tag:

27 September 2011

Ritual Mudik Membosankan?

“Bosen deh liat tiap tahun begitu terus!” Itu komentar Ibu saya terhadap ritual mudik yang selalu terjadi di Indonesia setiap tahunnya menjelang Idul Fitri. Beliau memang bukan yang berkepentingan dengan mudik karena beliau bukan pemudik. Beliau memang tidak punya kampung halaman karena sejak lahir ‘terpaksa’ besar dan hidup di Jakarta. Dan saat menikah dengan almarhum Ayah saya pun, Ibu saya ‘terbebas’ dari kewajiban mudik ikut suaminya karena Ayah saya memang tidak khusus membiasakan dirinya untuk mudik saat menjelang Idul Fitri karena satu dan lain hal.

Sejak kecil hingga sekarang, Ibu saya selalu pada posisi sebagai penonton ‘acara’ ritual mudik. Dan beliau adalah penonton yang baik, yang selalu mengikuti perkembangan ritual mudik dari tahun ke tahun. Meski sebatas penonton, tapi beliau pernah cukup aktif memikirkan strategi mudik dan efek turunannya saat di rumah kami masih menggunakan jasa pembantu rumah tangga.

Tetapi yang disebut sebagai ‘membosankan’ dari sebuah ritual mudik menurut Ibu saya adalah segala bentuk keribetan, kehebohan, kesemrawutan yang selalu terjadi setiap tahunnya pada setiap aspek yang menyangkut dengan proses mudik menjelang hari raya. Dan segala bentuk keribetan, kehebohan, kesemrawutan itu tidak pernah berangsur membaik. Jangankan ada terobosan solusi revolusioner untuk mengatasinya, menurut ‘pengamatan’ Ibu saya sebagai penonton, setiap tahunnya semua aspek mudik selalu berangsur memburuk, terutama sarana dan prasarana transportasinya, termasuk pelayanan transportasi massalnya.

“Kenapa sih tetep pada mau ribet mudik kayak gitu?” Nah pertanyaan ini terlontar dari Ibu saya, antara sebel dan/atau sebenernya beliau jatuh kasihan terhadap para pemudik itu. Saya percaya Ibu saya pasti kasihan terhadap para pemudik yang setiap tahunnya rela repot bin ribet untuk melakukan perjalanan yang waktu tempuhnya bisa jadi 3 kali lebih lama dari pada waktu tempuh normal dengan tiket angkutan yang mahal, atau kepada mereka yang niat banget (kalo ngga mau dibilang nekad) mudik memanfaatkan sepeda motor.

Mudiknya sih ngga salah. Pulang adalah hal yang paling menyenangkan bagi setiap manusia normal. Jangankan pulang kampung, pulang ke rumah setiap hari setelah beraktivitas mustinya juga jadi hal yang menyenangkan. “Home is the where heart is” begitu kata orang bijak. Makanya keinginan pulang alias mudik janganlah sampai dibatasi apalagi sampai dilarang. Kalo sampai ada pelarangan mudik pastinya adalah sebuah bentuk pelanggaran hak azasi manusia.

Tradisi mudik pun ternyata juga ada koq di negara maju seperti Amerika Serikat. Masyarakat di Amerika Serikat banyak yang mudik pada masa liburan Thanksgiving dan juga liburan Natal dan menyambut Tahun Baru. Tapi apakah ada yang pernah dengar kalo tradisi mudik di sana seseru mudik di Indonesia? Seru mungkin, tapi ngga semrawut lah.

Kenapa ribet mudik di Indonesia? Kenapa heboh? Kenapa semrawut? Estimasi jumlah pemudik secara Nasional pada tahun 2011 adalah 15,5 juta jiwa dan dari jumlah itu diperkirakan sebanyak 7,1 juta jiwa mudik dari Jakarta. Angka itu selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah 15,5 juta jiwa memang hanya sekitar 6,4 persen dari total 241 juta jiwa penduduk Indonesia. Tapi kalo sejumlah itu bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan dalam waktu 7 hari (dan arus balik pada 7 hari sesudah Idul Fitri), dan apalagi nyaris separuhnya bergerak dari Jakarta, sudah pasti bikin heboh ya.

