tag:
Showing posts with label Movies. Show all posts
Showing posts with label Movies. Show all posts

06 January 2012

The Raid: Ini Film Aksi, Ini Film Aksi Indonesia!


Judul:
The Raid

Produser:
Nathaniel Bolotin, Todd Brown, Rangga Maya Barack Evans, Irwan D Musry, Ario Sagantoro

Sutradara:
Gareth H Evans

Penulis:
Gareth H Evans

Pemeran:
Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian

Plot:
Pasukan khusus tiba di sebuah blok apartemen yang tidak terurus dengan misi menangkap pemiliknya, raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digrebeg oleh polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak terjangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman.

Mulai bertindak di pagi buta, pasukan tersebut diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai Tama, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, Tama menginstruksikan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar.

Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, pasukan itu harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.


Catatan:
Di antara kita pasti ada yang pernah nonton film komedi romantis di bioskop sambil rame-rame nyebut “ooowwwhhh!” pas adegan romantik unyu-nya. Hal yang ‘hampir sama’ terjadi saat nonton The Raid di layar lebar, sebagian besar penonton rame-rame nyebut (teriak) “ wuanjengggg!” Haha! Film yang sempat mau dikasi judul ‘Serbuan Maut’ untuk edaran domestiknya ini memang menyodorkan adegan-adegan aksi yang bikin penontonnya menyumpah nyampah saking serunya!

Gue pernah nonton The Fighter dan Warrior yang menyajikan pertarungan aksi bela diri yang sangat memancang penonton hingga terbawa layaknya menyaksikan pertarungan secara live. Namun The Raid mampu lebih membuat mata penonton melotot (atau malah menutup mata karena ngeri??) menyaksikan aksi bela diri yang nyaris tanpa jeda.

Berbeda dengan yang pernah disuguhkan Gareth Evans dalam Merantau (2009), film yang premiere di Toronto International Film Festival ini meramu semua jenis pertarungan dan perkelahian, sekaligus juga menyuguhkan pertempuran senjata api. Memang masih mengedepankan aksi tarung bela diri, namun kali ini lebih bebas menggunakan senjata tajam (bahkan apa pun!) dan jauh lebih lebih brutal daripada yang pernah diperlihatkan dalam film Merantau.

Penyuka film-film genre aksi pasti sudah hafal dengan semua gaya film-film sejenis yang pernah ada dari seluruh dunia. Film aksi produksi Amerika tentunya berbeda gaya dengan produksi Eropa. Film-film aksi produksi Asia, khususnya Hong Kong, biasanya paling mengemuka karena unsur bela diri yang kental dan selalu tampak nyata di layar lebar. Nah kita bakal menemukan gabungan dari semua gaya film aksi dalam film The Raid; aksi penyerbuan bersenjata yang sangat terasa Amerika/Eropa dilanjut dengan aksi tarung bela diri Asia. Gabungan massive ini menghasilkan adegan-adegan aksi yang sangat sangat ‘mengerikan’!

Latar belakang seorang Gareth Evans yang kelahiran Wales – Inggris namun dengan kesukaan menyaksikan film-film aksi produksi Hong Kong sejak kanak-kanak mungkin bisa sedikit menjelaskan formula aksi yang disajikan dalam The Raid. Koreografi dan sinematografi adegan aksi yang disusun Gareth bersama Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais selama enam bulan sebelum shooting resmi dimulai menghasilkan adegan-adegan aksi yang tervisualisasi dengan prima.

Di antara ‘jualan’ aksi yang mampu membuat penontonnya terengah-engah, The Raid sedikit kedodoran dari segi cerita. Kisah drama yang mestinya menjadi benang merah cerita akhirnya hanya sebatas menjelaskan hubungan antar karakter utama dan menyelipkan twist cerita yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan (meski juga tidak mudah tertebak). Formula cerita yang disuguhkan dalam film ini pun adalah formula yang sudah umum dalam film-film bergenre sejenis; jagoan bersahaja, penyerbuan, jebakan, tangan kanan bos penjahat yang sulit dikalahkan, twist cerita, kebenaran/kebaikan tetap menang. Boleh-boleh aja koq. Dan Gareth sudah memilih untuk ‘jualan’ segi aksinya.

Performa para aktor dalam The Raid mungkin boleh dibagi dalam dua kategori; kategori peran karakter dan peran aksi. Untuk peran aksi sangat-sangat mantap disuguhkan oleh Iko Uwais (Rama) dan Donny Alamsyah (Andi). Joe Taslim (Jaka) yang tampil sebagai komandan pasukan juga bisa tampil ganas dengan banyak improvisasi dari dasar ilmu bela diri Judo yang dikuasainya. Tapi titel juaranya juara aksi harus disematkan kepada Yayan Ruhiyan yang berperan sebagai Mad Dog yang dingin, agak dungu, namun super ganas. Saran gue, jangan sekali-sekali tutup mata anda saat menyaksikan adegan ‘threesome’ Mad Dog bersama Andi dan Rama!

Henky Solaiman selalu mampu mencuri perhatian meski di sini hanya tampil sebentar sebagai ayah yang kuatir akan keselamatan anak laki-lakinya. Namun penonton bakal terbius dengan penampilan Ray Sahetapy yang berperan sebagai Tama, karakter bos Mafia lokal yang sangat santai namun dingin dan keji. Tampil berkolor sambil makan mi instan dalam adegan menghadapi penyusup-penyusup yang tertangkap, Ray Sahetapy mampu bikin gue merinding karena tampilannya yang ‘membumi’ itu yang mungkin saja merupakan representasi/karakterisasi bos kriminal lokal beneran!

Sekali lagi Gareth Evans menyudahi filmnya dengan ending ‘terbuka’. Meski kedodoran dari segi cerita, satu hal yang dapat diperoleh dari cerita The Raid adalah bahwa dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang murni hitam putih. Semuanya selalu abu-abu.

27 November 2011

Sang Penari


Judul:
Sang Penari

Sutradara:
Ifa Isfansyah

Skenario:
Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

Produser:
Shanty Harmayn

Para Pemeran:
Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, Hendro Djarot, Yayu Unru, Arswendi Nasution, Zainal Abidin Domba


Plot:
Sebuah cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Jawa Tengah pada pertengahan 1960-an. Rasus, seorang tentara muda, menyusuri kampung halamannya, mencari cintanya yang hilang: Srintil.

Ketika keduanya masih sangat muda dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk, sesuatu menghalangi cinta mereka. Kemampuan menari Srintil yang magis membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng.

Ketika Srintil menyiapkan diri untuk tugasnya, ia menyadari bahwa menjadi ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia merasa cintanya dirampas dan dalam keputusasaan ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi tentara.

Zaman bergerak. Rasus harus memilih: loyal kepada negara atau cintanya kepada Srintil. Ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Pencariannya tidak mudah dan baru membuahkan hasil sepuluh tahun kemudian.


Catatan:
Film ini sebenarnya berkisah tentang percintaan yang sederhana dari Rasus (Oka antara) dengan Srintil (Prisia Nasution), dua anak Dukuh Paruk (dukuh lebih kecil dan lebih terpencil dibandingkan desa) yang terbentur dengan adat ronggeng yang umum di kawasan Banyumas dan dilatari masa gejolak politik runtuhnya Orde Lama dan awal berkuasanya rezim Orde Baru di Indonesia. Kisah cinta yang mestinya sederhana itu menjadi rumit ketika Srintil kukuh ingin berdharma bhakti, sekaligus berusaha menebus dosa orang tuanya, dengan menjadi ronggeng yang dipercaya akan mengembalikan pamor Dukuh Paruk yang telah lama tidak memiliki ronggeng sejak kematian Surti.

Rasus menentang keinginan Srintil jadi ronggeng terutama karena ronggeng harus melalui ritual “Buka Kelambu” dan menyerahkan keperawanannya kepada penawar dengan ‘harga’ tertinggi. Tak ada lelaki waras yang merelakan kekasihnya menjadi milik banyak lelaki lain. Namun secara tidak langsung Rasus juga menentang kemapanan adat ronggeng di dukuh kelahirannya.

Dalam kisah ini diperlihatkan betapa penguasa, diwakili karakter Kartareja Sang Dukun Ronggeng (Slamet Rahardjo), selalu memiliki tendensi korup memanfaatkan kekuasaannya, meremehkan orang kecil, dan berani memanipulasi keputusan hanya karena dukungan materi. Ritual sesembahan dan sesajen penghormatan kepada makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk, hanya menjadi alat berdalih di hadapan masyarakat dukuh yang polos lugu.

Kartareja, dengan didukung penuh Nyai Kartareja (Dewi Irawan), mengeksploitasi habis-habisan Srintil sebagai ronggeng baru sejak malam “Buka Kelambu”. Pasangan suami-istri paling terhormat di dukuh gersang itu malah melorotkan adat ronggeng yang semestinya mengangkat harkat masyarakat dukuh menjadi mendekati pelacuran terselubung.

Saya mendengar ada penolakan oleh masyarakat ronggeng Banyumas atas penggambaran ronggeng yang nyaris mirip pelacuran tersebut. Menurut mereka tidak ada adat ronggeng yang seperti itu. Saya bukan pengamat antropologi masyarakat Banyumas, dan Dukuh Paruk sendiri adalah lokasi fiktif rekaan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang menginpirasi film ini, menurut saya bisa jadi tidak ada klaim kebenaran yang sah mengenai ritual “Buka Kelambu” bagi ronggeng baru dan seterusnya.

Tetapi saya melihat pada dasarnya ronggeng adalah adat istiadat yang mulia. Seperti yang disampaikan bahwa ronggeng adalah perempuan dengan kasta tertinggi dalam masyarakat Dukuh. Proses penyerahan keperawanannya, ritual “Buka Kelambu”, yang dirayakan dengan upacara sakral. Setiap laki-laki yang dipilih oleh ronggeng untuk menidurinya seperti menjadi gengsi tersendiri. Bahkan istri dari lelaki yang beruntung itu merasa bersyukur suaminya terpilih meniduri Sang Ronggeng.

Penggambaran tersebut mengingatkan saya kepada cerita ritual persetubuhan penganut paganisme yang disinggung dalam novel kontroversial The Da Vinci Code karya Dan Brown. Saya melihat kesamaan antara ritual yang dipercaya mampu membawa pelakunya ‘mengintip’ surga itu dengan ritual persetubuhan ronggeng dengan laki-laki yang dipilihnya. Justru karena distorsi pemahaman ajaran agama yang akhirnya malah menabukan seksualitas manusia dan juga karena eksploitasi penguasa korup yang memuja syahwat, maka pelan tapi pasti hilanglah anggapan kesucian ritual yang dulu dianggap sebagai salah satu cara sakral untuk mendekatkan manusia kepada penciptanya.

Akting yang digelar natural mampu membuat saya berdecak kagum dan tersenyum-senyum. Semua latar kesukuan tiap-tiap pemerannya tidak tampak di layar. Akting Oka Antara cukup menonjol dan berkembang sebagai Rasus, lelaki kampung yang polos dan lugu, hingga menjadi dewasa, berani dan tegar. Dewi Irawan mampu menghidupkan karakter Nyai Kartareja sebagai penguasa dukuh second in command yang munafik, korup, manipulatif dan keji.

