tag:
Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

10 March 2010

GIE: NASKAH SKENARIO : Demonstran Legendaris Indonesia


Judul:
GiE: Naskah Skenario

Penulis:
Riri Riza

Penerbit:
Jakarta: Nalar
Cetakan Pertama, September 2005
Xiii + 152 hal.; 14 x 21 cm

ISBN:
979-99395-5-0

Catatan:
Awalnya baca buku ini karena mau belajar penulisan skenario. Buku ini udah lama ngga dibaca karena filmnya udah nonton duluan. Beli buku ini karena kepingin koleksi aja. Akhir-akhir ini gue sedang belajar penulisan skenario film. Yah salah satu cara belajarnya gue coba banding-bandingin beberapa skenario film. Dan salah satu buku skenario film yang gue punya ya buku ini.

Awalnya hanya ingin memperhatikan cara-cara dan tata cara penulisan skenario, mulai dari heading, shot, action, character, dialogue, transition. Ngga salah milih buku sih, karena skenario ini ditulis Riri Riza yang udah jaminan mutu deh :D

‘Masalah’nya lama-lama baca skenario ini gue jadi melenceng dari tujuan awalnya. Makin lama gue malah makin asyik ngikutin ceritanya. Padahal gue udah pernah nonton filmnya, bahkan sempet nonton di bioskop dulu itu. Walaupun ngga gue baca sekaligus sampai selesai, tapi skenario ini cukup mudah diikuti. Mungkin juga karena gue pernah nonton filmnya.

Makin dibaca, gue makin kangen dengan filmnya. Makin dibaca gue makin ‘kangen’ dengan sosok Soe Hok Gie sebagai mahasiswa yang cerdas, tangguh namun tajam dalam semua kritikannya kepada penguasa. Gue suka banget visualisasi demonstrasi mahasiswa dalam filmnya, keras tapi cerdas.

Ngga sengaja gue baca skenario ini pas banget dengan kisruh dalam demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini terkait dengan penyelidikan DPR atas kasus bail out Bank Century. Gue jadi bertanya-tanya seandainya Gie masih hidup di jaman sekarang, apa sikap yang beliau ambil atas kisruh kasus itu, apa komentar beliau dengan kericuhan yang sering terjadi dalam demonstrasi-demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini dan apa sikap beliau atas demokrasi yang sedang tumbuh kembali dalam republik ini.

Buku catatan harian beliau dan beberapa buku karyanya sudah gue baca habis. Masih menunggu buku tentang beliau yang terbaru untuk gue baca. Tulisan beliau selalu membimbing gue untuk jadi radikal tanpa harus jadi kurang ajar! Menjadi radikal dengan menggunakan akal sehat, berontak kepada penguasa dengan dasar-dasar yang kuat. Mungkinkah jaman mampu mengikis prinsip ‘lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan’ yang selalu dipegang oleh demonstran kesepian legendaris Indonesia ini?

05 July 2009

LABIRIN LAZUARDI: LANGIT MERAH SAGA: Come Back yang Tidak Lagi Memukau


Judul:
Labirin Lazuardi: Langit Merah Saga

Penulis:
Gola Gong

Editor:
Ambhita Dhyaningrum

Penerbit:
Tiga Serangkai, Solo, 2007
ISBN 979-33-0514-2

Catatan:
Buat yang seumuran gue dan suka baca-membaca, kemungkinan besar kenal dengan penulis dengan nama samaran Gola Gong dan karya-karyanya. Mulai terkenal dari serial Balada Si Roy di salah satu majalah remaja. Tulisannya segar, berbeda dengan yang pernah ada, dan membumi. Sekalipun tentang petualangan seorang remaja hampir ke seluruh penjuru tanah air, tiap pembacanya seolah ikut menjadi Si Roy dan menjadi saksi langsung bahkan mengalami sendiri petualangan itu.

Tulisan semacam itu yang melekat di kepala dan hati gue waktu mutusin untuk beli buku Labirin Lazuardi ini. Gue liat buku ini bakal menjadi semacam serial seperti Balada Si Roy dulu. Buku ini ngga kedengaran gaungnya. Tapi jaminan nama Gola Gong bikin gue mau beli dan berniat baca buku ini.

Sekalipun bertokohkan seorang anak muda yang dalam proses pencarian jati dirinya, tidak puas dengan keadaan semu dalam gelimang harta, kali ini Gola Gong terjebak dengan cerita yang cenderung menggurui pembacanya, khususnya gue. Lazuardi, si tokoh utama, tidak terasa membumi. Cenderung ‘too good to be true’. Pelarian dari kehidupan semunya terlalu drastis dan terlalu dramatis. Dan kemampuan survival-nya terlalu hebat untuk ukuran pelajar SMA jaman sekarang. Apalagi dia punya latar belakang yang pernah akrab dengan dunia malam dan narkotika.

Mungkin semua ‘pertanyaan’ gue tadi itu bakal dijawab dalam buku selanjutnya. Tapi gue terlanjur tidak berselera lagi untuk melanjutkan membaca petualangan Lazuardi ini. Gue cukup kelelahan membaca cerita yang penuh dengan wejangan/nasihat yang amat sangat verbal. Seperti membaca kutipan dari kitab suci.

Mudah-mudahan Gola Gong cepat sehat kembali supaya mampu berkarya lebih banyak lagi dan lebih baik lagi.

03 July 2009

SANG PEMIMPI: Sekuel yang Lebih Tertata namun Sama Bermakna


Judul:
Sang Pemimpi

Penulis:
Andrea Hirata

Penyunting:
Imam Risdiyanto

Penerbit:
Bentang, Yogyakarta, 2008
ISBN 979-3062-92-4

Catatan:
Gue akui bahwa Andrea Hirata adalah salah satu penulis hebat, sekalipun tidak berlatar belakang penulis. Sekali gue mulai baca buku ini, susah untuk meninggalkannya. Dan kali ini Andrea menyampaikannya dengan lebih tertata dibandingkan buku sebelumnya. Gaya masih tak berbeda. Sentuhannya pun masih sama.

