tag:

09 December 2008

STAUFFENBERG: Adolf Hard to Kill

Title:
Stauffenberg

Director:
Jo Baier

Writer:
Jo Baier (writer)

Cast:
Sebastian Koch, Ulrich Tukur, Hardy Krüger Jr., Christopher Buchholz, Nina Kunzendorf, Stefania Rocca, Axel Milberg, Olli Dittrich

Plot:
In 1944, a group of high command officers plot an attempt against Hitler, and one of the leaders of the conspiracy, Stauffenberg (Sebastian Koch), goes to a meeting with the Fuhrer in charge of exploding the place. However, Hitler survives and the officers are executed. This unsuccessful operation was called "Valkyrie Operation", and this realistic movie discloses this true event.

Note:
Sambil iseng-iseng ngerapihin koleksi DVD gue, ada satu film yang di cover-nya tertulis judul Operation Valkyrie, mirip dengan judul film yang bakal dirilis tahun depan besutan Bryan Singer dan dibintangi Tom Cruise.

Gue pasang aja deh tu film. Eh ternyata judul ‘dalem’nya adalah Stauffenberg dan sepertinya adalah film berbahasa Jerman. Untung aja subs English-nya cukup bagus.

Seperti halnya film-film Eropa, biasanya filmnya bakal rada lambat tapi cukup menanjak menegangkan begitu sudah mulai di puncak plot cerita. Visual dengan angle kamera yang standar-standar aja ngga bikin gue berhenti di tengah-tengah film.

Setelah film ini selesai, kayaknya udah banyak spoiler untuk Bryan Singer’s Operation Valkyrie nanti. Tapi dengan ‘jaminan’ nama Singer pasti bikin gue tetep bakal nonton filmnya nanti.

TWILIGHT: Till Undead Do Us Part



Title:
Twilight

Director:
Catherine Hardwicke

Writers (WGA):
Melissa Rosenberg (screenplay)
Stephenie Meyer (novel)

Cast:
Kristen Stewart, Robert Pattinson, Billy Burke, Ashley Greene, Nikki Reed, Jackson Rathbone, Kellan Lutz, Peter Facinelli, Cam Gigandet, Taylor Lautner

Plot:
Isabella Swan moves to gloomy Forks to live with her father. As she starts her junior year in high school she becomes fascinated by Edward Cullen who holds a dark secret which is only known by his family. Edward falls in love with Bella as well but knows the further they progress in their relationship the more he is putting Bella and those close to her at risk. Edward warns Bella that she should leave him but she refuses to listen and to understand why he is saying this. Bella learns his secret. He is a vampire, however she is not afraid of his blood-thirsty needs and the fact he could kill her at any moment. Bella is afraid of losing him, the love of her life. The thrill begins when a new vampire finds it a challenge to hunt Bella down for her irresistible blood. The game is on and James will not stop until she is killed.

Note:
Pengalaman menyebalkan harus ngantri hampir stengah jam untuk dapet jadwal nonton 2 sesi beikutnya! Udah lama gue ngga ngantri untuk nonton film di bioskop. Berhubung kali ini film ini didistribusi secara egois, ya udah terpaksa gue nonton di bioskop yang bukan biasanya, dan harus berlama-lama antri pula!!

Di gang sempit di depan theater dengan asyik para calon penton film ini merubung. Duh kelakuan deh! Kan di tiap tiketnya udah ada nomor seat-nya. Secara logika bodoh sekalipun ngga bakalan ngga kebagian seat! Udah gitu di gang situ kan ngga terlalu kedengeran suara announcer yang umumin theater mana aja yang udah buka pintu.

Film yang diangkat dari novel Amerika popular ini mustinya romantis sekali. Tapi anehnya koq gue ngga dapet romantismenya ya?! Apakah karena gue laki-laki?! Kayaknya ngga juga deh. Gue masih bisa diharu birukan romantisme di film-film Romeo + Juliet, Moulin Rouge! dan Titanic. Tapi koq di Twilight ini ngga berasa dalem romantisnya?

Banyak banget dialog-dialog yang dalem, tapi mungkin karena suasananya kurang mendukung jadinya ngga mukul gue banget. Padahal dialognya menurut gue lebih keren dibanding “You jump, I’ll jump!” Sambil antri tiket sekilas gue denger obrolan bahwa ceritanya bisa disamakan dengan Romeo and Juliet. Tapi sayang buat gue masih jauh lebih romantis Romeo + Juliet garapan Baz Luhrman.

Kecanggungan dua dunia yang bersinggungan masih bisa terasa. Dan begitu action mulai diangkat, mulai bikin gue asyik ngikutin. Tapi begitu balik masuk ke adegan romantis, wah ngga kenal lagi deh.

Apa gue musti baca novelnya juga?

PENCARIAN TERAKHIR: Right is The Wrong Way


Judul:
Pencarian Terakhir

Sutradara:
Affandi Abdul Rachman

Pemeran:
Lukman Sardi, Yama Carlos, Alex Abbad, Verdi Solaiman

Catatan:
Film ini ngga mau disebut bergenre horor, tapi katanya bergenre adventure mystery. Cukup bikin penasaran sih, apa sih bedanya dengan horor?

Gue berkesempatan 2 kali menyaksikan film ini di bioskop. Pertama kali diundang dalam premier ‘umum’. Dan yang 1 kalinya untuk bersama keluarga sambil melihat detil-detil yang mungkin terlewatkan.

Film ini memang cukup detil secara visual. Untuk mengangkat tema misterinya, permainan tone warna sangat mendukung di sini. Dan dialog-dialog disusun dengan efektif sehingga hampir ngga ada dialog yang berkepanjangan untuk menjelaskan sesuatu yang bisa diangkat secara visual.

Dalam salah satu adegan hampir aja gue terjebak dalam kesombongan karena gue merasa menemukan sebuat plot hole. Tapi begitu melihat scene berikutnya, gue jadi langsung ngerti dan sekaligus acung jempol dengan scenario yang juga disusun oleh sutradaranya.

Film ini cukup berhasil mengangkat tema pendaki dan pendakian yang Indonesia sekali, lengkap dengan misteri-misteri yang sering muncul dalam pendakian. Katanya cerita film ini terinspirasi kisah nyata. Yang cukup mengherankan, sutradaranya adalah lulusan directing dari Amerika Serikat tapi berhasil mengangkat ke-Indonesiaan dalam film debutannya ini. Gue yang cukup sering denger cerita-cerita misteri seputar pendakian merasa cukup asyik menonton film ini karena kedekatan temanya dengan Indonesia.

Dialog-dialog yang casual, penokohan yang pas dan porsi-porsi cerita yang pas bikin film ini enak gue ikutin sampe selesai. Hampir ngga terasa dipanjang-panjangin. Yang ada gue malah terasa diayun naik turun sesuai dengan plot cerita. Gimmick komedi di sela-sela ketegangan pendakian bisa masuk dengan enak, bisa bikin penonton ketawa sedikit garing dalam ketegangan yang masih berlanjut. Belum lagi penyelipan pesan moral dalam pengambilan keputusan yang terburu-buru (kanan itu ngga selamanya benar) ngga menjadi dialog yang berpanjang-panjang dan diulang-ulang.

Sebenernya gue berharap film ini sad ending. Tapi mungkin juga karena pertimbangan pasar, film ini happy ending juga. Meskipun begitu, endingnya masih enak diterima dan cukup bisa menjelaskan kenapa film ini berjudul Pencarian Terakhir.

QUANTUM OF SOLACE: Emotional Bond Movie


Title:
Quantum of Solace

Director:
Marc Forster

Writer:
Paul Haggis, Neal Purvis, Robert Wade

Cast:
Daniel Craig, Olga Kurylenko, Mathieu Amalric, Judi Dench, Giancarlo Giannini, Gemma Arterton, Jeffrey Wright, Jesper Christensen

Plot:
Cerita yang langsung nyambung dengan Casino Royale ini, membeberkan kegiatan Bond melacak sesuatu yang melatari kematian kekasihnya. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Bahkan M pun nyaris menjadi korban berikutnya.

Note:
Ngga bakalan sabar deh nungguin film ini bagi mereka yang suka banget dengan Casino Royale. Pastinya bakalan nungguin munculnya Craig sebagai Bond yang manusiawi.

Dalam cerita yang langsung nyambung dengan Casino Royale, rasanya gue ngga dikasi kesempatan untuk bernapas karena cerita langsung meyajikan ketegangan yang dibalut dengan aksi-aksi keren. Sekalipun katanya adegan aksi di film ini dibuat oleh tim yang sama dengan yang membuat adegan aksi di Trilogy Bourne, tapi gue melihat bahwa tim ini dengan cerdas bersama sang sutradara tetap menonjolkan aksi ‘khas’ Bond yang belom pernah dilakukan oleh film-film sejenis. Contoh jelasnya silakan liat adegan kejar-kejaran pesawat yang ‘Bond banget’.

Cerita yang berlanjut dalam dendam atas kematian kekasihnya membuat film ini menjadi lebih gelap. Belum lagi cerita dibuat semakin gelap dan emosional dengan segala macam intrik yang terjadi di dalam lingkaran dalam M dan MI6. Terima kasih kepada Paul Haggis karena dengan sentuhannya yang khas, kita bisa melihat M sedang mengoleskan krim malam ke wajahnya dalam pakaian tidur. Paul Haggis membuat kita percaya bahwa organisasi intelijen dan orang-orang di dalamnya adalah manusia juga yang mungkin saja ada di sekitar kita dan melakukan juga apa-apa yang kita lakukan sehari-hari.

Dalam film ini sekali lagi minim gadget, jauh dari image film-film Bond sebelomnya (khususnya di tahun 80-an). Tapi dengan cerdas kecanggihan dukungan IT suatu badan intelijen ditampilkan dalam sebuah adegan briefing. Dan dengan setengah promosi, gadget kamera digital ‘dimaksimalkan’ feature face recognition-nya. Siapa bilang Craig’s Bond ngga pake gadget keren?!

Dalam kemuraman cerita, gue curiga bahwa film ini adalah bagian kedua dari sebuah trilogy reboot James Bond, sekalipun di akhir film tidak dimunculkan satu pun clue yang mengarah ke direct sequel selanjutnya. Tapi orang yang belum selesai diinterogasi Bond pada awal film masih belum jelas nasibnya. Padahal masih sempat muncul sekilas di tengah-tengah cerita.

Masih ada yang mau menunggu Craig’s Bond selanjutnya?!

TAKUT (FACES OF FEAR): Bukan Horor Indonesia Pasaran



Judul:
Takut (Faces of Fear)

Sutradara:
7 Sutradara Muda Indonesia

Pemain:
Marcella Zalianty, Lukman Sardi, Dinna Olivia, Wiwied Gunawan, Shanty, Fauzi Baadillah, Shareefa Daanish, Eva Celia

Catatan:
Bukan satu film utuh nih, lebih mirip album kompilasi beberapa film pendek. Tagline-nya aja: 6 Cerita , 7 Sutradara, 1 Jeritan. Sebelum dikompilasi seperti ini, salah satunya pernah dirilis sendiri sebagai film pendek di salah satu festival film di Jakarta juga. Dan film itu, Dara, akan diadaptasi ulang menjadi film full feature berjudul Macabre oleh tim sutradara yang sama.

Takut adalah sedikit dari film horor yang gue tonton di bioskop. Dan dari sedikit film-film horor itu, semuanya adalah film Indonesia. Untuk film Indonesia aja gue bener-bener milih untuk ditonton di bioskop apalagi untuk film horornya. Khususnya untuk Takut ini, karena gue cukup penasaran dengan Dara, yang katanya adalah film genre horor slasher gore pertama yang pernah dibuat sineas Indonesia.

Nonton film ini di INAFFF 2007 ternyata adalah premier film ini sebelum pada minggu berikutnya diputar regular di bioskop yang sama. Berhubung diputar di festival semacam INAFFF, tiket yang berlaku untuk free seating alias duduknya milih sendiri; siapa cepat masuk dia boleh milih seat yang paling nyaman untuk dirinya.

