14 Oktober 2009

Nice Action Movie…….and No Propaganda!

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Merantau

Director:
Gareth Evans

Writers:
Gareth Evans (written by)
Daiwanne Ralie (translation)

Casts:
Iko Uwais, Sisca Jessica, Christine Hakim, Mads Koudal, Yusuf Aulia, Alex Abbad, Yayan Ruhian, Laurent Buson, Doni Alamsyah, Ratna Galih

Plot:
In Minangkabau, West Sumatera, Yuda a skilled practitioner of Silat Harimau is in the final preparations to begin his "Merantau" a century's old rites-of-passage to be carried out by the community's young men that will see him leave the comforts of his idyllic farming village and make a name for himself in the bustling city of Jakarta. After a series of setbacks leave Yuda homeless and uncertain about his new future, a chance encounter results in him defending the orphaned Astri from becoming the latest victim of a European human trafficking ring led by the wildly psychotic, Ratger and his right-hand man Lars. With Ratger injured in the mêlée and seeking both his "merchandise" and bloody retribution, Yuda's introduction to this bustling city is a baptism of fire as he is forced to go on the run with Astri and her younger brother Adit as all the pimps and gangsters that inhabit the night hound the streets chasing their every step. With escape seemingly beyond their grasp, Yuda has no choice but to face his attackers in an adrenaline charged, jaw-dropping finale.

Note:
Kalo cuma ngeliat dari trailer-nya sih, gue sebenernya ngga tertarik deh untuk liat film ini di bioskop. Dari trailer-nya gue ngeliat cuma film aksi biasa aja yang udah banyak gue liat di film-film aksi tarung Hong Kong ataupun film-film yang dibintangi Jean-Claude van Damme dan Steven Seagal. Udah lama banget gue ngga tertarik lagi dengan film-film aksi tarung semacam itu, karena dulunya udah ‘penuh’ dijejali film-film semacam itu oleh Almarhum Bokap gue yang emang nge-fans dengan Mr. Seagal.

Tapi dari ‘bocoran’ yang gue baca di beberapa review film Merantau ini, pelan tapi pasti membangun ketertarikan gue untuk nonton di bioskop. Belum lagi ‘dibantu’ dengan rilisan trailer terbaru film ini yang lebih lengkap dan lebih ‘tajam’. Minimal gue tertarik untuk menyaksikan film aksi tarung dengan latar belakang pencak silat asli Indonesia sebagai dasar gerakan tarung pelakon utamanya.

Dan ternyata memang film ini jadi beda dengan film-film aksi tarung yang sudah ada karena unsur gerakan pencak silatnya. Gue sih ngga ngerti seberapa otentik jurus yang ditampilkan kalo dikaitkan dengan Silat Harimau yang katanya dijadikan sebagai dasar. Tapi secara keseluruhan gue cukup bisa mengenali bahwa semua gerakan jurus yang ditampilkan oleh pemeran utama dan satu supporting role lainnya adalah bener jurus-jurus pencak silat.

Yang gue tau sih pencak silat itu gerakannya amat sangat efektif, nyaris ngga ada gerakan yang ngga perlu, seefektif gerakan kungfu Shaolin seperti yang ditunjukin Kwai Chang Caine di serial Kungfu. Tapi pencak silat jauh lebih indah, sekalipun jurus-jurus serangannya terlihat menggebrak dan mematikan. Mungkin jurus-jurus serangan semacam itu yang cocok untuk konsumsi film aksi sehingga terpilihlah aliran Silat Harimau dari Minang, sehingga enak diliat dalam adegan tarung yang keras.

Sebagai film aksi tarung, Merantau sudah pada track yang jelas dan pas. Gue ngga banyak komplain dengan selipan kisah dramanya atau akting yang standar aja dari para pemerannya. Gue juga ngga bakal komplain dengan special effect-nya, khususnya untuk tampilan luka dan darah, atau untuk elevator yang keliatan kegedean untuk suatu gedung apartment. Yah sekalipun sempat bikin mood gue rada turun karena scene dramanya yang agak kepanjangan. Yang paling penting, Merantau sudah bisa menyampaikan suatu film aksi tarung dengan sinematografi yang action banget yang enak ditonton dengan cerita yang cukup, bahkan dengan ending yang ‘berani’.

Sempet kaget juga ngeliat Sisca Jessica di-cast jadi female leading role. Apalagi pas di tengah-tengah film ada Ratna Galih juga ikutan jadi extras yang sebenernya lebih enak diliat daripada pemeran Astri. Tapi kalo diliat dari karakterisasi Astri sebagai cewek yang terpaksa menjadi tangguh, Sisca Jessica terlihat lebih pas, sekalipun dalam keseharian Ratna Galih aslinya jauh lebih tomboy.

Dari semua pemeran yang tampil di Merantau, akting Alex Abbad cukup mencuri perhatian gue. Ini adalah film ketiga gue ngeliat Alex Abbad berakting setelah di Pencarian Terakhir dan Cinta Setaman. Dan Alex memang menampilkan karakter yang beda dengan di 2 film terdahulunya. Gue tau Alex yang aslinya cool dan ramah. Tapi kali ini gue sebel banget dengan karakter Johni yang diperankan Alex. Asyik juga mainin karakternya sebagai calo sekaligus germo kelas lokal yang pengecut. Untungnya script dialog karakter Johni yang dalam Bahasa Inggris ditata dengan baik sehingga Alex Abbad ngga kebablasan nunjukin kefasihannya berbahasa negerinya Ratu Elizabeth itu.

Gue sih enjoy banget nonton film ini, ngga mengecewakan sebagai film aksi tarung. Dan juga ngga mengecewakan kalo dibandingkan dengan promo-nya. Cerita yang ngga berat tipikal film aksi, yang juga ngga kebanyakan niat propaganda ataupun pesan sponsor. Dialognya pun bisa disampaikan dengan enak, ngga sekedar diterjemahkan dari script asli yang ditulis sendiri oleh sutradaranya. Dan gue ngga bakal lupa adegan aksi ‘handuk mandi’ yang cukup fenomenal, lucu sekaligus betulan logis.

