tag:

12 March 2015

Sambil Ngopi: Macet Jakarta

Dua french press sudah siap dalam daya tampung maksimal minuman kopi yang baru saja diseduh. Alarm pun baru saja berbunyi tanda waktu endap seduh kopi sudah cukup. 3 cangkir sudah parkir di sekitar french press tapi salah satunya bukan cangkirnya Ninit.
        "Mana nih si Ninit, biasanya sebelum ceret bunyi dia sudah terbit," tanya saya sambil mulai menuangkan kopi ke cangkir-cangkir tersebut. "Terbit" adalah kata yang biasa kami gunakan di kantor ini untuk romantisasi istilah "datang pagi".
        "Iya nih, tumben deh," sahut Denmas sambil mulai mengaduk kopi dalam cangkirnya. "Ngga bilang juga kalo mau ngga masuk."
        "Selamat pagi, masih kebagian kopinya?" Tahu-tahu terdengar suara Ninit yang baru saja datang agak tergopoh-gopoh.
        "Ngga usah buru-buru Nit, udah telat juga sih," sahut saya sambil masih menuang kopi ke cangkir yang ketiga.
        "Telat? Udah kehabisan kopi nih?" Ninit malah sekali lagi memastikan jatah kopinya.
        "Telat tapi malah ngurusin kopi....," sahut Denmas yang dari tadi masih belum selesai mengaduk kopinya. Mungkin gulanya kali ini gula batu dan batunya batu akik.
        "Ah iyalah ngurusin kopi aja deh, ngilangin bete kena macet," sambar Ninit yang tiba-tiba sudah muncul menenteng cangkir kopi yang sudah lengkap dengan gula di dalamnya. Saya langsung saja menuangkan kopi ke cangkir itu.
        "Kena macet di mana sih?" tanya saya sambil asyik menghirup uap kopi yang keluar pada saat dituangkan dari french press ke cangkir.
        "Itu tadi dari arah Cempaka Putih yang udah dekat Senen. Di underpass ada penutup saluran yang jebol, jadinya dari dua jalur cuma bisa dilalui satu jalur aja," jawab Ninit nyerocos bercerita. "Jalur satu-satunya itu udah ngga bisa dihindarin karena memang yang lewat situ pasti udah banyak banget jam segitu."



