tag:
Showing posts with label Music. Show all posts
Showing posts with label Music. Show all posts

17 September 2015

Pulang



Kala darah tak lagi lebih kental daripada air
Saat hawa menebal mendinding
Dendam yang mengekang
jadi hirupan nafas meski sesak

Luka sudah tak lagi berdarah, hanya menganga
Sakitnya sudah menyesap ke bawah sadar, berjaga

Saat rumah bukan lagi tempat harapan
Ketika waktumu tak memberi jawaban
Apakah pulang masih mungkin kau setiakan?

Jakarta, 16 Agustus 2012

20 November 2010

ONROP! Musikal: Penciptaan Trend Baru Teater Indonesia

onrop


Ah sudah lama sekali gue ga nonton panggung teater. Terakhir kali nonton lakon panggung Teater Koma yang judulnya pun gue sudah lupa. Itu terakhir nonton panggung teater dan terakhir pula nonton pertunjukan bersama almarhum Bokap.

Ada sensasi yang ajaib sewaktu menanti pertunjukan ONROP! Musikal (ONROP) ini. Gue merasakan kegirangan yang luar biasa hingga jantung selalu berdebar-debar dalam seminggu terakhir menjelang Hari-H pertunjukan. Kalo dipikir kayaknya gejala ajaib itu dikarenakan 2 hal: pertama, karena gue sudah lama ngga nonton pertunjukan teater secara langsung; kedua, karena ONROP ini karya Joko Anwar, sutradara film favorit gue, yang tentunya bikin penasaran bakal seperti apa teater musikal besutannya.

Rasa penasaran pun semakin menumpuk karena gue pesan tiket untuk pertunjukan hari pertama sebulan sebelum Hari-H. Mungkin terdengar agak gila karena gue secara khusus mengejar pertunjukan hari pertama. Sebenernya gue menuruti 'nasehat' alm. Bokap gue yang selalu bilang bahwa waktu yang paling baik untuk menyaksikan teater panggung adalah pertunjukan perdana, karena saat itulah energi dan excitement sedang pada puncaknya, sekalipun kita juga bakal melihat kesalahan-kesalahan di sana sini. Maklumlah, namanya juga tampil perdana.

Setelah beberapa hari pertunjukan kondisi fisik pemain juga bakal menurun. Sekalipun ada juga aktor senior Indonesia yang bilang bahwa top performa teater panggung adalah pada hari ke-3 atau ke-4, karena sudah banyak evaluasi sana sini, tapi gue yakin bahwa energi dan excitement-nya tidak akan menandingi pertunjukan hari pertama.

Sambil menunggu Hari-H, gue ngga berhenti membayangkan akan seperti apa jadinya ONROP nanti. Sebenernya gue pernah tau bocoran ceritanya dari sutradaranya sendiri. Waktu itu masih ditujukan untuk dibuat menjadi film. Namun dari ceritanya, gue ngga berani ngebayangin bakal seperti apa filmnya nanti. Bukan cuma itu, gue pun ngga berani ngebayangin bakal seperti apa kontroversinya karena dari bocoran ceritanya saja sudah penuh dengan kritik sosial yang keras dan langsung tuding meski setting-nya di masa depan.

Awal tahun 2010 gue denger kabar konsep cerita ONROP diubah dan disiapkan jadi panggung musikal! Salut deh! Konversi ini adalah langkah cerdas Joko Anwar dalam mempertahankan karya seninya tanpa kompromi. Kalo masih dalam bentuk film, kemungkinan gunting sensor bakal amat sangat tajam mencacahnya (golok sensor mungkin tepatnya). Kalo dari panggung teater, kan kita belum pernah lagi dengar ada kasus breidel sebuah pertunjukan teater, bukan?! Belum lagi, teater itu sifatnya agak eksklusif dan segmented yang hanya menarik bagi kalangan tertentu saja.

Mendengar kabar konversi ini, gue langsung terkenang masa-masa 'pendidikan' menonton teater yang dimentori alm. Bokap gue. Masih ingat pertama kali diajak nonton teater di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (lagi-lagi gue lupa apa judul lakonnya), malam-malam, sepi-sepi dan banyak nyamuk. Waktu itu usia gue belom lagi 10 tahun. Ke mana-mana masih bercelana pendek. Ngga aneh kalo sepanjang pertunjukan teater yang ngga ada seru-serunya itu gue selalu misuh-misuh pelan-pelan. Iya, misuh-misuh pelan-pelan karena ‘ditahan’ oleh Bokap gue yang galak banget kalo urusan tata tertib nonton panggung teater, nggak boleh bersuara! Itu pengalaman pertama gue.

