Judul itu bukan untuk mempertanyakan, tapi saya pilih untuk memancing keterbukaan pemikiran saja. Tulisan ini mungkin lebih tepat saya kategorikan sebagai curhat pribadi saya mengenai menelepon sambil berkendara, khususnya menelepon sambil mengendarai mobil.
Urusan mengendarai mobil, saya termasuk terlambat. Kalo ngga salah hitung baru 2 kali lebaran ini saya aktif mengendarai mobil, sekalipun sudah sejak kelas 2 esema (1992) saya sudah memiliki SIM. Dan dalam kurun waktu nyaris 15 tahun itu saya banyak memperhatikan gaya berkendara dari beberapa orang yang secara rutin saya ikuti (baca: tebengin) di antara kurun waktu itu. Dan yang paling nyaman adalah masa di mana ponsel masih belum memasyarakat, tidak seperti dalam 5 tahun belakangan ini.
Iya tuh, sejak ponsel memasyarakat, kebiasaan berkendara di jalan raya menjadi semakin kacau. Tapi sebenernya kalo melihat pengalaman saya sendiri, ngga perlu kita melihat kekacauan itu di jalanan. Itu terlalu ‘jauh’. Saya mengalami kekacauan itu dari dalam mobil yang saya tumpangi.
Selama saya belum mahir dan aktif berkendara mobil, rekan saya, si pemilik mobil, sejak awal adalah orang yang paling aktif menggunakan ponselnya di manapun dan kapanpun, termasuk pada saat berkendara. Dalam 5 tahun terakhir saja ponselnya menjadi 3 unit yang aktif semua! Dan sayangnya beliau tidak terlalu aware dengan kemajuan teknologi pendukung bertelepon yang namanya handsfree. Dan satu lagi, beliau juga gaptek dengan inovasi jaringan ponsel yang disebut divert call. Bisa anda bayangkan ketiga unit ponsel milik beliau aktif dalam waktu yang bersamaan dan ketiganya memanggil (calling)! Memang tidak semua panggilan itu beliau terima, jelas tidak mungkin. Tapi coba anda bayangkan lagi gimana beliau dengan aktifnya menjawab panggilan dari ponsel yang satu dan membalas pesan singkat (sms) di ponsel lainnya, sementara ponsel satunya lagi berdering-dering minta dijawab juga!
Mungkin di Jakarta pada rush hour (pagi dan sore) lalu lintasnya padat dan memungkinkan sekali untuk menjawab panggilan telepon di antaranya. Tapi kemacetan di jalan raya kan tidak selamanya berhenti total yang memungkinkan kita fokus untuk menjawab panggilan telepon. Pastinya di antara kemacetan itu ada kemungkinan kendaraan bergerak sedikit demi sedikit. Tentunya fokus berkendara menjadi terpecah saat menerima telepon.
Dan ternyata aktivitas tinggi beliau dalam bertelepon tidak melihat kondisi lalu lintas padat saja. Dalam berkendara di jalanan yang lancar pun beliau memaksa diri untuk tetap bisa bertelepon, bahkan tidak jarang juga membalas sms.
Tidak perlu dilihat dari luar untuk menilai ‘kekacauan’ yang dilakukan beliau dalam berkendara (sekalipun saya akui beliau amat sangat mahir dalam mengendarai mobil), saya yang hampir setiap hari, pagi dan sore bersama beliau merasakan ketidaknyamanan yang sangat. Tidak perlu sampai kondisi beliau mulai kehilangan fokusnya dalam berkendara, cukup dengan melihat beliau aktif menjawab semua panggilan ponsel dan membalas sms saja sudah bikin saya nyaris mual dan mulai muak.
Kalo dibilang bertelepon sambil berkendara bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain, menurut pengalaman saya hal itu tidak semata-mata membahayakan secara fisik saja tapi juga mengganggu kondisi psikologis, khususnya mengganggu kondisi psikologis saya.
