tag:
Showing posts with label Classic. Show all posts
Showing posts with label Classic. Show all posts

12 May 2010

CLASH OF THE TITANS: Haruskah Diperbandingkan?

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



Karena kebiasaan gue telat nonton film-film yang ‘mengandung’ box office, maka sempat deh baca review film remake dari film tahun 1981 di sana sini. Dan juga karena gue ngga anti review dan spoiler ya hampir semua review yang ‘mampir’ gue baca deh. Dari semua itu, ngga sedikit reviewer yang menyatakan kecewa dengan hasil remake kali ini. Katanya, film remake ini ngga meninggalkan kesan apa-apa, ngga seperti film orisinilanya. Film remake-nya hanya sebatas seru-seruan aja. Belum lagi banyak juga yang mencerca visual 3 dimensinya yang menurut mereka ngga jadi beneran 3 dimensi (makasih buat James Cameron yang sudah sukses ‘merusak’ mata penonton bioskop :D ).

Untuk catatan-catatan mengenai visual 3 dimensinya memang bisa bikin gue mutusin untuk ngga menyaksikan film remake itu dalam versi 3 dimensinya. Tapi ceritanya tetep bikin gue penasaran. Jujur aja saat itu gue belom pernah nonton versi orisinilnya dengan sadar dan konsekuen! *apa sih*

Terus terang gue enjoy banget menikmati film remake garapan Louis Leterrier itu. Semuanya dibikin megah, penuh dengan aksi. Teknologi efek visual pun dimaksimalkan. Belum lagi iringan musik score yang cukup mendukung adegan per adegan. Dan di antara ‘keriuhan’ itu, gue menemukan inti cerita bahwa Perseus menjadi juru selamat meski diawali dari dendam membara. Kematian seluruh keluarga angkatnya membuat Perseus nyaris termakan habis dendam kesumat. Bahkan pertolongan Zeus nyaris ditolaknya mentah-mentah. Namun sisi manusiawi akhirnya membimbing Perseus untuk menumbangkan angkara murka yang dikendalikan oleh pamannya sendiri dan menyelamatkan seluruh semesta termasuk tahta Dewa Dewi di Olympus.

Pada dasarnya, cerita film remake itu sama dengan versi orisinilnya. Secara mendasar menceritakan perjalanan dan perjuangan Perseus untuk melawan angkara murka yang ‘diwakili’ oleh monster Kraken. Memang untuk beberapa karakter mengalami sedikit perubahan. Dan juga ada penambahan dan pengurangan beberapa karakter dari versi orisinilnya.

Perbedaan yang cukup jelas di antara kedua film ini adalah motivasi Perseus dalam usahanya menghancurkan Kraken. Dalam versi film orisinilnya, Perseus mati-matian dalam perjalanannya mencari ‘anti’ Kraken adalah rasa cintanya kepada Andromeda. Dan dalam perjalanannya itu Perseus juga harus berhadapan dengan Calibos yang merupakan kekasih asli dari Andromeda.

Cerita versi film orisinilnya merupakan adaptasi dari legenda/mitos Yunani kuno. Dan adaptasi yang terjadi bukanlah murni dari mitos Yunani saja karena monster Kraken berasal dari mitos Skandinavia. Nah di sinilah mungkin letak ‘celah’ cerita untuk kebebasan adaptasi untuk film remake-nya.

Mungkin saja penulis versi film orisinilnya memilih monster Kraken karena namanya terdengar lebih sangar dan secara fisik lebih mengerikan dibandingkan dengan monster Cetus, yang menurut mitos adalah lawan asli Perseus, yang fisiknya mirip ikan paus. Dan kalimat ‘Release the Kraken’ terdengar lebih keren sebagai pemuncak horror dan terror kepada dunia mitos Yunani.

Versi remake mengadaptasi kembali dengan lebih bebas dan lebih kekinian. Mungkin terinpirasi dengan kondisi bumi yang semakin terancam saat ini, sosok Perseus jadi lebih ‘ditinggikan’ sehingga menjadi penyelamat semesta. Dramatisasi cerita lebih didekatkan kepada aksi heroik perjuangan melawan semua halangan berupa monster dan sihir.

Drama yang indah dan dalam lebih terasakan dalam kisah film orisinilnya. Karena dasar cintanya kepada Andromeda yang membuat Perseus rela mempertaruhkan jiwa raganya menyongsong sorot mata Medusa demi senjata pemusnah Kraken.

Menurut gue, aksi seru dalam film versi remake tidak dapat dibandingkan secara terbuka dengan drama perjalanan kisah cinta pada film versi orisinilnya. Apalagi ceritanya sendiri bukanlah cerita yang orisinil dan murni dari mitos Yunani (bahkan Perseus bukanlah penjinak dan penunggang asli Pegasus!).

Gue mengakui kedua film ini adalah film yang bagus. Tapi gue membiarkan kedua film ini menjadi karya film yang berbeda. Mungkin bisa disamakan dengan cara gue ‘membedakan’ karya novel dengan adaptasi filmnya.

Bisa saja generasi muda sekarang bakal jauh lebih suka versi remake-nya karena berjalan dalam pace cepat dan cukup ketat dengan visual keren dibandingkan dengan versi orisinilnya yang pace-nya rada lambat dengan visual yang cupu (apalagi film orisinilnya rilis setelah Star Wars yang keren efek visualnya). Menurut gue sih silakan aja.

Demikian juga dengan generasi yang ‘lebih tua’ yang lebih menyukai drama perjalanan menuju kemenangan cinta dalam film versi orisinilnya. Itu juga ngga jadi masalah.

Yang jelas buat gue, kedua karya ini biarkan aja menjadi ikon sesuai dengan masanya. Karena karya film, sebagaimana karya seni lainnya, memiliki subyektifitasnya sendiri-sendiri.

06 August 2009

WATCHMEN: Superhero juga Manusia

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Watchmen

Director:
Zack Snyder

Writers:
David Hayter, Alex Tse

Casts:
Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Patrick Wilson, Carla Gugino, Matt Frewer, Stephen McHattie, Laura Mennell

Plot:
Watchmen is set in an alternate 1985 America in which costumed superheroes are part of the fabric of everyday society, and the "Doomsday Clock" - which charts the USA's tension with the Soviet Union - is permanently set at five minutes to midnight. When one of his former colleagues is murdered, the washed up but no less determined masked vigilante Rorschach sets out to uncover a plot to kill and discredit all past and present superheroes. As he reconnects with his former crime-fighting legion - a ragtag group of retired superheroes, only one of whom has true powers - Rorschach glimpses a wide-ranging and disturbing conspiracy with links to their shared past and catastrophic consequences for the future. Their mission is to watch over humanity... but who is watching the Watchmen?

Note:
Setelah siangnya nonton film action yang bisa bikin gue ketiduran, sorenya gue niatin nguber nonton film ini dengan ekspektasi bakalan ketiduran juga. Gue berekspektasi seperti itu karena gue pernah baca graphic novel-nya dan sedikit-sedikit sudah baca review film ini, khususnya review yang minor.

Sebenernya ngga terlalu minat juga sih nontonnya karena si empunya graphic novel, Alan Moore, ngga pernah mau dan ngga pernah suka novelnya diadaptasi ke dalam film. Dia ngga bakal pernah mau nonton film-film adaptasi novelnya. Menurutnya, medium graphic novel (comic) ngga sama dengan film. Dan film ngga bakal bisa menuangkan semua yang ada dari comic/graphic novel-nya.

Dan hal ini sudah terbukti bahwa di setiap film adaptasi dari comic/graphic novel-nya ngga ada yang bisa sebagus aslinya: From Hell, League of Extraordinary Gentlemen, V for Vendetta. Belum lagi Zack Znyder, sang sutradara, sudah memiliki ‘reputasi’ tidak kreatif karena mengadaptasi Frank Miller’s 300 secara panel to panel, tiap adegan mirip banget dengan visual di panel-panel pada graphic novel-nya.

Sekalipun begitu, biarpun sedikit tetep ada rasa penasaran untuk melihat film adaptasi dari salah satu graphic novel paling berpengaruh pada abad ini. Rasa penasaran itulah yang membawa gue ke bioskop untuk menyaksikan film ini sekalipun agak terlambat.

……………dan wow!! Kali ini gue ngga berkedip menyaksikan film dengan cerita yang beralur lambat dengan karakter-karakter yang kompleks. Bener-bener ajaib, gue terpukau dengan visual yang memukau, yang mampu menggiring gue tetep menikmati cerita dengan tekun.

Cerita yang rada absurd untuk sebuah kisah tentang superheroes. Iya superheroes. Banyak banget superhero-nya. Tepatnya cerita superheroes yang sudah habis ‘masa edar’nya. Superhero yang sepertinya tidak diperlukan lagi tapi masih memikirkan kepentingan dan keselamatan umat manusia.

Tapi dalam Watchmen tidak dikisahkan secara hitam putih. Bahkan digambarkan kisah penyelamatan dunia dengan cara yang paling ekstrim, yang mungkin tidak pernah dipikirkan dan disampaikan dalam kisah superhero manapun juga. Cukup mengerikan dan cukup menggetarkan. Tapi seperti itulah yang mungkin hanya bisa dipikirkan dan dilakukan manusia dalam perjuangannya. Sekali lagi tidak dalam pola berpikir yang hitam putih semata.

Ceritanya setia dengan aslinya, sekalipun memang tidak bisa menuangkan sama persis. Graphic novel-nya memang amat sangat kompleks. Bahkan gue belom baca secara detail. Inilah film yang cukup berhasil mengadaptasi dengan bagus sebuah graphic novel garapan Alan Moore.

