tag:

25 December 2009

BUNIAN: Film Horor dari Sutradara Film Slasher Terkenal

Image and video hosting by TinyPic

Judul:
Bunian

Sutradara:
Mochammad ‘Kimo’ Stamboel

Penulis:
Kimo Stamboel, Virra I.Dewi

Para Pemain:
Ferry Tobing, Martia Susanto, Ananias Lukitoadi, Virra Dewi, Mitchell Hutabarat, Vanee Sukardi, Karina Mahalia, Alam Sultroni, Audrey Meirina, Revelino Gerungan


Plot:
Andra, seorang mahasiswa Indonesia jurusan jurnalistik di Sydney, tengah mencari tempat tinggal baru dan tinggal bersama orang-orang baru. Tapi justru membawanya ke dalam pengalaman yang tak terbayangkan.

Hari-harinya selalu diisi dengan persahabatan dan percintaan yang romantik dan mendebarkan. Namun yang mengerikan adalah di rumah barunya itu sering muncul penampakan-penampakan mahkluk halus yang sangat mengganggu kehidupan dan jiwa serta menimbulkan konflik antara teman-teman dan hubungan percintaannya.

Teman-teman kampus Andra berusaha menolongnya mengungkap fakta dari semua kejadian tragis ini meskipun tak semudah yang mereka duga sebelumnya.


Catatan:
Setelah selesai nonton lagi kompilasi Takut a.k.a Faces of Fear via DVD (pilihan film yang aneh untuk liburan Natal :D ) gue kepengen banget ngerapihin dan nyortir koleksi home video (VCD/DVD) yang legal (kalo orang lain bilangnya ‘original’, padahal kagak janji original lah kalo pake disensor segala :( ). Alhasil gue sempet ‘diselimuti’ debu-debu bintang…..eh debu-debu kotor lah untuk beberapa jam berikutnya.

Dimulai dari sekitar televisi dan DVD player-nya dengan langkah pertama mengeluarkan semua home video yang ‘nyantol’ di sekitar situ. Di antara VCD itu, gue koq tertarik ngeliatin salah satunya yang berjudul ‘Bunian’ dan…….ternyata sutradaranya adalah Mochammad ‘Kimo’ Stamboel!

Wow, ini VCD lama yang biasanya ‘nyangkut’ aja di sekitar DVD player yang pastinya kalo di rumah selalu di depan mata gue! Dan memang belom pernah gue tonton! Gue tonton deh, sambil nyambi nyortir dan bersih-bersih dikit-dikit (mohon maaf kepada Kimo karena kali ini saya nonton ngga 100% serius film anda :D ).

Sejak awal mulai gue malah banyak senyum-senyum nonton film ini. Bukan karena di film ini banyak lucunya (sekalipun ada beberapa bumbu humor di sana-sini, terutama si gay flatmate) tapi lebih karena ‘kelucuan’ merhatiin karya awal dari seorang sutradara yang nantinya bikin duo sutradara Indonesia yang paling terkenal (emang belom pernah ada kan sutradara Indonesia yang duo seperti Mo Brothers). Belum lagi ada penampilan singkat dari ‘calon’ pasangannya Kimo di satu adegan. Dan kayaknya sih setiap karya pertama seorang sutradara biasanya ‘lucu’.

Yang menarik, sekalipun ini adalah karya awal, Kimo cukup sukses bikin cerita yang ngga cupu. Jangan mulai untuk menilai film ini dari sisi teknis, karena film ini beneran masih sebuah karya awal. Tapi untuk cerita horror, film ini sukses menggiring gue untuk terus nonton sampai selesai (sekalipun urusan nyortir home video jadi keteter) dan dalam beberapa scene cukup bikin gue merinding.

Semuanya sih tipikal gimmick film-film horror yang sudah ada, engga ada yang baru. Tapi Kimo mencoba menyampaikan subyek horror yang belom pernah saya tahu sebelumnya. Thriller dan suspense-nya lumayan bikin serem. Ada sih bagian yang ngga masuk akal gue, tapi karena ini film horror ya buat apa dipikirin juga, kan?! Ending bukan tipikal ending film horror Indonesia, tapi sekalipun setting dan shooting di Sydney, justru ceritanya horror Indonesia sekali.

Jadinya gue penasaran seperti apa kalo aja kapan-kapan Mo Brothers mau bikin film horror yang bukan slasher.

18 December 2009

AT THE VERY BOTTOM OF EVERYTHING: Penyelaman Visual Sebuah Penderitaan



Judul:
At The Very Bottom of Everything
(Di Dasar Segalanya)

Sutradara:
Paul Agusta

Penulis Skenario:
Paul Agusta, Kartika Jahja, Leon Agusta


Para Pemeran:
Kartika Jahja, T. Rifnu Wikana, Bianca Timmerman, Nadia Rachel, Primawan Luqman Hakim, Tejo Aribowo, Azalea Vinny R., Rainer Oktovianus, Keke Tumbuan, Devianto Oey, Adityo

Plot:
Seorang wanita duduk di sebuah kamar yang cerah. Dengan tenang ia menyalakan sebatang rokok dan berbicara pada kamera. Dia mulai bercerita mengenai pengalaman terakhirnya saat penyakitnya, Bipolar Disorder, meradang dan perjuangan hidupnya menghadapi penyakit yang telah menghantuinya itu sepanjang hidupnya. Ketika ia berbicara, kita bisa melihat ke dalam benaknya. Penderitaannya tercermin saat segala luapan emosinya diinterpretasi secara visual—sebuah perjalanan surealis yang membawa penonton masuk ke alam pikiran seseorang yang terganggu dan menderita trauma.


Catatan:
Dapat kesempatan untuk ikutan screening film ini sebenernya cukup mendadak sih. Secara kan gue aktivis sebuah komunitas, bukannya wartawan film/hiburan, jadinya sempet terkaget-kaget disodorin undangan screening via e-mail (forwarded e-mail tepatnya). Yang bikin penasaran adalah screeningnya diadain di Kineforum TIM. Biasanya kalo film screening di Kineforum ada ‘sesuatu’ dalam filmnya, selain memang tempat untuk menayangkan film-film non mainstream pasar Indonesia dan produk-produk mahasiswa IKJ.

Karena rada mendadak, gue cuma sempat baca judulnya aja. Tapi sempet sih sekilas baca bahwa ini film kedua dari sutradara yang pernah membesut film thriller indie ‘Kado Hari Jadi’. Yah gue cuma pernah denger judulnya tapi belom pernah nonton filmnya.

Jadwal screening-nya memang rada aneh, jam dua siang. Setau gue biasanya di Kineforum jadwal screening itu jam tujuh sore. Ngga ngerti juga sih, mungkin lebih enak ngumpulin orang-orang pas jam dua siang (setelah lunch) dan juga ngga ‘tabrakan’ schedule dengan dua film calon box office yang sedang tayang luas di Indonesia.

Kalo sepintas liat dari sedikit gambar yang gue dapet via e-mail, terbayang bahwa film ini tergolong eksperimental dan juga dikategorikan ke dalam art-house movie. Tapi ternyata bayangan gue ngga sepenuhnya benar.

Mungkin dari sisi visualisasi, boleh aja film ini dikategorikan eksperimental. Temanya pun tidak umum, bahkan setau gue belom pernah disentuh oleh sineas film Indonesia lainnya. Tapi menurut gue yang paling ngga suka mengotak-kotakan genre/kategori sebuah film ato karya seni lainnya, film ini ya sebuah film yang merupakan media yang digunakan sang sutradara untuk berekspresi dan menyampaikan sesuatu. Jadinya ngga ribet kan, nonton aja sampai selesai.

Film ini ingin bercerita tentang penyakit Bipolar Disorder. Tetapi tidak seperti film lain yang juga pernah mengangkat tema tentang penyakit tertentu (penderitaan si pasien dan bagaimana menanganinya), film yang dalam bahasa Indonesia berjudul ‘Di Dasar Segalanya’ ini berusaha menyampaikan bagaimana rasanya mengidap penyakit yang dulunya disebut Manic Depressive secara visual. Film ini berusaha memvisualisasikan bagaimana rasanya menderita penyakit Bipolar Disorder (yang ternyata dapat dibawa secara genetik), bukan dari fisik penderitanya, tapi dari sisi pikiran dan perasaan penderitanya saat penyakit itu sedang akut parah!

Mungkin cara memvisualisasikannya bisa dikategorikan sebagai film eksperimental, dengan animasi stop motion (menggunakan patchwork dan silicon), aktor minim dialog dalam visual hitam putih, bahkan dengan menampilkan nudity dan gore di beberapa segmen. Tapi mungkin cara seperti itulah yang paling cocok dan paling mendekati untuk menggambarkan seperti apa yang dirasakan penderita Bipolar Disorder.

Film ini mengingatkan gue dengan visualisasi film The Cell. Mungkin letak persamaannya adalah kedua film ini sama-sama menyelami dan memvisualisasikan pikiran dan perasaan seseorang (The Cell menyelami pikiran dan mimpi seseorang). Tapi tentunya visualisasi dalam The Cell tidak sekelam dan sedepresif At The Very Bottom of Everything ini. Sekalipun visualisasinya ngga secanggih The Cell, gue melihat ‘perjuangan’ (secara fisik dan ide) dalam kerja visual film kedua besutan Paul Agusta ini.

Buat gue film ini cukup berhasil membuat gue depresif sepanjang menontonnya. Jujur aja, gue ‘enjoy’ ngikutin film ini sampai selesai. Sekalipun dengan ending yang cukup ‘terang’ tapi gue jadi ngga berani ngebayangin seperti apa sebener-benernya menderita penyakit Bipolar Disorder itu.

16 December 2009

PUBLIC ENEMIES: Who is The Real Public Enemy?



Title:
Public Enemies

Director:
Michael Mann

Writers:
Ronan Bennett, Michael Mann

Casts:
Johnny Depp, Stephen Dorff, Channing Tatum, Christian Bale, Billy Crudup, Marion Cotillard, Giovanni Ribisi, Bill Camp, Stephen Graham, Leelee Sobieski

Plot:
The difficult 1930s is a time of robbers who knock over banks and other rich targets with alarming frequency. Of them, none is more notorious than John Dillinger, whose gang plies its trade with cunning efficiency against big businesses while leaving ordinary citizens alone. As Dillinger becomes a folk hero, FBI head J. Edger Hoover is determined to stop his ilk by assigning ace agent Melvin Purvis to hunt down Dillinger. As Purvis struggles with the manhunt's realities, Dillinger himself faces an ominous future with the loss of friends, dwindling options and a changing world of organized crime with no room for him.

Note:
Sejak awal merhatiin produksi film ini, gue selalu ngga sabar untuk bisa sampai nonton film ini di bioskop. Gue ngga sabar kepingin ngeliat idola gue, Johnny Depp, ‘merekonstruksi’ kehidupan John Dillinger yang melegenda. Kebetulankah kesamaan inisial nama mereka berdua? Ngga terlalu penting sih, kecuali kita pingin mendramatisir kemaha bintangan Depp dikaitkan dengan legenda Dillinger. Tapi secara personal, gue amat sangat memuja kharisma seorang Johnny Depp sebagai aktor eksentrik yang dapat dipastikan sebagai cast yang tepat untuk memerankan bandit karismatik sekelas John Dillinger.

Cerita tentang legenda John Dillinger membuat ingatan gue terbang ke puluhan tahun yang lalu waktu pertama kali gue nonton film ‘Dillinger’ produksi 1973. Nontonnya sih di TVRI, mungkin di awal 80an. Jujur aja, gue ngga terlalu ingat dengan detail jalan cerita film itu. Tapi satu hal yang selalu gue ingat bahwa Dillinger adalah seorang bandit perampok bank nomor wahid yang kharismanya melebihi vokalis rock band mana pun! Dan gue ngga pernah lupa betapa ‘mengerikannya’ Dillinger saat ‘memperkenalkan diri’ kepada teller bank yang akan dirampoknya, dia pasti bilang begini, “My name is John …John Dillinger!” sambil mendobrak jeruji loket teller lalu menodongkan pistolnya.

Sekalipun ngga mirip sama sekali dengan John Dillinger (aktor Warren Oates dalam ‘Dillinger’ (1973) adalah pemeran John Dillinger yang paling mirip), tapi Depp membuat gue bergidik karena berhasil memancarkan kharisma Dillinger yang sama seperti dalam film ‘Dillinger’. Bahkan Depp’ Dillinger jauh lebih brutal!

Michael Mann ngga tanggung-tanggung dalam visualisasi kebrutalan Dillinger. Bahkan tata kameranya membuat gue seolah-olah berada di tengah-tengah keadaan kacau dalam salah satu peristiwa tembak menembak. Mungkin saja kejadian aslinya tidak seseru yang digambarkan dalam film, namun dengan tata kamera seperti itu, gue jadi bisa ikut merasakan ketegangan setiap orang yang terlibat dalam proses penyergapan dan baku tembak.

