tag:

09 Maret 2010

GIE: NASKAH SKENARIO : Demonstran Legendaris Indonesia


Judul:
GiE: Naskah Skenario

Penulis:
Riri Riza

Penerbit:
Jakarta: Nalar
Cetakan Pertama, September 2005
Xiii + 152 hal.; 14 x 21 cm

ISBN:
979-99395-5-0

Catatan:
Awalnya baca buku ini karena mau belajar penulisan skenario. Buku ini udah lama ngga dibaca karena filmnya udah nonton duluan. Beli buku ini karena kepingin koleksi aja. Akhir-akhir ini gue sedang belajar penulisan skenario film. Yah salah satu cara belajarnya gue coba banding-bandingin beberapa skenario film. Dan salah satu buku skenario film yang gue punya ya buku ini.

Awalnya hanya ingin memperhatikan cara-cara dan tata cara penulisan skenario, mulai dari heading, shot, action, character, dialogue, transition. Ngga salah milih buku sih, karena skenario ini ditulis Riri Riza yang udah jaminan mutu deh :D

‘Masalah’nya lama-lama baca skenario ini gue jadi melenceng dari tujuan awalnya. Makin lama gue malah makin asyik ngikutin ceritanya. Padahal gue udah pernah nonton filmnya, bahkan sempet nonton di bioskop dulu itu. Walaupun ngga gue baca sekaligus sampai selesai, tapi skenario ini cukup mudah diikuti. Mungkin juga karena gue pernah nonton filmnya.

Makin dibaca, gue makin kangen dengan filmnya. Makin dibaca gue makin ‘kangen’ dengan sosok Soe Hok Gie sebagai mahasiswa yang cerdas, tangguh namun tajam dalam semua kritikannya kepada penguasa. Gue suka banget visualisasi demonstrasi mahasiswa dalam filmnya, keras tapi cerdas.

Ngga sengaja gue baca skenario ini pas banget dengan kisruh dalam demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini terkait dengan penyelidikan DPR atas kasus bail out Bank Century. Gue jadi bertanya-tanya seandainya Gie masih hidup di jaman sekarang, apa sikap yang beliau ambil atas kisruh kasus itu, apa komentar beliau dengan anarkisme yang sering terjadi dalam demonstrasi-demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini dan apa sikap beliau atas demokrasi yang sedang tumbuh kembali dalam republik ini.

Buku catatan harian beliau dan beberapa buku karyanya sudah gue baca habis. Masih menunggu buku tentang beliau yang terbaru untuk gue baca. Tulisan beliau selalu membimbing gue untuk jadi radikal tanpa harus jadi kurang ajar! Menjadi radikal dengan menggunakan akal sehat, berontak kepada penguasa dengan dasar-dasar yang kuat. Mungkinkah jaman mampu mengikis prinsip ‘lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan’ yang selalu dipegang oleh demonstran kesepian legendaris Indonesia ini?

2 komentar:

Lady Arianne Bernadi mengatakan...

waahhh jadi pengen beli nech. hehehe. thx yaa reviewnyaa. mantab!

sabai95 mengatakan...

wow!! serasa kembali ke tahun 2005 waktu liat frontpagenya ada poster GIE :)
salam kenal...
ditunggu kemeriahannya di bicarafilm.com :)