Image and video hosting by TinyPic

08 Oktober 2009

Kerasnya Tohokan Kenyataan Perbedaan

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
CINtA

Sutradara:
Steven Facius

Skenario:
Steven Facius, Akbar Maraputra

Penata Musik:
Titi Sjuman

Pemeran:
Verdy Solaiman, Titi Sjuman, Hengky Solaiman, Djenar Maesa Ayu, Ahmad Nugraha, Riyadh Assegaff, Mahbub Wibowo

Plot:
Ini adalah kisah CINtA di sebuah dunia yang masih menyisakan bekas luka lama di masa lalu. Antara seorang Cina bernama A Su dan Siti, seorang muslimah. Di hari yang menentukan segalanya A Su meminta Siti untuk menikah. Pertanyaan sederhana yang harus mereka jawab bersama dengan cara yang susah.
Pencarian jawaban dari dua orang sederhana yang tidak mengerti kenapa mereka harus berbeda. Dan sebaliknya mengerti, kalau sebenarnya mereka cuma saling jatuh cinta.

Catatan:
Nontonnya termasuk dadakan nih, bahkan terasa seperti dijebak! :P Sebenernya sih bukan dadakan atau pun dijebak, guenya aja o’on yang ngga tanggap situasi. Tapi kalo jebakan model begini sih boleh aja sering-sering koq! :D

Anyway, film yang masih selalu disalah dugakan dengan film lain berjudul sama ini terasa cukup mencekam sejak awal mulanya. Tidak hanya karena musik score-nya (yang ditata dengan apik oleh Titi Sjuman) tapi juga karena pemilihan warna dan angle kamera yang kelam dan yang pasti dialog-dialognya yang ‘keras’. Pada awalnya gue hanya berekspektasi film akan bertutur tema percintaan dua manusia berbeda suku dengan cara penyampaian yang berbeda dari film lainnya. Tapi ternyata dalam durasi yang singkat film ini tidak hanya menyampaikan dengan berbeda, tetapi juga mampu menyampaikan tema tersebut dengan konflik yang betul-betul tajam! Terasa menohok perasaan hati gue.

Cara penyampaiannya begitu keras, sama kerasnya dengan kenyataan yang ada. Gue bukan TiongHoa, tapi mungkin karena sejak kecil sampai sekarang cukup dekat dengan mereka, gue bisa merasakan betapa kerasnya kondisi yang mereka rasakan untuk hidup di Negara ini. Sekalipun bukan dalam diskriminasi yang terang-terangan lagi sejak tahun 1998, tapi perasaan ‘berbeda’ dan ‘dibedakan’ belum bisa dihapus dengan mudah.

Ada satu adegan yang bikin gue tersenyum karena kedalaman pesannya, saat A Su berusaha merubah salah satu bagian identitas di KTP miliknya. Tulisan yang A Su tulis di situ menurut gue tepat banget; seperti itulah seharusnya menurut gue. Ngga tau sih kalo orang lain merasakan/mengerti hal yang sama.

Dengan spirit yang sama dengan film Babi Buta yang Ingin Terbang (namun lebih linier dalam bertutur), film ini tidak menggurui dan juga tidak memberikan solusi. Tapi kenyataan yang disampaikan film ini membuat gue tersadar bahwa diskriminasi tidak mudah dihapus hanya dengan beberapa lembar peraturan.

07 Oktober 2009

Asyiknya Berdialog

Image and video hosting by TinyPic


Judul:
Cin(T)a

Sutradara:
Sammaria Simanjuntak

Pemeran:
Saira Jihan, Sunny Soon

Plot:
Film Cin(T)a adalah kisah cinta segitiga antara Cina, Annisa, dan Tuhan.
Cina (Sunny Soon), mahasiswa baru, 18 tahun, bercita-cita menguasai dunia dengan Tuhannya, Yesus Kristus, di sisinya. Ia percaya bahwa ia dipilih Tuhan untuk menjadi gubernur Tapanuli, sebuah provinsi yang akan terbentuk di masa yang akan datang. Cina berjuang dengan iman yang kuat, namun naif, karena terus menemui kegagalan.
Annisa (Saira Jihan), mahasiswa senior, 24 tahun, yang mana akademisnya agak terhambat karena karirnya sebagai bintang baru di dunia perfilman. Ia putus asa membuktikan bahwa ia bukan perempuan yang hanya memiliki kecantikan dan tidak terlalu pintar. Ketenaran dan kecantikannya malah membuatnya kesepian di mana ia hanya percaya pada cinta dari keluarganya, keluarga Jawa dengan tradisi Islam yang kuat.

Note:
Tema kisah cinta antar ras selalu menarik untuk diceritakan. Baik itu kesedihannya, kesulitannya atau bahkan keindahannya. Cerita semacam ini ngga hanya dimonopoli Indonesia dengan kisah cinta antara seorang pribumi (??) dengan keturunan TiongHoa. Di Amerika Serikat, yang katanya Negara paling demokratis di dunia pun selalu punya kisah menarik tentang hubungan antara seorang Afro Amerika dengan ras kulit putih yang mayoritas di sana.

Dalam film ini, selain mengetengahkan kisah cinta perempuan Jawa dengan laki-laki TiongHoa, juga ‘dipertajam’ dengan perbedaan latar keyakinan agama keduanya; yang Jawa adalah seorang perempuan Muslim yang taat, si laki-laki TiongHoa adalah umat Kristiani. Tetapi perbedaan yang ‘tajam’ itu tidak disampaikan dengan keras atau tegang. Kisah cinta mereka diceritakan dengan cukup santai, asyik bahkan kadang lucu, tapi tetap sarat dengan ‘gugatan’.

Film ini banyak membuat gue tersenyum dengan semua dialog-dialognya. Sekalipun kadang masih terdengar seperti menggurui, tapi cukup mampu disampaikan dengan santai. Dalam kenyataannya justru dalam obrolan ‘pinggir jalan’ sekalipun seringkali kita mendengar kalimat-kalimat yang menggurui. Film ini cukup nyata dalam dialog namun disampaikan dengan santai cenderung ‘cool’.

