan sumber daya manusia.

Saya setuju dengan pernyataan Pak Menteri bahwa orang Indonesia sekarang ini dalam mengikuti pendidikan tidak mencari kemampuan. Mereka lebih mencari gelar. Menurut saya, hal ini muncul karena kondisi sosio-kultural bangsa Indonesia yang masih mengagungkan keunggulan strata sosial. Sejak saya kecil, sekitar 30 tahun yang lalu, selalu didengung-dengungkan bahwa ‘sebaiknya’ cita-cita seorang anak bila besar nanti menjadi seorang arsitek, seorang dokter atau menjadi seorang insinyur dan sebagainya. Cita-cita yang saya sebutkan tadi masih selalu terdengar didengungkan sampai sekarang ini. ‘Pola’ bercita-cita seperti itu, menurut saya muncul karena kondisi sosio-kultural seperti yang disampaikan sebelumnya. Sebagian besar anak Indonesia bercita-cita semacam itu dengan harapan, baik secara pribadi ataupun dari orang tuanya agar dapat memperbaiki/meningkatkan strata sosial.

Paradigma berlatar belakang sosio-kultural seperti ini yang menurut saya diadopsi oleh sistem pendidikan nasional dan dijadikan sebagai dasar kurikulum pendidikan formal. Hasilnya kemudian menjadikan sistem pendidikan nasional yang cenderung memberikan iming-iming yang tidak realistis, persis seperti yang disampaikan oleh Pak Menteri.

Masih terkait dengan hal itu, ada cerita yang menggelitik saya. Ada seorang ibu menyampaikan kepada saya bahwa beliau mengaku sudah ‘salah’ dalam mendidik anaknya. Saat si anak masih kecil, beliau selalu mendorong anaknya untuk sekolah sampai setinggi-tingginya dengan ‘iming-iming’ kalau besar nanti setelah menjadi sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan tinggi. Pada saat beliau bercerita kepada saya, si anak sudah mendekati tahap akhir kuliahnya, memasuki masa penyusunan skripsi sarjananya. Tapi masa kuliah si anak lebih lama daripada waktu tempuh normal pada umumnya. Hal ini disebabkan karena si anak amat sangat gemar melakukan usaha dagang yang berkembang pesat dan cukup menghasilkan uang. Penghasilannya selain untuk tambahan dana kuliah dan jajan, juga untuk modal mengembangkan usahanya, dan bahkan masih cukup untuk mengupah secara layak kepada temannya sebagai pramuniaga kiosnya. Secara nominal besaran upah tersebut menurut saya setara dengan gaji pokok seorang fresh graduate Diploma III lokal di suatu perusahaan swasta besar di Jakarta, yang dituntut bekerja 8 jam sehari bahkan lebih!

Pengalaman seperti inilah yang membuktikan bahwa si anak mampu menghasilkan uang sebelum menyelesaikan pendidikan sarjananya. Dengan segala kasih dan hormat kepada Ibunya, si anak mampu mandiri, berusaha dengan senang hati dan leluasa (sambil terus melanjutkan kuliahnya) dibandingkan dengan Ibunya yang seorang karyawan mid level yang masih harus selalu berangkat pagi-pagi menuju ke kantor.

Hal yang paling mendasar yang menurut saya membuat sekolah menjadi penjara sebenarnya adalah kurikulum dan syllabus-nya. Seperti yang saya sampaikan di atas, tujuan kurikulum yang ada masih bertujuan kepada keberhasilan meraih gelar di bidang akademis. Saya masih belum melihat pengembangan yang optimal dan maksimal kepada prestasi non akademis. Bisa kita jawab sendiri seberapa banyak anak Indonesia yang dihargai prestasi non akademisnya, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Seorang lulusan sarjana jauh lebih dihargai daripada seorang pelukis, misalnya. Tujuan pendidikan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh hanyalah nonsense selama budaya Indonesia masih hanya menghargai gelar. Akhirnya menjadikan kuliah dan meraih gelar kesarjanaan sekedar memenuhi kewajiban kepada orang tua dan lingkungan serta menaikkan gengsi, tapi tidak menghasilkan apa-apa yang berarti bagi bangsa dan negara.