Mungkin pada buku sebelumnya pembaca lebih terharu biru dengan perjuangan anak-anak untuk dapat tetap sekolah. Di buku ini pembaca bakal tersentuh dengan pendewasaan si Ikal dan pergulatannya di dalam dunia dewasa. Tentunya Ikal tidak sendirian dalam menjalani proses itu. Selain sahabat-sahabatnya, Ikal selalu didukung penuh oleh Sang Ayah. Kasih Ayah Ikal tak kalah dengan kasih seorang ibu. Kebanggaan seorang ayah yang membuat Ikal kembali memperteguh diri berjuang demi cita-cita.

Seorang Ikal telah mulai meluaskan pengembaraannya keluar dari Belitong, tapi proses pendewasaannya belum berhenti sampai di situ saja. Pencarian jati dirinya pun terus berjalan. Hanya satu yang tidak berubah: cita-cita.

29 June 2009

MEMAHAMI FILM: Cara Sederhana Memahami Film

Judul:
Memahami Film

Penulis:
Himawan Pratista

Editor:
Esthi Damayanti

Penerbit:
Homerian Pustaka, Yogyakarta, 2008
ISBN 978-979-17454-2-0

Catatan:
Beli buku secara ngga sengaja, tapi akhirnya cukup bermanfaat.

Sebenernya berawal dari kebutuhan untuk memahami sebuah film secara teknis. Selama ini gue selalu menempatkan diri sebatas penikmat film saja, tidak lebih. Itu karena gue merasa ngga ngerti banget dengan segala macam teknik yang ada di balik produksi sebuah film.

Liat-liat di toko buku dan membaca ‘janji’ kesederhanaan yang ditawarkan penulisnya, akhirnya beli juga deh bukunya.

Penulis dengan latar belakang pendidikan arsitektur ini dengan jelasnya memaparkan semua hal dasar yang terkait dengan teknis produksi sebuah film. Yang paling penting di sini, dijelaskan secara rinci namun dengan bahasa sederhana satu persatu istilah dalam produksi film.

Yang juga bikin buku ini menarik, sebagai studi kasus penulis memilih film Kill Bill sebagai contoh dan bahan bahasan yang dikaitkan dengan semua materi dalam buku yang telah dibahas sebelumnya.

Buku ini cukuplah sebagai pengenalan yang cukup untuk segala macam teknik dalam produksi film. Tapi buku ini belum memancing ketertarikan gue untuk terjun ke dalam dunia perfilman. Buku baru bisa mendorong gue untuk segera menonton film Kill Bill kembali. Setelah gue memahami Kill Bill dari sudut pandang buku ini, mungkin baru muncul ketertarikan lebih untuk terjun ke perfilman.

26 March 2009

KRISTUS TUHAN MENINGGALKAN MESIR: Injil yang ‘Hilang’

Judul:
Kristus Tuhan Meninggalkan Mesir
(Christ the Lord Out of Egypt)

Penulis:
Anne Rice

Alih Bahasa:
Esti Ayu Budihabsari

Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006; 392 hlm

Catatan:
Waktu ‘ngintip’ daleman buku ini di toko buku, gue berharap banyak dengan isinya. Gue beli juga akhirnya, sekalipun buku ini sempet lama jadi anggota tumpukan bersama buku-buku gue lainnya yang belum terbaca.

Pada mood yang pas akhirnya gue mulai juga membaca buku ini.

Awalnya premis buku ini tentang tahun-tahun awal kehidupan Yesus yang tidak disampaikan dalam Injil sangat menarik hati. Buku ini memang menceritakan kurun waktu kembalinya Yesus bersama keluarganya ke Nazareth setelah bertahun-tahun ‘mengungsi’ ke Mesir sejak Yesus dilahirkan di Betlehem.

Gue berharap buku ini menceritakan sisi kemanusiaan Yesus sebelum nantinya ‘ditahbiskan’ menjadi Juru Selamat. Tapi ternyata justru diceritakan awal mula pencarian jati diri spiritual seorang Yesus kecil. Sejak awal mula masa itulah Yesus kecil sudah mulai menemukan kenabiannya. Yesus kecil menjadi tidak sama dengan anak-anak lainnya yang sebaya. Sekalipun ‘ringan’ tapi sifat-sifat kenabian yang sudah mulai muncul dalam dirinya membuat Yesus kecil menjadi lebih tua daripada umurnya saat itu.

Rasanya gue seperti membaca Injil, bahkan mungkin bagian yang hilang dari Injil, dibandingkan membaca sebuah novel. Penceritaannya pun cenderung datar dan lamban. Mungkin juga karena gue ngga terbiasa dengan gaya penulisan Anne Rice. Tapi bisa juga karena hasil terjemahannya yang kurang baik.

Anne Rice sepertinya memang berniat menuliskan novel dengan semangat gospel, yang menurut gue menjadikan novel ini menjadi kurang manusiawi. Buat gue, novel ini jadi tidak terlalu menarik dan juga jadi sulit untuk diselesaikan. Yesus kecil yang disampaikan dalam novel ini seperti sudah dijelaskan masa depannya yang akan menjadi nabi. Penyampaian konflik-konflik batin tidak cukup mengguncang, mungkin karena tidak ingin menggoyang perspektif keagungan Yesus sebagai Nabi.

Selesai membaca novel ini, gue jadi teringat buku tentang Yesus dewasa yang ditulis Khalil Gibran. Memang sih ngga bisa dibandingkan, tapi sekalipun berat, buku yang berjudul ‘Yesus Anak Manusia’, masih bisa gue nikmati sampai selesainya. Jadi kepingin baca lagi deh.

15 January 2009

PINTU TERLARANG: Novel yang Memang Sudah Siap untuk Dijadikan Film

Judul:
Pintu Terlarang

Penulis:
Sekar Ayu Asmara

Penerbit:
AKOER, Indonesia, Mei 2005; 227 hlm.

ISBN:
979-98229-0-4


Catatan:
Heboh upcoming thriller movie yang berjudul Pintu Terlarang karya Joko Anwar ternyata ngga selalu membuat banyak orang yang tahu kalo film itu didasari dari sebuah novel terbitan tahun 2004 yang berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara, yang selain penulis juga seorang sutradara dan produser film (diantaranya memproduseri film Ca Bau Kan, produser-sutradara film Biola Tak Berdawai).

Sebenernya gue udah lama tahu adanya novel ini, bahkan pada awal perilisannya gue udah ‘kenal’. Entah kenapa gue ngga terlalu tertarik membacanya, kayaknya sih waktu itu memang gue lagi ngga terlalu suka baca buku/novel, mungkin sedang asyik-asyiknya nonton banyak film.