Prisia Nasution tampil rapi sebagai Srintil, nyaris tanpa cela. Dalam film panjang layar lebar pertamanya ini, Prisia cukup meyakinkan tampil sebagai perempuan lugu, bodoh, sederhana yang tumbuh dalam lingkungan dukuh terpencil di Banyumas. Sedangkan Tio Pakusadewo tetap tampil ciamik, seperti sedang mengukuhkan levelnya sebagai aktor yang selalu diperhitungkan penampilannya.

Akting Hendro Djarot sebagai Sakum, pemain kendang tua dan buta, cukup mencuri perhatian. Sakum yang hanya sebagai pendukung ronggeng, justru mendapat posisi penting bagi Srintil saat ronggeng baru itu sedang gelisah. Lukman Sardi yang memerankan Bakar, kali ini nyaris tampil tanpa greget; entah karena Lukman Sardi sudah mulai kehilangan karismanya, atau mungkin hanya karena ayah beranak satu ini kali ini tampil dengan peran karakter yang kurang kuat dan ‘terkepung’ oleh aktor-aktor yang tampil prima.

Kala film lain berusaha mengetengahkan sinematografi yang berisi, justru film ini menyampaikan sinematografi yang hampa. Jangan salah, bukan berarti film ini menampilkan gambar yang tidak menyampaikan apa-apa. Tetapi dalam sinematografi yang ciamik, bahkan Dukuh Paruk tampak terlalu hijau menurut Ahmad Tohari, gambar-gambar dalam film ini mampu membuat saya merasakan kehampaan sesuai dengan yang seharusnya diceritakan.

Peristiwa sejarah pergolakan politik Indonesia tahun 1965 yang melatari kisah film ini selalu menarik perhatian saya. Buat saya, masa-masa itu masih menjadi masa yang kelam dan penuh misteri. Cerita-cerita pemberantasan PKI dan simpatisannya yang saya peroleh dari banyak sumber, membuat saya menahan tangis saat menyaksikan Srintil berangkat berkereta menembus ladang tebu. Adegan yang didukung dengan gambar yang indah itu membuat saya seperti menyaksikan simbolisme penyerahan total Srintil berdharma bhakti kepada dukuhnya.

Dan Rasus pun menjadi dewasa dan mengikhlaskan Srintil meronggeng. Akhir yang mengharukan sekaligus membebaskan.

23 November 2011

Penutupan iNAFFF 2011 Jakarta



Semua yang punya awal, pasti punya akhir. Sepuluh hari setelah dibuka pada tanggal ‘keramat’ 11-11-2011, Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2011 ‘edisi’ Jakarta sampai pada akhir gelarannya. Iya bener, ini akhir iNAFFF 2011 edisi Jakarta karena festival film genre fantastik tahunan satu-satunya di Asia Tenggara ini bakal dilanjutkan ke Bandung mulai 25 November ini selama tiga hari selanjutnya.

antrean

Joe Taslim & Ray Sahetapy dari kejauhan

Tapi closing kali ini menjadi paling menarik sepanjang lima tahun iNAFFF digelar karena dalam seremoni yang dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ibu Mari Elka Pangestu, juga mengumumkan pemenang Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) vol.1 yang diraih oleh film Taksi dengan ‘Special Mention’ kepada film Rumah Babi yang disampaikan langsung oleh penggagas FISFiC, Sheila Timothy, Joko Anwar, Ekky Imanjaya, Gareth Huw Evans, dan The Mo Brothers. Dan seremoni yang dipadati ratusan undangan dan penggemar di dalam Auditorium terbesar Blitzmegaplex Grand Indonesia Jakarta dipuncaki dengan pemutaran film fenomenal The Raid, besutan Gareth Huw Evans (Merantau), setelah dibuka dengan foreword singkat dari sang sutradara yang juga menyelipkan pengumuman perilisan segera DVD Merantau Ultimate Edition produksi Jive Collection.



Film The Raid hadir tidak hanya sekedar menjadi film penutup iNAFFF 2011 tetapi juga menjadi pemuncak festival yang digagas dengan niat baik menyajikan film-film genre fantastik berkualitas bagi penggemarnya di tanah air. Film yang baru akan rilis nasional pada awal 2012 menjadi film yang membuat closing iNAFFF tahun ini menjadi seremoni yang tidak mudah dilupakan. Seusai pemutarannya, The Raid mendapat standing ovation dari hadirin. Dan malam pun masih tetap muda bagi para penggemar yang bertahan untuk sekedar bercengkrama dengan para pemeran film The Raid dan para penggiat film Indonesia lainnya.

Long Live iNAFFF!


the aftermath
























20 November 2011

FISFiC 2011 akhirnya rilis!

Antrean di depan Audi

Proyek pembibitan sineas muda khusus di genre fantastik (horor/thriller/action/fantasy) ini akhirnya dirilis hasilnya! Keenam film pendek yang telah diumumkan pada tanggal 1 Agustus 2011 lalu telah bisa dilihat hasilnya di layar lebar. Rilisnya pun tetap pada ‘induk’nya, premier pada tanggal 14 November 2011, yaitu di dalam Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2011.

Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) ini sudah digadang-gadang sejak setahun yang lalu, tepat saat iNAFFF 2010 digelar. Dengan niat yang nyambung banget dengan iNAFFF yang kepingin memberikan penonton Indonesia film-film bergenre fantastik yang bermutu, FISFiC berusaha menyaring calon-calon sineas muda khusus di genre fantastik supaya mendapat kesempatan berkarya dan karyanya nanti mampu menggusur film-film horor sampah yang masih rajin mengisi layar-layar bioskop di Indonesia.

Film yang masing-masing dibuat dengan budget murah dan disyuting dalam waktu lebih kurang 3 hari ini tidaklah tampil murahan dan asal-asalan. Di antara filmmaker mudah yang terpilih ada tim yang pernah membuat film pendek genre thriller. Ada pula sutradara yang sudah beberapa kali menjadi penulis skenario film-film thriller layar lebar Indonesia.

trailer FISFiC 6 vol.1


Cerita yang disuguhkan oleh keenam film yang gabungannya disebut sebagai FISFiC 6 vol.1 ini sungguh seragam; ada zombie dengan latar zaman pendudukan Jepang di Indonesia, ada makhluk jadi-jadian pas malam terang bulan, ada makhluk pemakan otak manusia, ada juga yang makhluk halus beneran. Kalo ada efek khusus yang masih kedodoran, mungkin karena terbentur budget. Tapi bisa juga karena kurang lihai mengakali eksekusinya dengan budget yang ada. Namanya juga masih pemula, harap maklum.

Rumah Babi mendapatkan sambutan yang paling meriah. Film ini digarap dengan cukup rapih dengan penuturan yang menarik plus dengan twist yang asyik dan paling mengejutkan. Sementara Taksi lumayan asyik dengan kepadatan adegan di dalam sebuah taksi yang melaju dan penampilan Shareefa Danish yang OK, meski twist-nya dapat saya tebak sejak dengan mudah.

Reckoning, yang berganti judul dari Goblins, menghadirkan teror yang ketat sejak awal. Teror yang hadir cukup menggedor dengan dibantu sinematografi yang asyik dengan warna hitam putih. Sayangnya penggunaan bahasa Inggris dalam dialog cepat dan panjang-panjang, minus subtitle bahasa Indonesia, membuat penonton banyak yang kelelahan dan otomatis menurunkan tensi teror ceritanya.

Kalo mau cerita makhluk aneh dan ngga umum dengan latar rumah tahanan terpencil silakan memilih Meal Time. Film ini hadir ngga hanya dengan gore tapi juga sadis serta dilengkapi dengan twist ending ngga gampang ditebak.

Dari semua film genre fantastik yang saya tahu, biasanya selalu ada film yang disuguhkan pada level lebay plus ngawur maksimal hingga malah memancing rasa lucu, bukan ngeri atau bergidik, dan terbahak-bahak saat menontonnya. Sepertinya Rengasdengklok mengambil ‘pakem’ itu. Sebenernya sejak awal dialog dalam film ini sudah masuk pada pakem itu, tapi saya sempat mengira bahwa itu hanya kelemahan skrip dan eksekusi dari filmmaker pemula. Namun semakin lama film itu berjalan saya jadi yakin bahwa Rengasdengklok memang sengaja ngawur tapi dengan tidak lupa menyelipkan twist yang sepertinya jadi pakem wajib di setiap film bergenre fantastik.

Untuk kerapihan cerita, saya paling suka dengan Effect yang menampilkan thriller pembunuhan terencana yang apik. Rangkaian kejadian yang dihadirkan mirip dengan runtutan kejadian dalam seri Final Destination, tapi di dalamnya juga terselip pengarahan psikologis hingga mampu mengarahkan orang-orang yang terlibat tanpa menyadarinya. Justru faktor psikologis itu yang bikin Effect jadi terasa lebih nyata dibanding Final Destinantion.


Antologi FISFiC 6 vol.1 ini masih belum jelas apakah akan ditayangkan secara reguler di bioskop. Tapi yang pasti DVDnya sudah dirilis oleh Jive Collection yang secara khusus dirilis pada hari yang sama berbarengan dengan premier film ini di iNAFFF 2011.

Dari keenam film pendek ini akan ada satu pemenang yang nanti filmnya akan dibuat ulang yang kemudian digabungkan ke dalam omnibus film-film pendek genre fantastik lainnya yang dibesut oleh Gareth Huw Evans (Merantau), The Mo Brothers (Rumah Dara) dan Joko Anwar (Pintu Terlarang). Pemenangnya akan diumumkan pada penutupan iNAFFF 2011.

Boleh dibilang FISFiC 6 vol.1 ini adalah film dari penggemar iNAFF, oleh penggemar iNAFFF dan untuk penggemar iNAFFF.


27 October 2011

The Perfect House: Salah Satu Horror/Thriller Indonesia yang Digarap Serius

Judul:
The Perfect House

Produser:
Vera Lasut

Sutradara:
Affandi Abdul Rachman

Penulis:
Alim Sudio, Affandi Abdul Rachman, Vera Lasut

Pemeran:
Cathy Sharon, Bella Esperance, Endy Arfian, Mike Lucock, Wanda Nizar, Joy Revfa




Plot:
Julie adalah seorang guru privat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Setelah mengajar Angie, muridnya yang autis ringan, Julie ingin istirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran dan mengatasi trauma atas kecelakaan yang terjadi pada orang tuanya. Namun, Nyonya Rita, meminta Julie untuk memberikan pelajaran les privat kepada cucunya, Januar. Guru sebelumnya telah hilang. Ketika Julie mengetahui bahwa orang tua Januar juga tewas dalam kecelakaan, ia merasa empati dan setuju untuk menjadi guru Januar selama sebulan dan menahan ia dari rencana perginya. Namun, apa yang Julie alami di rumah tersebut menjadi jauh dari yang ia bayangkan. Sebuah rahasia yang sangat gelap tersembunyi di dalam rumah itu. Kehidupan Julie pun terancam selamanya.