Sesuai pantauan yang ada, proses mudik terjadi di seluruh Indonesia. Semua kota besar di tiap provinsi di Indonesia pasti mengalami proses eksodus sebagian penduduknya pada saat menjelang Idul Fitri. Tapi mungkin karena nyaris separuh jumlah pemudik Indonesia bergerak mudik dari Jakarta, maka ritual mudik selalu heboh setiap tahunnya.

Dari jumlah 7,1 jiwa pemudik yang akan bergerak dari Jakarta dalam waktu lebih kurang 7 hari, mulai H minus 7 sebelum Idul Fitri, yang mana sebagian besar memanfaatkan jasa transportasi massal yang ‘hanya’ didukung dengan 3 stasiun kereta api (Gambir, Senen, Jatinegara) dan sekitar 5 terminal bus antar kota (Kalideres, Grogol, Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Pulo Gadung). Ngga usah ditanya lagi kepadatan manusia yang berkerumun siap diberangkatkan di masing-masing stasiun kereta dan terminal bus tersebut. Cerita ini masih perlu dilengkapi dengan kepadatan di bandara dan pelabuhan laut, meski tidak seheboh proses mudik via jalur darat.

Lalu lintas yang macet pun selalu berulang, terutama pada ‘gerbang-gerbang’ keluar dari area Jabodetabek. Juga ditambah beberapa ruas jalan utama rute mudik dari Jakarta ke seluruh ujung Pulau Jawa. Dan rute jalan juga dipenuhi dengan beberapa kendaraan pribadi, carteran, sewaan, pinjaman yang ditambah lagi dengan ratusan sepeda motor dan bahkan bajaj! Kepadatan yang ditimpali dengan kehebohan membuat jatuhnya korban jiwa di rute mudik menjadi tak terelakan.

Sebagaimana mudik/pulang, merantau ke kota besar pun tidak boleh dilarang. Setiap orang punya hak untuk mengadu untung di mana pun dia mau. Urusan gagal dan lalu menjadi beban sosial itu hal lain lagi. Nah kira-kira kalo ada 7,1 juta jiwa mudik dari Jakarta, bisa disimpulkan pula bahwa sejumlah itu juga lah penduduk yang merantau ke Jakarta, termasuk keturunannya. Ada apa ya dengan Jakarta?

Menumpuknya perantauan di Jakarta karena kota metropolitan ini memiliki magnet ekonomi yang luar biasa, paling besar di antara kota-kota besar lainnya di Indonesia. Memang Jakarta adalah juga ibukota negara, tapi tidak setiap ibukota negara adalah kota yang padat dengan perekonomian yang berputar kencang. Contoh saja Washington, D.C, ibukota Amerika Serikat yang jauh kalah ramai dibandingkan New York dan Los Angeles. Atau Canberra, ibukota Australia yang jelas kalah ramai dibandingkan dengan Sydney.

Bisa jadi magnet ekonomi Jakarta ini terjadi karena pembangunan ekonomi yang tinggi dan cepat namun tidak merata sampai ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. Silakan dicek saja bahwa semua fasilitas, sarana dan prasarana lengkap ada di Jakarta dan, ini yang paling penting, bermula di dan dari Jakarta. Dengan kelengkapan seperti itu, ngga heran kalo nyaris semua kantor dan pusat bisnis berada di Jakarta.

Saya masih ingat ada satu kawan yang usaha jualan pakaian anak-anak di salah satu ibukota provinsi di Sulawesi yang khusus ‘mengimpor’ barang jualannya dari toko kulakan di Mangga Dua dan Tanah Abang.