Kebrutalan mungkin hanya salah satu sisi pribadi seorang John Dillinger. Di sisi lain pribadinya, gue bisa melihat sosok gentleman yang amat sangat menyayangi dan menjunjung tinggi perempuan (semua gangster di US sepertinya berprinsip sama ya). Menurut kisah legendanya, Dillinger selalu dikelilingi dan disayangi oleh perempuan-perempuan. Dan hebatnya Dillinger, dia selalu sulit dijebak dengan wanita sebagai umpannya, sekalipun sempat mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan perempuan yang dikasihinya.

John Dillinger tidak pernah lemah, selalu percaya diri sekaligus mampu membuat orang-orang di sekelilingnya juga menjadi percaya diri. Kelompok Dillinger menjadi target operasi nomor 1 bagi FBI pada masa itu karena sangat sulit ditangkap dan ditumpas. Karena sudah ‘kehilangan akal’ dalam usaha menumpasnya, FBI di bawah agen lapangan Melvin Purvis akhirnya melakukan segala cara untuk menjatuhkan Dillinger. Huh, siapa yang akhirnya jadi Public Enemies di sini?

13 December 2009

HEART-BREAK.COM: ‘Adaptasi’ dari Reality Show TV Indonesia



Judul:
Heart-Break.Com

Sutradara:
Affandi Abdul Rahman

Skenario:
Syamsul Hadi

Para Pemeran:
Raihaanun Soeriaatmadja, Ramon Y. Tungka, Richa Novisha, Gary Iskak, Sophie Navita, Ananda Omesh, Lukman Sardi, Jajang C. Noor

Catatan:
Pernah denger ungkapan ‘fiksi harus lebih real (nyata) daripada realita’?? Gue udah lupa siapa yang bilang, tapi yang gue tau bahwa ungkapan itu ‘dianut’ oleh banyak story-teller untuk dapat menyampaikan cerita karangannya dengan sebaik-baiknya sehingga diterima (baca: dipercaya) pendengar/pembacanya. Bahasa sononya: make believe.

Dan hal itu ngga beda juga dengan para penulis skenario dan sutradara (termasuk editornya) dalam sebuah produksi film. Merekalah yang harus bisa bertutur dengan baik sehingga penonton filmnya ikut masuk dalam dunia yang mereka ‘ciptakan’.

Entah terinspirasi atau tidak, film ini menyampaikan kasus percintaan yang umum terjadi di dunia nyata (kasus patah hati karena pacar direbut pihak ketiga) dengan tawaran ‘solusi’ yang gayanya mirip-mirip dengan beberapa tayangan ‘reality show’ di televisi (jangan ngaku kalo nggak pernah nonton ya! Minimal 1 kali kan?!).

Tapi sekalipun heart-break.com diceritakan sebagai dramatisasi salah satu kasus yang ditangani, tapi penonton diberikan banyak sekali visualisasi kerja dan seluk beluk sebuah lembaga intelijen, yang meski ‘hanya’ menangani kasus patah hati, tapi lembaga ini bekerja dengan perencanaan yang matang dan memperhitungkan semua aspek. Bahkan tidak setengah-setengah dalam mempersiap agen-agen lapangannya. Bahkan gue pun sempet sedikit terkecoh.

Sambil melihat adegan-adegan perencanaan dan eksekusi agen-agen heart-break.com di lapangan, gue terbayang beberapa episode tayangan reality show di televisi Indonesia. Yah ngga bisa dihindari sih. Dan juga menjelaskan bahwa kita sudah tidak perlu lagi memperdebatkan orisinalitas sebuah ide (kecuali memang jelas-jelas meniru/menjiplak). Namun dengan penggambaran yang tidak terlalu rumit, heart-break.com cukup bisa membuat gue percaya bahwa lembaga itu lebih nyata.

Sutradaranya cukup bernyali mengarahkan talenta-talenta muda dalam film keduanya ini, sekalipun bukan wajah-wajah baru sama sekali. Dan hasilnya tidak jelek, cukup enak dalam membawakan perannya. Yang perlu dicatat di sini adalah karakter Wawan yang sepertinya sengaja dijadikan ‘scene stealer’ tapi juga sekaligus sebagai pusat dari beberapa adegan-adegan lucu. Pemerannya, Ananda Omesh, seperti diberikan kebebasan dalam berimprovisasi dalam perannya.

Sekalipun berbeda tema dengan film pertamanya, patut diacungi jempol kepada Affandi Abdul Rahman atas keberaniannya menyutradarai sebuah film bertema ringan namun melawan ‘rutinitas’ tema film-film Indonesia mutakhir.

HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE: Sampai Ketemu di Seri ke 7



Title:
Harry Potter and the Half Blood Prince

Director:
David Yates

Writers:
Steve Kloves

Cast:
Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Jim Broadbent, Elarica Gallacher, Robbie Coltrane, Michael Gambon, Maggie Smith, Alan Rickman, Bonnie Wright, James Phelps, Oliver Phelps, Julie Walters, Mark Williams, David Thewlis

Plot:
In the sixth year at Hogwarts School of Witchcraft, and in both wizard and muggle worlds Lord Voldemort and his henchmen are increasingly active. With vacancies to fill at Hogwarts, Professor Dumbledore persuades Horace Slughorn, back from retirement to become the potions teacher, while Professor Snape receives long awaited news. Harry Potter, together with Dumbledore, must face treacherous tasks to defeat his evil nemesis.

Note:
Berhubung sudah kadung ngikutin saga novelnya sejak awal, kisah saga di filmnya menjadi wajib juga gue ikutin. Secara jujur sih, gue nonton filmnya dulu (episode Philosopher Stone) baru kemudian tertarik ngikutin novelnya. Dan sejak itu ‘penyakit’ perbandingan novel – film jadi nggak terhindarkan.

Tapi gue selalu punya ‘resep’ khusus untuk meredam ‘penyakit perbandingan’ itu dengan mengingat-ingat pada ‘kasus’ film-film Batman karya Tim Burton yang semuanya tidaklah linier dengan cerita Batman yang pernah ada pada komik-komiknya, bahkan Tim Burton cenderung membuat realm sendiri untuk Batman versinya. Tentunya tidak melanggar pakem-pakem cerita Batman yang sudah ‘baku’.

Berbeda lagi dengan ‘kasus’ Angels and Demons yang berusaha dituangkan menjadi tight-packed thriller action movie dengan banyak menghilangkan cerita-cerita ‘sebab’ yang bisa menciptakan thriller tertentu pada novelnya.

Nah dalam Harry Potter’ Saga, dengan mengingat 2 ‘kasus’ yang gue sebutin sebelumnya, pastinya gue meredam ekspektasi dan ‘penyakit perbandingan’ serendah-rendahnya. Dan sejauh ini, sebagus apapun adaptasinya ke layar lebar, hanya 2 film pertama Harry Potter’ Saga yang mampu membawa aura novelnya dengan pas.

Tapi khusus dalam film installment ke 6 ini gue cukup mendapatkan aura gelap seperti yang disampaikan novelnya. Sekalipun ada sedikit kekecewaan gue dalam beberapa visualisasi adegan yang ga sesuai imajinasi gue (karena ‘penyakit perbandingan’), tapi gue menangkap aura yang tidak mengenakkan, sama seperti saat gue nonton film-film sekuel ‘jembatan’, seperti The Empire Strikes Back (Star Wars Episode V), Attack of The Clones (Star Wars Episode II) dan Matrix Reloaded, menuju film konklusinya. Film-film sekuel ‘jembatan’ ini punya ending yang tidak ‘ended’. Sama seperti yang gue dapat di Harry Potter and The Half Blood Prince ini.

Sekalipun pengungkapan siapa The Half Blood Prince tidak sedramatis di novelnya, perasaan gelap, kosong dan gelisah bisa gue dapat seperti saat membaca novelnya. Ending yang berbeda dengan novelnya (yang menurut gossip ending novel ke 6 bakal jadi prolog di film installment ke 7) malah ga bikin gue kecewa. Ending film ini makin bikin perasaan gue kosong dan kehilangan.

Sampai ketemu di seri ke 7.

15 October 2009

MERANTAU: Nice Action Movie…….and No Propaganda!



Title:
Merantau

Director:
Gareth Evans

Writers:
Gareth Evans (written by)
Daiwanne Ralie (translation)

Casts:
Iko Uwais, Sisca Jessica, Christine Hakim, Mads Koudal, Yusuf Aulia, Alex Abbad, Yayan Ruhian, Laurent Buson, Doni Alamsyah, Ratna Galih

Plot:
In Minangkabau, West Sumatera, Yuda a skilled practitioner of Silat Harimau is in the final preparations to begin his "Merantau" a century's old rites-of-passage to be carried out by the community's young men that will see him leave the comforts of his idyllic farming village and make a name for himself in the bustling city of Jakarta. After a series of setbacks leave Yuda homeless and uncertain about his new future, a chance encounter results in him defending the orphaned Astri from becoming the latest victim of a European human trafficking ring led by the wildly psychotic, Ratger and his right-hand man Lars. With Ratger injured in the mêlée and seeking both his "merchandise" and bloody retribution, Yuda's introduction to this bustling city is a baptism of fire as he is forced to go on the run with Astri and her younger brother Adit as all the pimps and gangsters that inhabit the night hound the streets chasing their every step. With escape seemingly beyond their grasp, Yuda has no choice but to face his attackers in an adrenaline charged, jaw-dropping finale.

Note:
Kalo cuma ngeliat dari trailer-nya sih, gue sebenernya ngga tertarik deh untuk liat film ini di bioskop. Dari trailer-nya gue ngeliat cuma film aksi biasa aja yang udah banyak gue liat di film-film aksi tarung Hong Kong ataupun film-film yang dibintangi Jean-Claude van Damme dan Steven Seagal. Udah lama banget gue ngga tertarik lagi dengan film-film aksi tarung semacam itu, karena dulunya udah ‘penuh’ dijejali film-film semacam itu oleh Almarhum Bokap gue yang emang nge-fans dengan Mr. Seagal.

Tapi dari ‘bocoran’ yang gue baca di beberapa review film Merantau ini, pelan tapi pasti membangun ketertarikan gue untuk nonton di bioskop. Belum lagi ‘dibantu’ dengan rilisan trailer terbaru film ini yang lebih lengkap dan lebih ‘tajam’. Minimal gue tertarik untuk menyaksikan film aksi tarung dengan latar belakang pencak silat asli Indonesia sebagai dasar gerakan tarung pelakon utamanya.

Dan ternyata memang film ini jadi beda dengan film-film aksi tarung yang sudah ada karena unsur gerakan pencak silatnya. Gue sih ngga ngerti seberapa otentik jurus yang ditampilkan kalo dikaitkan dengan Silat Harimau yang katanya dijadikan sebagai dasar. Tapi secara keseluruhan gue cukup bisa mengenali bahwa semua gerakan jurus yang ditampilkan oleh pemeran utama dan satu supporting role lainnya adalah bener jurus-jurus pencak silat.

Yang gue tau sih pencak silat itu gerakannya amat sangat efektif, nyaris ngga ada gerakan yang ngga perlu, seefektif gerakan kungfu Shaolin seperti yang ditunjukin Kwai Chang Caine di serial Kungfu. Tapi pencak silat jauh lebih indah, sekalipun jurus-jurus serangannya terlihat menggebrak dan mematikan. Mungkin jurus-jurus serangan semacam itu yang cocok untuk konsumsi film aksi sehingga terpilihlah aliran Silat Harimau dari Minang, sehingga enak diliat dalam adegan tarung yang keras.

Sebagai film aksi tarung, Merantau sudah pada track yang jelas dan pas. Gue ngga banyak komplain dengan selipan kisah dramanya atau akting yang standar aja dari para pemerannya. Gue juga ngga bakal komplain dengan special effect-nya, khususnya untuk tampilan luka dan darah, atau untuk elevator yang keliatan kegedean untuk suatu gedung apartment. Yah sekalipun sempat bikin mood gue rada turun karena scene dramanya yang agak kepanjangan. Yang paling penting, Merantau sudah bisa menyampaikan suatu film aksi tarung dengan sinematografi yang action banget yang enak ditonton dengan cerita yang cukup, bahkan dengan ending yang ‘berani’.

Sempet kaget juga ngeliat Sisca Jessica di-cast jadi female leading role. Apalagi pas di tengah-tengah film ada Ratna Galih juga ikutan jadi extras yang sebenernya lebih enak diliat daripada pemeran Astri. Tapi kalo diliat dari karakterisasi Astri sebagai cewek yang terpaksa menjadi tangguh, Sisca Jessica terlihat lebih pas, sekalipun dalam keseharian Ratna Galih aslinya jauh lebih tomboy.

