Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa
pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal
saya menuliskan catatan ini.
Tanggal
4 Januari 2019, tepat 1 tahun saya menjalankan pola hidup Ketogenic, tercatat
berat badan saya 75 kg, sehingga
terhitung berat badan saya sudah turun sebanyak 30,5 kg.
Untuk ukuran kemeja, yang
berpatokan pada merk Alisan, pada nomor 15½dengan cut Slim Fit, sedangkan untuk
kaos dan jaket pada ukuran M. Untuk beberapa celana pantalon dan jeans,
saya sudah mengenakan ukuran 33 atau 34.
Keluarga
di rumah pun kembali termotivasi untuk mengikuti pola hidup Ketogenic. Dari
hasil yang saya capai dan beberapa sharing knowledge yang saya lakukan, Mama
dan adik saya mulai kembali fokus untuk lebih baik lagi menjalankan dietnya.
Mereka berdua sempat kepayahan mengikuti diet“aliran sebelah sana” meski sudah mendapatkan efek yang sama.
Istri
saya sempat juga ketat menjalankan diet Ketogenic karena sempat menderita vertigo.
Dan sekali lagi diet Ketogenic terbukti bisa menyembuhkan vertigo,
seperti yang lebih dulu pernah diderita Mama saya.
Demi
kemudahan konsumsi, stok telur ayam ditingkatkan di rumah kami. Banyak cemilan
“umum” yang mulai menghilang dari stok dan digantikan dengan cemilan yang Keto
friendly. Adik saya bereksperimen dengan menu makanan dan kue yang Keto
friendly. Bahkan kami sempat “menginventarisir” warung-warung makan dengan
menu-menu Keto friendly yang mudah dijangkau layanan delivery,
yang salah satunya adalah warung masakan Betawi yang sangat recommended untuk
rasa dan variasi menunya.
sebagian menu masakan khas Betawi
Beberapa
kawan dan kenalan juga banyak bertanya soal “kekurusan” saya. Banyak juga yang
bertanya, nggak sedikit juga yang “menghakimi”. Di antara yang bertanya, banyak
yang tertarik ikut diet ini. Tetapi di antara yang tertarik ikut, cuma sedikit
yang akhirnya beneran menjalani, meski semuanya sempat langsung di bawah
“bimbingan” saya.
Dari
pengalaman saya, yang benar-benar saya alami dan pahami, mereka yang akhirnya
benar-benar “sukses” menjalani pola hidup Ketogenic hanyalah mereka yang
mendapatkan pencerahan, atau dalam term Saudara-saudara Muslimin adalah mendapatkan
“hidayah”, karena dengan tercerahkan maka mereka dengan yakin terus
menjalankan dan tetap selalu mau belajar dan belajar untuk tidak menyerah di
tengah-tengah ketidaktahuan.
Seperti
yang disampaikan sebelumnya, bahwa diet Ketogenic masih belum ada acuan
bakunya, sehingga tidak cukup hanya dengan pasrah menjalankannya saja. Pelaku
diet Ketogenic harus selalu mau belajar untuk terus menerus menambah wawasan, bukan
karena pola
hidup Ketogenic yang selalu berubah
tetapi karena pola hidup ini selalu menarik untuk digali lebih dalam dan lebih
dalam lagi. Misalnya, menjalani pola hidup Ketogenic akan “naik level” apabila healthy
Keto juga dikombinasikan dengan intermittent fasting, karena gaya
hidup Ketogenic bukan lagi soal turun berat badan tetapi lebih untuk menuju
kesehatan yang paripurna.
Setelah
satu tahun dalam pola hidup Ketogenic, saya memutuskan untuk tidak lagi
menimbang berat badan setiap pagi. Berat badan saya timbang mungkin hanya 1
minggu 1 kali saja, biasanya setelah weekend atau setelah pola makan tidak seketat hari-hari biasa.
Di
hari-hari selain weekend pun kadang
saya sedikit melonggarkan menu yang saya makan atau minum. Tetapi karena tubuh
saya sudah “berubah”, tubuh saya selalu siap untuk memberikan warning/peringatan
apabila saya mengonsumsi carbohydrate dan/atau sugar berlebih.