Pintu auditoriumnya belum dibuka, tapi antrian sudah cukup panjang. Dus yang berisi selusin donat yang baru gue beli ternyata musti dititipin di CRO depan. Dan untungnya emang musti dititipin karena antrean penonton semakin bejubel. Dalam suasana gerah dan sedikit kesal dalam antrian, gue juga sekaligus terharu karena banyak juga yang antusias menonton film horor Indonesia yang sudah mulai disebut sebagai genre sampah di benak penonton film Indonesia (sekalipun masih tetep ada yang nekad mbayar untuk nonton sampah!).

Pintu auditorium dibuka dan setelah tiket disobek petugas, mulai deh pada berlari dengan niat memilih seat terbaik. Tapi dengan strategi yang tepat ditaruhnya 2 SPG rokok sponsor pas di tikungan sebelum sampe di deretan seat penonton. Minimal para pelari menjadi terganggu konsentrasinya sebentar. Gue dan istri berhasil dapat seat yang paling tengah sekalipun masih agak depan.

Dan setelah ada pembukaan sedikit dari panitia (tiap festival film emang biasa begitu), film dimulai dengan pemutaran film komedi pendek berjudul ‘Mengejar Untung’ yang merupakan karya pertama dari Ringgo Agus Rahman. Pemutaran film yang juga dihadiri sutradaranya ini cukup mendapat sambutan baik. Tapi koq buat gue lebih lucu behind the scene-nya (tayang bersamaan dengan end credit) dibanding filmya :D

Film Takut pun mulai. Begitu lampu mulai padam, baru sadar bahwa gue jarang banget nonton film horor di layar lebar. Bakalan jadi dark ride juga?

Satu per satu dari 6 film ditayangkan berturut-turut. Nuansa indie sangat terasa, terutama terpampang jelas dalam visual credit title-nya yang banyak memanfaatkan CGI yang kasar cenderung seadanya. Untungnya isi filmnya mengalahkan ‘bungkus’nya. Sekalipun beberapa idenya tidak lagi orisinal, tapi berani beda dengan tema-tema film horor yang ada di pasaran film Indonesia. Coba aja sebutin mahkluk ga’ib yang pernah muncul di film horor Indonesia, dijamin ngga ada satu pun yang muncul di 6 cerita ini. Malah di sini dimunculkan mahkluk horor yang nggak ‘umum’ di Indonesia yaitu zombie.

Dari 6 cerita yang ditampilkan, bukanlah Dara yang memukau gue. Malah Titisan Naya dan The List yang lebih menarik hati gue. Di segmen The List, sekalipun judulnya pake English tapi ceritanya di seputar tema santet yang dibalut komedi. Buat yang kepingin berasa thrill bakalan bete, tapi gue justru suka dengan temanya yang Indonesia banget, juga balutan komedinya yang sekaligus menyisipkan pesan moral yang cukup dalam.

Yang paling bagus buat gue ada di segmen Titisan Naya garapan Riri Riza. Film ini berhasil menggambarkan seperti apa kesurupan yang dekat sekali dengan kenyataan sehari-hari. Apa yang divisualkan di segmen itu pernah gue denger dari cerita mereka yang pernah kesurupan.

Terlepas dari serem ato enggaknya, film ini berani tampil beda. Bukan lagi genre sampah yang ada di pasaran. Semua filmnya tampil cukup baik. Dan beberapa cast-nya cukup asyik; seperti yang diperankan oleh Dinna Olivia, Wiwied Gunawan, Epy Kusnandar dan Shareefa Daanish (sekalipun gue dan istri sulit melepaskan image Daanish di salah satu serial komsit TV; “Mas Kosiiiimmm! Nasi gorengnya mana?”). Ngga bisa ditampik bahwa sepanjang waktu banyak gue kenali dari film mana aja ide-ide asli film ini. Tapi keberaniannya lah yang patut gue acungi jempol tinggi-tinggi.

Kalo sekarang gue denger film ini kurang laku di pemutaran regulernya, ada beberapa kemungkinan yang bisa aja berpengaruh; pendukung film Indonesia bermutu sudah nonton film ini di INAFFF, yang nonton di INAFFF sebagian besar kasi review negatif tentang film ini, penonton Indonesia belom terbiasa menonton film-film pendek, penonton Indonesai ngga kenal dengan sebagian besar tema yang diangkat di film ini, dan yang terakhir mungkin karena pemutaran regulernya cuma di bioskop yang punya jaringan terbatas dengan HTM-nya yang cukup mahal :D

Apa pun kendalanya, gue sih berdoa selalu untuk sineas Indonesia untuk selalu berani bikin film yang bermutu baik dan ngga cuma ngikutin pasar. Bikinlah yang beda supaya mudah-mudahan bisa jadi bahan belajar untuk penonton film Indonesia.

AKU: Warisan Besar Sineas Besar bagi Dunia Perfilman

Judul:
Aku
Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

Penulis:
Sjuman Djaya

Penerbit:
Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti: 1987

ISBN:
[979-3019-13-1]

Catatan:
Inilah buku yang sering terlihat dibaca oleh karakter Rangga, yang diperankan Nicholas Saputra, di Ada Apa Dengan Cinta. Katanya buku ini yang menginsipirasikan jiwa pemberontak dalam karakter Rangga selain buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Kalo di film itu kayaknya Rangga lebih mencerminkan karakter Chairil Anwar yang dilukiskan dengan agak surealis dalam naskah scenario film yang dibukukan ini.

Buku ini adalah karya terakhir dari salah satu sutradara besar yang pernah berkarya dalam perfilman Indonesia. Mengambil setting Jakarta sesaat setelah meledaknya bom atom di Hiroshima sepertinya menjadi salah satu kendala besar untuk nantinya bisa mewujudkannya ke dalam film layar lebar. Belum lagi gaya penuturan ceritanya yang agak surealis, mungkin saja tidak mudah untuk diwujudkan menjadi film selain oleh si penulisnya sendiri.

Pernah dalam obrolan singkat dengan salah seorang putra penulis yang sekarang aktif dalam scoring film, Aksan Sjuman, gue menanyakan apakah ada niat untuk mewujudkan scenario ini ke dalam film. Aksan bilang hal itu bakal sulit untuk diwujudkan.

Rasa penasaran yang bikin gue mengulang membaca buku ini. Dan gue makin ngerti kenapa bakal sulit diwujudkan dalam film, kecuali diproduksi oleh perusahaan Hollywood atau Eropa dengan dana yang cukup.

Tapi dalam keterbatasan produksi media film Indonesia, gue jadinya terpikir untuk mengusulkan visualisasi scenario dalam buku ini ke dalam media graphic novel. Dan usul ini sudah gue sampaikan ke facebook-nya Aksan Sjuman.

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN: Bombardir Gagasan Penyetaraan Gender

Judul:
Perempuan Berkalung Sorban

Penulis:
Abidah El Khalieqy

Penerbit:
YKF dan the Ford Foundation: 2001

ISBN:
[978-979-15836-4-1]

Catatan:
Lagi mondar-mandir di toko buku yang lagi ngasi diskon karena re-opening, ngga sengaja gue liat buku ini bersandar di barisan paling bawah rak yang menjajarkan buku-buku fiksi. Ini dia novel yang bakal diangkat oleh Hanung Bramantyo (sutradara Ayat-Ayat Cinta) ke layar lebar. Dari pernyataan Hanung Bramantyo tentang project-nya kali ini bikin gue kepingin baca novelnya sebelum nanti liat filmnya.

Kayaknya novel ini adalah salah satu dari sedikit buku yang langsung gue baca ngga lama setelah gue beli! Bener loh, masih ada beberapa buku yang gue beli sebelom buku ini tapi sampe saat ini belom gue baca. Terdorong rasa penasaran juga karena supaya ngga keduluan rilis filmnya.

Novel yang ditulis oleh perempuan lulusan pesantren ini berhasil memukau gue dengan tuangan tema penyetaraan gender dengan tanpa basa basi dan tanpa tedeng aling-aling. Cerita yang didasari kehidupan dalam pesantren ini dengan lantang ‘berteriak-teriak’ tentang diskriminasi atas hak-hak perempuan yang didasari pemahaman picik atas ayat-ayat Qur’an.

Kayaknya novel ini bakal menyentak mereka (laki-laki maupun perempuan) yang mengaku memahami Al Qur’an hanya dengan sekedar membaca saja. Dan golongan inilah yang paling banyak jumlahnya dalam ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia.

Tapi penuturan gugatan dalam novel ini yang mampu bikin gue terkagum-kagum dengan keberanian si penulis yang langsung maupun tidak langsung melabrak tradisi yang pernah mendidiknya sejak kecil. Cerita yang dituturkan secara linier ini ngga pernah berhenti membombardir pembacanya dengan gugatan kesetaraan gender. Buat gue rasanya seperti membaca kisah nyata, bukan seperti fiksi. Bisa jadi mungkin saja karena si penulis terlalu sibuk membombardir pembaca dengan gagasannya sehingga melupakan keindahan gaya penulisan sastra. Atau mungkin memang demikian ingin disampaikan penulis sehingga gagasan yang ingin disampaikan terasa langsung to the point, menohok, kering tapi juga terasa menjadi hal yang urgent yang harus segera ditangani.

Khususnya untuk perempuan, novel ini sepertinya mampu menginsipirasikan ketabahan dan ketegaran dalam dunia yang didominasi kaum pria tanpa mesti mendayu-dayu dan melarat-larat.

PARANOID: Psychological Story with a Happy Ending?

Judul:
Paranoid: The Story of A Madman

Penulis:
Patrick Suskind
diterjemahkan oleh Bima Sudiarto

Penerbit:
Jakarta: Dastan Books: 2007

ISBN:
[979-979-3972-19-0]

Catatan:
Baca novel singkat ini sebenernya ngga bikin gue tertarik bener-bener untuk ngikutin ceritanya. Gue lebih penasaran dengan ending-nya. Makanya gue baca terus novel ini sampai selesai.

Sebenernya sih ending-nya ngga nendang banget. Tapi kalo intens ngikutin dari halaman pertama, ending-nya bisa jadi terasa mengerikan! Karena bisa saja cerita yang dituturkan secara nyaris linier ini terjadi pada diri kita sendiri, terutama orang-orang introvert yang tinggal di kota-kota besar.

Meskipun tidak sampai menjadi psychological thriller, tapi bisa jadi cerita ini bakalan menggugah mereka yang introvert untuk lebih membuka diri. Buat gue yang dulu pernah introvert, cerita di novel ini sempet bikin merinding juga. Tapi mungkin ngga terlalu nendang karena terlalu singkat. Ato mungkin bisa juga karena translate-nya yang kurang pas?!

KITAB SALAHUDDIN: Novel yang Menyengangkan dan Menyenangkan

Judul:
Kitab Salahuddin : sebuah novel
Judul asli: The book of Saladin

Pengarang:
Tariq Ali; penerjemah, Anton Kurnia

Penerbit:
Jakarta : Serambi, 2006,

ISBN:
[979-16-0088-0]

Catatan:
Awalnya ngga tertarik dengan buku ini karena gue suka apriori dengan buku/tulisan mengenai tokoh-tokoh besar Islam, padahal gue sendiri Muslim. Tapi setelah baca resensinya dan tau bahwa ini adalah novel fiksi yang didasari kehidupan Sultan Salahuddin pada masa perebutan Yerusalem, gue langsung jadi amat sangat tertarik.

Cerita perebutan Yerusalem digambarkan sebagai perang politik kekuasaan, bukanlah perang antar agama (emang kenyataannya sih begitu). Oleh Tariq Ali dilukiskan bahwa semua golongan di Timur Tengah dengan tidak membeda-bedakan Suku, Agama dan Ras bahu-membahu merebut Yerusalem dari kekuasaan Imperialis Eropa. Tariq Ali dengan berani melukiskan kehidupan pada masa itu dengan segamblang-gamblangnya. Tanpa tedeng aling-aling, meskipun juga tidak vulgar, Tariq Ali berani mengisahkan Ahli Sastra Kesultanan adalah seorang homoseks!