Catatan:
Cara menjawab tantangan hanya dengan aksi. Genre film horror/thriller (‘thriller’ ya, bukan ‘trailer’) Indonesia yang dicap buruk/busuk/sampah, yang menurut saya mengemuka akibat penyimpangan distribusi film di Indonesia, dijawab dengan karya film yang dibuat serius yang tak hanya berorientasi pada keuntungan atas modalnya. Indonesia wajib bersyukur masih punya pekerja-pekerja film yang tidak menyerah, yang karyanya menjadi jawaban, secara langsung maupun tidak langsung, terhadap semua film sampah yang lebih sering menghiasi layar-layar bioskop nasional. Sampai semalam saya masih mendapat kabar gembira karena bakal ada lagi film-film horror/thriller dari pekerja-pekerja film Indonesia yang serius dan berbakat. Untuk film sampah silakan salahkan produsernya, tapi jangan musuhi genre-nya.
Kolaborasi baru dari para ‘pemain lama’ genre horror/thriller, Vera Lasut (Mati Suri – associate producer), Alim Sudio (Air Terjun Pengantin - skenario) dan Affandi Abdul Rachman (Pencarian Terakhir - sutradara), meski belum mapan namun cukup solid dalam memproduksi film ini.
Didukung sinematografer handal, Faozan Rizal (Sang Pencerah), The Perfect House mengusung hawa suram sejak opening title. Penataan gambar dan cahayanya jelas-jelas bikin deg-degan saya yang aslinya bukan penggemar film bergenre horror/thriller seperti ini.
Meski mengusung genre thriller, The Perfect House tidak langsung menggempur penonton dengan kejutan-kejutan. Dalam suram dan kelamnya gambar, film ini menyajikan misteri demi misteri yang nanti berujung pada twist ending. Kalo pun ada yang disebut sebagai penampakan, itu pun merupakan bagian dari misteri yang ada. Penonton ditarik-tarik untuk tetap mengikuti tuturan cerita. Penonton silakan jeli untuk memperhatikan petunjuk-petunjuk yang diselipkan di sana-sini karena tidak banyak yang disampaikan melalui dialog (show, not tell).
Penampilan akting dari aktor-aktor yang terlibat cukup mumpuni mengisi karakter yang dibutuhkan cerita. Cathy Sharon sebagai Julie nyaris tidak diberi kesempatan untuk tampil bermanis-manis, bahkan di beberapa adegan cukup mampu beradu ‘keras’ berhadap-hadapan dengan Bella Esperance, yang berperan sebagai Madam Rita. Penampilan Endy Arfian (aktor cilik yang lebih dikenal via iklan televisi) cukup memukau sebagai Yanuar dalam karakternya yang ‘berlapis’.
Saya sedikit kurang puas dengan karakter Madam Rita yang terasa kurang manusiawi hingga mengingatkan kemiripan dengan karakter Ibu Dara (Rumah Dara). Padahal kalo menilik dari semua peristiwa yang dialami Madam Rita dan beberapa adegan yang menunjukkan hubungannya dengan beberapa karakter terdekatnya, menurut saya Madam Rita bisa tampil lebih ‘abu-abu’ yang bisa jadi lebih menambah rasa penasaran penonton.
Sedikit catatan khusus atas penampilan Wanda Nizar sebagai Dwi yang aktingnya diabadikan The Perfect House (aktor yang bernama asli Fajar Tri Wanda ini meninggal dunia pada tanggal 20 Oktober 2011) tampil sebagai pendukung dengan akting santai, wajar dan tidak berusaha mencuri perhatian. Aktor yang juga tampil dalam beberapa peran kecil di Pencarian Terakhir dan Heart-Break.Com ini cukup bisa memberikan karakter cuek namun peduli/sayang kepada karakter Julie.
Mengikuti film-film yang dibesut oleh Affandi Abdul Rachman sejak film Pencarian Terakhir, saya selalu menemukan hal-hal yang berbeda. Tapi dari semua film-filmnya saya selalu merasakan durasi yang kurang panjang. Seperti masih ada adegan-adegan yang perlu disampaikan yang membuat tuturan ceritanya lebih enak. Mungkin durasi yang sekarang ada sudah cukup dan bisa berkompromi untuk meraih apresiasi penonton yang lebih luas.

24 October 2011

Simfoni Luar Biasa: Tampil Baik Tanpa Harus Banyak Drama


Judul:
Simfoni Luar Biasa

Produser:
Nita Triyana, Delon Tio

Sutradara:
Awi Suryadi

Penulis:
Awi Suryadi, Maggie Tiojakin, Delon Tio

Pemeran:
Christian Bautista, Gista Putri, Ira Wibowo, Valerie Thomas, Ira Maya Sopha, Verdi Solaiman, Sophie Navita, Maribeth Pascua, Willem Beaver, Stanley Saklil



Catatan:
Ngga ada simfoni sama sekali, bahkan ngga ada musik orkestra pula, tapi film ini jelas dibesut untuk menghangatkan hati. Ngga perlu sampai jatuh bersedih melarat-larat, penonton dibawa ke dalam kisah klasik tentang si anak hilang yang bakal jadi hero tanpa nama bagi yang terpinggirkan.
Bagi penonton ‘umum’ di Indonesia mungkin merasakan pemaksaan plot tentang si anak yang nyaris sebatang kara di Manila-Filipina sana, tapi saya sendiri menyaksikan kisah sejenis yang lebih jauh jaraknya, antara Belanda dengan Indonesia. Saya percaya nasib orang bisa terjadi di luar batas nalar.
Cerita yang sederhana, yang mungkin akan sangat cocok bila dirilis pas liburan sekolah, terasa sekali ditujukan bagi penonton segala usia (dan sebagian perempuan-perempuan supaya betah memuja ketampanan Christian Bautista). Ngga ada yang rumit, alur cerita yang mudah ditebak, selipan guyon, konflik-konflik yang hanya berujung dengan penyelesaian kekeluargaan dan juga sedikit romansa malu-malu.
Nyaris semua aktor yang mendukung berakting enak diliat, ngga ada yang berlebihan. Ira Maya Sopha cukup pas tampil sebagai kepala sekolah yang keibuan, bikin teringat gayanya yang asyik sebagai juri di acara kontes penyanyi cilik di TV itu. Saya sudah lama ‘kenal’ dengan keayuan Gista Putri seperti terbius kembali dengan perannya yang polos dan malu-malu. Peran Valerie Thomas sebagai Carissa, adik tiri Jayden, cukup mencuri perhatian dengan karakter yang tomboy tapi manja kepada kakak ‘baru’nya. Verdi Solaiman selalu tampil ‘nyebelin’ seperti biasanya, nyebelin dalam artian ‘ada aja deh muncul di banyak film’, bisa juga nyebelin dalam film karena karakternya sebagai Pak Dimas yang pendengki.
Khusus pada penampilan Ira Wibowo sebagai ibu yang berusaha berdamai dengan masa lalunya, saya jadi teringat komentar Om Indro Warkop yang memberi penilaian baik atas akting Ira Wibowo, saat dulu mereka main film bersama, sebagai persona yang pandai, mudah diarahkan dan cerdas tek tok dalam adegan-adegan lelucon. Ngga heran kalo dalam ‘Simfoni Luar Biasa’, akting Ira Wibowo mampu membuat saya bersimpati kepada karakternya.
Meski akting Christian Bautista yang terasa datar dan dialog-dialog yang biasa saja, adegan-adegan dalam film ini ‘terjahit’ dengan baik hingga menjadi nyaman untuk ditonton sampai selesai. Nyaris tidak ada adegan yang dipanjang-panjangkan. Tuturan cerita mengangkat anak-anak berkebutuhan khusus di sini pun tidak terjebak menjadi dramatisasi yang berlebihan. Dan ‘gimmick’ pemilihan lagu dalam adegan puncak mampu memancing emosi haru.
Film ini ditutup dengan baik. Saya berpendapat bahwa penyampaian sesuatu dengan baik dan tepat bisa juga menjadi luar biasa, tanpa harus dengan penuh dramatisasi.

23 October 2011

WARRIOR: Proses Pengampunan yang Berdarah-darah

Title:
Warrior (2011)

Directed by
Gavin O'Connor

Writing credits:
Screenplay: Gavin O'Connor, Anthony Tambakis, & Cliff Dorfman
Story: Gavin O'Connor & Cliff Dorfman

Cast:
Joel Edgerton, Tom Hardy, Nick Nolte, Jennifer Morrison, Frank Grillo, Kevin Dunn

Plot:
Two brothers face the fight of a lifetime - and the wreckage of their broken family - within the brutal, high-stakes world of Mixed Martial Arts (MMA) fighting in Lionsgate's action/drama, WARRIOR. An ex-Marine haunted by a tragic past, Tommy Riordan returns to his hometown of Pittsburgh and enlists his father, a recovered alcoholic and his former coach, to train him for an MMA tournament awarding the biggest purse in the history of the sport. As Tommy blazes a violent path towards the title prize, his brother, Brendan, a former MMA fighter unable to make ends meet as a public school teacher, returns to the amateur ring to provide for his family. Even though years have passed, recriminations and past betrayals keep Brendan bitterly estranged from both Tommy and his father. But when Brendan's unlikely rise as an underdog sets him on a collision course with Tommy, the two brothers must finally confront the forces that tore them apart, all the while waging the most intense, winner-takes-all battle of their lives.

Note:
Pertalian darah ternyata tidak cukup kental untuk menyatukan keluarga dalam kedamaian. Hilangnya kasih sayang, dendam yang muncul menjadi kebencian jadi membentengi hati hingga sekeras karang. Orang bijak berkata, “Sentuhlah hati dengan hati.” Namun hati yang terbentengi sekeras karang secara logis tidaklah mudah tersentuh dengan kelembutan hati lainnya. Film ini menyampaikan perjuangan menembus benteng karang hati itu.
Meski sakit dan mengorek luka lama, hati harus terbuka untuk sebuah maaf. Memaafkan satu kesalahan kepada satu orang menjadi begitu banyak dan begitu amat sangat besar karena kesalahannya yang tak terlupakan. Memori pikiran menjadi sangat-sangat ‘terjajah’ oleh hati yang terluka. Meski berdarah, hati yang sulit memaafkan tetap lebih keras daripada batu karang.
Proses mohon ampunan bisa menjadi sangat panjang, bisa juga menjadi sangat keras dan berdarah-darah seperti divisualisasikan dalam film ini. Menurut saya, ‘proses pengampunan’ yang tergambar dalam film ini merupakan cerminan dari semua perilaku/budaya/bahasa pelakunya hidup dan dibesarkan. Kita mungkin pernah jadi saksi proses elegan sebuah pengampunan seseorang. Kita mungkin juga pernah jadi saksi proses pengampunan yang penuh basa basi. Dalam film ini, kita menjadi saksi sebuah proses pengampunan yang sangat keras, bahkan hingga mematahkan tulang dan membuat mata lebam, yang mungkin adalah akumulasi semua rasa sakit atas kesalahan yang juga sekaligus menjadi penebusan atas kesalahan itu. Proses yang sangat keras itu juga cerminan dari bagaimana pihak-pihak terkait dibesarkan dan hasil benturan-benturan kehidupan yang dihadapinya kemudian.
Meski tetap terasa sebagai cerita fiksi, film ini cukup berhasil menguras emosi atas ‘perseteruan’ segitiga ayah-sulung-bungsu yang sangat-sangat menggiris hati orang normal. Belum lagi suguhan pertarungan bela diri campurannya yang sangat-sangat brutal dan realis, yang mampu menyedot emosi penonton filmnya – seperti nonton pertarungan betulan. Akting Nick Nolte, sebagai si ayah yang bertobat dan mohon diampuni oleh anak-anaknya, perlu mendapat apresiasi khusus setelah sekian lama selalu berperan dalam karakter-karakter keras dan cenderung sadis. Penonton boleh jadi ikutan benci sekaligus kasihan terhadap karakter Nick Nolte yang renta di sini.
Mungkin di dunia nyata, memaafkan seseorang tidaklah sesegera seperti yang digambarkan dalam film ini, namun dari film ini bisa menginspirasi kita untuk lebih bisa membuka hati untuk memaafkan orang lain tanpa harus berdarah-darah dan tulang patah.