Ibarat kendaraan bermotor, “mesin” di tubuh saya
sudah harus mengonsumsi bahan bakar terbaik dengan asupan oli pelumas terbaik,
sehingga dalam melonggarkan asupan pun saya meminimalisir resiko ‘brebet’ dan
‘nglitik’.
Meski
sedikit melonggarkan menu yang dimakan, setelah berjalan satu tahun dalam pola
hidup Ketogenic, tubuh saya cenderung lebih tahan lapar; meski makan malam
terakhir kali jam 6 sore pun, keesokan harinya saya sanggup tidak makan sampai
jam 2 siang misalnya. Hal
seperti ini bisa terjadi setiap hari, hal yang sangat
menguntungkan dalam hari-hari kerja karena konsentrasi dan ritme kerja tidak
mudah terganggu oleh lambung yang menjerit kelaparan.
Tulisan
ini saya cukupkan pada masa satu tahun menjalankan diet Ketogenic,
pada saat berat badan saya sudah “ajeg” di kisaran 75 kg dan semua proses yang
terjadi, baik itu proses biologis, fisik, dan psikologis, sudah membentuk pola hidupsaya yang baru.
Tulisan ini sekadar catatan dan sharing perjalanan diet saya, bukan sebagai bahan promosi apa
pun. Tetapi apabila ada yang lantas termotivasi adalah di luar intensi awal
saya menuliskan catatan ini.
Saya memulai diet Ketogenic dengan meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang harus
dijalankan dengan sungguh-sungguh. Menjalankannya dengan sungguh-sungguh
dimulai pada waktu pagi-pagi sekali, persis setelah bangun tidur, buang air
kecil, lalu segera menimbang berat badan.
Menimbang
berat badan di pagi hari diniatkan sebagai penanda dan kendali atas perilaku
makan dan pengingat menu makanan yang dimakan sehari sebelumnya. Pencatatan
berat badan diniatkan untuk dilakukan selama minimal waktu tiga bulan
sebagaimana disarankan dalam menjalankan diet Ketogenic.
Menimbang
berat badan dilakukan mengunakan timbangan berat badan digital demi menunjukkan
angka yang detil beserta desimalnya untuk pencatatan yang lebih lengkap.
Penimbangan erat badan pada tanggal 4 Januari 2018 menunjukkan angka 105,5
kilogram dan perjalanan diet Ketogenic dimulai.
Pencatatan
berat badan setiap pagi menjadi salah satu patokan yang dapat dipelajari selama
menjalankan diet Ketogenic. Jenis menu makanan dan pola makan dapat
mempengaruhi fluktuasi berat badan yang terjadi setiap hari. Seberapa banyak
berat badan yang turun pada minggu pertama pada bulan pertama dapat terpantau
dengan baik.
Menimbang
berat badan di pagi hari yang semula diniatkan selama tiga bulan akhirnya
berlanjut hingga satu tahun penuh. Keputusan untuk melanjutkan penimbangan
berat badan rutin selama setahun penuh demi untuk memantau berat badan hingga
mencapai angka yang stabil dengan pola makan dan menu makanan diet Ketogenic
yang sudah tertata dan terjaga.
Dari
catatan yang ada, berat badan saya mencapai “titik terendah” dan stabil terjadi
pada bulan kesepuluh. Setelah berat badan tetap dan stabil hingga akhir
Desember 2018, saya putuskan untuk menghentikan kegiatan penimbangan berat
badan rutin tiap hari itu pada tanggal 4 Januari 2019.
Grafik Perubahan Berat Badan
Selalu Belajar
Pencerahan
di awal ternyata tidak cukup menjadi “bahan bakar” utama selama perjalanan diet
ini. Menjalankan diet Ketogenic ternyata adalah waktunya bagi saya untuk selalu belajar. Pelajaran yang paling penting adalah
“mendengarkan” kebutuhan tubuh kita sendiri. Dimulai sejak pagi hari setelah
bangun tidur saya sudah memulai hari dengan mendengarkan apakah sepagi itu
sudah merasakan lapar?!