Selain aktivitas bertelepon yang mengganggu, saya juga merasa bahwa penelepon yang berlama-lama menelepon beliau di sepanjang perjalanan berkendara adalah manusia hidup yang tidak beretika! Mohon maaf, sekalipun saya juga kenal dengan orang yang menelepon itu adalah orang yang sehari-harinya saleh, ternyata dia itu tidak cukup mengerti etika dalam berkomunikasi, khususnya dalam komunikasi bertelepon.
Sekalipun mungkin sekali dia berlogika bahwa yang ditelepon itu harusnya memanfaatkan teknologi handsfree, tapi menurut logika dan pengalaman saya penggunaan handsfree hanya sedikit mengurangi pecahnya fokus dalam berkendara. Dan parahnya, dia itu malah membahas sesuatu atau bahkan curhat via telepon di sepanjang perjalanan dalam kemacetan itu (kali ini saya yang tidak beretika karena mencuri dengar percakapan orang lain). Saya juga terganggu dengan hal ini. Apakah tidak bisa menunggu waktu yang lebih pas setelah orang yang dituju sudah tiba di tempat supaya bisa leluasa melakukan pembahasan? Bisa kan untuk lebih punya etika dengan segera memutus percakapan begitu tahu orang yang dituju sedang berkendara?! Kalo di tempat tujuan kuatir malah jadi tidak leluasa membahas, itu lain lagi persoalannya.
Di negara-negara lain sudah banyak dibuatkan dan diterapkan aturan dengan sanksi keras untuk yang bertelepon sambil berkendara, bahkan di beberapa negara ada yang menerapkan larangan bertelepon sambil berkendara sekalipun sudah menggunakan handsfree! Di Indonesia, aturan bertelepon sambil berkendara baru saja mulai disosialisasikan. Tapi sebagaimana sudah menjadi ‘budaya’ dan ‘ciri khas’ masyarakat Indonesia (termasuk golongan elit dan pejabatnya) aturan yang berlaku hanya sebagai aturan saja selama kebiasaan, kelakuan bodoh dan merusaknya tidak diubah mulai dengan kesadaran masing-masing individunya.
11 February 2010
15 January 2010
NEW YORK, I LOVE YOU: It is New York, It IS Love
Title:
New York, I Love You
Directors:
Fatih Akin, Yvan Attal, Allen Hughes, Shunji Iwai, Wen Jiang, Joshua Marston, Mira Nair, Brett Ratner, Randall Balsmeyer, Shekhar Kapur, Natalie Portman
Writers:
Hall Powell, Israel Horovitz, James C. Strouse, Shunji Iwai, Israel Horovitz, Hu Hong, Yao Meng, Israel Horovitz, Scarlett Johansson, Joshua Marston, Alexandra Cassavetes, Stephen Winter, Jeff Nathanson, Anthony Minghella, Natalie Portman, Fatih Akin, Yvan Attal, Olivier Lécot, Suketu Mehta
Casts:
Bradley Cooper, Natalie Portman, Shia LaBeouf, Blake Lively, Ethan Hawke, Justin Bartha, Orlando Bloom, Anton Yelchin, Hayden Christensen, Christina Ricci, Rachel Bilson, John Hurt, Robin Wright Penn, James Caan, Eva Amurri, Maggie Q, Drea de Matteo, Julie Christie, Andy Garcia, Chris Cooper, Qi Shu, Cloris Leachman, Eli Wallach, Olivia Thirlby, Jacinda Barrett, Burt Young, Taylor Geare, Irrfan Khan, Ugur Yücel, Emilie Ohana, Ashley Klein, Sinsu Co, Eliezer Meyer, Gary Cherkassky, Richard Chang, Jordann Beal, Cesar De León, Carlos Acosta, Gurdeep Singh, Amy Raudenbush, Juri Henley-Cohn, Jeff Chena, Eddie D'vir, Robert d Scott, Vedant Gokhale, Loukas Papas, Simon Dasher, Adam Moreno, Andy Karl
Plot:
In the city that never sleeps, love is always on the mind. Those passions come to life in NEW YORK, I LOVE YOU (rendition of 2006 PARIS, JE T'AIME) - a collaboration of storytelling from some of today's most imaginative filmmakers and featuring an all-star cast. Together they create a kaleidoscope of the spontaneous, surprising, electrifying human connections that pump the city's heartbeat. Sexy, funny, haunting and revealing encounters unfold beneath the Manhattan skyline. From Tribeca to Central Park to Brooklyn, the story weaves a tale of love as diverse as the very fabric of New York itself.