Kepahlawanan Sultan Salahuddin digambarkan begitu megah dan hebatnya. Tidak ketinggalan dilukiskan juga segala kearifan seorang Sultan besar dengan segala sisi manusiawinya yang mungkinjarang disebut dalam tulisan-tulisan lain mengenai Beliau. Novel ini menjadikan gue semakin mengagumi Sultan Salahuddin (setelah sebelumnya mengagumi karakternya di film Kingdom of Heaven) tanpa jadi mengkultuskan Beliau.

Death in Family: Part 2

Sabtu pagi selepas subuh waktu itu, berdering telpon rumah gue. Sejenak sebelum gue angkat, perasaan ngga enak udah muncul di hati. Dan benarlah, kabar duka yang sampai: salah seorang sahabat dari almarhum Bokap gue meninggal dunia!

Rasa kehilangan langsung semakin tajam menusuk perasaan. Gue nggak pernah mengenal secara dekat dengan keluarga Beliau, istri dan anak-anaknya, tapi Beliau malah sudah seperti Bokap gue sendiri. Beliau adalah partner Bokap dalam ‘mencari Tuhan’ dan nyaris tak terpisahkan dalam proses pencarian mereka. Almarhum Bokap selalu berlaku seperti kakak untuk Sang Sahabat, sekalipun Sang Sahabat berusia lebih tua darinya. Karakter mereka hampir mirip sekalipun Sang Sahabat lebih lugas dalam berlaku dan menyampaikan sesuatu. Beliau juga yang menjadi salah satu saksi waktu gue menjadi Mu’allaf, mengucapkan syahadat di salah satu mesjid besar di Jakarta. Dengan Beliau juga gue bisa berdiskusi tentang apa pun seperti diskusi-diskusi lainnya yang pernah gue lakukan dengan almarhum Bokap.

Semakin terasa sedih karena beberapa bulan terakhir gue ngga pernah secara langsung kontak dengan Beliau. Padahal ngga jarang sebelumnya gue sering bertelepon ataupun bertukar pesan singkat di ponsel. Saat Hari Raya kemarin gue memang mendapat kabar bahwa beliau sedang sakit. Hanya saja gue sebatas menduga penyakit diabetes yang memang diderita Beliau sejak lama itu sedang kumat sementara saja.

Sebagai wakil keluarga, segera saja gue siap-siap berangkat menuju rumah duka di kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur. Jarak yang jauh rasanya pingin segera gue habisi supaya bisa segera sampai ke sana. Gue kontak semua sahabat Bokap dengan harapan bisa berangkat bersama. Akhirnya di Terminal Bis Grogol bisa juga berangkat bersama salah seorang sahabat Bokap. Lalu lintas Sabtu pagi itu cukup bersahabat, jarak yang cukup jauh pun dapat ditempuh dengan nyaman dan lancar sekalipun hanya dengan menumpang angkutan umum.

Sepanjang perjalanan yang terasa jadi singkat itu, gue banyak ngobrol dengan sahabat Bokap itu. Salah satu topik di antaranya adalah kejadian-kejadian sebelum Sang Sahabat meninggal yang bisa jadi merupakan pertanda bahwa Beliau akan meninggal dunia. Dan kejadian-kejadian itu mirip dengan kejadian-kejadian sebelum Bokap gue meninggal dunia. Selain kejadian-kejadian pertanda tersebut, kami juga sedikit membahas kejadian-kejadian yang bisa dianggap mistis seputar kematian Sang Sahabat. Namun hal itu sebatas intermezzo saja.

Kami sampai juga di rumah duka sekitar pukul 8.30. Ternyata sahabat-sahabat lainnya sudah juga berdatangan. Dan seperti di waktu-waktu lalu, kala mereka berkumpul tidak pernah menjadi suasana duka ataupun bersedih. Malah mereka cenderung ceria. Mungkin aneh dalam suasana duka di rumah itu. Tapi mereka selalu percaya bahwa semua kejadian adalah takdir dari Yang Maha Kuasa, sehingga tidak perlu lagi ditangisi. Mereka semua pun percaya bahwa Sang Sahabat meninggal dunia dalam keyakinan iman terbaiknya. Sekalipun secara lahiriah, kehidupan Sang Sahabat masih cukup berat karena anak-anaknya masih terlalu muda untuk ditinggalkan.

Sambil ngumpul, gue denger cerita bahwa Almarhum pada minggu-minggu terakhir dalam hidupnya masih sempat menyaksikan film Laskar Pelangi. Dan Beliau amat sangat menyukai film tersebut!! Beberapa Sahabat lainnya sempat bercerita bahwa pada hari-hari akhirnya Beliau sibuk menceritakan segala kebaikan dan keindahan film tersebut kepada semua Sahabat yang menjenguknya di rumah. Dan seperti biasanya, Beliau tidak akan bisa dipotong apabila sedang menceritakan sesuatu yang menurutnya baik dan bagus.

Gue langsung terkenang Almarhum Bokap yang selalu jadi teman berdiskusi tentang apa aja, yang kepergiannya bikin gue kehilangan tempat cerita kalo gue habis nonton film bagus ato selesai baca buku bagus. Kami ngga pernah habis berdiskusi soal film The Godfather. Yang menarik kami pernah berdiskusi panjang tentang inti cerita novel The Da Vinci Code, yang pada saat itu gue masih memeluk ada Kristen Katholik. Kami mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan logis yang disampaikan novel itu.

Di Bulak Kapal gue mendapat kabar duka lagi. Ponsel gue berdering dan ternyata salah satu sepupu jauh mengabarkan Pak De meninggal dunia pagi itu juga sekitar pukul 5 dan akan disemayamkan siang itu di rumah duka di kawasan Pamulang. Dan segera kabar itu gue teruskan ke Nyokap di rumah. Saat itu rasanya pingin gue membelah diri supaya bisa hari di dua rumah duka pada saat yang bersamaan. Jarak yang jauh membentang antara Bulak Kapal dan Pamulang. Terbayang ngga akan sempat terkejar kalau saja gue berniat menyambangi jenazah Pak De di Pamulang setelah pemakaman Sang Sahabat di Bulak Kapal.

Pada saatnya dulu, kami sekeluarga pernah cukup dekat dengan Pak De. Bahkan Almarhum Bokap sempat menganggap Pak De sebagai panutan yang perlu dicontoh. Ada kalanya dulu Bokap selalu betah berlama-lama di rumah Pak De. Gue yang waktu itu masih kecil ngga terlalu memperhatikan sih, yang penting bisa seneng-seneng di rumah bagus berfasilitas lengkap. Sekalipun sudah sejak lama juga Bokap ngga lagi menganggap Pak De sebagai panutan, tapi hubungan mereka dan keluarga tetap baik selayaknya saudara dalam sebuah keluarga besar. Terakhir kali Beliau masih sempat mewakili keluarga besar Kartowidjojo menyampaikan beberapa patah kata di pemakaman Bokap.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pak De menderita sakit kanker usus. Sudah beberapa kali kami mendapat kabar Pak De sempat diarawat di rumah sakit. Karena keterbatasan sumber daya, kami sekeluarga belum bisa menjenguk Beliau. Tapi beberapa kali gue masih sempat bertukar pesan singkat melalui ponsel. Nomor ponsel Beliau banyak sekali.

Tenang-tenang gue di Bulak Kapal menunggu proses pemakaman Sang Sahabat. Sementara itu, ternyata kabar tentang proses perjalanan jenazah Pak De ke Pamulang masih simpang siur. Dari kabar awal, jenazah Pak De ditemukan meninggal di Ancol. Dan dari sana akan dibawa ke RSCM lebih dulu. Pamulang – Ancol kan jauh?! Di Ancol mana ada rumah sakit. Mungkin karena ditemukan meninggal jadi jenazahnya mesti divisum di RSCM.

Nyokap masih sempat menelpon Bu De untuk menyampaikan bela sungkawa dan menanyakan kabar. Dari cerita Nyokap, Bu De seperti terburu-buru dan agak misterius. Entah apa yang sebenarnya terjadi ya?!

Langsung maupun tidak langsung, gue melarang Nyokap dan anggota rumah gue untuk berangkat melayat ke Pamulang. Kami belum pernah sekalipun ke rumah Pak De di Pamulang. Apalagi sisa anggota keluarga gue di rumah perempuan semua; Nyokap, Istri gue dan Adik gue. Ngga mungkin gue membiarkan mereka perempuan bertiga berangkat ke Pamulang dengan tujuan yang belum pernah mereka sambangi sebelumnya. Kami cuma bisa menunggu kabar lebih lanjut tentang jenazah Pak De.

Sambil menunggu sana dan sini, setelah dipikir-pikir lalu gue berkesimpulan bahwa semua yang terjadi memang seperti disesuaikan dengan apa yang pernah kita perbuat sebelumnya. Siapa pun kita yang hidup pasti terkait dengan semua mahkluk di sekitar kita.

Kenapa kabar meninggalnya Pak De baru sampai setelah gue tiba di Bulak Kapal?? Kalo aja kabar kematian Pak De gue terima duluan, mungkin aja kan gue saat itu udah sampai di Pamulang ato minimal gue lagi nunggu visum jenazah di RSCM?! Jelas-jelas Pak De itu masih ada hubungan darah, sekalipun Beliau ‘cuma’ sepupu Almarhum Bokap. Sedangkan saat itu gue sedang melayat ke rumah Sahabat Bokap yang tidak ada hubungan darah sama sekali.

Dari sisi perjalanan ke rumah duka pun koq bisa gue lancar-lancar aja sampai ke Bulak Kapal dan masih sempat ketemuan dulu dengan salah seorang Sahabat Bokap lainnya. Sedangkan untuk ke Pamulang, seperti jauh langkah. Bukannya gue menyalahkan saudara-saudara lain yang seperti sibuk sendiri, tapi sepertinya kepastian informasi keberadaan jenazah Pak De minim sekali.

Belakangan kami baru tahu bahwa jenazah Pak De masih divisum di RSCM sampe pukul 4 sore. Andai saja informasi ini bisa segera kami ketahui, mungkin aja kan gue bisa menyusul ke sana.

Yah bisa jadi banyak kesalahan gue yang tidak aktif mencari tahu informasi keberadaan jenazah Pak De. Dan bukan juga minta dimaklumi bahwa hari itu gue cukup lelah karena pada pukul setengah enam pagi sudah mulai berangkat ke Bulak Kapal.

Mohon ma’af kepada semuanya apabila gue seperti memilih-milih saudara. Mohon ma’af karena kurang kuatnya usaha gue untuk bisa hadir melayat jenazah Pak De.

Sepanjang hari di Bulak Kapal, gue ngga jadi terus murung karena sekali lagi ditinggal oleh sosok yang mirip sekali dengan Bokap. Sepanjang hari itu gue malah banyak senyum dan penuh canda. Rasa suka cita malah memenuhi perasaan karena gue bisa sekali lagi berkumpul dengan Sahabat-sahabat Bokap. Ada rasa haru, tapi tidak sampai menitikkan air mata.

Tapi rasa kehilangan memang ngga bisa dibuat-buat. Sampai di rumah, teringat lagi Sang Sahabat yang amat sangat menyukai film Laskar Pelangi. Dan begitu lagu-lagu dari film itu gue dengerin di depan PC, mulailah gue terisak. Gue mulai menangisi kepergian Beliau. Dan semakin menangis karena teringat kedekatan Beliau dengan Bokap. Dan lagu yang terngiang di telinga menjadi:
“………..fly me up to where you are beyond the distant star……..
…………I wish upon tonight to see you smile…………….
………….it’s only for a while to know your there………….
………….a breath away not far to where you are…………….” *)
*) ‘To Where You Are’ by Josh Groban







PS:
Nulis judulnya gue hati-hati banget deh, karena gue inget komentar-komentar kocak almarhum Bokap gue. Dia selalu ngeledekin judul-judul sinetron nekad yang dibuat berpanjang-panjang sampai jadi season 2 dan seterusnya. Contohnya, dulu pernah ada sinetron yang judulnya ‘Jalan Lain ke Sana’. Trus deh karena dianggap laku, biasa deh jadilah season 2 sinetron itu dengan judul ‘Jalan Lain ke Sana 2’. Dan almarhum Bokap gue dengan santai membaca judul tersebut jadi ‘Jalan Lain ke Sana-sana’ :D

SHOCKER: Pure Heavy Metal Horror!