Guru bukan pelaku utama dalam penjara sekolah. Menurut saya, guru menjadi salah satu korban dari sosio-kultural dan sistem pendidikan nasional yang ada sekarang. Guru dicap paternalistik menurut saya karena kurikulum pendidikan sekarang sudah terlalu amat sangat padat, sehingga tidak sedikit pun menyisakan ruang gerak bagi guru untuk melakukan perannya sebagai pendidik. Belum lagi terbentur pada tingkat kesejahteraan yang rendah yang seringkali ‘menjebak’ para guru sehingga melakukan penyimpangan sehingga hanya mampu sampai pada taraf menjadi pengajar, yang masih jauh untuk menjadi pendidik.

Tidak mudah mengembalikan fungsi sekolah kepada yang semestinya. Paradigma sosio-kultural atas gelar dan strata sosial yang terbentuk dan mulai mapan inilah yang perlu mendapat pencerahan. Dan saya sadari hal ini tidak mungkin selesai hanya dalam 10 tahun ke depan. Dan ini tidak hanya menjadi tugas pelaku pendidikan saja, tapi tugas bagi bangsa Indonesia di semua aspek kehidupan.

26 February 2010

UP IN THE AIR: Sadar Berkehendak Bebas



Title:
Up in the Air

Director:
Jason Reitman

Screenplay:
Jason Reitman, Sheldon Turner

Casts:
George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick, Jason Bateman, Amy Morton, Melanie Lynskey, J.K. Simmons, Sam Elliott, Danny McBride


Plot:
Ryan Bingham's job is to fire people from theirs. The anguish, hostility, and despair of his "clients" has left him falsely compassionate, living out of a suitcase, and loving every second of it. When his boss hires arrogant young Natalie, she develops a method of video conferencing that will allow termination without ever leaving the office - essentially threatening the existence Ryan so cherishes. Determined to show the naive girl the error of her logic, Ryan takes her on one of his cross country firing expeditions, but as she starts to realize the disheartening realities of her profession, he begins to see the downfalls to his way of life.

Note:
Beberapa hal lazim sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan sosial bermasyarakat, semuanya tidak diinginkan oleh Ryan Bingham. Dia tidak pernah mau menetap dan berkeluarga, apalagi memiliki anak. Hal seperti itu membuat Ryan Bingham dipandang aneh oleh masyarakat. Tapi buat gue, hal-hal itu hanyalah pilihan hidup.

Gue selalu percaya bahwa manusia hidup di dunia diberikan kelebihan oleh Tuhan yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya, termasuk malaikat, yaitu kehendak bebas (freewill). Sekalipun Tuhan telah memberikan aturan dan hukum-hukumNya atas alam semesta ini, Dia tetap membiarkan manusia memilih jalan kehidupannya sendiri dengtan segala konsekuensinya.

Atas dasar kehendak bebas itulah sudah sejak lama gue mempertanyakan dan mendebatkan seberapa penting seorang manusia hidup untuk selalu mengikuti ‘tahapan’ kehidupan yang lazim: lahir -> sekolah setinggi-tingginya -> bekerja -> menikah -> punya keturunan -> pensiun -> meninggal dunia. Hanya sebatas itukah kehidupan manusia?

Ryan Bingham memilih untuk berkutat dengan pekerjaannya yang ruthless dan menghabiskan seluruh waktu dalam hidupnya untuk melakukan perjalanan dan penerbangan sehubungan dengan pekerjaannya itu. Dan selama ini dia amat sangat menikmati kehidupannya. Namun begitu dia mulai merasakan kehampaan dalam hidupnya, nah di situlah mulai masalahnya!

Memilih hidup mengikuti kelaziman dalam masyarakat atau hidup mengikuti pilihan sendiri tentunya semuanya tidak terlepas dari konsekuensi-konsekuensi masing-masing dan masalah-masalahnya. Namun apabila manusia yang menjalankannya tidak mengeluhkan konsekuensi dan masalah dari pilihan hidupnya, manusia itulah yang benar-benar hidup dan melaksanakan kodratnya dengan kehendak bebasnya.

Memanglah berkeluh kesah adalah hal yang manusiawi. Tetapi apabila hanya berkeluh kesah tanpa mencari solusi dengan menyadari lagi semua konsekuensi dari pilihan hidupnya, tentunya menjadikan kehidupan ini sebagai neraka yang nyata!

Kita melakukan ‘perjalanan’ bersama Ryan Bingham untuk selalu menyadari bahwa manusia selalu dibebaskan untuk memilih kehidupannya dengan bersiap menghadapi segala konsekuensinya.