23 May 2011

7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita: Penghormatan Laki-laki Indonesia terhadap Perempuan


Judul:
7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita

Sutradara dan Penulis Naskah:
Robby Ertanto Soediskam

Pelatih Akting dan Editor Naskah:
Eka D Sitorus

Sound Recordist:
Ichsan Rahmaditta

Line Producer:
Kiki Machina

Para Pemeran:
Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Happy Salma, Olga Lydia, Intan Kieflie, Tizza Radia, Tamara Tyasmara, Patty Sandya, Novi Sandrasari, Henky Solaiman, Verdi Solaiman, Rangga Djoned, Tegar Satrya, Revi Budiman, Albert Halim, Bom Bom Gumbira, Achmad Zaki

Catatan:
“Kalo mau bikin film, kasi cerita yang betul-betul kita tau dan mengerti,” begitu kira-kira pernyataan dari kawan saya, sutradara muda yang sedang vakum itu, beberapa tahun yang lalu saat film pertamanya rilis. Pernyataan itu selalu saya ingat-ingat. Dalam berkomentar pun saya ingat-ingat hal itu. Menulis bahasan tentang film pun akan saya tulis dari sudut pandang dan wawasan yang paling saya kuasai. Belum pernah saya membahas film menggunakan sudut pandang teknis perfilman canggih karena memang saya ngga ngerti.

Dari sisi pengetahuan dan pemahaman cerita, tentunya menjadikan film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” sangat menarik karena ditulis dan dibesut oleh seorang laki-laki. Film ini adalah film yang sangat-sangat pro kepada nasib perempuan Indonesia yang memang masih menjadi warga kelas dua di dalam masyarakat negeri ini. Beberapa film Indonesia mutakhir dengan tema sejenis sebelumnya dibuat oleh perempuan. Maka film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” menjadi sangat istimewa di mata saya.

Saya yang sejak kecil sangat dekat dengan perempuan, merasakan keterkaitan emosi dengan cerita yang dipaparkan dalam film ini dengan begitu lugas tanpa dipanjang-panjangkan. Semua kisah yang dihadirkan tidak mengejutkan saya karena memang seperti itulah potret perempuan Indonesia yang saya tahu sejak kecil hingga sekarang. Perempuan di keluarga saya bernasib lebih beruntung daripada yang dikisahkan dalm film ini, namun saya melihat kenyataan yang sama di sekeliling saya, persis seperti yang ditampilkan di layar.

Itu kaitan emosional saya karena saya ‘duduk mengamati’ keadaan sekeliling saya. Namun film ini bergerak jauh lebih dalam karena mampu menceritakan problema perempuan Indonesia dengan baik, jelas, terbuka, tanpa diperhalus. Ini yang menarik dari sutradaranya yang jelas-jelas lelaki. Bisa jadi film ini adalah hasil pengamatannya selama bertahun-tahun. Tapi emosi yang dituturkan lewat gambar-gambar yang efektif seperti meyakinkan saya bahwa sang sutradara tidak hanya sebatas mengemukakan problema yang dihadapi perempuan Indonesia yang nyaris selalu ditutup-tutupi karena alasan adat dan ketabuan, tetapi film ini juga menunjukkan kecintaan dan penghormatan sang sutradara sebagai laki-laki Indonesia terhadap perempuan.

Sang sutradara seperti menempatkan diri sebagai lelaki yang tidak mau merelakan perempuan Indonesia tak berdaya menerima ‘kodrat’ yang disematkan oleh lingkungan patriarkalnya. Mungkin ini juga mengapa film ini diberi judul yang mengandung kata ‘wanita’ yang terdengar berkelas namun menurut artikel “Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik” malah mengandung arti yang merendahkan dibandingkan dengan kata ‘perempuan’ yang mengandung kata ‘empu’ yang bisa diartikan sebagai ‘orang yang mahir/berkuasa’. Mungkin karena perempuan Indonesia masih dirundung permasalahan yang belum jelas ujungnya, si penulis cerita memilihkan judul yang menggunakan kata ‘wanita’.

Film yang sederhana ini disampaikan dalam bahasa gambar yang juga sederhana, namun apik dan efektif. Tidak semua kisah disampaikan dalam dialog karakter-karakternya yang membuat film ini menjadi semakin terasa nyata. Dalam beberapa adegan, si karakter cukup menyampaikan gesture tertentu untuk menyatakan sesuatu, seperti mungkin ada sesuatu yang disembunyikan tanpa kata-kata terucap atau tanpa overdub suara seolah dari pikirannya.

Penggunaan lokasi yang juga nyata, rumah sakit yang beneran ada di Jakarta, semakin mendekatkan film ini dengan kisahnya yang mengangkat problema dari dunia nyata sehari-hari. Belum lagi kewajaran akting dari aktor-aktor (perempuan dan laki-laki) yang terlibat di dalamnya. ‘Twist’ dalam film ini mungkin terasa kurang masuk akal, namun hal itu malah menjadikan pembeda film ini, yang fiksional, dengan film dokumenter dengan cerita sejenis.

Jajang C Noer yang berperan sebagai dr. Kartini, karakter sentral dalam film ini, untuk pertama kalinya dalam sebuah film layar lebar, namanya dimunculkan paling pertama dalam opening title setelah judul. Mungkin hal ini belum tentu berarti banyak bagi beliau. Tetapi bagi saya, mama rock n’ roll ini sudah selayaknya mendapatkan porsi teratas dalam sebuah film nasional, meski memang tidak pernah luput dari penghargaan terhadap aktingnya dalam beberapa film sebelum ini. Setelah banyak berperan dalam karakter pendukung (supporting roles) dalam banyak film, meski tidak pernah tampil hanya sebatas tempelan, sudah saatnya istri almarhum sutradara handal Arifin C Noer ini dipercayakan memegang karakter paling penting dalam sebuah film. Dan seperti ‘biasa’nya, Jajang selalu mampu menampilkan akting yang mumpuni tanpa pernah terlihat dan terasa sedang berakting. Di beberapa adegan di film ini saya seperti melihat selipan karakter Jajang yang asli, yang rock n’ roll, meski tetap dalam ‘koridor’ karakter seorang dokter ahli kandungan. Dan yang juga menarik, akting Jajang yang asyik tidak berarti jadi menutup akting dari aktor-aktor lainnya. Akting Jajang nggak hanya berimbang dalam adu akting dengan Henky Solaiman yang sama-sama kawakan, tetapi Jajang juga mampu tampil ‘enak’ berhadapan dengan aktor-aktor muda pendukung lainnya.

Dari judulnya sudah bisa disimpulkan bahwa film ini tidak hanya menampilkan 2 karakter saja dalam sepanjang durasi tayangnya. Minimal ada 7 karakter perempuan yang ditampilkan. Semua karakter perempuan yang ada pasti beradu akting langsung dengan Jajang C Noer dan juga dengan karakter pendukung lainnya. Semua aktor yang terlibat mampu menampilkan akting yang cukup baik. Tapi dari sekian karakter perempuan yang ada, selain karakter dr. Kartini, tercatat 2 aktor yang cukup mencuri perhatian saya yaitu Happy Salma sebagai Yanthi si PSK dan Intan Kiefli sebagai Ratna si istri yang soleha.

Aura seksi seorang Happy Salma, yang selalu mampu membuat saya berdebar-debar melihatnya meski dia memakai busana yang paling sopan sekalipun, mampu tereksplorasi dengan maksimal ditambah dengan celotehan karakter Yanthi yang khas celotehan warga Jakarta yang sering mangkal sebagai penjaja seks. Happy yang saya tahu selalu santun dalam berbahasa, yang juga mampu berpuisi dalam beberapa kesempatan, kali ini menghidupkan karakter Yanthi dengan gaya bicaranya yang vulgar tanpa tedeng aling-aling. Namun Yanthi yang keras hati karena tertempa kehidupan malam setiap harinya digambarkan mampu juga luluh karena ketulusan cinta seorang Bambang yang selalu setia mengantarkannya. PSK juga manusia.

Ratna yang sedang hamil tua, dengan baik ditampilkan oleh Intan sebagai istri yang setia, patuh dan selalu berprasangka baik terhadap Marwan suaminya. Intan, yang aslinya memang berkerudung, mampu menampilkan karakter Ratna sebagai istri yang mengabdi dan tegar menerima kodratnya yang mewajibkannya terus melayani sang suami meski dalam lelah bekerja sebagai buruh jahit dengan kondisi hamil besarnya. Kondisi hamil dan lelah juga tidak menyurutkan kasih Ratna kepada suaminya yang sering pulang dengan tangan hampa meski katanya baru selesai kerja lembur.

Namun Intan juga mampu optimal menampilkan karakter Ratna yang sedang terhempas ke dasar jurang kecewa. Didukung dengan skenario dengan dialog-dialog yang efektif, Intan ‘menyampaikan’ Ratna yang sedang kecewa dengan amat sangat manusiawi. Kemarahan Ratna tergambar sangat mengguncang saya. Adegan keruwetan Ratna bersama Rara, adik Ratna, dalam mikrolet itu merupakan puncak film ini buat saya. Adegan itu sukses membuat saya sangat bersimpati terhadap Ratna yang sedang kecewa sedalam-dalamnya namun tetap berani mengambil keputusan besar dalam kondisinya yang hamil tua dan tetap harus mengayomi Rara.

Keseluruhan gambaran utuh film ini mungkin saja menohok kesadaran sebagian penontonnya. Bisa saja sebagian menganggap problema yang terpapar adalah sesuatu yang dibesar-besarkan oleh filmmaker-nya. Mungkin juga sebagian lagi menyangkalnya. Tapi saya berharap munculnya kesadaran membuka mata lebih lebar terhadap permasalahan yang dihadapi perempuan di Indonesia. Niatan menyajikan kisah problematika perempuan Indonesia dari seorang filmmaker laki-laki seperti Robby Ertanto dalam film ini makin mengharukan saya. Bentuk tertinggi dari kecintaan terhadap sesuatu adalah memberikan penghormatan yang setinggi-tinggi, sama seperti yang dilakukan Robby Ertanto terhadap perempuan melalui filmnya ini.

27 January 2011

Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia terhadap Film dan Perfilman Indonesia

movie wall flickr



Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia
terhadap Film dan Perfilman Indonesia


Produksi film Indonesia semakin meningkat berpuluh kali lipat per tahunnya dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Namun apresiasi penontonnya merosot jauh, tidak berbanding lurus dengan jumlah film Indonesia yang tayang nasional di bioskop-bioskop.