Title:
Shocker

Director:
Wes Craven

Writer:
Wes Craven

Casts:
Michael Murphy, Peter Berg, Mitch Pileggi, Sam Scarber, Camille Cooper, Ted Raimi

Plot:
A murderous TV repairman, Horace Pinker (Mitch Pileggi) is killing people in a small town left, right and center. He eventually finds the home of Lt. Parker (Michael Murphy), who is investigating his crimes, and savagely murders Parker's wife, son and daughter. His other son, Jonathan (Peter Berg) has a strange connection to Pinker through his dreams, and he directs his father to Pinker's business, where a small group of officers enter. Pinker escapes in a horrific spree, killing four officers and then targeting Jonathan's girlfriend, Alison. Another dream leads Jonathan and his dad to a residence where they catch Pinker in in the act of kidnapping. Pinker is arrested after a fight with Jonathan and sentenced to die in the electric chair. When executed, Pinker - who supposedly had given his soul to the devil in exchange for the power to come back as an energy source - takes over people's bodies and continues committing murders, until Jonathan devises a plan to bring Pinker into the real world, and then cut off his power source

Note:
Belom lama ini gue dapet DVD salah satu film masa kecil gue. Ngga kecil-kecil amat sih, lebih kurangnya masa esempe lah. Gue sempet nonton film ini di bioskop dulu. Sambil jalan pulang sekolah, mampir bentar ke bioskop.

Waktu itu film ini tepat banget rilisnya pada masa musik Heavy Metal sedang dalam musimnya. Soundtrack-nya yang dipenuhi musik Heavy Metal dengan cerita horor gaya baru, film ini cukup menyita perhatian gue untuk beberapa waktu. Bahkan untuk musiknya cukup lama jadi referensi musikal gue.

Gue bilang cerita horornya gaya baru, karena mengganti mitos-mitos horor kuno dengan televisi sebagai sumber kekuatan jahat yang baru. Sekalipun gimmick-nya tetep mengacu kepada film-film horor lama, tapi sepertinya Wes Craven mau menyindir keberadaan televisi sebagai kekuatan yang lebih menakutkan dibandingkan Dracula.

Terselip juga rasa mistis dari Asia yang lebih tidak logis daripada horor Eropa/Amerika. Tapi film ini juga bisa dijadikan salah satu pengusung slasher horror yang cukup gory pada masa itu. Pertama kali nonton film ini, gue merasa ‘terjebak’ dalam dinding gelap bioskop. Gue harus liat film horor yang gory dalam gelap (sampe sekarang gue paling jarang nonton film horor di bioskop) dengan musik Heavy Metal yang juga menyeramkan!

Sekalipun menyeramkan, tapi ending film ini terasa agak konyol. Tapi secara keseluruhan gue ngga pernah menyesal menontonnya.

DEATH RACE: In Near Future of Speed and Action



Title:
Death Race

Director:
Paul W.S. Anderson

Writer:
Paul W.S. Anderson (screenplay)

Casts:
Jason Statham, Joan Allen, Ian McShane, Tyrese Gibson, Natalie Martinez, Max Ryan, Jacob Vargas

Plot:
Ex-con Jensen Ames is forced by the warden of a notorious prison to compete in our post-industrial world's most popular sport: a car race in which inmates must brutalize and kill one another on the road to victory.

Note:
Ngga tau kenapa, gue kepingin banget liat film ini. Mungkin karena gue pernah liat versi aslinya, Death Race 2000, berpuluh tahun yang lalu. Seperti ada rasa penasaran untuk liat seperti apa remake-nya. Dan waktu nonton film ini, ternyata bukan sepenuhnya remake tapi mungkin terinspirasi oleh Death Race 2000 yang rilis awal 70-an itu.

Secara umum, film ini enak ditonton. Kalo liat visualnya sepertinya film ini diangkat dari sebuah game. Gue ngga tau apakah memang game seperti ini pernah dibuat sebelumnya. Sekalipun ceritanya tentang kondisi masa depan, gue cukup bisa diyakinkan bahwa cerita semacam ini ngga ngarang-ngarang amat. Bisa aja nanti kejadian seperti di film ini. Mungkin ngga in near future. Mungkin di post apocalyptic future.

TENACIOUS D IN PICK OF DESTINY: Heavy Metal Sing A Long and Laugh Out Loud!!

Title:
Tenacious D in Pick of Destiny

Director:
Liam Lynch

Writers:
Jack Black, Kyle Gass

Casts:
Jack Black, Kyle Gass, JR Reed, Ronnie James Dio, Paul F. Tompkins, Troy Gentile, Amy Poehler, Tim Robbins, David Grohl, Ben Stiller

Plot:
This is the story of a friendship that changes the course of rock history forever, of the fateful collision of minds between JB and KG that led to the creation of the precedent-shattering band Tenacious D, and of the two heroes' quest to find the fabled Guitar Pick Of Destiny

Note:
Kadang-kadang gue tuh aneh, mau nonton film komedi aja kudu nyari mood yang pas. Sebenernya sih, mau nonton film apa pun gue lebih sering nyari mood yang pas. Seperti juga nonton film ini. Padahal gue punya DVD-nya udah lama banget. Dan lucunya gue lupa mood semacam apa yang bisa bikin gue kepingin nonton film ini :D
Awalnya gue kira bakal seperti film-film komedi Jack Black lainnya. Tapi setelah gue tonton, film ini jadi film cult buat gue. Beberapa unsur favorit gue ngumpul di film ini, di antaranya: musical, singing dialog dan heavy metal!! Kayaknya belom pernah liat film heavy metal musical yang selucu ini. Dari awal film ini komikal banget. Heavy Metal yang sedang turun pamor dibikin sebagai latar perjuangan prinsipil bagi pecinta fanatiknya dengan segala gimmick-nya, termasuk bersekutu dengan setan.
Bersekutu dengan setan?! Iya beneran ada difilm ini. Tapi jangan kuatir, justru malah setan yang jadi bulan-bulanan oleh duet Heavy Metal yang ngga ada keren-kerennya itu.
Tema memperjuangkan musik yang dicintainya selalu menjadi favorit gue. Tema semacam itu serasa dekat dengan musikalitas gue (jadi teringat beberapa film musik dan musical yang masih belom gue tonton). Apalagi di film ini disampaikan secara sangat menghibur dengan dilatari salah satu jenis musik yang ikut mewarnai masa pendewasaan gue.
Sepertinya kalo Bokap gue masih hidup bakalan terhibur juga dengan film ini.

FORBIDDEN KINGDOM: Chinese Heroes United



Title:
Forbidden Kingdom

Director:
Rob Minkoff

Writer:
John Fusco

Casts:
Jet Li, Michael Angarano, Jackie Chan, Yifei Liu, Collin Chou, Juana Collignon, Morgan Benoit, Bingbing Li

Plot:
An American teenager who is obsessed with Hong Kong cinema and kung-fu classics makes an extraordinary discovery in a Chinatown pawnshop: the legendary stick weapon of the Chinese sage and warrior, the Monkey King. With the lost relic in hand, the teenager unexpectedly finds himself traveling back to ancient China to join a crew of warriors from martial arts lore on a dangerous quest to free the imprisoned Monkey King.

Note:
Gue yang ngga pernah mau kejebak film yang dipenuhi bintang-bintang ternama, memang sejak awal ngga terlalu tertarik nonton film ini. Tapi akhirnya sambil nganggur (dan bingung mau nonton film apa!) gue tertarik juga liat film ini. Dan gue ngga menyesalinya :D

Termasuk film yang ringan dari segi cerita. Plotnya seperti film-film kungfu lainnya yang berlatarkan mustika atau benda-benda magis kungfu lainnya. Dengan imbuhan special effect ala Hollywood, film ini jadi indah secara visual.

Tapi yang paling menarik film jadi ajang kumpul-kumpul jagoan perfilman kungfu. Jackie Chan dan Jet Lee tentunya sudah sejak lama menjadi nama besar di genre action kungfu. Ditambah kehadiran Yuen Woo Ping yang sudah kawakan dalam fighting choreography.

Belum lagi, film ini seperti menjadi rangkuman film-film kungfu jadul. Hampir semua jurus-jurus kungfu yang pernah gue liat di film-film kungfu old school ditampilan di sini, termasuk jurus Dewa Mabok!

Buat gue yang paling menyenangkan adalah adegan pertarungan Jackie Chan versus Jet Lee. Sekalipun bukanlah sebuah pertarungan puncak, apalagi pertarungan hidup-mati, gue menikmati banget pertarungan Wong Fei Hung versus Wong Fei Hung. Tokoh legendaris China ini sewaktu muda diperankan oleh Jackie Chan dalam film Drunken Master dan dalam kurun waktu perjuangan melawan bangsa Eropa diperankan oleh Jet Lee dalam serial film Kungfu Master.

Gue nyaris ngga memedulikan cerita film ini karena asyik terbuai romantisme film-film kungfu old school.

BODY OF LIES: World Police: Behind the Scene



Title:
Body of Lies

Director:
Ridley Scott

Writers:
William Monahan (screenplay)
David Ignatius (novel)

Casts:
Leonardo DiCaprio, Russell Crowe, Mark Strong, Golshifteh Farahani, Oscar Isaac, Ali Suliman

Plot:
Roger Ferris (Leonardo DiCaprio) is a covert CIA operative working in Jordan searching for terrorists who have been bombing civilian targets. Ferris uncovers information on the Islamist mastermind Al-Saleem (Alon Aboutboul). He devises a plan to infiltrate Al-Saleem's terrorist network with the help of his boss back in Langley, Ed Hoffman (Russell Crowe). Ferris enlists the help of the Chief of Jordanian Intelligence, Hani Salaam (Mark Strong) on this operation, but he doesn't know how far he can trust him without putting his life in danger. The uneasy alliance leads to a cultural and moral clash between the men.

Note:
Udah lama juga ngga nonton di bioskop murah! Sambil nunggu waktu acara ngumpul-ngumpul ya sekalian aja nonton bioskop sebentaran.

Sejak liat trailernya, gue cukup tertarik nonton film ini. Dari trailernya sih keliatan kalo film ini tensi tinggi dan dilatari cerita spionase yang cukup seru. Sekalipun nonton dengan agak mendongak (gue paling benci duduk di posisi depan kalo di bioskop murah kayak gini) tapi gue masih cukup bisa menikmati tensi film ini.

Spionase di sini digambarkan cukup membumi, cukup dekat dengan kenyataan. Ngga ada agen rahasia yang perlente, sekalipun tetep canggung untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya; secara dia tinggi dan bule yang musti secara intens memata-matai di salah satu negara Arabia. Mampu berbahasa lokal dengan fasih pun ngga bikin dia jadi gampang melaksanakan tugasnya. Sang target utama tetep jauh lebih jago strategi dengan selusin kaki tangannya.

Sekalipun ngga melulu adegan aksi spionase, film ini tetep menjaga tensinya di beberapa adegan ‘drama’ dengan dialog-dialog ‘politis’nya

Asyik juga liat cara kerja mata-mata di film ini. Sebenernya sih seneng liat kerjaan komandannya yang kelewat nyantai ngurusin spionnya dan seenak perutnya ngasi komando. Sementara si mata-mata nemuin kondisi lapangan yang jauh banget dengan ‘template’ yang disiapin dari ‘kantor pusat’. Kondisi kayak gini jadi inget kerjaan gue sehari-hari :D

Karakter di film ini ngga digambarkan murni hitam dan putih. Nyaris semuanya dalam naungan karakter yang abu-abu. Komandan dan anak buahnya aja masing-masing punya kepentingan-kepentingan yang bertolak belakang dengan tugas mereka. Bantuan yang disediakan menurut ‘template’ kerja mereka pun tidak sesuai job desc ‘yang seharusnya’. Sampai-sampai gue berpikir, ini spionase ato politik?!