Sebagaimana
diet Ketogenic yang belum memiliki acuan yang baku, makan menunggu lapar bisa
dalam waktu yang pendek atau mungkin hingga waktu yang lebih lama, yang bisa disesuaikan dengan daya tahan tubuh masing-masing individu. Tubuh
memberikan banyak tanda-tanda terkait dengan kebutuhan asupan, bukan hanya
sebatas rasa lapar, mungkin juga dengan sedikit pusing, atau
mungkin sedikit mual, bisa juga kesulitan buang air besar. Tanda-tanda dari
tubuh semacam itulah yang harus selalu dipahami dan cari penjelasan serta
solusinya. Beberapa tanda di antaranya bisa saja baru diketahui pada saat
menjalankan diet Ketogenic dan “beberapa” hal itu bisa saja cukup banyak
dan wajib dipelajari lebih lanjut.
Belajar
menerjemahkan tanda-tanda dari tubuh sering saya konfirmasikan kepada Herbert
sebagai orang yang bertanggung jawab “menjerumuskan” saya ke dalam diet
Ketogenic ini. Beberapa tanda bisa dijelaskan olehnya, bahkan dilengkapi dengan
solusinya. Tetapi untuk beberapa tanda yang lain, dan untuk “pelajaran” yang
lebih detail, seringkali Herbert
menyampaikan link artikel dan/atau video
“tutorial” dari internet.
Video “Tutorial” di Internet
Kita
tentu paham bahwa tidak semua hal-hal yang terdapat di cyber world
terjamin kebenarannya, tetapi sebagai individu yang hampir setiap saat
memanfaatkan internet sebagai sumber data, tentunya saya memiliki cukup cara
untuk memeriksa keabsahan digital track dari penyusun artikel dan video
yang diteruskan oleh Herbert. Tentunya saya juga meyakini bahwa pengalaman
Herbert menjalankan diet Ketogenic menjamin pemahamannya akan diet ini cukup valid.
Khususnya
video mengenai diet Ketogenic, atau yang juga dikenal dengan “Low Carbs High Fat diet”, terdapat beberapa YouTube channel yang sering
saya jadikan referensi. Dimulai dari channelDr.
Eric Berg, yang pada awalnya direkomendasikan oleh Herbert sendiri, hingga ke YouTube
channelDr. Ken Berry, Dr. Eric Westman – Adapt Your Life, dan 2 Fit Docs. Sebagian besar dari channel
tersebut saya temukan dari “rekomendasi” YouTube. Dunia internet memiliki
algorithma tertentu yang mampu memberikan rekomendasi-rekomendasi sesuai dengan
tema-tema yang berulang kali kita cari dan lihat.
Sebagian
dari content creator channel tersebut pernah saling bertemu dan
berkolaborasi dalam satu video. Sebagian lagi saya ikuti karena keunikan cara
mereka menjalankan diet Ketogenic yang mungkin bisa jadi referensi saya untuk
menirunya, misalnya tetap makan sehari 3 kali tapi tetapi dengan menu-menu yang
terjaga dan pada waktu-waktu yang tepat.
Artikel
dan video di internet saya jadikan bahan untuk mengkonfirmasi pengetahuan saya
tentang diet Ketogenic dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, di antaranya juga
untuk menambah wawasan mengenai solusi permasalahan yang ditemui dalam
menjalankan diet ini. Dari sana saya banyak juga mendapat pengetahuan mengenai
kerja hormon tubuh manusia yang lebih menjelaskan mengapa sebaiknya manusia
selalu dalam kondisi Ketosis.
Di
sisi yang lain, karena sebagian besar channel itu berasal dari Amerika
Utara, saya menjadi memahami kendala-kendala yang dihadapi mereka di sana dalam
menjalani diet Ketogenic dibandingkan dengan kendala yang saya hadapi
sehari-hari.