Banyak hal yang bisa saja dipersalahkan atas menurunnya apresiasi penonton film terhadap film dan perfilman Indonesia. Beberapa di antaranya adalah: (1.) penurunan mutu produk film Indonesia; (2.) distribusi film Indonesia yang tergantung kepada 1 distributor saja; (3.) masih kurangnya jumlah layar bioskop untuk tayang film Indonesia; (4.) pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop; (5.) tema film Indonesia yang nyaris seragam; (6.) film Indonesia terlanjur mendapat stigma buruk dari sebagian penonton film di Indonesia; (7.) bajakan film yang melimpah, dan masih banyak lagi.

Dari hal-hal yang disebutin di atas itu hampir semuanya di luar kendali pelaku/pekerja film karena solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa negeri yang sebenarnya mendapat cukup pemasukan dari pajak dan cukai yang terkait dengan produksi film dan distribusinya.

Kalau kita berkutat berusaha mencari solusi untuk hal-hal yang di luar kendali tentunya bakal lebih banyak menguras energi. Dan untuk hal-hal yang solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa, mudah-mudahan kita semua masih bisa berharap akan adanya perbaikan seandainya nanti ada perubahan/pergantian rezim.

Di era informasi yang sangat terbuka seperti sekarang terpantau begitu menjamurnya komunitas penikmat film yang tersebar dan terus berkembang dalam dunia maya, mulai dari penonton film karena ‘rajin’ celingak celinguk di mall, penikmat film yang getol memantau perkembangan film mulai dari proses pre-production-nya, sampai penikmat film ‘tingkat tinggi’ yang asyik dengan film-film art-house non mainstream. Informasi dan diskusi dalam komunitas-komunitas penikmat film itu mampu menggiring kita untuk tidak lagi memperhatikan media-media informasi film yang konvensional seperti majalah cetak/online dan site bioskop online.

Namun dari jumlah yang banyak ternyata masih sedikit sekali yang merupakan penonton film Indonesia yang baik. Indikasi yang paling mudah adalah dari sedikitnya penonton yang menonton film Indonesia di bioskop-bioskop. Sedikitnya penonton yang datang di gedung bioskop juga disebabkan karena pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop-bioskop yang memiliki 2 sisi yang berlawanan; di satu sisi film Indonesia harus segera turun layar, istilah lain dari ‘dicabut dari peredaran’, karena dianggap sepi penonton dan terdesak film Indonesia lainnya yang antri untuk rilis di minggu berikutnya, di sisi lain film Indonesia mungkin belum sempat didatangi penontonnya karena terlalu pendek masa tayangnya di bioskop. Penonton film Indonesia masih perlu disodori banyak-banyak informasi mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang di bioskop. Andai film Indonesia punya masa naik layar lebih lama, mungkin jumlah penonton yang hadir di bioskop bisa lebih banyak lagi.

Kemungkinan besar setelah ‘lengser’nya film Indonesia dari posisi ‘tuan rumah di negerinya sendiri’, buruknya film dan perfilman Indonesia masih menjadi stigma yang melekat di kepala sebagian besar penikmat film di Indonesia. Masih sering terdengar cemoohan apatis, “apa sih bagusnya film Indonesia?!” Apabila kita coba mengambil contoh dari 82 judul film Indonesia yang rilis nasional sepanjang tahun 2010, yang ternyata layak dikategorikan sebagai film yang baik tidak sampai 20 judul, bisa menjadi ‘permakluman’ atas cemoohan tadi.

Nyaris ngga beda dengan perdebatan ‘mana lebih dulu telur atau ayam’, mengharapkan perbaikan revolusioner terhadap perfilman Indonesia sepertinya masih jauh dari kenyataan dan masih akan berputar-putar di permasalahan yang itu-itu saja tanpa sampai ke solusinya. Sedangkan karya film sebagai suatu karya seni budaya tetap perlu ditonton untuk diapresiasi. Keputusan produser untuk segera merilis filmnya ke dalam format home video (VCD/DVD) supaya bisa menjangkau penonton lebih luas yang tidak terjangkau gedung bioskop (termasuk logika yang salah mengenai peruntukan format home video dari sebuah film), ternyata selain merusak bentuk apresiasi film yang optimal dilakukan di bioskop, juga malah membuka celah pembajakan terhadap film itu sendiri.

Penonton yang katanya lebih terdidik tentang film, khususnya film-film produksi Amerika dan Eropa, ternyata sedikit sekali yang mau ‘menurunkan level pendidikan filmnya’ apabila bersinggungan dengan film-film Indonesia. Mereka masih terlalu tinggi dalam mengekspektasi sebuah karya film Indonesia. Mungkin sebagian dari mereka lupa bahwa film adalah juga bagian dari kebudayaan sebuah bangsa yang pastinya unik dan berbeda dengan kebudayaan bangsa-bangsa lainnya.

Ekspektasi dan selera memang sulit untuk diukur dengan pasti. Tapi dengan banyaknya komunitas penikmat film yang bertebaran itu mungkin masih bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang. Dengan informasi yang banyak itu paling tidak sedikit mampu ‘mengarahkan’ ekspektasi yang bakal muncul sebelum menentukan pilihan dan menyaksikan filmnya.

Ada juga gejala aneh dari sebagian penonton film: dengan informasi yang ada malah jelas-jelas memilih film Indonesia yang dikategorikan ‘kelas B’ (atau bahkan mungkin C atau D) sebagai hiburan. Mungkin di satu sisi film semacam itu bisa dianggap sebagai hiburan (meskipun hiburan yang absurd menurut gue), tapi dari sisi produksi film Indonesia yang serius dan sungguh-sungguh, gejala ini bisa menjadi kontra produktif bagi perfilman Indonesia karena produser film-film kategori kelas B ke bawah akan tetap giat berproduksi dengan claim bahwa filmnya tetap ditonton di bioskop. Lebih baik serahkan saja ‘apresiasi’ film-film semacam itu kepada media-media berita hiburan, karena dengan hadirnya kita menonton film semacam itu di bioskop sama saja dengan mendukung produksi filmnya.

Memang ada juga pernyataan dari salah satu pekerja film Indonesia bahwa tidak bisa berharap banyak dari komunitas penikmat film dari segi jumlah penonton, meski mendapatkan tanggapan yang positif dalam bahasan dan diskusi sebelum peluncuran, tetap saja belum bisa mendongkrak pembelian tiket di bioskop dalam masa tayang yang pendek itu. Yang agak terlihat seru ‘apresiasi’nya biasanya hanya di ajang nonton bareng gratis yang juga bagian dari promosi.

Mungkin saat ini jumlah penonton masih belum bisa dijadikan indikasi tingginya apresiasi, meski cukup menentukan balik/tidaknya ongkos produksi. Langkah yang paling cukup jelas bisa dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian (awareness) terhadap film dan perfilman Indonesia. Cara praktisnya dengan terus menyediakan informasi sebanyak-banyak tentang film Indonesia, baik itu film yang akan/sedang tayang di bioskop dan juga informasi film Indonesia klasik yang pernah jaya pada jamannya.

Komunitas-komunitas penikmat film yang pada dasarnya bergerak secara independen mestinya mampu menggalang gerakan kepedulian terhadap film dan perfilman Indonesia, minimal dengan secara berkala mengadakan nonton bareng film Indonesia yang bermutu langsung ke bioskop (ngga nunggu bajakan atau donlotan atau versi online-nya). Kepedulian sekecil apa pun terhadap film Indonesia mampu memberi nafas bagi pekerja film Indonesia untuk terus berkarya dan meningkatkan karyanya.

13 November 2010

MADAME X: Sebagai Produk Peradaban Sesuai Zamannya

madame-x

Judul:
Madame X

Sutradara: Lucky Kuswandi
Produser: Nia Dinata
Skenario: Khalid Kashogi, Agasya Karim
Penata Musik: Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro
Penata Suara: Khikmawan Santosa
Penata Gambar: Roni Arnold
Penata Artistik: Eros Eflin
Penata Kostum: Tania Soeprapto, Isabelle Patrice
Penata Rias: Yoga Septa
Penata Tari: Rusdi Rukmarata
Penata Laga: Petruska Karangan
Efek Khusus Grafis Komputer: Harris Reggy

Para Pemeran:
Aming, Robby Tumewu, Vincent Rompies, Fitri Tropika, Ria Irawan, Joko Anwar, Saira Jihan, Marcel Siahaan, Titi DJ, Shanty, Sarah Sechan

Sinopsis:
Ketika Ibukota di sebuah negeri antah berantah terancam oleh kemunculan Kanjeng Badai dan partai politiknya yang militant dan homophobia, keselamatan negeri ini bergantung pada Adam, seorang penata rambut yang kemayu. Dengan kekuatan tas make-up dan peralatan dandan, juga perpaduan seksi antara seni bela diri dan gerak tari, adam haru mengalahkan Kanjeng Badai dan istri-istrinya dengan gemulai sebelum Kanjeng Badai memenangkan Pemilu. Akankah sepatu berhak tingginya berubah menjadi pantofel, riasan glitter-nya menjadi debu, atau celana kulitnya jadi celana kain? Ketika semua menjadi samara, hanya satu yang pasti: Adam harus memenuhi takdirnya sebagai seorang super hero Madame X, super hero pembela kaum minoritas.


madame-x tiket


Catatan:
Dari yang gue tau, kebudayaan adalah produk dari sebuah peradaban. Sebagaimana film yang juga adalah bentuk/ produk dari sebuah kebudayaan, maka sebuah film biasanya mencerminkan sebuah peradaban sesuai zamannya.

Sebagai contoh adalah film Madame X ini, gue melihat film ini adalah potret atau cerminan peradaban di Indonesia pada saat ini. Dengan cara penuturan komikal, film ini memuat banyak sekali potret sosial yang aktual.

'Gambar besar' dari film ini adalah tentang diskriminasi dan perlawanan terhadap diskriminasi. Yang paling utama adalah potret tentang diskriminasi atas perbedaan orientasi seksual. Dari mereka yang orientasi seksualnya didiskriminasikan dan dipinggirkan malah lahir super hero yang memiliki jurus pamungkas yang didasari dari tari tradisional.

Bagi penonton yang rajin mengikuti perkembangan berita-berita aktual dalam negeri, mestinya mampu menyerap semua satire yang disajikan dalam film ini. Dan bagi yang jeli pasti sadar sekali bahwa film ini tidak hanya sebuah komik satire tetapi juga merupakan suguhan satire yang padat sekali. Hampir setiap adegan adalah sebuah parodi dan sindiran dari kondisi aktual di Indonesia, termasuk tarian dan visualisasi menarikannya. Sindirian dalam film ini tak hanya dalam dialog tetapi juga disampaikan melalui visual.

Dengan cukup cerdas si penyusun cerita menggelar semua parodi dan sindiran menjadi suguhan komedi yang mengocok perut, bukan saja karena kelucuannya saja, tetapi juga karena sindirian-sindirannya. Dari film ini pula kita bisa mendapatkan gambaran apabila seorang transgender nantinya menjadi angel setelah meninggal dunia.