Joko Anwar selalu jadi sutradara favorit gue. Dan waktu tersiar kabar akan muncul film terbarunya yang berjudul Pintu Terlarang, seperti biasanya gue selalu mencari tahu banyak soal film ini. Selain karena memang fans Joko Anwar, gue juga penasaran karena film ini punya judul yang sama dengan novel karya Sekar Ayu Asmara. Dan akhirnya gue tahu juga kalo film Pintu Terlarang memang didasari novel ini.

Kebiasaan gue yang satu lagi, kalo ada film yang didasari sebuah tulisan/buku/novel biasanya gue baca dulu. Ini gue lakukan pada ‘kasus’ serial Harry Potter, Flemming’s Casino Royale dan Laskar Pelangi, sekalipun ngga gue lakukan pada trilogy Lord of The Ring dan Twilight. Namanya juga kebiasaan kan, bisa aja pada beberapa waktu ngga kepingin melakukan kebiasaan itu dengan berbagai pertimbangan.

Khusus untuk Pintu Terlarang pun sebenernya gue seperti bimbingan untuk harus membaca novelnya karena pas datang ke salah satu event diskon di grand opening salah satu toko buku terbesar di pusat Jakarta, novel ini seperti mendatangi gue dengan tergeletak persis di ujung sepatu gue!! Waktu itu sih baru sebatas tertarik beli sih. Gue juga punya kebiasaan banyak beli buku (khususnya kalo lagi berlebih uang) tapi belum tentu langsung dibaca. Tapi khusus novel ini menjadi salah satu buku yang langsung gue baca ngga lama setelah gue beli, selain buku Keberanian Bernama MUNIR.

Bukunya ngga tebel, tapi tulisannya cukup kecil-kecil, sekalipun masih dalam ukuran standar. Liat hurufnya, hampir aja gue mengurungkan niat untuk mulai membacanya. Sambil ‘nongkrong’ pagi-pagi gue coba mulai baca novel ini. Dan akhirnya gue malah ngga bisa gitu aja naruh novel ini karena beneran tersedot rasa penasaran untuk baca sampai abis! Novel lain yang sebelumnya jadi temen gue ‘nongkrong’ pagi-pagi malah jadi ditinggal sementara.

Udah lama gue ngga baca novel/cerita yang bikin gue penasaran sampai selesainya. Novel ini bisa bikin gue penasaran dengan gaya penceritaan yang naik turun dan maju mundur dan selalu menebak-nebak plot dan endingnya. Tebakan gue hampir tepat tapi ngga bisa sampai 100% karena ada deskripsi situasi tokoh utamanya yang bikin gue merinding dan tidak gue duga dari awal!

Yang juga cukup menarik untuk terus dibaca adalah penulisan dengan jenis huruf (font type) yang berbeda-beda untuk beberapa tokoh dalam novel ini. Buat gue, pembedaan penulisan jenis huruf ini jadi membangkitkan konsentrasi tertentu untuk karakter tertentu juga.

Novel dengan ending yang asyik dan ‘berani’ ini semakin bikin gue penasaran dengan adaptasi filmnya yang diaku Joko Anwar hanya sebatas ‘loosely based’ saja.

KAMBING JANTAN: SEBUAH KOMIK PELAJAR BODOH Buku 1: Yang Ringan dan Yang Lucu

Judul:
Kambing Jantan: Sebuah Komik Pelajar Bodoh
Buku 1


Penulis:
Raditya Dika

Ilustrator:
Dio Rudiman

Penerbit:
Gagas Media, Jakarta, 2008; 240 hlm.


Catatan:
Pada masanya bukunya dulu heboh, gue ngga terlalu tertarik. Istri gue sih punya juga, tapi tetep gue ngga tertarik. Mungkin karena waktu itu gue emang lagi enggak tertarik baca buku, tapi mungkin juga waktu itu gue sedang terlalu sombong untuk baca buku yang isinya menurut gue cuma konyol-konyolan aja. Padahal sampe hari ini gue belom baca satu halaman pun buku itu. Salah ngga sih gue bikin judgement sembarangan??

Suatu saat gue lagi bosan baca buku yang tebel-tebel dan serius. Kalo ngga salah waktu itu gue baru kelar baca Laskar Pelangi. Abis baca yang tebel, kayaknya asyik kalo baca yang ringan-ringan aja. Akhir gue ambil deh komik ini.

Ah iya, isinya emang banyak kekonyolan demi kekonyolan. Tapi kekonyolan yang digambarkan ngga bikin gue buru-buru tinggalkan komik ini karena muak. Dan akhirnya selesai juga baca komik ini. Setiap kali ada waktu luang di rumah waktu itu, pasti komik ini gue baca.

Sekalipun ringan dan konyol, gue juga bisa sedikit ngambil cerita bagaimana survival seorang mahasiswa di negeri orang dalam keterbatasan. Lumayan juga ceritanya.

Sekalipun ini baru buku pertama, mungkin karena gue terlalu sombong, kalo pun terbit yang selanjutnya ya gue sih ngga bakal antusias menyambutnya. Santai-santai aja deh.

03 January 2009

KEBERANIAN BERNAMA MUNIR: Belajar Menjadi Pemberani ala Munir

Judul:
Keberanian Bernama MUNIR: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir

Penulis:
Meicky Shoreamanis Panggabean

Penerbit:
Mizan, Bandung, Desember 2008, 289 hlm.


Catatan:
Kayaknya hampir ngga ada orang Indonesia yang ngga kenal dengan Almarhum Munir. Sebagian mengenal Munir sebagai aktivis pergerakan, bahkan menganggapnya sebagai pahlawan pejuang kemanusiaan yang menemui ajalnya secara tragis. Dan sebagian lagi menganggap Munir sebagai musuh tentara, musuh negara, antek Yahudi, antek Komunis yang mengancam stabilitas dan keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia.

Saya mengenal sosok Munir dari berbagai macam pemberitaan/tulisan/artikel dan dari banyak cerita/obrolan dari orang-orang yang cukup dekat dengan almarhum. Saya belum pernah bertegur sapa dengan Munir sekalipun pernah sama-sama menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat saya sekitar tahun 2000 lalu.