Dari semua pemeran yang tampil di Merantau, akting Alex Abbad cukup mencuri perhatian gue. Ini adalah film ketiga gue ngeliat Alex Abbad berakting setelah di Pencarian Terakhir dan Cinta Setaman. Dan Alex memang menampilkan karakter yang beda dengan di 2 film terdahulunya. Gue tau Alex yang aslinya cool dan ramah. Tapi kali ini gue sebel banget dengan karakter Johni yang diperankan Alex. Asyik juga mainin karakternya sebagai calo sekaligus germo kelas lokal yang pengecut. Untungnya script dialog karakter Johni yang dalam Bahasa Inggris ditata dengan baik sehingga Alex Abbad ngga kebablasan nunjukin kefasihannya berbahasa negerinya Ratu Elizabeth itu.

Gue sih enjoy banget nonton film ini, ngga mengecewakan sebagai film aksi tarung. Dan juga ngga mengecewakan kalo dibandingkan dengan promo-nya. Cerita yang ngga berat tipikal film aksi, yang juga ngga kebanyakan niat propaganda ataupun pesan sponsor. Dialognya pun bisa disampaikan dengan enak, ngga sekedar diterjemahkan dari script asli yang ditulis sendiri oleh sutradaranya. Dan gue ngga bakal lupa adegan aksi ‘handuk mandi’ yang cukup fenomenal, lucu sekaligus betulan logis.

Image and video hosting by TinyPic

09 October 2009

CINtA: Kerasnya Tohokan Kenyataan Perbedaan



Judul:
CINtA

Sutradara:
Steven Facius

Skenario:
Steven Facius, Akbar Maraputra

Penata Musik:
Titi Sjuman

Pemeran:
Verdy Solaiman, Titi Sjuman, Hengky Solaiman, Djenar Maesa Ayu, Ahmad Nugraha, Riyadh Assegaff, Mahbub Wibowo

Plot:
Ini adalah kisah CINtA di sebuah dunia yang masih menyisakan bekas luka lama di masa lalu. Antara seorang Cina bernama A Su dan Siti, seorang muslimah. Di hari yang menentukan segalanya A Su meminta Siti untuk menikah. Pertanyaan sederhana yang harus mereka jawab bersama dengan cara yang susah.
Pencarian jawaban dari dua orang sederhana yang tidak mengerti kenapa mereka harus berbeda. Dan sebaliknya mengerti, kalau sebenarnya mereka cuma saling jatuh cinta.

Catatan:
Nontonnya termasuk dadakan nih, bahkan terasa seperti dijebak! :P Sebenernya sih bukan dadakan atau pun dijebak, guenya aja o’on yang ngga tanggap situasi. Tapi kalo jebakan model begini sih boleh aja sering-sering koq! :D

Anyway, film yang masih selalu disalah dugakan dengan film lain berjudul sama ini terasa cukup mencekam sejak awal mulanya. Tidak hanya karena musik score-nya (yang ditata dengan apik oleh Titi Sjuman) tapi juga karena pemilihan warna dan angle kamera yang kelam dan yang pasti dialog-dialognya yang ‘keras’. Pada awalnya gue hanya berekspektasi film akan bertutur tema percintaan dua manusia berbeda suku dengan cara penyampaian yang berbeda dari film lainnya. Tapi ternyata dalam durasi yang singkat film ini tidak hanya menyampaikan dengan berbeda, tetapi juga mampu menyampaikan tema tersebut dengan konflik yang betul-betul tajam! Terasa menohok perasaan hati gue.

Cara penyampaiannya begitu keras, sama kerasnya dengan kenyataan yang ada. Gue bukan TiongHoa, tapi mungkin karena sejak kecil sampai sekarang cukup dekat dengan mereka, gue bisa merasakan betapa kerasnya kondisi yang mereka rasakan untuk hidup di Negara ini. Sekalipun bukan dalam diskriminasi yang terang-terangan lagi sejak tahun 1998, tapi perasaan ‘berbeda’ dan ‘dibedakan’ belum bisa dihapus dengan mudah.

Ada satu adegan yang bikin gue tersenyum karena kedalaman pesannya, saat A Su berusaha merubah salah satu bagian identitas di KTP miliknya. Tulisan yang A Su tulis di situ menurut gue tepat banget; seperti itulah seharusnya menurut gue. Ngga tau sih kalo orang lain merasakan/mengerti hal yang sama.

Dengan spirit yang sama dengan film Babi Buta yang Ingin Terbang (namun lebih linier dalam bertutur), film ini tidak menggurui dan juga tidak memberikan solusi. Tapi kenyataan yang disampaikan film ini membuat gue tersadar bahwa diskriminasi tidak mudah dihapus hanya dengan beberapa lembar peraturan.

08 October 2009

Cin(T)a: Asyiknya Berdialog



Judul:
Cin(T)a

Sutradara:
Sammaria Simanjuntak

Pemeran:
Saira Jihan, Sunny Soon

Plot:
Film Cin(T)a adalah kisah cinta segitiga antara Cina, Annisa, dan Tuhan.
Cina (Sunny Soon), mahasiswa baru, 18 tahun, bercita-cita menguasai dunia dengan Tuhannya, Yesus Kristus, di sisinya. Ia percaya bahwa ia dipilih Tuhan untuk menjadi gubernur Tapanuli, sebuah provinsi yang akan terbentuk di masa yang akan datang. Cina berjuang dengan iman yang kuat, namun naif, karena terus menemui kegagalan.
Annisa (Saira Jihan), mahasiswa senior, 24 tahun, yang mana akademisnya agak terhambat karena karirnya sebagai bintang baru di dunia perfilman. Ia putus asa membuktikan bahwa ia bukan perempuan yang hanya memiliki kecantikan dan tidak terlalu pintar. Ketenaran dan kecantikannya malah membuatnya kesepian di mana ia hanya percaya pada cinta dari keluarganya, keluarga Jawa dengan tradisi Islam yang kuat.

Note:
Tema kisah cinta antar ras selalu menarik untuk diceritakan. Baik itu kesedihannya, kesulitannya atau bahkan keindahannya. Cerita semacam ini ngga hanya dimonopoli Indonesia dengan kisah cinta antara seorang pribumi (??) dengan keturunan TiongHoa. Di Amerika Serikat, yang katanya Negara paling demokratis di dunia pun selalu punya kisah menarik tentang hubungan antara seorang Afro Amerika dengan ras kulit putih yang mayoritas di sana.

Dalam film ini, selain mengetengahkan kisah cinta perempuan Jawa dengan laki-laki TiongHoa, juga ‘dipertajam’ dengan perbedaan latar keyakinan agama keduanya; yang Jawa adalah seorang perempuan Muslim yang taat, si laki-laki TiongHoa adalah umat Kristiani. Tetapi perbedaan yang ‘tajam’ itu tidak disampaikan dengan keras atau tegang. Kisah cinta mereka diceritakan dengan cukup santai, asyik bahkan kadang lucu, tapi tetap sarat dengan ‘gugatan’.

Film ini banyak membuat gue tersenyum dengan semua dialog-dialognya. Sekalipun kadang masih terdengar seperti menggurui, tapi cukup mampu disampaikan dengan santai. Dalam kenyataannya justru dalam obrolan ‘pinggir jalan’ sekalipun seringkali kita mendengar kalimat-kalimat yang menggurui. Film ini cukup nyata dalam dialog namun disampaikan dengan santai cenderung ‘cool’.

Tensi cerita nyaris tidak pernah mencapai ketegangan. Sekalipun dalam kesedihan, karakter Annisa ataupun Cina tidak pernah digambarkan larut. Life goes on, terus berlanjut dengan dialog sekalipun mereka tetap di jalurnya masing-masing.

25 August 2009

DIKEJAR SETAN: Masih Belom Percaya Harry Dagoe Bikin Film Horror?!



Judul:
Dikejar Setan

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Penulis:
Harry Dagoe Suharyadi, Armantono

Pemeran:
Nadya Vella, Frans Nicholas, Dida Airlangga, Ruly Rizal, Winda Amanta, Djenas Maesa Ayu

Sinopsis:
Tiga pasang remaja yang tengah berpacaran berkelompok untuk membuat film horror amatiran berjudul “Dikejar Setan”. Rencananya film tersebut diikut sertakan pada sebuah festival film indie.
Untuk mencuri perhatian penonton, Mereka bersepakat memunculkan hantu sungguhan saat adegan setannya dibuat. Maka dilibatkanlah seorang ahli pemanggil setan dalam proses shooting.
Dari mulai peristiwa shooting itulah justru keganjilan dan keanehan mulai terjadi pada diri mereka masing-masing. Pelan-pelan realitas dan halusinasi semakin tak jelas lagi di mata mereka, begitupun dengan dunia nyata dan dunia halus, masa lalu dan masa sekarang.
Tak hanya itu, merekapun jadi terseret pada peristiwa kejahatan yang menelan korban nyawa yang tidak mereka lakukan. Anehnya peristiwa tersebut telah terjadi beberapa waktu yang silam. Dan celakanya merekalah yang justru menjadi bagian dari kejahatan tersebut dan harus menerima pembalasan atas kejahatan itu..
Dalam kondisi ter-terror, panik dan kebingungan, mereka mencoba mencari orang-orang yang dapat membuka kunci misteri tersebut. Tak mudah memulai dari mana, sementara Terror “kematian” itu sudah di hadapan mereka…


Catatan:
Karyanya Harry Dagoe?! Hmmmmmm…….sejak kapan dia mau bikin film horror?? Harry Dagoe yang gue ‘tau’ biasanya ngga lepas dari film drama, sekalipun bertema anak-anak. Karakter film-filmnya yang unik jadinya bikin gue penasaran untuk nonton film terbarunya ini.

Mungkin jodoh kali ya, ada aja kesempatan ikutan Press Screening!! Padahal gue bukan wartawan loh!! Adalah temen wartawan yang katanya punya kelebihan undangan press screening film Dikejar Setan. Datanglah daku pagi-pagi ke venue, ketemu temen-temen wartawan itu. Dan gue juga ngga ngelewatin kesempatan untuk secara khusus minta tanda tangan Harry Dagoe di DVD filmnya salah satu koleksi gue.

Ah OK mulailah kita masuk ke studio. Dan sambil nunggu mulai, seperti biasanya kalo gue mau nonton horror di bioskop pasti nervous!! Ahahahaha dodolnya! Gue ngga seberani yang orang duga kalo berurusan dengan film horror, khususnya kalo wajib nonton di bioskop. Tahun lalu ada satu film horror yang gue tonton sampe 3 kali di bioskop, dan dalam kesempatan ketiga-tiganya selalu nervous!! Makanya gue jarang sekali nonton film horror di bioskop, kecuali beberapa film horror Indonesia yang gue anggap bermutu dan pantas untuk disaksikan di bioskop.

Setelah dibuka dengan sedikit ‘sambutan’ dari produksi dan juga sekelumit kata-kata dari sutradaranya, dimulailah filmnya langsung to the point!!

Mengutip apa yang dibilang Djenar Maesa Ayu di press conference setelah penayangan filmya, bahwa yang paling utama dari sebuah film adalah sisi komunikatifnya, apa yang ingin disampaikan bisa sampai dan diterima oleh penontonnya. Dan untuk Dikejar Setan yang diklaim sebagai film horror, gue merasa film ini sudah bisa dibilang berhasil menyampaikan kengerian kepada penontonnya, khususnya gue! Di film itu kita ngga cuma disuguhkan para aktor/aktris yang ketakutan, tapi kita juga merasakan kengeriannya.

Secara umum, film ini ngga punya tema yang orisinil. Pastinya begitu tau sinopsisnya, salah satu dari kita bakal mengingat-ingat ada film horror lain yang memiliki kesamaan plot cerita. Dan dalam visualisasinya, film ini juga masih menggunakan gimmick-gimmick film horror yang sudah ‘umum’; misalnya, udah tau ada yang aneh di ujung sana eh koq malah mendekati ke sana untuk cari tau.

Situasi setting yang suram juga dimaksimalkan. Tapi suram di sini ngga mesti gelap, juga ngga melulu malam. Yang agak mengganggu ada di sisi efek khusus untuk make up wajah/penampilan seram. Sepertinya keterbatasan dana jadi kendala untuk memaksimalkan make up untuk wajah/penampilan seram.

Akting yang cukupan aja dari para pendatang baru rasanya sih pas aja, karena film ini lebih mengangkat situasi seram secara keseluruhan. Sekalipun ingin menyampaikan kengerian, Harry Dagoe membuat penontonnya dalam kondisi yang naik-turun. Penonton ngga melulu disuguhi suasana tegang. Setelah tegang seringkali masuk ke situasi mellow. Nah gue cukup bermasalah dengan situasi mellow ala Harry Dagoe ini; kadang terasa sangat-sangat drop, jatuh jauh dan dalam banget setelah diangkat tinggi dalam ketegangan horror. Ngga cuma jatuhnya yang dalam tapi juga kadang terasa kepanjangan. Belom lagi ‘didukung’ dengan lagu latar yang kadang metal (= melankolis total).

Tapi salah satu kelebihan dari film ini, Harry Dagoe sukses memoles beberapa gimmick horror yang sudah umum. Bagi pecinta film horror kan banyak tuh gimmick yang udah pasti ketebak di mana punch line-nya. Nah Harry Dagoe cukup sukses mengejutkan penontonnya dengan memoles punch line-nya.