Bagi sebagian penonton bisa saja bakal terbengong-bengong dengan banyaknya dialog yang menggunakan bahasa gaul transgender Jakarta tingkat tinggi. Tapi hanya menyaksikannya begitu saja, tanpa memusingkan bahasa gaulnya dan satire yang disuguhkan,, film ini tetap bisa menghibur yang selain karena lucu juga karena adegan-adegan pertarungan super yang sudah tidak lagi muncul di layar lebar bioskop Indonesia mutakhir.

Mungkin bagi mereka yang termasuk golongan agamis puritan bakalan ‘gatal-gatal’ sepanjang menyaksikan film ini. Tapi inilah potret dari jaman kita sekarang, manusia yang diberikan kehendak bebas oleh Tuhan namun dikekang oleh sesamanya sendiri. Menurut gue boleh saja kita tidak setuju dengan pilihan dan orientasi mereka, tapi bagaimana pun mereka juga punya hak hidup yang sama dengan semua manusia.

24 October 2010

AKU atau DIA?: Kasus Patah Hati Orang Dewasa yang Rumit

Judul:
AKU atau DIA?

Run time
: 97 menit

Sutradara: Affandi Abdul Rachman
Penulis Skenario: Affandi Abdul Rachman dan Nataya Bagya
Produser Pelaksana: Syaiful Wathan
Penata Kamera: Enggong Supardi
Penata Artistik: Benny Lauda
Penyunting: Yoga Krispratama
Penata Suara: Khikmawan Santosa
Penata Music: Aghi Narottama dan Bemby Gusti

Para Pemeran:
Julie Estelle, Rizky Hanggono, Aline Adita, Fedi Nuril, Sophie Navita, Lukman Sardi, Verdi Solaiman, Shara Aryo, Alex Abbad, Yama Carlos, Edo Borne, TJ, Ringgo Agus Rahman, Ananda Omesh, Lenna Tan


Sinopsis:
Novi dan Dafi adalah ‘campus sweetheart’, bertemu saat kuliah dan berpacaran terus hingga keduanya lulus. Walaupun hubungan mereka tidak tanpa cacat, Novi dan Dafi berhasil menjalaninya selama 4 tahun. Novi sangat mencintai Dafi dan selalu berusaha mendukung apapun yang dikerjakan Dafi, termasuk karirnya sebagai pengacara. Sebagai pengacara muda, Dafi menginginkan karirnya melesat. Amara, pengacara senior di Amara & Partners, melihat keinginan Dafi dan memanfaatkan situasi ini dengan menawarkan posisi partner untuk Dafi. Dafi tidak menolak dan menyambut baik tawaran Amara.

Konsekuensinya, Dafi terpaksa mengorbankan hubungannya dengan Novi demi posisi. Novi tidak menyangka Dafi percaya dan sedih bukan kepalang. Untung bagi Novi, di tengah rasa putus asanya, ada Pipit, Wawan dan Asep, saudara-saudaranya yang selalu siap menghibur dan membantunya melupakan Dafi.

Secara kebetulan Novi mendengarkan acara radio Heart-Break.Com di mana Mbak Elza membahas kisah patah hati karena orang ketiga. Novi pun menghubungi Mbak Elza untuk membantunya menemukan jawaban atas apa yang dilakukan Dafi padanya.

Dibantu tim Heart-Break.Com dengan special agent Rama yang bekerja sama dengan saudara-saudaranya, Pipit, Asep dan Wawan, Novi berusaha merebut kembali perhatian Dafi. Kebersamaan Novi dengan Rama membuat perhatian Rama terpecah antara menyelesaikan misi dan perasaannya terhadap Novi.


Catatan:
Kali ini agen-agen Heart-Break.Com (HBDC) kembali beraksi untuk menangani kasus yang lebih dewasa dan berbahaya. Intinya tetap kasus patah hati dan HBDC diminta bantuannya untuk ‘mengembalikan’ Dafi kepada Novi. Dan Mbak Elza, selaku CEO HBDC mengambil resiko untuk menurunkan Rama, agen andalannya. Dan kisahnya pun menjadi semakin berbahaya.

Kalo dalam seri pertama film ini ceritanya lebih berfokus kepada kisah perjuangan Agus, dibantu karibnya Wawan, mengembalikan Nayla dengan diatur penuh oleh HBDC, kali ini kita disuguhkan langsung ‘operasi’ HBDC yang ternyata begitu besar dan cukup rumit untuk kasus patah hati yang kadang dilihat sepele oleh sebagian dari kita. Dan memang kisah patah hati orang dewasa ternyata bisa jadi lebih ribet dibanding kasus sejenis yang melanda kaum yang lebih muda.

Bila dalam kasus Agus-Nayla kita diperlihatkan sebatas perencanaan operasi oleh HBDC, kali ini boleh dibilang kita menyaksikan langsung bagaimana agen-agen itu bekerja. Nyaris semua agen HBDC dibuka ‘kedok’nya dalam film ini. Ngga cuma identitasnya yang dibuka, dilema pekerjaan dan pribadinya pun juga dipaparkan. Sebagian agen HBDC ketauan aslinya dalam film ini.

Dan ternyata HBDC juga memanfaatkan semua hal yang bisa dimanfaatkan untuk melancarkan operasinya. Kalo dulu cuma Wawan yang ‘direkrut’ untuk bantuan, kali ini ngga tanggung-tanggung deh, satu rumah direkrut!

Dengan 15 aktor yang namanya sudah dikenal luas di masyarakat Indonesia, kali ini Affandi Abdul Rachman, sutradara sekaligus penulis skenario, memiliki tugas yang berat. Memang dalam cerita apa pun miliknya, setiap karakter yang ada pasti penting meski ‘tugas’nya kelihatan kecil, namun kali ini layar seperti kepenuhan dengan tokoh karakter tanpa mendapat waktu yang cukup. Kita mungkin bakal sering bertanya-tanya kenapa si anu atau si anu cuma tampil nyaris sekilas. Namun dalam ketatnya penceritaan, kita tetap mampu digiring untuk tetap berfokus kepada 3 karakter intinya, Dafi – Novi – Rama.

Beberapa dari 15 aktor itu adalah debutan dalam film ini, seperti TJ, Lenna Tan dan Aline Adita. Ketiganya tampil cukup pas sesuai porsi dalam cerita. Hanya saja kita melihat sisi dari TJ yang mungkin agak aneh bagi penonton yang sudah akrab dengannya dalam acara-acara di TV nasional.

Boleh saja penonton mungkin merasa Rizky Hanggono terlihat kurang cocok memerankan Dafi. Tapi justru dengan terlihat gamang, Rizky malah cocok memerankan orang baik-baik namun tergoda dengan karir yang bakal cemerlang. Dan Rizky pun sukses menampilkan sisi emosionalnya di adegan puncak film ini.

Buat yang pernah mengagumi Fedi Nuril dalam film yang bertemakan religi itu, siap-siap kecewa karena Fedi bakal memerankan Rama yang keras dengan tatapan cenderung galak namun sekaligus jiwanya rapuh karena kasus terdahulunya. Menarik malah bisa melihat Fedi memerankan karakter yang berbeda lagi dengan film-film terdahulunya. Dan ternyata Fedi ini adalah aktor yang cukup jarang tampil di layar lebar, setahun hanya sekali.

Yang ngga kalah menarik adalah peran Omesh sebagai Wawan yang kali ini seperti menjadi pendamping buat Asep, yang diperankan Ringgo. Duo ini cukup mampu menghadirkan kelucuan-kelucuan yang jauh lebih sinting daripada di film pertama. Sekalipun terlihat sebagai pendamping dan pelengkap penderita bagi Asep, karakter Wawan justru tetap bisa dimaksimalkan oleh Omesh untuk tetap bisa mencuri perhatian penonton. Dan perlu dicatat bahwa film ini adalah film kedua bagi Omesh.

Padatnya penceritaan dengan mencampur adukan elemen drama, komedi, dan aksi intelijen ini cukup bisa dinikmati tanpa harus membuat kening berkerut. Mungkin kita bisa merasa kurang durasi, namun film yang diklaim bergenre Romantic Comedy ini cukup bisa dinikmati dengan lancar dan lapang tanpa lebih dipadatkan dengan pesan-pesan verbal tentang patah hati dan kehidupan.

27 September 2010

A BAREFOOT DREAM: Sekali Lagi Kisah Nyata tentang Kekuatan Mimpi.

barefoot dream a


Title:
A Barefoot Dream

Director:
Kim Tae-Gyun

Casts:
Hee-soon Park, Kei Shimizu

Plot:
Coach Kim Won-Kang is a former soccer player who failed to manage his business - post soccer career. After his business goes under, Kim Won-Kang travels to the small country of East Timor to coach a youth soccer team. The East Timor youth soccer team has been in existence for only one year but will go on to win two international youth soccer events with the help of Coach Kim Won-Kang.


Note:
Sebagai orang Indonesia, gue ngga terlalu ngikutin perkembangan Timor Leste sejak merdeka dari Republik Indonesia. Cuma pada masa awal mereka merdeka aja yang masih sempet denger-denger berita tentang negeri yang dulunya pernah jadi propinsi yang disebut Timor Timur. Beritanya jarang yang bagus, sebagian besar tentang kemiskinan, masih minimnya infra struktur yang vital untuk kehidupan sehari-hari, dan yang paling parah adalah masih kuatnya keberadaan golongan-golongan yang saling bertikai berebut kekuasaan.

Dari semua berita buruk yang besar (atau dibesar-besarkan) itu tentunya membuat kabar kemanusiaan menjadi luput dari perhatian. Boleh ditanya kepada sebagian besar penduduk Indonesia siapa yang tau (atau memang sudah tidak peduli apa-apa) tentang keberadaan pengusaha bangkrut, yang juga mantan pesepak bola profesional, asal Korea Selatan yang sukses melatih dan membawa kumpulan sepak bola anak-anak Timor Leste hingga sukses menjuarai kejuaraan Internasional Rivelino Cup di Hiroshima tahun 2004.

Perjuangan Kim Won-Kang, si pelatih ‘dadakan’ asal Korea itu, diadaptasi dengan baik ke dalam film ini. Semua elemen mampu disampaikan dengan apik. Kondisi Timor Leste yang masih miskin dengan ketegangan pertikaian antar golongan tergambar dengan muram, mampu membuat penonton tercenung dan menaruh simpati dengan apa yang diperjuangkan Coach Kim di sana. Cara berkomunikasi Coach Kim dengan penduduk lokal menggunakan bahasa yang bercampur-campur, bahkan tidak sedikit terdengar potongan kata-kata bahasa Indonesia, juga menarik untuk disimak menjadi bagian penceritaan pendekatan dan adaptasi si Guus Hiddink dari Timor Leste ini dengan anak-anaknya.

Selain drama interaksi antar bangsa yang disampaikan dengan menarik dan mengharukan, elemen terpenting, yaitu adegan-adegan sepak bola, disampaikan nyaris sempurna. Pengenalan karakter-karakter anak-anak pesepakbola mampu menuntun penonton untuk terus penasaran akan seperti apa nantinya setelah dilatih oleh Coach Kim. Adegan pertandingan sepak bola, mulai dari tanding ‘tarkam’ hingga turnamen Rivelino Cup yang shooting langsung di Hiroshima, tergarap dengan apik sekali. Semua adegan sepak bola disampaikan dengan baik hingga penonton seperti disuguhkan drama pertandingan sepak bola yang sedang nyata berlangsung di layar. Bohong kalo penonton ngga ikutan nahan nafas karena tegangnya menyaksikan skuad anak-anak Timor Leste itu berusaha mengejar ketinggalan mereka melawan skuad tuan rumah.