Pengalaman berikutnya tentunya lebih seru lagi, sore-sore disuruh Bokap siap-siap pergi dan mengenakan celana panjang. Waktu itu usia gue sudah 10 tahun. Ternyata gue diajak ke pertunjukan Teater Koma! Saat itu gue udah mulai kenal betapa ‘nakal’nya Teater Koma dari beberapa booklet yang dibawa pulang Bokap dari pertunjukan-pertunjukannya. Ngga heran kalo Bokap nyuruh gue bercelana panjang supaya sedikit ‘mengelabui’ panitia, seolah-olah gue sudah cukup umur untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Mulai saat itu, gue jadi 'partner in crime' Bokap gue yang hampir selalu bersama nonton pertunjukan teater. Dan pelan tapi pasti gue 'dikenalin' dengan pertunjukan-pertunjukan teater yang berkelas dari Teater Koma dan Bengkel Teater Rendra (emang cuma dua itu sih Teater favorit Bokap). Yang cukup berkesan adalah lakon Kampung Suku Naga (KSN) oleh Bengkel Teater Rendra dan Opera Ikan Asin (OIA) oleh Teater Koma. KSN mantap dengan kritik sosialnya yang tajam dan temanya aktual selama berpuluh tahun. Sedangkan OIA, adaptasi dari Three Penny Opera, sangat cerah dengan tari dan nyanyi meski juga bertemakan kritik sosial.

Khusus KSN, kali itu gue nonton versi revisited-nya. Ceritanya sama persis, bahkan sebagian pelakonnya pun sama dengan versi aslinya di tahun 70-an. Tapi situasi politik Indonesia yang membedakan. Menurut Bokap gue, jatuhnya rezim otoriter Indonesia sejak 1998 membuat nonton lakon KSN saat itu tidak sewas-was saat menonton versi aslinya. Pada masa rezim otoriter berkuasa, lakon teater dapat dihentikan tiba-tiba ditengah berlangsungnya pertunjukan! Dan memang terbukti KSN 'revisited' tidak pernah dihentikan di tengah jalan.

Saat itu rasanya hidup gue sangat berkelas karena suka nonton teater. Tapi suatu waktu sempat tersentak karena ada pertanyaan dari seorang yuppies, "Emang keren ya teater Indonesia?" "Keren seperti pertunjukan-pertunjukan Broadway?"

Hmmm bisa gue jawab sih tapi tentunya akan sulit meyakinkan kerennya teater Indonesia kepada orang yang punya pertanyaan dan referensi teater semacam itu. Teater Indonesia tentunya khas sekali, sekalipun beberapa lakonnya adalah hasil adaptasi, tapi selalu punya muatan kritik kepada kondisi sehari-hari. Hal ini mungkin karena pada sejarahnya teater Indonesia pernah menjadi alat perjuangan tersamar melawan penguasa/penjajah.

Pengalaman pernah mencintai pertunjukan teater pastinya menjadi referensi gue untuk jadi sangat antusias menyaksikan ONROP. Dan dengan ‘persiapan’ sebulan penuh (kan beli tiketnya sebulan sebelomnya) nyaris selalu deg-degan.

tiket onrop


Akhirnya sampai juga pada Hari-H!

Dan .....semua yang ditampilkan ONROP di luar ekspektasi gue! Sebagai besutan seorang sutradara film, ONROP dibuat dengan sangat berani dan tidak setengah-setengah. Joko Anwar yang terkenal dengan sikapnya yang tidak kenal kompromi, membuat ONROP begitu lugas, terang-terangan dalam mengritik tapi juga mengetengahkan visual panggung yang hebat dan megah.

ONROP, sesuai dengan temanya yang musikal, dikemas dalam tari dan lagu. Dan banyak bagian dialognya dinyanyikan dalam bentuk lagu yang utuh. Fakta yang cukup mengejutkan adalah bahwa seluruh lirik lagu ditulis sendiri oleh Joko Anwar!

Gue selalu suka tontonan musikal yang sebagian dialognya dinyanyikan seperti ONROP ini. Mau tidak mau, semua referensi tontonan musikal favorit gue muncul sebagai pembanding: OIA-nya Teater Koma, Bahz Luhrman's Moulin Rouge, dan musikal fenomenal abad 21, Rent.

Perbandingan itu malah membuat gue menyejajarkan ONROP dengan tontonan musikal favorit gue karena ONROP punya kelebihannya sendiri: pertama, karena kisahnya orisinil bukan saduran/adaptasi. Kedua, tema yang diangkat adalah bentuk kritik sekaligus kekhawatiran pembuatnya terhadap kondisi aktual di Indonesia, yang juga bisa jadi kekhawatiran penontonnya. Kritik yang dilontarkan tanpa tedeng aling-aling. Menyebut langsung 'Jakarta' dan 'Indonesia', sekalipun tidak menyebutkan nama tokoh tertentu dan setting cerita adalah Jakarta - Indonesia di tahun 2020.

Yang ketiga, panggung musikal digarap amat serius dan detil. Mulai dari tata panggung, tata cahaya, tata gerak dan tata musiknya. Tata gerak dan tari ditangani langsung Eko Supriyanto yang sudah berkaliber Internasional (koreografer tour musik Madonna). Semua tarian digarap dengan tepat dan pas, ngga berlebihan dan ngga bikin gue mikir berat untuk menafsirkan artistiknya (ngga seperti pertunjukan musik dan tari yang pernah gue tonton yang maunya ngepop tapi tariannya yang terlalu over the top, bikin capek gue yang nonton).