Sebagai film horror, sukseslah film ini untuk menakut-nakuti gue. Ngga cuma ngeliatin aktor/aktris yang ketakutan dalam film. Dan juga ngga ngetawain adegan-adegan horror-nya.

STAR TREK: New Beginning for New Generation



Title:
Star Trek

Director:
J.J. Abrams

Writers:
Roberto Orci, Alex Kurtzman

Casts:
Chris Pine, Zachary Quinto, Leonard Nimoy, Eric Bana, Bruce Greenwood, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Ben Cross, Winona Ryder, Chris Hemsworth, Jennifer Morrison, Rachel Nichols

Plot:
On the day of James Kirk's birth, his father dies on his ship in a last stand against a mysterious alien vessel. He was looking for Ambassador Spock, who is a child on Vulcan at that time, disdained by his neighbors for his half-human nature. Twenty years later, Kirk has grown into a young troublemaker inspired by Capt. Christopher Pike to fulfill his potential in Starfleet even as he annoys his instructors like young Lt. Spock. Suddenly, there is an emergency at Vulcan and the newly commissioned USS Enterprise is crewed with promising cadets like Nyota Uhura, Hikura Sulu, Pavel Chekov and even Kirk himself thanks to Leonard McCoy's medical trickery. Together, this crew will have an adventure in the final frontier where the old legend is altered forever even as the new version of it is just beginning.

Note:
Sejak tahu JJ Abrams yang bikin film barunya Star Trek, gue malah jadi kuatir. Yah gue sempet ‘dikecewain’ Abrams waktu nonton Cloverfield. Di situ ada cerita yang ngga perlu (kalo ngga mau dibilang bodoh) kalo memang dia mau bikin Cloverfield jadi ‘film dokumenter’. Benci banget deh sama tuh film.

Buat generasi ‘lama’ penonton Star Trek seperti gue pastinya tau banget bahwa salah satu franchise terbesar di dunia ini adalah bukan sekedar science fiction, tapi sudah menjadi scientific fiction. Dan tidak hanya scientific tapi juga humanitarian.

Nah dengan ‘prestasi’ film-film layar lebar/serial TV produksi Mr. Abrams yang cenderung drama dengan alur cerita yang ‘cool’, gue jelas kuatir bakal terjadi ‘penyimpangan’ mendasar dari serial film yang memiliki ‘penganut’ dalam jumlah besar ini (bahkan mungkin terbesar di dunia!).

Setelah ‘dipaksa’, karena juga mau ngumpul-ngumpul, akhirnya sampai juga gue menyaksikannya di salah satu bioskop dalam salah satu mall bergengsi di Jakarta Selatan. Dan kekuatiran gue cukup terbukti!!

Abrams dengan berani menggeser karakterisasi beberapa tokoh utama dalam film ini. Bermenit-menit gue protes tak bersuara, “duh si itu kan ngga kayak gitu!”

Belom lagi plot ceritanya yang ‘menyambar-nyambar’ dua film summer blockbuster lainnya. Ugh!! Nyaris ilfil deh gue.

Sekalipun begitu, gue tetep bertahan di kursi gue karena penasaran mau dibawa ke mana film yang diklaim jadi prekuel untuk seluruh Star Trek yang pernah tayang di layar lebar dan serial TV. Dan pada akhirnya gue bisa memaklumi semua usaha Abrams untuk Star Trek. Yap, this is a new beginning for new generation.

Mungkin reboot lebih tepat dibandingkan prekuel. Sekalipun menceritakan masa-masa awal terbangun dan ‘terbangun’nya USS Enterprise, tapi semua karakter yang hadir di bawah pimpinan Commander James Tiberius Kirk ini ‘diceritakan kembali’, sekalipun akhirnya karakter-karakter mereka bisa menyampai karakter ‘asli’nya yang gue kenal.

Satu hal yang masih gue anggap pas dengan era James T. Kirk adalah film Abrams ini cukup banyak mengedepankan action (fight dan perang) dibandingkan strategi dan analisa tempur yang berlama-lama. James T. Kirk adalah komandan yang berani mengambil keputusan dalam kondisi tertekan sekalipun menyerempet bahaya. Dan dia tidak ragu-ragu untuk terjun langsung untuk menyusup, bahkan ke tengah-tengah pertarungan.

Bolehlah film ini dijadikan reboot dan ‘mementahkan’ semua film Star Trek yang pernah ada demi memperkenalkannya kepada generasi baru penikmat film dunia. Tapi gue secara pribadi ngga menganggap film ini cukup istimewa.

24 August 2009

GARUDA DI DADAKU: Untuk Hiburan dan Kebanggaan Keluarga Indonesia



Judul:
Garuda di Dadaku

Sutradara:
Ifa Isfansyah

Penulis skenario:
Salman Aristo

Para Pemeran:
Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Kusnaedi, Leroy Osmani, Ramzi, Ari Sihasale

Catatan:
Sedikit aja ada review positif untuk sebuah film Indonesia, gue selalu jadi kepingin menyaksikan film itu. Mudah-mudahan masih sempat nonton di bioskop, seperti kita tau ada ‘diskriminasi’ terhadap film-film Indonesia kecuali yang laku, ato minimal sempet gue tonton di DVD sekaligus mengkoleksinya.

Seperti halnya untuk film Garuda di Dadaku ini. Cukup dengan membaca 1 review positif tentang film ini, tentunya dari reviewer terpercaya, gue jelas langsung siap-siap berangkat ke bioskop untuk menyaksikannya. Tapi waktu awal-awal film ini dirilis, gue sedang punya kesibukan yang cukup menyita waktu dan menyedot kondisi kesehatan sehingga pada akhir pekan malah gue manfaatkan untuk istirahat di rumah. Untungnya dalam akhir pekan berikutnya gue sempat juga menyaksikan film ini di bioskop favorit gue.

Dan seperti biasanya juga, sekalipun sudah ada review positif tentang film ini, gue selalu tidak berekspektasi terlalu tinggi. Dan film ini memang tidak tergolong istimewa tapi masih boleh rekomendasikan sebagai tontonan yang cukup baik, apalagi dijadikan tontonan bagi keluarga.

Waktu baru duduk di dalam theater, mula-mula gue rada terganggu dengan celotehan beberapa penonton cilik yang berada agak ke belakang. Waktu itu sih karena sudah hampir habis masa tayangnya, dalam theater dengan kapasitas kecil hanya terisi setengahnya dan gue kebagian di baris tengah tapi jadi penonton yang paling depan.

Menit-menit awal pun gue masih merasa terganggu dengan ulah penonton cilik yang sedikit-sedikit melontarkan pertanyaan dengan suara agak berteriak. Tapi setelah semakin lama mengikuti cerita film ini gue menjadi jadi sangat-sangat toleran dengan kelakuan penonton cilik itu, sekalipun memang seharusnya tidak boleh terjadi keributan di dalam theater, karena film ini pun memang berlatarkan cerita tentang keluarga dengan tokoh utama seorang anak laki-laki usia Sekolah Dasar.

Sayangnya cerita film ini jadi seperti hanya tersegmentasi kepada penonton anak-anak saja. Buat penonton dewasa seperti gue tentunya akan banyak mempertanyakan logika penceritaan di beberapa adegan. Belum lagi adegan tendangan kemenangan di sebuah try out sepak bola yang tidak menggunakan kelebihan si tokoh utama di awal cerita.

Untungnya masih ada tokoh Bang Dulloh yang cukup bisa menyegarkan suasana dengan semua kelakuan dan celetukan khasnya. Ngga salah kalo Ramzi, yang terkenal kocak di serial TV Cintaku di Rumah Susun, yang di-casting menjadi supir dodol tapi sekaligus jadi pengasuh yang sangat-sangat ngemong.

Secara keseluruhan film ini cukup enak disaksikan apalagi didukung dengan musik score yang keren, yang di-compose dengan apiknya oleh pasangan Aksan dan Titi Sjuman. Musiknya mampu mengantarkan sebuah kebanggaan dan kemegahan sebuah kemenangan dari perjuangan yang tulus demi sebuah olah raga yang paling dicinta di Indonesia.

22 August 2009

TRANSFORMERS: REVENGE OF THE FALLEN: What Should I See in this Movie?



Title:
Transformers: Revenge of the Fallen

Director:
Michael Bay

Writers:
Ehren Kruger, Roberto Orci

Cast:
Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro, Ramon Rodriguez, Kevin Dunn, Julie White, Isabel Lucas

Plot:
Decepticon forces return to Earth on a mission to take Sam Witwicky prisoner, after the young hero learns the truth about the ancient origins of the Transformers. Joining the mission to protect humankind is Optimus Prime, who forms an alliance with international armies for a second epic battle.

Note:
Mungkin sebagian salah gue juga sih. Waktu itu gue sedang flu parah, sekalipun belom minum obat anti flu yang bikin ngantuk, jelas badan rasanya ngga asyik dah. Dan karena ngejar premiere, jadinya gue bela-belain ikutan temen-temen nonton mulai jam 10 malam, secara hari itu masih weekdays yang paginya emang gawe di kantor. Badan lagi dihajar flu, pagi sampe sore gawe dan kagak sempet bobo siang, ditambah mulai nontonnya jam 10 malem. Alhasil gue sempet ketiduran di tengah-tengah film selama lebih kurang 20 menit!

Setelah nonton malam itu, sumpah deh gue penasaran banget adegan apa aja yang sempet terlewat selama gue ketiduran. Akhirnya setelah lewat 1 minggu terpaksa deh download film ini dari internet. Nah dari situlah gue jadi tau seberapa lama gue ketiduran dan adegan apa aja yang terlewat.

Pas gue cek lagi dari hasil download itu, ternyata mulainya gue ketiduran pas adegan battle di pemakaman. Adegan yang cukup seru dan intense. Lumayan aneh ya?! Tapi seinget gue, justru di beberapa film dengan banyak adegan action yang intense tanpa jeda malah bikin gue ngantuk. Hal ini juga terjadi waktu gue nonton salah satu film spin off beberapa waktu kemudian setelah film Transformers ini.

Bisa jadi karena kombinasi kondisi internal dan eksternal badan gue yang bikin ketiduran dalam waktu yang cukup lama: sedang flu parah, abis gawe di kantor, nonton jam 10 malam dan filmnya yang full action dengan pace cepat nyaris tanpa jeda. Ketiduran 20 menit rekor banget deh. Untungnya film ini berdurasi lebih dari 2 jam. Kalo gue ketiduran 20 menit di film berdurasi 90 menitan, bakalan langsung sampai end credit title deh.

Jujur aja nih ya, sebenernya gue ngga segitunya nguber-nguber film ini sampai kudu nonton pas premiere-nya segala. This is not my kind of movie. Tapi kali ini gue hadir lebih karena untuk kebersamaan di acara nonton bareng komunitas gue. Kalo ngumpul-ngumpul trus nonton bareng kan seru tuh.

Mungkin juga karena gue ketiduran jadi lumayan banyak terlewat, tapi gue merasa film ini ngga menyuguhkan apa-apa selain adegan-adegan mega action pertempuran antar robot-robot raksasa. Design robot-robotnya kali ini memang lebih bagus dibandingkan di film pertamanya karena dengan mudah gue bisa mengenali perbedaan kedua jenis robot yang berlawanan sekalipun dalam adegan tempur jarak dekat.

Sayangnya adegan-adegan mega action itu ngga bisa bikin gue melupakan ceritanya yang ‘ngga masuk akal’. Pastinya banyak bakal bilang bahwa film fantasi semacam Transformer ini ngga bakalan lah punya cerita yang masuk akal. Namanya aja film fantasi, pastinya bakal banyak banget ngarangnya.

Tapi kalo merunut pada sekelumit obrolan gue dengan salah satu penulis skenario film Indonesia yang cukup kompeten, bahwa dalam menulis sebuah cerita seluas apa pun fantasinya, sebagai penulis harus mampu membuat cerita itu meyakinkan sehingga dipercaya bisa saja terjadi sehingga bisa diterima oleh audience-nya.

Nah, film Transformer yang ini ngga mampu meyakinkan gue bahwa keseluruhan cerita ‘masuk akal’ sehingga jadi enak diikuti sampai akhir. Sepertinya pembuatnnya terlalu sibuk menyuguhkan adegan-adegan mega action sehingga melupakan logika cerita. Atau mungkin juga filmmaker-nya merasa sudah cukup puas hanya dengan menyuguhkan adegan-adegan baku hantam antar robot dari luar angkasa itu.

Sepertinya film ini juga ingin ‘perang’ dengan film robotic lainnya yang waktu rilisnya berdekatan, karena selain film ini memang menampilkan robot-robot dengan variasi ukuran dan mampu menyamar dalam bentuk berbagai benda, pembuat film ini juga menyelipkan robot yang mampu menyamar dalam bentuk manusia! Jelas-jelas menurut gue ide ini sangat bodoh! Jelas-jelas keluar dari pakem Transformers. Bikin gue ilfil!