Saya yang pernah melihat Munir secara langsung (kalau tidak mau dikatakan bertemu langsung) selalu terkesan dengan tidak nyambungnya antara sosoknya secara fisik dengan reputasinya (baik itu positif maupun ‘negatif’). Sosoknya yang santun, santai, cenderung pendiam dan sedikit cengengesan tak terbayangkan bisa menjadikan Munir sebagai momok menakutkan bagi rezim pemerintahan otoriter. Dan dari buku inilah saya jadi tahu kenapa sesosok Munir yang merdeka menjadi begitu menakutkan bagi rezim otoriter yang paranoid.

Buku ini cukup berimbang dalam menyampaikan sosok Munir. Almarhum terlukiskan dari sisi manusiawi dengan segala kekurangannya, ketimbang heroisme pemikiran dan perjuangannya. Dari sisi itulah saya bisa belajar bagaimana sosok Munir bisa mengatasi ketakutannya dan terror yang terus menghantamnya yang justru menjadi pemicu kekuatan perjuangannya. “Jangan pernah biarkan terror menjadikan anda takut, sebab kalau itu terjadi, artinya terror tersebut sukses melakukan tugasnya,” begitu kira-kira prinsip Munir dalam menghadapi terror.

Saya banyak tersenyum-senyum sendiri dalam membaca buku ini karena banyak menemukan ‘kecurangan’ yang dilakukan penulis. ‘Kecurangan’ yang saya maksud adalah hubungan kedekatan antara penulis dengan Munir dan orang-orang terdekat Munir yang ‘dimanfaatkan’ penulis sebagai narasumber. Ngga heran kalau di dalam buku ini terdapat beberapa wawancara eksklusif dengan Munir dan beberapa tokoh aktivis dengan topik dan gaya bahasa yang paling personal, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini. Termasuk di dalamnya adalah celotehan komedian Almarhum Taufik Savalas mengenai rambut merahnya Munir dalam salah satu resepsi pernikahan yang juga saya hadiri waktu itu.

Buku ini tidak secara langsung menginspirasikan saya untuk mengikuti jejak Munir menjadi aktivis. Tapi dengan mengenal sisi-sisi personal Munir melalui buku ini, mudah-mudahan bisa menjadikan saya lebih peduli dengan kehidupan dan kemerdekaan dan juga dapat membuat saya menjadi lebih berani berpikir merdeka.

09 December 2008

AKU: Warisan Besar Sineas Besar bagi Dunia Perfilman

Judul:
Aku
Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

Penulis:
Sjuman Djaya

Penerbit:
Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti: 1987

ISBN:
[979-3019-13-1]

Catatan:
Inilah buku yang sering terlihat dibaca oleh karakter Rangga, yang diperankan Nicholas Saputra, di Ada Apa Dengan Cinta. Katanya buku ini yang menginsipirasikan jiwa pemberontak dalam karakter Rangga selain buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Kalo di film itu kayaknya Rangga lebih mencerminkan karakter Chairil Anwar yang dilukiskan dengan agak surealis dalam naskah scenario film yang dibukukan ini.

Buku ini adalah karya terakhir dari salah satu sutradara besar yang pernah berkarya dalam perfilman Indonesia. Mengambil setting Jakarta sesaat setelah meledaknya bom atom di Hiroshima sepertinya menjadi salah satu kendala besar untuk nantinya bisa mewujudkannya ke dalam film layar lebar. Belum lagi gaya penuturan ceritanya yang agak surealis, mungkin saja tidak mudah untuk diwujudkan menjadi film selain oleh si penulisnya sendiri.

Pernah dalam obrolan singkat dengan salah seorang putra penulis yang sekarang aktif dalam scoring film, Aksan Sjuman, gue menanyakan apakah ada niat untuk mewujudkan scenario ini ke dalam film. Aksan bilang hal itu bakal sulit untuk diwujudkan.

Rasa penasaran yang bikin gue mengulang membaca buku ini. Dan gue makin ngerti kenapa bakal sulit diwujudkan dalam film, kecuali diproduksi oleh perusahaan Hollywood atau Eropa dengan dana yang cukup.

Tapi dalam keterbatasan produksi media film Indonesia, gue jadinya terpikir untuk mengusulkan visualisasi scenario dalam buku ini ke dalam media graphic novel. Dan usul ini sudah gue sampaikan ke facebook-nya Aksan Sjuman.

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN: Bombardir Gagasan Penyetaraan Gender

Judul:
Perempuan Berkalung Sorban

Penulis:
Abidah El Khalieqy

Penerbit:
YKF dan the Ford Foundation: 2001

ISBN:
[978-979-15836-4-1]

Catatan:
Lagi mondar-mandir di toko buku yang lagi ngasi diskon karena re-opening, ngga sengaja gue liat buku ini bersandar di barisan paling bawah rak yang menjajarkan buku-buku fiksi. Ini dia novel yang bakal diangkat oleh Hanung Bramantyo (sutradara Ayat-Ayat Cinta) ke layar lebar. Dari pernyataan Hanung Bramantyo tentang project-nya kali ini bikin gue kepingin baca novelnya sebelum nanti liat filmnya.

Kayaknya novel ini adalah salah satu dari sedikit buku yang langsung gue baca ngga lama setelah gue beli! Bener loh, masih ada beberapa buku yang gue beli sebelom buku ini tapi sampe saat ini belom gue baca. Terdorong rasa penasaran juga karena supaya ngga keduluan rilis filmnya.

Novel yang ditulis oleh perempuan lulusan pesantren ini berhasil memukau gue dengan tuangan tema penyetaraan gender dengan tanpa basa basi dan tanpa tedeng aling-aling. Cerita yang didasari kehidupan dalam pesantren ini dengan lantang ‘berteriak-teriak’ tentang diskriminasi atas hak-hak perempuan yang didasari pemahaman picik atas ayat-ayat Qur’an.

Kayaknya novel ini bakal menyentak mereka (laki-laki maupun perempuan) yang mengaku memahami Al Qur’an hanya dengan sekedar membaca saja. Dan golongan inilah yang paling banyak jumlahnya dalam ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia.