Saya juga pernah membaca riwayat perjuangan salah satu band terkenal yang mengirimkankan dua personilnya yang sedikit makannya (supaya irit ongkos dan konsumsi) untuk bersusah payah datang ke Jakarta demi menyampaikan rekaman demo band mereka kepada salah satu label rekaman besar.

Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukkan bahwa Jakarta adalah betul-betul magnet ekonomi yang besar, yang belum ada tandingannya dari kota besar lainnya di Indonesia. Tapi menurut saya jadinya Jakarta sebagai satu-satunya magnet besar ekonomi di Indonesia adalah sebuah kesalahan pembangunan.

Jakarta menjadi seperti itu bisa jadi karena kesalahan pembangunan pada masa rezim Orde Baru yang melaksanakan program pembangunan secara sentralisasi; seluruh Indonesia diberdayakan yang hasilnya ditarik dulu ke pusat pemerintahan, yang nota bene juga di Jakarta, baru kemudian dibagi-bagikan kembali. Selain cara sentralisasi ini tidak berasaskan keadilan, proses pengembalian hasil kembali ke daerah diperparah dengan korupsi yang menggerogoti jalannya dana tersebut. Belum lagi hasil pemberdayaan dari seluruh Indonesia nyata-nyata lebih menyuburkan pembangunan di Pulau Jawa yang kemungkinan karena pulau inilah asal dari sebagian besar penguasa puncak Indonesia pada masa itu. Pulau-pulau lain di Indonesia pun terabaikan.

Memang pada era reformasi setelah rezim Orde Baru tumbang sistem pembangunan sentralisasi digantikan dengan sistem desentralisasi yang diimplementasikan dengan apa yang disebut dengan otonomi daerah. Meski sampai sekarang belum ada hasil yang signifikan dari program otonomi daerah, minimal sudah ada permulaan untuk niatan pemerataan pembangunan.

Dari pembangunan yang merata, saya membayangkan minimal setiap ibukota provinsi memiliki kekuatan ekonomi yang mendekati kedigdayaan ekonomi Jakarta. Dengan begitu, magnet ekonomi Jakarta akan melemah karena terbagi ke ibukota-ibukota provinsi di seluruh Indonesia. Para pengadu nasib pun mungkin sudah tak perlu lagi jauh-jauh mempertaruhkan hidupnya sampai ke Jakarta karena ibukota provinsinya sudah cukup memadai. Lapangan pekerjaan bagi saudara yang asli dari Bandungan tersedia cukup di Semarang, tak perlu lagi berangkat naik bus 8 jam lebih untuk ke Jakarta, misalnya.

Perusahaan-perusahaan asing tidak ragu lagi membuka kantor pusatnya di kota lain selain di Jakarta karena infrastruktur yang tersedia sudah setara dengan yang ada di Jakarta. Pekerjaan sehari-sehari bisa didukung penuh dengan pemanfaatan teknologi informasi yang canggih (meeting via teleconference, misalnya), secanggih yang dimiliki Jakarta (meski yang ada di Jakarta pun belum dimanfaatkan maksimal).

Pemberdayaan putera daerah pun menjadi semakin optimal. Pendidikan beserta fasilitasnya yang lebih baik yang tersedia di seluruh Indonesia menjadikan putera daerah setempat cukup mampu mengelola daerahnya sendiri. Instansi-instansi pemerintah tak lagi perlu mengirimkan/menyebarkan pegawai-pegawainya dari pusat ke seluruh Indonesia untuk berkarir.

Andai itu semua terpenuhi, saya percaya bahwa urbanisasi terjauh hanyalah sampai ibukota provinsi masing-masing. Sekalipun tetap tidak boleh ada larangan untuk mengadu untung di Jakarta, tapi ngapain musti pergi jauh kalau apa yang dihasilkan hanya berselisih sedikit dengan yang dihasilkannya di ibukota provinsinya.