Note:
Gue paling jarang nonton film bergenre cinta romantis. Terakhir kali gue nonton film semacam itu adalah New Moon, itu pun karena nemenin Istri …..hehehehe. Dari sedikit film sejenis yang gue tonton, hanya beberapa yang boleh gue bilang beneran menyentuh hati; di antaranya Sleepless in Seattle, Moulin Rouge, Baz Luhrmann’s Romeo + Juliet dan City of Angels.
Kali ini gue malah ‘disodori’ kisah cinta yang banyak sekali dan hanya di kota New York. Dan kali ini pula gue semakin disadarkan bahwa yang namanya cinta itu luas sekali dan banyak sekali jenisnya! Dalam New York, I Love You gue menyaksikan kebesaran cinta justru dalam kesederhanaan sehari-hari.
Mungkin banyak yang belom kenal dengan budaya dan keseharian dari kota New York. Mungkin justru lebih banyak yang kenal dengan kerasnya kehidupan kota New York yang berjulukan ‘city that never sleeps’. Tapi dalam film ini tergambar kota New York dengan ciri ‘melting pot’nya yang menyentuh hampir semua sisi kehidupannya dari sudut pandang cinta. Ngga salah kalo dalam film ini beberapa di antara filmmaker-nya (sutradara dan penulis skenario) bukanlah ‘asli’ Amerika Serikat, melainkan dari India, Taiwan, China, Turki kelahiran Jerman, Israel dan Jepang!
Cinta di film ini ngga selalu digambarkan hanya untuk dua insan yang sedang jatuh cinta. Dengan cukup realis setiap cerita dalam film ini menggambarkan cinta yang bisa saja hadir dalam keseharian; persahabatan, cinta orang tua kepada anaknya, selingkuh, cinta pasangan lanjut usia, twist cinta sepasang suami istri, bahkan kisah bintang tua yang kehilangan cinta. Semuanya tidak digambarkan menjadi kisah dongeng yang semua tokohnya live happily ever after, tapi semua karakter dalam film ini tetap merasakan indah dan bahagia (dan menjadi bahagia) dalam cinta. Tidak ada yang ‘ideal’ dalam film ini, tapi ketidak sempurnaan keseharian malah membuat film ini menyentuh sekali; gue diajak terharu (tapi ngga termehek-mehek dan termewek-mewek), tertawa, kagum dan juga bersimpati.
Sepertinya proses pembuatan film ini juga berjalan di dalam cinta. Bahkan Brett Ratner, yang terkenal dengan karya film-film action-nya, menunjukkan sisi pribadinya yang lain. Dan dari deretan nama-nama penulis skenario ada Scarlett Johansson yang mana di film ini adalah debutnya sebagai penulis. Film ini betul-betul menyampaikan cinta sebagai universalitas tak terbantahkan dalam semua sisi kehidupan. Semua kisah dalam film ini terjalin menjadi utuh sehingga menjadikan kota New York sebagai ‘Cinta’ itu sendiri.