Tapi penuturan gugatan dalam novel ini yang mampu bikin gue terkagum-kagum dengan keberanian si penulis yang langsung maupun tidak langsung melabrak tradisi yang pernah mendidiknya sejak kecil. Cerita yang dituturkan secara linier ini ngga pernah berhenti membombardir pembacanya dengan gugatan kesetaraan gender. Buat gue rasanya seperti membaca kisah nyata, bukan seperti fiksi. Bisa jadi mungkin saja karena si penulis terlalu sibuk membombardir pembaca dengan gagasannya sehingga melupakan keindahan gaya penulisan sastra. Atau mungkin memang demikian ingin disampaikan penulis sehingga gagasan yang ingin disampaikan terasa langsung to the point, menohok, kering tapi juga terasa menjadi hal yang urgent yang harus segera ditangani.

Khususnya untuk perempuan, novel ini sepertinya mampu menginsipirasikan ketabahan dan ketegaran dalam dunia yang didominasi kaum pria tanpa mesti mendayu-dayu dan melarat-larat.

PARANOID: Psychological Story with a Happy Ending?

Judul:
Paranoid: The Story of A Madman

Penulis:
Patrick Suskind
diterjemahkan oleh Bima Sudiarto

Penerbit:
Jakarta: Dastan Books: 2007

ISBN:
[979-979-3972-19-0]

Catatan:
Baca novel singkat ini sebenernya ngga bikin gue tertarik bener-bener untuk ngikutin ceritanya. Gue lebih penasaran dengan ending-nya. Makanya gue baca terus novel ini sampai selesai.

Sebenernya sih ending-nya ngga nendang banget. Tapi kalo intens ngikutin dari halaman pertama, ending-nya bisa jadi terasa mengerikan! Karena bisa saja cerita yang dituturkan secara nyaris linier ini terjadi pada diri kita sendiri, terutama orang-orang introvert yang tinggal di kota-kota besar.

Meskipun tidak sampai menjadi psychological thriller, tapi bisa jadi cerita ini bakalan menggugah mereka yang introvert untuk lebih membuka diri. Buat gue yang dulu pernah introvert, cerita di novel ini sempet bikin merinding juga. Tapi mungkin ngga terlalu nendang karena terlalu singkat. Ato mungkin bisa juga karena translate-nya yang kurang pas?!

KITAB SALAHUDDIN: Novel yang Menyengangkan dan Menyenangkan

Judul:
Kitab Salahuddin : sebuah novel
Judul asli: The book of Saladin

Pengarang:
Tariq Ali; penerjemah, Anton Kurnia

Penerbit:
Jakarta : Serambi, 2006,

ISBN:
[979-16-0088-0]

Catatan:
Awalnya ngga tertarik dengan buku ini karena gue suka apriori dengan buku/tulisan mengenai tokoh-tokoh besar Islam, padahal gue sendiri Muslim. Tapi setelah baca resensinya dan tau bahwa ini adalah novel fiksi yang didasari kehidupan Sultan Salahuddin pada masa perebutan Yerusalem, gue langsung jadi amat sangat tertarik.

Cerita perebutan Yerusalem digambarkan sebagai perang politik kekuasaan, bukanlah perang antar agama (emang kenyataannya sih begitu). Oleh Tariq Ali dilukiskan bahwa semua golongan di Timur Tengah dengan tidak membeda-bedakan Suku, Agama dan Ras bahu-membahu merebut Yerusalem dari kekuasaan Imperialis Eropa. Tariq Ali dengan berani melukiskan kehidupan pada masa itu dengan segamblang-gamblangnya. Tanpa tedeng aling-aling, meskipun juga tidak vulgar, Tariq Ali berani mengisahkan Ahli Sastra Kesultanan adalah seorang homoseks!

Kepahlawanan Sultan Salahuddin digambarkan begitu megah dan hebatnya. Tidak ketinggalan dilukiskan juga segala kearifan seorang Sultan besar dengan segala sisi manusiawinya yang mungkinjarang disebut dalam tulisan-tulisan lain mengenai Beliau. Novel ini menjadikan gue semakin mengagumi Sultan Salahuddin (setelah sebelumnya mengagumi karakternya di film Kingdom of Heaven) tanpa jadi mengkultuskan Beliau.

15 September 2008

HARRY POTTER DAN RELIKUI KEMATIAN: Habis Gelap Terbitlah Terang

Judul:
Harry Potter dan Relikui Kematian

Penulis:
J. K. Rowling

Judul asli:
Harry Potter and Deathly Hallows

Penerjemah:
Listiana Srisanti

Ilustrator:
Mary GrandPré (AS, RI)

Negara:
Inggris Raya

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Serial:
Harry Potter

Genre:
Fiksi, Fantasi

Penerbit:
Gramedia (Indonesia)

Tanggal terbit:
3 Januari 2008 (hardcover), 26 Januari 2006 (softcover)

Halaman:
759 (AS)


Catatan:
Setelah kelelahan membaca seri sebelumnya, membaca seri yang ketujuh ini juga sempat membuat kening berkerut tapi tetep penasaran. Jadi saya baca buku ini terus melaju aja, menggempur maju! Niat saya cuma ingin menuntaskan petualangan Harry Potter yang pernah ‘menjebak’ saya beberapa tahun yang lalu. Banyak yang bilang kalo bacaan Harry Potter sudah tidak pantas, atau bahkan memang tidak pantas saya baca, jika dilihat dari golongan umur dan sisi mistis/sihirnya. Tapi anggapan semacam itu tidak saya hiraukan.

Saya tidak percaya sihir, tapi saya mengagumi Ms. Rowling sepenuhnya. Bagaimana tidak, saya selalu penasaran bagaimana cerita epik anak-anak terbesar yang pernah ada akan berakhir? Dan saya yakin bahwa Ms. Rowling sudah memiliki keseluruhan cerita epik ini di dalam kepalanya sejak pertama kali dia menuliskan bab pertama buku Harry Potter and The Sorcerer Stone.

Dalam buku ketujuhnya, terbukti sekali lagi bahwa ketujuh buku ini adalah satu kesatuan yang utuh, suatu maxi seri sebuah cerita tentang anak yang terpilih yang terentang sepanjang tujuh tahun kehidupan masa remajanya. Keliatannya tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, tapi menceritakan masa tujuh tahun ke dalam cerita bukanlah hal yang mudah. Apalagi ini adalah cerita berbalutkan fantasi sihir.