01 August 2009

TERMINATOR SALVATION: Is this A Tribute?



Title:
Terminator Salvation

Director:
McG

Writers:
John D. Brancato, Michael Ferris

Cast:
Christian Bale, Sam Worthington, Moon Bloodgood, Helena Bonham Carter, Anton Yelchin, Jadagrace, Bryce Dallas Howard, Michael Ironside

Plot:
Set in post-apocalyptic 2018, John Connor is the man fated to lead the human resistance against Skynet and its army of Terminators. But the future Connor was raised to believe in is altered in part by the appearance of Marcus Wright, a stranger whose last memory is of being on death row. Connor must decide whether Marcus has been sent from the future, or rescued from the past. As Skynet prepares its final onslaught, Connor and Marcus both embark on an odyssey that takes them into the heart of Skynet’s operations, where they uncover the terrible secret behind the possible annihilation of mankind.

Note:
Banyak juga yang ngga suka dengan film ini. McG dengan prestasi film-filmnya yang kebanyakan fun doang, dianggap merusak franchise Terminator karena film ini.

Tapi gue ngeliat McG justru berusaha membuat tribute kepada franchise film tentang kiamat mesin sekaligus mempersiapkan franchise ‘baru’ perang melawan mesin di masa depan. Kalo terasa ceritanya ‘nganehi’ masih bisa gue terima karena dipersiapkan terbuka untuk sekuel selanjutnya dan masih berusaha menyambung dengan seri sebelumnya.

Kenapa gue bilang film ini sebagai tribute? Karena film ini banyak memvisualkan adegan-adegan yang berhubungan dengan ketiga film sebelumnya. McG ngga lupa memvisualkan adegan ‘nyolong’ pakaian yang selalu ada di semua film Terminator. Dan kayaknya ngga banyak yang ngerti kenapa John Connor gampang banget ngelewatin kunci elektronik untuk masuk ke markasnya Sky Net. Tapi ada yang inget kenakalan John Connor kecil di Terminator 2?? Ada hubungannya tuh!!

Kemunculan T-800 (menurut cerita di film ini masih prototype = purwa rupa) dan adegan pertarungan John Connor di depan guyuran logam cair juga masih mengacu pada seri film sebelumnya.

Dan adegan yang paling ‘menyentuh’ gue adalah dimunculkannya kembali kemahiran John Connor mengendarai kendaraan masa kecilnya yang diiringi lagu ‘anthem’ Terminator 2!! Itu adegan yang cool banget!! McG cukup mengerti untuk membawa dan mengangkat franchise Terminator. Tapi ngga tau deh kalo dipertimbangkan lain.

29 March 2009

ARISAN: Kapankah Akan Ada Film Indonesia Seperti Ini Lagi?



Judul:
Arisan

Sutradara:
Nia Dinata

Skenario:
Nia Dinata, Joko Anwar

Pemeran:
Cuti Mini, Tora Sudiro, Aida Nurmala, Surya Saputra, Rachel Maryam, Nico Siahaan, Indra Birowo


Catatan:
Malu sih ngakuinnya tapi emang gue baru aja nonton film ini!! Suwer!!

Emang telat banget nontonnya. Padahal gue sempet nge-fans banget dengan serial TV-nya (ada yg mo bikinin paket DVD-nya??). Waktu film ini rilis tahun 2003 dulu itu (buset, udah lama banget ya??) kayaknya saat itu gue masih ‘angin-anginan’ kalo diajak nonton film Indonesia. Apalagi kan kudu nonton di bioskop. Film Hollywood aja males nontonnya di bioskop apalagi nonton film Indonesia! Waktu itu sih begitu.

Sempet juga disodorin copy-an VCD-nya tapi ngga sempet juga mulai ditonton. Nah pas tau siapa aja film maker-nya dan akhirnya muncul penasaran, gue malah sibuk hunting DVD-nya. Hunting ke mana-mana, yang ada cuma versi VCD-nya aja.

Makin hari makin penasaran. Secara gue udah kadung nge-fans dengan Nia Dinata dan Joko Anwar. Sampai akhirnya rilis boxset Nia Dinata DVD Collection yang salah satunya berisi DVD Arisan!!

Sebelom gue cerita tentang filmnya, gue sempet termehek-mehek dengan OST-nya. Bener tuh, dalam boxset itu salah satunya ada CD OST Arisan. Pastinya file MP3-nya gue simpen baik-baik di player gue. Ceritanya gini, di bulan Maret 2009 itu gue lagi merasakan galau sampai merasa mellow berminggu-minggu. Malu sih nyeritainnya tapi ada tuh hubungannya. Nah pas lagi mellow gitu, mo dengerin lagu apa pun juga rasanya ngga asyik melulu. Iseng-iseng liat di track list player gue eh ada OST Arisan. Iseng ah pasang rada kenceng di sound system cubicle gue di kantor. Niatnya sih buat ngusir rasa mellow gue. Minimal meredam dikit-dikit deh. Eh pas dengerin track Tanpa Kamu, malah bikin gue makin mellow! Lagunya jadi berasa puanjaaaaaaaang buanget! Tapi abis lagu itu gue malah ketawa-ketawa sendiri! Lumayan relieve juga loh!

Anyway, barusan itu gue lagi mo refreshing bentar di depan TV. Eh acaranya lagi ngga asyik (biasa banget ya acara TV di Indonesia selalu begitu) Jadi muncul ide mo nonton film aja. Setelah celingak celinguk di tumpukan DVD, trus gue malah ke kamar nyari di tumpukan DVD satunya dan akhirnya mutusin nonton Arisan (Finally!) Mungkin masih ada hubungannya karena gue sempet mellow asyik dengerin OST-nya jadi kepingin ato minimal terbersit pingin liat filmnya.

Di opening, memori gue langsung terbang ke masa-masa serial TV-nya lagi asyik-asyiknya gue tonton. Waktu itu Bokap gue masih ada, keluarga masih lengkap dan gue masih bujangan! Dan filmpun bergulir.

Film ini keren banget lah! Ensemble cast yang ditampilkan bisa ‘dikelola’ dengan asyik dengan dialog-dialog yang pas tanpa terdengar dibuat-buat. Semua pemeran pembantu bisa tampil dengan enak, khususnya para ibu-ibu arisan. Untuk genit pun ngga ditampilkan berlebihan. Cuma dikasi liat tatapan matanya aja, kita bisa tau kalo ibu-ibu genit itu punya nafsu terpendam. Gesture Tora Sudiro dan Surya Saputra udah ngga perlu penjelasan dengan dialog lagi kalo mereka memang ‘pasangan’. Bahkan sejak awal film, adegan Sakti sedang olah raga push up dan terus bersiap mandi pagi, gue udah digiring untuk tahu bahwa karakter ini udah punya ‘bibit’ gay.

Pemilihan angle kamera, tata cahaya dan editing-nya bisa ngebawa emosi gue. Padahal gue kan cuma nonton dari DVD di TV 21”. Contohnya, gue ikut-ikutan deg-degan waktu mobil Andien dihentikan Polisi untuk dirazia. Dialog-dialog di kantor polisi pun nyaris mendekati keadaan sebenarnya, ngga enak! (kayak gue pernah aja ditangkap polisi)

Cameo/penampilan singkat dari selebritis banyak juga deh. Seperti ada Gwen (anaknya Bondan Winarno Maknyus) sebagai anak buahnya Mei Mei di kantor. Ada Jajang C Noer. Ada juga penampilan Sapto sebagai fotografer ngondek. Biasanya Sapto cukup ‘rajin’ muncul di beberapa film. Padahal sekarang ini seringnya dia jadi produser di beberapa film (termasuk film Fiksi). Lucu juga liat Sapto masih kurus banget muncul di Arisan.

Tapi ngga ada yang ngalahin penampilan singkat dari Joko Anwar! Memang dia tampil ‘utuh’ di adegan yang sudah mendekati akhir dalam film. Tapi gue juga ngenalin ‘tongkrongan’ dia di opening film. Trus dia juga muncul di adegan joggingnya Mei Mei dengan Sakti! Ngaku aja deh lu Jok!

Tema dan dialog-dialog yang diangkat pun masih relevan sampe sekarang. Selain soal arisan dan problem dalam keluarga moderen, dialognya juga sempat menyentil perfilman Indonesia yang masih sedikit diapresiasi oleh penonton Indonesia sendiri, tapi justru laku kalo produksi film horor! Gila, masih belom ‘sembuh’ tuh sampai sekarang!!

Ada ‘pesan’ juga buat film maker lainnya bahwa mendingan bikin film dengan tema yang paling kita tahu aja, seperti kalo Nino bikin film tentang gay.

Film ini solid banget dari awal sampe akhir. Sekalipun memotret kehidupan moderen sehari-hari, tapi dinamika ceritanya tetep dapet, enak diikuti dan ditonton sampe habis. Ngga ada solusi ato ending yang ‘hollywood’. Semuanya dibikin enak dan semakin dekat dengan kenyataan di sekitar kita sehari-hari.

Ngga nyesel juga gue baru nonton film ini sekarang. Nggak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik dan bagus!

Sekarang gue masih ‘utang’ nonton film ini lengkap dengan audio commentary-nya! Soon enuff-lah.

25 January 2009

PINTU TERLARANG: Warning: No Spoiler Allowed!



