tag:

01 April 2008

Mei 2007 di Meruya Selatan


Sedikit cerita tentang pengalaman salah seorang warga yang tinggal di tanah yang bersengketa

Persisnya gue tau kasus sengketa tanah Meruya Selatan pada tanggal 30 April 2007. Waktu itu hari Senin pagi pas temen gue di kantor comment soal berita di internet. Dia baca di Kompas Cyber Media yang bilang bahwa sekian puluh ribu warga Meruya Selatan terancam digusur akibat keputusan MA.

Sebelom baca berita itu, gue sempet comment balik ke dia. Gue anggap dia becanda. Tapi setelah gue baca, shock deh!

Di berita itu ngga cuma disampaikan Meruya Selatan bakal tergusur tapi juga lengkap dengan tanggal eksekusinya yaitu 21 Mei 2007. Shocking banget! Nasib tempat tinggal gue yang didiami juga oleh nyokap, adik dan istri gue bakalan ditentukan pada tanggal itu, tergusur ato tidak. Dalam sekian jam kemudian terbayang selalu kenangan dalam rumah itu dan terbayang kemungkinan terburuk dengan segala macam kemungkinan kecil lainnya; bagaimana mencari tempat tinggal yang baru dalam keterbatasan financial sekarang, bagaimana nasib binatang perliharaan nyokap gue dan hal-hal kecil lainnya.

Setelah agak relieve, belajar menerima kenyataan, gue masih juga pusing untuk cari cara bagaimana memberitakan shocking news ini kepada orang-orang di rumah yang semuanya perempuan. Semua mungkin tau kalo perempuan itu lebih emosional. Pusing banget waktu itu, gimana caranya menyampaikan shocking news ini tanpa memancing emosi mereka.

Tanggal 30 April 2007 gue lalui dengan hati galau dan emosional. Secara fisik gue rasakan seluruh badan gue ringan seperti tidak menjejak bumi. Tapi sungguh terasa sekali tidak dalam kondisi yang positif.

Hari berikutnya masih gue lalui dengan perasaan yang tidak keruan. Semangat rasanya terbang dan sepertinya ngga mungkin kembali lagi. Di kantor gue cuma hadir sambil cari-cari berita perkembangan kasus ini, tapi rasanya hati dan pikiran gue seperti terpecah ke seluruh sudut yang ada di semesta ini. Akhirnya gue putuskan untuk mulai kasi tau orang rumah hari itu juga.

Malamnya gue mulai kasi tau berita ini ke adik gue. Gue kenal betul kalo adik gue ini perempuan di rumah yang paling rendah level emosionalnya dibandingkan lainnya. Selain berita ini, gue juga kasi gambaran ato usulan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita lakukan kalo eksekusi itu nantinya tetap terjadi. Gue sekalian minta tolong adik gue supaya menyampaikan berita ini ke nyokap, karena setelah bokap meninggal 2 tahun yang lalu adik gue ini yang paling deket dengan nyokap. Waktu itu nyokap gue sedang ada kegiatan di gereja dekat rumah.

Setelah nyokap pulang, kabar ini segera disampaikan adik gue ke beliau. Ternyata berita ini sudah menjadi bahasan dalm kegiatan beliau di gereja tadi. Sebagian teman-teman beliau di gereja tadi masih menganggap berita ini cuma rumor. Tapi gue sampaikan lagi kalo kasus ini ada di berita, jadi bukan rumor. Istri gue juga gue kasi tau pada pagi berikutnya.

Hari-hari berikutnya menjadi hari-hari yang paling ‘padat’ di Meruya Selatan, khususnya di rumah kami. Semua anggota keluarga sibuk mencari informasi selengkap-lengkapnya terkait kasus ini. Kami juga mencari ‘bantuan’ kepada semua sodara/kenalan yang mungkin bisa membantu. Sampai tercetus pikiran untuk minta bantuan kepada PBHI. Kebetulan kami punya jalur ke situ.

Semua kemungkinan ‘solusi’ gue pikirin; kemungkinan politisasi kasus sengketa tanah ini, kemungkinan meraih simpati dari cagub DKI untuk pilkada yang sudah dekat, bantuan PBHI secara intensif yang nota bene selalu oposisi pemerintah (baca: penguasa) dsb. Termasuk solusi negosiasi dengan pihak yang dimenangkan; mungkin bolehlah kami semacam ‘membeli kembali’ tanah kami dengan harga ‘wajar’ selayak tarif ganti rugi. Kemungkinan solusi yang gue pikirin sih mungkin sudah termasuk dongeng karena menurut gue sendiri hal tersebut sulit sekali menjadi kenyataan.

Ternyata kami tidak sendirian karena warga Meruya Selatan membentuk forum dengan niatan ‘melawan’ keputusan MA. Paling tidak warga Meruya Selatan (FMMS) menggugat sebagai pihak ketiga yang dirugikan akibat persengketaan yang terjadi.