Kegelapan yang terus melingkupi cerita sampai ke penuntasannya (yang juga berdarah-darah) semata-mata sebagai sarana untuk penyelesaian cerita yang sudah dijembatani sebelumnya dengan seri keenam dengan amat sangat kelam.

Secara linier, kita semua bisa melihat bahwa cerita ini sesederhana yang baik mengatasi segala macam kejahatan. Namun pencapaian kepada kebenaran dan cahaya keselamatan dicapai dengan cara yang cenderung melingkar dan berliku. Saya kira pembaca dewasa dapat lebih mendalami moral cerita seri ketujuh ini dibanding pembaca anak-anak. Cerita jadi semakin seru dan semakin menawan. Sekalipun tentang dunia sihir anak-anak, ceritanya dibuat sedekat mungkin dengan kenyataan, kenyataan yang manusiawi. Tidak semua yang baik harus selamat. Dan juga ada beberapa karakter abu-abu yang ternyata berperan untuk sisi yang putih.

Buku yang tebal ini penuh dengan cerita yang intense dan memuncak pada adegan pertempuran besar nan heroik. Kekelaman yang melingkupi sejak awal ditebus untuk mencapai terang di Stasiun King Cross pada era yang baru.

LASKAR PELANGI: Inspiratif Puitis

Judul:
Laskar Pelangi

Penulis:
Andrea Hirata

Bahasa:
Bahasa Indonesia

Genre:
Roman

Penerbit:
Bentang Pustaka, Yogyakarta 2005

Halaman:
XI, 529 halaman

ISBN:
ISBN 979-3062-79-7


Catatan:
Begitu buku ini dibahas di acara Kick Andy, gue baru ngeh bahwa sebenernya gue udah pernah ‘kenal’ sama yang namanya Andrea Hirata. Iya bener. Jauh-jauh hari sebelum Kick Andy memwawancaranya, profil Andrea Hirata pernah ditulis secara berseri di tabloid Nova. Tapi waktu itu gue ngga hirau, mungkin karena adanya di tabloid ‘ibu-ibu’. Malah waktu itu gue mengira Bung Andrea adalah seorang perempuan perkasa karena sekilas aja liat fotonya dan sama sekali ngga baca tulisan tentang profilnya. Malunya saya! :D

Abis nonton Kick Andy langsung deh tertarik beli bukunya. Katanya kan tetralogi, ya mulai beli buku pertamanya dulu deh. Dan emang kebeneran waktu itu lagi punya uang agak lebih, dan gue emang kalo pas punya uang lebih pasti nyisihin untuk beli buku, minimal 1 buku. Berhubung waktu itu masih banyak buku yang belum terbaca (sampe sekarang juga masih sih) jadinya ngga langsung dibaca deh, cuma diliat-liat dikit-dikit.

Dari baca-baca sekilas, jujur aja sempet ngga tertarik karena gaya bahasanya. Menurut gue cenderung ajaib dan nyastranya ngga nendang. Bukannya sombong, tapi gue suka baca karya-karya Kahlil Gibran dan juga suka baca karya-karya ‘revolusioner’nya Ayu Utami. Dan dari sekilas, karya Andrea Hirata ini ngga ada di antara ke duanya. Kayaknya masih di bawah deh.

Mulai tertarik mulai baca novel roman ini setelah gue tau kalo bakal difilmkan. Dan ngga tanggung-tanggung filmnya bakal dibesut Riri Riza, diproduseri Mira Lesmana dan didukung musik score karya Sri Aksana Sjuman. Dan Bung Aksan sampai bela-belain bikin instrumen musik khusus supaya bisa dapetin nuansa Melayu Belitongnya. Dari hasil ngobrol-ngobrol ringan dengan Bung Aksan, gue dapet gambaran betapa susahnya memfilmkan Laskar Pelangi. Nah sebagus apa sih bukunya?

Awal Ramadhan sepertinya waktu yang tepat buat gue untuk membaca Laskar Pelangi. Selain karena ‘utang’ gue baca Harry Potter sudah tuntas, mood membaca novel masih bagus untuk nerusin baca novel lainnya. Dan Laskar Pelangi adalah model tulisan novel yang baru untuk gue baca. Seperti yang gue duga sebelumnya, gaya tulisannya sempet bikin gue ngernyitkan dahi; ini mo nyastra ato mo plintiran sih?! Tapi ternyata yang bikin gue kagum, sekalipun sambil mengernyitkan dahi dan udah agak-agak mengantuk waktu itu, gue sempet baca sampe habis bab kelima!
Akhirnya gue hanyut juga terbawa cerita Laskar Pelangi sampai selesai. Memang Bung Andrea Hirata menuliskan tentang mimpi, cita-cita dan semangat. Tapi dari cara penyampaiannya yang terbang mengawang berbunga-bunga (ngingetin gue dengan cara bercerita si karakter Ed Bloom di film Big Fish) malah bisa memancing gue untuk melihat sisi-sisi lain dari cerita utamanya. Misalnya gue jadi tau betapa ‘jahat’nya rezim orde baru dalam mengeksploitasi timah di Pulai Belitong (kita kenal sebagai Pulau Belitung, bagian dari Propinsi Babel), tidak cuma dalam eksploitasi timah tapi juga menciptakan struktur masyarakat berjenjang yang cenderung menjajah penduduk asli Belitong.

Dari sisi pembangunan bangsa, buku ini menyampaikan bahwa sampai hari ini masih saja terjadi ketidak merataan kesempatan berpendidikan yang salah satunya disebabkan ketidak merataan pembangunan infra struktur. Ibu Muslimah kebetulan adalah orang asli Belitong yang mau mengabdikan seluruh usianya untuk kemajuan pendidikan di Kampong Gantong. Dari sini bisa dibayangkan seberapa betahnya seorang guru dari Jawa ditugaskan untuk mengajar di pedalaman Papua sana.

Cerita Laskar Pelangi tidak hanya sebatas luas Belitong tapi dengan puitis juga memotret kondisi pedalaman Indonesia.