Judul:
Pintu Terlarang

Sutradara:
Joko Anwar

Pemeran:
Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe


Catatan:
Kayaknya bener deh apa yang dibilang Joko Anwar supaya ngga baca novelnya sebelum nonton film ini. Karena udah baca, di sepanjang film gue jadi lebih memperhatikan alur cerita dengan sedikit terjebak membandingkannya dengan cerita di novelnya. Padahal banyak tampilan-tampilan visual yang memerlukan lebih banyak konsentrasi dibandingkan sekedar alur cerita.

Dalam film ini cerita keseluruhan terfokus pada pencarian jati diri seorang Gambir melalui pemecahan misteri semua kejadian di sekelilingnya pada orang-orang terdekatnya. Dalam proses pencarian tersebut, ditampilkan banyak sekali gambar-gambar yang menggugah kewarasan gue. Bahkan sejak adegan awal dan juga divisualkan dalam opening title bikin gue tersedot ke dalam sebuah dark ride yang semakin bikin gue deg-degan.

Struktur penceritaan yang rapi bikin gue ngga bisa sempat berhenti untuk bosan dan mengantuk. Mirip novelnya yang ngga sempat gue taruh sampai dengan selesai, film ini selalu bikin mata gue ngga lepas dari layar. Kayaknya gue diajak ikutan pusing oleh si tokoh utama dalam proses pencariannya.

Adegan penyiksaan si anak kecil misterius, bikin gue mikir banyak soal efek kekerasan pada anak-anak di masa dewasa mereka, ato bahkan di masa sebelum mereka dewasa. Ngeri banget!! Musti lebih hati-hati kayaknya untuk semua jenis kekerasan dan adegan kekerasan yang bisa dilihat/didengar anak-anak, sekalipun cuma ‘kekerasan’ verbal.

Ada pengurangan tokoh dari novelnya, tapi memang tujuannya supaya penonton lebih fokus kepada tokoh utama. Misteri dan kejadian-kejadian di luar dugaan yang dihadapi Gambir memancing gue berpikir apakah hal-hal itu juga ada di dunia nyata.

Joko Anwar sepertinya bersenang-senang sekali dalam pembuatan film ini. Sepertinya seluruh kemampuan dan kesenangannya dituangkan secara menyeluruh dalam film ini. Mulai dari desain opening title terlihat jelas seperti apa genre film favorit si sutradara. Beberapa adegan mengerikan sayangnya ngga terlalu menusuk gue yang udah baca novelnya (ato gue yang udah mati rasa ya??).

Tapi secara keseluruhan film ini menyampaikan sebuah pengalaman menyaksikan film yang sebenarnya; film yang banyak bercerita dengan bahasa visual dalam ‘kekuatan penuh’. Ngga cuma adegan dan akting (semua aktor bermain dengan mantap dan catatan tersendiri untuk akting Marsha Timothy yang tampil beda dan bagus!) tapi juga tone warna, pencahayaan bahkan beberapa billboard/papan nama jalan/nomor pintu ruangan yang ajaib, membuat atmosfir film ini betul-betul thriller dan sinting!

Visualisasi pemecahan misteri jati diri gambir bikin gue nyaris teriak, “YES!!” Sekalipun berbeda dengan yang di novel, justru scene seperti itu yang tepat dengan alur cerita dalam film ini. Ada perasaan lega begitu film selesai, seperti perjalanan gelap baru aja selesai. Tapi ending yang keren, jadinya tetep bikin film ini jadi melekat terus di kepala.

Dari novelnya yang drama thriller diadaptasi dengan bebas menjadi film yang psychological thriller. Ngga terlalu menakutkan secara visual tapi lebih meneror mental. Gue sebenernya jarang banget berani nonton film thriller kayak gini. Tapi berhubung film sejenis masih jarang diproduksi oleh sineas asli Indonesia, tentunya wajib gue tonton. Apalagi gue selalu jadi fans bagi seorang Joko Anwar, yang katanya masih belom punya DVD film pertamanya.

Cameo cukup bertaburan dalam film ini. Bukan cameo juga sih, karena beberapa meski tampil singkat tapi cukup mencuri penampilannya. Tapi ada satu penampilan cameo yang bikin gue kaget karena beliau sudah lama tak terdengar kabarnya; George Sapulete, seorang pelawak senior yang pernah tergabung di Srimulat, yang selalu melafalkan namanya sendiri jadi, “Josss…….Sapulete!”

Gue capek (tapi puas!) waktu nonton filmnya. Tapi lebih capek waktu nulis ini supaya bisa nahan ngga ngasi spoiler apa pun! Kali ini spoiler dalam bentuk apa pun dan sekecil apa pun bakalan mengurangi keasyikan menonton Pintu Terlarang.

09 December 2008

AKU: Warisan Besar Sineas Besar bagi Dunia Perfilman

Judul:
Aku
Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

Penulis:
Sjuman Djaya

Penerbit:
Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti: 1987

ISBN:
[979-3019-13-1]

Catatan:
Inilah buku yang sering terlihat dibaca oleh karakter Rangga, yang diperankan Nicholas Saputra, di Ada Apa Dengan Cinta. Katanya buku ini yang menginsipirasikan jiwa pemberontak dalam karakter Rangga selain buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Kalo di film itu kayaknya Rangga lebih mencerminkan karakter Chairil Anwar yang dilukiskan dengan agak surealis dalam naskah scenario film yang dibukukan ini.

Buku ini adalah karya terakhir dari salah satu sutradara besar yang pernah berkarya dalam perfilman Indonesia. Mengambil setting Jakarta sesaat setelah meledaknya bom atom di Hiroshima sepertinya menjadi salah satu kendala besar untuk nantinya bisa mewujudkannya ke dalam film layar lebar. Belum lagi gaya penuturan ceritanya yang agak surealis, mungkin saja tidak mudah untuk diwujudkan menjadi film selain oleh si penulisnya sendiri.

Pernah dalam obrolan singkat dengan salah seorang putra penulis yang sekarang aktif dalam scoring film, Aksan Sjuman, gue menanyakan apakah ada niat untuk mewujudkan scenario ini ke dalam film. Aksan bilang hal itu bakal sulit untuk diwujudkan.

Rasa penasaran yang bikin gue mengulang membaca buku ini. Dan gue makin ngerti kenapa bakal sulit diwujudkan dalam film, kecuali diproduksi oleh perusahaan Hollywood atau Eropa dengan dana yang cukup.

Tapi dalam keterbatasan produksi media film Indonesia, gue jadinya terpikir untuk mengusulkan visualisasi scenario dalam buku ini ke dalam media graphic novel. Dan usul ini sudah gue sampaikan ke facebook-nya Aksan Sjuman.

SHOCKER: Pure Heavy Metal Horror!



Title:
Shocker

Director:
Wes Craven

Writer:
Wes Craven

Casts:
Michael Murphy, Peter Berg, Mitch Pileggi, Sam Scarber, Camille Cooper, Ted Raimi

Plot:
A murderous TV repairman, Horace Pinker (Mitch Pileggi) is killing people in a small town left, right and center. He eventually finds the home of Lt. Parker (Michael Murphy), who is investigating his crimes, and savagely murders Parker's wife, son and daughter. His other son, Jonathan (Peter Berg) has a strange connection to Pinker through his dreams, and he directs his father to Pinker's business, where a small group of officers enter. Pinker escapes in a horrific spree, killing four officers and then targeting Jonathan's girlfriend, Alison. Another dream leads Jonathan and his dad to a residence where they catch Pinker in in the act of kidnapping. Pinker is arrested after a fight with Jonathan and sentenced to die in the electric chair. When executed, Pinker - who supposedly had given his soul to the devil in exchange for the power to come back as an energy source - takes over people's bodies and continues committing murders, until Jonathan devises a plan to bring Pinker into the real world, and then cut off his power source

Note:
Belom lama ini gue dapet DVD salah satu film masa kecil gue. Ngga kecil-kecil amat sih, lebih kurangnya masa esempe lah. Gue sempet nonton film ini di bioskop dulu. Sambil jalan pulang sekolah, mampir bentar ke bioskop.

Waktu itu film ini tepat banget rilisnya pada masa musik Heavy Metal sedang dalam musimnya. Soundtrack-nya yang dipenuhi musik Heavy Metal dengan cerita horor gaya baru, film ini cukup menyita perhatian gue untuk beberapa waktu. Bahkan untuk musiknya cukup lama jadi referensi musikal gue.

Gue bilang cerita horornya gaya baru, karena mengganti mitos-mitos horor kuno dengan televisi sebagai sumber kekuatan jahat yang baru. Sekalipun gimmick-nya tetep mengacu kepada film-film horor lama, tapi sepertinya Wes Craven mau menyindir keberadaan televisi sebagai kekuatan yang lebih menakutkan dibandingkan Dracula.

Terselip juga rasa mistis dari Asia yang lebih tidak logis daripada horor Eropa/Amerika. Tapi film ini juga bisa dijadikan salah satu pengusung slasher horror yang cukup gory pada masa itu. Pertama kali nonton film ini, gue merasa ‘terjebak’ dalam dinding gelap bioskop. Gue harus liat film horor yang gory dalam gelap (sampe sekarang gue paling jarang nonton film horor di bioskop) dengan musik Heavy Metal yang juga menyeramkan!

Sekalipun menyeramkan, tapi ending film ini terasa agak konyol. Tapi secara keseluruhan gue ngga pernah menyesal menontonnya.