Makin mendekati ending semakin bikin gue ilfil. Dan mencapai puncaknya pada adegan Robotic Heaven yang berlanjut ke adegan Sam’s Resurrection! Seluruh film ini jadi berantakan di mata gue. Siapa sih yang punya ide bikin cerita sebodoh itu?

Dan adegan-adegan seru yang disuguhkan, bahkan penampilan Mikaela yang hot sekalipun ngga mampu bikin gue ‘memaafkan’ kebodohan-kebodohan itu.

06 August 2009

MERAH PUTIH: Penggugah yang Diharapkan Menggugah


Judul:
Merah Putih

Sutradara:
Yadi Sugandi

Penulis Skenario:
Conor Allyn, Rob Allyn

Pemeran:
Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinatrya, Zumi Zola, T. Rifnu Wikana, Rudy Wowor

Catatan:
Udah lama banget ngga liat film perang dengan setting cerita masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baru kali ini ada yang niat banget bikin film dengan latar perang kemerdekaan. Dan ngga hanya jadi latar, tapi memang niat dibikin lengkap dengan adegan peperangannya. Tentunya ngga seluruh perang yang terjadi digambarkan di sini. Dan ngga hanya perang kemerdekaan aja, katanya film ini bakal dibuat menjadi trilogi.

Proyek film yang cukup ambisius dengan sebagian kru berkebangsaan asing (executive producer dan penulis skenario) terlihat cukup mewah di antara produksi film-film Indonesia akhir-akhir ini. Denger-denger sih budget-nya mencapai 60 milyar rupiah untuk satu film ini saja. Ngga heran juga sih, adegan perang dan ledakannya cukup keren. Ngga kalah dengan film-film perang lainnya, sekalipun tetap dengan ledakan yang sesuai dengan masanya (tahun 1947).

Tapi kalo mengharapkan film ini menjadi penggugah rasa nasionalisme, gue koq ngga merasakan seperti itu ya. Beberapa adegan yang mestinya menggiring gue untuk merasakan kemegahan sebuah perjuangan yang mulia, sepertinya malah biasa saja. Adegan yang seharusnya terlihat gagah ngga bikin gue kagum sama sekali.

Beberapa karakter pun terasa inkonsisten, seperti Sang Komandan yang pada awalnya pada masa pendidikan terlihat begitu bijaksana dan penuh strategi, tapi pada saat pecah pertempuran malah tidak berpikir panjang dan semata-mata hanya ‘mengandalkan’ ridho Allah. Karakter Marius tiba-tiba bisa berubah jadi pengecut total hanya karena pecah adu senjata.

Ngga sedikit juga dialog-dialog yang ngga perlu, yang mungkin lebih bagus kalo bisa disampaikan dalam ‘bahasa’ visual, seperti adegan debat si Letnan dengan Sang Komandan sebelum maju bertempur membabi buta.

Selain itu ada hal yang menurut gue janggal karena gue baru tahu kalo aggressor Belanda mampu menyisir dan mengejar para pejuang Indonesia sampai masuk ke pelosok hutan dan gunung dengan berjalan kaki, mampu melakukan pertempuran malam di dalam hutan. Setau gue prajurit Eropa/Amerika tidak terlatih untuk pertempuran di dalam hutan, khususnya hutan tropis yang pekat seperti di Indonesia. Kalaupun ada yang mampu, itu baru terjadi 20 tahun kemudian dalam perang di Vietnam, itu pun kalah.

Puncak cerita yang dimulai pada bulan Juni 1947 ini masih belum jelas. Apakah nanti akan ditutup pada peristiwa besar Agresi Belanda I pada bulan Juli 1947? Ngga banyak ‘pengantar’ yang mengarah ke situ. Tentunya berbeda apabila mengambil cerita sebelum kemerdekaan yang pastinya berpuncak pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sekalipun begitu, baru kali ini gue liat film perjuangan kemerdekaan yang mana pejuang-pejuangnya nggak melulu berisikan orang-orang dengan nasionalisme tinggi dan berapi-api. Dalam film ini beberapa karakter bergabung dengan pejuang digambarkan karena sebab yang berbeda-beda, di antaranya memang mau pamer kegagahan dan yang satunya lagi demi membalas dendam karena seluruh keluarganya tewas di tangan aggressor Belanda.

Dan bagaimana pun juga, film ini cukup segar di antara film-film Indonesia mutakhir yang temanya nyaris seragam. Dan lagi film ini cukup cocok untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus nanti.

Mudah-mudahan untuk seri lanjutannya dapat digarap dengan lebih baik lagi dan mudah-mudahan mampu menggugah kesadaran kebangsaan.

WOLVERINE: Cukup Seru namun Tak Berkesan



Title:
Wolverine

Director:
Gavin Hood

Writers:
David Benioff, Skip Woods

Casts:
Hugh Jackman, Liev Schreiber, Danny Huston, Will i Am, Lynn Collins, Kevin Durand, Dominic Monaghan, Taylor Kitsch, Daniel Henney, Ryan Reynolds

Plot:
Leading up to the events of X-Men, X-Men Origins: Wolverine tells the story of Wolverine’s epically violent and romantic past, his complex relationship with Victor Creed, and the ominous Weapon X program. Along the way, Wolverine encounters many mutants, both familiar and new, including surprise appearances by several legends of the X-Men universe.

Note:
Dari niat yang cool banget untuk bikin film bertemakan ‘year one’ dari sosok X-Men yang paling terkenal, tapi sayang sekali ngga membuat gue kagum. Memang sih ngga bisa begitu aja dibandingkan dengan Batman Begins yang juga bertemakan ‘year one’ sekaligus reboot dari semua film Batman yang pernah ada, tapi film Wolverine ini terasa hanya menceritakan asal usul sekedarnya saja tapi dibalut dengan adegan-adegan aksi yang keras dan mantap. Ceritanya yang seharusnya kuat, jadi tertutupi seluruh adegan aksinya. Dan adegan-adegan aksi yang intense malah sempet bikin gue ketiduran sebentar!!

Gue memang ngga banyak ngerti tentang X-Men. Dan jujur aja, gue tau banyak tentang X-Men justru dari film-filmnya yang sudah gue tonton semua. Khususnya untuk origin dari Wolverine ini, gue hanya sekedar menyerap ceritanya begitu aja tanpa ada intensitas mengikutinya dengan tekun. Padahal di dalamnya banyak juga kejutan dengan kemunculan beberapa tokoh-tokoh penting dari X-Men universe.

Tapi ada satu hal yang menarik adalah akting dari pemeran Logan kecil saat pertama kali memunculkan kekuatannya, ‘kuku’ tulang aslinya yang panjang sebelum diubah jadi adamantium. Adegan itu cukup dramatis, bikin gue rada merinding menyaksikannya. Sayang, selebihnya ngga ada lagi adegan bisa bikin gue merasakan hal yang sama.

Secara keseluruhan sih tetep bolehlah film ini disaksikan, terutama bagi mereka yang kepingin tau asal usul dari salah satu tokoh comic yang paling laku dari Marvel Comics. Tapi buat gue justru ngga ninggalin kesan apa-apa.

THE PROPOSAL: It Charged Up My Romantic Feeling

Image and video hosting by TinyPic

Title:
The Proposal

Director:
Anne Fletcher

Writer:
Pete Chiarelli

Casts:
Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson, Betty White, Denis O'Hare, Malin Akerman, Oscar Nuñez, Aasif Mandvi, Michael Nouri

Plot:
When high-powered book editor Margaret faces deportation to her native Canada, the quick-thinking exec declares that she's actually engaged to her unsuspecting put-upon assistant Andrew, who she's tormented for years. He agrees to participate in the charade, but with a few conditions of his own. The unlikely couple heads to Alaska to meet his quirky family and the always-in-control city girl finds herself in one comedic fish-out-of-water situation after another. With an impromptu wedding in the works and an immigration official on their tails, Margaret and Andrew reluctantly vow to stick to the plan despite the precarious consequences.

Note:
Sebenernya basic ceritanya sih ngga orisinil. Cerita semacam ini udah banyak yang bikin. Kalo hanya dari temanya sih ngga bakalan bikin gue tertarik. Yang pasti untuk cerita semacam ini gue lebih menunggu seperti apa film ini bakal divisualisasikan, selain casting yang berbanding terbalik dengan kewarganegaraan aktor-aktris utamanya (Ryan Reynolds seorang warga Canada berperan sebagai warga US, sedangkan Sandra Bullock berperan sebaliknya).

Ternyata si penulis cerita cukup cerdas untuk memuat sebanyak-banyaknya unsur komedi dalam film ini, dari unsur slapstick, tricky granny, sedikit ala American Pie sampai ke humor dewasa. Tidak hanya komedi tapi juga beberapa unsur yang dapat mengundang rasa gemas penonton, seperti menyertakan kelucuan anjing jenis Samoyet yang masih kecil yang kurang akrab dengan karakter Margareth.

Sekalipun maunya bertemakan romantic comedy, tapi buat gue kelucuan-kelucuan di film ini lebih mirip kelucuan dalam film Miss Congeniality. Entah sengaja ato tidak, yang pasti kedua film ini diperankan oleh aktris yang sama. Gue sendiri ngga terlalu ngerti juga seperti apa sih romantic comedy yang seharusnya. Karena selama ini gue masih terlalu suka dengan Sleepless in Seattle yang tidak terlalu comedic itu.

Jarang banget gue nonton romantic comedy di bioskop. Gue aja udah lupa judul film rom-com apa yang terakhir kali gue tonton di bioskop. Yah kadang-kadang chauvinisme gue suka keterlaluan karena menganggap film dengan tema seperti ini hanya untuk konsumsi kaum perempuan. Dan kali ini gue harus mengakui bahwa film sejenis ini mampu men-charge kembali sisi romantis gue :malu:

WATCHMEN: Superhero juga Manusia

Image and video hosting by TinyPic

Title:
Watchmen

Director:
Zack Snyder

Writers:
David Hayter, Alex Tse

Casts:
Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Patrick Wilson, Carla Gugino, Matt Frewer, Stephen McHattie, Laura Mennell

Plot:
Watchmen is set in an alternate 1985 America in which costumed superheroes are part of the fabric of everyday society, and the "Doomsday Clock" - which charts the USA's tension with the Soviet Union - is permanently set at five minutes to midnight. When one of his former colleagues is murdered, the washed up but no less determined masked vigilante Rorschach sets out to uncover a plot to kill and discredit all past and present superheroes. As he reconnects with his former crime-fighting legion - a ragtag group of retired superheroes, only one of whom has true powers - Rorschach glimpses a wide-ranging and disturbing conspiracy with links to their shared past and catastrophic consequences for the future. Their mission is to watch over humanity... but who is watching the Watchmen?

Note:
Setelah siangnya nonton film action yang bisa bikin gue ketiduran, sorenya gue niatin nguber nonton film ini dengan ekspektasi bakalan ketiduran juga. Gue berekspektasi seperti itu karena gue pernah baca graphic novel-nya dan sedikit-sedikit sudah baca review film ini, khususnya review yang minor.

Sebenernya ngga terlalu minat juga sih nontonnya karena si empunya graphic novel, Alan Moore, ngga pernah mau dan ngga pernah suka novelnya diadaptasi ke dalam film. Dia ngga bakal pernah mau nonton film-film adaptasi novelnya. Menurutnya, medium graphic novel (comic) ngga sama dengan film. Dan film ngga bakal bisa menuangkan semua yang ada dari comic/graphic novel-nya.

Dan hal ini sudah terbukti bahwa di setiap film adaptasi dari comic/graphic novel-nya ngga ada yang bisa sebagus aslinya: From Hell, League of Extraordinary Gentlemen, V for Vendetta. Belum lagi Zack Znyder, sang sutradara, sudah memiliki ‘reputasi’ tidak kreatif karena mengadaptasi Frank Miller’s 300 secara panel to panel, tiap adegan mirip banget dengan visual di panel-panel pada graphic novel-nya.

Sekalipun begitu, biarpun sedikit tetep ada rasa penasaran untuk melihat film adaptasi dari salah satu graphic novel paling berpengaruh pada abad ini. Rasa penasaran itulah yang membawa gue ke bioskop untuk menyaksikan film ini sekalipun agak terlambat.

……………dan wow!! Kali ini gue ngga berkedip menyaksikan film dengan cerita yang beralur lambat dengan karakter-karakter yang kompleks. Bener-bener ajaib, gue terpukau dengan visual yang memukau, yang mampu menggiring gue tetep menikmati cerita dengan tekun.

Cerita yang rada absurd untuk sebuah kisah tentang superheroes. Iya superheroes. Banyak banget superhero-nya. Tepatnya cerita superheroes yang sudah habis ‘masa edar’nya. Superhero yang sepertinya tidak diperlukan lagi tapi masih memikirkan kepentingan dan keselamatan umat manusia.

Tapi dalam Watchmen tidak dikisahkan secara hitam putih. Bahkan digambarkan kisah penyelamatan dunia dengan cara yang paling ekstrim, yang mungkin tidak pernah dipikirkan dan disampaikan dalam kisah superhero manapun juga. Cukup mengerikan dan cukup menggetarkan. Tapi seperti itulah yang mungkin hanya bisa dipikirkan dan dilakukan manusia dalam perjuangannya. Sekali lagi tidak dalam pola berpikir yang hitam putih semata.

Ceritanya setia dengan aslinya, sekalipun memang tidak bisa menuangkan sama persis. Graphic novel-nya memang amat sangat kompleks. Bahkan gue belom baca secara detail. Inilah film yang cukup berhasil mengadaptasi dengan bagus sebuah graphic novel garapan Alan Moore.

04 August 2009

ALIENS IN THE ATTIC: Hiburan Maksimum!!



Title:
Aliens in the Attic

Director:
John Schultz

Writers:
Mark Burton, Adam F. Goldberg

Casts:
Robert Hoffman, Ashley Tisdale, Carter Jenkins, Gillian Vigman, Josh Peck, Henri Young, Regan Young, Tim Meadows, Austin Butler, Ashley Boettcher, Kevin Nealon, Andy Richter, Doris Roberts, Malese Jow

Plot:
The Pearson family thinks they have got the ultimate family vacation as they head to their vacation home in Maine. However, soon after arriving to the house, they discover that they are not the only people staying in it since a friendly alien has found the house first. Though the alien is friendly, his friends are not, and they are ready to invade the house. The kids have to gear up and defend their vacation house with everything they have or else the aliens will probe them out to space and destroy the world.

Note:
Awalnya gue kira film ini hanya akan ‘ngejual’ Ashley Tisdale yang pertama kali tampil di layar lebar setelah ‘trilogy’ High School Musical mengangkat namanya. Ternyata nggak seperti itu juga. Bahkan peran Ms Tisdale di sini nyaris hanya sebagai pemanis layar aja. Untungnya begitu cerita memasuki puncaknya, karakter yang diperankan Ms Tisdale mendapatkan porsi yang cukup untuk lebih tampil.

Porsi karakter anak-anak dan ABG sangat menonjol. Dan memang ceritanya lebih mengajukan ‘keunggulan’ anak-anak sebagai ‘spesies’ yang belum mapan sehingga masih mudah berkreasi dan pastinya berfantasi.

Semua karakter anak-anak dan ABG di sini cukup bisa tampil dengan keunikan karakternya masing-masing. Penonton mungkin saja bakal terus asyik menikmati kecerdasan Tom atau memperhatikan kegagahan Jake (sekalipun agak bodoh) atau tertawa-tawa melihat tingkah si kembar yang pinter banget main game dan juga terpesona dengan akting si bungsu yang imut-imut.

Yang paling menarik adalah gimmick teknologi yang dieksploitasi dalam film ini. Sekalipun diceritakan bahwa teknologi canggihnya berasal dari planet lain, tapi sedikit banyak ada kedekatan dengan teknologi komunikasi dan game console yang sedang hype pada masa sekarang di kalangan anak-anak muda.

Karakter Ricky yang lebih ‘tua’ dari para ABG yang perannya di sini banyak mengingatkan gue pada gaya konyolnya Jim Carrey. Lebih banyak gerakan-gerakan konyol dan mengundang tawa. Tapi dari CV pemeran Ricky ini, Robert Hoffman, ternyata ngga jauh-jauh dari gerak. Karena Mr Hoffman ternyata dekat sekali dengan dunia tari. Bahkan dia pernah membintangi sequel film Step Up yang penuh dengan adegan tari jalanan. Ngga heran kalo di sepanjang film Aliens in the Attic ini menampilkan gerakan yang luwes dari Mr Hoffman.

Film ini sangat sangat menghibur. Kelucuan dan kekonyolannya khas anak-anak dan jauh dari kekonyolan orang-orang dewasa. Sekalipun seringkali ceritanya jauh dari logika, tapi jujur aja seluruh adegan serunya selalu bikin penonton terbahak-bahak.

01 August 2009

TERMINATOR SALVATION: Is this A Tribute?



Title:
Terminator Salvation

Director:
McG

Writers:
John D. Brancato, Michael Ferris

Cast:
Christian Bale, Sam Worthington, Moon Bloodgood, Helena Bonham Carter, Anton Yelchin, Jadagrace, Bryce Dallas Howard, Michael Ironside

Plot:
Set in post-apocalyptic 2018, John Connor is the man fated to lead the human resistance against Skynet and its army of Terminators. But the future Connor was raised to believe in is altered in part by the appearance of Marcus Wright, a stranger whose last memory is of being on death row. Connor must decide whether Marcus has been sent from the future, or rescued from the past. As Skynet prepares its final onslaught, Connor and Marcus both embark on an odyssey that takes them into the heart of Skynet’s operations, where they uncover the terrible secret behind the possible annihilation of mankind.

Note:
Banyak juga yang ngga suka dengan film ini. McG dengan prestasi film-filmnya yang kebanyakan fun doang, dianggap merusak franchise Terminator karena film ini.

Tapi gue ngeliat McG justru berusaha membuat tribute kepada franchise film tentang kiamat mesin sekaligus mempersiapkan franchise ‘baru’ perang melawan mesin di masa depan. Kalo terasa ceritanya ‘nganehi’ masih bisa gue terima karena dipersiapkan terbuka untuk sekuel selanjutnya dan masih berusaha menyambung dengan seri sebelumnya.

Kenapa gue bilang film ini sebagai tribute? Karena film ini banyak memvisualkan adegan-adegan yang berhubungan dengan ketiga film sebelumnya. McG ngga lupa memvisualkan adegan ‘nyolong’ pakaian yang selalu ada di semua film Terminator. Dan kayaknya ngga banyak yang ngerti kenapa John Connor gampang banget ngelewatin kunci elektronik untuk masuk ke markasnya Sky Net. Tapi ada yang inget kenakalan John Connor kecil di Terminator 2?? Ada hubungannya tuh!!

Kemunculan T-800 (menurut cerita di film ini masih prototype = purwa rupa) dan adegan pertarungan John Connor di depan guyuran logam cair juga masih mengacu pada seri film sebelumnya.

Dan adegan yang paling ‘menyentuh’ gue adalah dimunculkannya kembali kemahiran John Connor mengendarai kendaraan masa kecilnya yang diiringi lagu ‘anthem’ Terminator 2!! Itu adegan yang cool banget!! McG cukup mengerti untuk membawa dan mengangkat franchise Terminator. Tapi ngga tau deh kalo dipertimbangkan lain.

31 July 2009

ANGELS AND DEMONS: Penyederhanaan Sebuah Novel



Title:
Angels and Demons

Director:
Ron Howard

Writers:
David Koepp, Akiva Goldsman

Cast:
Tom Hanks, Ewan McGregor, Ayelet Zurer, Stellan Skarsgård, Pierfrancesco Favino

Plot:
The Pope died and the conclave has been called for. Four candidates were chosen. However, before the voting, the 4 candidates are killed one by one. The killer leaves clues that seem to say that he/she is from the Illuminati. Strangely though, the Illuminati was long thought to be extinct. Who is the mastermind? Who revived the Illuminati? What do they want?

Note:
Sengaja juga gue ngga baca ulang novelnya sebelum nonton filmnya. Itu juga karena males sih. Tapi di sisi lain, pada awalnya gue cukup percaya dengan Ron Howard dalam membesut film yang didasari dari novel karya Dan Brown. Dalam film Da Vinci Code, Ron Howard cukup berhasil mengadaptasi novel sekuel petualangan Robert Langdon itu.

Gue tenang-tenang aja dalam menyambut Angels and Demons ini. Tapi tetep sih nyari-nyari tahu sana-sini tentang film ini. Dan gue juga tahu ada beberapa penyesuaian karakter dan cerita. Menurut gue sih masih dalam taraf wajar proses adaptasi sebuah novel, sekalipun salah satu penyesuaiannya adalah perubahan karakter yang cukup penting seperti Sang Camerlengo.

Filmnya sendiri menyuguhkan alur yang cepat dan rapat. Thriller-nya cukup terasa. Mata ngga kepingin lepas dari layar. Belum lagi mata penonton disuguhkan pemandangan dari balik tembok Kota Vatikan yang belum banyak dipublikasikan sebelumnya. Sekalipun mudah untuk dibuat replikanya di dalam studio, tapi penonton film ini diajak menyaksikan situasi di dalam ‘istana’ suci, gereja-gereja di pelosok kota Roma dan juga ruang arsip Vatikan yang tingkat moderen dan kecanggihannya cukup mengejutkan.

Namun semua itu ternyata tidak cukup bagi para penyuka novelnya. Sekalipun banyak pembaca novel yang memaklumi ‘penyimpangan’ yang terjadi dalam proses adaptasi menjadi sebuah film, tapi kali ini penyimpangan yang terjadi nyaris tidak bisa dimaafkan!

Sayang juga seorang Ron Howard melakukan penyimpangan yang fatal untuk film ini. Tapi secara keseluruhan bagi yang bukan pembaca dan penyuka novelnya, film ini cukup bisa dinikmati sekalipun tidak memberikan banyak penjelasan tentang semua detil kejadian dan ketegangan yang disampaikan. Dan ternyata Dan Brown sang novelis tercatat sebagai salah satu executive producer film ini.

30 July 2009

JERMAL: Pilihan untuk Berproses dan Berproses untuk Memilih di dalam Kehidupan



Judul:
Jermal

Sutradara:
Ravi Bharwani, Rayya Makarim

Skenario:
Rayya Makarim, Ravi Bharwani, Orlow Seunke

Para Pemeran:
Iqbal S. Manurung, Didi Petet, Yayu A.W. Unru, Chairil A. Dalimunthe, M. Rifai Andhika Piliang, Febri Hansah Pulungan, Ribut Waluyo Ritonga, Rudi Hartono

Plot:
Setelah kematian ibunya, Jaya (12) dikirim ke ayahnya, Johar, yang bekerja sebagai pengawas di sebuah jermal (tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan). Johar terkejut karena ia tak pernah tahu bahwa ia punya seorang anak. Ia tak mau mengakui Jaya sebagai anaknya. Namun ia tak mungkin membawa Jaya kembali ke daratan karena masa lalunya yang kelam; oleh karena itu Johar terpaksa menerima Jaya sebagai pekerja jermal.

Walaupun dihadapkan dengan penolakan ayahnya dan gangguan serta ejekan anak-anak pekerja jermal, Jaya tak mau menyerah pada nasib. Ia melepaskan harapan akan pengakuan ayahnya dan memutuskan untuk mempelajari keterampilan serta sikap yang diperlukan untuk bertahan hidup di atas jermal.

Seiring berjalannya waktu, Jaya berubah menjadi seperti anak-anak jermal yang lain: survivor yang tangguh dan keras. Sementara Johar terpaksa menghadapi dan menerima masa lalunya. Akhirnya, baik Johar maupun Jaya menyadari bahwa mereka terikat oleh masa lalu, dipertemukan di ruang sempit di mana mereka berada, serta terhubung oleh kebenaran yang tak mungkin dihindari.

Awalnya mereka berjumpa sebagai dua orang asing dan akhirnya mereka meninggalkan tempat itu sebagai ayah dan anak.

Catatan:
Pernah tau yang namanya jermal??
Di awal tahun 2000-an, kata jermal terlalu asing di telinga gue. Tapi seiring dengan mengemukanya masalah-masalah yang terkait dengan hak azasi manusia dan hak-hak anak, jermal menjadi lumayan sering disebut karena disinyalir tempat itu mempekerjakan anak-anak di bawah umur dengan perlakuan di luar batas peri kemanusiaan.

Awalnya mendengar tentang film ini, yang pernah dicap ‘Laskar Pelangi versi kelam’, gue sempet terbayang bakal menyaksikan film yang penuh adegan kekerasan di luar batas, seperti yang pernah disampaikan media-media massa mengenai apa-apa yang terjadi di jermal yang sesungguhnya.

Ternyata pilihan setting cerita di atas jermal untuk lebih mengangkat tema pelarian dari masalah dan keterasingan yang berpengaruh besar kepada perubahan psikologis manusia. Kurun waktu cerita yang cukup singkat, lebih kurang 3 bulan, digambarkan dapat dengan cepat mengubah perilaku manusia karena dipaksa beradaptasi dengan lingkungannya. Mungkin saja perubahan semacam itu tidak dapat dengan mudah terjadi di lingkungan masyarakat kota dalam waktu sesingkat itu.

Kondisi terasing di atas jermal digambarkan tidak selalu menjadikan manusia-manusia yang tinggal di sana berada dalam kondisi psikologis yang seragam. Manusiawi sekali bahwa semua orang memiliki mimpi masing-masing. Dalam film ini, keunikan masing-masing pribadi manusia digambarkan dengan lugu namun menyentuh.

Nggak ada adegan kekerasan yang di luar batas, sekalipun ada adegan kekerasan anak-anak terhadap anak-anak yang tidak cocok dan tidak boleh dilakukan oleh anak-anak, tapi masih bisa ‘ditolerir’ oleh penonton dewasa. Dan sekalipun banyak karakter anak-anak tapi jelas film ini bukan film anak-anak dan tidak cocok ditonton oleh anak-anak.