Urbanisasi yang sudah tersebar ke masing-masing ibukota provinsi membuat ritual mudik menjadi lebih longgar dan mudah-mudahan menjadi lebih nyaman. Dan mungkin saja karena lebih dekat, mudik ke kampung halaman tidak lagi perlu ditahan-tahan hanya untuk setahun sekali saja.

Dengan begini pengusaha angkutan massal tidak akan lagi aji mumpung menaikkan tarif tiket mudik setinggi-tingginya memanfaatkan musim mudik, yang seringkali membuat pemudik menguras dalam-dalam tabungan yang dikumpulkannya selama setahun. Pemudik mungkin tak perlu lagi berebutan tiket, mengantri berlama-lama sedari malam di depan loket tiket yang baru buka keesokan siangnya.

Mungkin juga angka kejahatan yang sering terjadi selama Ramadhan menjelang lebaran dapat ditekan karena semakin sedikit perantauan yang frustrasi karena belum punya dana untuk mudik sekeluarga dan berhari raya di kampung halamannya.

Dengan begitu, keribetan, keruwetan, kehebohan dan kesemrawutan ritual mudik di Indonesia setiap menjelang Idul Fitri dapat jauh diminimalisir. Dan Ibu saya tak lagi berkomentar, “Bosen deh liat tiap tahun begitu terus!”

23 May 2011

7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita: Penghormatan Laki-laki Indonesia terhadap Perempuan


Judul:
7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita

Sutradara dan Penulis Naskah:
Robby Ertanto Soediskam

Pelatih Akting dan Editor Naskah:
Eka D Sitorus

Sound Recordist:
Ichsan Rahmaditta

Line Producer:
Kiki Machina

Para Pemeran:
Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Happy Salma, Olga Lydia, Intan Kieflie, Tizza Radia, Tamara Tyasmara, Patty Sandya, Novi Sandrasari, Henky Solaiman, Verdi Solaiman, Rangga Djoned, Tegar Satrya, Revi Budiman, Albert Halim, Bom Bom Gumbira, Achmad Zaki

Catatan:
“Kalo mau bikin film, kasi cerita yang betul-betul kita tau dan mengerti,” begitu kira-kira pernyataan dari kawan saya, sutradara muda yang sedang vakum itu, beberapa tahun yang lalu saat film pertamanya rilis. Pernyataan itu selalu saya ingat-ingat. Dalam berkomentar pun saya ingat-ingat hal itu. Menulis bahasan tentang film pun akan saya tulis dari sudut pandang dan wawasan yang paling saya kuasai. Belum pernah saya membahas film menggunakan sudut pandang teknis perfilman canggih karena memang saya ngga ngerti.

Dari sisi pengetahuan dan pemahaman cerita, tentunya menjadikan film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” sangat menarik karena ditulis dan dibesut oleh seorang laki-laki. Film ini adalah film yang sangat-sangat pro kepada nasib perempuan Indonesia yang memang masih menjadi warga kelas dua di dalam masyarakat negeri ini. Beberapa film Indonesia mutakhir dengan tema sejenis sebelumnya dibuat oleh perempuan. Maka film “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” menjadi sangat istimewa di mata saya.

Saya yang sejak kecil sangat dekat dengan perempuan, merasakan keterkaitan emosi dengan cerita yang dipaparkan dalam film ini dengan begitu lugas tanpa dipanjang-panjangkan. Semua kisah yang dihadirkan tidak mengejutkan saya karena memang seperti itulah potret perempuan Indonesia yang saya tahu sejak kecil hingga sekarang. Perempuan di keluarga saya bernasib lebih beruntung daripada yang dikisahkan dalm film ini, namun saya melihat kenyataan yang sama di sekeliling saya, persis seperti yang ditampilkan di layar.