07 July 2008

FIKSI



Judul:
Fiksi

Sutradara:
Mouly Surya

Skenario:
Joko Anwar

Cerita:
Seorang gadis muda dengan trauma atas kematian ibunya, mencoba menapaki kehidupannya di luar rumahnya yang bagaikan istana. Segalanya bermula dari ketertarikannya kepada seorang lak-laki muda yang sementara waktu sempat bekerja sebagai pembersih kolam renang di rumahnya. Rasa ketertarikannya itu menjadi pemicu baginya untuk terus mengenal semakin dekat laki-laki muda itu.
Dan ternyata dinamika kehidupan di luar rumah tak berada dalam rengkuhan di gadis muda.

Catatan:
Sejak tau skenario film ini ditulis oleh Joko Anwar, gue udah selalu pasang ancang-ancang untuk nonton film ini di bioskop. Sempet juga kuatir ngga kebagian nonton. Bukan karena film ini selalu sold out, tapi karena gue sering terbentur dengan waktu untuk keperluan lain di akhir pekan. Secara film-film seperti ini tayangnya cuma di grup 21 pada bioskop-bioskop tertentu dengan masa tayang terbatas. Gue ngga mau kejadian lagi ketinggalan nonton May.

Akhirnya kebagian juga, ternyata itu adalah minggu terakhir film Fiksi tayang di grup 21 Jakarta. Begitulah, memang untuk film-film seperti inilah gue terpaksa ‘kompromi’ dengan grup 21. Apalagi pada akhir masa tayangnya, film ini diputar di bioskop 21 yang ngga ada paket pay one for two-nya. Demi film Indonesia yang berkualitas, ngga apa-apa juga deh harus kompromi dengan pihak kapitalis monopolis.

Denger-denger nih, sang sutradara film ini sebenernya udah nyiapin sekalian dengan skenarionya. Untuk film pertamanya ini, dia udah siapin segala sesuatunya termasuk bikin production house sendiri bareng suaminya. Tapi ternyata Mouly Surya cukup pinter untuk akhirnya dia serahkan penulisan skenario film thriller ini kepada Joko Anwar. Makanya film ini terasa banget kentalnya gaya cerita Joko Anwar. Sekalipun tidak sama persis, film Fiksi ini punya kesuraman yang sama dengan film Kala yang nota bene adalah tulisan dan besutan Joko Anwar.

Untuk ukuran film perdana, menurut gue sang sutradara udah punya idealisme tertentu dalam membuat film. Cara menyampaikan cerita thriller ini bener-bener dapet, bener-bener bisa bikin gue pingin nonton film ini sampai selesai dengan perasaan penasaran sekaligus capek karena sukses terteror. Bahkan sehari setelah nonton, gue masih merasakan kesuraman film ini. Itu indikator film thriller yang sukses, karena gue bukan penakut.

Cerita yang disampaikan cukup nyata, bisa saja hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kemungkinan semacam ini yang juga semakin menguatkan unsur thriller-nya.

Jarang banget Indonesia punya film semacam ini. Dan memang menjadi semakin jarang karena keterbatasan tayang di bioskop.

20 May 2008

GONE IN SIXTY SECONDS: Eleanor’s Gone Once Again

Title:
Gone in Sixty Seconds (2000)

Director:
Dominic Sena

Plot:
Legendary car thief/booster Randall "Memphis" Raines (Nicolas Cage) retired from the criminal life in 1995. Now five years later after Auto Thieft in the greater Los Angeles/Long Beach district went down by 47%, his brother, Kip Raines (Giovanni Ribisi) takes over "the job", employed by British car broker Raymond Calitri. When one night Kip messes up stealing some cars, Memphis gets called back to the life he got out of. His most impossible mission: Steal 50 exotic cars all over Los Angeles and Long Beach and deliver them to Long Beach Harbor, Pier 14 by 8:00am, Friday morning, on the button, or watch Calitri kill Kip. And so Memphis, with the help of longtime friend Otto Halliwell (Robert Duvall) reassembles his old crew which includes sexy Sara "Sway" Wayland" (Academy award-winner Angelina Jolie), a renegade white-haired mechanic by day, bartender by night, to pull off the biggest mission ever. The only problem is the LAPD G.R.A.B. (Governor's Regional Auto Bureau) is on the lookout and Dt. Roland Castlebeck (Delroy Lindo) and his partner are keeping close eyes on Memphis and his team. Can the team pull this assignment off and collect $200,000 in cash? Will Kip finally realize that car boosting is dangerous? And can Memphis escape Castlebeck and the cops? It's a long shot, but they may have a chance. Cut to the chase.

Note:
Sebenernya film ini hampir gue lupakan. Tapi karena iseng-iseng mulai ngumpulin mobil-mobilan replika, gue jadi teringet film ini. Film yang didasari dari film berjudul sama rilisan tahun 1974 memang terkenal dengan adegan pencurian mobil-mobil keren dan klasik dan terutama adegan kebut-kebutan mengejar mobil ‘sakral’, Shelby Cobra GT-500 1967, yang dinamai Eleanor. Gara-gara film ini, gue jadi kepincut banget dengan Eleanor.

Dramatisasi dari film aslinya ini, memang bikin film ini lebih asyik ditonton. Ngga kurang deh jagonya dari Bruckheimer memproduseri film ini sehingga pencurian mobil jadi terlihat cool. Dominic Sena berperan membuat film ini jadi terlihat realistis, khususnya dalam adegan kejar-kejaran. Sekalipun adegan kebut-kebutan sudah ‘tersedia’ dalam film aslinya, Mr. Sena cukup mampu membuat adegan yang sama menjadi semakin seru.

Satu fakta yang membuat film ini semakin cool adalah ‘casting’ Shelby Cobra GT-500 1967 yang klasik sebagai Eleanor, sekalipun dalam versi orisinilnya adalah Ford Mach 1973 yang ‘memerankan’ Eleanor.

Buat yang suka hiburan yang menampilkan coolness dan kebut-kebutan sepertinya ngga bakalan kecewa dengan film ini. Didukung dengan aktor-aktor yang terkenal, tentunya membuat film ini semakin enak diliat. Dan sentuhan sedikit drama keluarga dan brotherhood membuat film ini punya sedikit alur cerita yang bisa membungkus drama sampai ending-nya.

Tapi seperti yang gue tulis diawal, film ini tergolong gampang terlupakan. Hanya satu hal yang bisa membuat film ini lebih diingat dibanding film-film sejenisnya adalah Shelby Cobra GT-500 1967 a.k.a Eleanor.

GONE IN 60 SECONDS: Blue Print of Getaways

Title:
Gone in 60 Seconds (1974)

Director:
H.B. Halicki

Plot:
Insurance investigator Maindrian Pace and his team lead double-lives as unstoppable car thieves. When a South American drug lord pays Pace to steal 48 cars for him, all but one, a 1973 Ford Mustang, are in the bag. As Pace prepares to rip-off the fastback, codenamed "Eleanor", in Long Beach, he is unaware that his boss has tipped off the police after a business dispute. Detectives are waiting and pursue Pace through five cities as he desperately tries to get away.

Note:
Film yang menjadi dasar Gone in Sixty Seconds ini kalo buat gue sih cenderung bikin bosan. Mungkin karena film ini dibuat memang untuk menonjolkan keahlian kebut-kebutan semata. Dan belum lagi memang film ini dibuat secara indie oleh stunt man yang biasa memerankan adegan kebut-kebutan di film.

Film ini nyaris ngga ada dramatisasinya. Semua tense cerita ada di adegan kejar-kejaran maling mobil versus polisi. Dan keliatan banget bahwa H.B. Halicki pingin banget nunjukkin bagaimana seharusnya adegan film kejar-kejaran dan kebut-kebutan dibuat.

Sepertinya di era Orde Baru, film ini ngga bakalan boleh tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Proses pencurian mobil digambarkan dengan gamblang dan cool di film ini. Pastinya ada masih inget bagaimana paranoid-nya rezim yang baru lalu itu, sampai-sampai salah satu film seri TV yang banyak adegan nyamarnya sempet hampir dilarang tayang.

‘Kenyamanan’ menonton gue juga rada terganggu dengan penampilan para pemeran yang ‘in’ banget pada jamannya. Iya film ini mungkin pas banget pada tahun rilisnya (1974) tapi buat gue yang pada tahun itu masih belom ‘sadar’ bakalan ngga nge-tune dengan penampilan film ini. Aktingnya pun sederhana banget.

Tapi film ini memang terkenal bukan karena cerita dan aktingnya. Film ini menjadi legenda, bahkan menjadi cult movie, karena adegan-adegan kejar-kejaran dan kebut-kebutan mobilnya. Mungkin seluruh adegan kebut-kebutan di film ini menjadi cetak biru untuk adegan-adegan sejenis di film-film lain berikutnya, khususnya Hollywood.

Almarhum Mr. Halicki bisa dibilang gila dan terus mencurahkan hidup sampai akhir hayatnya untuk menampilkan adegan stunt menggunakan mobil dengan serealistis mungkin. Bahkan nyawanya terenggut dalam salah satu adegan stunt dalam film yang tak terselesaikan, yang seharusnya akan dirilis dengan judul Gone in 60 Seconds 2.