Digambarkan dengan jelas bahwa manusia pasti berproses dengan semua yang dihadapinya. Dan dalam berproses, manusia harus menentukan pilihannya. Pilihannya pun akan membawa manusia ke dalam proses selanjutnya.

KNOWING: Manusia adalah Mahkluk yang Paling Mulia

Image and video hosting by TinyPic


Title:
Knowing

Director:
Alex Proyas

Writers:
Ryne Douglas Pearson, Juliet Snowden

Cast:
Nicolas Cage, Chandler Canterbury, Rose Byrne, Lara Robinson, D.G. Maloney, Nadia Townsend, Alan Hopgood, Adrienne Pickering, Joshua Long, Danielle Carter

Plot:
In the fall of 1959, for a time capsule, students draw pictures of life as they imagine it will be in 50 years. Lucinda, an odd child who hears voices, swiftly writes a long string of numbers. In 2009, the capsule is opened; student Caleb Koestler gets Lucinda's "drawing" and his father John, an astrophysicist and grieving widower, takes a look. He discovers dates of disasters over the past 50 years with the number who died. Three dates remain, all coming soon. He investigates, learns of Lucinda, and looks for her family. He fears for his son, who's started to hear voices and who is visited by a silent stranger who shows him a vision of fire and destruction. What's going on?

Note:
Sekalipun gue suka nonton film, tapi ngga semuanya gue tonton di bioskop. Adalah beberapa jenis film yang nggak masuk prioritas gue untuk ditonton di bioskop, misalnya romantic comedy, family drama, dan beberapa jenis lainnya termasuk juga horor :p Tapi genre less-priority itu sering gue langgar sendiri apabila ada film-film Indonesia dengan rekomendasi baik.

Khusus untuk film Knowing, muncul subyektivitas gue karena ‘rekomendasi’ dari sutradara favorit gue. Gue sempet baca update status FB-nya yang bilang dia suka banget dengan film ini, bahkan sempet komentar suka banget dengan endingnya. Gue kan jadi penasaran.

Begitu masuk di menit-menit, sempet muncul rasa penyesalan karena gue merasa tegang banget. Gue emang ngga terbiasa nonton thriller/horror di bioskop. Semua juga tau ya di dalam bioskop yang gelap dan dingin, gue merasa ‘terjebak’ harus berlama-lama menatap layar penuh ketegangan. Tapi rasa penasaran gue lebih besar daripada perasaan terjebak tadi. Ya terus deh sampai selesai.

Makin lama makin tercekam dengan ceritanya. Semuanya terasa nyata. Gue berhasil dibikin percaya bahwa semua hal dalam film ini mungkin saja terjadi. Gue ngga merasa itu hanya sebuah cerita dalam film. Dari keyakinan yang gue anut justru membuat gue setuju dengan cerita yang disampaikan.

Mengenai ending yang mengundang kontroversi, gue malah setuju sekali dengan visualisasinya dengan logika bahwa mungkin saja kejadian itu dilihat dari sisi berbeda namun dengan keyakinan yang berujung sama. Keyakinan yang gue maksud adalah bahwa manusia itu pada dasarnya adalah mahkluk yang paling mulia yang pasti akan diselamatkan dan dimuliakan kedudukannya di hadapan Sang Pencipta.

Dan dari sudut pandang film yang beda itulah, gue jadi tau kenapa si sutradara favorit gue itu suka banget dengan ending film ini yang menggugah logika dan keyakinan.

07 July 2009

BABI BUTA YANG INGIN TERBANG: Ketika Suku Minoritas setelah Dimatikan Perasaannya



Judul:
Babi Buta yang Ingin Terbang

Sutradara:
Edwin

Pemeran:
Ladya Cheryll, Pong Hardjatmo, Joko Anwar, Andara Early, Carlo Genta

Plot:
In "The Blind Pig Who Wants to Fly" you will find stories about disoriented identity, not knowing who you are, anxiety, uncertainty, the experience of being lost, told with a sense of humor. A father who is desperate to win a green card lottery, so the family can move to America. An ex-national badminton champion, whose husband leaves her for a Javanese wife. A Menado boy who constantly gets beaten up because everybody thinks that he is Chinese. A young girl who believes that Chinese firecrackers expel ghosts. Set within the contemporary social and racial tension of urban Indonesia, the story follows eight characters in their absurd journey to fit in within society in the hope to live better lives. Like a mosaic, this film is built from shattered pieces of colored glass. Delicate, fragile, beautiful.

Catatan:
Penasaran juga dengan film ini. Penasarannya karena film ini ngga pernah diputar di bioskop-bioskop mainstream di tanah air dalam masa tayang regular. Akhir kesampaian juga, itu termasuk mendadak karena info dari salah seorang kawan.

Sekalipun penasaran, ekspektasi untuk film ini gue tekan serendah-rendahnya. Sebenernya bukan khusus film ini aja sih. Tapi biasanya khusus untuk film-film buatan sineas Indonesia mutakhir, ekspektasi selalu gue tekan serendah-serendahnya mendekati titik nol. Dan hal ini selalu terbukti manjur supaya bisa mengikuti filmnya sampai dengan selesai. Urusan baik/buruknya memang juga tergantung selera yang tentunya subyektif.

Film ini gue rasakan absurd banget. Absurd yang gue rasakan muncul dari kombinasi visual yang suram, cerita yang ngga jelas urutannya dan karakter-karakter yang semuanya negatif. Sekalipun begitu, film ini cukup berhasil menjaga gue tetep kepingin ngikutin sampai selesai. Dengan pelan sekali, maksud dari keseluruhan cerita mulai bisa gue serap. Kata kuncinya ternyata adalah ‘Suku Tionghoa yang Terdiskriminasikan’.

Yang gue liat di film ini bukanlah sebuah gugatan dari suku minoritas, tapi lebih ke potret keadaan Suku Tionghoa pada saat ini yang bukan lagi masih didiskriminasi tapi juga sudah terlanjur mati rasa dengan negeri ini.

Visualisasi yang lebih mirip mozaik dan puzzle dibandingkan runtutan cerita, ngebikin gue hampir aja mati rasa karena pusing dan bingung. Tapi merujuk ke hal yang ingin disampaikan, sepertinya visualisasi semacam itu cukup efektif membuat gue merasakan hal-hal yang dirasakan karakter-karakternya.

Visualisasi yang cenderung ‘semau-maunya’ makin lama semakin bikin gue miris menyaksikan kondisi tiap-tiap karakter di film ini. Selain ada yang ‘diperkosa’, ada pula yang bisa bernyanyi-nyanyi gembira mengikuti tayangan karaoke berlatar kerusuhan Mei 1998! Sebenernya ada gugatan di dalamnya, tapi yang gue tangkap gugatan itu jadi semakin tajam justru dengan menampilkan mereka yang sudah mati rasa.

Semuanya sangat terbantu dalam sesi tanya jawab langsung dengan sutradaranya. Dari diskusi jadi jelas semua yang ingin disampaikan film ini. Dan dari penjelasan sang sutradara, termasuk semua hal behind the screen dan beberapa hal off the record, gue semakin miris melihat kehidupan Suku Tionghoa pada masa sekarang. Beruntung Indonesia masih punya Edwin yang peduli hingga lahirlah film ini.

05 July 2009

LABIRIN LAZUARDI: LANGIT MERAH SAGA: Come Back yang Tidak Lagi Memukau


Judul:
Labirin Lazuardi: Langit Merah Saga

Penulis:
Gola Gong

Editor:
Ambhita Dhyaningrum

Penerbit:
Tiga Serangkai, Solo, 2007
ISBN 979-33-0514-2

Catatan:
Buat yang seumuran gue dan suka baca-membaca, kemungkinan besar kenal dengan penulis dengan nama samaran Gola Gong dan karya-karyanya. Mulai terkenal dari serial Balada Si Roy di salah satu majalah remaja. Tulisannya segar, berbeda dengan yang pernah ada, dan membumi. Sekalipun tentang petualangan seorang remaja hampir ke seluruh penjuru tanah air, tiap pembacanya seolah ikut menjadi Si Roy dan menjadi saksi langsung bahkan mengalami sendiri petualangan itu.

Tulisan semacam itu yang melekat di kepala dan hati gue waktu mutusin untuk beli buku Labirin Lazuardi ini. Gue liat buku ini bakal menjadi semacam serial seperti Balada Si Roy dulu. Buku ini ngga kedengaran gaungnya. Tapi jaminan nama Gola Gong bikin gue mau beli dan berniat baca buku ini.

Sekalipun bertokohkan seorang anak muda yang dalam proses pencarian jati dirinya, tidak puas dengan keadaan semu dalam gelimang harta, kali ini Gola Gong terjebak dengan cerita yang cenderung menggurui pembacanya, khususnya gue. Lazuardi, si tokoh utama, tidak terasa membumi. Cenderung ‘too good to be true’. Pelarian dari kehidupan semunya terlalu drastis dan terlalu dramatis. Dan kemampuan survival-nya terlalu hebat untuk ukuran pelajar SMA jaman sekarang. Apalagi dia punya latar belakang yang pernah akrab dengan dunia malam dan narkotika.

Mungkin semua ‘pertanyaan’ gue tadi itu bakal dijawab dalam buku selanjutnya. Tapi gue terlanjur tidak berselera lagi untuk melanjutkan membaca petualangan Lazuardi ini. Gue cukup kelelahan membaca cerita yang penuh dengan wejangan/nasihat yang amat sangat verbal. Seperti membaca kutipan dari kitab suci.

Mudah-mudahan Gola Gong cepat sehat kembali supaya mampu berkarya lebih banyak lagi dan lebih baik lagi.

03 July 2009

SANG PEMIMPI: Sekuel yang Lebih Tertata namun Sama Bermakna


Judul:
Sang Pemimpi

Penulis:
Andrea Hirata

Penyunting:
Imam Risdiyanto

Penerbit:
Bentang, Yogyakarta, 2008
ISBN 979-3062-92-4

Catatan:
Gue akui bahwa Andrea Hirata adalah salah satu penulis hebat, sekalipun tidak berlatar belakang penulis. Sekali gue mulai baca buku ini, susah untuk meninggalkannya. Dan kali ini Andrea menyampaikannya dengan lebih tertata dibandingkan buku sebelumnya. Gaya masih tak berbeda. Sentuhannya pun masih sama.

Mungkin pada buku sebelumnya pembaca lebih terharu biru dengan perjuangan anak-anak untuk dapat tetap sekolah. Di buku ini pembaca bakal tersentuh dengan pendewasaan si Ikal dan pergulatannya di dalam dunia dewasa. Tentunya Ikal tidak sendirian dalam menjalani proses itu. Selain sahabat-sahabatnya, Ikal selalu didukung penuh oleh Sang Ayah. Kasih Ayah Ikal tak kalah dengan kasih seorang ibu. Kebanggaan seorang ayah yang membuat Ikal kembali memperteguh diri berjuang demi cita-cita.

Seorang Ikal telah mulai meluaskan pengembaraannya keluar dari Belitong, tapi proses pendewasaannya belum berhenti sampai di situ saja. Pencarian jati dirinya pun terus berjalan. Hanya satu yang tidak berubah: cita-cita.

30 June 2009

PACHINKO ...AND EVERYONE'S HAPPY: ‘Reality Show’ Keluarga Jepang

Judul:
Pachinko
and Everyone’s Happy

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Pemeran:
Kazuko Hayami, Emiko Minami, Ikumi Sugiura, Harry Suharyadi

Plot:
Maki, a young Japanese girl, secretly works as a porn star to get some money for eye surgery. But the story gets out when a neighbour gets a copy of Maki's film and her mother is furious. Maki is urged to quit her job but she refuses to do so and even threatens her mother that she will become a prostitute instead. Their quarrel is not finished when suddenly her grandmother shows up after escaping from a nursing home. She accused her daughter and her grand daughter of conspiring to get rid of her. Unable to cope with the situation at home, Maki runs away and stays with her boyfriend, a foreigner, Rudy, an Indonesian who works in Tokyo. Their relationship isn't approved of by her mother, but for Rudy, Maki is willing to go and work things out with her family. Is Rudy really an honest person? What's Maki's biggest secret that she kept from her mother, grandmother and even Rudy? Is it a lie, is it love or is it just life?

Catatan:
Film ini rilis pada saat gue lagi angin-anginan dengan film Indonesia. Masih belom ‘tune in’ dengan film Indonesia mutakhir pada waktu itu. Jadinya film ini luput dari perhatian gue. Pada beberapa tahun sebelumnya gue secara ngga sengaja nonton dan menyukai film TV Mencari Pelangi (film musikal anak-anak) besutan sutradara yang sama.

Dengan bergulirnya waktu, semakin lama gue semakin tertarik untuk mengikuti perkembangan perfilman Indonesia mutakhir, termasuk mendukung penuh produk-produk legal musik/film Indonesia. Pokoknya gue ngga beli bajakan musik/film Indonesia deh.