Salah
satu wawasan yang menarik yang saya temukan dan terkait dengan diet Ketogenic
adalah pembuktian pengobatan dan penyembuhan diabates tipe 2 (tipe penyakit
diabetes akibat pola makan dan gaya hidup, bukan bawaan) dengan terapi intermittent
fasting (puasa jeda waktu) dan low carbs high fat diet oleh Dr.
Jason Fung di Kanada. Beberapa video “kuliah” Dr. Jason Fung,
video kesaksian pasien-pasiennya, dan video interview-nya bersama Dr. Eric
Berg seperti menyemangati saya dan menguatkan fokus saya
dalam menjalani diet Ketogenic untuk memperoleh level kesehatan yang lebih baik
lagi.
Informasi paling banyak yang saya dapat mengenai diet Ketogenic adalah pentingnya
nutrisi dari menu makanan yang kita makan. Komposisi menu makanan zero sugar
+ low carbs + high healthy fat + middle protein volume
bukan berarti lalu mengesampingkan asupan nutrisinya. Untuk mencapai
metabolisme tubuh yang baik menuju kesehatan yang prima adalah sangat penting untuk
selalu mengutamakan nutrisi dari setiap menu makanan yang kita makan. Kebutuhan
akan asupan nustrisi, vitamin dan mineral bukan didapat dari suplemen buatan
atau pun dari makanan/bahan makanan yang diperkuat/fortified. Kita wajib
mencari asupan untuk kebutuhan tersebut dari real food yang kita
konsumsi sehari-hari.
Sebagai contoh,
biasanya asupan vitamin C kita peroleh dari banyak buah-buahan. Tetapi
dalam menjalankan diet Ketogenic, jeruk lemon adalah sumber vitamin C yang paling
aman karena kadar fructose-nya yang paling rendah. Fructose
yang masuk ke dalam tubuh manusia diproses oleh liver. Kadar fructose
yang rendah pada jeruk lemon tentunya mengurangi beban kerja liver.
Selain
memberikan vitamin C dengan kadar fructose rendah, kadar asam jeruk
lemon juga dapat membantu menjaga level keasaman lambung sehingga selalu aman
mendukung proses pencernaan. Untuk mengonsumsi jeruk lemon dipersilakan dengan
dijadikan juice atau diproses menjadi infused water, yang
tentunya tanpa ditambahkan sugar dan juga sebisa mungkin mengonsumsi
jeruk lemon yang organik.
Buah-buahan
memiliki rasa manis karena mengandung sugar yang biasanya terdiri dari fructose,
glucose, sucrose, maltose, galactose dengan kadar
dan komposisi yang berbeda-beda. Semakin rendah kadar glucose dalam
buah, semakin rendah pula potensi kenaikan sugar dalam darah apabila
buah tersebut dikonsumsi
tubuh manusia.
Bahan
lain yang juga dapat menjaga kadar keasaman lambung adalah cuka apel atau Apple
Cider Vinegar (ACV) yang cukup baik dikonsumsi dalam dosis 1 sendok makan dicampur dengan segelas air. Sebaiknya ACV dikonsumsi pada
saat perut kosong tetapi juga baik untuk dikonsumsi setelah makan, cukup 2 kali
konsumsi dalam sehari. Selain menjaga level keasaman lambung, ACV juga baik
untuk menekan level insulin dalam darah sehingga tidak berlebihan sehingga
dapat mencegah insulin menginstruksikan kelebihan glucose dalam darah
menjadi stored body fat.
Pada
awal memulai diet Ketogenic, saya mengalami buang air kecil yang cukup sering.
Beberapa informasi yang saya dapatkan, sering buang air kecil, bahkan dalam
volume yang banyak setiap kalinya, memang adalah efek normal dari diet
Ketogenic. Kemungkinan besar hal ini terjadi sebagai bagian dari proses pengeluaran/pengurangan
berat air tubuh (water weight) yang memang tambahan beban berat badan
secara keseluruhan di samping berat lemak badan (body fat weight).
Belakangan
saya juga memahami bahwa terjadinya buang air kecil yang cukup sering adalah
karena konsumsi carbohydrate yang sangat rendah dalam diet Ketogenic.
Kadar asupan refinedcarbohydrate yang tinggi ternyata bisa menahan
banyak cairan dalam tubuh sehingga menimbulkan water weight.