22 February 2010

DEAR JOHN, Dearest U.S. Soldier



Title:
Dear John

Director:
Lasse Hallström

Screenplay:
Jamie Linden

Casts:
Channing Tatum, Amanda Seyfried, Richard Jenkins, Henry Thomas, D.J. Cotrona, Cullen Moss, Gavin McCulley, Jose Lucena Jr., Keith Robinson, Scott Porter, Leslea Fisher, William Howard Bowman, David Andrews, Mary Rachel Dudley


Plot:
While John is on leave in his hometown, he finds Savannah, a college student visiting the town. Although love was unexpected, it doesn't mean they didn't find it. With the knowledge of John having to leave for the army, their love still lives, until his re-signs on due to the 9/11 attack. Troubles invade and their love put on hold. One cannot bear it anymore; can the other?


Note:
Karena ngga banyak nonton film-film based on novelnya Nicholas Sparks (apalagi baca novelnya :P ) gue sempet salah duga dengan film ini. Awalnya gue kira film ini bakalan bercerita mengenai kisah roman sepasang kekasih dengan latar belakang yang berbeda, sesederhana itu aja. Dan sekali lagi gue akui kalo gue salah!

Ceritanya malah tentang cowok! Iya, ceritanya tentang cowok yang mengalami cinta. Dan cinta di sini adalah cinta yang ngga terbatas hanya hubungan dengan kekasihnya. Cinta di sini adalah cinta yang di antara sesama manusia; dengan lawan jenis, dengan orang tua, dengan tetangga di sekitar.

Semua rasa yang mungkin terjadi dalam mengalami cinta, digambarkan melalui si John yang frustrasi selama ini tinggal dengan ayahnya yang lebih sayang dengan koleksi koinnya. Menjadi prajurit tentara Amerika adalah pilihan John untuk ‘melupakan’ rasa frustrasinya. Tapi cinta yang ditemukannya bersama Savannah mampu membuat John menemukan dirinya sendiri dan menemukan arti keberadaannya bagi orang-orang terdekatnya.

Sebagai laki-laki dan prajurit yang melalui kurun waktu tragedi 9/11, yang mengharuskan John ditugaskan di daerah berbahaya dan jatuh bangun mengalami cinta, membuat publik Amerika Serikat jatuh hati (mungkin sekaligus iba) yang selanjutnya secara dramatik (namun tidak mengherankan) membuat film Dear John menggeser Avatar dari tampuk pimpinan Box Office domestik di Negeri Paman Sam itu.

Gue yang jarang-jarang nonton romantic movie bisa tersentuh sekaligus ‘terwakili’ oleh John, yang terlihat kokoh secara fisik namun rapuh secara psikis. Banyak laki-laki yang tidak mau mengakui kerapuhannya seperti yang divisualkan oleh karakter John, namun nun jauh di lubuk hatinya kepingin menjerit dan menangis bersedu sedan.

Sekalipun katanya banyak ditonton oleh cewek-cewek, tapi gue yakin kalo penonton cowok juga bakal ikut ‘terjebak’ secara emosional dengan film ini.

11 February 2010

Menelepon sambil Berkendara, Berbahaya?

Judul itu bukan untuk mempertanyakan, tapi saya pilih untuk memancing keterbukaan pemikiran saja. Tulisan ini mungkin lebih tepat saya kategorikan sebagai curhat pribadi saya mengenai menelepon sambil berkendara, khususnya menelepon sambil mengendarai mobil.

Urusan mengendarai mobil, saya termasuk terlambat. Kalo ngga salah hitung baru 2 kali lebaran ini saya aktif mengendarai mobil, sekalipun sudah sejak kelas 2 esema (1992) saya sudah memiliki SIM. Dan dalam kurun waktu nyaris 15 tahun itu saya banyak memperhatikan gaya berkendara dari beberapa orang yang secara rutin saya ikuti (baca: tebengin) di antara kurun waktu itu. Dan yang paling nyaman adalah masa di mana ponsel masih belum memasyarakat, tidak seperti dalam 5 tahun belakangan ini.

Iya tuh, sejak ponsel memasyarakat, kebiasaan berkendara di jalan raya menjadi semakin kacau. Tapi sebenernya kalo melihat pengalaman saya sendiri, ngga perlu kita melihat kekacauan itu di jalanan. Itu terlalu ‘jauh’. Saya mengalami kekacauan itu dari dalam mobil yang saya tumpangi.