12 July 2008

SIDANG SUSILA

Judul:
SIDANG SUSILA: Naskah Komedi dan Catatan Perihal RUU Pornografi

Penulis:
Ayu Utami

Penerbit:
_sp@si dan vhrbook

Isi:
I. SIDANG SUSILA (naskah komedi)
II. LAMPIRAN DUA RUU HAL PORNOGRAFI
III. NOTA KETIDAKSEPAHAMAN TENTANG RUU PORNOGRAFI: kumpulan tulisan Ayu Utami di berbagai media massa mengenai kontroversi RUU hal pornografi

Catatan:
“RUU Antipornografi dan Pornoaksi adalah lawakan yang mengerikan. Bukan menggelikan. Seperti kita tahu, lawakan adalah penjungkirbalikan akal sehat atau logika bahasa. Tetapi, kali ini yang dihasilkannya bukanlah kelucuan melainkan kengerian. Karena, lawakan ini kelak bisa dipakai untuk menghukum orang.”

Paragraf di atas dikutip dari salah satu tulisan Ayu Utami untuk kolom bahasa! Majalah Tempo yang berjudul ‘Berbahasa Indonesiakah RUU Anti Pornografi?’ yang dimuat di dalam buku ini. Paragraf tersebut juga dikutip sebagai tulisan di bagian sampul belakang buku ini. Buat saya jelas sekali bahwa memang paragraf itu menyimpulkan keseluruhan maksud dan tujuan disusunnya dan diterbitkannya buku ini. Selain memang si penulis adalah seorang jurnalis dan aktivis yang ‘tersembunyi’, buku ini diterbitkan secara bersama oleh _sp@si dan vhrbook dimana yang penerbitnya disebut terakhir adalah bagian dari vhrmedia.com, sebuah media komunikasi milik LSM. VHR pada vhrmedia.com sendiri adalah singkatan dari Voice of Human Rights.

Isi buku ini memang mengenai ketidaksetujuan penulis terhadap RUU yang menjungkirkan akal sehat itu. Secara kocak dituangkan ke dalam naskah drama (yang katanya sudah dipentaskan oleh Teater Gandrik pada bulan Pebruari 2008) yang menceritakan pengadilan terhadap seorang laki-laki yang menjadi korban implementasi UU Anti Pornografi. Laki-laki yang bernama Susila ini tergolong ekonomi lemah dengan tingkat pendidikan yang rendah. Pola pikir dan pola hidupnya sederhana sehingga membuat ia menjadi tampil ‘seksi’ (perut dan payudara melimpah) dan menyambung hidup dengan berjualan mainan anak-anak dan ‘dewasa’. Naskah drama yang sederhana ini sama sekali tidak membuat saya kesulitan untuk menikmatinya. Mudah sekali membayangkan seperti apa naskah bila dipentaskan.

Tapi ada yang lebih lucu daripada naskah drama itu. Terlampir 2 draft RUU Anti Pornografi; 1 draft RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) dan 1 lagi draft RUU Pornografi (RUU APP ‘yang disempurnakan’). 2 draft RUU tersebut dikutip dan diberikan catatan-catatan oleh penulis di banyak pasal dan ayat-ayatnya. Pastinya dalam catatan-catatan tersebut, penulis banyak menyoalkan mengenai esensi maksud dan tujuan disusunnya pasal/ayat RUU tersebut. Ditemukan pula inkonsistensi di beberapa bagian yang tidak nyambung dengan bagian sebelumnya. Dan yang makin memperparah ‘kerusakan’ RUU tersebut adalah penggunaan Bahasa Indonesia dengan tidak baik dan tidak benar.

Catatan-catatan penulis pada draft RUU tersebut makin menegaskan bahwa kedua draft RUU tersebut adalah benar-benar penjungkirbalikan akal sehat dan logika bahasa. Bahasa Indonesia banyak mengalami perubahan, penyempitan dan bahkan pelintiran makna dalam draft RUU tersebut. Belum lagi dalam banyak pasal/ayat, pelintiran makna dan logika bahasa menjadikan pasal/ayat tersebut multi tafsir, atau yang lebih dikenal dengan pasal/ayat karet.

Membaca buku ini menjadikan saya lebih tahu dan mengerti kekhawatiran saudara-saudara LSM mengenai ‘jahatnya’ RUU tersebut. Dan saya juga menjadi semakin ngeri apabila membayangkan RUU tersebut disahkan dan diimplementasikan dalam kehidupan di Indonesia.

07 July 2008

Musisiku

Judul:
Musisiku

Penulis:
Asriat Ginting, Chr Nasution, Denny Sakrie, Fauzi Djuanedi, Jose Choa Linge, Manunggal K Wardaya, Niantoro Sutrisno, Riza Sihbudi, Syamsuddin, Wasis Susilo

Editor:
Denny Sakrie

Penerbit:
Republika




Catatan:
Buku yang merupakan kompilasi dari berbagai tulisan di rubrik Oldies Goodies di salah satu harian besar di Indonesia sepertinya berusaha merangkum jejak-jejak musisi besar Indonesia. Tulisan-tulisan yang terangkum adalah buah karya penulis yang dalam tulisannya terlihat sekali sangat-sangat peduli dengan musik Indonesia.

Tulisan yang berisikan biografi musikal dari tokoh-tokoh dunia musik Indonesia. Dari yang multi talenta sampai pelestari budaya betawi. Dari akar musik rock sampai pop progresif 80-an. Dari pop santai sampai musikalisasi puisi religius. Tidak lupa juga fenomena musik Indonesia dari Koes Bersaudara, Koes Plus sampai ke Badai Pasti Berlalu.

Dalam kesederhanaannya buku ini cukup bisa memetakan ‘sejarah’ musik Indonesia sekalipun tidak terlalu setia dengan kronologi waktunya. Meski belum bisa dibandingkan dengan buku sejenis lainnya yang mengupas sejarah film dan sejarah bioskop di Indonesia, tapi buku ini sudah bisa merangkum tonggak-tonggak sejarah penting dalam perkembangan musik Indonesia.

PACHINKO ....... and Everyone's Happy

Judul:
Pachinko
and Everyone’s Happy


Ditulis oleh:
Harry Suharyadi dan Muhammad Yunus
berdasarkan skenario film Pachinko & Everyone’s Happy karya Harry Suharyadi, diilhami dari kejadian-kejadian sebenarnya


Penerbit:
Puspa Swara, Jakarta


Cerita:
Kegundahan dalan pengabdian kepada hidup digambarkan melalui hidup seorang geisha yang kehidupan sehari-harinya bertolak belakang dengan keceriaan yang selalu dibawa dalam profesinya.