         "Ngga ada info kalo lagi ada kasus di situ ya? Di radio ato di twitter gitu?" tanya Denmas sambil menyodorkan sendok teh kepada Ninit untuk gantian mengaduk kopinya.
        "Ada sih tadi di twitternya Polda tapi baru kebaca pas kami sudah jarak satu kilometer dari underpass situ. Ya udah keburu macet." jawab Ninit sambil mulai mengaduk kopinya.
        Kalo dilihat dari gerakan mengaduknya, si Ninit ini malah tidak terlihat sedang kesal. Berbeda sekali dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Sepertinya kekesalannya tidak sampai ke tangannya yang sedang mengaduk kopi. Atau mungkin juga karena Ninit begitu menghargai minuman yang mungkin bisa menghapus kekesalannya.
        "Padahal tadi Ninit berangkat lebih cepet lima menit atau berapa gitu," lanjut Ninit. "Dari rumah sih lancar aja. Nah pas udah deket underpass itu deh macetnya ngga gerak."
        "Lalin Jakarta memang begitu ya, sering ngga bisa ditebak," sahut saya  setelah menyeruput kopi dari cangkir. "Ada sih situasi-situasi yang sudah rutin pada waktu-waktu yang biasa, tapi bukan berarti kita boleh lengah karena sering ada perubahan tiba-tiba. Contohnya ya kalo ada kecelakaan atau kerusakan saluran di jalan."
         "Iya ih," sambar Ninit. "Sekalinya luar biasa, macetnya bener-bener parah."
        "Biasanya yang bisa diantisipasi tuh pas hari Senin atau hari pertama tahun ajaran baru sekolah," tambah Denmas setelah satu sruputan panjang kopinya.
        "Tapi kalo semuanya antisipasi dengan berangkat lebih pagi ya macetnya juga lebih pagi," sambar si Adju dari cubicle belakang tanpa melepas pandangannya dari layar komputer desktop-nya. Si Adju ini memang sering nyambar-nimbrung obrolan kami. Tapi dia jarang ikutan ngopi. Kadang-kadang aja.
        "Bener tuh. Tapi secara umum lalin di Jakarta ini memang sulit ditebak," sahut saya sambil mengendus-endus aroma kopi di cangkir saya. "Ngga jarang dalam waktu kurang dari sepuluh menit kondisi lalin bisa berubah total. Tadinya longgar dilihat dari seberang, begitu kita balik arah di u-turn pas sampai di lokasi yang dilihat tadi tahu-tahu lalinnya padat merayap."
        "Pada pernah ngalamin kayak gitu kan?!" lanjut saya sambil memegang-megang cangkir yang masih hangat meski isinya tinggal setengah.
        "Lu minum kopi cepet amat?! Itu isinya tinggal setengah!" sambar Denmas. "Dasar lidah kadal!"
        Langsung tawa berderai cukup panjang. Beberapa kawan yang berada di sekitar cubicle saya pun ikutan tertawa meski tidak ikutan ngumpul ngopi.
        "Hahahahaha emangnya situ yakin kalo kadal tahan minum minuman panas?" saya lanjut bahas. "Tapi mungkin aja sih kalo lidahnya terbelah dua kayak gitu."
        "Ngga taulah. Ngga perlu ditebak. Sama seperti lalin di Jakarta, ngga perlu ditebak," jawab Denmas. "Dipantau aja."
        "Iya dipantau aja," lanjut Adju. "Via smartphone kita bisa akses internet untuk informasi lalin kan. Kayak tadi si Ninit cari info di twitter."
        "Sekarang pun ada app smartphone yang mengkombinasi GPS dan socmed," tambah saya setelah nyruput sisa kopi di cangkir. "Semua user yang login ke app itu bisa kasi info kondisi lalin di lokasi yang mereka lalui. Jadi informasi kondisi lalinnya lebih realtime dan kalkulasi waktu tempuhnya bisa lebih akurat."

        "Nah kan udah ada itu semua kan ya....," Ninit bersuara.
        "Itu semua apa, Nit?" sambar Denmas.
        "Ya itu semua, smartphone, internet, GPS, socmed, makanya kita jangan jadi bodoh kalo menghadapi lalin Jakarta," lanjut Ninit.
        "Jadi bodoh gimana sih maksudnya?" tanya saya.
        "Iya kan dengan adanya itu semua kan bisa mendukung kita untuk jadi lebih siap menghadapi lalin Jakarta," jawab Ninit. "Siap lahir batin."
        "Trus yang bodoh tuh yang gimana?" tanya Denmas. "Yang ngga tau cara cari info lalin?"
        "Iya, yang kayak gitu tuh!" sahut Ninit. "Tapi ada yang paling bodoh...."
        "Hah??" saya berseru hampir bersamaan dengan Denmas dan Adju.
        "Yang kayak apalagi tuh??" tanya saya.
        "Yang tiap hari pergi pulang kantor lewat jalan yang itu, pada jam yang itu-itu juga, udah tahu kondisi lalinnya bakal macetnya begitu-begitu juga, tapi bisanya cuma ngomel dan nyalah-nyalahin pemerintah aja," jawab Ninit. "Kan masih bisa coba berangkat lebih pagi."
        Sontak tawa lebih keras berderai dan kali ini lebih panjang.
        "Jempol, Ninit!!" seru Denmas memuji.


01 March 2015

Sambil Ngopi: Ngopi Bareng

Dua french press berbeda ukuran sedang menampung kopi yang baru diseduh dengan air yang baru saja mendidih dari ceret listrik. Kami sedang memulai ritual ngopi bareng setengah swadaya; kopinya patungan tapi air dan listriknya numpang colok di kantor.
        "Itu kopi apa?" tanya Denmas sambil menyodorkan cangkirnya yang sudah diisi dengan beberapa sendok gula.
        "Kopi generik aja, kopi yang banyak di warung atau di mini market," jawab saya sambil menyetel alarm di smartphone.
        Metode menyeduh kopi menggunakan french press sebenernya sama aja dengan metode kopi tubruk, dituangi air mendidih dan tidak diaduk. Yang bikin sedikit berbeda adalah wadah french press ini dilengkapi dengan alat tekan (press) untuk menahan ampasnya di dasar wadah.
        "Udah diseduh gitu trus nunggu apa lagi?" Denmas nanya lagi.
        "Tunggu lebih kurang lima menit," jawab saya sambil sesekali cek alarm.
        "Oooo. Eh itu udah dikasi gula pas diseduh?" Denmas lanjut nanya.
        "Belom dikasi gula, supaya kopinya matang diseduh dan tidak terganggu bahan lain," saya jawab sambil melihat-lihat tweet via tweetdeck di laptop. "Kalo mau pake gula, saya punya kok tuh. Ada di lemari sini," sambung saya sambil menunjuk lemari di sebelah kiri cubicle saya.
        "Ngga usah lah, ini udah minta stok kantor yang ada di dapur aja," sahut Denmas.
        "Wah nyeduhnya banyak banget!" seru si Ninit yang tau-tau muncul sudah dengan cangkir kosong di tangan.
        "Ya kan ngga cuma kita bertiga aja yang doyan kan, sekalian aja deh," jawab saya.
        Di kantor ini memang ada beberapa yang rajin melaksanakan ritual ngopi pagi. Tapi biasanya dilakukan secara sporadis. Ceret listrik yang ada di pantry sana itu tahun lalu setiap pagi sering sekali meniupkan peluitnya dengan nyaring pertanda airnya sudah mendidih. Ngga semuanya juga sih yang memanfaatkan air mendidih dari ceret itu karena sebagian lagi memercayakan kopi sachet-nya diseduh dengan air panas dari dispenser air mineral.
        "Dulu saya juga sempat suka minum kopi instan sachet," kenang saya sambil menunggu bunyi alarm. "Tapi untungnya saya cepat insyaf karena rasanya yang semakin lama semakin aneh di lidah."
        "Twet… twet… twet!" nyaring suara alarm tanda waktu tunggu 5 menit sudah selesai. Lalu saya menekan alat press-nya.
        "Kopi instan sachet dengan rasanya yang aneh itu udah terlalu manis untuk ukuran lidah saya," lanjut saya bercerita sambil menuangkan kopi dari french press ke dalam 3 cangkir. "Tapi ada loh yang masih menambahkan gula ke dalam seduhan kopi instan itu. Ngga berani ngebayangin manisnya kayak apa!" kata saya sambil setengah bergidik.



        "Aku juga mau dong kopinya," seru Pak Anwar menyela kenangan saya sambil menyodorkan cangkirnya. Lagi-lagi sudah ada gula di dalam cangkirnya itu.
        "Ah tentu saja boleh, memang sengaja saya seduh lebih banyak." jawab saya.
        Kedua french press itu masing-masing memiliki daya tampung 600 ml dan 300 ml yang dapat meyajikan total untuk 6 cangkir kopi. Kira-kira per cangkirnya tersaji 150 ml kopi. Nggak perlu banyak-banyak tapi cukuplah untuk mendukung kegiatan pagi di kantor.
        Dari cubicle sebelah kedengeran suara, "Masih ada? Masih kebagian?" Ternyata suara Mas Hari. Tadinya saya kira dia sedang tidur seperti biasanya setiap pagi, katanya untuk menambah jam tidurnya yang sering acak-acakan.
        "Langsung ke sini sajalah, bawa cangkirnya jangan lupa," sahut saya.
        Mas Hari perlu jalan dulu ke pantry untuk mengambil cangkir. Di situ ia sekalian mengisi cangkirnya dengan gula beberapa sendok teh. Kopi yang masih panas tak lama segera mengisi cangkir yang dibawa Mas Hari.
        "Pertama kali saya minum kopi, kopinya hitam dalam mug besar dan gulanya banyak," kenangan saya berlanjut. Denmas dan Ninit masih duduk-duduk di deretan kursi di belakang cubicle saya sambil menikmati kopinya dari cangkir masing-masing. "Anehnya waktu itu saya malah langsung pusing kepala dan akhirnya malah tidur siang-siang. Waktu itu saya minum setelah pulang sekolah. Masih SD kalo nggak salah ingat."
        Bang Edi tau-tau muncul dan langsung aja menyodorkan cangkir tanpa bicara tanda minta bagian kopi yang masih ada.
        "Ah kirain lu udah nggak suka ngopi, Bang!" sahut saya sambil menuangkan sisa kopi yang masih ada dalam french press.
        Bang Edi tersenyum lebar dan lalu berkata, "makasih yak. Kan enak gini ngopinya barengan. Kalo udah berani boleh dah sendiri-sendiri." Dan Bang Edi langsung bergegas balik ke cubicle-nya sambil ketawa pendek-pendek.
        "Abis itu nyoba ngopi lagi?" Denmas bertanya kepada saya. Ternyata dia tertarik dengan cerita saya yang terpotong tadi.
        "Ya nyoba lagi tapi jauh lebih tertarik minum teh manis. Teh manis dengan gula yang banyak sekali, beberapa sendok makan kira-kira." saya lanjutkan ceritanya.
        "Lah itu suka teh manis...." sahut Ninit mengomentari cerita saya.
        "Tentu saya suka teh manis. Sekarang pun kadang-kadang saya masih suka minum teh manis, terutama kalo sedang kecapekan. Kadang tambah garam sedikit untuk melawan dehidrasi...."
        "Idih pake garam segala!" sahut Ninit memotong sambil bergidik.
        "Iya, jadi semacam oralit kan. Bisa untuk melawan dehidrasi dan kecapekan. Pokari versi swadaya." saya lanjut menjelaskan. "Tapi sebenernya saya ngga terlalu suka teh tubruk dikasi gula, sayang dengan aroma dan rasanya. Beda dengan teh celup yang musti dikasi gula baru terasa minum teh. Makanya saya ngga suka teh celup."
        "Trus kalo ngopi juga ngga pake gula?" tanya Nitnit. Sepertinya dia penasaran dengan kebiasaan ngopi saya.
        "Kadang-kadang masih ngopi manis kok. Tapi kalo kopinya single origin sih sayang juga....."
        "Apa tuh kopi single origin?" potong Denmas gantian bertanya.
        "Itu jenis-jenis kopi kayak kopi Toraja, kopi Lampung, kopi Aceh. Kayak gitu-gitu deh." sahut Ninit.
        "Itu bener!" kata saya. "Nah itu kamu tau, Nit."
        "Ya dikit-dikit kan saya juga baca-baca soal kopi." jawab Ninit. "Tapi saya masih belom sanggup ngopi ngga pake gula."
        "Ya ngga apa-apa sih. Semua balik lagi ke selera kok," sahut saya. "Beda orang kan beda seleranya."
        Kita jeda obrolan sebentar untuk nyruput kopi yang masih panas. Ternyata kopi di cangkir saya tinggal separuh.
        "Kopi paling enak kalo masih panas," lanjut saya. "Aromanya masih kuat tercium, rasanya nempel di lidah. Makanya paling pas minum di cangkir supaya tetap panas meski cuma sedikit."
        "Kalo kopi es?" tanya Ninit.
        "Kopi es enak untuk penyegaran, seperti minum es sirup atau soft drink kalo sedang haus lah. Tapi kurang sip untuk menikmati kopinya." jawab saya. "Yah kayak dulu saya suka minum kopi kocok."
        "Apaan lagi tuh?" Ninit lanjut bertanya.
        "Kopi yang bikinnya dikocok," jawab saya. "Jadi dulu itu salah satu kopi instan kasi bonus shaker untuk pembelian ukuran tertentu. Waktu itu saya masih SMP."
        "Jadinya saban siang pulang sekolah, saya kerjaannya bikin kopi kocok untuk diminum sendiri." lanjut saya sambil mengenang salah satu hari itu.
        "Bikinnya dikocok-kocok gitu?" Ninit masih lanjut bertanya.
        "Iya. Ada takarannya kok. Kopi instan dicampur gula dan air dingin di dalam shaker. Lalu masukkan juga 3 cube es batu. Trus dikocok selama 3 menit kalo ngga salah. Lalu dituang ke gelas. Berbusa gitu." saya jawab panjang lebar. "Dan kopinya harus kopi instan. Ngga bisa diganti pake kopi bubuk yang generik."
        "Seru ya!" sahut Ninit. "Sekarang masih mau minum kopi yang kayak gitu?"
        "Boleh-boleh aja. Tapi kalo ada kopi tubruk, apalagi yang single origin, ya mending kopi tubruk aja," jawab saya sambil lanjut nyruput kopi di cangkir beberapa kali.
        Kopi di cangkir saya segera tandas. Kelihatan ada sedikit ampas kopi di dasar cangkir. Ampasnya masih tertuang karena hasil gilingan kopi bubuk generik ini memang terlalu halus sehingga sebagian masih bisa lolos.
        "Balik ke meja ah, siapa tau ada kerjaan," seloroh Nitnit sambil menenteng cangkirnya. "Makasih ya kopinya."
        "Sip," jawab saya. "Nanti sore ngopi lagi?"
        "Enggak ah," tukas Nitnit. "Ngopi sekali sehari aja."
        "Saya ngopi juga sekali sehari aja," ujar Denmas sambil mulai beranjak dari posisi duduknya. "Ini segini aja dorongannya udah kuat banget!"
        Ternyata yang dimaksud Denmas dengan 'dorongan' adalah gejolak yang muncul di lambung dan ususnya segera setelah kopinya tandas. Langsung ia ke toilet untuk menuntaskan dorongan itu.
        "Hahahahaha langsung ngefek ya!" ledek saya sambil beranjak ke pantry menenteng cangkir bekas ngopi tadi.

06 January 2012

The Raid: Ini Film Aksi, Ini Film Aksi Indonesia!


Judul:
The Raid

Produser:
Nathaniel Bolotin, Todd Brown, Rangga Maya Barack Evans, Irwan D Musry, Ario Sagantoro

Sutradara:
Gareth H Evans

Penulis:
Gareth H Evans

Pemeran:
Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian

Plot:
Pasukan khusus tiba di sebuah blok apartemen yang tidak terurus dengan misi menangkap pemiliknya, raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digrebeg oleh polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak terjangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman.

Mulai bertindak di pagi buta, pasukan tersebut diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai Tama, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, Tama menginstruksikan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar.

Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, pasukan itu harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.


Catatan:
Di antara kita pasti ada yang pernah nonton film komedi romantis di bioskop sambil rame-rame nyebut “ooowwwhhh!” pas adegan romantik unyu-nya. Hal yang ‘hampir sama’ terjadi saat nonton The Raid di layar lebar, sebagian besar penonton rame-rame nyebut (teriak) “ wuanjengggg!” Haha! Film yang sempat mau dikasi judul ‘Serbuan Maut’ untuk edaran domestiknya ini memang menyodorkan adegan-adegan aksi yang bikin penontonnya menyumpah nyampah saking serunya!

Gue pernah nonton The Fighter dan Warrior yang menyajikan pertarungan aksi bela diri yang sangat memancang penonton hingga terbawa layaknya menyaksikan pertarungan secara live. Namun The Raid mampu lebih membuat mata penonton melotot (atau malah menutup mata karena ngeri??) menyaksikan aksi bela diri yang nyaris tanpa jeda.

Berbeda dengan yang pernah disuguhkan Gareth Evans dalam Merantau (2009), film yang premiere di Toronto International Film Festival ini meramu semua jenis pertarungan dan perkelahian, sekaligus juga menyuguhkan pertempuran senjata api. Memang masih mengedepankan aksi tarung bela diri, namun kali ini lebih bebas menggunakan senjata tajam (bahkan apa pun!) dan jauh lebih lebih brutal daripada yang pernah diperlihatkan dalam film Merantau.

Penyuka film-film genre aksi pasti sudah hafal dengan semua gaya film-film sejenis yang pernah ada dari seluruh dunia. Film aksi produksi Amerika tentunya berbeda gaya dengan produksi Eropa. Film-film aksi produksi Asia, khususnya Hong Kong, biasanya paling mengemuka karena unsur bela diri yang kental dan selalu tampak nyata di layar lebar. Nah kita bakal menemukan gabungan dari semua gaya film aksi dalam film The Raid; aksi penyerbuan bersenjata yang sangat terasa Amerika/Eropa dilanjut dengan aksi tarung bela diri Asia. Gabungan massive ini menghasilkan adegan-adegan aksi yang sangat sangat ‘mengerikan’!

Latar belakang seorang Gareth Evans yang kelahiran Wales – Inggris namun dengan kesukaan menyaksikan film-film aksi produksi Hong Kong sejak kanak-kanak mungkin bisa sedikit menjelaskan formula aksi yang disajikan dalam The Raid. Koreografi dan sinematografi adegan aksi yang disusun Gareth bersama Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais selama enam bulan sebelum shooting resmi dimulai menghasilkan adegan-adegan aksi yang tervisualisasi dengan prima.

Di antara ‘jualan’ aksi yang mampu membuat penontonnya terengah-engah, The Raid sedikit kedodoran dari segi cerita. Kisah drama yang mestinya menjadi benang merah cerita akhirnya hanya sebatas menjelaskan hubungan antar karakter utama dan menyelipkan twist cerita yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan (meski juga tidak mudah tertebak). Formula cerita yang disuguhkan dalam film ini pun adalah formula yang sudah umum dalam film-film bergenre sejenis; jagoan bersahaja, penyerbuan, jebakan, tangan kanan bos penjahat yang sulit dikalahkan, twist cerita, kebenaran/kebaikan tetap menang. Boleh-boleh aja koq. Dan Gareth sudah memilih untuk ‘jualan’ segi aksinya.

Performa para aktor dalam The Raid mungkin boleh dibagi dalam dua kategori; kategori peran karakter dan peran aksi. Untuk peran aksi sangat-sangat mantap disuguhkan oleh Iko Uwais (Rama) dan Donny Alamsyah (Andi). Joe Taslim (Jaka) yang tampil sebagai komandan pasukan juga bisa tampil ganas dengan banyak improvisasi dari dasar ilmu bela diri Judo yang dikuasainya. Tapi titel juaranya juara aksi harus disematkan kepada Yayan Ruhiyan yang berperan sebagai Mad Dog yang dingin, agak dungu, namun super ganas. Saran gue, jangan sekali-sekali tutup mata anda saat menyaksikan adegan ‘threesome’ Mad Dog bersama Andi dan Rama!

Henky Solaiman selalu mampu mencuri perhatian meski di sini hanya tampil sebentar sebagai ayah yang kuatir akan keselamatan anak laki-lakinya. Namun penonton bakal terbius dengan penampilan Ray Sahetapy yang berperan sebagai Tama, karakter bos Mafia lokal yang sangat santai namun dingin dan keji. Tampil berkolor sambil makan mi instan dalam adegan menghadapi penyusup-penyusup yang tertangkap, Ray Sahetapy mampu bikin gue merinding karena tampilannya yang ‘membumi’ itu yang mungkin saja merupakan representasi/karakterisasi bos kriminal lokal beneran!

Sekali lagi Gareth Evans menyudahi filmnya dengan ending ‘terbuka’. Meski kedodoran dari segi cerita, satu hal yang dapat diperoleh dari cerita The Raid adalah bahwa dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang murni hitam putih. Semuanya selalu abu-abu.