02 April 2008

THE BLUES BROTHERS 2000: The Blues are really back for good

ditulis pada tanggal 23 Maret 2008

Title:
Blues Brothers 2000

Director:
John Landis

Cast:
Dan Aykroyd, John Goodman

Plot:
Elwood, the now lone "Blues Brother" finally released from prison, is once again enlisted by Sister Mary Stigmata in her latest crusade to raise funds for a children's hospital. Once again hitting the road to re-unite the band and win the big prize at the New Orleans Battle of the Bands, Elwood is pursued cross-country by the cops, led by Cabel (Morton) the Curtis' son (and Elwood's step-brother), the Russian Mafia, and a militia group. On his new "mission from God" Elwood enlists the help of a young orphan (Bonifant), and a strip-club bartender (Goodman)

Note:
Waktu film ini pertama kali rilis, gue sempet nonton dan gue ngga ngerasa film ini sebagus aslinya. Waktu itu buat gue film ini amat sangat membosankan. Ngga heran kalo gue denger film ini emang flop di pasaran di amrik sana. Cukup aneh sih kalo film ini jadi jelek, karena hampir semua crew adalah muka-muka lama yang bikin film pertamanya meledak tahun 1980 dulu; kecuali John Belushi yang meninggal tahun 1982. Kalo dari sisi cerita sih sama aja ngaco-nya dengan film pertamanya. Semuanya ngga realistis. Apalagi ada adegan bluesmobile yang nyebrang sungai jalan begitu aja menyelam lewat dasar sungai.
Tapi setelah kemaren gue nonton lagi back to back dengan film pertamanya, gue baru ngerti kalo film ini adalah tribute kepada film aslinya. Dan Aykroyd dan John Landis kerja keras banget untuk bikin film tribute ini. Dan mereka berhasil. Kalo pernah enjoy dengan film pertamanya, pastinya akan kenal beberapa dialog dan beberapa adegan yang merupakan homage dari film the Blues Brothers.
Film yang dulu pernah bikin gue bosen, sekarang malah bikin gue terharu. Sepertinya Dan Aykroyd dan John Landis ngga pernah peduli kalo film ini akan flop. Mereka pastinya sadar kalo udah ngga jaman lagi bikin film kebut-kebutan ngaco polisi nguber yang katanya penjahat. Mereka mungkin hanya lebih peduli dengan revival The Blues Brothers. Film ini malah jadi melengkapi dwilogi film The Blues Brothers sekaligus pernyataan bahwa The Blues Brothers itu tak pernah dan tak akan pernah mati.

THE BLUES BROTHERS: They’re Bad, They’re Brothers, and they’re The Blues

ditulis pada tanggal 23 Maret 2008

Title:
The Blues Brothers (1980)

Director:
John Landis

Cast:
John Belushi, Dan Aykroyd, James Brown, Cab Calloway, Ray Charles, Carrie Fisher, Aretha Franklin, Henry Gibson

Plot:
After the release of Jake Blues from prison, he and brother Elwood go to visit the old home where they were raised by nuns. They learn the church stopped its support and will sell the place to the education authority, and the only way to keep the place open is if the $5000 tax on the property is paid within 11 days. The brothers want to help and decide to put their blues band back together and raise the money by staging a big gig. As they set off on their "mission from god" they seem to make more enemies along the way. Will they manage to come up with the money in time?

Note:
Waktu nonton sekali lagi film ini kemaren, sempet heran kalo inget-inget pertama kali gue nonton film ini; koq bisa-bisanya dulu itu ada anak kecil betah nonton film seperti ini? Ngerti blues aja nggak. Apalagi ngerti kalo film ini sebenernya sebuah komedi satir yang dibungkus musikal. Iya sih, waktu gue nonton lagi film ini lebih bertemakan komedi satir dengan perantaraan musik blues yang disampaikan secara iconic oleh Jake dan Elwood Blues. Mungkin anak kecil yang pernah nonton film ini lebih dari 25 tahun yang lalu itu cuma seneng dengan adegan kebut-kebutan yang mirip banget dengan di film-film kartun. Tapi waktu gue tonton lagi, gue lebih bisa ngerti maksud film ini. Apalagi basic film ini diambil dari salah satu bagian acara komedi Saturday Night Live yang banyak becandaan dan parodinya.
Setting-nya yang berkutat di Chicago dan Illinois State bikin gue ngerti kenapa blues yang mereka bawakan agak beda dengan yang biasa gue denger dari Jimi Hendrix. Tapi tetep blues sih, beda aliran dikit aja. Buktinya tetep ada Ray Charles di sana.
Gue jelas suka banget dengan cerita tentang perjuangan mendirikan sebuah band, cerita tentang memperjuangkan musik yang dipahami. Jatuh bangun mereka mengembalikan kejayaan Blues Brothers Band menyatu banget dengan pribadi gue, seperti sekali waktu mereka harus rela jadi band country demi tetep bisa manggung dan dapet uang. Namanya juga akal-akalan. Haluan musik digeser dikit dan sedikit aja. Toh music country ngga jah-jauh amat dari blues. Tapi malah sebenernya keliatan kalo jago untuk banyak genre musik.
Film dengan cerita yang nggak realistis sebenernya menghibur banget, terutama mereka yang ngerti dengan satir dan mereka yang ngerti musik blues. Logika lurus memang musti diabaikan, tapi dengan wawasan yang lebih luas malah bisa dapet menikmati satirnya. Buat gue banget satir komikalnya; kebut-kebutan di tengah-tengah mall yang merusak toko-toko yang menjual barang mewah, pencerahan instan setelah mendengarkan khotbah musical dari seorang pendeta soul, biarawati yang menakutkan, polisi yang terlalu berlebihan dalam penangkapan, dan lain sebagainya. Sekalipun gue belom pernah nonton Saturday Night Live tapi gue menangkap film ini mengejek kemapanan melalui para pendekar blues yang selalu complain kepada kemapanan.
Nonton film ini serasa baca komik superhero. Cuma kali ini superhero-nya adalah superhero musik blues; The Blues Brothers, the Imperfect Superhero. Mobilnya sakti, mereka pun sakti; ngga bisa mati sekalipun apartemen Elwood diledakkan oleh si gadis misterius.
Berdasarkan referensi di film ini, gue sempet kagok waktu musik ska nge-trend di Indonesia. Dandanan penggemar ska mirip banget dengan Blues Brothers. Siapa niru siapa sih? Ternyata dandanan Blues Brothers memang diciptakan baru di Saturday Night Live, bukan merupakan ‘trade mark’ asli musik blues. Bisa aja kan kalo terinspirasi dari ska. Tapi gaya Blues Brothers legendaries banget lah. Gue ‘mengkultuskan’ mereka he he he.

LA BAMBA: The Movie That Makes Me Rock n’ Roll All The Time (My Personal Movie part II)

ditulis pada tanggal 3 Maret 2008

Title:
La Bamba (1987)

Director:
Luis Valdez

Cast:
Lou Diamond Phillips, Esai Morales, Rosanna deSoto, Elizabeth Pena, Danielle von Zerneck, Joe Pantoliano

Plot:
This is the true story Ritchie Valens a young rock & roll singer who tragically died in an air crash at the age of 17. The film follows Ritchie from his days in Paicoma, California where he in and his family makes a meagre living working at plantations to his rise as a star. The film also focuses on Richies friendship and rivalry with his older brother Bob and his relationship with Donna, his girlfriend.

Note:
With the ‘beauty’ of internet, akhirnya gue nonton La Bamba lagi!!!
Rasanya gue mau teriak-teriak histeris waktu liat opening title film ini. Terbang gue ke 21 tahun yang lalu waktu pertama kali liat film ini di video. Bener loh, di video!! Itu pun ngga di rumah, tapi pas lagi numpang nginep di salah satu rumah sodara gue. Film ini cool banget! Rock n’ Roll banget!!
Film ini yang menginspirasikan gue untuk rock n’ roll. Dari nonton filmnya di video bajakan, trus mulai deh dengerin soundtrack-nya yang masih bajakan juga (kan lagu barat di Indonesia dulu itu bajakan semua). Bergema lah soundtrack La Bamba dari kamar gue. Bolak balik ngegitar chords 3 jurus pake gitar bolong. Apalagi waktu itu sempet kursus gitar segala.
Makin seru waktu udah bisa mainin full lagu Come On Let’s Go sampe ke solo gitarnya segala. Wuih! Keren banget! Rasanya udah jadi gitaris rock n’ roll on top of the world! Padahal nyentuh gitar elektrik aja belom pernah!. La Bamba dan Come On Let’s Go jadi lagu wajib latihan gitar.
Ada temen gue berbaik hati mau ‘traktir’ beliin kaset. Waktu itu kaset lagu barat di Indonesia udah mulai legal. Dan sementara budget masih belom cukup untuk beli kaset yang resmi kayak gitu. Gue disuruh milih kaset mana yang mau dibeliin. Gue pilih aja soundtrack La Bamba volume 2. Isinya lagu-lagu yang ada di film tapi ngga dimuat di kaset soundtrack volume 1. Jadilah kaset itu adalah kaset lagu barat legal pertama punya gue. Dan dari kaset itu gue jadi kenal dengan salah satu lagu oldies yang fenomenal dari The Platters: Smoke Gets In Your Eyes.
Setelah nonton lagi, sebenernya film ini ngga istimewa banget dari sisi cerita. Secara keseluruhan ceritanya standar banget; from zero to hero, living an American dream, tragic death of the legend, dsb., etc. Visualisasinya juga standar banget, malah mirip dengan film TV. Tapi gue perhatiin, film ini semacam proyek personal dari sang sutradara: Luiz Valdez. Dari biografinya terdata bahwa Mr. Valdez memang lebih mengangkat tema yang terkait dengan kehidupan masyarakat amerika latin. Dan salah satu ‘pahlawan’ mereka adalah Ricardo Valenzuela a.k.a Ritchie Valens. Film ini pun diproduksi secara ‘gotong royong’. Ada saudara dari Mr. Valdez yang juga megang role salah satu karakter di film ini. Ada beberapa cameo yang diperankan oleh sang sutradara, crew film ini dan bahkan juga tampil ibu dari Ritchie Valens yang asli.
Selain personal, film ini juga sangat emosional. Saat syuting adegan Ritchie Valens menaiki pesawat dalam perjalanan terakhirnya, adik perempuan Ritchie yang kebetulan hadir menangis histeris sambil berteriak: “Mengapa kau naik pesawat itu, Ritchie?” Sampai–sampai Mr. Valdez perlu turun tangan untuk menenangkan.
Sama emosionalnya waktu gue nonton lagi film ini. Gue seperti ikut merasakan semua emosi Ritchie Valens dalam setiap tahap kehidupannya, cintanya dan musiknya. Mungkin karena gue pernah berusaha ngebangun band. Mungkin juga karena gue ngga pernah berhenti rock n’ roll.
Ritchie Valens keburu wafat sebelum Elvis dan The Beatles mendunia. Ritchie Valens dan La Bamba-nya baru benar-benar mendunia dan menjadi immortal sejak tahun 1987. But he was my rock n’ roll hero. And La Bamba is my rock n’ roll anthem.