Trio musisi music score paling handal yang dimiliki Indonesia, Aghi, Bemby, Mondo, bersatu ‘bahu-membahu’ pada pengalaman pertama mereka menyusun musik untuk panggung musikal. Ngga tanggung-tanggung, mereka sukses menggubah 17 lagu yang juga disusun untuk komposisi orkestra. Dan musiknya diisi langsung dengan orkestra dan choir, live on stage! Musik dan lagu yang disuguhkan dengan tipe musik panggung. Mungkin saja referensi musiknya diambil dari beberapa pertunjukan panggung musikal yang pernah ada di dunia. Yang menarik, buat gue nyaris semua lagu yang ada dalam ONROP ini bisa dijagokan sebagai single. Beberapa pilihan gue sebut aja “Bram Baby, One Kiss Please”, “Pulau Onrop”, “Ultra-nasionalisimo!”, “Kalau Nggak Ada Kamu Apa Gunanya”, “Pulau Cinta”, “Jangan Takut, Malam Tiba Dunia Milik Kita”, “Incompatible”, “Ini Cuma Cinta Kalian Takut Apa?” dan yang paling gue jagokan dari semuanya adalah “Kenapa Harus Drama?” Kita tunggu saja realisasi rekaman musiknya segera dalam bentuk CD audio.

Sekalipun katanya seorang Joko Anwar juga turun tangan sendiri untuk mengarahkan visual panggung sekaligus dengan tata cahayanya, pertunjukan ini diproduseri oleh Afi Shamara (produser film ‘Ca Bau Kan’, ‘Biola Tak Berdawai’, ‘Arisan!’) yang dengan ONROP ini, seorang Bunda Afi (begitu biasa dia dipanggil oleh orang-orang terdekat) kembali kepada cinta pertamanya, yaitu teater. Gue selalu salut dengan produser yang mau kerja bareng seorang Joko Anwar yang tidak kenal kompromi dan isi kepalanya yang ngga pernah sederhana. Tapi lucunya, di suatu kesempatan obrolan singkat sebelum pertunjukan perdana ONROP, Bunda Afi terang-terangan memuji kerja Joko Anwar yang nyaris ‘all in’ untuk semua aspek di pertunjukan itu.

Onrop Perdana 01

Onrop Perdana 03


‘Kegilaan’ Joko Anwar ngga hanya sebatas kerjanya yang all in di ONROP ini, tapi sejak awal dia mengadakan open casting untuk semua pemeran, penari dan penyanyi dalam pertunjukan ini. Dalam hasil akhirnya, sebagai penonton kita boleh saja bilang bahwa akting di ONROP tidak sulit karena sebagian besar pemerannya adalah aktor terkenal dan langganan kerja bareng dengan Joko Anwar. Tapi musti diingat adalah ini panggung teater musikal, para pemeran/penari harus selalu tampil live! Semua dialog dan nyanyian tidak ada dubbing! Sebagian besar pemeran dalam ONROP ini adalah bukan aktor teater profesional. Sebagian besar kita kenal dalam produksi layar lebar atau pun televisi. Maka dari itu gue ngga berani membayang betapa hebatnya pendidikan dan penempaan bagi para pemeran/penari dalam produksi ini sejak awal audisi hingga bisa tampil dengan diberi standing ovation beberapa malam berturut-turut. Tampil live on stage bagi semua penampil di ONROP pastinya menjadi pengalaman yang tak ternilai.

Onrop Perdana 04


Kemasannya boleh musikal, tapi seperti halnya karya Joko Anwar sebelumnya, kisah ONROP tidak sesederhana judulnya. Cerita tentang kritik sosial dipadati dengan dialog (yang sebagian dinyanyikan) yang cerdas. Balutan lagu dan humor malah menjadikan kritiknya semakin nyaring! Dan satu hal yang paling gue suka dengan teater panggung, yang juga menjadi kelebihannya, adalah improvisasi-improvisasi di sana sini oleh pemerannya, baik di dalam dialog maupun dalam gerak, yang terkait dengan topik-topik aktual yang baru saja terjadi. Celetukan atau tambahan pendek dan sekilas dalam dialog yang menyentil berita/gossip terbaru dimungkinkan dalam teater. Hal ini yang ngga mungkin kita dapati di dalam sebuah karya film.

Onrop Perdana 02


Kemasan dan bertaburnya bintang panggung ONROP kali ini juga menjadikan teater sebagai tempat keren terbaru di Jakarta. Banyak yang penasaran dengan karya terbaru dari Joko Anwar, sebagian lagi pingin mendengarkan musik yang dikreasikan Aghi-Bemby-Mondo, dan sebagian lagi juga penasaran seperti apa panggung musikal dengan aktor-aktor yang bernyanyi-nyanyi di dalamnya. Ditampilkan dalam gedung pertunjukan paling anyar di Jakarta juga bisa menjadi hal yang menarik penonton berbondong-bondong membeli tiketnya.

Mungkin pada awal penjualan tiketnya masih bisa pesan sambil santai dan pilih-pilih seats, namun setelah penampilan perdana, penjualan tiket di kantor produksi selalu ada antrian. Bahkan penjualan di loket tiket yang dibuka di depan gedung pertunjukan selalu sold out dalam hitungan menit.