Meski gue sedikit mempertanyakan di mana informasi yang jelas tentang keabsahan kisah nyata film ini tapi jauh termaafkan dengan alur dramanya yang cukup solid dan terjaga hingga mencapai end credit.

Film ini bercerita tentang pencapaian tekad yang berawal dari mimpi (premisnya terdengar mirip dengan ‘saga’ dari Indonesia) tapi film ini tidak menyampaikan mimpi di layar, melainkan bisa memotivasi penontonnya untuk mulai bangun dan berusaha mewujudkan mimpinya.

08 September 2010

SHREK FOREVER AFTER: Cara Cerdas Menutup Sekuel

shrek_forever_after_movie_poster_01

Title:
Shrek Forever After

Director:
Mike Mitchell

Writers:
Josh Klausner, Darren Lemke

Voice Casts:
Mike Myers, Eddie Murphy, Cameron Diaz, Antonio Banderas, Julie Andrews, John Cleese, Walt Dohrn

Plot:
A bored and domesticated Shrek pacts with deal-maker Rumpelstiltskin to get back to feeling like a real ogre again, but when he's duped and sent to a twisted version of Far Far Away -- where Rumpelstiltskin is king, ogres are hunted, and he and Fiona have never met -- he sets out to restore his world and reclaim his true love.

Note:
Kayaknya baru dua kali deh seumur-umur gue nonton 2 film back to back di bioskop. Seinget gue, yang dulu itu begitu selesai film pertama langsung lari ke loket beli lagi tiket film selanjutnya. Kalo kali ini masih sempet break delayed lunch dulu bareng-bareng sebelom lanjut ke theater selanjutnya. Iya, 2 film tapi beda theater sekalipun berdekatan lokasinya, bahkan terasa masih dalam gedung pertokoan yang sama (cuma di Jakarta kayaknya bisa begitu).

Anyway, yang terpenting dari ‘acara’ menonton back to back itu adalah gue masih bisa menikmati kedua film itu dan bisa ingat apa-apa saja yang memorable dari kedua film itu. Itu juga tergantung dari seberapa bagus keduanya sih. Beruntung kali ini ngga salah pilih film. Dan salah satunya adalah installment terakhir dari Shrek ‘saga’ ini.

Kesan pertama dari cerita film ini adalah kehabisan ide. Tapi justru dari cara bercerita seperti itu malah membawa kesegaran tersendiri untuk babak akhir dari perjalanan raksasa hijau dodol ini. Dan ternyata dalam cerita kali ini, si raksasa hijau ngga sedodol yang dikira; lebih dodol deh!

Menyaksikan film ini terasa sama segarnya seperti pertama kali liat seri pertamanya. Sekalipun ceritanya berbeda, tapi semuanya terkait langsung dengan cerita di seri-seri sebelumnya yang mampu bikin gue tertawa fresh dan pikiran refresh. Logika cerita sama berantakannya dengan cerita di seri pertama, bahkan memang sengaja diacak-acak dari ‘pakem’ Shrek series. Dan di situlah letak kesegarannya. Mengacak-acak pakem jadi cara cerdas untuk mengakhiri quadrilogy ini hingga meninggalkan kesan bagi penggemarnya (yang mungkin hampir aja bosan dengan tiga installment sebelumnya). Akhirnya beneran jadi forever after.

Hiburan yang maksimal ini juga bisa dipilih dalam format 3D. Tapi dengan cerita yang segar malah bikin gue lupa kalo ada format 3D-nya. Hahahaha

06 September 2010

KICK-ASS: I AM Super-hero!

kick-ass_poster 01

Title:
Kick-Ass

Director:
Matthew Vaughn

Writers:
Jane Goldman, Matthew Vaughn

Casts:
Aaron Johnson, Lyndsy Fonseca, Christopher Mintz-Plasse, Mark Strong, Chloe Moretz, Nicolas Cage, Jason Flemyng, Yancy Butler

Plot:
Dave Lizewski is an unnoticed high school student and comic book fan with a few friends and who lives alone with his father. His life is not very difficult and his personal trials not that overwhelming. However, one day he makes the simple decision to become a super-hero even though he has no powers or training.



kick-ass_poster 04 horizon


Note:
Mungkin anak-anak usia di bawah 10 tahun masih ada yang kepingin jadi super hero. Tapi kayaknya sebagian besar anak-anak usia 10 tahun ke atas (bahkan orang-orang dewasa) udah ngga ada lagi yang kepingin jadi super hero (padahal usia 10 tahun ke atas malah makin banyak yang suka baca komik super hero). Kenapa ngga mau sih? Kan jadi super hero ngga selalu mesti punya kekuatan super, kekuatan di atas manusia normal. Batman itu contoh super hero yang ngga punya kekuatan super. Memang sih dia amat sangat kaya raya hingga mampu ngongkosin bikin segala macam gadget canggih, selain dia memang jago dalam banyak jenis ilmu bela diri.

Terinspirasi dari Batman itulah yang bikin Dave Lizewski terobsesi menjadi super hero. Tapi berbeda dengan Batman, anak cupu penggemar komik tapi suka mikir porno ini cuma bermodalkan kostum yang dibelinya di e-bay. ITU AJA!

Dari itu aja udah kebayang dong gimana ceritanya nanti. Modal kostum asal dan nantinya juga mendapat nama/julukan karena ‘kecelakaan’ alias kepepet, ngga bakalan deh di Dave Lizewski bisa sukses memberantas kejahatan. Adanya kejahatan yang demen bikin Kick-Ass jadi bulan-bulanan.

Tapi ramuan dan balutan cerita adaptasi dari komik karya Mark Millar, yang juga kreator Komik Wanted, mampu menyampaikan drama ‘super hero juga manusia’ tanpa harus segelap Watchmen. Idiom, gimmick dan musiknya yang kekinian juga bikin film ini sangat segar. Leluconnya pun ngga lepas dari acara TV yang sedang ‘In’. Dan pastinya sangat membumi bagi generasi Youtube dan MySpace. Siapa tahu film ini mampu menginspirasi generasi sekarang untuk jadi super hero!

Segala hal tentang super hero tidak lagi jadi konsumsi anak-anak udah lama menjadi paradigma komik super hero di pusatnya sana, di Amerika Serikat. Dan ngga sedikit komik super hero yang ratingnya ‘suggested for mature readers’. Begitu pula dengan film-film adaptasinya.

Kick-Ass ini memang bukan diperuntukkan bagi audience segala umur. Ngga cuma anak-anak, mungkin orang-orang dewasa yang kurang membuka wawasan bisa jadi misuh-misuh pas liat Hit Girl, yang usianya sekitar 10-11 tahunan, ngomong dalam bahasa yang amat sangat kasar tanpa tedeng aling-aling. Belom lagi banyak adegan berdarah-darah saat super hero di film ini beraksi dan ‘beraksi’.

Tapi menurut gue, omongan kasar dan adegan berdarah-darah bukanlah jualan utama film ini. Hal-hal tadi sebagai penunjang realita karakter yang ada dalam cerita ini. Buat gue, hal-hal tadi mungkin saja terjadi di dunia nyata kalo melihat latar belakang karakternya.

Nonton film ini sama aja gue lagi belajar tentang kesalahan. Minimal kalo nanti gue jadi super hero, gue bakal belajar banyak dari kesalahan yang dilakukan si Kick-Ass.


kick-ass_poster 03 horizon smaller

21 July 2010

KAMUI GAIDEN: Real Ninja, Real Nippon


Title:
Kamui Gaiden

Director:
Yoichi Sai

Writers:
Sampei Shirato (comic)
Kankurô Kudô (screenplay)

Casts:
Ken'ichi Matsuyama, Koyuki, Kaoru Kobayashi, Kôichi Satô, Hideaki Ito, Sei Ashina, Ekin Cheng, Yuta Kanai, Naoyuki Morita, Shigeru Nakano, Suzuka Ohgo, Panta, Daisuke Ryû

Plot:
KAMUI is a Ninja on the run from the world of Ninja bound by rules in search of true freedom. However, he is burdened with the fate, where it is not allowed to take the secret of their powers outside of the tribe -- if you are born as Ninja, you must die as Ninja. This brings him to constantly fight for his life against other Ninjas who trie to kill him and hide the secrets within. He does not trust, and he does not love. Showing weakness leads to immediate death. An incident brings him to an old fisherman's village, where he finally starts to feel trust and affection towards other people. However, his pursuers where just minutes away from setting up a huge trap on Kamui...

Note:
Film yang diadaptasi dari manga berjudul sama ini mungkin bakal bikin bingung penonton film yang sudah ‘terbiasa’ dengan film-film ninja sebelumnya. Ninja di sini merupakan gambaran dari ninja yang sebener-benernya. Action-nya lebih keras namun gerakan halus khas ninja sangat-sangat menonjol. Tapi jangan berharap menemukan action yang banyak dan berdarah-darah sekalipun tetap terlihat sadis.

Film ini amat sangat Jepang. Tapi semua action disampaikan dengan pas dan tidak berlebihan. Mungkin buat yang kurang mengenal budaya Jepang (baca: budaya film Jepang asli) bakalan jatuh bosan dan terkantuk-kantuk. Masih ‘untung’ film ini bercerita tentang ninja yang masih bisa mengetengahkan adegan tarung yang cukup seru. Semuanya digambarkan dengan tajam dan dalam. Buat yang pernah nonton film samurai yang asli Jepang pasti tahu bagaimana ‘membosankan’nya adegan duel antar dua ahli pedang.

Yang bikin menarik buat gue adalah film ini menyampaikan sesuatu yang cukup orisinil dari budaya Jepang. Gue dibikin betah mengikuti bagaimana film ini divisualkan cara-cara yang berbeda dari yang gue pernah lihat dalam film-film Jepang pop lainnya. Mungkin itu keuntungannya apabila gue selalu bisa menekan ekspektasi gue untuk menyaksikan sebuah film. Gue jadi lebih bisa menikmati sebuah film apa adanya, sekalipun mungkin gue belom cukup cerdas untuk dapat mengerti seperti apa yang dimaksudkan oleh filmmaker-nya.

10 June 2010

MELODI: Kritik Sosial dalam Balutan Keceriaan Anak-anak



Judul:
Melodi

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Skenario:
Harry Dagoe Suharyadi

Para Pemeran:
Emir Mahira, Nadya Amanda, Yasamin Jasem, Tengku Wikana, Daus Separo, TJ Extravaganza, Djenar Maesa Ayu, Vety Vera, Mario Maulana



Sinopsis:
Ruli dan Mili adalah kakak beradik yang tinggal di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi orang tua tunggal. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh keceriaan.. Ruli yang pandai bernyanyi bekerja sebagai pelayan sebuah warung kopi. Mili yang hobi menggambar selalu mengintil ke mana pun abangnya pergi. Mereka juga tengah bahu-membahu menabung demi mewujudkan impian keluarga, yaitu mempunyai sebuah sepeda motor bekas untuk ayahnya bekerja sebagai pengojek. Setidaknya bila memiliki motor sendiri, maka hasil ngojek ayahnya tidak lagi mesti disetorkan ke Bandar Ojek dan hidup mereka pasti menjadi sedikit lebih baik.. .