Tapi kalo diliat dari latar belakang cerita, akhirnya gue ngerti juga bahwa spionase Amerika di negara-negara Arab ngga lepas dari kepentingan politik (sekalipun ujung-ujungnya tetep kepentingan ekonomi) sehingga cara-cara spionasenya ngga lepas dari cara-cara politik juga; tidak peduli kawan ato lawan karena kepentingan (tujuan) yang lebih utama.

Namun dengan cantik, film ini juga menyampaikan pesan bahwa sekalipun mengutamakan kepentingan, pelakunya tetaplah manusia. Rasa dan hati nuraninya ngga gampang dimatikan begitu saja. Begitu juga dengan kemerdekaannya.

‘Template’ yang disiapkan dan sudah berhasil pada ‘kasus’ terorisme sebelumnya, ngga gampang bisa diterapkan untuk kasus-kasus sejenis. Teroris Arab boleh aja terlihat sama di mata Amerika, tapi penanganan teroris ngga bisa pukul rata.

29 September 2008

LASKAR PELANGI: Ketidak Adilan Indonesia



Judul:
Laskar Pelangi

Sutradara:
Riri Riza

Produser:
Mira Lesmana

Penulis:
Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana

Pemeran:
Lukman Sardi, Cut Mini Theo, Slamet Rahardjo Djarot, Mathias Muchus, Teuku Rifnu Wikana, Ario Bayu, Alex Komang, Jajang C Noer, Tora Sudiro, Robby Tumewu, Ikranegara, Rieke Diah Pitaloka, Zulfanny, Verrys Yamarno, Ferdian, Yogi Nugraha, M. Syukur Ramadan, Suhendri, Febriansyah, Jeffry Yanuar, Suharyadi Syah Ramadhan, Dewi Ratih Ayu Safitri, Marcella El Jolia Kondo, Levina

Musik:
Titi Syuman, Aksan Syuman

Distributor:
Miles Production dan Mizan Sinema


Cerita:
Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.


Catatan:
Saat mulai rame kabar-kabar tentang produksi film ini, saya masih belom baca novelnya. Malah saya lagi asyik nanya-nanya singkat soal musik film ini ke Aksan Syuman dalam masa promo film Karma. Akhirnya pada Ramadhan tahun ini, tuntas juga saya baca habis novel yang mendasari film ini.

Sejak saya selesai baca novelnya, saya justru banyak mikirin gimana caranya filmnya akan dibuat, terutama mengenai alur ceritanya. Dari tulisan dalam novel yang lebih mirip blog itu, tentunya penulis skenario filmnya bakal kesulitan menyusun tuturan cerita untuk filmnya. Belum lagi kompleksitas karakter-karakter utama yang minimal mengangkat 10 anak Laskar Pelangi. Tapi dari acara Kick Andy yang mengangkat tema tentang produksi film ini, saya jadi tahu seperti apa kira-kira cerita film ini. Dalam acara itu Andrea menyatakan sudah approved pada skenario yang disodorkan tim produksi film Laskar Pelangi (ditulis oleh Salman Aristo dan dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana). Dan Andrea juga menyatakan bahwa skenario tersebut masih menangkap spirit dari novelnya.

Dari situ saya berkesimpulan bahwa sudah bisa dipastikan bahwa akan terjadi beberapa perbedaan antara novel dengan filmnya, namun saya tidak kuatir karena skenario filmya sudah approved oleh penulis novelnya sendiri. Dan memang di setiap adaptasi sebuah novel menjadi film, adalah hal yang tidak bisa dihindari adalah terjadinya perbedaan dalam penuangan ke dalam dua media yang memang berbeda itu.

Film spesial seperti ini sudah semestinya saya tonton dengan cara yang special juga. Maka berangkatlah saya ke Blitz Megaplex untuk menontonnya! (makasih untuk Miles dan Blitz Megaplex atas ‘kerja sama’nya :D ) Dan yang menarik kali ini, saya menonton film ini bersama istri saya yang sama sekali belum membaca novel Laskar Pelangi. Jadi menarik karena dalam niatan menonton film ini, istri saya nyaris tidak memiliki ekspektasi apa pun. Sedangkan saya dengan agak susah payah menghilangkan ekspektasi karena sudah menyelesaikan membaca novelnya. Bahkan istri saya sempat bilang bahwa sebenarnya dia tidak terlalu tertarik untuk menyaksikan film yang mengangkat tema tentang anak-anak, apalagi kalo temanya hampir mirip dengan Denias. Padahal kami belum sempat menonton Denias.

Selesai film diputar dan ternyata istri saya bisa menikmati film ini secara utuh, meski di sana sini muncul pertanyaan seperti apa kalo di novelnya. Saya akui ada beberapa adegan yang cuma bisa dimengerti bagi mereka yang sudah membaca novelnya. Tapi secara umum film ini cukup bisa mengangkat spirit dari novelnya. Bahkan tema kesenjangan kesempatan pendidikan dan kesenjangan sosial lebih dipertajam dalam film ini. Fokus penokohan lebih diutamakan pada karakter Bu Mus dan Pak Harfan. Dan tema kesenjangan lebih diangkat melalui dialog tokoh-tokoh utama dengan tokoh-tokoh rekaan ‘tambahan’ seperti Pak Bakri, Pak Zul dan Pak Mahmud.

Gaya bercerita yang berbunga-bunga di novel diadaptasi sedemikian rupa untuk dibumikan di dalam film. Kita tetap dapat melihat tokoh Lintang yang cerdas namun tetap dekat dengan kewajaran keseharian. Cerita dari novel disusun menjadi runtut, lebih lugas. Seperti adegan Lintang pamit yang dibuat dengan pas dan tidak terjebak menjadi melarat-larat dalam kesedihan. Dalam hal tema kesenjangan, terasa sekali bahwa Salman Aristo mengeluarkan ‘keahlian’nya dalam penulisan dialog-dialog yang cukup kena dengan kritik-kritik sosialnya.

Bohong kalo saya mengaku tidak sekalipun membandingkan novel dengan filmnya. Jujur aja, saya deg-degan menantikan beberapa visualisasi adegan dari cerita yang tersampaikan dengan indah dalam novelnya. Dalam hal visualisasi adegan menurut saya tidak mengecewakan, terutama untuk adegan-adegan ‘penting’ seperti tarian di karnaval, kuku cantik di toko, pertemuan Ikal dengan Aling, Ikal patah hati dan pamitnya Lintang. Bahkan saya memuji adegan kuku cantik dan Ikal yang patah hati bisa divisualkan dengan pas, karena saya menilai adegan ini pasti sulit sekali dituangkan ke dalam film. Dalam novelnya, Andrea mampu melukiskannya dengan persis seperti perasaan anak kecil yang baru mengenal cinta. Dan Riri cukup pas menuangkannya ke dalam adegan film.

Dari obrolan singkat dengan Aksan Syuman beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengharapkan musik film ini menjadi megah, indah dan mendayu-dayu melayu. Tapi ternyata malah musik film ini terasa melebur dengan gambar-gambar indahnya. Adegan dan musiknya menjadi seimbang.

Mungkin membumikan novel menjadi film Laskar Pelangi bisa mengecewakan bagi beberapa penggemar fanatik novelnya. Tapi apakah seorang sutradara dan penulis skenario boleh begitu saja dibatasi visi dan kreativitasnya? Dan dengan gampang melupakan semangat dari produksi film ini dalam memberdayakan aktor-aktor lokal dari Belitong?

Kalo saja saya boleh berpendapat, mungkin sutradara yang pas untuk menuangkan novel Laskar Pelangi ke dalam film adalah seorang Julie Taymor yang dengan sukses pernah membesut Across the Universe dengan segala artisitik visualnya yang memang selalu menjadi ciri khasnya. Tapi serta merta saya menjadi tidak adil dengan membandingkan seorang Riri Riza, yang selalu bersemangat mengangkat keIndonesiaan dalam film-filmnya, dengan Julie Taymor yang kiprahnya sudah diakui secara internasional.

15 September 2008

HARRY POTTER DAN RELIKUI KEMATIAN: Habis Gelap Terbitlah Terang

Judul:
Harry Potter dan Relikui Kematian

Penulis:
J. K. Rowling

Judul asli:
Harry Potter and Deathly Hallows

Penerjemah:
Listiana Srisanti

Ilustrator:
Mary GrandPré (AS, RI)

Negara:
Inggris Raya

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Serial:
Harry Potter

Genre:
Fiksi, Fantasi

Penerbit:
Gramedia (Indonesia)

Tanggal terbit:
3 Januari 2008 (hardcover), 26 Januari 2006 (softcover)

Halaman:
759 (AS)


Catatan:
Setelah kelelahan membaca seri sebelumnya, membaca seri yang ketujuh ini juga sempat membuat kening berkerut tapi tetep penasaran. Jadi saya baca buku ini terus melaju aja, menggempur maju! Niat saya cuma ingin menuntaskan petualangan Harry Potter yang pernah ‘menjebak’ saya beberapa tahun yang lalu. Banyak yang bilang kalo bacaan Harry Potter sudah tidak pantas, atau bahkan memang tidak pantas saya baca, jika dilihat dari golongan umur dan sisi mistis/sihirnya. Tapi anggapan semacam itu tidak saya hiraukan.

Saya tidak percaya sihir, tapi saya mengagumi Ms. Rowling sepenuhnya. Bagaimana tidak, saya selalu penasaran bagaimana cerita epik anak-anak terbesar yang pernah ada akan berakhir? Dan saya yakin bahwa Ms. Rowling sudah memiliki keseluruhan cerita epik ini di dalam kepalanya sejak pertama kali dia menuliskan bab pertama buku Harry Potter and The Sorcerer Stone.

Dalam buku ketujuhnya, terbukti sekali lagi bahwa ketujuh buku ini adalah satu kesatuan yang utuh, suatu maxi seri sebuah cerita tentang anak yang terpilih yang terentang sepanjang tujuh tahun kehidupan masa remajanya. Keliatannya tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, tapi menceritakan masa tujuh tahun ke dalam cerita bukanlah hal yang mudah. Apalagi ini adalah cerita berbalutkan fantasi sihir.

Kegelapan yang terus melingkupi cerita sampai ke penuntasannya (yang juga berdarah-darah) semata-mata sebagai sarana untuk penyelesaian cerita yang sudah dijembatani sebelumnya dengan seri keenam dengan amat sangat kelam.

Secara linier, kita semua bisa melihat bahwa cerita ini sesederhana yang baik mengatasi segala macam kejahatan. Namun pencapaian kepada kebenaran dan cahaya keselamatan dicapai dengan cara yang cenderung melingkar dan berliku. Saya kira pembaca dewasa dapat lebih mendalami moral cerita seri ketujuh ini dibanding pembaca anak-anak. Cerita jadi semakin seru dan semakin menawan. Sekalipun tentang dunia sihir anak-anak, ceritanya dibuat sedekat mungkin dengan kenyataan, kenyataan yang manusiawi. Tidak semua yang baik harus selamat. Dan juga ada beberapa karakter abu-abu yang ternyata berperan untuk sisi yang putih.

Buku yang tebal ini penuh dengan cerita yang intense dan memuncak pada adegan pertempuran besar nan heroik. Kekelaman yang melingkupi sejak awal ditebus untuk mencapai terang di Stasiun King Cross pada era yang baru.

