tag:

02 April 2008

POCONG 2: Era baru film horor Indonesia

ditulis pada tanggal 16 Januari 2007

Judul:
Pocong 2

Sutradara:
Rudi Soedjarwo

Cerita dan Skenario:
Monty Tiwa

Pemeran:
Reva S. Temat, Risty Tagor, Ringgo Agus Rahman, Adi Sasono

Plot:
2 perempuan bersaudara berupaya bangkit kembali secara emosional setelah kematian kedua orang tua mereka. Sang kakak yang asisten dosen filsafat juga sedang menyiapkan pernikahan dengan pacarnya yang setia mengantarnya ke mana saja, termasuk dalam mencari kos-kosan baru.
Si adik, yang mungkin karena masih terguncang, selalu merasa cemburu pada pacar kakaknya. Apalagi karena dia selalu ditinggal sendirian di rumah, sementara kakaknya sibuk di kampus dan pacaran.
Suatu ketika, saat sang kakak dan pacarnya survey kos-kosan baru, si adik harus menunggu lama untuk dijemput. Saat menunggu itulah, muncul gangguan suara dari sumber yang tidak berwujud. Dan ketika mereka mulai pindah ke kos-kosan, yang sebenernya lebih mirip dengan apartemen kelas menengah tapi dengan harga sewa kos dengan kamar mandi rame2, gangguan terhadap sang adik semakin menjadi-jadi. Sebenernya cerita baru dimulai. Gangguan makhluk halus yang sebenernya sebagai awal terkuaknya sebuah misteri yang jauh lebih menyeramkan.

Note:
Sebelum muncul kehebohan larangan beredarnya film Pocong, gue ngga niat nonton film bikinan Rudi Soedjarwo ini. Justru istri gue yang kepingin liat. “Kayak apa sih kalo Rudi Soedjarwo bikin film horor?”, begitu penasaran istri gue. Padahal dia sih penakut.
Nah begitu muncul larangan beredar film Pocong, gue mulai tergerak kepingin tau seperti apa sih horor garapan Rudi. Tapi karena memang dilarang beredar, ya sudah luapakna saja.
Tapi suatu kali lagi iseng2 survey di bioskop, gue dan istri ngeliat poster Pocong 2 di bagian film akan datang. Tagline-nya bombastis: lebih mengerikan daripada “Pocong” yang dilarang beredar! Makin deh gue penasaran.
Sejak itu gue mulai ngikutin perkembangan promo Pocong 2, termasuk kontroversi boneka pocong yang dipasang di persimpangan jalan Panglima Polim.
Begitu mulai tayang di bioskop, gue makin kepingin nonton. Tapi ternyata istri gue nyerah ngga mau nonton. Sifat penakutnya lebih dominan. Apalagi mau nonton gelap2an di bioskop. Padahal gue kepingin banget nonton.
Sabtu kemaren, adik gue nonton duluan bareng temennya. Sabtu malem dan Minggu pagi, mulailah adik gue cerita pengalaman nonton film Pocong 2. Dan seperti biasanya, banyak spoiler. Tapi karena gue masih minat nonton, adik gue jadi nahan. Nggak terlalu banyak spoiler-nya.
Di luar spoiler-nya, adik gue rekomendasi banget supaya nonton film ini. Dia bilang film Jelangkung kalah serem deh sama film ini, jauh!!!
Dan adik gue juga rekomen supaya istri gue jangan nonton, karena pasti gue juga yang bakalan kerepotan dibangunin untuk nemenin kalo dia kepingin pipis malem2 buta.
Akhirnya gue nonton juga deh, bareng ………….. nyokap gue!!!
Nyokap gue antara takut tapi juga penasaran, yah akhirnya nonton juga.
Karena nih film udah lama tayang di bioskop, jadinya yang nonton udah mulai sepi. Di studio 2 yang cukup lega, gue pilih seat di ‘kursi raja’ yang cuma ditemenin 2 orang persis di depan gue dan 2 orang lagi duduk selang 2 seat kosong sebelah kiri nyokap gue.
Setelah nonton sih bener2 seperti baru udahan naik roller coaster, lumayan capek terkaget-kaget dan tercekam suasana dalam film.
Tapi terus terang ini film horor Indonesia yang paling bagus yang pernah gue tonton (yang mau gue tonton?). Menurut gue, touch di film ini adalah gabungan dari Amerika dan Asia. Penuturan dan penyampaian visualnya dengan formula mainstream Amerika, tapi background ceritanya asli Asia, bahkan asli Indonesia! Justru karena background ceritanya asli Indonesia, film ini jadi makin serem karena deket banget dengan ‘realita’ umum di Indonesia.
Scriptwriter dan director udah cukup kompak. Malah gue cukup salut dengan peningkatan yang dicapai Monty Tiwa sebagai scriptwriter. Sebelum film ini, gue ngga pernah suka dengan film2 dengan script yang ditulis Monty. Kayaknya sih sejak FTV Ujang Pantry, Monty Tiwa mulai keliatan kemampuannya yang masih terpendam.
Cerita di film ini cukup solid. Semua yang disampaikan di awal, pasti ada penjelasannya di akhir film. Tapi penjelasannya ngga mesti dalam bentuk verbal dialog. Di situ itu peningkatan dari Monty Tiwa.
Gue ngga mau kebanyakan nulis di sini, takutnya malah ngasi spoiler. Tapi yang pasti film ini wajib ditonton untuk penggemar film horor. Ini film horor yang betul2 horor, bukan film horor yang terjebak jadi thriller action/slasher yang cuma ngandelin violence and gory scene.

No comments: