tag:

27 November 2011

Sang Penari


Judul:
Sang Penari

Sutradara:
Ifa Isfansyah

Skenario:
Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

Produser:
Shanty Harmayn

Para Pemeran:
Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, Hendro Djarot, Yayu Unru, Arswendi Nasution, Zainal Abidin Domba


Plot:
Sebuah cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Jawa Tengah pada pertengahan 1960-an. Rasus, seorang tentara muda, menyusuri kampung halamannya, mencari cintanya yang hilang: Srintil.

Ketika keduanya masih sangat muda dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk, sesuatu menghalangi cinta mereka. Kemampuan menari Srintil yang magis membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng.

Ketika Srintil menyiapkan diri untuk tugasnya, ia menyadari bahwa menjadi ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia merasa cintanya dirampas dan dalam keputusasaan ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi tentara.

Zaman bergerak. Rasus harus memilih: loyal kepada negara atau cintanya kepada Srintil. Ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Pencariannya tidak mudah dan baru membuahkan hasil sepuluh tahun kemudian.


Catatan:
Film ini sebenarnya berkisah tentang percintaan yang sederhana dari Rasus (Oka antara) dengan Srintil (Prisia Nasution), dua anak Dukuh Paruk (dukuh lebih kecil dan lebih terpencil dibandingkan desa) yang terbentur dengan adat ronggeng yang umum di kawasan Banyumas dan dilatari masa gejolak politik runtuhnya Orde Lama dan awal berkuasanya rezim Orde Baru di Indonesia. Kisah cinta yang mestinya sederhana itu menjadi rumit ketika Srintil kukuh ingin berdharma bhakti, sekaligus berusaha menebus dosa orang tuanya, dengan menjadi ronggeng yang dipercaya akan mengembalikan pamor Dukuh Paruk yang telah lama tidak memiliki ronggeng sejak kematian Surti.

Rasus menentang keinginan Srintil jadi ronggeng terutama karena ronggeng harus melalui ritual “Buka Kelambu” dan menyerahkan keperawanannya kepada penawar dengan ‘harga’ tertinggi. Tak ada lelaki waras yang merelakan kekasihnya menjadi milik banyak lelaki lain. Namun secara tidak langsung Rasus juga menentang kemapanan adat ronggeng di dukuh kelahirannya.

Dalam kisah ini diperlihatkan betapa penguasa, diwakili karakter Kartareja Sang Dukun Ronggeng (Slamet Rahardjo), selalu memiliki tendensi korup memanfaatkan kekuasaannya, meremehkan orang kecil, dan berani memanipulasi keputusan hanya karena dukungan materi. Ritual sesembahan dan sesajen penghormatan kepada makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk, hanya menjadi alat berdalih di hadapan masyarakat dukuh yang polos lugu.

Kartareja, dengan didukung penuh Nyai Kartareja (Dewi Irawan), mengeksploitasi habis-habisan Srintil sebagai ronggeng baru sejak malam “Buka Kelambu”. Pasangan suami-istri paling terhormat di dukuh gersang itu malah melorotkan adat ronggeng yang semestinya mengangkat harkat masyarakat dukuh menjadi mendekati pelacuran terselubung.

Saya mendengar ada penolakan oleh masyarakat ronggeng Banyumas atas penggambaran ronggeng yang nyaris mirip pelacuran tersebut. Menurut mereka tidak ada adat ronggeng yang seperti itu. Saya bukan pengamat antropologi masyarakat Banyumas, dan Dukuh Paruk sendiri adalah lokasi fiktif rekaan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang menginpirasi film ini, menurut saya bisa jadi tidak ada klaim kebenaran yang sah mengenai ritual “Buka Kelambu” bagi ronggeng baru dan seterusnya.

Tetapi saya melihat pada dasarnya ronggeng adalah adat istiadat yang mulia. Seperti yang disampaikan bahwa ronggeng adalah perempuan dengan kasta tertinggi dalam masyarakat Dukuh. Proses penyerahan keperawanannya, ritual “Buka Kelambu”, yang dirayakan dengan upacara sakral. Setiap laki-laki yang dipilih oleh ronggeng untuk menidurinya seperti menjadi gengsi tersendiri. Bahkan istri dari lelaki yang beruntung itu merasa bersyukur suaminya terpilih meniduri Sang Ronggeng.

Penggambaran tersebut mengingatkan saya kepada cerita ritual persetubuhan penganut paganisme yang disinggung dalam novel kontroversial The Da Vinci Code karya Dan Brown. Saya melihat kesamaan antara ritual yang dipercaya mampu membawa pelakunya ‘mengintip’ surga itu dengan ritual persetubuhan ronggeng dengan laki-laki yang dipilihnya. Justru karena distorsi pemahaman ajaran agama yang akhirnya malah menabukan seksualitas manusia dan juga karena eksploitasi penguasa korup yang memuja syahwat, maka pelan tapi pasti hilanglah anggapan kesucian ritual yang dulu dianggap sebagai salah satu cara sakral untuk mendekatkan manusia kepada penciptanya.

Akting yang digelar natural mampu membuat saya berdecak kagum dan tersenyum-senyum. Semua latar kesukuan tiap-tiap pemerannya tidak tampak di layar. Akting Oka Antara cukup menonjol dan berkembang sebagai Rasus, lelaki kampung yang polos dan lugu, hingga menjadi dewasa, berani dan tegar. Dewi Irawan mampu menghidupkan karakter Nyai Kartareja sebagai penguasa dukuh second in command yang munafik, korup, manipulatif dan keji.

Prisia Nasution tampil rapi sebagai Srintil, nyaris tanpa cela. Dalam film panjang layar lebar pertamanya ini, Prisia cukup meyakinkan tampil sebagai perempuan lugu, bodoh, sederhana yang tumbuh dalam lingkungan dukuh terpencil di Banyumas. Sedangkan Tio Pakusadewo tetap tampil ciamik, seperti sedang mengukuhkan levelnya sebagai aktor yang selalu diperhitungkan penampilannya.

Akting Hendro Djarot sebagai Sakum, pemain kendang tua dan buta, cukup mencuri perhatian. Sakum yang hanya sebagai pendukung ronggeng, justru mendapat posisi penting bagi Srintil saat ronggeng baru itu sedang gelisah. Lukman Sardi yang memerankan Bakar, kali ini nyaris tampil tanpa greget; entah karena Lukman Sardi sudah mulai kehilangan karismanya, atau mungkin hanya karena ayah beranak satu ini kali ini tampil dengan peran karakter yang kurang kuat dan ‘terkepung’ oleh aktor-aktor yang tampil prima.

Kala film lain berusaha mengetengahkan sinematografi yang berisi, justru film ini menyampaikan sinematografi yang hampa. Jangan salah, bukan berarti film ini menampilkan gambar yang tidak menyampaikan apa-apa. Tetapi dalam sinematografi yang ciamik, bahkan Dukuh Paruk tampak terlalu hijau menurut Ahmad Tohari, gambar-gambar dalam film ini mampu membuat saya merasakan kehampaan sesuai dengan yang seharusnya diceritakan.

Peristiwa sejarah pergolakan politik Indonesia tahun 1965 yang melatari kisah film ini selalu menarik perhatian saya. Buat saya, masa-masa itu masih menjadi masa yang kelam dan penuh misteri. Cerita-cerita pemberantasan PKI dan simpatisannya yang saya peroleh dari banyak sumber, membuat saya menahan tangis saat menyaksikan Srintil berangkat berkereta menembus ladang tebu. Adegan yang didukung dengan gambar yang indah itu membuat saya seperti menyaksikan simbolisme penyerahan total Srintil berdharma bhakti kepada dukuhnya.

Dan Rasus pun menjadi dewasa dan mengikhlaskan Srintil meronggeng. Akhir yang mengharukan sekaligus membebaskan.

23 November 2011

Penutupan iNAFFF 2011 Jakarta



Semua yang punya awal, pasti punya akhir. Sepuluh hari setelah dibuka pada tanggal ‘keramat’ 11-11-2011, Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2011 ‘edisi’ Jakarta sampai pada akhir gelarannya. Iya bener, ini akhir iNAFFF 2011 edisi Jakarta karena festival film genre fantastik tahunan satu-satunya di Asia Tenggara ini bakal dilanjutkan ke Bandung mulai 25 November ini selama tiga hari selanjutnya.

antrean

Joe Taslim & Ray Sahetapy dari kejauhan

Tapi closing kali ini menjadi paling menarik sepanjang lima tahun iNAFFF digelar karena dalam seremoni yang dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ibu Mari Elka Pangestu, juga mengumumkan pemenang Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) vol.1 yang diraih oleh film Taksi dengan ‘Special Mention’ kepada film Rumah Babi yang disampaikan langsung oleh penggagas FISFiC, Sheila Timothy, Joko Anwar, Ekky Imanjaya, Gareth Huw Evans, dan The Mo Brothers. Dan seremoni yang dipadati ratusan undangan dan penggemar di dalam Auditorium terbesar Blitzmegaplex Grand Indonesia Jakarta dipuncaki dengan pemutaran film fenomenal The Raid, besutan Gareth Huw Evans (Merantau), setelah dibuka dengan foreword singkat dari sang sutradara yang juga menyelipkan pengumuman perilisan segera DVD Merantau Ultimate Edition produksi Jive Collection.



Film The Raid hadir tidak hanya sekedar menjadi film penutup iNAFFF 2011 tetapi juga menjadi pemuncak festival yang digagas dengan niat baik menyajikan film-film genre fantastik berkualitas bagi penggemarnya di tanah air. Film yang baru akan rilis nasional pada awal 2012 menjadi film yang membuat closing iNAFFF tahun ini menjadi seremoni yang tidak mudah dilupakan. Seusai pemutarannya, The Raid mendapat standing ovation dari hadirin. Dan malam pun masih tetap muda bagi para penggemar yang bertahan untuk sekedar bercengkrama dengan para pemeran film The Raid dan para penggiat film Indonesia lainnya.

Long Live iNAFFF!


the aftermath
























20 November 2011

FISFiC 2011 akhirnya rilis!

Antrean di depan Audi

Proyek pembibitan sineas muda khusus di genre fantastik (horor/thriller/action/fantasy) ini akhirnya dirilis hasilnya! Keenam film pendek yang telah diumumkan pada tanggal 1 Agustus 2011 lalu telah bisa dilihat hasilnya di layar lebar. Rilisnya pun tetap pada ‘induk’nya, premier pada tanggal 14 November 2011, yaitu di dalam Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2011.

Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) ini sudah digadang-gadang sejak setahun yang lalu, tepat saat iNAFFF 2010 digelar. Dengan niat yang nyambung banget dengan iNAFFF yang kepingin memberikan penonton Indonesia film-film bergenre fantastik yang bermutu, FISFiC berusaha menyaring calon-calon sineas muda khusus di genre fantastik supaya mendapat kesempatan berkarya dan karyanya nanti mampu menggusur film-film horor sampah yang masih rajin mengisi layar-layar bioskop di Indonesia.

Film yang masing-masing dibuat dengan budget murah dan disyuting dalam waktu lebih kurang 3 hari ini tidaklah tampil murahan dan asal-asalan. Di antara filmmaker mudah yang terpilih ada tim yang pernah membuat film pendek genre thriller. Ada pula sutradara yang sudah beberapa kali menjadi penulis skenario film-film thriller layar lebar Indonesia.

trailer FISFiC 6 vol.1


Cerita yang disuguhkan oleh keenam film yang gabungannya disebut sebagai FISFiC 6 vol.1 ini sungguh seragam; ada zombie dengan latar zaman pendudukan Jepang di Indonesia, ada makhluk jadi-jadian pas malam terang bulan, ada makhluk pemakan otak manusia, ada juga yang makhluk halus beneran. Kalo ada efek khusus yang masih kedodoran, mungkin karena terbentur budget. Tapi bisa juga karena kurang lihai mengakali eksekusinya dengan budget yang ada. Namanya juga masih pemula, harap maklum.

Rumah Babi mendapatkan sambutan yang paling meriah. Film ini digarap dengan cukup rapih dengan penuturan yang menarik plus dengan twist yang asyik dan paling mengejutkan. Sementara Taksi lumayan asyik dengan kepadatan adegan di dalam sebuah taksi yang melaju dan penampilan Shareefa Danish yang OK, meski twist-nya dapat saya tebak sejak dengan mudah.

Reckoning, yang berganti judul dari Goblins, menghadirkan teror yang ketat sejak awal. Teror yang hadir cukup menggedor dengan dibantu sinematografi yang asyik dengan warna hitam putih. Sayangnya penggunaan bahasa Inggris dalam dialog cepat dan panjang-panjang, minus subtitle bahasa Indonesia, membuat penonton banyak yang kelelahan dan otomatis menurunkan tensi teror ceritanya.

Kalo mau cerita makhluk aneh dan ngga umum dengan latar rumah tahanan terpencil silakan memilih Meal Time. Film ini hadir ngga hanya dengan gore tapi juga sadis serta dilengkapi dengan twist ending ngga gampang ditebak.

Dari semua film genre fantastik yang saya tahu, biasanya selalu ada film yang disuguhkan pada level lebay plus ngawur maksimal hingga malah memancing rasa lucu, bukan ngeri atau bergidik, dan terbahak-bahak saat menontonnya. Sepertinya Rengasdengklok mengambil ‘pakem’ itu. Sebenernya sejak awal dialog dalam film ini sudah masuk pada pakem itu, tapi saya sempat mengira bahwa itu hanya kelemahan skrip dan eksekusi dari filmmaker pemula. Namun semakin lama film itu berjalan saya jadi yakin bahwa Rengasdengklok memang sengaja ngawur tapi dengan tidak lupa menyelipkan twist yang sepertinya jadi pakem wajib di setiap film bergenre fantastik.

Untuk kerapihan cerita, saya paling suka dengan Effect yang menampilkan thriller pembunuhan terencana yang apik. Rangkaian kejadian yang dihadirkan mirip dengan runtutan kejadian dalam seri Final Destination, tapi di dalamnya juga terselip pengarahan psikologis hingga mampu mengarahkan orang-orang yang terlibat tanpa menyadarinya. Justru faktor psikologis itu yang bikin Effect jadi terasa lebih nyata dibanding Final Destinantion.


Antologi FISFiC 6 vol.1 ini masih belum jelas apakah akan ditayangkan secara reguler di bioskop. Tapi yang pasti DVDnya sudah dirilis oleh Jive Collection yang secara khusus dirilis pada hari yang sama berbarengan dengan premier film ini di iNAFFF 2011.

Dari keenam film pendek ini akan ada satu pemenang yang nanti filmnya akan dibuat ulang yang kemudian digabungkan ke dalam omnibus film-film pendek genre fantastik lainnya yang dibesut oleh Gareth Huw Evans (Merantau), The Mo Brothers (Rumah Dara) dan Joko Anwar (Pintu Terlarang). Pemenangnya akan diumumkan pada penutupan iNAFFF 2011.

Boleh dibilang FISFiC 6 vol.1 ini adalah film dari penggemar iNAFF, oleh penggemar iNAFFF dan untuk penggemar iNAFFF.


14 November 2011

iNAFFF 2011: Festival Film Bergengsi Kembali Digelar!



Sebuah festival film bisa bertahan tetap exist tak lain karena dukungan audience-nya. Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan oleh Rusli “Sly” Eddy, direktur Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF), dalam bagian speech-nya pada pembukaan festival tersebut yang kali ini digelar untuk kelima kalinya mulai tanggal 11 November 2011 yang lalu. Berawal dari niat baik dan tekad untuk menyajikan film-film bergenre fantastik saat bioskop Indonesia dikepung oleh film-film horor sampah produksi “pedagang” film Indonesia, iNAFFF (dulu hadir pertama kali dengan nama ScreamFest Indo) telah menjadi festival film yang selalu ditunggu-tunggu oleh komunitas penggemar film genre fantastik di Indonesia.

Cara penyelenggaraan yang selalu cermat memancing hype di kalangan penggemarnya, tahun ini festival film genre fantastik satu-satunya di Asia Tenggara itu mencoba memperluas rangkulannya dengan mengundang 15 blogger film terpilih di Indonesia. Salah seorang dari 15 blogger tersebut, yang kebetulan memang penggemar iNAFFF, hadir di malam pembukaan jauh-jauh dari Pulau Bali!

Sebagian dari 15 blogger
Dalam pembukaan yang dihadiri oleh banyak filmmaker muda Indonesia ini juga diumumkan bahwa setelah tahun lalu tanpa tanpa film Indonesia satu pun, tahun 2011 ini iNAFFF kembali memutarkan film-film produksi Indonesia yaitu The Perfect House (sutradara: Affandi Abdul Rahman), antologi film-film pendek pemenang Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) 6 volume 1 (produksi LifeLike Pictures), dan sebagai film penutup diputar The Raid (sutradara Gareth Huw Evans), yang gemilang di Toronto International Film Festival.

Penonton yang hadir (sebagian undangan, sebagian lagi beli tiket) terlihat berbondong-bondong memasuki Auditorium 2 Blitzmegaplex Grand Indonesia dengan panjang antriannya hampir sampai ke depan pintu toilet. Ribetnya antrian tersebut terobati dengan riuhnya pembagian hadiah di dalam auditorium. Dan opening ceremony menjadi semakin seru karena hadirin disuguhkan teaser trailer dari HI5TERIA (produksi Starvision Plus dan Upi Production) dan Modus Anomali (LifeLike Pictures) sebelum film utama diputar.

Undangan dan Antrian

Immortals dipilih menjadi film pembuka iNAFFF 2011 ini, selain karena bertepatan dengan rilis di seluruh dunia pada tanggal 11-11-11, mungkin juga karena film The Fall yang dibesut oleh sutradara yang sama, Tarsem Singh, pernah menjadi film penutup iNAFFF (ScreamFest Indo) tahun 2007.

iNAFFF digalang oleh pecinta film genre film fantastik untuk menjadi festival yang penuh kesenangan, dan apresiasi pecintanya mengusung festival tahunan ini menjadi festival bergengsi tanpa harus mengejar-ngejar gengsi. (Karto)

Trailer iNAFFF 2011


Trailer FISFiC 6 Vol.1


Teaser HI5TERIA

27 October 2011

The Perfect House: Salah Satu Horror/Thriller Indonesia yang Digarap Serius

Judul:
The Perfect House

Produser:
Vera Lasut

Sutradara:
Affandi Abdul Rachman

Penulis:
Alim Sudio, Affandi Abdul Rachman, Vera Lasut

Pemeran:
Cathy Sharon, Bella Esperance, Endy Arfian, Mike Lucock, Wanda Nizar, Joy Revfa




Plot:
Julie adalah seorang guru privat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Setelah mengajar Angie, muridnya yang autis ringan, Julie ingin istirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran dan mengatasi trauma atas kecelakaan yang terjadi pada orang tuanya. Namun, Nyonya Rita, meminta Julie untuk memberikan pelajaran les privat kepada cucunya, Januar. Guru sebelumnya telah hilang. Ketika Julie mengetahui bahwa orang tua Januar juga tewas dalam kecelakaan, ia merasa empati dan setuju untuk menjadi guru Januar selama sebulan dan menahan ia dari rencana perginya. Namun, apa yang Julie alami di rumah tersebut menjadi jauh dari yang ia bayangkan. Sebuah rahasia yang sangat gelap tersembunyi di dalam rumah itu. Kehidupan Julie pun terancam selamanya.

Catatan:
Cara menjawab tantangan hanya dengan aksi. Genre film horror/thriller (‘thriller’ ya, bukan ‘trailer’) Indonesia yang dicap buruk/busuk/sampah, yang menurut saya mengemuka akibat penyimpangan distribusi film di Indonesia, dijawab dengan karya film yang dibuat serius yang tak hanya berorientasi pada keuntungan atas modalnya. Indonesia wajib bersyukur masih punya pekerja-pekerja film yang tidak menyerah, yang karyanya menjadi jawaban, secara langsung maupun tidak langsung, terhadap semua film sampah yang lebih sering menghiasi layar-layar bioskop nasional. Sampai semalam saya masih mendapat kabar gembira karena bakal ada lagi film-film horror/thriller dari pekerja-pekerja film Indonesia yang serius dan berbakat. Untuk film sampah silakan salahkan produsernya, tapi jangan musuhi genre-nya.
Kolaborasi baru dari para ‘pemain lama’ genre horror/thriller, Vera Lasut (Mati Suri – associate producer), Alim Sudio (Air Terjun Pengantin - skenario) dan Affandi Abdul Rachman (Pencarian Terakhir - sutradara), meski belum mapan namun cukup solid dalam memproduksi film ini.
Didukung sinematografer handal, Faozan Rizal (Sang Pencerah), The Perfect House mengusung hawa suram sejak opening title. Penataan gambar dan cahayanya jelas-jelas bikin deg-degan saya yang aslinya bukan penggemar film bergenre horror/thriller seperti ini.
Meski mengusung genre thriller, The Perfect House tidak langsung menggempur penonton dengan kejutan-kejutan. Dalam suram dan kelamnya gambar, film ini menyajikan misteri demi misteri yang nanti berujung pada twist ending. Kalo pun ada yang disebut sebagai penampakan, itu pun merupakan bagian dari misteri yang ada. Penonton ditarik-tarik untuk tetap mengikuti tuturan cerita. Penonton silakan jeli untuk memperhatikan petunjuk-petunjuk yang diselipkan di sana-sini karena tidak banyak yang disampaikan melalui dialog (show, not tell).
Penampilan akting dari aktor-aktor yang terlibat cukup mumpuni mengisi karakter yang dibutuhkan cerita. Cathy Sharon sebagai Julie nyaris tidak diberi kesempatan untuk tampil bermanis-manis, bahkan di beberapa adegan cukup mampu beradu ‘keras’ berhadap-hadapan dengan Bella Esperance, yang berperan sebagai Madam Rita. Penampilan Endy Arfian (aktor cilik yang lebih dikenal via iklan televisi) cukup memukau sebagai Yanuar dalam karakternya yang ‘berlapis’.
Saya sedikit kurang puas dengan karakter Madam Rita yang terasa kurang manusiawi hingga mengingatkan kemiripan dengan karakter Ibu Dara (Rumah Dara). Padahal kalo menilik dari semua peristiwa yang dialami Madam Rita dan beberapa adegan yang menunjukkan hubungannya dengan beberapa karakter terdekatnya, menurut saya Madam Rita bisa tampil lebih ‘abu-abu’ yang bisa jadi lebih menambah rasa penasaran penonton.
Sedikit catatan khusus atas penampilan Wanda Nizar sebagai Dwi yang aktingnya diabadikan The Perfect House (aktor yang bernama asli Fajar Tri Wanda ini meninggal dunia pada tanggal 20 Oktober 2011) tampil sebagai pendukung dengan akting santai, wajar dan tidak berusaha mencuri perhatian. Aktor yang juga tampil dalam beberapa peran kecil di Pencarian Terakhir dan Heart-Break.Com ini cukup bisa memberikan karakter cuek namun peduli/sayang kepada karakter Julie.
Mengikuti film-film yang dibesut oleh Affandi Abdul Rachman sejak film Pencarian Terakhir, saya selalu menemukan hal-hal yang berbeda. Tapi dari semua film-filmnya saya selalu merasakan durasi yang kurang panjang. Seperti masih ada adegan-adegan yang perlu disampaikan yang membuat tuturan ceritanya lebih enak. Mungkin durasi yang sekarang ada sudah cukup dan bisa berkompromi untuk meraih apresiasi penonton yang lebih luas.

24 October 2011

Simfoni Luar Biasa: Tampil Baik Tanpa Harus Banyak Drama


Judul:
Simfoni Luar Biasa

Produser:
Nita Triyana, Delon Tio

Sutradara:
Awi Suryadi

Penulis:
Awi Suryadi, Maggie Tiojakin, Delon Tio

Pemeran:
Christian Bautista, Gista Putri, Ira Wibowo, Valerie Thomas, Ira Maya Sopha, Verdi Solaiman, Sophie Navita, Maribeth Pascua, Willem Beaver, Stanley Saklil



Catatan:
Ngga ada simfoni sama sekali, bahkan ngga ada musik orkestra pula, tapi film ini jelas dibesut untuk menghangatkan hati. Ngga perlu sampai jatuh bersedih melarat-larat, penonton dibawa ke dalam kisah klasik tentang si anak hilang yang bakal jadi hero tanpa nama bagi yang terpinggirkan.
Bagi penonton ‘umum’ di Indonesia mungkin merasakan pemaksaan plot tentang si anak yang nyaris sebatang kara di Manila-Filipina sana, tapi saya sendiri menyaksikan kisah sejenis yang lebih jauh jaraknya, antara Belanda dengan Indonesia. Saya percaya nasib orang bisa terjadi di luar batas nalar.
Cerita yang sederhana, yang mungkin akan sangat cocok bila dirilis pas liburan sekolah, terasa sekali ditujukan bagi penonton segala usia (dan sebagian perempuan-perempuan supaya betah memuja ketampanan Christian Bautista). Ngga ada yang rumit, alur cerita yang mudah ditebak, selipan guyon, konflik-konflik yang hanya berujung dengan penyelesaian kekeluargaan dan juga sedikit romansa malu-malu.
Nyaris semua aktor yang mendukung berakting enak diliat, ngga ada yang berlebihan. Ira Maya Sopha cukup pas tampil sebagai kepala sekolah yang keibuan, bikin teringat gayanya yang asyik sebagai juri di acara kontes penyanyi cilik di TV itu. Saya sudah lama ‘kenal’ dengan keayuan Gista Putri seperti terbius kembali dengan perannya yang polos dan malu-malu. Peran Valerie Thomas sebagai Carissa, adik tiri Jayden, cukup mencuri perhatian dengan karakter yang tomboy tapi manja kepada kakak ‘baru’nya. Verdi Solaiman selalu tampil ‘nyebelin’ seperti biasanya, nyebelin dalam artian ‘ada aja deh muncul di banyak film’, bisa juga nyebelin dalam film karena karakternya sebagai Pak Dimas yang pendengki.
Khusus pada penampilan Ira Wibowo sebagai ibu yang berusaha berdamai dengan masa lalunya, saya jadi teringat komentar Om Indro Warkop yang memberi penilaian baik atas akting Ira Wibowo, saat dulu mereka main film bersama, sebagai persona yang pandai, mudah diarahkan dan cerdas tek tok dalam adegan-adegan lelucon. Ngga heran kalo dalam ‘Simfoni Luar Biasa’, akting Ira Wibowo mampu membuat saya bersimpati kepada karakternya.
Meski akting Christian Bautista yang terasa datar dan dialog-dialog yang biasa saja, adegan-adegan dalam film ini ‘terjahit’ dengan baik hingga menjadi nyaman untuk ditonton sampai selesai. Nyaris tidak ada adegan yang dipanjang-panjangkan. Tuturan cerita mengangkat anak-anak berkebutuhan khusus di sini pun tidak terjebak menjadi dramatisasi yang berlebihan. Dan ‘gimmick’ pemilihan lagu dalam adegan puncak mampu memancing emosi haru.
Film ini ditutup dengan baik. Saya berpendapat bahwa penyampaian sesuatu dengan baik dan tepat bisa juga menjadi luar biasa, tanpa harus dengan penuh dramatisasi.

23 October 2011

WARRIOR: Proses Pengampunan yang Berdarah-darah
























Title:
Warrior (2011)

Directed by
Gavin O'Connor

Writing credits:
Screenplay: Gavin O'Connor, Anthony Tambakis, & Cliff Dorfman
Story: Gavin O'Connor & Cliff Dorfman

Cast:
Joel Edgerton, Tom Hardy, Nick Nolte, Jennifer Morrison, Frank Grillo, Kevin Dunn

Plot:
Two brothers face the fight of a lifetime - and the wreckage of their broken family - within the brutal, high-stakes world of Mixed Martial Arts (MMA) fighting in Lionsgate's action/drama, WARRIOR. An ex-Marine haunted by a tragic past, Tommy Riordan returns to his hometown of Pittsburgh and enlists his father, a recovered alcoholic and his former coach, to train him for an MMA tournament awarding the biggest purse in the history of the sport. As Tommy blazes a violent path towards the title prize, his brother, Brendan, a former MMA fighter unable to make ends meet as a public school teacher, returns to the amateur ring to provide for his family. Even though years have passed, recriminations and past betrayals keep Brendan bitterly estranged from both Tommy and his father. But when Brendan's unlikely rise as an underdog sets him on a collision course with Tommy, the two brothers must finally confront the forces that tore them apart, all the while waging the most intense, winner-takes-all battle of their lives.

Note:
Pertalian darah ternyata tidak cukup kental untuk menyatukan keluarga dalam kedamaian. Hilangnya kasih sayang, dendam yang muncul menjadi kebencian jadi membentengi hati hingga sekeras karang. Orang bijak berkata, “Sentuhlah hati dengan hati.” Namun hati yang terbentengi sekeras karang secara logis tidaklah mudah tersentuh dengan kelembutan hati lainnya. Film ini menyampaikan perjuangan menembus benteng karang hati itu.
Meski sakit dan mengorek luka lama, hati harus terbuka untuk sebuah maaf. Memaafkan satu kesalahan kepada satu orang menjadi begitu banyak dan begitu amat sangat besar karena kesalahannya yang tak terlupakan. Memori pikiran menjadi sangat-sangat ‘terjajah’ oleh hati yang terluka. Meski berdarah, hati yang sulit memaafkan tetap lebih keras daripada batu karang.
Proses mohon ampunan bisa menjadi sangat panjang, bisa juga menjadi sangat keras dan berdarah-darah seperti divisualisasikan dalam film ini. Menurut saya, ‘proses pengampunan’ yang tergambar dalam film ini merupakan cerminan dari semua perilaku/budaya/bahasa pelakunya hidup dan dibesarkan. Kita mungkin pernah jadi saksi proses elegan sebuah pengampunan seseorang. Kita mungkin juga pernah jadi saksi proses pengampunan yang penuh basa basi. Dalam film ini, kita menjadi saksi sebuah proses pengampunan yang sangat keras, bahkan hingga mematahkan tulang dan membuat mata lebam, yang mungkin adalah akumulasi semua rasa sakit atas kesalahan yang juga sekaligus menjadi penebusan atas kesalahan itu. Proses yang sangat keras itu juga cerminan dari bagaimana pihak-pihak terkait dibesarkan dan hasil benturan-benturan kehidupan yang dihadapinya kemudian.
Meski tetap terasa sebagai cerita fiksi, film ini cukup berhasil menguras emosi atas ‘perseteruan’ segitiga ayah-sulung-bungsu yang sangat-sangat menggiris hati orang normal. Belum lagi suguhan pertarungan bela diri campurannya yang sangat-sangat brutal dan realis, yang mampu menyedot emosi penonton filmnya – seperti nonton pertarungan betulan. Akting Nick Nolte, sebagai si ayah yang bertobat dan mohon diampuni oleh anak-anaknya, perlu mendapat apresiasi khusus setelah sekian lama selalu berperan dalam karakter-karakter keras dan cenderung sadis. Penonton boleh jadi ikutan benci sekaligus kasihan terhadap karakter Nick Nolte yang renta di sini.
Mungkin di dunia nyata, memaafkan seseorang tidaklah sesegera seperti yang digambarkan dalam film ini, namun dari film ini bisa menginspirasi kita untuk lebih bisa membuka hati untuk memaafkan orang lain tanpa harus berdarah-darah dan tulang patah.

27 September 2011

Ritual Mudik Membosankan?

“Bosen deh liat tiap tahun begitu terus!” Itu komentar Ibu saya terhadap ritual mudik yang selalu terjadi di Indonesia setiap tahunnya menjelang Idul Fitri. Beliau memang bukan yang berkepentingan dengan mudik karena beliau bukan pemudik. Beliau memang tidak punya kampung halaman karena sejak lahir ‘terpaksa’ besar dan hidup di Jakarta. Dan saat menikah dengan almarhum Ayah saya pun, Ibu saya ‘terbebas’ dari kewajiban mudik ikut suaminya karena Ayah saya memang tidak khusus membiasakan dirinya untuk mudik saat menjelang Idul Fitri karena satu dan lain hal.

Sejak kecil hingga sekarang, Ibu saya selalu pada posisi sebagai penonton ‘acara’ ritual mudik. Dan beliau adalah penonton yang baik, yang selalu mengikuti perkembangan ritual mudik dari tahun ke tahun. Meski sebatas penonton, tapi beliau pernah cukup aktif memikirkan strategi mudik dan efek turunannya saat di rumah kami masih menggunakan jasa pembantu rumah tangga.

Tetapi yang disebut sebagai ‘membosankan’ dari sebuah ritual mudik menurut Ibu saya adalah segala bentuk keribetan, kehebohan, kesemrawutan yang selalu terjadi setiap tahunnya pada setiap aspek yang menyangkut dengan proses mudik menjelang hari raya. Dan segala bentuk keribetan, kehebohan, kesemrawutan itu tidak pernah berangsur membaik. Jangankan ada terobosan solusi revolusioner untuk mengatasinya, menurut ‘pengamatan’ Ibu saya sebagai penonton, setiap tahunnya semua aspek mudik selalu berangsur memburuk, terutama sarana dan prasarana transportasinya, termasuk pelayanan transportasi massalnya.

“Kenapa sih tetep pada mau ribet mudik kayak gitu?” Nah pertanyaan ini terlontar dari Ibu saya, antara sebel dan/atau sebenernya beliau jatuh kasihan terhadap para pemudik itu. Saya percaya Ibu saya pasti kasihan terhadap para pemudik yang setiap tahunnya rela repot bin ribet untuk melakukan perjalanan yang waktu tempuhnya bisa jadi 3 kali lebih lama dari pada waktu tempuh normal dengan tiket angkutan yang mahal, atau kepada mereka yang niat banget (kalo ngga mau dibilang nekad) mudik memanfaatkan sepeda motor.

Mudiknya sih ngga salah. Pulang adalah hal yang paling menyenangkan bagi setiap manusia normal. Jangankan pulang kampung, pulang ke rumah setiap hari setelah beraktivitas mustinya juga jadi hal yang menyenangkan. “Home is the where heart is” begitu kata orang bijak. Makanya keinginan pulang alias mudik janganlah sampai dibatasi apalagi sampai dilarang. Kalo sampai ada pelarangan mudik pastinya adalah sebuah bentuk pelanggaran hak azasi manusia.

Tradisi mudik pun ternyata juga ada koq di negara maju seperti Amerika Serikat. Masyarakat di Amerika Serikat banyak yang mudik pada masa liburan Thanksgiving dan juga liburan Natal dan menyambut Tahun Baru. Tapi apakah ada yang pernah dengar kalo tradisi mudik di sana seseru mudik di Indonesia? Seru mungkin, tapi ngga semrawut lah.

Kenapa ribet mudik di Indonesia? Kenapa heboh? Kenapa semrawut? Estimasi jumlah pemudik secara Nasional pada tahun 2011 adalah 15,5 juta jiwa dan dari jumlah itu diperkirakan sebanyak 7,1 juta jiwa mudik dari Jakarta. Angka itu selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah 15,5 juta jiwa memang hanya sekitar 6,4 persen dari total 241 juta jiwa penduduk Indonesia. Tapi kalo sejumlah itu bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan dalam waktu 7 hari (dan arus balik pada 7 hari sesudah Idul Fitri), dan apalagi nyaris separuhnya bergerak dari Jakarta, sudah pasti bikin heboh ya.

Sesuai pantauan yang ada, proses mudik terjadi di seluruh Indonesia. Semua kota besar di tiap provinsi di Indonesia pasti mengalami proses eksodus sebagian penduduknya pada saat menjelang Idul Fitri. Tapi mungkin karena nyaris separuh jumlah pemudik Indonesia bergerak mudik dari Jakarta, maka ritual mudik selalu heboh setiap tahunnya.

Dari jumlah 7,1 jiwa pemudik yang akan bergerak dari Jakarta dalam waktu lebih kurang 7 hari, mulai H minus 7 sebelum Idul Fitri, yang mana sebagian besar memanfaatkan jasa transportasi massal yang ‘hanya’ didukung dengan 3 stasiun kereta api (Gambir, Senen, Jatinegara) dan sekitar 5 terminal bus antar kota (Kalideres, Grogol, Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Pulo Gadung). Ngga usah ditanya lagi kepadatan manusia yang berkerumun siap diberangkatkan di masing-masing stasiun kereta dan terminal bus tersebut. Cerita ini masih perlu dilengkapi dengan kepadatan di bandara dan pelabuhan laut, meski tidak seheboh proses mudik via jalur darat.

Lalu lintas yang macet pun selalu berulang, terutama pada ‘gerbang-gerbang’ keluar dari area Jabodetabek. Juga ditambah beberapa ruas jalan utama rute mudik dari Jakarta ke seluruh ujung Pulau Jawa. Dan rute jalan juga dipenuhi dengan beberapa kendaraan pribadi, carteran, sewaan, pinjaman yang ditambah lagi dengan ratusan sepeda motor dan bahkan bajaj! Kepadatan yang ditimpali dengan kehebohan membuat jatuhnya korban jiwa di rute mudik menjadi tak terelakan.

Sebagaimana mudik/pulang, merantau ke kota besar pun tidak boleh dilarang. Setiap orang punya hak untuk mengadu untung di mana pun dia mau. Urusan gagal dan lalu menjadi beban sosial itu hal lain lagi. Nah kira-kira kalo ada 7,1 juta jiwa mudik dari Jakarta, bisa disimpulkan pula bahwa sejumlah itu juga lah penduduk yang merantau ke Jakarta, termasuk keturunannya. Ada apa ya dengan Jakarta?

Menumpuknya perantauan di Jakarta karena kota metropolitan ini memiliki magnet ekonomi yang luar biasa, paling besar di antara kota-kota besar lainnya di Indonesia. Memang Jakarta adalah juga ibukota negara, tapi tidak setiap ibukota negara adalah kota yang padat dengan perekonomian yang berputar kencang. Contoh saja Washington, D.C, ibukota Amerika Serikat yang jauh kalah ramai dibandingkan New York dan Los Angeles. Atau Canberra, ibukota Australia yang jelas kalah ramai dibandingkan dengan Sydney.

Bisa jadi magnet ekonomi Jakarta ini terjadi karena pembangunan ekonomi yang tinggi dan cepat namun tidak merata sampai ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. Silakan dicek saja bahwa semua fasilitas, sarana dan prasarana lengkap ada di Jakarta dan, ini yang paling penting, bermula di dan dari Jakarta. Dengan kelengkapan seperti itu, ngga heran kalo nyaris semua kantor dan pusat bisnis berada di Jakarta.

Saya masih ingat ada satu kawan yang usaha jualan pakaian anak-anak di salah satu ibukota provinsi di Sulawesi yang khusus ‘mengimpor’ barang jualannya dari toko kulakan di Mangga Dua dan Tanah Abang.

Saya juga pernah membaca riwayat perjuangan salah satu band terkenal yang mengirimkankan dua personilnya yang sedikit makannya (supaya irit ongkos dan konsumsi) untuk bersusah payah datang ke Jakarta demi menyampaikan rekaman demo band mereka kepada salah satu label rekaman besar.

Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukkan bahwa Jakarta adalah betul-betul magnet ekonomi yang besar, yang belum ada tandingannya dari kota besar lainnya di Indonesia. Tapi menurut saya jadinya Jakarta sebagai satu-satunya magnet besar ekonomi di Indonesia adalah sebuah kesalahan pembangunan.

Jakarta menjadi seperti itu bisa jadi karena kesalahan pembangunan pada masa rezim Orde Baru yang melaksanakan program pembangunan secara sentralisasi; seluruh Indonesia diberdayakan yang hasilnya ditarik dulu ke pusat pemerintahan, yang nota bene juga di Jakarta, baru kemudian dibagi-bagikan kembali. Selain cara sentralisasi ini tidak berasaskan keadilan, proses pengembalian hasil kembali ke daerah diperparah dengan korupsi yang menggerogoti jalannya dana tersebut. Belum lagi hasil pemberdayaan dari seluruh Indonesia nyata-nyata lebih menyuburkan pembangunan di Pulau Jawa yang kemungkinan karena pulau inilah asal dari sebagian besar penguasa puncak Indonesia pada masa itu. Pulau-pulau lain di Indonesia pun terabaikan.

Memang pada era reformasi setelah rezim Orde Baru tumbang sistem pembangunan sentralisasi digantikan dengan sistem desentralisasi yang diimplementasikan dengan apa yang disebut dengan otonomi daerah. Meski sampai sekarang belum ada hasil yang signifikan dari program otonomi daerah, minimal sudah ada permulaan untuk niatan pemerataan pembangunan.

Dari pembangunan yang merata, saya membayangkan minimal setiap ibukota provinsi memiliki kekuatan ekonomi yang mendekati kedigdayaan ekonomi Jakarta. Dengan begitu, magnet ekonomi Jakarta akan melemah karena terbagi ke ibukota-ibukota provinsi di seluruh Indonesia. Para pengadu nasib pun mungkin sudah tak perlu lagi jauh-jauh mempertaruhkan hidupnya sampai ke Jakarta karena ibukota provinsinya sudah cukup memadai. Lapangan pekerjaan bagi saudara yang asli dari Bandungan tersedia cukup di Semarang, tak perlu lagi berangkat naik bus 8 jam lebih untuk ke Jakarta, misalnya.

Perusahaan-perusahaan asing tidak ragu lagi membuka kantor pusatnya di kota lain selain di Jakarta karena infrastruktur yang tersedia sudah setara dengan yang ada di Jakarta. Pekerjaan sehari-sehari bisa didukung penuh dengan pemanfaatan teknologi informasi yang canggih (meeting via teleconference, misalnya), secanggih yang dimiliki Jakarta (meski yang ada di Jakarta pun belum dimanfaatkan maksimal).

Pemberdayaan putera daerah pun menjadi semakin optimal. Pendidikan beserta fasilitasnya yang lebih baik yang tersedia di seluruh Indonesia menjadikan putera daerah setempat cukup mampu mengelola daerahnya sendiri. Instansi-instansi pemerintah tak lagi perlu mengirimkan/menyebarkan pegawai-pegawainya dari pusat ke seluruh Indonesia untuk berkarir.

Andai itu semua terpenuhi, saya percaya bahwa urbanisasi terjauh hanyalah sampai ibukota provinsi masing-masing. Sekalipun tetap tidak boleh ada larangan untuk mengadu untung di Jakarta, tapi ngapain musti pergi jauh kalau apa yang dihasilkan hanya berselisih sedikit dengan yang dihasilkannya di ibukota provinsinya.

Urbanisasi yang sudah tersebar ke masing-masing ibukota provinsi membuat ritual mudik menjadi lebih longgar dan mudah-mudahan menjadi lebih nyaman. Dan mungkin saja karena lebih dekat, mudik ke kampung halaman tidak lagi perlu ditahan-tahan hanya untuk setahun sekali saja.

Dengan begini pengusaha angkutan massal tidak akan lagi aji mumpung menaikkan tarif tiket mudik setinggi-tingginya memanfaatkan musim mudik, yang seringkali membuat pemudik menguras dalam-dalam tabungan yang dikumpulkannya selama setahun. Pemudik mungkin tak perlu lagi berebutan tiket, mengantri berlama-lama sedari malam di depan loket tiket yang baru buka keesokan siangnya.

Mungkin juga angka kejahatan yang sering terjadi selama Ramadhan menjelang lebaran dapat ditekan karena semakin sedikit perantauan yang frustrasi karena belum punya dana untuk mudik sekeluarga dan berhari raya di kampung halamannya.

Dengan begitu, keribetan, keruwetan, kehebohan dan kesemrawutan ritual mudik di Indonesia setiap menjelang Idul Fitri dapat jauh diminimalisir. Dan Ibu saya tak lagi berkomentar, “Bosen deh liat tiap tahun begitu terus!”

23 May 2011

7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita: Penghormatan Laki-laki Indonesia terhadap Perempuan


Judul:
7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita

Sutradara dan Penulis Naskah:
Robby Ertanto Soediskam

Pelatih Akting dan Editor Naskah:
Eka D Sitorus

Sound Recordist:
Ichsan Rahmaditta

Line Producer:
Kiki Machina

Para Pemeran:
Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Happy Salma, Olga Lydia, Intan Kieflie, Tizza Radia, Tamara Tyasmara, Patty Sandya, Novi Sandrasari, Henky Solaiman, Verdi Solaiman, Rangga Djoned, Tegar Satrya, Revi Budiman, Albert Halim, Bom Bom Gumbira, Achmad Zaki

Catatan:
“Kalo mau bikin film, kasi cerita yang betul-betul kita tau dan mengerti,” begitu kira-kira pernyataan dari kawan saya, sutradara muda yang sedang vakum itu, beberapa tahun yang lalu saat film pertamanya rilis. Pernyataan itu selalu saya ingat-ingat. Dalam berkomentar pun saya ingat-ingat hal itu. Menulis bahasan tentang film pun akan saya tulis dari sudut pandang dan wawasan yang paling saya kuasai. Belum pernah saya membahas film menggunakan sudut pandang teknis perfilman canggih karena memang saya ngga ngerti.

Dari sisi pengetahuan dan pemahaman cerita, tentunya menjadikan film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” sangat menarik karena ditulis dan dibesut oleh seorang laki-laki. Film ini adalah film yang sangat-sangat pro kepada nasib perempuan Indonesia yang memang masih menjadi warga kelas dua di dalam masyarakat negeri ini. Beberapa film Indonesia mutakhir dengan tema sejenis sebelumnya dibuat oleh perempuan. Maka film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” menjadi sangat istimewa di mata saya.

Saya yang sejak kecil sangat dekat dengan perempuan, merasakan keterkaitan emosi dengan cerita yang dipaparkan dalam film ini dengan begitu lugas tanpa dipanjang-panjangkan. Semua kisah yang dihadirkan tidak mengejutkan saya karena memang seperti itulah potret perempuan Indonesia yang saya tahu sejak kecil hingga sekarang. Perempuan di keluarga saya bernasib lebih beruntung daripada yang dikisahkan dalm film ini, namun saya melihat kenyataan yang sama di sekeliling saya, persis seperti yang ditampilkan di layar.

Itu kaitan emosional saya karena saya ‘duduk mengamati’ keadaan sekeliling saya. Namun film ini bergerak jauh lebih dalam karena mampu menceritakan problema perempuan Indonesia dengan baik, jelas, terbuka, tanpa diperhalus. Ini yang menarik dari sutradaranya yang jelas-jelas lelaki. Bisa jadi film ini adalah hasil pengamatannya selama bertahun-tahun. Tapi emosi yang dituturkan lewat gambar-gambar yang efektif seperti meyakinkan saya bahwa sang sutradara tidak hanya sebatas mengemukakan problema yang dihadapi perempuan Indonesia yang nyaris selalu ditutup-tutupi karena alasan adat dan ketabuan, tetapi film ini juga menunjukkan kecintaan dan penghormatan sang sutradara sebagai laki-laki Indonesia terhadap perempuan.

Sang sutradara seperti menempatkan diri sebagai lelaki yang tidak mau merelakan perempuan Indonesia tak berdaya menerima ‘kodrat’ yang disematkan oleh lingkungan patriarkalnya. Mungkin ini juga mengapa film ini diberi judul yang mengandung kata ‘wanita’ yang terdengar berkelas namun menurut artikel “Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik” malah mengandung arti yang merendahkan dibandingkan dengan kata ‘perempuan’ yang mengandung kata ‘empu’ yang bisa diartikan sebagai ‘orang yang mahir/berkuasa’. Mungkin karena perempuan Indonesia masih dirundung permasalahan yang belum jelas ujungnya, si penulis cerita memilihkan judul yang menggunakan kata ‘wanita’.

Film yang sederhana ini disampaikan dalam bahasa gambar yang juga sederhana, namun apik dan efektif. Tidak semua kisah disampaikan dalam dialog karakter-karakternya yang membuat film ini menjadi semakin terasa nyata. Dalam beberapa adegan, si karakter cukup menyampaikan gesture tertentu untuk menyatakan sesuatu, seperti mungkin ada sesuatu yang disembunyikan tanpa kata-kata terucap atau tanpa overdub suara seolah dari pikirannya.

Penggunaan lokasi yang juga nyata, rumah sakit yang beneran ada di Jakarta, semakin mendekatkan film ini dengan kisahnya yang mengangkat problema dari dunia nyata sehari-hari. Belum lagi kewajaran akting dari aktor-aktor (perempuan dan laki-laki) yang terlibat di dalamnya. ‘Twist’ dalam film ini mungkin terasa kurang masuk akal, namun hal itu malah menjadikan pembeda film ini, yang fiksional, dengan film dokumenter dengan cerita sejenis.

Jajang C Noer yang berperan sebagai dr. Kartini, karakter sentral dalam film ini, untuk pertama kalinya dalam sebuah film layar lebar, namanya dimunculkan paling pertama dalam opening title setelah judul. Mungkin hal ini belum tentu berarti banyak bagi beliau. Tetapi bagi saya, mama rock n’ roll ini sudah selayaknya mendapatkan porsi teratas dalam sebuah film nasional, meski memang tidak pernah luput dari penghargaan terhadap aktingnya dalam beberapa film sebelum ini. Setelah banyak berperan dalam karakter pendukung (supporting roles) dalam banyak film, meski tidak pernah tampil hanya sebatas tempelan, sudah saatnya istri almarhum sutradara handal Arifin C Noer ini dipercayakan memegang karakter paling penting dalam sebuah film. Dan seperti ‘biasa’nya, Jajang selalu mampu menampilkan akting yang mumpuni tanpa pernah terlihat dan terasa sedang berakting. Di beberapa adegan di film ini saya seperti melihat selipan karakter Jajang yang asli, yang rock n’ roll, meski tetap dalam ‘koridor’ karakter seorang dokter ahli kandungan. Dan yang juga menarik, akting Jajang yang asyik tidak berarti jadi menutup akting dari aktor-aktor lainnya. Akting Jajang nggak hanya berimbang dalam adu akting dengan Henky Solaiman yang sama-sama kawakan, tetapi Jajang juga mampu tampil ‘enak’ berhadapan dengan aktor-aktor muda pendukung lainnya.

Dari judulnya sudah bisa disimpulkan bahwa film ini tidak hanya menampilkan 2 karakter saja dalam sepanjang durasi tayangnya. Minimal ada 7 karakter perempuan yang ditampilkan. Semua karakter perempuan yang ada pasti beradu akting langsung dengan Jajang C Noer dan juga dengan karakter pendukung lainnya. Semua aktor yang terlibat mampu menampilkan akting yang cukup baik. Tapi dari sekian karakter perempuan yang ada, selain karakter dr. Kartini, tercatat 2 aktor yang cukup mencuri perhatian saya yaitu Happy Salma sebagai Yanthi si PSK dan Intan Kiefli sebagai Ratna si istri yang soleha.

Aura seksi seorang Happy Salma, yang selalu mampu membuat saya berdebar-debar melihatnya meski dia memakai busana yang paling sopan sekalipun, mampu tereksplorasi dengan maksimal ditambah dengan celotehan karakter Yanthi yang khas celotehan warga Jakarta yang sering mangkal sebagai penjaja seks. Happy yang saya tahu selalu santun dalam berbahasa, yang juga mampu berpuisi dalam beberapa kesempatan, kali ini menghidupkan karakter Yanthi dengan gaya bicaranya yang vulgar tanpa tedeng aling-aling. Namun Yanthi yang keras hati karena tertempa kehidupan malam setiap harinya digambarkan mampu juga luluh karena ketulusan cinta seorang Bambang yang selalu setia mengantarkannya. PSK juga manusia.

Ratna yang sedang hamil tua, dengan baik ditampilkan oleh Intan sebagai istri yang setia, patuh dan selalu berprasangka baik terhadap Marwan suaminya. Intan, yang aslinya memang berkerudung, mampu menampilkan karakter Ratna sebagai istri yang mengabdi dan tegar menerima kodratnya yang mewajibkannya terus melayani sang suami meski dalam lelah bekerja sebagai buruh jahit dengan kondisi hamil besarnya. Kondisi hamil dan lelah juga tidak menyurutkan kasih Ratna kepada suaminya yang sering pulang dengan tangan hampa meski katanya baru selesai kerja lembur.

Namun Intan juga mampu optimal menampilkan karakter Ratna yang sedang terhempas ke dasar jurang kecewa. Didukung dengan skenario dengan dialog-dialog yang efektif, Intan ‘menyampaikan’ Ratna yang sedang kecewa dengan amat sangat manusiawi. Kemarahan Ratna tergambar sangat mengguncang saya. Adegan keruwetan Ratna bersama Rara, adik Ratna, dalam mikrolet itu merupakan puncak film ini buat saya. Adegan itu sukses membuat saya sangat bersimpati terhadap Ratna yang sedang kecewa sedalam-dalamnya namun tetap berani mengambil keputusan besar dalam kondisinya yang hamil tua dan tetap harus mengayomi Rara.

Keseluruhan gambaran utuh film ini mungkin saja menohok kesadaran sebagian penontonnya. Bisa saja sebagian menganggap problema yang terpapar adalah sesuatu yang dibesar-besarkan oleh filmmaker-nya. Mungkin juga sebagian lagi menyangkalnya. Tapi saya berharap munculnya kesadaran membuka mata lebih lebar terhadap permasalahan yang dihadapi perempuan di Indonesia. Niatan menyajikan kisah problematika perempuan Indonesia dari seorang filmmaker laki-laki seperti Robby Ertanto dalam film ini makin mengharukan saya. Bentuk tertinggi dari kecintaan terhadap sesuatu adalah memberikan penghormatan yang setinggi-tinggi, sama seperti yang dilakukan Robby Ertanto terhadap perempuan melalui filmnya ini.

27 January 2011

Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia terhadap Film dan Perfilman Indonesia

movie wall flickr



Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia
terhadap Film dan Perfilman Indonesia


Produksi film Indonesia semakin meningkat berpuluh kali lipat per tahunnya dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Namun apresiasi penontonnya merosot jauh, tidak berbanding lurus dengan jumlah film Indonesia yang tayang nasional di bioskop-bioskop.

Banyak hal yang bisa saja dipersalahkan atas menurunnya apresiasi penonton film terhadap film dan perfilman Indonesia. Beberapa di antaranya adalah: (1.) penurunan mutu produk film Indonesia; (2.) distribusi film Indonesia yang tergantung kepada 1 distributor saja; (3.) masih kurangnya jumlah layar bioskop untuk tayang film Indonesia; (4.) pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop; (5.) tema film Indonesia yang nyaris seragam; (6.) film Indonesia terlanjur mendapat stigma buruk dari sebagian penonton film di Indonesia; (7.) bajakan film yang melimpah, dan masih banyak lagi.

Dari hal-hal yang disebutin di atas itu hampir semuanya di luar kendali pelaku/pekerja film karena solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa negeri yang sebenarnya mendapat cukup pemasukan dari pajak dan cukai yang terkait dengan produksi film dan distribusinya.

Kalau kita berkutat berusaha mencari solusi untuk hal-hal yang di luar kendali tentunya bakal lebih banyak menguras energi. Dan untuk hal-hal yang solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa, mudah-mudahan kita semua masih bisa berharap akan adanya perbaikan seandainya nanti ada perubahan/pergantian rezim.

Di era informasi yang sangat terbuka seperti sekarang terpantau begitu menjamurnya komunitas penikmat film yang tersebar dan terus berkembang dalam dunia maya, mulai dari penonton film karena ‘rajin’ celingak celinguk di mall, penikmat film yang getol memantau perkembangan film mulai dari proses pre-production-nya, sampai penikmat film ‘tingkat tinggi’ yang asyik dengan film-film art-house non mainstream. Informasi dan diskusi dalam komunitas-komunitas penikmat film itu mampu menggiring kita untuk tidak lagi memperhatikan media-media informasi film yang konvensional seperti majalah cetak/online dan site bioskop online.

Namun dari jumlah yang banyak ternyata masih sedikit sekali yang merupakan penonton film Indonesia yang baik. Indikasi yang paling mudah adalah dari sedikitnya penonton yang menonton film Indonesia di bioskop-bioskop. Sedikitnya penonton yang datang di gedung bioskop juga disebabkan karena pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop-bioskop yang memiliki 2 sisi yang berlawanan; di satu sisi film Indonesia harus segera turun layar, istilah lain dari ‘dicabut dari peredaran’, karena dianggap sepi penonton dan terdesak film Indonesia lainnya yang antri untuk rilis di minggu berikutnya, di sisi lain film Indonesia mungkin belum sempat didatangi penontonnya karena terlalu pendek masa tayangnya di bioskop. Penonton film Indonesia masih perlu disodori banyak-banyak informasi mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang di bioskop. Andai film Indonesia punya masa naik layar lebih lama, mungkin jumlah penonton yang hadir di bioskop bisa lebih banyak lagi.

Kemungkinan besar setelah ‘lengser’nya film Indonesia dari posisi ‘tuan rumah di negerinya sendiri’, buruknya film dan perfilman Indonesia masih menjadi stigma yang melekat di kepala sebagian besar penikmat film di Indonesia. Masih sering terdengar cemoohan apatis, “apa sih bagusnya film Indonesia?!” Apabila kita coba mengambil contoh dari 82 judul film Indonesia yang rilis nasional sepanjang tahun 2010, yang ternyata layak dikategorikan sebagai film yang baik tidak sampai 20 judul, bisa menjadi ‘permakluman’ atas cemoohan tadi.

Nyaris ngga beda dengan perdebatan ‘mana lebih dulu telur atau ayam’, mengharapkan perbaikan revolusioner terhadap perfilman Indonesia sepertinya masih jauh dari kenyataan dan masih akan berputar-putar di permasalahan yang itu-itu saja tanpa sampai ke solusinya. Sedangkan karya film sebagai suatu karya seni budaya tetap perlu ditonton untuk diapresiasi. Keputusan produser untuk segera merilis filmnya ke dalam format home video (VCD/DVD) supaya bisa menjangkau penonton lebih luas yang tidak terjangkau gedung bioskop (termasuk logika yang salah mengenai peruntukan format home video dari sebuah film), ternyata selain merusak bentuk apresiasi film yang optimal dilakukan di bioskop, juga malah membuka celah pembajakan terhadap film itu sendiri.

Penonton yang katanya lebih terdidik tentang film, khususnya film-film produksi Amerika dan Eropa, ternyata sedikit sekali yang mau ‘menurunkan level pendidikan filmnya’ apabila bersinggungan dengan film-film Indonesia. Mereka masih terlalu tinggi dalam mengekspektasi sebuah karya film Indonesia. Mungkin sebagian dari mereka lupa bahwa film adalah juga bagian dari kebudayaan sebuah bangsa yang pastinya unik dan berbeda dengan kebudayaan bangsa-bangsa lainnya.

Ekspektasi dan selera memang sulit untuk diukur dengan pasti. Tapi dengan banyaknya komunitas penikmat film yang bertebaran itu mungkin masih bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang. Dengan informasi yang banyak itu paling tidak sedikit mampu ‘mengarahkan’ ekspektasi yang bakal muncul sebelum menentukan pilihan dan menyaksikan filmnya.

Ada juga gejala aneh dari sebagian penonton film: dengan informasi yang ada malah jelas-jelas memilih film Indonesia yang dikategorikan ‘kelas B’ (atau bahkan mungkin C atau D) sebagai hiburan. Mungkin di satu sisi film semacam itu bisa dianggap sebagai hiburan (meskipun hiburan yang absurd menurut gue), tapi dari sisi produksi film Indonesia yang serius dan sungguh-sungguh, gejala ini bisa menjadi kontra produktif bagi perfilman Indonesia karena produser film-film kategori kelas B ke bawah akan tetap giat berproduksi dengan claim bahwa filmnya tetap ditonton di bioskop. Lebih baik serahkan saja ‘apresiasi’ film-film semacam itu kepada media-media berita hiburan, karena dengan hadirnya kita menonton film semacam itu di bioskop sama saja dengan mendukung produksi filmnya.

Memang ada juga pernyataan dari salah satu pekerja film Indonesia bahwa tidak bisa berharap banyak dari komunitas penikmat film dari segi jumlah penonton, meski mendapatkan tanggapan yang positif dalam bahasan dan diskusi sebelum peluncuran, tetap saja belum bisa mendongkrak pembelian tiket di bioskop dalam masa tayang yang pendek itu. Yang agak terlihat seru ‘apresiasi’nya biasanya hanya di ajang nonton bareng gratis yang juga bagian dari promosi.

Mungkin saat ini jumlah penonton masih belum bisa dijadikan indikasi tingginya apresiasi, meski cukup menentukan balik/tidaknya ongkos produksi. Langkah yang paling cukup jelas bisa dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian (awareness) terhadap film dan perfilman Indonesia. Cara praktisnya dengan terus menyediakan informasi sebanyak-banyak tentang film Indonesia, baik itu film yang akan/sedang tayang di bioskop dan juga informasi film Indonesia klasik yang pernah jaya pada jamannya.

Komunitas-komunitas penikmat film yang pada dasarnya bergerak secara independen mestinya mampu menggalang gerakan kepedulian terhadap film dan perfilman Indonesia, minimal dengan secara berkala mengadakan nonton bareng film Indonesia yang bermutu langsung ke bioskop (ngga nunggu bajakan atau donlotan atau versi online-nya). Kepedulian sekecil apa pun terhadap film Indonesia mampu memberi nafas bagi pekerja film Indonesia untuk terus berkarya dan meningkatkan karyanya.