Selama saya belum mahir dan aktif berkendara mobil, rekan saya, si pemilik mobil, sejak awal adalah orang yang paling aktif menggunakan ponselnya di manapun dan kapanpun, termasuk pada saat berkendara. Dalam 5 tahun terakhir saja ponselnya menjadi 3 unit yang aktif semua! Dan sayangnya beliau tidak terlalu aware dengan kemajuan teknologi pendukung bertelepon yang namanya handsfree. Dan satu lagi, beliau juga gaptek dengan inovasi jaringan ponsel yang disebut divert call. Bisa anda bayangkan ketiga unit ponsel milik beliau aktif dalam waktu yang bersamaan dan ketiganya memanggil (calling)! Memang tidak semua panggilan itu beliau terima, jelas tidak mungkin. Tapi coba anda bayangkan lagi gimana beliau dengan aktifnya menjawab panggilan dari ponsel yang satu dan membalas pesan singkat (sms) di ponsel lainnya, sementara ponsel satunya lagi berdering-dering minta dijawab juga!

Mungkin di Jakarta pada rush hour (pagi dan sore) lalu lintasnya padat dan memungkinkan sekali untuk menjawab panggilan telepon di antaranya. Tapi kemacetan di jalan raya kan tidak selamanya berhenti total yang memungkinkan kita fokus untuk menjawab panggilan telepon. Pastinya di antara kemacetan itu ada kemungkinan kendaraan bergerak sedikit demi sedikit. Tentunya fokus berkendara menjadi terpecah saat menerima telepon.

Dan ternyata aktivitas tinggi beliau dalam bertelepon tidak melihat kondisi lalu lintas padat saja. Dalam berkendara di jalanan yang lancar pun beliau memaksa diri untuk tetap bisa bertelepon, bahkan tidak jarang juga membalas sms.

Tidak perlu dilihat dari luar untuk menilai ‘kekacauan’ yang dilakukan beliau dalam berkendara (sekalipun saya akui beliau amat sangat mahir dalam mengendarai mobil), saya yang hampir setiap hari, pagi dan sore bersama beliau merasakan ketidaknyamanan yang sangat. Tidak perlu sampai kondisi beliau mulai kehilangan fokusnya dalam berkendara, cukup dengan melihat beliau aktif menjawab semua panggilan ponsel dan membalas sms saja sudah bikin saya nyaris mual dan mulai muak.

Kalo dibilang bertelepon sambil berkendara bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain, menurut pengalaman saya hal itu tidak semata-mata membahayakan secara fisik saja tapi juga mengganggu kondisi psikologis, khususnya mengganggu kondisi psikologis saya.

Selain aktivitas bertelepon yang mengganggu, saya juga merasa bahwa penelepon yang berlama-lama menelepon beliau di sepanjang perjalanan berkendara adalah manusia hidup yang tidak beretika! Mohon maaf, sekalipun saya juga kenal dengan orang yang menelepon itu adalah orang yang sehari-harinya saleh, ternyata dia itu tidak cukup mengerti etika dalam berkomunikasi, khususnya dalam komunikasi bertelepon.

Sekalipun mungkin sekali dia berlogika bahwa yang ditelepon itu harusnya memanfaatkan teknologi handsfree, tapi menurut logika dan pengalaman saya penggunaan handsfree hanya sedikit mengurangi pecahnya fokus dalam berkendara. Dan parahnya, dia itu malah membahas sesuatu atau bahkan curhat via telepon di sepanjang perjalanan dalam kemacetan itu (kali ini saya yang tidak beretika karena mencuri dengar percakapan orang lain). Saya juga terganggu dengan hal ini. Apakah tidak bisa menunggu waktu yang lebih pas setelah orang yang dituju sudah tiba di tempat supaya bisa leluasa melakukan pembahasan? Bisa kan untuk lebih punya etika dengan segera memutus percakapan begitu tahu orang yang dituju sedang berkendara?! Kalo di tempat tujuan kuatir malah jadi tidak leluasa membahas, itu lain lagi persoalannya.

Di negara-negara lain sudah banyak dibuatkan dan diterapkan aturan dengan sanksi keras untuk yang bertelepon sambil berkendara, bahkan di beberapa negara ada yang menerapkan larangan bertelepon sambil berkendara sekalipun sudah menggunakan handsfree! Di Indonesia, aturan bertelepon sambil berkendara baru saja mulai disosialisasikan. Tapi sebagaimana sudah menjadi ‘budaya’ dan ‘ciri khas’ masyarakat Indonesia (termasuk golongan elit dan pejabatnya) aturan yang berlaku hanya sebagai aturan saja selama kebiasaan, kelakuan bodoh dan merusaknya tidak diubah mulai dengan kesadaran masing-masing individunya.