Saat impian indah tersebut sudah di depan pelupuk mata, tak disangka ayah Ruli mengalami sebuah musibah yang mengakibatkan uang tabungan mereka terkuras habis dan bahkan masih memikul hutang yang amat besar.

Apa pun yang terjadi sebagai bocah yang ulet dan tabah, Ruli pantang menyerah. Di tengah upaya membantu ayahnya mencari biaya tambahan, ia bertemu Chika, anak perempuan Bu Wita yang menjadi bagian musibah.

Tak disangka pertemuan mereka berkembang menjadi persahabatan sejati dan keterikatan bathin yang dalam hingga mereka menjadi bertrio bersama Mili.

Malangnya persahabatan mereka malah menuai kemurkaan Bu Wita, Ibunda Chika yang menyama-ratakan dengan menganggap semua anak miskin itu jahat. Namun Chika tetap menjalani persahabatan yg manis itu secara diam-diam…

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa “besar” hinggap pada mereka yang membuat kehidupan mereka justeru akan bertabur bintang…… .


Catatan:
Ngeliat posternya yang cukup sederhana namun penuh keceriaan, kesan pertama udah ketauan bahwa film ini ditujukan untuk anak-anak. Itu ngga salah, lagipula sebagian besar karakter utamanya memang anak-anak. Kalo menilik judulnya, ngga usah jauh-jauh menebak bahwa film ini penuh dengan musik alias musikal. Itu juga ngga salah.

Buat yang belom kenal Harry Dagoe Suharyadi, film pertama yang dibesutnya adalah ‘Ariel dan Raja Langit’ yang juga film anak-anak. Setelah membesut 3 film untuk ‘pasar’ orang dewasa, kali ini Harry Dagoe kembali membesut tema seperti film pertamanya.

Dengan mengedepankan aktor cilik yang pernah menjadi tokoh utama dalam film ‘Garuda di Dadaku’, Emir Mahira, Harry Dagoe terasa santai sekali mengarahkan film ini. Mungkin memang ini genre film yang cukup fasih untuk diarahkannya. Dengan cerdiknya dipasang juga gadis cilik menggemaskan, Yasamin Jasem, sebagai sang adik.

Penonton usia anak-anak bisa dibikin betah dengan adegan-adegan dan gambar-gambar ceria yang penuh warna. Banyak sekali adegan nyanyi dan tari di sana sini. Yang menarik, semua adegan nyanyi divisualisasikan dengan latar belakang kesederhanaan. Memang karakter-karakter utamanya bukan dari kalangan kaya raya. Karakter utamanya adalah anak tukang ojek yang duda. Sedangkan karakter sahabat baru mereka adalah dari golongan menengah. Cuma satu saja keluarga golongan kaya, itu pun muncul belakangan membumbui cerita dalam kontes menyanyi.

Adegan nyanyi-nyanyi mungkin terkesan dilebih-lebihkan namun sah-sah saja untuk film musikal anak-anak. Meski begitu, adegan lomba nyanyi bisa tampil begitu penuh warna dan glamour sekalipun divisualkan di sebuah pasar malam ‘kampung’ pinggiran Jakarta! Eh lagu-lagunya dibuat sendiri oleh Harry Dagoe loh!

Kalo mau ngomentarin style musikalnya, menurut gue mungkin film ini lebih cocok disebut sebagai campuran film musikal dengan film yang berlatar belakang cerita tentang musik; sedikit pikiran karakter utama ada yang dinyanyikan tapi juga si karakter utama diceritakan mampu menyanyi dengan baik dan mengikuti kontes menyanyi setingkat kelurahan.

Menurut gue kalo film musikal itu adalah film dengan sebagian besar dialognya dinyanyikan, seperti dalam film ‘Rent’, ‘Moulin Rouge’, ‘Sounds of Music’ dan ‘Petualangan Sherina’. Kalo yang berlatar belakang cerita tentang musik itu seperti ‘La Bamba’, ‘The Blues Brothers’ dan ‘Rock Star’. Tapi gue bisa salah persepsi sih.

Latar belakang keluarga sederhana dalam film ini bisa saja untuk menggugah anak-anak penontonnya untuk tetap bisa ceria dalam keadaan apa pun, tanpa melihat kelimpahan harta dan tingkat status sosial. Dan persahabatan bisa saja dijalin dengan siapa saja dalam ketulusan.

Tapi gue perhatikan malah banyak kritik sosial yang ‘diselipkan’ oleh sutradaranya; dari sisa poster pilkada DKI yang menempel di pintu rumah Rully (Emir Mahira) yang tampak dicorat-coret, lirik lagu yang isinya ngga mau ribut gara-gara uang dan celetukan Mang I’ing yang bilang, “Kalo pinter sih saya udah jadi anggota DPR!”

Visualisasi glamour kontes nyanyi di pasar malam pun bisa jadi kritik terhadap kontes-kontes nyanyi sejenis yang sedang marak di televisi Indonesia. Dalam film ini, pemenang kontes nyanyi itu dinilai dengan fair oleh 3 orang juri yang hadir, sementara juri yang dalam kontes sejenis di televisi hanya ‘bertugas’ sebagai komentator dan pemenangnya ditentukan oleh banyaknya sms yang diperoleh. Serunya lagi, kontes yang dibikin di tengah-tengah pasar malam itu bisa tervisualisasikan sama glamour dan megahnya dengan kontes nyanyi di televisi, sekalipun itu hanya kontes nyanyi setingkat kecamatan! Emang rada aneh sih, kenapa juga kontes nyanyi tingkat kecamatan ngga dibikin di aula/gedung pertemuan kecamatan?! Itulah ‘ajaib’nya Harry Dagoe!

Film ini bisa membuat penonton anak-anak tertawa menikmati keceriaan dan sebagian kekonyolan karakter-karakternya. Dan film ini juga mampu bikin gue tertawa dengan selipan kritik sosialnya.

06 June 2010

CAPITALISM: A LOVE STORY: Pre-apocalypse True Horror



Title:
Capitalism: A Love Story

Director:
Michael Moore

Writer:
Michael Moore

Casts:
William Black, Jimmy Carter, Congressman Elijah Cummings, Baron Hill

Plot:
Capitalism: A Love Story examines the impact of corporate dominance on the everyday lives of Americans (and by default, the rest of the world). The film moves from Middle America, to the halls of power in Washington, to the global financial epicenter in Manhattan. With both humor and outrage, the film explores the question: What is the price that America pays for its love of capitalism? Families pay the price with their jobs, their homes and their savings. Moore goes into the homes of ordinary people whose lives have been turned upside down; and he goes looking for explanations in Washington, DC and elsewhere. What he finds are the all-too-familiar symptoms of a love affair gone astray: lies, abuse, betrayal...and 14,000 jobs being lost every day. Capitalism: A Love Story also presents what a more hopeful future could look like. Who are we and why do we behave the way that we do?

Note:
Kalo menilik judul filmnya, tentunya sebagian besar pembaca pasti bisa menebak bahwa judul itu ‘ngga jujur’, judul itu bermuatan sarkasme yang jelas. Apalagi apabila tahu bahwa film dokumenter berdurasi 2 jam ini ditulis dan disutradarai oleh Michael Moore, the ‘Notorious’ Michael Moore.

Pada awalnya, Michael Moore berniat membuat sekuel dari Fahrenheit 9/11 setelah George W. Bush terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya. Filmnya akan berfokus pada Amerika sebagai negara korporasi. Namun kondisi krisis finansial tahun 2008 membuat Moore mengerjakan ulang filmnya hingga menjadi seperti sekarang.

Moore selalu punya cara untuk membuat sebuah film dokumenter menjadi menarik untuk terus diikuti sampai selesai. Tentunya berbeda dengan film dokumenter tentang keindahan alam yang mengetengahkan gambar-gambar cantik, Moore seringkali menyelipkan cuplikan film-film lama dengan sedikit ‘penyesuaian’ dialog sehingga kontekstual dengan film arahannya. Salah satu yang kebagian ‘disesuaikan’ adalah beberapa cuplikan dari film Jesus of Nazareth. Tanpa harus menyinggung umat Kristiani, justru Moore mampu menyangatkan topik bahwa Injil Kristen tidak pernah secara eksplisit maupun implisit mendukung kapitalisme. Dan jangan lupa bahwa Michael Moore adalah penganut Kristen Katholik yang taat, maka tidak mungkin dia mengolok-olok Kitab Sucinya sendiri.

Paradigma kebebasan berusaha bagi individu yang didengung-dengungkan oleh paham kapitalisme, di Amerika Serikat telah mengerucut menjadi kesejahteraan tak terbatas bagi pemodal-pemodal besar. Dan lebih mengerikannya lagi, para pemodal besar yang sedikit itu mendapat banyak ‘fasilitas’ dari pemerintah yang didukungnya sehingga banyak mendapat keringanan pajak dan keringan lainnya. Gue melihat ini sebagai kejahatan terorganisir yang lebih jahat daripada mafia narkotika karena membuat rakyat kebanyakan terjebak konsumerisme serta menjadi mudah dihilangkan pekerjaan dan penghasilannya demi kesejahteraan pemodal.

Kapitalisme ala Amerika Serikat mulai meredup seiring datangnya angin perubahan dengan terpilihnya mayoritas Partai Demokrat menduduki House of Representative. Dan puncaknya adalah terpilihnya Obama sebagai Presiden, menggusur George W. Bush beserta pemerintahan Republiknya. Obama yang disebut-sebut sebagai penganut Sosialisme, berpikiran lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat banyak.

Apakah itu kapitalisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme paham ekonomi lainnya (bahkan komunisme sekalipun!), menurut gue adalah ngga menjadi masalah asalkan memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat banyak. Bisa saja di tiap negara berbeda dalam penerapan paham ekonominya, sejauh itu cocok untuk kesejahteraan dan kemajuan ekonomi rakyatnya masing-masing. Apabila nantinya terjadi penyimpangan pelaksanaan dari paham ekonomi tersebut, tentunya masih ada kekuatan rakyat yang akan mengoreksi atau bahkan menumbangkannya, seperti yang disampaikan dalam film ini.

Sekalipun film ini cukup terlambat dirilis di Indonesia, gue melihat hal-hal yang disampaikan Moore masih sangat aktual. Apalagi dampak krisis tahun 2008 itu masih terasa jelas di Indonesia, khususnya dengan bergulirnya kasus bail out Bank Century. Tapi gue membayangkan hal-hal lebih buruk dari yang disampaikan dalam film itu bisa saja terjadi karena DPR Indonesia malah menjadi ‘lubang’ bagi kemaslahatan rakyat Indonesia dengan kelakuannya yang memboroskan keuangan negara.

Adakah seorang Michael Moore di Indonesia yang juga berkata, “I refuse to live in a country like this, and I'm not leaving.” (terjemahan bebasnya “Gue nggak demen tinggal di negara kayak begini, tapi gue nggak bakalan pergi.” –penulis).