Refined carbohydrate adalah karbohidrat yang diproses berulang-ulang
menjadi tepung makanan, sehingga mineral-mineral asli yang seharusnya dibawa
dari sumber aslinya di alam menjadi terpisahkan. Saat dikonsumsi tubuh, refined carbohydrate akan mengikat
mineral-mineral yang ada di dalam tubuh sehingga membuat tubuh kekurangan
mineral. Kondisi ini mengganggu keseimbangan mineral dalam tubuh yang dapat
mengganggu kerja sel-sel tubuh. Secara alamiah tubuh akan berusaha menjaga
keseimbangan mineral yang dibutuhkan dengan mempertahankan jumlah air lebih
banyak, karena selain mengandung H2O, air juga mengandung electrolyte yang terdiri dari beberapa mineral. Hal inilah yang
kemudian membuat terjadinya penumpukan water
weight dalam tubuh yang banyak mengonsumsi refined carbohydrate.
Meski
pengeluaran water weight adalah hal yang normal dan baik, tetapi juga
perlu diwaspadai karena kemungkinan besar juga terjadi pengeluaran mineral bersamaan
dengan proses itu, terutama Sodium, secara besar-besaran dari
tubuh kita. Salah satu efek kekurangan Sodium yang cukup dirasakan tubuh kita
adalah rasa lemas dan gemetar yang berlebihan.
Cara
yang paling mudah untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita akan Sodium adalah dengan
minum larutan air garam, cukup campurkan segelas air dengan satu sendok teh
garam. Yang perlu diperhatikan adalah garam yang digunakan harus garam asli, bukan hasil refinery, juga bukan
garam khusus penderita darah tinggi. Pilihan garam asli bisa yang diperoleh dari
air laut atau garam Himalaya.
Kebutuhan
akan Sodium dalam sehari sebenarnya dapat dipenuhi cukup dalam 1 gelas larutan
air garam, tetapi apabila dibutuhkan, misalnya kepala terasa pusing, kelaparan
berlebihan, atau lelah setelah olah raga/kerja fisik, dipersilakan untuk menambah asupan larutan air garam secukupnya. Larutan air garam
cukup dapat memenuhi kebutuhan electrolyte
yang hilang dalam keringat yang tubuh kita keluarkan selama beraktivitas.
Fungsi larutan air garam sangat mirip dengan larutan oralit yang sering
dikonsumsi pada saat menderita diare tetapi tentunya larutan air garam tidak
ditambahkan sugar ke dalamnya.
Menyinggung
rasa lelah setelah beraktivitas fisik berat, selain mengonsumsi air garam,
ternyata larutan air + ACV juga mampu menghilangkan rasa lelah tersebut.
Mungkin larutan air + ACV tidak menggantikan electrolyte yang terbuang, tetapi cukup mampu memberikan efek segar
tubuh kembali. Hal ini saya buktikan sendiri untuk menjawab pertanyaan
kebiasaan minum air gula/manis setelah aktivitas fisik berat. Rasa lelah yang
saya alami setelah aktivitas mencuci mobil memang berhasil diatasi dengan minum
larutan air + ACV.
Magnesium
juga menjadi salah satu mineral yang diperlukan. Bagi mereka yang rutin berolah
raga biasanya cukup familiar dengan kebutuhan asupan mineral yang satu ini.
Sebagian dari mereka mengandalkan pisang sebagai makanan yang dianggap dapat
memenuhi kebutuhan akan Magnesium. Salah satu efek kekurangan Magnesium adalah
dapat menyebabkan detak jantung yang tidak beraturan/arrhythmia.
Tapi
tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya sayuran berwarna hijau tua lah yang
lebih banyak mengandung Magnesium dibandingkan pisang. Selain kandungan
Magnesium yang minim, pisang juga masih terlalu banyak mengandung fructose.