07 January 2010
‘Semuanya’ Ada di RUMAH DARA

Judul:
Rumah Dara
Sutradara:
Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers)
Penulis:
Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers)
Para Pemeran:
Ario Bayu, Shareefa Daanish, Julie Estelle, Ruly Lubis, Daniel Mananta, Mike Muliadro, Arifin Putra, Dendy Subangil, Imelda Therinne, Sigi Wimala
Plot:
Pasangan pengantin baru, Adji dan Astrid beserta 3 sahabat mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar kota untuk mencoba mendamaikan kembali Adjie dengan adiknya Ladya, yang tak pernah lagi berkirim kabar setelah kematian orang tua mereka.
Perjalanan ke sana terhenti ketika seorang gadis cantik bernama Maya muncul di depan mobil mereka. Terlihat cemas dan linglung, gadis cantik ini mengiba kepada mereka: “Nama saya Maya… Saya baru saja dirampok.”
Mereka memutuskan untuk menolong Maya dengan memberi tumpangan ke rumahnya yang menyerupai benteng tua di daerah terpencil. Sekilas semua tampak baik-baik saja ketika mereka diundang masuk. Mereka pun ikut makan malam, dilayani seorang sosok keibuan yang misterius bernama Dara, yang juga seorang ahli masak yang hebat.
Disinilah kebaikan hati dan maksud baik menjadi awal bencana di hari yang kelam ini, tak menyadari bahwa keputusan mereka untuk mengantar Maya pulang akan menjadi sebuah katalis berdarah dalam hidup mereka. Tanpa mengetahui apa sebab dari kekejaman dan kematian yang terjadi disekitar mereka, 6 orang harus berjuang untuk kabur dari para penghuni rumah yang sepertinya memang dilahirkan untuk membunuh. Malam yang begitu kelam itu belum pernah terlihat begitu merah.
Catatan:
Gue termasuk yang beruntung punya kesempatan menyaksikan film ini dua kali sebelum nantinya tayang luas di Indonesia mulai Januari 2010. Kesempatan pertama kali menyaksikan film ini adalah kesempatan yang paling ‘mahal’! Gue sebut 'mahal' karena itulah saat pertama kali film ini tayang di bioskop Indonesia dan dalam versi yang bersih dari ‘campur tangan’ LSF (versi tayang Singapore dengan judul ‘Darah’). Gue ngga tau persisnya, tapi mungkin versi itulah yang boleh disebut sebagai versi International Cut.
Kesempatan menyaksikan film ini untuk yang kedua kalinya jelas tidaklah ‘semahal’ kesempatan pertama. Tapi cukup ‘menarik’ untuk disaksikan kembali karena gue pribadi merasa ‘penasaran’ seperti apa film ini setelah mendapat ‘persetujuan’ dari LSF. Dan hasilnya ternyata semua sensor dan cut yang dilakukan tidak mengganggu tuturan dan urutan cerita. Tapi pastinya beberapa adegan yang lumayan ‘menghibur’ jadi hilang terbuang, termasuk salah satu adegan yang menggunakan efek make up khusus yang untuk pertama kalinya berhasil dimaksimalkan untuk ukuran film Indonesia mutakhir.
Gue bukan salah satu dari banyak penggemar film-film slasher semacam Rumah Dara. Bahkan gue bukan salah satu penggemar film-film horror! Tapi bukan berarti gue penakut loh! Tapi jujur aja, sebenernya gue selalu penasaran dengan film-film horror yang pernah ada (termasuk semua genre ‘turunan’nya, seperti slasher). Jadinya sedikit banyak gue juga menyimak film-film jenis ini, sekalipun sebatas hanya film-film yang terkenal saja. Bahkan gue udah pernah nonton Cannibal Holocaust secara penuh! Sebenernya film itu salah satu ‘film’ masa kecil gue; waktu jamannya video baru booming gue ngga sengaja nonton sepotong film itu pas diputer Alm. Bokap di kamarnya.