LASKAR PELANGI: Inspiratif Puitis

Judul:
Laskar Pelangi

Penulis:
Andrea Hirata

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Genre:
Roman

Penerbit:
Bentang Pustaka, Yogyakarta 2005

Halaman:
XI, 529 halaman

ISBN:
ISBN 979-3062-79-7


Catatan:
Begitu buku ini dibahas di acara Kick Andy, gue baru ngeh bahwa sebenernya gue udah pernah ‘kenal’ sama yang namanya Andrea Hirata. Iya bener. Jauh-jauh hari sebelum Kick Andy memwawancaranya, profil Andrea Hirata pernah ditulis secara berseri di tabloid Nova. Tapi waktu itu gue ngga hirau, mungkin karena adanya di tabloid ‘ibu-ibu’. Malah waktu itu gue mengira Bung Andrea adalah seorang perempuan perkasa karena sekilas aja liat fotonya dan sama sekali ngga baca tulisan tentang profilnya. Malunya saya! :D

Abis nonton Kick Andy langsung deh tertarik beli bukunya. Katanya kan tetralogi, ya mulai beli buku pertamanya dulu deh. Dan emang kebeneran waktu itu lagi punya uang agak lebih, dan gue emang kalo pas punya uang lebih pasti nyisihin untuk beli buku, minimal 1 buku. Berhubung waktu itu masih banyak buku yang belum terbaca (sampe sekarang juga masih sih) jadinya ngga langsung dibaca deh, cuma diliat-liat dikit-dikit.

Dari baca-baca sekilas, jujur aja sempet ngga tertarik karena gaya bahasanya. Menurut gue cenderung ajaib dan nyastranya ngga nendang. Bukannya sombong, tapi gue suka baca karya-karya Kahlil Gibran dan juga suka baca karya-karya ‘revolusioner’nya Ayu Utami. Dan dari sekilas, karya Andrea Hirata ini ngga ada di antara ke duanya. Kayaknya masih di bawah deh.

Mulai tertarik mulai baca novel roman ini setelah gue tau kalo bakal difilmkan. Dan ngga tanggung-tanggung filmnya bakal dibesut Riri Riza, diproduseri Mira Lesmana dan didukung musik score karya Sri Aksana Sjuman. Dan Bung Aksan sampai bela-belain bikin instrumen musik khusus supaya bisa dapetin nuansa Melayu Belitongnya. Dari hasil ngobrol-ngobrol ringan dengan Bung Aksan, gue dapet gambaran betapa susahnya memfilmkan Laskar Pelangi. Nah sebagus apa sih bukunya?

Awal Ramadhan sepertinya waktu yang tepat buat gue untuk membaca Laskar Pelangi. Selain karena ‘utang’ gue baca Harry Potter sudah tuntas, mood membaca novel masih bagus untuk nerusin baca novel lainnya. Dan Laskar Pelangi adalah model tulisan novel yang baru untuk gue baca. Seperti yang gue duga sebelumnya, gaya tulisannya sempet bikin gue ngernyitkan dahi; ini mo nyastra ato mo plintiran sih?! Tapi ternyata yang bikin gue kagum, sekalipun sambil mengernyitkan dahi dan udah agak-agak mengantuk waktu itu, gue sempet baca sampe habis bab kelima!
Akhirnya gue hanyut juga terbawa cerita Laskar Pelangi sampai selesai. Memang Bung Andrea Hirata menuliskan tentang mimpi, cita-cita dan semangat. Tapi dari cara penyampaiannya yang terbang mengawang berbunga-bunga (ngingetin gue dengan cara bercerita si karakter Ed Bloom di film Big Fish) malah bisa memancing gue untuk melihat sisi-sisi lain dari cerita utamanya. Misalnya gue jadi tau betapa ‘jahat’nya rezim orde baru dalam mengeksploitasi timah di Pulai Belitong (kita kenal sebagai Pulau Belitung, bagian dari Propinsi Babel), tidak cuma dalam eksploitasi timah tapi juga menciptakan struktur masyarakat berjenjang yang cenderung menjajah penduduk asli Belitong.

Dari sisi pembangunan bangsa, buku ini menyampaikan bahwa sampai hari ini masih saja terjadi ketidak merataan kesempatan berpendidikan yang salah satunya disebabkan ketidak merataan pembangunan infra struktur. Ibu Muslimah kebetulan adalah orang asli Belitong yang mau mengabdikan seluruh usianya untuk kemajuan pendidikan di Kampong Gantong. Dari sini bisa dibayangkan seberapa betahnya seorang guru dari Jawa ditugaskan untuk mengajar di pedalaman Papua sana.

Cerita Laskar Pelangi tidak hanya sebatas luas Belitong tapi dengan puitis juga memotret kondisi pedalaman Indonesia.

08 September 2008

THE TATTOOIST: Horror from Other Side of Our World



Title:
The Tattooist

Director:
Peter Burger

Writers:
Matthew Grainger & Jonathan King

Casts:
Jason Behr, Mia Blake, David Fane, Robbie Magasiva, Caroline Cheong, Michael Hurst, Nathaniel Lees

Plot:
American tattoo artist Jake Sawyer (Jason Behr) wanders the world, exploring and exploiting ethnic themes in his tattoo designs. At a tattoo expo in Singapore, he gets his first glimpse at the exotic world of traditional Samoan tattoo (tatau), and, in a thoughtless act, unwittingly unleashes a powerful angry spirit. In his devastating journey into Pacific mysticism, Jake must find a way to save his new love, Sina (Mia Blake) and recover his own soul.

Note:
Iseng-iseng nyobain liat film ini. Apalagi udah ‘ngintip’ review-nya di imdb.com. Adalah sedikit rasa penasaran karena dibilang film ini ngga seperti film-film horror yang pernah ada di Hollywood. Dan bener aja beda, karena secara cerita dan produksi, film ini dibuat oleh produksi New Zealand. Kultur tattoo Suku Samoa coba diangkat sebagai latar cerita di film ini.

Cerita cukup mengalir dengan baik. Dan film ini menyuguhkan kisah horor yang ngga memakai formula thriller apalagi slasher. Yang biasa liat horor made in Hollywood kayaknya bakalan kurang nyaman nonton film ini. Tapi buat yang pingin tau horor yang beda dari New Zealand, dijamin bakal ngikutin sampe habis (kayak gue :D). Ngga hanya dengan horor made in Hollywood, film ini juga beda formula dengan horor Thailand dan horor Asia umumnya. Tapi gue ngerasa lebih ada kedekatan tema dengan horor Asia, mungkin karena New Zealand itu berada ‘cuma’ di Samudera Pasifik yang ngga jauh-jauh amat dari Asia, apalagi Asia Tenggara.

Emang enak sih kalo bisa nonton suatu film dengan meminimalisir ekspektasi kita kepada film itu.

TARIX JABRIX: The Changcuters pada Masanya



Judul:
Tarix Jabrix

Sutradara:
Iqbal Rais

Penulis:
Hilman Hariwijaya & Sofyan Jambul

Pemeran:
Tria Changcut, Erick Changcut, Qibil Changcut, Alda Changcut, Dipa Changcut, Carissa Putri, Francine Roosenda

Cerita:
Sahibul hikayat di Bandung ada seorang pemuda yang bangga dipanggil ‘Cacing’ ingin sekali bergaya bersama gank motornya ‘Tarix Jabrix’ sekaligus ingin mengubah image buruk gank motor menjadi kelompok yang tertib, sopan dan hormat kepada orang tua! Disela-sela perjuangannya mengusung gank motor santunnya, Cacing juga terlibat dalam romansa dengan seorang gadis cantik di sekolahnya, yang sialnya adalah adik dari dedengkot gank motor ‘Smokers’yang terkemuka di Bandung! Akankah Tarix Jabrix menjadi culun berhadapan dengan Smokers?

Catatan:
Nonton film ini jadi teringat WARKOP DKI (d/h WARKOP Prambors) yang awalnya terkenal karena acara bodor di radio dan karena ketenarannya sampai dibikinkan film (bahkan menjadi serial). Formula semacam ini juga diikuti oleh beberapa kumpulan bodor lainnya, seperti Srimulat, Pancaran Sinar Petromax, Bagito, Lenong Rumpi dan lain sebagainya.

The Changcuters bisa dikategorikan ke dalam kelompok bodor sekalipun mereka aslinya adalah musisi (tapi musisi dengan semangat bebodoran). Entah termasuk strategi pemasaran ato memang memanfaatkan ketenaran grup musik ini, film ini sepertinya mendadak dibikin. Kalo ‘membaca’ riwayat grup musik ini, bisa jadi film ini ngga mendadak dibikin mengekor ketenaran The Changcuters. Karena sebenernya The Changcuters sudah terkenal di scene musik anak muda sebagai band Indie sebelum albumnya dirilis ulang oleh major label.

Kalo suka ato bahkan ngefans dengan The Changcuters pastinya bakalan seru nonton Tarix Jabrix. Dari sisi akting boleh juga koq. Changcuters cukup bisa mentransfer gaya bodor mereka dari musisi menjadi anggota gank motor yang tetep hormat pada orang tua. Ceritanya juga cukup enak mengalir sekalipun gimmick gaya Bandung tetep kental. Musik di film ini pun banyak diambil dari albumnya The Changcuters. Film yang bercerita secara flash back ini diselipkan banyak penampilan cameo yang beberapa di antaranya sebagai kejutan. Bahkan ada penampilan cameo yang namanya ‘dipelintir’!

Sekalipun ada beberapa gimmick dan joke yang ngga kena di gue tapi film ini lumayan segar di antara film-film komedi lain yang ngga kreatif. Enak untuk hiburan. Dan untuk The Changcuters, film ini bisa jadi memorabilia. Belom tentu akan ada film lain lagi yang dibintangi The Changcuters.

WALL.E: Kalo Bukan Kite Nyang Ngurusin Bumi Kite, Siape Lagi?



Title:
WALL•E

Director:
Andrew Stanton

Writers:
Andrew Stanton & Pete Docter

Voice Casts:
Ben Burtt, Elissa Knight, Jeff Garlin, Fred Willard, MacInTalk, John Ratzenberger, Kathy Najimy, Sigourney Weaver

Plot:
In a distant, but not so unrealistic future, where mankind has abandoned earth because it has become covered with trash from products sold by the powerful multi-national Buy N Large corporation, WALL-E, a garbage collecting robot has been left to clean up the mess. Mesmerized with trinkets of earth's history and show tunes, WALL-E is alone on Earth except for a sprightly pet cockroach. One day, Eve, a sleek (and dangerous) reconnaissance robot, is sent to earth to find proof that life is once again sustainable. WALL-E falls in love with Eve. WALL-E rescues Eve from a dust storm and shows her a living plant he found amongst the rubble. Consistent with her "directive" Eve takes the plant and automatically enters a deactivated state except for a blinking green beacon. WALL-E, doesn't understand what has happened to his new friend, but true to his love, he protects her from wind, rain, and lightening, even as she is unresponsive. One day a massive ship comes to reclaim Eve, but WALL-E, out of love or loneliness hitches a ride on the outside of the ship to rescue Eve. The ship arrives back at a large space cruise ship, which is carrying all of the humans who evacuated earth 700 years earlier. The people of earth ride around this space resort on hovering chairs which give them a constant feed of TV and video chatting. They drink all of their meals through a straw out of laziness and/or bone loss, and are all so fat that they can barely move. When the auto-pilot computer, acting on hastily given instructions sent many centuries before, tries to prevent the people of earth from returning, by stealing the plant, WALL-E, Eve, the portly captain, and a band of broken robots stage a mutiny

Note:
Kalo aja ngga diajak gathering oleh anak-anak Forum Movie Kaskus, kayaknya gue ngga bakalan nonton film ini pada waktu-waktu awal pemutarannya di Indonesia. Jaman gue nguber-nguber film tayang premiere di bioskop udah lewat. Sekalipun tetep pingin nonton film asyik di bioskop, tapi gue udah ngga suka lagi berlama-lama antri tiket untuk film-film yang baru premiere. Tapi untuk film ini boleh juga sih, apalagi sekalian gathering rame-rame. Mungkin lain waktu boleh juga gathering Forum Movie Kaskus di acara pemutaran film-film festival ato film indie.