Catatan:
Novelisasi dari film yang berjudul sama ini disampaikan dengan padat dan efisien. Dalam buku setebal 115 halaman bisa dengan gampang gue lahap cuma dalam beberapa jam aja. Iya, cuma beberapa jam aja. Buku ini ‘nemenin’ gue dalam perjalanan pergi pulang kantor naik angkutan umum.

Tapi buku ini dengan hebatnya bisa menyampaikan secara utuh keseluruhan cerita lengkap dengan rasa mendalam yang menyentuh hati gue. Buat gue, perasaan tokoh utama yang selalu di ‘persimpangan jalan’ seperti kena banget. Bisa juga saat baca buku ini, sisi feminin gue lebih mendominasi akal dan pikiran gue.

‘Romantisme’ yang disampaikan buku ini lebih kepada romantisme kehidupan sehari-hari yang disimbolisasikan lewat kehidupan seorang geisha yang mendua. Kayaknya hampir setiap orang yang hidup, terutama di zaman sekarang, selalu punya sikap mendua, baik dalam skala kecil maupun besar. Makanya cerita di buku ini kena banget.

Pace-nya bisa jadi lambat tapi ngga lantas menjadi mendayu-dayu. Pas banget dengan latar cerita tentang orang Jepang yang cenderung kaku, yang sekalipun kaku tapi banyak kerapuhan di dalamnya.

Sebenernya setelah baca buku ini, cukup ada rasa penasaran untuk menyaksikan filmnya. Tapi rasa penasaran itu masih belum cukup kuat untuk menuntaskan nonton filmnya. Mungkin mood-nya aja yang belum dapet.

02 April 2008

GEGE MENGEJAR CINTA

ditulis pada tanggal 1 April 2007

Gege Mengejar Cinta
By Adhitya Mulya

Plot:
Cerita ttg Gege, seorang produser minim intelegensia untuk radio bersegmen young moms and dads, yang menemukan cinta lamanya kembali meski Sang Dewi dulunya ngga pernah kenal dengan pemuja rahasianya itu. Gege tetep ngotot berjuang untuk dapat bersama dengan Caca, sementara dirinya yang gempal dikagumi dan dicintai rekan sekerjanya yang cantik bernama Fathia

Note:
Ini novel kedua Adhitya Mulya setelah Jomblo. ‘Ngawur’nya tetep fresh. Banyak dialog ngawur dan ngga penting dari karakter2nya, tapi punchline-nya telak
Nih sedikit gue kutip:
…..
“Ge, ini Fathia, anak baru yang kemarin kita terima. Kamu ajak keliling ya. Kenalkan dia dengan yang lain.”
“Oh….” Mereka bersalaman.
“Fathia, ini Gege.” Pak Soni segera berlalu. Gege terdiam mengangguk, menyandarkan tangan pada dinding cubicle dan mengtuk jari ke dindingnya. Dia berpikir keras akan apa yang harus diperkenalkan pada Tia.
“Orientasi.”
“….”
“Orientasi.”
Tia mengangkat alis, antusias.
“Orien. Tasi.” Tangan Gege membuat segregasi antara ‘Orien’ dan ‘Tasi’.
Yap.”
“Ini W.C.”
“Oh.”
“Bau.”
“Hmm….”
“Ituh kaktus sayah. Empoy.”
“Hmm….”
“Itu Jakarta diliat dari lantai enam. Serasa di manaaa gituh.”
“…” Tia mulai tersenyum.
“Serasa di…ya di tingkat enam sebuah gedung melihat Jakarta kali yah?”
“…” Tia mulai menahan tawa.
“Saya di sinih jadi produser. Udah 2 tahun. Tahun depan … ya tiga tahun.” Gege terus memberi informasi yang tidak memberi nilai tambah . …..
(hal.16 – 17)
Contoh dialog kayak gitu yang bikin gue malem2 ketawa ditahan2.
But above all, salut dengan Adhitya yang ngga bikin novelnya ‘happy ending’.

JOMBLO: SEBUAH KOMEDI CINTA

ditulis pada tanggal 1 April 2007

Jomblo: Sebuah Komedi Cinta
Ditulis oleh Adhitya Mulya

Plot:
Cerita ttg 4 sekawan mahasiswa di Bandung dalam kisah romantika percintaan mereka. Ada Agus Gurniwa, keturunan Sunda yang lahir di Jakarta yang tinggal dengan Teh Guti, sepupunya yang demen dagang roti. Ada Bimo, orang Jawa yang hobby banget nge-tes ganja langsung di tempat dia beli yang jadi bikin kegaduhan di kampus orang. Ada Olip, perantauan Aceh yang hampir saja jadi psikopat karena selalu jadi pemuja fanatik seorang cewek selama hitungan tahun tanpa pernah berani berkenalan.. Ada Doni si pemuja kebebasan, yang akhirnya kena batunya dengan salah satu ‘korban’ one night stand-nya yang juga jadi pemecah persahabatan mereka berempat.

Note:
Mungkin adalah sebuah kesalahan gue baru baca novel ini setelah nonton filmnya dan serial TV-nya. Tapi ternyata buat gue, cerita novel ini tetep fresh untuk dibaca meskipun sudah nonton filmnya. Novelnya sih secara keseluruhan lebih lucu dan lebih detail daripada filmnya, seperti layaknya novel to film lainnya.
Cuma yang ngga nahan bahwa gue udah terlanjur mengasosiasikan Agus Gurniwa dengan Agus Ringgo pemeran di filmnya. Jadinya buat gue novelnya jadi semakin lucu! Belom lagi kalo inget kelakuan Dennis Adhiswara as Bimo, makin ‘ancur’ deh.
Novel ini buat gue sebagai pengobat rindu untuk cerita sejenis yang pernah disampaikan dalam serial Lupus. Menurut gue novel ini memberikan kesegaran yang sama seperti yang pernah diberikan serial Lupus, khususnya pada seri2 awal Lupus.
Yang juga bikin seru karena gue baru sempet baca buku ini kalo udah di tempat tidur hampir tengah malam tiap harinya. Seringnya gue baca buku ini sampai ketawa ngawur yang bikin istri gue bangun. Gue ceritain apa yang bikin gue ketawa, eh istri gue jadi ikutan ketawa.
Buat gue novel ini sangat menghibur dan jadi pengantar tidur yang menyenangkan :D