Itu kaitan emosional saya karena saya ‘duduk mengamati’ keadaan sekeliling saya. Namun film ini bergerak jauh lebih dalam karena mampu menceritakan problema perempuan Indonesia dengan baik, jelas, terbuka, tanpa diperhalus. Ini yang menarik dari sutradaranya yang jelas-jelas lelaki. Bisa jadi film ini adalah hasil pengamatannya selama bertahun-tahun. Tapi emosi yang dituturkan lewat gambar-gambar yang efektif seperti meyakinkan saya bahwa sang sutradara tidak hanya sebatas mengemukakan problema yang dihadapi perempuan Indonesia yang nyaris selalu ditutup-tutupi karena alasan adat dan ketabuan, tetapi film ini juga menunjukkan kecintaan dan penghormatan sang sutradara sebagai laki-laki Indonesia terhadap perempuan.

Sang sutradara seperti menempatkan diri sebagai lelaki yang tidak mau merelakan perempuan Indonesia tak berdaya menerima ‘kodrat’ yang disematkan oleh lingkungan patriarkalnya. Mungkin ini juga mengapa film ini diberi judul yang mengandung kata ‘wanita’ yang terdengar berkelas namun menurut artikel “Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik” malah mengandung arti yang merendahkan dibandingkan dengan kata ‘perempuan’ yang mengandung kata ‘empu’ yang bisa diartikan sebagai ‘orang yang mahir/berkuasa’. Mungkin karena perempuan Indonesia masih dirundung permasalahan yang belum jelas ujungnya, si penulis cerita memilihkan judul yang menggunakan kata ‘wanita’.

Film yang sederhana ini disampaikan dalam bahasa gambar yang juga sederhana, namun apik dan efektif. Tidak semua kisah disampaikan dalam dialog karakter-karakternya yang membuat film ini menjadi semakin terasa nyata. Dalam beberapa adegan, si karakter cukup menyampaikan gesture tertentu untuk menyatakan sesuatu, seperti mungkin ada sesuatu yang disembunyikan tanpa kata-kata terucap atau tanpa overdub suara seolah dari pikirannya.

Penggunaan lokasi yang juga nyata, rumah sakit yang beneran ada di Jakarta, semakin mendekatkan film ini dengan kisahnya yang mengangkat problema dari dunia nyata sehari-hari. Belum lagi kewajaran akting dari aktor-aktor (perempuan dan laki-laki) yang terlibat di dalamnya. ‘Twist’ dalam film ini mungkin terasa kurang masuk akal, namun hal itu malah menjadikan pembeda film ini, yang fiksional, dengan film dokumenter dengan cerita sejenis.

Jajang C Noer yang berperan sebagai dr. Kartini, karakter sentral dalam film ini, untuk pertama kalinya dalam sebuah film layar lebar, namanya dimunculkan paling pertama dalam opening title setelah judul. Mungkin hal ini belum tentu berarti banyak bagi beliau. Tetapi bagi saya, mama rock n’ roll ini sudah selayaknya mendapatkan porsi teratas dalam sebuah film nasional, meski memang tidak pernah luput dari penghargaan terhadap aktingnya dalam beberapa film sebelum ini. Setelah banyak berperan dalam karakter pendukung (supporting roles) dalam banyak film, meski tidak pernah tampil hanya sebatas tempelan, sudah saatnya istri almarhum sutradara handal Arifin C Noer ini dipercayakan memegang karakter paling penting dalam sebuah film. Dan seperti ‘biasa’nya, Jajang selalu mampu menampilkan akting yang mumpuni tanpa pernah terlihat dan terasa sedang berakting. Di beberapa adegan di film ini saya seperti melihat selipan karakter Jajang yang asli, yang rock n’ roll, meski tetap dalam ‘koridor’ karakter seorang dokter ahli kandungan. Dan yang juga menarik, akting Jajang yang asyik tidak berarti jadi menutup akting dari aktor-aktor lainnya. Akting Jajang nggak hanya berimbang dalam adu akting dengan Henky Solaiman yang sama-sama kawakan, tetapi Jajang juga mampu tampil ‘enak’ berhadapan dengan aktor-aktor muda pendukung lainnya.