Memang menjadi fenomena menarik ketika ONROP menjadikan teater sebagai sesuatu yang cool. Dan ONROP juga yang menjadikan teater sebagai tontonan menarik bagi semua kalangan masyarakat. Eksklusivitas teater sebagai tempat pengkultusan seni berhasil didobrak oleh produksi ini. Tapi kondisi ini juga sedikit melunturkan kesakralan tata tertib menonton teater. Pertunjukan teater yang pasti tepat waktu memerlukan kepatuhan penontonnya untuk datang hadir dan duduk beberapa menit sebelum lakon dimulai. Tidak ada toleransi bagi yang terlambat, kecuali baru akan diperbolehkan masuk auditorium pada jeda istirahat.

Berbagai kalangan masyarakat yang hadir juga membuat ketenangan dalam pertujukan teater menjadi sulit dijaga. Para penampil harus perform live on stage, tentunya membutuhkan konsentrasi khusus yang bisa saja terganggu dengan obrolan/celetukan penonton. Memang ada beberapa bentuk pertunjukan panggung yang formatnya bisa berinteraksi langsung dengan penontonnya, tetapi secara umum pertunjukan teater tidak melakukan hal itu. Agak sebel juga sih karena sempat duduk di sebelah/depan penonton yang cukup sering ngobrol ngebahas pertujukannya. Tapi di sisi lain, kondisi itu gue anggap sebagi resiko teater kembali menjadi milik semua kalangan.

Joko Anwar sekali lagi membuktikan bahwa berkarya tanpa berkompromi dengan pasar ternyata mampu menggugah pasar itu sendiri, dan bahkan menciptakan trend baru, yang bakal terus diperbincangkan dan diperbandingkan dengan karya-karya sejenis.

Onrop undangan

24 May 2010

Saya dan Uptown Girl

Uptown girl
She's been living in her uptown world
I bet she's never had a backstreet guy
I bet her momma never told her why

I'm gonna try for an uptown girl
She's been living in her white bread world
As long as anyone with hot blood can
And now she's looking for a downtown man
That's what I am

And when she knows what
She wants from her time
And when she wakes up
And makes up her mind

She'll see I'm not so tough
Just because
I'm in love with an uptown girl
You know I've seen her in her uptown world
She's getting tired of her high class toys
And all her presents from her uptown boys
She's got a choice

Uptown girl
You know I can't afford to buy her pearls
But maybe someday when my ship comes in
She'll understand what kind of guy I've been
And then I'll win

And when she's walking
She's looking so fine
And when she's talking
She'll say that she's mine

She'll say I'm not so tough
Just because
I'm in love
With an uptown girl
She's been living in her white bread world
As long as anyone with hot blood can
And now she's looking for a downtown man
That's what I am

Uptown girl
She's my uptown girl
You know I'm in love
With an uptown girl




Sejak pertama kali liat video clip-nya di Top Pop series, jaman video cassette masih booming dulu, gue selalu cinta dengan lagu ini. Video clip-nya amat sangat menarik hati. Gayanya begitu asyik, yang ternyata terinspirasi dari gaya 60-an, pas dengan musiknya. Belom lagi dengan penampilan ‘bisu’ dari modelnya, Christie Brinkley, yang saat itu seolah jadi perempuan paling cantik sedunia.

Lagu ini nempel banget di kuping dan di kepala gue. Ngga heran waktu temen gue punya kaset lagu ini di dalam walkman-nya (gile ye, walkman masih pake kaset) gue langsung pinjem di tempat dan dengerin di situ! Ngga sadar gue sampai nyanyi keras-keras ngikutin lagunya. Sontak seisi rumah temen gue sampai nyari sumber suara keras gue, sementara temen gue sibuk colak colek gue supaya gue ngurangin volume nyanyi-nyanyinya. Ya maap, kuping ketutupan mana dengar suara luar! Sekalipun begitu, gue ngga malu tuh! Hahahaha

Menurut sumber yang gue pernah baca, lagu ini ditulis Billy Joel karena terinspirasi hubungan pacarannya dengan model Elle Macpherson. Tapi akhirnya malah terinpirasi hubungannya dengan model Christie Brinkley, yang akhirnya diperistri Billy Joel, setelah bubar pacaran dengan Elle Macpherson. Musiknya terinspirasi gaya doo-wop 60-an dengan gaya bernyanyi mirip Frankie Vallie, gaya dan musik yang pada tahun 80-an cukup melawan trend New Wave yang sedang mewabah waktu itu.

Gue ngga ketinggalan trend pada waktu itu, tapi lagu Uptown Girl seperti membimbing gue untuk menemukan akar musik gue. Ini terjadi sebelum gue mulai jatuh cinta dengan Rock N’ Roll, Blues dan Soul.

‘Selucu-lucu’nya band gue dulu ternyata sempat ‘terselip’ pengalaman seru ngebawain lagu ini, khusus untuk salah satu Pensi berbahasa Inggris, acara salah satu fakultas di Universitas Atma Jaya Jakarta. Sambutannya cukup meriah karena ternyata banyak juga di antara penonton yang kangen dengan lagu ini! Bertepatan banget dengan turning point band gue kembali tegak setelah ditinggal personil utamanya. Dan juga bisa dibilang band gue sempet mengembalikan hype lagu ini sebelum akhirnya booming mendunia lagi karena Westlife!