THE COMMITMENTS: My Personal Movie


ditulis pada tanggal 24 Pebruari 2008
Title:
The Commitments (1991)

Director:
Alan Parker

Cast:
Robert Arkins, Michael Aherne, Angeline Ball, Maria Doyle, Dave Finnegan, Bronagh Galagher, Felim Gormley, Glen Hansard, Dick Massey, Kenneth McCluskey, Johnny Murphy, Andrew Strong.

Plot:
Jimmy Rabbitte, just a tick out of school, gets a brilliant idea: to put a soul band together in Barrytown, his slum home in north Dublin. First he needs musicians and singers: things slowly start to click when he finds three fine-voiced females virtually in his back yard, a lead singer (Deco) at a wedding, and, responding to his ad, an aging trumpet player, Joey "The Lips" Fagan. Song by song, gig by gig, the Commitments start their climb to the top: Dublin gets soul. But internal strife also builds: Deco is insufferable, Joey's a Casanova, and Jimmy may lack the seasoning to hold things together. Will the Commitments slip away?


Note:
Once upon a time in Jakarta….. gue lagi tergila-gila dengan musik-musik tahun 50-an sampai 60-an awal di antara deru musik metal dan grunge yang lagi tren waktu itu. Berawal dari kegilaan menikmati Elvis Presley yang nota bene ngga disukai Nyokap gue (meskipun Beliau masih lebih milih Elvis Presley dari pada Pat Boone) lalu merambah lebih luas lagi, melebar dari rock’n roll ke blues terus ke soul. Banyak banget nambah referensi tentang musik 50-an dan 60-an. Sibuk juga ngegitar sambil dengerin Ritchie Valens, Jerry Lee Lewis dan Little Richard. Sempet juga menikmati Chubby Checker.
Dengan latar belakang ‘cekokan’ musik-musik Rolling Stones, Led Zeppelin dan Deep Purple, mulai gue juga dengerin ke Jimi Hendrix. Makin dalam makin ke ‘akar’ dari Jimi Hendrix; blues. Ngga cuma blues, makin lanjut ke James Brown. Soul dan R&B mulai merasuk, sementara yang ringan-ringan seperti The Temptations, Righteous Brothers dan Ben E. King masih dinikmati juga.
Sambil dengerin musik-musik tadi, sering banget gue cerita-cerita ke Nyokap tentang ‘penemuan’ musik gue. Nyokap ngga kalah, Beliau banyak cerita tentang musik jaman dulu. Beliau besar di masa ‘transisi’ rock’n roll ke 60’s psychedelic. Beliau juga masih inget banget masa kecilnya di mana Nenek gue hobi banget dansa jive diiringi musik rock’n roll. Beliau cerita kalo waktu dia muda dan bikin pesta di rumah, Nenek gue suka protes kalo musiknya ngga bisa dipake dansa.
Di antara cerita-cerita Nyokap gue, ada beberapa Beliau cerita tentang musik-musik yang asyik. Musisinya ada Otis Redding dan Wilson Picket. Salah satu lagu hit yang asyik adalah Mustang Sally.
Nah dalam ‘perburuan’ mencari dan menambah wawasan tentang musik keren jaman dulu, sebagaimana ‘diarahkan’ Nyokap, di salah satu toko kaset gue nemuin kaset yang ada lagu Mustang Sally. Dan yang bikin aneh koq kaset itu adalah musik original soundtrack sebuah film yang berjudul The Commitments. Film apaan tuh, belom pernah denger? Padahal gue juga hobi ngumpulin kaset soundtrack film, yang bikin gue juga kenal rock’n roll dari film La Bamba dan Footloose. Tapi film The Commitments sama sekali asing buat telinga gue.
Waktu pertama kali liat kasetnya, gue ngga langsung beli. Masih aja bolak balik nanya ke Nyokap tentang ‘kesaktian’ lagu Mustang Sally. Akhirnya nekad juga deh gue beli tu kaset yang sampulnya ngga menarik (cuma montage foto yang didominasi warna hitam putih aja). Begitu sampe rumah, gue pasang deh tu kaset dengan volume ada keras. Dan ……. Wow! Mustang Sally bener-bener sakti! Nyokap gue langsung ke kamar gue trus nanyain dapet dari mana kasetnya.
Kaset itu terus-terusan gue putar bolak balik. Sepertinya gue udah lupa dengan Elvis dan The Beatles. Musik di kaset ini bener-bener mantap. Hampir semua suasana ada di situ. Mau yang senang-senang, sedih-sedih dan cinta-cinta ada semua. Sekalipun mereka tidak membawakan musik karya asli mereka sendiri; mereka membawakan hits dari Otis Redding, Sam Cooke dan Wilson Picket. Yang lebih mengagumkan adalah vocal Andrew Strong yang awalnya gue kira adalah orang kulit hitam ternyata kulit putih asli Irlandia.
Dari kaset soundtrack-nya lanjut deh gue penasaran dengan filmnya. Sambil bingung-bingung cari-cari info tentang filmnya, gue juga sibuk ‘promosi’ kaset soundtrack-nya ke temen-temen gue waktu itu. Ada juga sih temen gue yang tertarik dengan 1-2 lagu yang ada di kaset itu.
Temen gue yang punya laser disc player di rumahnya dapet juga film The Commitments di salah satu persewaan. Nontonlah kita beramai-ramai di rumahnya. Wuih!! Rasanya seperti orang lagi haus eh malah disuguhin jus jeruk dingin plus soda! Asyik banget nontonnya. Padahal waktu itu gue belom lancar Bahasa Inggris. Apalagi di film itu aksen Irlandianya kuat banget, jadi tambah ngga ngerti deh. Tapi lewat bahasa visual, gue cukup ngerti jalan ceritanya.
Sekali aja waktu gue nontonnya, tapi cukup membekas di hati. Apalagi saat itu gue juga lagi asyik dengan band esema gue. Bukan founder sih, tapi asyik deh. Dan beberapa tahun kemudian gue jatuh bangun dan jatuh dalam proses band yang belum matang malah munculin perasaan kangen pada The Commitments.
DVD yang marak beberapa tahun terakhir ini bikin gue semangat nyari DVD The Commitments. Eh susah banget deh. Adanya cuma di luar negeri. Mau sih nitip temen gue beliin, tapi ngga enak juga karena udah pernah dibeliin CD soundtrack-nya asli dari luar negeri (di Indonesia ngga pernah ada). Tapi mungkin nanti gue titipin juga ah, collectibles koq.
Berkutat di computer dan internet, akhirnya ketemu jalan untuk mendapatkan film ini. Download! This is the beauty of internet! My long lost movie finally comes. Kali ini lengkap dengan subtitle English-nya. Wow indah banget!
Gue tonton dengan lengkap apalagi gue udah cukup lancar berbahasa Inggris. Semua perasaan campur aduk. Terharu dan sedih paling dominan. Terharu karena akhirnya dapet juga film ini setelah 15 tahun gue cari. Sedihnya karena cerita di film ini mirip cerita gue ngebangun band tahun 95-97 dulu. Mirip banget prosesnya, belum matang tapi sudah mau keluar kandang. Idealisme belom mantap tapi banyak maunya.
Lucunya waktu dulu band gue mau lebih jauh merambah panggung-panggung café, sempet gue tawarin untuk belajar mainin lagu-lagu dari soundtrack The Commitments. Jumlahnya ada 25 lagu (2 volume soundtrack). Argumen gue supaya band kami lebih menghentak dan asyik didengerin kalo di panggung café. 25 lagu ini aja lah dibikin matang dulu. Gue percaya banget kalo kami nguasai 25 lagu ini, acara manggung kami lancar dan pastinya punya ciri jelas. Tapi sayangnya anggota lainnya lebih suka nguasai lagu-lagu yang lagi airplay di radio. Sedih juga, tapi gue jadi sadar kalo emang sebentar lagi band ini akan tamat. Dan akhirnya kejadian juga. Bedanya dengan The Commitments para mantan personilnya masih berkarya di musik, sedangkan mantan personil band gue udah ngga ada yang main musik lagi.
Nonton film ini lagi bikin gue seperti balik lagi ke 15 tahun yang lalu dan 10 tahun yang lalu. Gue bisa nyanyi-nyanyi sendiri sambil nonton film ini. Pastinya ikutan gemes dengan konflik-konflik yang ada dalam film ini. Gue ikut merasa kehilangan waktu The Commitments bubar di ‘puncak’ karirnya. Gue pernah merasakan rasa kehilangan yang sama waktu band gue bubar waktu itu. Persis sama kejadiannya; ngga pernah ada kata ‘bubar’ yang terucap.
Soundtrack film ini ngga pernah ‘jauh’ dari gue. Mulai dari kasetnya, terus jadi mp3-nya, punya CD-nya. Dan sampe sekarang bersemayam di ponsel musik gue. Musik The Commitments selalu ada dekat gue, kapan pun di mana pun.
Film-film musik dengan tema yang hampir sama ada beberapa yang pernah gue tonton, seperti La Bamba, That Thing You Do dan Rockstar. Tapi The Commitments terasa dekat banget dengan gue, apalagi setelah banyak kejadian yang gue alami setelah pertama kali menontonnya 15 tahun yang lalu. This is my personal movie.