Kalo film ini sih kayaknya ngga perlu dibahas panjang-panjang deh. Secara pribadi, film-film animasi bikinan Pixar sejauh ini ngga pernah mengecewakan gue. Tapi secuil ekspektasi gue ada yang salah untuk film ini. Kalo dipikir lagi sih ngga apa-apa juga, karena adegan-adegan di Axiom menjadikan film ini bisa diterima untuk kalangan yang lebih luas. Dan dari ‘penjelasan’ di situlah akhirnya jadi jelas bahwa Planet Bumi ini memang diciptakan untuk manusia, bukan untuk Wall.E! Seburuk apa pun kondisi Planet Bumi ini, manusia harus bertanggung jawab dan harus terus mengusahakan yang terbaik untuk perbaikan tempat tinggalnya.

02 September 2008

THE DARK KNIGHT: Fight for Humanity: Insanity versus Insanity



Title:
The Dark Knight (2008)

Director:
Christopher Nolan

Writers:
Jonathan Nolan, Christopher Nolan

Casts:
Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Michael Caine, Maggie Gyllenhaal, Gary Oldman, Morgan Freeman, Cillian Murphy, Chin Han, Nestor Carbonell, Eric Roberts

Plot:
Batman raises the stakes in his war on crime. With the help of Lieutenant Jim Gordon and District Attorney Harvey Dent, Batman sets out to dismantle the remaining criminal organizations that plague the city streets. The partnership proves to be effective, but they soon find themselves prey to a reign of chaos unleashed by a rising criminal mastermind known to the terrified citizens of Gotham as The Joker.

Note:
Ada yang pernah nonton langsung konser musik grup/penyanyi idolanya?? Nonton langsung liat dari deket idolanya di panggung?? Terasa amat sangat euphoria?! Seperti itu kira-kira perasaan gue waktu nonton film ini.

The Dark Knight emang gue tunggu-tunggu supaya bisa gue tonton di layar lebar. Sekalipun ngga sempet nonton premiere-nya di Indonesia, tapi thanks to Blitz Megaplex yang tetep bisa kasi experience nonton layar lebar yang asyik sekalipun sudah hampir lewat masa tayangnya di Jakarta.

Sejak menit pertama film ini dimulai, perasaan gue ngga brenti diaduk-aduk cerita dan adegan-adegannya. Mulut gue terasa menganga karena kagum. Tapi kepala gue tetep berpikir. Dan pikiran yang langsung terlintas adalah bahwa film ini bukan film anak-anak! Film ini juga memanjakan para pecinta komik Batman. Dan yang perlu dicatat di sini adalah Christopher Nolan membuat film ini dengan rasa senyata-nyatanya. Gue dibikin percaya bahwa di dunia ini memang ada karakter jahat seperti Joker yang cuma mau bersenang-senang dengan kejahatannya tanpa ingin kemakmuran apa pun, dan cuma punya tujuan satu; membunuh Batman!!

Joker menjadi karakter psycho yang absolut di tangan almarhum Heath Ledger. Keseluruhan aspek karakter Joker dimainkan dengan sempurna. Gue sampe ngga mengenali bahwa Joker yang ada di layar film itu diperankan oleh Mr. Ledger, yg biasanya gue ngga suka aktingnya. Biasanya dalam berdialog, Ledger cenderung ngga jelas dan ngga pernah terlihat membuka lebar mulutnya untuk berartikulasi. Tapi kali ini gue ngga lihat Ledger yang itu!! Temen gue ada yang bilang kalo aja Ledger dari dulu bisa berperan seperti yang dilakukan sebagai Joker, mungkin udah dari dulu dapet Oscar! Rasanya ngga apa-apa juga Ledger meninggal dunia. Dia ibarat meninggal di panggung, meninggal dalam puncak performanya. Ledger jadi tak tergantikan. Instant legend!!

Perseteruan ‘abadi’ Joker vs Batman divisualkan dengan keren. Batman kali ini bener-bener diadu frontal dengan Joker. Adegan Batman head to head dengan Joker yang tergantung terbalik menyampaikan simbolisasi perseteruan abadi kedua kutub ekstrim kewarasan. Batman dalam ‘kegilaannya’ berusaha sekuat tenaga dan dengan segala cara untuk mengalahkan kegilaan Joker.

Kalo Dark Knight terasa nyata, bukankah sebenernya comic diciptakan sebagai ‘parodi’ kepada dunia nyata?! Rasanya ngga salah kalo Christopher Nolan bikin film ini jadi senyata-nyatanya. Batman begitu membumi dan manusiawi. Tapi juga terasa bahwa mungkin saja dunia sekarang ini bener-bener butuh sosok Batman, bukan sebagai pahlawan (hero) tapi lebih sebagai pejuang ksatria (knight) yang terus-menerus berjuang tanpa putus demi kebenaran. Persis seperti apa yang Gordon bilang kepada anak laki-lakinya.

Dalam keterpukauan gue atas Dark Knight, ada juga hal yang bikin gue terpukau; ada mahkluk cantik duduk selang 2 seat dari gue. Waktu itu theater tidak penuh, jadi sekalipun selang 2 seat gue bisa liat dengan jelas kecantikan mahkluk itu. Sebenernya sih perempuan cantik sih banyak (secara istri gue juga cantik). Yang menarik di sini, mahkluk cantik itu nonton Dark Knight sendirian!!! Apa ‘kehebatan’ Dark Knight sehingga bisa bikin mahkluk secantik itu rela nonton sendirian?? Faktor kegantengan Christian Bale kah?? Ato memang mahkluk cantik itu begitu hebatnya dalam menikmati suatu film seperti Dark Knight sehingga mampu dan mau nonton sendirian di bioskop?? Seinget gue sih emang sempet liat perempuan itu di lobby dan keliatannya emang sendirian. Kalo aja waktu itu gue sendirian ..........

28 August 2008

CLOVERFIELD: Great Idea meets Great Promo



Title:
Cloverfield (2008)

Director:
Matt Reeves

Writer:
Drew Goddard

Casts:
Lizzy Caplan, Jessica Lucas, T.J. Miller, Michael Stahl-David, Mike Vogel, Odette Yustman

Plot:
During a surprise leaving party, the lights go out and the ground begins to shake. With explosions happening everywhere, the party-goers decide to leave the apartment. Accompanied by a hand-held video camera, Hud manages to capture on film the terrifying incidents that occur.

Note:
Film yang jadi trendsetter tahun 2008 ini emang sudah sejak lama memulai ‘promosi’nya secara gencar tapi tetep misterius. Tapi menilik nama JJ Abrams sebagai produsernya, gue ngga langsung tertarik mengingat gue ngga terlalu suka dengan style-nya di serial Lost dan film Mission Impossible 3 (gue belom nonton serial Alias). Saat sudah mulai ‘ketahuan’ cara visualisasi film ini yang beda, jujur aja sempet juga gue tertarik untuk segera nonton Cloverfield. Tapi akhirnya gue pikir lagi bahwa visualisasi kan ‘cuma’ salah satu dari banyak aspek dari sebuah film. Dan gue putuskan untuk tidak buru-buru nonton film ini.

Sampai akhirnya gue berkesempatan nonton film ini dalam format DVD di rumah. Begitu film ini mulai, gue berkesimpulan bahwa lebih pas nonton film ini di rumah dengan luas layar televisi secukupnya saja. Hal ini terkait dengan ‘tema’ film Cloverfield. Ngga kebayang betapa pusingnya nonton film ini di layar lebar.

Cloverfield cukup bisa bikin gue untuk tetep terus ngikutin sampe film ini selesai. Mungkin juga karena gue udah biasa betah nonton film-film dokumenter. Tapi gue mencatat beberapa dramatisasi cerita yang bikin film ini jadi ngga selaras dengan ‘tema’nya. Film ini jadi terasa ‘unreal’. Nah rasa ini langsung ngingetin gue dengan serial Lost yang menurut gue terlalu didramatisir. Mirip banget rasanya.

Dari sisi cerita, film ini ngga terlalu istimewa buat gue. Tapi untuk visualisasinya dan juga cara promosinya, gue salut banget!!! Sukses jadi trendsetter tahun 2008.

RED CLIFF: Waiting for The Greatest Battle Ever Happened on Earth



Title:
Chi bi (2008)
a.k.a Red Cliff

Director:
John Woo

Writers:
Khan Chan
Cheng Kuo

Casts:
Chen Chang, Yong Hou, Jun Hu, Takeshi Kaneshiro, Tony Leung Chiu Wai, Zhou Yu, Chiling Lin, Shido Nakamura

Plot:
In 208 A.D., in the final days of the Han Dynasty, shrewd Prime Minster Cao Cao convinced the fickle Emperor Han the only way to unite all of China was to declare war on the kingdoms of Xu in the west and East Wu in the south. Thus began a military campaign of unprecedented scale, led by the Prime Minister, himself. Left with no other hope for survival, the kingdoms of Xu and East Wu formed an unlikely alliance. Numerous battles of strength and wit ensued, both on land and on water, eventually culminating in the battle of Red Cliff. During the battle, two thousand ships were burned, and the course of Chinese history was changed forever.

Note:
Duh ni film kenapa sih ngga diputer di Blitz juga?? Gue jadi nguber-nguber deh ke 21. Untung ajah masih keburu, sekalipun nemenin temen pacaran :D Masih dapet di salah satu bioskop yg bagus lah.

Sekalipun terbagi dalam 2 bagian (kayak Kill Bill) tapi part 1 ini asyik banget. Sekalipun asyik, film ini terasa segmented karena penontonnya wajib kenal dengan background cerita Three Kingdoms. Cerita ini adalah sejarah China yang melegenda. Buat yang suka sejarah (dan gamers) biasanya kenal dengan cerita ini. Tapi buat awam (yang rata-rata cewek) bakal bosen nonton film ini. Kalo warga China dan Hong Kong sih ngga bakal masalah dengan backround cerita film ini. Tapi bayangkan kalo mereka nonton film tentang Perang Diponegoro, kayaknya bakal sama seperti penonton awam Red Cliff.

Gue bisa bilang film ini karena gue cukup kenal dengan Three Kingdoms (sekalipun baru tau ada perang Red Cliff di film ini) tapi buat yang awam sama sekali bakal ketiduran karena bosen seperti ceweknya temen gue.

Tapi bisa juga kali ya menikmati film ini kalo kita mencoba membebaskan kepala dan ekspektasi atas film ini. Karena cerita film ini sih cukup fokus menceritakan pertempuran-pertempuran awal sebelum Battle of Red Cliff dan obrolan strategi-strateginya. Pengenalan karakter-karakter legend-nya juga keren-keren. Adegan pertempurannya megah sekaligus canggih. Visualisasi dari strategi perangnya dapet banget. Gaya kolosal pertempurannya bisa dibilang penyempurnaan dari adegan pertempuran kolosal di film-film perang sebelumnya. Thanks to Braveheart yang udah bikin adegan pertempuran realis sebelumnya.

Sekalipun kolosal, perlu dicatat bahwa film ini adalah film John Woo yang paling ‘halus’. Buat penyuka film-film besutan John Woo tentunya kenal dengan ‘trade mark’-nya yang keras dan cenderung kasar. Inget aja A Better Tomorrow Saga yang keras dan brutal. Kalo kesimpulan gue sih, John Woo ngga ‘main kasar’ di Red Cliff karena mungkin dia menganggap Three Kingdom terlalu agung untuk divisualkan dengan keras.

Dari awal sampai akhirnya, film ini dihiasi cast dengan nama-nama besar dan terkenal. Dari sisi penyampaian karakter dan aktingnya sih cukup enak. Cuma kalo diliat-liat lagi karakter yang ditampilkan masih sebatas cocok dengan pemerannya. Misalnya Takeshi Kaneshiro memang pantas memerankan Zhuge Liang tapi masih belum lepas dari pesona pribadi Takeshi sendiri. Enak banget liat Takeshi Kaneshiro jadi ahli strategi dan aktor intelektual di sini tapi masih sebatas dalam ‘versi’nya sendiri.

Terlepas dari apa pun kelebihan dan kekurangan yang ada, film ini cukup sukses menggiring gue untuk menunggu kelanjutannya; pertempuran terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia!