Nah dalam kondisi ketertarikan seperti itu, secara ngga sengaja gue liat (dan akhirnya beli sih) DVD Pachinko ini. Jujur aja, nama Harry Dagoe-lah yang bikin gue tertarik. Dan secara fisik kemasan, ini adalah produk DVD Indonesia yang paling bagus waktu itu; sementara yang lain pake kotak plastic item (yang sering bau itu), DVD Pachinko pake model slipcase dengan dudukan DVD-nya pake bahan acrylic. Sayangnya, kejelekan gue kalo beli VCD/DVD pastinya ngga langsung ditonton, disimpen dulu dah. Lebih aneh lagi, gue malah duluan selesai baca buku novelisasi film ini.

Dengan pikiran yang sudah tau banget jalan ceritanya, gara-gara duluan baca novelisasinya, akhirnya ketonton juga filmnya. Lagi-lagi ketidak sengajaan terkait dengan film ini; bener deh, hampir malam di rumah, baru aja pulang dari kantor, nyiapin DVD ini untuk dibawa ke press screening film terbarunya Harry Dagoe, eh DVD-nya malah gue masukin ke DVD ROM PC desktop. Jadilah gue nonton.

Sekalipun dalam ketidak sengajaan, anehnya film ini bisa ‘menjaga’ gue untuk tetep nonton sampai selesai. Padahal secara visual, film ini sederhana banget, muram dan cenderung ngga enak di mata. Apalagi gue udah tau ceritanya.

Buat yang tinggal di Indonesia, khususnya di Jakarta, minimal dalam 3 tahun terakhir ini kemungkinan besar akrab dengan tayangan trend baru di televisi swasta nasional yaitu yang disebut reality show. Dalam banyak ragamnya, yang sedang menarik banyak pemirsa adalah reality show yang terkait dengan keluarga dan sosial. Nah nonton Pachinko ini buat gue rasanya mirip-mirip nonton reality show. Tapi gue sadar juga kalo ini adalah film yang fiksi. Sedangkan reality show yang tayang di Indonesia sebagian udah ketauan dibikin-bikin, alias udah ngga ‘reality’ lagi.

Drama keluarga yang disampaikan di film ini terasa nyata, dan dilengkapi dengan visual yang sederhana itu. Kesannya hanya di-shoot menggunakan handy cam sederhana seperti film-film produksi ‘rumahan’. Gue sama sekali ngga akrab dengan kondisi masyakarat Jepang, tapi jadinya malah tertarik menonton film ini sampai selesai. Belakangan baru tahu juga dari wawancara singkat dengan sang sutradara bahwa ia ingin menyampaikan sebuah realita dari masyarakat Jepang masa kini dengan senyata-nyatanya, tanpa polesan ‘kosmetik’ sedikit pun, tidak seperti film-film Jepang mutakhir.

Film yang terasa nyata ini, hampir aja membuat gue lupa bahwa ini semua hanya sebatas film. Dan rasanya jadi cukup aneh sekaligus mengagumkan karena ada orang Indonesia yang niat banget mau menggarap realita dari bangsa Jepang yang pastinya berbeda secara adat istiadat. Namun sekalipun berbeda, sepertinya Harry Dagoe sudah menemukan semua dasar persamaan seluruh bangsa: kemanusiaan!!

29 June 2009

MEMAHAMI FILM: Cara Sederhana Memahami Film

Judul:
Memahami Film

Penulis:
Himawan Pratista

Editor:
Esthi Damayanti

Penerbit:
Homerian Pustaka, Yogyakarta, 2008
ISBN 978-979-17454-2-0

Catatan:
Beli buku secara ngga sengaja, tapi akhirnya cukup bermanfaat.

Sebenernya berawal dari kebutuhan untuk memahami sebuah film secara teknis. Selama ini gue selalu menempatkan diri sebatas penikmat film saja, tidak lebih. Itu karena gue merasa ngga ngerti banget dengan segala macam teknik yang ada di balik produksi sebuah film.

Liat-liat di toko buku dan membaca ‘janji’ kesederhanaan yang ditawarkan penulisnya, akhirnya beli juga deh bukunya.

Penulis dengan latar belakang pendidikan arsitektur ini dengan jelasnya memaparkan semua hal dasar yang terkait dengan teknis produksi sebuah film. Yang paling penting di sini, dijelaskan secara rinci namun dengan bahasa sederhana satu persatu istilah dalam produksi film.

Yang juga bikin buku ini menarik, sebagai studi kasus penulis memilih film Kill Bill sebagai contoh dan bahan bahasan yang dikaitkan dengan semua materi dalam buku yang telah dibahas sebelumnya.

Buku ini cukuplah sebagai pengenalan yang cukup untuk segala macam teknik dalam produksi film. Tapi buku ini belum memancing ketertarikan gue untuk terjun ke dalam dunia perfilman. Buku baru bisa mendorong gue untuk segera menonton film Kill Bill kembali. Setelah gue memahami Kill Bill dari sudut pandang buku ini, mungkin baru muncul ketertarikan lebih untuk terjun ke perfilman.

07 June 2009

RASA: Banyaknya Ide dalam Keterbatasan



Judul:
Rasa

Sutradara:
Charles Gozali

Penulis Naskah:
Charles Gozali, Steve Benitez, Samantha Aguilar, Hilman Hariwijaya

Para Pemeran:
Christian Sugiono, Pevita Pearce, Wulan Guritno, Steve Benitez, Samantha Aguilar, Sarah Benitez, Joe Taslim, Alex Komang, Ray Sahetapy


Catatan:
Gue ngikutin film ini sejak awal sekali. Gue sempet hadir di acara slametan pra produksinya atas undangan salah satu aktornya yang gue kenal dari filmnya sebelum ini. Kesan awal ngedengerin sutradaranya cerita tentang produksi film ini, jujur gue bingung. Yang gue tangkap dari obrolan waktu itu, sutradaranya lebih focus dalam pemasaran filmnya. Gue ngga banyak pertanyaan sih, waktu itu sebatas menyimak semua yang diceritain sutradaranya. Sedangkan untuk filmnya sendiri gue belom dapat gambaran yang jelas dan utuh. Yang bikin gue seneng waktu itu diundang untuk bisa hadir pas shooting.

Ga tau karena ngga jodoh ato gimana, pas shooting hari pertama gue ngga bisa hadir. Yah gitulah kalo masih kerja kantoran, kesempatan nongkrongin langsung shooting film malah ngga jadi. Merasa ngga enak juga sih. Selain karena janji, gue termasuk pendukung film Indonesia. Sekalipun masih belom yakin dengan produksinya, karena obrolan di slametan produksi tempo hari, tapi gue mau banget liat produksi film Indonesia secara langsung. Mumpung gue kenal dengan aktor dan sutradaranya.

Produksi filmnya terus berjalan dan gue ngga pernah sempet ngikutin langsung prosesnya. Duh, emang pas banget sibuk dengan kerjaan kantor yang sampai bikin gue musti ‘disekap’ supaya bisa konsentrasi penuh. Di antara itu sempet juga sih saling kontak. Gue coba membantu dengan apa yang gue bisa dari ‘jarak jauh’ sambil terus coba cari tahu banyak tentang film ini.

Sampai akhirnya gue dapat kabar langsung dari sutradaranya bahwa produksi filmnya sudah masuk tahap akhir. Kebeneran banget kerjaan kantor lagi agak longgar. Akhirnya gue mampir juga ke kantor Magma Entertainment yang ngga jauh dari kantor gue.

Di kantor Magma, gue ngeliat langsung bagaimana mereka bekerja. Waktu itu mereka sedang merencanakan startegi promosi film Rasa ini. Banyak hal yang gue simak waktu itu.

Setelah selesai meeting promosi, Charles Gozali secara eksklusif ngasi liat trailer Rasa dalam 2 versi secara khusus di dalam ‘sanctuary’nya. Gue disuruh komentar yang jujur untuk kedua versi trailer itu. Gue sih berusaha jujur aja. Dan kayaknya sih, versi trailer untuk pasar Indonesia yang bisa kita liat sekarang itu sudah hasil revisi, yang sepertinya hasil masukan dari gue juga :D

Setelah liat trailer, kita lanjut makan siang di kantor. Sambil makan siang, Charles Gozali cerita banyak soal produksi film Rasa. Semuanya diceritain. Semuanya, sampai semua kendalanya juga diceritain, tentunya dengan wanti-wanti ‘off the record’ (berasa jadi wartawan deh gue).

Yang paling menarik dari cerita yang disampaikan, sebenernya Charles dalam film layar lebar pertamanya ini mendedikasikan semuanya untuk kebangkitan film Indonesia menjadi yang bermutu sekaligus komersil. Dia berkaca langsung dengan produksi-produksi film Indonesia di masa lalu yang diproduseri ayahnya yang bermutu baik sekaligus sukses secara komersil, yang salah satunya adalah Perempuan Dalam Pasungan. Charles cukup concern dengan film-film Indonesia mutakhir yang terbagi dalam 2 ‘jenis’: bermutu kurang tapi laku atau bermutu baik tapi nggak laku. Charles kepingin bikin film bagus sekaligus laku. Dalam konsep promosinya, Charles pingin mengajak penonton film Indonesia untuk mengingat lagi bahwa pernah film Indonesia menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Selain dedikasi besarnya, Charles juga mendedikasikan film Rasa untuk salah satu driver di tim produksinya yang meninggal dunia persis setelah produksi selesai. Sang driver ternyata menderita kanker, yang sekalipun dalam keadaan sakit keras, tetap bekerja penuh mendukung produksi film Rasa.

Cerita unik lainnya, adalah seorang pelukis poster film handal yang saat ini sudah kekurangan job karena keahliannya sudah banyak digantikan dengan teknologi. Selain itu beliau juga menderita tremor pada tangannya. Hampir saja beliau menyerah tidak mau melukis lagi. Padahal pekerjaan pelukis poster yang dilakoninya secara turun temurun, beliaulah yang terbaik yang pernah dimiliki keluarganya. Demikian hal yang diakui oleh ayahnya.

Karena kebutuhan dalam produksi film ini, beliau didapuk untuk menjadi pelukis semua lukisan yang ada dalam film Rasa. Awalnya beliau sempat menolak karena kondiri kesehatannya (tremor). Tapi karena dukungan moril dari tim produksi akhirnya beliau mau melakoninya. Belakangan beliau berterima kasih karena bisa berkarya kembali dan karyanya dipakai dalam sebuah produksi film.

Banyak cerita bagus yang disampaikan Charles, tapi ngga sedikit juga cerita yang ‘off the record’ yang diceritakannya. Kedua sisi cerita itu gue inget banget. Tapi jadinya gue kuatir dengan hasil produksi filmnya.

Dan pada press screening kekuatiran gue terbukti.
Rasa jadi film yang melelahkan buat gue. Bukan cuma karena durasinya yang terasa kepanjangan, tapi terasa banget kalo film ini banyak sekali dijejali ide-ide tapi ngga mampu disampaikan dengan baik. Bukannya gue sok karena banyak nonton film yang katanya bagus, tapi film Rasa seperti kumpulan pecahan puzzle yang ngga bisa menemukan tempatnya yang pas. Pecahan puzzle itu seperti berjejal-jejal dan bertumpuk-tumpuk.

Durasinya yang terasa kepanjangan kayaknya mungkin lebih pas kali dibikin berseri sekalian. Mungkin juga karena Charles sebelum ini berpengalaman membesut serial TV. Tapi bisa juga karena sepanjang film, si pembuat cerita berusaha ‘menemukan’ slot cerita yang pas untuk menyatukan semua jejalan/tumpukan ide cerita. Sayangnya sampai akhirnya usaha itu masih belom berhasil.

Tapi dari semua hal yang melelahkan dari film Rasa, gue ngeliat ada beberapa hal yang bisa menjadi nilai positif. Salah satunya adalah akting Wulan Guritno yang cukup enak diperhatikan. Karakter yang diperankan Wulan cukup berhasil menampilkan seorang Ibu yang depresi sekaligus abu-abu dalam menerima bantuan dari orang lain. Sedangkan karakter antagonis yang diperankan Joe Taslim juga cukup natural dengan aksen Bahasa Inggris yang enak dan jelas. Mungkin karena dalam serial TV, Joe sudah berpengalaman sebagai antagonis.

Dan yang paling perlu diberi apresiasi untuk film Rasa adalah usaha memberikan ending yang berbeda dengan kebanyakan ending film Indonesia mutakhir komersil. Selain sebuah twist ending, penulis cerita film Rasa perlu diacungi jempol untuk keberaniannya membuat ending yang tidak biasa.

Sayangnya beberapa hal positif yang gue sampaikan di atas berada di sela-sela kelelahan gue menyaksikan keseluruhan filmnya. Hampir aja gue melewatkan hal-hal itu. Dan dari semua cerita Charles yang ‘off the record’ itu, gue jadi maklum banget kalo film Rasa akhirnya jadi seperti itu.