Dari judulnya sudah bisa disimpulkan bahwa film ini tidak hanya menampilkan 2 karakter saja dalam sepanjang durasi tayangnya. Minimal ada 7 karakter perempuan yang ditampilkan. Semua karakter perempuan yang ada pasti beradu akting langsung dengan Jajang C Noer dan juga dengan karakter pendukung lainnya. Semua aktor yang terlibat mampu menampilkan akting yang cukup baik. Tapi dari sekian karakter perempuan yang ada, selain karakter dr. Kartini, tercatat 2 aktor yang cukup mencuri perhatian saya yaitu Happy Salma sebagai Yanthi si PSK dan Intan Kiefli sebagai Ratna si istri yang soleha.

Aura seksi seorang Happy Salma, yang selalu mampu membuat saya berdebar-debar melihatnya meski dia memakai busana yang paling sopan sekalipun, mampu tereksplorasi dengan maksimal ditambah dengan celotehan karakter Yanthi yang khas celotehan warga Jakarta yang sering mangkal sebagai penjaja seks. Happy yang saya tahu selalu santun dalam berbahasa, yang juga mampu berpuisi dalam beberapa kesempatan, kali ini menghidupkan karakter Yanthi dengan gaya bicaranya yang vulgar tanpa tedeng aling-aling. Namun Yanthi yang keras hati karena tertempa kehidupan malam setiap harinya digambarkan mampu juga luluh karena ketulusan cinta seorang Bambang yang selalu setia mengantarkannya. PSK juga manusia.

Ratna yang sedang hamil tua, dengan baik ditampilkan oleh Intan sebagai istri yang setia, patuh dan selalu berprasangka baik terhadap Marwan suaminya. Intan, yang aslinya memang berkerudung, mampu menampilkan karakter Ratna sebagai istri yang mengabdi dan tegar menerima kodratnya yang mewajibkannya terus melayani sang suami meski dalam lelah bekerja sebagai buruh jahit dengan kondisi hamil besarnya. Kondisi hamil dan lelah juga tidak menyurutkan kasih Ratna kepada suaminya yang sering pulang dengan tangan hampa meski katanya baru selesai kerja lembur.

Namun Intan juga mampu optimal menampilkan karakter Ratna yang sedang terhempas ke dasar jurang kecewa. Didukung dengan skenario dengan dialog-dialog yang efektif, Intan ‘menyampaikan’ Ratna yang sedang kecewa dengan amat sangat manusiawi. Kemarahan Ratna tergambar sangat mengguncang saya. Adegan keruwetan Ratna bersama Rara, adik Ratna, dalam mikrolet itu merupakan puncak film ini buat saya. Adegan itu sukses membuat saya sangat bersimpati terhadap Ratna yang sedang kecewa sedalam-dalamnya namun tetap berani mengambil keputusan besar dalam kondisinya yang hamil tua dan tetap harus mengayomi Rara.

Keseluruhan gambaran utuh film ini mungkin saja menohok kesadaran sebagian penontonnya. Bisa saja sebagian menganggap problema yang terpapar adalah sesuatu yang dibesar-besarkan oleh filmmaker-nya. Mungkin juga sebagian lagi menyangkalnya. Tapi saya berharap munculnya kesadaran membuka mata lebih lebar terhadap permasalahan yang dihadapi perempuan di Indonesia. Niatan menyajikan kisah problematika perempuan Indonesia dari seorang filmmaker laki-laki seperti Robby Ertanto dalam film ini makin mengharukan saya. Bentuk tertinggi dari kecintaan terhadap sesuatu adalah memberikan penghormatan yang setinggi-tinggi, sama seperti yang dilakukan Robby Ertanto terhadap perempuan melalui filmnya ini.

27 January 2011

Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia terhadap Film dan Perfilman Indonesia

movie wall flickr



Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia
terhadap Film dan Perfilman Indonesia


Produksi film Indonesia semakin meningkat berpuluh kali lipat per tahunnya dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Namun apresiasi penontonnya merosot jauh, tidak berbanding lurus dengan jumlah film Indonesia yang tayang nasional di bioskop-bioskop.