HAIRSPRAY: The Original and Dark One.

ditulis pada tanggal 17 Pebruari 2008

Title:
Hairspray (1988)

Director:
John Waters

Cast:
Rickie Lake, Michael St. Gerard, Divine, Jerry Stiller, Debbie Harry

Plot:
'Pleasantly Plump' teenager Tracy Turnblad achieves her dream of becoming a regular on the Corny Collins Dance Show. Now a teen hero, she starts using her fame to speak out for the causes she believes in, most of all integration. In doing so, she earns the wrath of the show's former star, Amber Von Tussle, as well as Amber's manipulative, pro-segregation parents. The rivalry comes to a head as Amber and Tracy vie for the title of Miss Auto Show 1963.

Note:
This is one of my long lost movies! Akhirnya dapet juga berkat ‘perjuangan’ donlod setelah sekian lama mencari dan menanti. Gue semakin semangat mencari dan menanti setelah nonton versi 2007-nya.
Waktu mulai nonton film ini tadi gue merasa seolah-olah terbang balik ke jaman 20 tahun yang lalu, waktu gue ‘menemukan’ film ini ditayangkan di televisi. Gue lupa di channel TV mana film ini dulu gue tonton. Seinget gue sih di channel TV nasional terbesar di Indonesia. Seinget gue sih waktu itu belom musimnya nonton channel TV swasta karena cuma ada satu dan pake decoder ala TV kabel.
Seinget gue waktu itu malem-malem ngga sengaja lagi nongkrong di depan TV (dari kecil gue emang maniak nonton TV) liat film ini. Eh filmnya tentang taun 60-an dan musik rock’n roll, asyik banget nih! Tahun 80-an akhir itu jamannya gue lagi menggilai musik rock’n roll 50-an dan 60-an. Semua itu terdorong dari film La Bamba dan Footloose (padahal waktu itu belom nonton Footloose). Hairspray dari awal udah rock’n roll banget. Betah gue waktu itu nonton sampe habis. Sejak itu film Hairspray selalu masuk dalam kenangan gue akan satu masa dalam hidup gue. Apalagi dengan latar musikalnya yang selalu gue sejajarin dengan La Bamba, Footloose, Dirty Dancing dan Street of Fire.
Tahun 2007 gue nonton Hairspray versi barunya. Versi 2007 lebih musikal daripada aslinya. Ternyata versi 2007 ini diadaptasi dari versi 1988 dan versi musikal Broadway-nya. Waktu itu gue juga baru tau kalo Hairspray ada versi adaptasi Broadway-nya. Versi 2007 bagus banget. Gue suka dengan musikalnya. Tapi segera setelah selesai nonton versi 2007, gue langsung kangen dengan versi orisinilnya. Gue merasa harus nonton lagi versi orisinilnya. Sekalipun bagus, tetap aja gue merasa ada yang hilang dalam versi 2007-nya. Kerinduan akan versi orisinilnya semakin menjadi.
Thanks to internet! Sebelom dapet link donlod film ini, gue banyak liat-liat di internet khususnya di imdb.com dan forum movie kaskus. Terutama baca-baca di imdb jadi bikin gue makin kangen. Dari situ juga gue tau kalo versi orisinil adalah karya dari John Waters yang dikenal dengan dark comedy satire-nya. Oh ini dia sesuatu yang hilang dalam versi 2007-nya; dark satire-nya!
Sempet juga longok-longok di youtube.com. Ada aja yang iseng uplod film ini dibagi dalam beberapa bagian. Sempet gue liat beberapa bagian. Makin jelas kalo film ini cukup kuat dalam satire-nya.
Baru aja selesai gue tonton full. Nuansa tahun 60-an awal kental banget. Gue sampe berasa di jaman yang sama. Padahal negaranya aja beda jauh! John Water yang emang besar di Baltimore, dapet banget nuangin nuansa tahun 60-an dalam film ini. Setting acara televisi Corny Collins Show yang masih sederhana dengan kamera-kamera ‘raksasa’nya. Padahal untuk tahun segitu udah paling mewah untuk tayang di televisi.
Setiap gerakan dansa bener-bener divisualisasikan dan diperkenalkan dengan baik, sehingga gue masuk dan memahami kultur budaya Baltimore tahun segitu. Semuanya memotret realita yang terjadi di Baltimore dan Amerika pada umumnya. Kultur kulit putih masih mendominasi. Kulit hitam masih jadi minoritas total. John Waters mengangkat ‘ketengilan’ kaum kulit putih (dan penguasa pada waktu itu) lewat sasakan rambut yang dilebih-lebihkan (liat sasakan rambut Mrs. Von Tussle), pemakaian hairspray (baca: kosmetik) yang berlebihan sementara para pelakunya tidak punya rasa kemanusiaan.
Minoritas kulit hitam digambarkan begitu suram. Dalam sekolah disisihkan dan lalu disamakan dengan siswa kulit putih yang bermasalah. Kulit hitam tinggal terpisah dan jauh di selatan Baltimore. Namun dalam musik rock’n roll, kulit hitam lebih maju dan optimis. Dalam rock’n roll mereka terus bersemangat memperjuangkan persamaan hal. Terbukti dalam acara Corny Collins Show yang didominasi lagu-lagu hits dari penyanyi dan grup musik kulit hitam. Lagu-lagi dari Chubby Checker lebih dari 3 buah tampil dalam film ini. Dalam kesuraman minoritas ada optimisme perjuangan kulit hitam di sana.
Film ini juga mengangkat generation gap yang divisualisasi dari hubungan Tracy dengan orang tuanya. Revolusi dan perubahan jaman juga diangkat dalam pertemuan Tracy cs dengan The Beatniks. Dari situlah akhirnya rambut Tracy dan Penny lepas dari sasakan, lepas dari hairspray, lepas dari kosmetik. Dalam film ini, Tracy cs ‘mengantarkan’ Amerika ke tahun 60-an, masuk ke dalam masa yang lebih bebas, lebih jujur dan lebih manusiawi.
Banyak yang lebih suka versi 2007-nya. Ngga apa-apa, namanya juga selera boleh beda-beda. Tapi versi orisinil di mana pun lebih unggul dalam segi orisinalitas. Mungkin saja versi remake bisa lebih bagus. Tapi kita perlu ingat bahwa sisi yang memungkinkan versi remake bisa lebih bagus adalah versi orisinil yang memang sudah bagus.
Gue sih ngga mau ngebandingin dengan versi remake-nya. Tapi gue jauh lebih suka dengan versi orisinilnya. Message-nya sampai. Ngga cuma cerita ‘from zero to hero’ tapi juga ‘from the darkness into the light’.

KALA

ditulis pada tanggal 23 April 2007

Judul:
Kala

Sutradara:
Joko Anwar

Cast:
Fachri Albar, Ario Bayu, Fahrani, Shanty, August Melaz

Plot:
Negara yang rakyatnya sudah jadi kacau dan brutal, jelas bikin pusing penegak hukum yang taat seperti Eros. Dalam kapasitasnya sebagai detektif polisi, Eros selalu ingin meredam chaos dan menuntaskan misteri motif pembakaran orang2 yang diduga sebagai pencopet. Sedangkan Janus, wartawan yang narkoleptik, berusaha mempertahankan istrinya, pekerjaannya dan hidupnya dengan melakukan investigasi kasus pembakaran tersebut. Namun ternyata di belakang semua itu ada misteri yang lebih besar, misteri yang terkait dengan kehidupan banyak orang.

