tag:

10 Juni 2010

MELODI: Kritik Sosial dalam Balutan Keceriaan Anak-anak



Judul:
Melodi

Sutradara:
Harry Dagoe Suharyadi

Skenario:
Harry Dagoe Suharyadi

Para Pemeran:
Emir Mahira, Nadya Amanda, Yasamin Jasem, Tengku Wikana, Daus Separo, TJ Extravaganza, Djenar Maesa Ayu, Vety Vera, Mario Maulana



Sinopsis:
Ruli dan Mili adalah kakak beradik yang tinggal di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi orang tua tunggal. Mereka menjalani kehidupan dengan penuh keceriaan.. Ruli yang pandai bernyanyi bekerja sebagai pelayan sebuah warung kopi. Mili yang hobi menggambar selalu mengintil ke mana pun abangnya pergi. Mereka juga tengah bahu-membahu menabung demi mewujudkan impian keluarga, yaitu mempunyai sebuah sepeda motor bekas untuk ayahnya bekerja sebagai pengojek. Setidaknya bila memiliki motor sendiri, maka hasil ngojek ayahnya tidak lagi mesti disetorkan ke Bandar Ojek dan hidup mereka pasti menjadi sedikit lebih baik.. .

Saat impian indah tersebut sudah di depan pelupuk mata, tak disangka ayah Ruli mengalami sebuah musibah yang mengakibatkan uang tabungan mereka terkuras habis dan bahkan masih memikul hutang yang amat besar.

Apa pun yang terjadi sebagai bocah yang ulet dan tabah, Ruli pantang menyerah. Di tengah upaya membantu ayahnya mencari biaya tambahan, ia bertemu Chika, anak perempuan Bu Wita yang menjadi bagian musibah.

Tak disangka pertemuan mereka berkembang menjadi persahabatan sejati dan keterikatan bathin yang dalam hingga mereka menjadi bertrio bersama Mili.

Malangnya persahabatan mereka malah menuai kemurkaan Bu Wita, Ibunda Chika yang menyama-ratakan dengan menganggap semua anak miskin itu jahat. Namun Chika tetap menjalani persahabatan yg manis itu secara diam-diam…

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa “besar” hinggap pada mereka yang membuat kehidupan mereka justeru akan bertabur bintang…… .


Catatan:
Ngeliat posternya yang cukup sederhana namun penuh keceriaan, kesan pertama udah ketauan bahwa film ini ditujukan untuk anak-anak. Itu ngga salah, lagipula sebagian besar karakter utamanya memang anak-anak. Kalo menilik judulnya, ngga usah jauh-jauh menebak bahwa film ini penuh dengan musik alias musikal. Itu juga ngga salah.

Buat yang belom kenal Harry Dagoe Suharyadi, film pertama yang dibesutnya adalah ‘Ariel dan Raja Langit’ yang juga film anak-anak. Setelah membesut 3 film untuk ‘pasar’ orang dewasa, kali ini Harry Dagoe kembali membesut tema seperti film pertamanya.

Dengan mengedepankan aktor cilik yang pernah menjadi tokoh utama dalam film ‘Garuda di Dadaku’, Emir Mahira, Harry Dagoe terasa santai sekali mengarahkan film ini. Mungkin memang ini genre film yang cukup fasih untuk diarahkannya. Dengan cerdiknya dipasang juga gadis cilik menggemaskan, Yasamin Jasem, sebagai sang adik.

Penonton usia anak-anak bisa dibikin betah dengan adegan-adegan dan gambar-gambar ceria yang penuh warna. Banyak sekali adegan nyanyi dan tari di sana sini. Yang menarik, semua adegan nyanyi divisualisasikan dengan latar belakang kesederhanaan. Memang karakter-karakter utamanya bukan dari kalangan kaya raya. Karakter utamanya adalah anak tukang ojek yang duda. Sedangkan karakter sahabat baru mereka adalah dari golongan menengah. Cuma satu saja keluarga golongan kaya, itu pun muncul belakangan membumbui cerita dalam kontes menyanyi.

Adegan nyanyi-nyanyi mungkin terkesan dilebih-lebihkan namun sah-sah saja untuk film musikal anak-anak. Meski begitu, adegan lomba nyanyi bisa tampil begitu penuh warna dan glamour sekalipun divisualkan di sebuah pasar malam ‘kampung’ pinggiran Jakarta! Eh lagu-lagunya dibuat sendiri oleh Harry Dagoe loh!

Kalo mau ngomentarin style musikalnya, menurut gue mungkin film ini lebih cocok disebut sebagai campuran film musikal dengan film yang berlatar belakang cerita tentang musik; sedikit pikiran karakter utama ada yang dinyanyikan tapi juga si karakter utama diceritakan mampu menyanyi dengan baik dan mengikuti kontes menyanyi setingkat kelurahan.

Menurut gue kalo film musikal itu adalah film dengan sebagian besar dialognya dinyanyikan, seperti dalam film ‘Rent’, ‘Moulin Rouge’, ‘Sounds of Music’ dan ‘Petualangan Sherina’. Kalo yang berlatar belakang cerita tentang musik itu seperti ‘La Bamba’, ‘The Blues Brothers’ dan ‘Rock Star’. Tapi gue bisa salah persepsi sih.

Latar belakang keluarga sederhana dalam film ini bisa saja untuk menggugah anak-anak penontonnya untuk tetap bisa ceria dalam keadaan apa pun, tanpa melihat kelimpahan harta dan tingkat status sosial. Dan persahabatan bisa saja dijalin dengan siapa saja dalam ketulusan.

Tapi gue perhatikan malah banyak kritik sosial yang ‘diselipkan’ oleh sutradaranya; dari sisa poster pilkada DKI yang menempel di pintu rumah Rully (Emir Mahira) yang tampak dicorat-coret, lirik lagu yang isinya ngga mau ribut gara-gara uang dan celetukan Mang I’ing yang bilang, “Kalo pinter sih saya udah jadi anggota DPR!”

Visualisasi glamour kontes nyanyi di pasar malam pun bisa jadi kritik terhadap kontes-kontes nyanyi sejenis yang sedang marak di televisi Indonesia. Dalam film ini, pemenang kontes nyanyi itu dinilai dengan fair oleh 3 orang juri yang hadir, sementara juri yang dalam kontes sejenis di televisi hanya ‘bertugas’ sebagai komentator dan pemenangnya ditentukan oleh banyaknya sms yang diperoleh. Serunya lagi, kontes yang dibikin di tengah-tengah pasar malam itu bisa tervisualisasikan sama glamour dan megahnya dengan kontes nyanyi di televisi, sekalipun itu hanya kontes nyanyi setingkat kecamatan! Emang rada aneh sih, kenapa juga kontes nyanyi tingkat kecamatan ngga dibikin di aula/gedung pertemuan kecamatan?! Itulah ‘ajaib’nya Harry Dagoe!

Film ini bisa membuat penonton anak-anak tertawa menikmati keceriaan dan sebagian kekonyolan karakter-karakternya. Dan film ini juga mampu bikin gue tertawa dengan selipan kritik sosialnya.

2 komentar:

Jois Pitaloka mengatakan...

Penasaran juga kepingin nonton, karena bagi gw sampai saat ini untuk film musikal maupun film anak2 (kira2 dalam kurun waktu satu dekade ini) belum ada yang bisa menggungguli atau menyamai 'komplit'-nya Petualangan Sherina

Elessar Kartowidjojo mengatakan...

Sayangnya film semacam ini tidak 'berumur panjang' di bioskop-bioskop Indonesia