Banyak hal yang bisa saja dipersalahkan atas menurunnya apresiasi penonton film terhadap film dan perfilman Indonesia. Beberapa di antaranya adalah: (1.) penurunan mutu produk film Indonesia; (2.) distribusi film Indonesia yang tergantung kepada 1 distributor saja; (3.) masih kurangnya jumlah layar bioskop untuk tayang film Indonesia; (4.) pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop; (5.) tema film Indonesia yang nyaris seragam; (6.) film Indonesia terlanjur mendapat stigma buruk dari sebagian penonton film di Indonesia; (7.) bajakan film yang melimpah, dan masih banyak lagi.

Dari hal-hal yang disebutin di atas itu hampir semuanya di luar kendali pelaku/pekerja film karena solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa negeri yang sebenarnya mendapat cukup pemasukan dari pajak dan cukai yang terkait dengan produksi film dan distribusinya.

Kalau kita berkutat berusaha mencari solusi untuk hal-hal yang di luar kendali tentunya bakal lebih banyak menguras energi. Dan untuk hal-hal yang solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa, mudah-mudahan kita semua masih bisa berharap akan adanya perbaikan seandainya nanti ada perubahan/pergantian rezim.

Di era informasi yang sangat terbuka seperti sekarang terpantau begitu menjamurnya komunitas penikmat film yang tersebar dan terus berkembang dalam dunia maya, mulai dari penonton film karena ‘rajin’ celingak celinguk di mall, penikmat film yang getol memantau perkembangan film mulai dari proses pre-production-nya, sampai penikmat film ‘tingkat tinggi’ yang asyik dengan film-film art-house non mainstream. Informasi dan diskusi dalam komunitas-komunitas penikmat film itu mampu menggiring kita untuk tidak lagi memperhatikan media-media informasi film yang konvensional seperti majalah cetak/online dan site bioskop online.

Namun dari jumlah yang banyak ternyata masih sedikit sekali yang merupakan penonton film Indonesia yang baik. Indikasi yang paling mudah adalah dari sedikitnya penonton yang menonton film Indonesia di bioskop-bioskop. Sedikitnya penonton yang datang di gedung bioskop juga disebabkan karena pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop-bioskop yang memiliki 2 sisi yang berlawanan; di satu sisi film Indonesia harus segera turun layar, istilah lain dari ‘dicabut dari peredaran’, karena dianggap sepi penonton dan terdesak film Indonesia lainnya yang antri untuk rilis di minggu berikutnya, di sisi lain film Indonesia mungkin belum sempat didatangi penontonnya karena terlalu pendek masa tayangnya di bioskop. Penonton film Indonesia masih perlu disodori banyak-banyak informasi mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang di bioskop. Andai film Indonesia punya masa naik layar lebih lama, mungkin jumlah penonton yang hadir di bioskop bisa lebih banyak lagi.

Kemungkinan besar setelah ‘lengser’nya film Indonesia dari posisi ‘tuan rumah di negerinya sendiri’, buruknya film dan perfilman Indonesia masih menjadi stigma yang melekat di kepala sebagian besar penikmat film di Indonesia. Masih sering terdengar cemoohan apatis, “apa sih bagusnya film Indonesia?!” Apabila kita coba mengambil contoh dari 82 judul film Indonesia yang rilis nasional sepanjang tahun 2010, yang ternyata layak dikategorikan sebagai film yang baik tidak sampai 20 judul, bisa menjadi ‘permakluman’ atas cemoohan tadi.

Nyaris ngga beda dengan perdebatan ‘mana lebih dulu telur atau ayam’, mengharapkan perbaikan revolusioner terhadap perfilman Indonesia sepertinya masih jauh dari kenyataan dan masih akan berputar-putar di permasalahan yang itu-itu saja tanpa sampai ke solusinya. Sedangkan karya film sebagai suatu karya seni budaya tetap perlu ditonton untuk diapresiasi. Keputusan produser untuk segera merilis filmnya ke dalam format home video (VCD/DVD) supaya bisa menjangkau penonton lebih luas yang tidak terjangkau gedung bioskop (termasuk logika yang salah mengenai peruntukan format home video dari sebuah film), ternyata selain merusak bentuk apresiasi film yang optimal dilakukan di bioskop, juga malah membuka celah pembajakan terhadap film itu sendiri.

Penonton yang katanya lebih terdidik tentang film, khususnya film-film produksi Amerika dan Eropa, ternyata sedikit sekali yang mau ‘menurunkan level pendidikan filmnya’ apabila bersinggungan dengan film-film Indonesia. Mereka masih terlalu tinggi dalam mengekspektasi sebuah karya film Indonesia. Mungkin sebagian dari mereka lupa bahwa film adalah juga bagian dari kebudayaan sebuah bangsa yang pastinya unik dan berbeda dengan kebudayaan bangsa-bangsa lainnya.

Ekspektasi dan selera memang sulit untuk diukur dengan pasti. Tapi dengan banyaknya komunitas penikmat film yang bertebaran itu mungkin masih bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang. Dengan informasi yang banyak itu paling tidak sedikit mampu ‘mengarahkan’ ekspektasi yang bakal muncul sebelum menentukan pilihan dan menyaksikan filmnya.

Ada juga gejala aneh dari sebagian penonton film: dengan informasi yang ada malah jelas-jelas memilih film Indonesia yang dikategorikan ‘kelas B’ (atau bahkan mungkin C atau D) sebagai hiburan. Mungkin di satu sisi film semacam itu bisa dianggap sebagai hiburan (meskipun hiburan yang absurd menurut gue), tapi dari sisi produksi film Indonesia yang serius dan sungguh-sungguh, gejala ini bisa menjadi kontra produktif bagi perfilman Indonesia karena produser film-film kategori kelas B ke bawah akan tetap giat berproduksi dengan claim bahwa filmnya tetap ditonton di bioskop. Lebih baik serahkan saja ‘apresiasi’ film-film semacam itu kepada media-media berita hiburan, karena dengan hadirnya kita menonton film semacam itu di bioskop sama saja dengan mendukung produksi filmnya.

Memang ada juga pernyataan dari salah satu pekerja film Indonesia bahwa tidak bisa berharap banyak dari komunitas penikmat film dari segi jumlah penonton, meski mendapatkan tanggapan yang positif dalam bahasan dan diskusi sebelum peluncuran, tetap saja belum bisa mendongkrak pembelian tiket di bioskop dalam masa tayang yang pendek itu. Yang agak terlihat seru ‘apresiasi’nya biasanya hanya di ajang nonton bareng gratis yang juga bagian dari promosi.

Mungkin saat ini jumlah penonton masih belum bisa dijadikan indikasi tingginya apresiasi, meski cukup menentukan balik/tidaknya ongkos produksi. Langkah yang paling cukup jelas bisa dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian (awareness) terhadap film dan perfilman Indonesia. Cara praktisnya dengan terus menyediakan informasi sebanyak-banyak tentang film Indonesia, baik itu film yang akan/sedang tayang di bioskop dan juga informasi film Indonesia klasik yang pernah jaya pada jamannya.

Komunitas-komunitas penikmat film yang pada dasarnya bergerak secara independen mestinya mampu menggalang gerakan kepedulian terhadap film dan perfilman Indonesia, minimal dengan secara berkala mengadakan nonton bareng film Indonesia yang bermutu langsung ke bioskop (ngga nunggu bajakan atau donlotan atau versi online-nya). Kepedulian sekecil apa pun terhadap film Indonesia mampu memberi nafas bagi pekerja film Indonesia untuk terus berkarya dan meningkatkan karyanya.