Sayuran
berwarna hijau tua, kecuali kangkung yang seratnya agak sulit dicerna, sangat disarankan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan Magnesium dan Potassium. Sayuran berwarna hijau tua yang memiliki kandungan Magnesium tinggi
adalah Kale. Sayangnya tingginya kandungan Magnesium dalam Kale juga berbanding
lurus dengan harganya yang tinggi. Tapi jangan kuatir, untuk harga yang lebih
murah, daun pepaya Jepang juga memiliki kandungan Magnesium yang tinggi, yang
tentunya perlu dikonsumsi sedikit lebih banyak dibandingkan dengan Kale.
Tanaman Kale
Saya
sempat mengonsumsi juice dari daun
pepaya Jepang 2x seminggu selama beberapa minggu. Efeknya mungkin tidak terlalu
terasa dibandingkan rasanya dari juice-nya
yang “begitu” lah.
Silakan membayangkan sendiri rasa juice sayuran murni tanpa tambahan apa pun. Minum juice sayuran tentunya sangat efisien
dibandingkan makan salad sayuran sebanyak 10 mangkok kecil dalam 1 hari.
Namun
bersamaan dengan pembelajaran yang terus menerus tentang diet Ketogenic, asupan
nutrisi khususnya Magnesium dan Potassium bisa dicukupi dengan
banyak mengonsumsi lalapan dalam porsi besar beberapa kali dalam 1 minggu.
Lalapan yang sering saya konsumsi adalah kombinasi timun, daun selada, daun
kemangi dan kol. Belakangan konsumsi lalapan ini saya
ganti dengan daun singkong rebus yang volumenya kurang lebih sama.
Tanaman Pepaya Jepang
Nutrisi dari Produk Hewani
Sumber
nutrisi lainnya yang perlu diketahui, dan selama ini seringkali dihindari
karena salah pemahaman, adalah daging dan jeroan hewan yang sebenarnya banyak
mengandung vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh untuk mengurangi depresi, anemia, kelelahan, dan tremors. Vitamin B12 banyak diperoleh
dari liver/hati hewan. Namun demikian, apabila lambung kita kurang kadar keasamannya,
vitamin B12 sulit terserap dengan baik. Bagaimana cara meningkatkan kadar
keasaman lambung? Minum saja larutan air + ACV.
Selain
jeroan hewan, sea food juga termasuk
jenis makanan yang juga sering dihindari. Namun yang kurang diketahui adalah
bahwa sea food banyak mengandung mineral Iodine yang bisa membantu mengurangi rasa dingin/kedinginan tubuh kita.
Telur
sebagai sumber protein hewani seringkali terlalu dibatasi konsumsinya. Padahal
telur, produk ayam maupun itik, merupakan menu makanan yang cukup lengkap
karena selain mengandung protein juga sekaligus mengandung lemak. Porsi kandungan protein dan lemaknya dapat disebut cukup memenuhi kebutuhan menu
diet Ketogenic sehari-hari.
Menurut
saya, telur adalah menu diet Ketogenic yang tergolong terjangkau, bahkan cukup murah. Apabila kita termasuk orang yang tidak mudah bosan, dalam menjalani diet
Ketogenic ini
dapat mengonsumsi telur saja sebanyak
4-5 butir rutin
setiap harinya dengan diimbangi konsumsi sayuran.
Mungkin
tidak banyak yang tahu bahwa kuning telur (egg
yolk) ternyata banyak mengandung zat Choline yang dapat membantu mengurangi
fatty liver. Agar lebih efektif,
disarankan untuk mengonsumsi telur mata sapi atau telur rebus dengan kematangan
cukup, yang kuning
telurnya masih berwarna oranye, atau
paling tidak bagian kuning telurnya belum mengeras,
dan bukan berwarna kuning pucat yang diselimuti lapisan warna abu-abu,.
Telur rebus ditaburi nutritional yeast
Sumber-sumber
nutrisi yang saya sebutkan itu masih sebagian dari sumber nutrisi lain yang
masih banyak lagi dengan jenis-jenis nutrisi yang lebih banyak lagi yang
bersumber dari jenis-jenis makanan real
food, bukan processed food.
Bahkan banyak di antaranya mudah diperoleh dengan cara dan harga yang cukup
terjangkau.