THE HAPPENING: Shyamalan’s ‘Personal’ Movie



Title:
The Happening (2008)

Director:
M. Night Shyamalan

Writer:
M. Night Shyamalan

Casts:
Mark Wahlberg, Zooey Deschanel, John Leguizamo, Ashlyn Sanchez, Betty Buckley, Spencer Breslin

Plot:
Serangan mendadak terhadap warga Amerika Serikat di negaranya sendiri. Korban tewas berjatuhan nyaris serentak. Serangan pun meluas sejak dimulai dari area pantai Timur Amerika. Teroris kah?

Note:
Film ini bener-bener personal banget. Keliatan banget kalo Shyamalan sengaja bikin film ini dengan cara yang beda dengan film-filmnya sebelum ini. Sekalipun beda, tapi khasnya ngga ilang. Dia tetep jadi cameo di film ini. Ada yang tau dia jadi cameo di mana dan jadi siapa?? :D

Ketegangan yang dibangun sih keren juga, sekalipun beda dengan yang biasa dibikin Shyamalan sebelum ini. Kali ini dia bikin beda lengkap dengan bumbu gore-nya.

Sisi Asia Shyamalan juga muncul cukup jelas. Rasa kebersamaan para karakter di film ini berasa Asia banget.

Kalo dari sisi film sih boleh aja dibilang jelek, tapi kalo dari sisi tema sebenernya cukup mengerikan. Siapa tau kan hal ini bisa beneran terjadi?!

BE KIND REWIND: Our Beloved Movies



Title:
Be Kind Rewind (2008)

Director:
Michel Gondry

Writer:
Michel Gondry

Casts:
Jack Black, Mos Def, Danny Glover, Mia Farrow, Melonie Diaz

Plot:
A small VHS only video store faces foreclosure in a poor community. While watching the store for the owner, a blundering employee's friend accidentally erases all of the tapes. In order to keep their blunder from becoming apparent, the duo of Mos Def and Jack Black begin remaking the films themselves using homemade special effects and outdated filming techniques.

Note:
Awalnya gue tertarik karena ada adegan mereka ‘sweded’ film-film yang terhapus di rental VHS-nya. Eh ternyata ide itu ngga terlalu orisinal. Ngga apa-apa juga sih karena adegan sweded itu banyak sintingnya juga sih.

Perjuangan sweded mereka itu yang perlu ditiru semangatnya untuk semua penggemar film khususnya. Sekalipun dengan peralatan seadanya, mereka niat banget bikin sweded-nya. Cukup mengharukan. Semangat mencintai disimbolkan lewat film. Cinta pada film dan yang paling keren cinta pada kota dan icon-nya.

Gue bilang ini filmnya Michel Gondry yang paling ringan dengan ending yang ‘hollywood’ tapi masih sedikit ada touch Mr. Gondry-nya. Secara keseluruhan enak ditonton sampai selesai. Gue yang tadinya cuma liat sekelebatan karena yang nonton istri gue di DVD, akhirnya bisa ikutan sampe selesai

JUMPER: Made Me Jump to Another Movie Instead



Title:
Jumper (2008)

Director:
Doug Liman

Writers:
David S. Goyer and Jim Uhls

Casts:
Hayden Christensen, Jamie Bell, Rachel Bilson, Diane Lane, Samuel L. Jackson

Plot:
David Rice is a high school student in Ann Arbor, abandoned by his mother at five, enamored with Millie, a fellow student, and picked on by at least one classmate. On a winter's day, while about to drown, he discovers he can transport himself instantaneously to anyplace on earth. He leaves town, goes to New York City, robs a bank vault, and comes to the attention of a shadowy group of government hunters. Eight years later, the hunters, led by the murderous Roland, get a fix on David. He heads home, searches out Millie, invites her to travel with him, and only later realizes that Roland and his crew are seriously deadly. Is everyone close to David in danger?

Note:
Ngga asyik banget deh nonton film ini. Kalo dari special fx-nya sih boleh lah. Tapi secara keseluruhan ngga asyik. Ato emang mood gue ngga pas ya waktu nonton ini.
Buat hiburan cuma gitu-gitu aja. Dari sisi cerita juga ngga nendang. Cast-nya ngga ada yang asyik. Sampe Samuel L Jackson ngga berasa apa-apa deh buat gue.
Padahal director dan writer-nya kelas yahud punya loh. Sayang deh punya resources bagus tapi ngga optimal. Ato emang bukan project utama ya?! Kan ada tuh sekedar proyek bikin film aja sekedar menuhin budget dan ‘advice’ dari produsernya. Tapi masa iya sih Hollywood tega bikin sampe kayak gitu?!

Ah ya gitu lah. Kecewa sih enggak, tapi lebih ke menyayangkan kenapa ngga dibikin lebih matang

BALLS OF FURY: Having Fun with Absurdity



Title:
Balls of Fury (2007)

Director:
Robert Ben Garant

Writers:
Thomas Lennon
Robert Ben Garant

Casts:
Dan Fogler, Christopher Walken, George Lopez, Maggie Q, James Hong, Terry Crews, Robert Patrick, Diedrich Bader, Aisha Tyler, Thomas Lennon, Cary-Hiroyuki Tagawa, Brett DelBuono, Jason Scott Lee

Plot:
In the unsanctioned, underground, and unhinged world of extreme Ping-Pong, the competition is brutal and the stakes are deadly. Down-and-out former professional Ping-Pong phenom Randy Daytona is sucked into this maelstrom when FBI Agent Rodriguez recruits him for a secret mission. Randy is determined to bounce back and recapture his former glory, and to smoke out his father's killer - one of the FBI's Most Wanted, arch-fiend Feng. But, after two decades out of the game, Randy can't turn his life around and avenge his father's murder without a team of his own. He calls upon the spiritual guidance of blind Ping-Pong sage and restaurateur Wong, and the training expertise of Master Wong's wildly sexy niece Maggie, both of whom also have a dark history with Feng. All roads lead to Feng's mysterious jungle compound and the most unique Ping-Pong tournaments ever staged. There, Randy faces such formidable players as his long-ago Olympics opponent, the still-vicious Karl Wolfschtagg. Can Randy keep his eye on the ball? Will he achieve the redemption he craves while wielding a paddle? Is his backhand strong enough to triumph over rampant wickedness?

Note:
Entah kenapa kayaknya koq gue niat banget mo nonton film ini. Setau gue sebelom nonton film ini ngga review yang bilang film ini istimewa kecuali emang lucu. Awalnya sempet sok tau nonton film ini tanpa subs. Eh biarpun ringan, ngga nyaman nontonnya. Setelah dapet DVD dengan subs english yg bagus, gue abisin deh filmnya.

Cerita film ini emang niat banget untuk ngelucu sekalipun ngga terjebak jadi seperti film-film spoof lainnya. Lumayan cerdas untuk ngangkat tenis meja sebagai bahan cerita. Kalo biasanya udah banyak dibikin film cerita-cerita tentang pertarungan berantem (bela diri) underground, kali ini ada turnamen tenis meja underground. Plot-nya ngga jauh-jauh dari film Bloodsport tapi digarap dengan lumayan asyik dan nggak ngebosenin. Tenis meja jadi amat sangat bergengsi sekaligus menggelikan! Absurd!!

Gue melupakan semua film yang pernah gue tonton supaya bisa menikmati film ini. Dan cara ini terbukti sukses. Sepanjang film asyik ngakak tanpa sempat ngebandingin dengan film-film lain. Belom lagi mata jadi seger liat Maggie Q yang di film ini jagonya ngga ketulungan. Dan ternyata udah lama juga gue ngga nonton film komedi yang gue tonton dengan santai tanpa ekspektasi apa-apa.

Sekalipun setelah film selesai gue ngga ngerasa ada apa-apanya, tapi tetep merasa terhibur.

27 July 2008

THE X-FILES: I WANT TO BELIEVE: Believe in Myself!!



Title:
The X-Files: I Want to Believe

Director:
Chris Carter

Writers:
Frank Spotnitz, Chris Carter

Cast:
David Duchovny, Gillian Anderson, Amanda Peet, Billy Connolly, Xzibit

Plot:
When a group of women are abducted in the wintry hills of rural Virginia, the only clues to their disappearance are the grotesque human remains that begin to turn up in snow banks along the highway. With officials desperate for any lead, a disgraced priest's questionable visions send local police on a wild goose chase and straight to a bizarre secret medical experiment that may or may not be connected to the women's disappearance. Its a case right out of The X-Files. But the FBI closed down its investigations into the paranormal years ago. And the best team for the job is ex-agents Fox Mulder and Dr. Dana Scully, who have no desire to revisit their dark past. Still, the truth of these horrific crimes is out there somewhere...and it will take Mulder and Scully to find it!

Note:
Kadang kalo ngeliat temen-temen gue, bahkan ngeliat istri gue, suka bingung deh. Bisa-bisanya dalam 1 minggu itu nonton beberapa film sekaligus. Bahkan ada yang dalam 1 hari 1 malam nonton banyak film. Bisa ya? Apa ngga kecampur-campur? Belom sempet kebahas dalem, eh udah ‘masuk’ film lainnya. Pikir-pikir pada hebat semua ya!

Nah kayak gitu itu tuh, gue kayaknya masih belom sanggup nonton banyak film dalam 1 minggu misalnya. Apalagi Karma masih hype (terutama buat gue sih) jadi masih belom niat nonton film lain. Apalagi sekarang ada Blitz yang sering muter film agak lama dibanding grup 21. Bisa belakangan lah, ngga usah buru-buru. Paling-paling ‘cuma’ ketinggalan hype.

Sementara di kepala gue udah kebayang mo istirahat pas weekend, eh malah dikabarin dapet tiket nonton gratis film ini. Yah kalo gratis sih apa boleh buat deh, berangkat!!!

Minggu pagi, pas lagi ancang-ancang mo mandi untuk bersiap nonton malah sempet bete tuh gara-gara baca review di harian Kompas. Sebenernya sih awal yang bikin bete karena review salah satu harian terbesar di negeri ini tentang film Karma. Dan harian itu juga bilang bahwa sekuel layer lebar X-Files ini kehilangan pesonanya, bahkan dibilang anti klimaks!! Mungkin kalo ngga gratisan dan ngga inget ‘perjuangan’ gue untuk ngambil tiketnya di salah satu kantor redaksi majalah film franchise dari Singapore itu, gue ngga berangkat nonton terpengaruh review yang tadi.

Tapi dengan niat mo having fun bareng keluarga (minus istri gue yang lagi dinas ke luar kota) berangkatlah ke PS XXI.

Nunggu bentaran, lengkap dengan jajanan ala XXI (popcorn, minuman dsb. yang mahal-mahal) masuklah di theater 2. Ngga penuh-penuh amat jadi masih bisa duduk di area rada tengah-tengah. Asyiklah posisinya, cukup pas untuk layar lebar.

Gue yang ngga anti spoiler, jadi makin keki sama review-nya Kompas untuk film X-Files ini. Padahal kalo film ini ditonton bebas spoiler bakal banyak dapet ‘kejutan’. Minimal kita bisa ngikutin cerita yang bertutur denga bahasa visual yang baik. Untungnya rasa thriller-nya masih dapet. Mungkin juga karena gue ‘pemaaf’ jadi tetep bisa menikmati film ini utuh dari depan sampe habis.

Sekalipun latar belakang karakter Mulder dan Scully digambarkan sudah menjauh dari aslinya di serial maupun layar lebar pertamanya, tapi justru di situ malah dapet greget yang beda dengan cerita film/serial X-Files sebelumnya. Meskipun begitu keterkaitan dengan cerita-cerita dan karakter-karakter film/serial sebelumnya bisa disampaikan dengan banyak cara yang tak terduga (bahkan tak ‘tertangkap’ oleh reviewer Kompas!!)

Dan pesan dari cerita ini lebih dekat dengan kemanusiaan dan keyakinan masing-masing individu. Sekalipun kita percaya kepada kebenaran yang empiris, tapi tetap kita harus yakin pada keputusan diri sendiri. Dan dengan cara seperti itulah gue nonton dan menikmati film ini.