Cinta dengan versi orisinilnya ngga berarti gue jadi benci dengan remake-nya. Gue juga suka dengan versi remake-nya yang dibawakan oleh Westlife. Bedanya, kalo di versi orisinilnya gue suka banget dengan musik dan video clip-nya. Sedangkan di versi remake-nya gue lebih memahami lyric-nya, karena pada saat yang hampir bersamaan gue juga lagi jatuh cinta dengan ‘uptown girl’ beneran!

Iya tuh waktu itu pas bener gue lagi jatuh cinta dengan uptown girl. Namanya lagi jatuh cinta ya pasti seneng banget dah! Tapi karena merasa beda kelas, jadinya ngga pede deh. Sekalipun ngga pede, gue jadi makin cinta dengan lagu ini. Sekalipun tetep ngga pede, gue malah makin asyik ‘curhat’ nyanyiin lagu ini makin kenceng. Setiap kali gue inget dia, lagu ini terngiang kenceng banget di telinga gue.

Si uptown girl itu memang ngga pernah jadi pacar gue. Tapi dia menjadi bagian yang membuat lagu ini jadi semakin memorable buat gue.

26 March 2009

PINTU TERLARANG: Soundtrack yang Melengkapi Filmnya

Judul:
Pintu Terlarang

Musisi:
Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro, Mantra, Sore, Tika and the Dissidents, Notturno, Alfred Ayal

Produksi:
Lifelike, 2009

Catatan:
Film Pintu Terlarang memang memiliki latar musik (music score) yang kuat. Yang suka dengan filmnya kemungkinan besar bakal kepingin banget menikmati musiknya. Apalagi bagi pencinta filmnya yang selalu terkenang-kenang dengan adegan ‘The Notorious Christmas Eve Dinner‘! Music Score dalam adegan itu begitu pas sekaligus haunting.

Gue yang berkesempatan hadir di acara launching-nya, terus terang setelah melihat beberapa performer pada acara itu jadi semakin penasaran dengan album OST-nya secara utuh. Dan setelah simpang siur jadwal rilisnya di pasaran (pas launcing sih katanya ‘minggu depan’ tapi ternyata mulur sampai hampir 2 minggu!) akhirnya bisa kebeli juga tapi hanya dijual di outlet-outlet tertentu, khususnya di toko buku yang juga punya divisi produksi rekaman musik.

Eh tau nggak, waktu gue beli CD OST ini di toko buku itu, pas bayar tuh ditulisin bon/nota gitu loh!! Kan biasanya kalo beli sesuatu di situ tinggal serahin ke kasir trus di-scan barcode-nya dan keluarlah receipt-nya dan kita tinggal bayar. Kalo CD OST ini malah ditulisin bon!! Baru ini gue ngalamin beli CD musik kayak gitu.

Dengan konsep ‘music inspired by the movie’ berbagi dengan ‘original score’, gue jamin buat yang ngedengerin bakalan muncul pertanyaan, “Ini soundtrack film taun berapa sih?” Musik yang disuguhkan dalam OST ini bisa dibilang dari trend musik tahun 50-an sampai 60-an ato bahkan dari tahun 40-an. Ada jazz standard, ada pop jadul sekali, musik swing, pop beatlesque, bahkan ada juga folk music ala Bob Dylan. Sekalipun genre-nya cukup ‘rame’, tapi warna musiknya hampir setipe.

Ada 2 grup musik bentukan baru (Mantra dan Notturno; keduanya bakal ngerilis full album sebentar lagi), ada 1 grup yang sudah ternama dalam musik Indonesia (Sore), khususnya musik Indie, ada 1 vokalis cewek (Kartika Jahja a.k.a Tika) yang juga main di filmnya dan ternyata ‘ada’ di mana-mana (salah satunya mengisi vokal di OST 9 Naga). Semuanya memberi warna yang asyik sekaligus dark, yang cocok banget dengan filmnya. Dari 9 lagu (di luar music score-nya) mungkin hanya 1 yang terdengar familiar karena memang 1 lagu itu menjadi pembuka adegan makan malam yang terkenal itu.

Warna ‘kuno’ yang disampaikan dalam lagu-lagu itu jadi bikin gue berandai-andai; kalo aja pada masa itu (tahun 40-an sampai 60-an) udah ditemukan teknologi rekaman yang bagik, betapa indahnya terdengar musik-musik masa itu! Sekalipun ambience-nya tetep kuno, tapi pembagian channel dan track-nya bisa lebih pas sehingga terdengar lebih nikmat di telinga.

Dari tiap lagu yang disampaikan dalam album ini, gue menemukan hal-hal unik. Misalnya ternyata warna vokal Anda terasa sangat asyik terdengar dalam lagu dengan nafas ‘jadul’! Dalam musik yang disodorkan grup bentukan ‘ad hoc’ bernama MANTRA (khususnya dalam lagu Please Operator Please), vokal Anda seperti dioptimalkan, sekalipun ngga selalu Anda yang menjadi lead vocal dalam 4 lagu Mantra dalam album ini. Sedangkan Tika and The Dissidents memberikan warna gelap dengan lagu yang isi lyric-nya sangat twisted. Belom lagi Notturno yang dengan berani menyuguhkan nomor instrumental dalam balutan jazz.