Note:
Nih filem balik modal kagak yak?! Gue nonton hari Minggu di Puri 21 jam 17.20. Anjis! Cuman bertiga ajah satu studio 4 itu; gue, istri gue dan 1 orang lainnya (jangan2 kaskuser fovie tuh, betah lo seorang itu sampe film selese; hayo kaskuser ngaku!!). Tapi malah asyik. Yang seorang itu duduk di sekitar row C ato D. Gue berdua istri (masa iya misah!) duduk di row G deket alley. Dugaan gue (dan tepat terjadi) film ini bakal diputer dengan screen lebih kecil dari layar normal. Udah deh berasa nonton di rumah sendiri; duduk di tengah, komen santai ngga ngeganggu yang lain dan jelas tidak terganggu yang lain (ngga tau juga sih kalo ada makhluk halus di studio 4 situ yang terganggu dengan komen2 gue :D).
Sempet nahan ngantuk waktu nonton paruh pertama film itu, selain karena emang gue abis begadang sampe jam 2 pagi sebelomnya, film ini juga cenderung lambat meskipun ada beberapa suspense di beberapa scene. Apalagi kalo lagi scene malam, pasti plus ujan. Noir banget. Tapi seringnya bikin gue makin kedinginan dan ngantuk.
Begitu mulai nyandak dengan alur ceritanya, baru deh gue ‘seger’ dan antusias ngikutinnya. Dan memang sip!!
Dari keseluruhan, film ini sebenernya ngga noir. Film ini cuma style-nya aja yang ngambil dari film2 noir; cenderung gelap, busana yang American 30’s style, setting waktu yang antah berantah. Meskipun ada 1 unsur film noir yang masih jelas; violence yang lumayan vulgar.
Kalo dari sisi cerita, menurut gue ini lebih ke comic fantasy. Sepertinya Joko Anwar berusaha mengetengahkan comic fantasy dengan cerita thriller yang ‘dibumikan’ dengan mitos yang ada di Indonesia. Yang gue tau, comic di dunia barat sana ada sebagian yang memang ceritanya membumi dengan kondisi masyarakatnya, seperti comic terbitan Vertigo anak perusahaan DC. Dalam film ini, ceritanya seperti dalam terbitan Vertigo tapi lebih dibumikan lagi dengan mitos yang ada di Indonesia. Sebenernya cerita di film ini Indonesia banget.
Film ini punya cara bertutur yang cerdas. Setelah pada paruh pertama gue hampir terjebak bahwa gue sedang nonton film horor, setelah itu gue selalu dibikin penasaran dengan akhir cerita film ini. Semua tokoh yang muncul, baik itu main character maupun supporting character, semuanya punya peran yang tidak hanya numpang lewat. Semua karakter yang muncul justru harus diperhatikan, karena akan memberikan keterangan yang menjadikan gambaran keseluruhan cerita menjadi jelas.
Selamat dan sukses untuk Joko Anwar. Saya penggemar anda.
Selamat untuk MD Entertaintment, mudah2an ngga rugi.
Selamat untuk 21, mudah2an anda diberikan hidayah.

Furyô anego den: Inoshika Ochô

ditulis pada tanggal 20 April 2007

Judul:
Sex and Fury
(Furyô anego den: Inoshika Ochô) 1973

Sutradara:
Norifumi Suzuki

Cast:
Reiko Ike

Plot:
Reiko Ike stars as Ocho, a gambler and pickpocket in Meiji Era Tokyo. After sheltering a fleeing anarchist, Ocho runs into the three gangsters responsible for her father's murder, and runs afoul of various yakuza who want her dead. A European spy, played by Christina Lindberg, arrives on the scene and complicates matters.

Note:
Gue nonton film ini hasil donlod di kaskus. Gue penasaran karena menurut uploader-nya tokoh heroine di film ini menginspirasikan Quentin Tarantino bikin heroine di Kill Bill.
Buru2 deh setelah sukses donlod gue tonton malemnya di rumah.
Film rilisan taun 1973 kayaknya udah di-remastered, jadi gambarnya jernih dan lengkap subs English-nya. Enak nontonnya.
Secara general film ini stylish banget meskipun kalo dari sisi cerita masuk ke kategori sexploitation/pinkviolence (kelas B) meskipun ceritanya masih lebih complicated daripada film2nya Seagal. Plot cerita standar film2 revenge action kayak film2 kungfu sejamannya.
Gue suka banget dengan visualisasinya, apalagi waktu fighting scene Ocho versus orang2 di rumah judi. Jauh lebih stylish dibanding film2 kungfu hongkong pada era yang sama.
Jepang memang termasuk avant garde dalam visual film, meskipun ‘hanya’ untuk film genre sexploitation semacam ini.

ON HER MAJESTY'S SECRET SERVICE

ditulis pada tanggal 11 Maret 2007

Title:
Ian Fleming’s On Her Majesty’s Secret Service

Director:
John Glen

Cast:
George Lazenby, Diana Rigg, Bernard Lee

Plot:
The most emotional adventure of his career begins for James Bond on a deserted beach where a young woman tries to drown herself. He rescues the girl and for his trouble is attacked by two toughs - the girl's bodyguards. It soon becomes much bigger for 007 - the girl is Teresa Draco, daughter of crime boss Marc Ange Draco, who wants James to marry his wayward daughter, and in return he can provide 007 with information on an even more dangerous criminal leader - Ernst Stavro Bloefeld of SPECTRE. But both James and Teresa find more than they ever bargained for when their paths collide in a vicious pursuit in the snow-capped mountains of Switzerland, an enormous avalanche, and a smuggling ring for germ warfare against the West by Blofeld, who proves most difficult to kill and who exacts a revenge that James can never forget - or forgive.

Note:
Waktu dulu lagi siap2 mau nonton Ian Fleming’s Casino Royale, gue sering2 baca review film2 James Bond yang terdahulu. Dari semua film James Bond yang pernah dibuat, film ini punya fenomena unik tersendiri. Film ini satu2nya James Bond yang diperankan hanya 1 kali oleh George Lazenby sebagai penerus Sean Connery. Film ini juga sebagai film Bond yang durasinya paling panjang sebelum akhirnya ‘dikalahkan’ oleh Casino Royale.
Dulu banget waktu gue masih usia belasan pernah nonton film ini tapi ngga terlalu minat banget. Waktu itu image James Bond yang melekat di kepala gue ‘dipegang’ banget oleh Mr.Moore. Menurut gue waktu itu Lazenby’s Bond beda banget dan jelek banget dibanding Moore’s Bond. Sekalipun Mr.Moore sebenernya yang diinginkan oleh Mr.Fleming untuk menjadi Bond pertama kali, tapi gue baru tau belakangan bahwa sebenernya karakter Lazenby’s Bond paling deket dengan yang digambarkan di novelnya (tapi gue belom baca novelnya).
Dari review yang gue baca, setelah nonton Casino Royale, gue jadi kepingin banget nonton film On Her Majesty’s Secret Service ini. Dan sekarang baru kesampaian, ripped DVD punya temen kantor. Susye mo beli DVD film ini di Mangdu secara satuan, ngga ada stok. Adanya yang termasuk dalam boxset 007 yang baru rilis.
Menurut yang udah pernah baca novelnya, film ini paling setia dengan novelnya. Mungkin itu juga yang menyebabkan film ini punya durasi yang cukup panjang.
Setelah gue tonton kemaren, gue merasa semestinya karakter Bond di film ini adalah kelanjutan Craig’s Bond; tetep jago bare knuckle fight, ngga banyak tergantung gadget, sudah ngga terlalu raw, semakin womanizer meskipun ngga selalu tebar pesona, bisa beneran jatuh cinta. Buat gue, dibanding Lazenby, Mr.Connery (yang dianggap orang banyak sebagai Bond tebaik) masih terlihat lebih flamboyan dan lebih tebar pesona (apalagi Moore’s Bond).
Film Bond yang ini terasa beda, sepertinya ngga terlalu ngikutin pakem film2 Bond yang lain. Tapi buat gue justru di situ uniknya. Lebih drama ketimbang action. Emosi seorang secret service tetep terlihat manusiawi. Gue suka banget chemistry Mr.Bond – Ms.Moneypenny di film ini. Hubungan antar personil di kantor M (M – Bond – Moneypenny – Q) terasa manusiawi, ngga sekedar hubungan kerja secret agent yang biasanya ditampilkan militeristik. Satu2nya film Bond di mana Q pernah manggil Bond dengan sebutan ‘James’.
Dari sisi acting Lazenby masih kalah dengan pemeran Bond lainnya, tapi penokohan Bond yang diperaninya buat gue cukup ‘masuk’, terutama setelah gue nonton Casino Royale. Gue suka dengan film Bond ini setelah Casino Royale dan Dr.No.

PLEASANTVILLE

ditulis pada tanggal 6 Pebruari 2007

Title:
Pleasantville (1998)

Written, Produced and Directed by Gary Ross

Cast:
William H. Macy, Tobey Maguire, Joan Allen, Jeff Daniels, Reese Witherspoon

Plot
David, single, lonely and not happy with his life, flees reality by watching Pleasantville - a 1950's b&w soap opera, where everything is just...pleasant. His sister Jennifer, sexually far more active than her brother, gets in a fight with him about a very strange remote control - given to them just seconds after the TV broke by an equally strange repair man - and they suddenly find themselves in Pleasantville, as Bud and Mary-Sue Parker, completely assimilated and therefore black and white, in clothes a little different and with new parents...pleasant ones. David wants to get out of the situation as well as his sister, but whereas he tries to blend in (effortlessly, with his knowledge), she does what she likes to do. One event leads to the other, and suddenly there is a red rose growing in Pleasantville. The more rules are broken, the more colorful life gets in Pleasantville, USA.

Note
Akhirnya ketonton juga nih film. Setelah melalui ‘perburuan’ panjang atas film ini, akhirnya dapet juga di M2M (bajakan sih) bulan lalu. Barusan nonton bareng istri gue.
Begitu David dan kakaknya ‘masuk’ Plesantville dan mulai ada reaksi atas munculnya warna warni di sana, gue langsung teringat FPI! :D Iya, FPI dan beberapa ormas Islam lainnya (katanya sih Islam!) yang kepingin dunia ini dalam ‘warna’ yang sama dengan dunia mereka. :(
Padahal manusia dan kehidupannya penuh dengan ‘warna’. Hal ini bagus banget divisualisasikan dan disampaikan di film ini.
Tagline-nya Pleasantville jelas bagus banget: Nothing is Simple as Black and White.
Film ini well recommended.

PS:
Sayang sekali Almahum Bokap gue belom sempet nonton film ini.
Gue pingin banget tau comment beliau atas film ini.
I miss You so much, Dad