Tensi cerita nyaris tidak pernah mencapai ketegangan. Sekalipun dalam kesedihan, karakter Annisa ataupun Cina tidak pernah digambarkan larut. Life goes on, terus berlanjut dengan dialog sekalipun mereka tetap di jalurnya masing-masing.

24 Agustus 2009

Masih Belom Percaya Harry Dagoe Bikin Film Horror?!

Image and video hosting by TinyPic


Judul:
Dikejar Setan

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Penulis:
Harry Dagoe Suharyadi, Armantono

Pemeran:
Nadya Vella, Frans Nicholas, Dida Airlangga, Ruly Rizal, Winda Amanta, Djenas Maesa Ayu

Sinopsis:
Tiga pasang remaja yang tengah berpacaran berkelompok untuk membuat film horror amatiran berjudul “Dikejar Setan”. Rencananya film tersebut diikut sertakan pada sebuah festival film indie.
Untuk mencuri perhatian penonton, Mereka bersepakat memunculkan hantu sungguhan saat adegan setannya dibuat. Maka dilibatkanlah seorang ahli pemanggil setan dalam proses shooting.
Dari mulai peristiwa shooting itulah justru keganjilan dan keanehan mulai terjadi pada diri mereka masing-masing. Pelan-pelan realitas dan halusinasi semakin tak jelas lagi di mata mereka, begitupun dengan dunia nyata dan dunia halus, masa lalu dan masa sekarang.
Tak hanya itu, merekapun jadi terseret pada peristiwa kejahatan yang menelan korban nyawa yang tidak mereka lakukan. Anehnya peristiwa tersebut telah terjadi beberapa waktu yang silam. Dan celakanya merekalah yang justru menjadi bagian dari kejahatan tersebut dan harus menerima pembalasan atas kejahatan itu..
Dalam kondisi ter-terror, panik dan kebingungan, mereka mencoba mencari orang-orang yang dapat membuka kunci misteri tersebut. Tak mudah memulai dari mana, sementara Terror “kematian” itu sudah di hadapan mereka…


Catatan:
Karyanya Harry Dagoe?! Hmmmmmm…….sejak kapan dia mau bikin film horror?? Harry Dagoe yang gue ‘tau’ biasanya ngga lepas dari film drama, sekalipun bertema anak-anak. Karakter film-filmnya yang unik jadinya bikin gue penasaran untuk nonton film terbarunya ini.

Mungkin jodoh kali ya, ada aja kesempatan ikutan Press Screening!! Padahal gue bukan wartawan loh!! Adalah temen wartawan yang katanya punya kelebihan undangan press screening film Dikejar Setan. Datanglah daku pagi-pagi ke venue, ketemu temen-temen wartawan itu. Dan gue juga ngga ngelewatin kesempatan untuk secara khusus minta tanda tangan Harry Dagoe di DVD filmnya salah satu koleksi gue.

Ah OK mulailah kita masuk ke studio. Dan sambil nunggu mulai, seperti biasanya kalo gue mau nonton horror di bioskop pasti nervous!! Ahahahaha dodolnya! Gue ngga seberani yang orang duga kalo berurusan dengan film horror, khususnya kalo wajib nonton di bioskop. Tahun lalu ada satu film horror yang gue tonton sampe 3 kali di bioskop, dan dalam kesempatan ketiga-tiganya selalu nervous!! Makanya gue jarang sekali nonton film horror di bioskop, kecuali beberapa film horror Indonesia yang gue anggap bermutu dan pantas untuk disaksikan di bioskop.

Setelah dibuka dengan sedikit ‘sambutan’ dari produksi dan juga sekelumit kata-kata dari sutradaranya, dimulailah filmnya langsung to the point!!

Mengutip apa yang dibilang Djenar Maesa Ayu di press conference setelah penayangan filmya, bahwa yang paling utama dari sebuah film adalah sisi komunikatifnya, apa yang ingin disampaikan bisa sampai dan diterima oleh penontonnya. Dan untuk Dikejar Setan yang diklaim sebagai film horror, gue merasa film ini sudah bisa dibilang berhasil menyampaikan kengerian kepada penontonnya, khususnya gue! Di film itu kita ngga cuma disuguhkan para aktor/aktris yang ketakutan, tapi kita juga merasakan kengeriannya.

Secara umum, film ini ngga punya tema yang orisinil. Pastinya begitu tau sinopsisnya, salah satu dari kita bakal mengingat-ingat ada film horror lain yang memiliki kesamaan plot cerita. Dan dalam visualisasinya, film ini juga masih menggunakan gimmick-gimmick film horror yang sudah ‘umum’; misalnya, udah tau ada yang aneh di ujung sana eh koq malah mendekati ke sana untuk cari tau.

Situasi setting yang suram juga dimaksimalkan. Tapi suram di sini ngga mesti gelap, juga ngga melulu malam. Yang agak mengganggu ada di sisi efek khusus untuk make up wajah/penampilan seram. Sepertinya keterbatasan dana jadi kendala untuk memaksimalkan make up untuk wajah/penampilan seram.

Akting yang cukupan aja dari para pendatang baru rasanya sih pas aja, karena film ini lebih mengangkat situasi seram secara keseluruhan. Sekalipun ingin menyampaikan kengerian, Harry Dagoe membuat penontonnya dalam kondisi yang naik-turun. Penonton ngga melulu disuguhi suasana tegang. Setelah tegang seringkali masuk ke situasi mellow. Nah gue cukup bermasalah dengan situasi mellow ala Harry Dagoe ini; kadang terasa sangat-sangat drop, jatuh jauh dan dalam banget setelah diangkat tinggi dalam ketegangan horror. Ngga cuma jatuhnya yang dalam tapi juga kadang terasa kepanjangan. Belom lagi ‘didukung’ dengan lagu latar yang kadang metal (= melankolis total).

Tapi salah satu kelebihan dari film ini, Harry Dagoe sukses memoles beberapa gimmick horror yang sudah umum. Bagi pecinta film horror kan banyak tuh gimmick yang udah pasti ketebak di mana punch line-nya. Nah Harry Dagoe cukup sukses mengejutkan penontonnya dengan memoles punch line-nya.

Sebagai film horror, sukseslah film ini untuk menakut-nakuti gue. Ngga cuma ngeliatin aktor/aktris yang ketakutan dalam film. Dan juga ngga ngetawain adegan-adegan horror-nya.

New Beginning for New Generation

Image and video hosting by TinyPic


Title:
Star Trek

Director:
J.J. Abrams

Writers:
Roberto Orci, Alex Kurtzman

Casts:
Chris Pine, Zachary Quinto, Leonard Nimoy, Eric Bana, Bruce Greenwood, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Ben Cross, Winona Ryder, Chris Hemsworth, Jennifer Morrison, Rachel Nichols

Plot:
On the day of James Kirk's birth, his father dies on his ship in a last stand against a mysterious alien vessel. He was looking for Ambassador Spock, who is a child on Vulcan at that time, disdained by his neighbors for his half-human nature. Twenty years later, Kirk has grown into a young troublemaker inspired by Capt. Christopher Pike to fulfill his potential in Starfleet even as he annoys his instructors like young Lt. Spock. Suddenly, there is an emergency at Vulcan and the newly commissioned USS Enterprise is crewed with promising cadets like Nyota Uhura, Hikura Sulu, Pavel Chekov and even Kirk himself thanks to Leonard McCoy's medical trickery. Together, this crew will have an adventure in the final frontier where the old legend is altered forever even as the new version of it is just beginning.

Note:
Sejak tahu JJ Abrams yang bikin film barunya Star Trek, gue malah jadi kuatir. Yah gue sempet ‘dikecewain’ Abrams waktu nonton Cloverfield. Di situ ada cerita yang ngga perlu (kalo ngga mau dibilang bodoh) kalo memang dia mau bikin Cloverfield jadi ‘film dokumenter’. Benci banget deh sama tuh film.

Buat generasi ‘lama’ penonton Star Trek seperti gue pastinya tau banget bahwa salah satu franchise terbesar di dunia ini adalah bukan sekedar science fiction, tapi sudah menjadi scientific fiction. Dan tidak hanya scientific tapi juga humanitarian.

Nah dengan ‘prestasi’ film-film layar lebar/serial TV produksi Mr. Abrams yang cenderung drama dengan alur cerita yang ‘cool’, gue jelas kuatir bakal terjadi ‘penyimpangan’ mendasar dari serial film yang memiliki ‘penganut’ dalam jumlah besar ini (bahkan mungkin terbesar di dunia!).

Setelah ‘dipaksa’, karena juga mau ngumpul-ngumpul, akhirnya sampai juga gue menyaksikannya di salah satu bioskop dalam salah satu mall bergengsi di Jakarta Selatan. Dan kekuatiran gue cukup terbukti!!

Abrams dengan berani menggeser karakterisasi beberapa tokoh utama dalam film ini. Bermenit-menit gue protes tak bersuara, “duh si itu kan ngga kayak gitu!”

Belom lagi plot ceritanya yang ‘menyambar-nyambar’ dua film summer blockbuster lainnya. Ugh!! Nyaris ilfil deh gue.

Sekalipun begitu, gue tetep bertahan di kursi gue karena penasaran mau dibawa ke mana film yang diklaim jadi prekuel untuk seluruh Star Trek yang pernah tayang di layar lebar dan serial TV. Dan pada akhirnya gue bisa memaklumi semua usaha Abrams untuk Star Trek. Yap, this is a new beginning for new generation.

Mungkin reboot lebih tepat dibandingkan prekuel. Sekalipun menceritakan masa-masa awal terbangun dan ‘terbangun’nya USS Enterprise, tapi semua karakter yang hadir di bawah pimpinan Commander James Tiberius Kirk ini ‘diceritakan kembali’, sekalipun akhirnya karakter-karakter mereka bisa menyampai karakter ‘asli’nya yang gue kenal.

Satu hal yang masih gue anggap pas dengan era James T. Kirk adalah film Abrams ini cukup banyak mengedepankan action (fight dan perang) dibandingkan strategi dan analisa tempur yang berlama-lama. James T. Kirk adalah komandan yang berani mengambil keputusan dalam kondisi tertekan sekalipun menyerempet bahaya. Dan dia tidak ragu-ragu untuk terjun langsung untuk menyusup, bahkan ke tengah-tengah pertarungan.

Bolehlah film ini dijadikan reboot dan ‘mementahkan’ semua film Star Trek yang pernah ada demi memperkenalkannya kepada generasi baru penikmat film dunia. Tapi gue secara pribadi ngga menganggap film ini cukup istimewa.

23 Agustus 2009

Untuk Hiburan dan Kebanggaan Keluarga Indonesia

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Garuda di Dadaku

Sutradara:
Ifa Isfansyah

Penulis skenario:
Salman Aristo

Para Pemeran:
Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Kusnaedi, Leroy Osmani, Ramzi, Ari Sihasale

Catatan:
Sedikit aja ada review positif untuk sebuah film Indonesia, gue selalu jadi kepingin menyaksikan film itu. Mudah-mudahan masih sempat nonton di bioskop, seperti kita tau ada ‘diskriminasi’ terhadap film-film Indonesia kecuali yang laku, ato minimal sempet gue tonton di DVD sekaligus mengkoleksinya.

Seperti halnya untuk film Garuda di Dadaku ini. Cukup dengan membaca 1 review positif tentang film ini, tentunya dari reviewer terpercaya, gue jelas langsung siap-siap berangkat ke bioskop untuk menyaksikannya. Tapi waktu awal-awal film ini dirilis, gue sedang punya kesibukan yang cukup menyita waktu dan menyedot kondisi kesehatan sehingga pada akhir pekan malah gue manfaatkan untuk istirahat di rumah. Untungnya dalam akhir pekan berikutnya gue sempat juga menyaksikan film ini di bioskop favorit gue.

Dan seperti biasanya juga, sekalipun sudah ada review positif tentang film ini, gue selalu tidak berekspektasi terlalu tinggi. Dan film ini memang tidak tergolong istimewa tapi masih boleh rekomendasikan sebagai tontonan yang cukup baik, apalagi dijadikan tontonan bagi keluarga.

Waktu baru duduk di dalam theater, mula-mula gue rada terganggu dengan celotehan beberapa penonton cilik yang berada agak ke belakang. Waktu itu sih karena sudah hampir habis masa tayangnya, dalam theater dengan kapasitas kecil hanya terisi setengahnya dan gue kebagian di baris tengah tapi jadi penonton yang paling depan.

Menit-menit awal pun gue masih merasa terganggu dengan ulah penonton cilik yang sedikit-sedikit melontarkan pertanyaan dengan suara agak berteriak. Tapi setelah semakin lama mengikuti cerita film ini gue menjadi jadi sangat-sangat toleran dengan kelakuan penonton cilik itu, sekalipun memang seharusnya tidak boleh terjadi keributan di dalam theater, karena film ini pun memang berlatarkan cerita tentang keluarga dengan tokoh utama seorang anak laki-laki usia Sekolah Dasar.

Sayangnya cerita film ini jadi seperti hanya tersegmentasi kepada penonton anak-anak saja. Buat penonton dewasa seperti gue tentunya akan banyak mempertanyakan logika penceritaan di beberapa adegan. Belum lagi adegan tendangan kemenangan di sebuah try out sepak bola yang tidak menggunakan kelebihan si tokoh utama di awal cerita.

Untungnya masih ada tokoh Bang Dulloh yang cukup bisa menyegarkan suasana dengan semua kelakuan dan celetukan khasnya. Ngga salah kalo Ramzi, yang terkenal kocak di serial TV Cintaku di Rumah Susun, yang di-casting menjadi supir dodol tapi sekaligus jadi pengasuh yang sangat-sangat ngemong.

Secara keseluruhan film ini cukup enak disaksikan apalagi didukung dengan musik score yang keren, yang di-compose dengan apiknya oleh pasangan Aksan dan Titi Sjuman. Musiknya mampu mengantarkan sebuah kebanggaan dan kemegahan sebuah kemenangan dari perjuangan yang tulus demi sebuah olah raga yang paling dicinta di Indonesia.

22 Agustus 2009

What Should I See in this Movie?

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Transformers: Revenge of the Fallen

Director:
Michael Bay

Writers:
Ehren Kruger, Roberto Orci

Cast:
Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro, Ramon Rodriguez, Kevin Dunn, Julie White, Isabel Lucas

Plot:
Decepticon forces return to Earth on a mission to take Sam Witwicky prisoner, after the young hero learns the truth about the ancient origins of the Transformers. Joining the mission to protect humankind is Optimus Prime, who forms an alliance with international armies for a second epic battle.

Note:
Mungkin sebagian salah gue juga sih. Waktu itu gue sedang flu parah, sekalipun belom minum obat anti flu yang bikin ngantuk, jelas badan rasanya ngga asyik dah. Dan karena ngejar premiere, jadinya gue bela-belain ikutan temen-temen nonton mulai jam 10 malam, secara hari itu masih weekdays yang paginya emang gawe di kantor. Badan lagi dihajar flu, pagi sampe sore gawe dan kagak sempet bobo siang, ditambah mulai nontonnya jam 10 malem. Alhasil gue sempet ketiduran di tengah-tengah film selama lebih kurang 20 menit!

Setelah nonton malam itu, sumpah deh gue penasaran banget adegan apa aja yang sempet terlewat selama gue ketiduran. Akhirnya setelah lewat 1 minggu terpaksa deh download film ini dari internet. Nah dari situlah gue jadi tau seberapa lama gue ketiduran dan adegan apa aja yang terlewat.

Pas gue cek lagi dari hasil download itu, ternyata mulainya gue ketiduran pas adegan battle di pemakaman. Adegan yang cukup seru dan intense. Lumayan aneh ya?! Tapi seinget gue, justru di beberapa film dengan banyak adegan action yang intense tanpa jeda malah bikin gue ngantuk. Hal ini juga terjadi waktu gue nonton salah satu film spin off beberapa waktu kemudian setelah film Transformers ini.

Bisa jadi karena kombinasi kondisi internal dan eksternal badan gue yang bikin ketiduran dalam waktu yang cukup lama: sedang flu parah, abis gawe di kantor, nonton jam 10 malam dan filmnya yang full action dengan pace cepat nyaris tanpa jeda. Ketiduran 20 menit rekor banget deh. Untungnya film ini berdurasi lebih dari 2 jam. Kalo gue ketiduran 20 menit di film berdurasi 90 menitan, bakalan langsung sampai end credit title deh.

Jujur aja nih ya, sebenernya gue ngga segitunya nguber-nguber film ini sampai kudu nonton pas premiere-nya segala. This is not my kind of movie. Tapi kali ini gue hadir lebih karena untuk kebersamaan di acara nonton bareng komunitas gue. Kalo ngumpul-ngumpul trus nonton bareng kan seru tuh.

Mungkin juga karena gue ketiduran jadi lumayan banyak terlewat, tapi gue merasa film ini ngga menyuguhkan apa-apa selain adegan-adegan mega action pertempuran antar robot-robot raksasa. Design robot-robotnya kali ini memang lebih bagus dibandingkan di film pertamanya karena dengan mudah gue bisa mengenali perbedaan kedua jenis robot yang berlawanan sekalipun dalam adegan tempur jarak dekat.

Sayangnya adegan-adegan mega action itu ngga bisa bikin gue melupakan ceritanya yang ‘ngga masuk akal’. Pastinya banyak bakal bilang bahwa film fantasi semacam Transformer ini ngga bakalan lah punya cerita yang masuk akal. Namanya aja film fantasi, pastinya bakal banyak banget ngarangnya.

Tapi kalo merunut pada sekelumit obrolan gue dengan salah satu penulis skenario film Indonesia yang cukup kompeten, bahwa dalam menulis sebuah cerita seluas apa pun fantasinya, sebagai penulis harus mampu membuat cerita itu meyakinkan sehingga dipercaya bisa saja terjadi sehingga bisa diterima oleh audience-nya.

Nah, film Transformer yang ini ngga mampu meyakinkan gue bahwa keseluruhan cerita ‘masuk akal’ sehingga jadi enak diikuti sampai akhir. Sepertinya pembuatnnya terlalu sibuk menyuguhkan adegan-adegan mega action sehingga melupakan logika cerita. Atau mungkin juga filmmaker-nya merasa sudah cukup puas hanya dengan menyuguhkan adegan-adegan baku hantam antar robot dari luar angkasa itu.

Sepertinya film ini juga ingin ‘perang’ dengan film robotic lainnya yang waktu rilisnya berdekatan, karena selain film ini memang menampilkan robot-robot dengan variasi ukuran dan mampu menyamar dalam bentuk berbagai benda, pembuat film ini juga menyelipkan robot yang mampu menyamar dalam bentuk manusia! Jelas-jelas menurut gue ide ini sangat bodoh! Jelas-jelas keluar dari pakem Transformers. Bikin gue ilfil!

Makin mendekati ending semakin bikin gue ilfil. Dan mencapai puncaknya pada adegan Robotic Heaven yang berlanjut ke adegan Sam’s Resurrection! Seluruh film ini jadi berantakan di mata gue. Siapa sih yang punya ide bikin cerita sebodoh itu?

Dan adegan-adegan seru yang disuguhkan, bahkan penampilan Mikaela yang hot sekalipun ngga mampu bikin gue ‘memaafkan’ kebodohan-kebodohan itu.

06 Agustus 2009

Penggugah yang Diharapkan Menggugah

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Merah Putih

Sutradara:
Yadi Sugandi

Penulis Skenario:
Conor Allyn, Rob Allyn

Pemeran:
Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinatrya, Zumi Zola, T. Rifnu Wikana, Rudy Wowor

Catatan:
Udah lama banget ngga liat film perang dengan setting cerita masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baru kali ini ada yang niat banget bikin film dengan latar perang kemerdekaan. Dan ngga hanya jadi latar, tapi memang niat dibikin lengkap dengan adegan peperangannya. Tentunya ngga seluruh perang yang terjadi digambarkan di sini. Dan ngga hanya perang kemerdekaan aja, katanya film ini bakal dibuat menjadi trilogi.

Proyek film yang cukup ambisius dengan sebagian kru berkebangsaan asing (executive producer dan penulis skenario) terlihat cukup mewah di antara produksi film-film Indonesia akhir-akhir ini. Denger-denger sih budget-nya mencapai 60 milyar rupiah untuk satu film ini saja. Ngga heran juga sih, adegan perang dan ledakannya cukup keren. Ngga kalah dengan film-film perang lainnya, sekalipun tetap dengan ledakan yang sesuai dengan masanya (tahun 1947).

Tapi kalo mengharapkan film ini menjadi penggugah rasa nasionalisme, gue koq ngga merasakan seperti itu ya. Beberapa adegan yang mestinya menggiring gue untuk merasakan kemegahan sebuah perjuangan yang mulia, sepertinya malah biasa saja. Adegan yang seharusnya terlihat gagah ngga bikin gue kagum sama sekali.

Beberapa karakter pun terasa inkonsisten, seperti Sang Komandan yang pada awalnya pada masa pendidikan terlihat begitu bijaksana dan penuh strategi, tapi pada saat pecah pertempuran malah tidak berpikir panjang dan semata-mata hanya ‘mengandalkan’ ridho Allah. Karakter Marius tiba-tiba bisa berubah jadi pengecut total hanya karena pecah adu senjata.

Ngga sedikit juga dialog-dialog yang ngga perlu, yang mungkin lebih bagus kalo bisa disampaikan dalam ‘bahasa’ visual, seperti adegan debat si Letnan dengan Sang Komandan sebelum maju bertempur membabi buta.

Selain itu ada hal yang menurut gue janggal karena gue baru tahu kalo aggressor Belanda mampu menyisir dan mengejar para pejuang Indonesia sampai masuk ke pelosok hutan dan gunung dengan berjalan kaki, mampu melakukan pertempuran malam di dalam hutan. Setau gue prajurit Eropa/Amerika tidak terlatih untuk pertempuran di dalam hutan, khususnya hutan tropis yang pekat seperti di Indonesia. Kalaupun ada yang mampu, itu baru terjadi 20 tahun kemudian dalam perang di Vietnam, itu pun kalah.

Puncak cerita yang dimulai pada bulan Juni 1947 ini masih belum jelas. Apakah nanti akan ditutup pada peristiwa besar Agresi Belanda I pada bulan Juli 1947? Ngga banyak ‘pengantar’ yang mengarah ke situ. Tentunya berbeda apabila mengambil cerita sebelum kemerdekaan yang pastinya berpuncak pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sekalipun begitu, baru kali ini gue liat film perjuangan kemerdekaan yang mana pejuang-pejuangnya nggak melulu berisikan orang-orang dengan nasionalisme tinggi dan berapi-api. Dalam film ini beberapa karakter bergabung dengan pejuang digambarkan karena sebab yang berbeda-beda, di antaranya memang mau pamer kegagahan dan yang satunya lagi demi membalas dendam karena seluruh keluarganya tewas di tangan aggressor Belanda.

Dan bagaimana pun juga, film ini cukup segar di antara film-film Indonesia mutakhir yang temanya nyaris seragam. Dan lagi film ini cukup cocok untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus nanti.

Mudah-mudahan untuk seri lanjutannya dapat digarap dengan lebih baik lagi dan mudah-mudahan mampu menggugah kesadaran kebangsaan.

Cukup Seru namun Tak Berkesan

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Wolverine

Director:
Gavin Hood

Writers:
David Benioff, Skip Woods

Casts:
Hugh Jackman, Liev Schreiber, Danny Huston, Will i Am, Lynn Collins, Kevin Durand, Dominic Monaghan, Taylor Kitsch, Daniel Henney, Ryan Reynolds

Plot:
Leading up to the events of X-Men, X-Men Origins: Wolverine tells the story of Wolverine’s epically violent and romantic past, his complex relationship with Victor Creed, and the ominous Weapon X program. Along the way, Wolverine encounters many mutants, both familiar and new, including surprise appearances by several legends of the X-Men universe.

Note:
Dari niat yang cool banget untuk bikin film bertemakan ‘year one’ dari sosok X-Men yang paling terkenal, tapi sayang sekali ngga membuat gue kagum. Memang sih ngga bisa begitu aja dibandingkan dengan Batman Begins yang juga bertemakan ‘year one’ sekaligus reboot dari semua film Batman yang pernah ada, tapi film Wolverine ini terasa hanya menceritakan asal usul sekedarnya saja tapi dibalut dengan adegan-adegan aksi yang keras dan mantap. Ceritanya yang seharusnya kuat, jadi tertutupi seluruh adegan aksinya. Dan adegan-adegan aksi yang intense malah sempet bikin gue ketiduran sebentar!!

Gue memang ngga banyak ngerti tentang X-Men. Dan jujur aja, gue tau banyak tentang X-Men justru dari film-filmnya yang sudah gue tonton semua. Khususnya untuk origin dari Wolverine ini, gue hanya sekedar menyerap ceritanya begitu aja tanpa ada intensitas mengikutinya dengan tekun. Padahal di dalamnya banyak juga kejutan dengan kemunculan beberapa tokoh-tokoh penting dari X-Men universe.

Tapi ada satu hal yang menarik adalah akting dari pemeran Logan kecil saat pertama kali memunculkan kekuatannya, ‘kuku’ tulang aslinya yang panjang sebelum diubah jadi adamantium. Adegan itu cukup dramatis, bikin gue rada merinding menyaksikannya. Sayang, selebihnya ngga ada lagi adegan bisa bikin gue merasakan hal yang sama.

Secara keseluruhan sih tetep bolehlah film ini disaksikan, terutama bagi mereka yang kepingin tau asal usul dari salah satu tokoh comic yang paling laku dari Marvel Comics. Tapi buat gue justru ngga ninggalin kesan apa-apa.

05 Agustus 2009

It Charged Up My Romantic Feeling

Image and video hosting by TinyPic

Title:
The Proposal

Director:
Anne Fletcher

Writer:
Pete Chiarelli

Casts:
Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson, Betty White, Denis O'Hare, Malin Akerman, Oscar Nuñez, Aasif Mandvi, Michael Nouri

Plot:
When high-powered book editor Margaret faces deportation to her native Canada, the quick-thinking exec declares that she's actually engaged to her unsuspecting put-upon assistant Andrew, who she's tormented for years. He agrees to participate in the charade, but with a few conditions of his own. The unlikely couple heads to Alaska to meet his quirky family and the always-in-control city girl finds herself in one comedic fish-out-of-water situation after another. With an impromptu wedding in the works and an immigration official on their tails, Margaret and Andrew reluctantly vow to stick to the plan despite the precarious consequences.

Note:
Sebenernya basic ceritanya sih ngga orisinil. Cerita semacam ini udah banyak yang bikin. Kalo hanya dari temanya sih ngga bakalan bikin gue tertarik. Yang pasti untuk cerita semacam ini gue lebih menunggu seperti apa film ini bakal divisualisasikan, selain casting yang berbanding terbalik dengan kewarganegaraan aktor-aktris utamanya (Ryan Reynolds seorang warga Canada berperan sebagai warga US, sedangkan Sandra Bullock berperan sebaliknya).

Ternyata si penulis cerita cukup cerdas untuk memuat sebanyak-banyaknya unsur komedi dalam film ini, dari unsur slapstick, tricky granny, sedikit ala American Pie sampai ke humor dewasa. Tidak hanya komedi tapi juga beberapa unsur yang dapat mengundang rasa gemas penonton, seperti menyertakan kelucuan anjing jenis Samoyet yang masih kecil yang kurang akrab dengan karakter Margareth.

Sekalipun maunya bertemakan romantic comedy, tapi buat gue kelucuan-kelucuan di film ini lebih mirip kelucuan dalam film Miss Congeniality. Entah sengaja ato tidak, yang pasti kedua film ini diperankan oleh aktris yang sama. Gue sendiri ngga terlalu ngerti juga seperti apa sih romantic comedy yang seharusnya. Karena selama ini gue masih terlalu suka dengan Sleepless in Seattle yang tidak terlalu comedic itu.

Jarang banget gue nonton romantic comedy di bioskop. Gue aja udah lupa judul film rom-com apa yang terakhir kali gue tonton di bioskop. Yah kadang-kadang chauvinisme gue suka keterlaluan karena menganggap film dengan tema seperti ini hanya untuk konsumsi kaum perempuan. Dan kali ini gue harus mengakui bahwa film sejenis ini mampu men-charge kembali sisi romantis gue :malu:

Superhero juga Manusia

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Watchmen

Director:
Zack Snyder

Writers:
David Hayter, Alex Tse

Casts:
Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Patrick Wilson, Carla Gugino, Matt Frewer, Stephen McHattie, Laura Mennell

Plot:
Watchmen is set in an alternate 1985 America in which costumed superheroes are part of the fabric of everyday society, and the "Doomsday Clock" - which charts the USA's tension with the Soviet Union - is permanently set at five minutes to midnight. When one of his former colleagues is murdered, the washed up but no less determined masked vigilante Rorschach sets out to uncover a plot to kill and discredit all past and present superheroes. As he reconnects with his former crime-fighting legion - a ragtag group of retired superheroes, only one of whom has true powers - Rorschach glimpses a wide-ranging and disturbing conspiracy with links to their shared past and catastrophic consequences for the future. Their mission is to watch over humanity... but who is watching the Watchmen?

Note:
Setelah siangnya nonton film action yang bisa bikin gue ketiduran, sorenya gue niatin nguber nonton film ini dengan ekspektasi bakalan ketiduran juga. Gue berekspektasi seperti itu karena gue pernah baca graphic novel-nya dan sedikit-sedikit sudah baca review film ini, khususnya review yang minor.

Sebenernya ngga terlalu minat juga sih nontonnya karena si empunya graphic novel, Alan Moore, ngga pernah mau dan ngga pernah suka novelnya diadaptasi ke dalam film. Dia ngga bakal pernah mau nonton film-film adaptasi novelnya. Menurutnya, medium graphic novel (comic) ngga sama dengan film. Dan film ngga bakal bisa menuangkan semua yang ada dari comic/graphic novel-nya.

Dan hal ini sudah terbukti bahwa di setiap film adaptasi dari comic/graphic novel-nya ngga ada yang bisa sebagus aslinya: From Hell, League of Extraordinary Gentlemen, V for Vendetta. Belum lagi Zack Znyder, sang sutradara, sudah memiliki ‘reputasi’ tidak kreatif karena mengadaptasi Frank Miller’s 300 secara panel to panel, tiap adegan mirip banget dengan visual di panel-panel pada graphic novel-nya.

Sekalipun begitu, biarpun sedikit tetep ada rasa penasaran untuk melihat film adaptasi dari salah satu graphic novel paling berpengaruh pada abad ini. Rasa penasaran itulah yang membawa gue ke bioskop untuk menyaksikan film ini sekalipun agak terlambat.

……………dan wow!! Kali ini gue ngga berkedip menyaksikan film dengan cerita yang beralur lambat dengan karakter-karakter yang kompleks. Bener-bener ajaib, gue terpukau dengan visual yang memukau, yang mampu menggiring gue tetep menikmati cerita dengan tekun.

Cerita yang rada absurd untuk sebuah kisah tentang superheroes. Iya superheroes. Banyak banget superhero-nya. Tepatnya cerita superheroes yang sudah habis ‘masa edar’nya. Superhero yang sepertinya tidak diperlukan lagi tapi masih memikirkan kepentingan dan keselamatan umat manusia.

Tapi dalam Watchmen tidak dikisahkan secara hitam putih. Bahkan digambarkan kisah penyelamatan dunia dengan cara yang paling ekstrim, yang mungkin tidak pernah dipikirkan dan disampaikan dalam kisah superhero manapun juga. Cukup mengerikan dan cukup menggetarkan. Tapi seperti itulah yang mungkin hanya bisa dipikirkan dan dilakukan manusia dalam perjuangannya. Sekali lagi tidak dalam pola berpikir yang hitam putih semata.

Ceritanya setia dengan aslinya, sekalipun memang tidak bisa menuangkan sama persis. Graphic novel-nya memang amat sangat kompleks. Bahkan gue belom baca secara detail. Inilah film yang cukup berhasil mengadaptasi dengan bagus sebuah graphic novel garapan Alan Moore.

03 Agustus 2009

Hiburan Maksimum!!

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Aliens in the Attic

Director:
John Schultz

Writers:
Mark Burton, Adam F. Goldberg

Casts:
Robert Hoffman, Ashley Tisdale, Carter Jenkins, Gillian Vigman, Josh Peck, Henri Young, Regan Young, Tim Meadows, Austin Butler, Ashley Boettcher, Kevin Nealon, Andy Richter, Doris Roberts, Malese Jow

Plot:
The Pearson family thinks they have got the ultimate family vacation as they head to their vacation home in Maine. However, soon after arriving to the house, they discover that they are not the only people staying in it since a friendly alien has found the house first. Though the alien is friendly, his friends are not, and they are ready to invade the house. The kids have to gear up and defend their vacation house with everything they have or else the aliens will probe them out to space and destroy the world.

Note:
Awalnya gue kira film ini hanya akan ‘ngejual’ Ashley Tisdale yang pertama kali tampil di layar lebar setelah ‘trilogy’ High School Musical mengangkat namanya. Ternyata nggak seperti itu juga. Bahkan peran Ms Tisdale di sini nyaris hanya sebagai pemanis layar aja. Untungnya begitu cerita memasuki puncaknya, karakter yang diperankan Ms Tisdale mendapatkan porsi yang cukup untuk lebih tampil.

Porsi karakter anak-anak dan ABG sangat menonjol. Dan memang ceritanya lebih mengajukan ‘keunggulan’ anak-anak sebagai ‘spesies’ yang belum mapan sehingga masih mudah berkreasi dan pastinya berfantasi.

Semua karakter anak-anak dan ABG di sini cukup bisa tampil dengan keunikan karakternya masing-masing. Penonton mungkin saja bakal terus asyik menikmati kecerdasan Tom atau memperhatikan kegagahan Jake (sekalipun agak bodoh) atau tertawa-tawa melihat tingkah si kembar yang pinter banget main game dan juga terpesona dengan akting si bungsu yang imut-imut.

Yang paling menarik adalah gimmick teknologi yang dieksploitasi dalam film ini. Sekalipun diceritakan bahwa teknologi canggihnya berasal dari planet lain, tapi sedikit banyak ada kedekatan dengan teknologi komunikasi dan game console yang sedang hype pada masa sekarang di kalangan anak-anak muda.

Karakter Ricky yang lebih ‘tua’ dari para ABG yang perannya di sini banyak mengingatkan gue pada gaya konyolnya Jim Carrey. Lebih banyak gerakan-gerakan konyol dan mengundang tawa. Tapi dari CV pemeran Ricky ini, Robert Hoffman, ternyata ngga jauh-jauh dari gerak. Karena Mr Hoffman ternyata dekat sekali dengan dunia tari. Bahkan dia pernah membintangi sequel film Step Up yang penuh dengan adegan tari jalanan. Ngga heran kalo di sepanjang film Aliens in the Attic ini menampilkan gerakan yang luwes dari Mr Hoffman.

Film ini sangat sangat menghibur. Kelucuan dan kekonyolannya khas anak-anak dan jauh dari kekonyolan orang-orang dewasa. Sekalipun seringkali ceritanya jauh dari logika, tapi jujur aja seluruh adegan serunya selalu bikin penonton terbahak-bahak.