Kalo untuk original score-nya sih ngga diragukan lagi deh. Komposisi yang disusun Aghi Narottama, Bemby Gusti (Sore) dan Ramondo Gascaro (Sore) sudah pasti keren. Dan juga memanfaatkan alat perkusi yang tidak lazim. Ada juga yang kedengeran seperti music score di film Kala, secara Kala juga filmnya Joko Anwar dan music score-nya juga diisi oleh Aghi Narottama. Kalo didengerin lagi, 9 komposisi music score dalam album ini pastinya membawa ingatan kita ke dalam adegan-adegan filmnya. Tapi koq kayaknya 9 komposisi itu dalam album OST ngga dipasang secara berurutan menurut urutan adegan filmnya ya?

CD OST Pintu Terlarang dikemas dengan gaya yang keren. Dengan asyiknya CD ini memberikan 2 alternatif cover; 1 poster film yang beredar umum di bioskop, 1 lagi poster film karya Mayumi. Hanya saja poster karya Mayumi ini seperti disakralkan karena ngga ada 1 pun tulisan yang terkait dengan informasi CD OST ini.

Dalam sleeve cover CD-nya isinya hanya informasi yang cukup saja tentang pengisi OST ini. Buat gue sih masih kurang lengkap deh. Misalnya untuk foto-foto para pengisi OST masih kurang. Bahkan info penyanyi yang bergaya Tom Jones dan penyanyi lagu Merry Mist malah ngga ada.

Sambil membolak-balik CD inner sleeve-nya gue liat ada ‘penampilan baru’ dari Zeke Khaseli yang mungkin jadi sulit dikenali. Dan paling shocking buat gue adalah foto Ramondo Gascaro di bagian Original Score Team, dengan frame kacamatanya yg khas dan cengirannya, bikin dia mirip banget dengan wajah almarhum Pak De gue!

Kalo aja album OST ini dirilis duluan sebelum filmnya dirilis, menurut gue bisa berpotensi menimbulkan rasa penasaran terhadap filmnya, karena musiknya yang ngga umum dibandingkan musik dalam film-film Indonesia lainnya.

Song list:
Why – Mantra
Nancy Bird – Sore
Please Operator Please – Mantra
Home Safe – Tika and the Dissidents
Baby Baby – Mantra
Jiro – Notturno
Blessed the Tainted Heart – Mantra
Lullaby Blues – Sore
Merry Mist – Alfred Ayal
Opening Tune – Original Score
The Color Purple – Original Score
Innocent Blood – Original Score
Dirty Work – Original Score
Naked Truth – Original Score
Blood Opus – Original Score
Chasing the Kid – Original Score
The Eye – Original Score
The Pig-Headed Hero – Original Score

08 March 2009

Saya dan Guns N’ Roses

Kalo nyebut nama band ini, rasanya gue langsung jadi muda lagi. Perasaan gue langsung terbang ke tahun yang hampir 20 tahun berlalu itu dan langsung bercampur aduk semua rasa yang pernah ada pada tahun-tahun itu.

Pertama kali kenal grup band ini di tengah-tengah hingar bingar musik heavy metal/hair metal di akhir 80-an. Sekalipun awalnya agak tersamar di antara grup rock lainnya, tapi sedikit banyak grup ini punya warna lain yang bisa exist di antara musik grup rock lainnya yang nyaris seragam sound-nya.

Welcome to The Jungle menyeruak jadi jagoan di acara musik rock di salah satu radio swasta di kota tempat gue tinggal. Kalo denger lagu itu kayaknya seluruh badan gue merinding dan langsung moshing tanpa komando apa pun!!

Single yang ngga butuh waktu lama untuk jadi top airplay bikin gue penasaran untuk terus ngikutin perkembangan grup baru ini. Dan akhirnya karena kebaikan hati salah seorang teman, berhasil gue pinjam Album Appetite for Destruction (AfD) by Guns N’ Roses versi Audio Cassette. Maka mulailah gue keracunan Guns N’ Roses!!

Seinget gue sih sejak pertama kali nyimak album AfD dulu itu ngga gue temuin lagu yang jelek! Semua lagu dalam album itu asyik banget. Rasanya musik mereka sudah familiar. Memang musik mereka kadang terdengar lebih tua dari trend yang sedang bergulir pada waktu itu. Mungkin itu yang bikin gue cocok karena gue memang lebih akrab dengan musik rock dari era 60-70an.

Selain musiknya yang cocok, GNR selalu jadi obyek seru untuk diamati seorang ABG seperti gue pada jaman itu. Attitude mereka yang selalu brutal selalu terkesan gagah. Dan mereka seperti mengangkat kembali hal yang hampir ditabukan oleh musisi pada masa tersebut, yaitu “Sex, Drugs and Rock n Roll!”

Selain attitude yang cenderung ancur-ancuran tapi stylish itu, mereka juga punya kekuatan kontroversi yang langsung terkandung dalam karya-karya mereka. Contoh yang bisa langsung terlihat adalah desain cover dan sleeve album mereka. Kalo kita ngebolak-balik sleeve album pertama mereka, ditengah-tengah kita disuguhkan artwork yang sinting; gambar robot rapist, yang baru saja meyelesaikan ‘aksinya’, terperangah diserang monster avenger!! Belakang gue baru tau kalo artwork itu sebenernya adalah cover asli untuk album AfD yang kena cekal.

Cover Appetite for Destruction


 











The Notorious Artwork












Baru sebentar terkagum-kagum dengan album pertama mereka, segera muncul mini album GNR Lies. Kali ini musik yang diusung lebih mid tempo tapi raw. Usut punya usut ternyata sebagian lagu dalam album ini pernah direkam pada penampilan live pada awal karir manggung mereka dan ditambahkan beberapa lagu yang direkam di studio kemudian. Patience menjadi lagu yang paling fenomenal dari album ini. Kayaknya pada masa itu ngga boleh ngeliat gitar kopong nganggur pasti langsung meyiulkan intro lagu ini yang disambung dengan petikan gitar yang halus tapi terasa gagah.

Tapi bagi para ABG pada masa itu yang lebih fenomenal adalah sleeve album GNR Lies, karena memuat gambar model cewek telanjang! Seorang teman yang memang punya uang jajan lebih, sampai rela membeli edisi CD import-nya demi bisa memiliki dan melihat gambar tersebut dalam versi uncensored-nya.

Cover G N'R Lies













The Most Wanted Inner Sleeve Cover












Masa ABG belom lewat dan gaung Guns N’ Roses masih kencang-kencangnya. Tapi gue sempet benci banget dengan grup ini cuma lantaran hal yang sepele; band saingan gue pas esema hobi banget mainin Sweet Child O’ Mine! Bener deh, itu band ngga ada bosennya mainin lagu itu untuk beberapa kali kesempatan manggung. (kayaknya ada yang mulai senyum-senyum pas baca bagian tulisan gue yang ini ;p) Tapi karena hampir tiap manggung lagunya itu melulu, gue jadi mikir; mereka itu nge-fans ato emang bisanya lagu itu aja??

Band gue pada waktu itu ngga mau deh mainin musik metal. Selain kadung keki, juga supaya tampil beda dan menjaring banyak penonton. Lumayan lah ngga dimusuhin guru-guru :D Sekalipun ngga mainin musik metal, tapi begitu GNR ngerilis dobel album Use Your Illusions, gue kembali jatuh cinta!! Musik GNR semakin sophisticated dengan banyak sentuhan hard rock era 70-an. Dan sepertinya album ini juga yang membawa perdamaian dengan band saingan gue. Bahkan dengan suka rela minjemin gitaris band gue untuk membantu band itu manggung untuk satu lagu Guns N’ Roses.

Yang lebih seru, bokap-nyokap gue ternyata suka banget dengan lagu November Rain yang ada di album itu. Mereka seperti menemukan kembali selera musik mereka yang asli setelah ‘kosong’ hampir 20 tahun. Menurut mereka fenomena November Rain bisa disamakan dengan fenomena Stairway to Heaven, Child in Time dan Bohemian Rhapsody pada jamannya masing-masing. Dan memang ngga salah kalo November Rain begitu menjadi fenomena hard rock pada masa itu, karena Axl Rose memang mengidolakan Queen salah satunya.

Cover Use Your Illusions


























Musim mulai berganti, era hard rock metal mulai bergeser ke grunge dan alternative rock. Grup-grup hard rock/heavy metal mulai berguguran. Hanya beberapa gelintir yang masih kuat melawan hembusan angin perubahan trend musik. Tapi gaung GNR masih belum lenyap. Mereka masih saja merilis beberapa single yang tetep asyik dan bisa diterima pasar musik dunia.

Gebrakan berikutnya Guns N’ Roses merilis album Spaghetti Incident yang isinya cuma cover version dari lagu-lagu punk dan glam rock yang katanya mereka sukai. Tapi buat gue album ini hanya proyek iseng-iseng aja. Dan malah cenderung ikut-ikutan trend musik rock sedang banyak melenceng dari pakem. Dan akhirnya gebrakan ini gagal, dan GNR vakum panjang.

Cover Spaghetti Incident












Kayaknya vakumnya GNR seiring dengan vakumnya era hard rock dari wajah musik dunia. Gue seperti kehilangan pegangan dalam musik. Selera musik gue mulai ngga up to date. Gue malah makin mendalami musik rock dari era 60 – 70-an yang nota bene menjadi influence untuk GNR sendiri. Gue makin mendalami Led Zeppelin, Deep Purple, Jimi Hendrix. Gue makin masuk ke Blues dan Soul. Dan sejak itu, musik gue cuma berkisar di sekitar situ aja.

Dalam masa-masa itu juga sempat juga gue menjajal Velvet Revolver, band bentukan sebagian mantan anggota GNR. Tapi mungkin karena trend belum berpihak kembali ke musik hard rock, Velvet Revolver tidak sampai bergaung nyaring di dunia musik.

Ngga lama Velvet Revolver muncul, secara mengejutkan GNR tampil live di panggung MTV Music Award dengan personil barunya (kecuali Axl Rose tentunya!). Musiknya yang ajaib, ngga gampang nyantol di telinga. Sejak hari itu gossip bakal beredarnya album terbaru GNR semakin kencang. Sekalipun tertunda sampai dengan hitungan tahun, akhirnya album Chinese Democracy rilis juga.

Cover Chinese Democracy












Gue berkesempatan menyimak album terbaru Guns N’ Roses dari edisi box set-nya!! (makasih untuk kebaikan hati sahabat saya). Album yang sempat gue ragukan ini, akhirnya bisa cukup memuaskan sebagian rindu gue akan musik Guns N’ Roses. Konten box set-nya pun bisa ‘membantu’ kita kembali ke masa jaya hard rock. Minimal kita bisa bergaya seperti pada masa jaya itu.

Terlepas banyak fans yang tidak puas dengan album baru mereka, tapi mestinya ada sesuatu dalam nama Guns N’ Roses sehingga Axl Rose masih ngotot mempertahankannya dan ngga sedikit musisi yang cukup keren mau mengisi kekosongan lowongan dalam grup itu. Dan ada sekelumit kabar baik yang gue denger; sekalipun bukan anggota lagi, tapi Izzy Stradlin masih berkawan baik dengan Axl Rose bahkan pernah menjadi bintang tamu di panggung Neo Guns N’ Roses!

CHINESE DEMOCRACY: Hope They’ll be Back for Good



Title:
Chinese Democracy

Artist:
Guns N’ Roses

Produced by:
Axl Rose, Caram Costanzo


Pertama kali denger kabar kalo Guns N’ Roses bakal ngeluarin album baru bikin gue gembira. Yang ada di pikiran gue kalo Guns N’ Roses keluar dari masa kevakuman mereka. Tapi ternyata personil mereka ngga seperti waktu ngerilis Use You Illusions. Bahkan tinggal Axl Rose satu-satunya personil asli.

Dari kabar pertama sampai akhirnya gue pegang album Chinese Democracy ini berjarak lama sekali. Sempat diselang penampilan kejutan mereka di acara MTV Music Award yang ajaib!!

Pas liat album ini di-release gue malah jadi ragu-ragu. Mungkin karena ngga gitu suka dengan penampilannya di MTV Music Award. Sekalipun ragu, gue tetep penasaran pastinya. Setau gue, Axl Rose pastinya punya ‘sesuatu’ yang mau dia angkat. Kalo ngga, ngapain juga dia masih ngotot mempertahankan nama Guns N’ Roses.

Dan memang ngga ada yang lebih berharga di kehidupan ini selain sahabat. Dan kalo bukan karena sahabat mungkin gue sampe sekarang belom nyimak album Chinese Democracy :D Gile deh, dia baik banget minjemin album GNR terbarunya yang ternyata import!!

Gempuran lagu pertama langsung aja nyantel di kuping gue. Ngga salah kalo lagu Chinese Democracy dijadiin pembuka album yang bertitel sama ini. Dengan aransemen musik yang agak berbeda dengan GNR yang dulu, tapi rasa otentik GNR lawas masih ada di lagu itu. Dengan aransemen yang lebih heavy, buat gue lagu pertamanya ini sukses mengantarkan gue untuk lebih masuk menyimak keseluruhan albumnya.

Satu per satu lagu-lagu di album ini menyerang saraf pendengaran gue. Ternyata ngga seburuk yang gue kira sebelumnya. Nyesel juga sempet meragukan album ini. Emang ngga boleh ya bikin judgement sebelom tau isi sedalam-dalamnya.

Sambil ngedengerin sambil ngebuka-buka sleeve albumnya. Dan personil GNR sekarang yang gue kenal cuma Axl Rose aja!! Kayaknya karena gue nyaris ngga ngikutin perkembangan musik hard rock di belahan dunia Barat sana jadinya nyaris ngga kenal satu pun personil baru GNR. Paling cuma Dizzy Reed, keyboardis yang udah gabung sejak album Use Your Illusion ato seorang Robin Finck, gitaris yang pernah mendampingi Trent Reznor di Nine Inch Nail. Selebihnya, buta dah gue.

Ciri rock n roll yang pernah diusung dengan kental pada album Appetite for Destruction beralih ke gerungan hard rock yang pastinya lebih keras. Dari peralihan style ini jadi teringat album Use Your Illusion yang memang kental aroma hard rock-nya. Dan dengan lyric yang puitis khas Axl Rose memantapkan album Chinese Democracy memiliki benang merah yang cukup tegas dengan album terakhir Guns N’ Roses 15 tahun yang lalu.

Dari segi lyric gue akui canggih banget. Nah ini dia apakah Axl Rose yang semakin canggih ato gue yang bodoh ya; gue masih ngga ngerti apa arti dan makna lyric tiap lagu di album ini! :D

Secara keseluruhan album ini cukup bisa bikin gue kagum. Tapi muncul pertanyaan yang mungkin cukup mendasar; apakah album ini masih pas dibilang sebagai album Guns N’ Roses? Ataukan mungkin lebih pas kalo dibilang sebagai solo album ato bahkan ego album dari seorang Axl Rose?