Nah dari hasil menyimak film-film sejenis, gue menemukan bahwa Rumah Dara memang dibuat menggunakan ‘template’ film slasher. Semua unsur yang hampir selalu ada dalam setiap film slasher ditampilkan dalam Rumah Dara. Sebutin aja unsur-unsur itu; casts yang enak dilihat mata, lokasi yang terpencil dari ‘peradaban’, kelakuan antagonis yang misterius, penggoda, komunitas tersembunyi, pelarian yang salah arah, darah yang menyembur dan membanjir, point of view kamera yang ekstrim, adegan menebas/menyayat/memotong yang brutal dan ngga ketinggalan adegan seks!
Ngga ada yang orisinil di film ini. Bahkan beberapa adegan mungkin pernah ada di film-film slasher terdahulunya (tentunya film slasher produksi Eropa dan Amerika). Tapi seperti yang pernah salah satu sutradara Indonesia kenalan gue bilang bahwa setiap cerita sekarang pasti dulunya pernah ada yang menceritakan hal yang sama, jadi orisinalitas udah jadi ‘barang’ langka. Yang lebih penting adalah bagaimana sekarang cara kita mengemas dan menyampaikan cerita itu.
Poin plus dari Rumah Dara adalah dalam mengemas tema slasher yang sudah ‘umum’ seperti ini, Mo Brothers masih sempat menyisipkan cerita yang sangat khas Indonesia. Gue yakin setiap orang yang nonton adegan cerita itu bakalan setuju kalo adegan itulah yang sangat-sangat Indonesia.
Dari semua adegan dalam film ini, adegan Daniel Mananta dan Dendy Subangil teriak-teriak putus asa dalam keadaan terikat selalu bikin gue merinding sekaligus sesak nafas sekalipun gue udah dua kali nonton. Gue melihat mereka seperti beneran dalam kondisi putus asa sampai seolah-olah gue ikutan merasakannya. Gue merasa mungkin bakal seperti itulah kalo gue sedang merasakan ketakutan ato putus asa yang amat sangat. Jadinya gue malah penasaran seperti apa Mo Brothers mengarahkan mereka sampai bisa meyakinkan seperti itu.
Dan semuanya itu terjawab setelah gue dapet kesempatan singkat untuk nanya-nanya hal itu ke Dendy Subangil. Dia dengan ‘senang hati’ cerita bahwa pada awalnya para sutradara itu (ya ‘para’ lah, kan ‘brothers’) mengarahkan kepada Dendy dan Daniel untuk berakting putus asa, itu aja. Cukup sederhana kan?! Tapi ternyata proses pengambilan gambar untuk adegan itu memakan waktu sampai belasan jam. Dan mereka, Dendy dan Daniel, dalam sebagian besar waktu pengambilan gambar itu ‘wajib’ stand by dalam keadaan tetap terikat! Apa yang akhirnya kita liat dalam film, selain akting, juga merupakan akumulasi keputus asaan menunggu kapan selesainya pengambilan gambar adegan itu; “ngga selesai-selesai sih syutingnya??”
Buat yang suka dengan si ganteng Arifin Putra (padahal aktor-aktor cowok di film ini sebagian besar ganteng-ganteng juga loh!), siap-siap untuk semakin mengaguminya! Arifin tampil jauh berbeda dari semua penampilannya di film-film sebelum Rumah Dara. Kharisma karakter Adam sukses ditampilkan Arifin dengan penuh gaya; stylish robotic zombiesque bone-crusher, kalo boleh gue bilang. Kharisma Adam nyaris menyaingi kharisma Ibu Dara!
Ending film ini yang multi tafsir semakin melengkapi ‘template’ film horror/slasher yang ditampilkan dalam film ini. Semuanya ada di Rumah Dara. Sekalipun begitu, toh film-film sejenis tetap punya penggemarnya. Dan semuanya terserah penilaian masing-masing penontonnya. Yang pasti Rumah Dara sudah berani tampil sebagai film slasher Indonesia pertama dengan efek visual yang paling realistis.
Subscribe to:
Posts (Atom)