Beberapa hari setelah kabar sengketa ini meruyak kenyamanan warga di Meruya Selatan, nyokap gue mengaku bahwa sempat beberapa malam merasakan tidak nyenyak tidur dan badan lemas tak bersemangat layaknya orang yang akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Hal yang sama juga gue rasakan. Tapi rasa semacam itu menjadi lebih ringan setelah gue mendapat respon yang positif dari orang rumah mengenai kabar sengketa ini. Positif artinya orang rumah tidak terlalu emosional seperti yang gue kuatirkan sebelumnya. Sekalipun sempat tidak nyenyak tidur dan kehilangan semangat, ternyata mereka juga cukup pasrah.

Dalam kepasrahan kami diajarkan untuk tetap berusaha. Bagi kami pasrah tidak sama dengan menyerah. Kami tetap berusaha untuk mencari kebenaran mengenai status kepemilikan tanah kami tetapi memasrahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Seperti ini kami pernah diwasiatkan. Dan ternyata dalam kasus sengketa tanah Meruya Selatan inilah saatnya kami mengimplementasikan ajaran tersebut.

Sebenernya kami hampir saja bertemu dengan pihak PBHI untuk minta advis mengenai kasus ini, tapi kenalan kami di sana masih dalam kesibukan yang amat sangat sehingga sampai sekarang belum sempat menemui kami. Salah seorang sepupu dari bokap gue yang kenal langsung dengan dedengkot di PBHI memang sempat memberi jalan untuk menemui pihak PBHI dan sempat berpesan untuk berhati-hati sekali dalam kasus hukum sengketa tanah semacam ini. Menurut beliau sering terjadi sengketa tanah di banyak tempat di Indonesia ini yang akhirnya mengorbankan rakyat kecil. Dua pihak yang bersengketa malah menyelesaikan kasusnya di luar pengadilan.

Pertemuan dengan PBHI mungkin bisa lain kali. Sementara ini kami masih ikut gugatan yang dilakukan FMMS yang salah satu anggota tim pengacaranya adalah temen gereja nyokap gue. Ada cerita lucu yang gue baru tau setelah kami ikut menguasakan gugatan kami ke FMMS. Ternyata pengacara FMMS awalnya tau kasus eksekusi tanah Meruya malah dari nyokap gue! Kalo ngga salah pada hari kedua nyokap tau kasus ini, beliau telpon temennya yg memang rumahnya ngga jauh dari rumahku dan belom lama tinggal di situ. Dia pun terkejut dan belakangan malah jadi salah satu tokoh penting dalam proses gugatan hukum ini. Dari cerita itu, jangan2 orang Meruya yang pertama kali tau eksekusi tanah Meruya ini ya gue ini!

Dalam kasus eksekusi tanah Meruya ini, beberapa kali tim pengacara kami ikut dalam talkshow di beberapa TV. Talkshow-nya selalu ‘panas’. Dari pengacara kami mempertanyakan ke mana saja PT Portanigra selama ini kalo memang mereka adalah pihak yang dimenangkan MA. Selama ini warga Meruya Selatan bayar PBB atas tanah dan bangunan mereka. Apakah hal sekecil itu bisa dikesampingkan begitu saja? Portanigra pun dianggap tidak mampu menunjukkan batas2 tanah mereka dengan jelas. Mereka dimenangkan MA pada tahun 2000, tapi kenapa baru sekarang mau mengklaim (eksekusi) tanah Meruya Selatan?

Memang kalo diurut-urut, ada kesalahan di pihak Kelurahan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) (baca: Pemda) yang merekomendasikan dan menerbitkan sertifikat tanah di Meruya Selatan dengan ‘mengabaikan’ kasus sengketa yang sedang terjadi. Sempat terceuts oleh pengacara Portanigra mengajak warga Meruya Selatan untuk bersama-sama menggugat Kelurahan dan BPN. Tapi hal ini langsung ditolak tim pengacara kami. Menurut gue, kalo saja mulai tahun 2000 itu Portanigra sudah mulai mensosialisasikan ‘kemenangan’ mereka di Meruya Selatan dan mulai secara persuasi melakukan pendekatan kepada warga, mungkin saja warga Meruya Selatan mau ‘bergabung’ dengan mereka menggugat Kelurahan dan BPN.

Secara umum, kami warga Meruya Selatan tidak tahu menahu adanya kasus sengketa ini. Sekalipun Portanigra dimenangkan MA pada tahun 2000, buktinya proses jual beli tanah, pembangunan rumah, ruko dan real estate dan termasuk penerbitan sertifikat tanah di Meruya Selatan terus berlangsung. Semua statement kemenangan Portanigra seperti dimentahkan oleh perilaku mereka sendiri yang tidak meng-claim dan mengurusi ‘trophy’ yang mereka menangkan sejak tahun 2000.

Alasan mereka menunggu sampai tahun 2007 untuk melakukan eksekusi adalah menunggu sampai kepastian dan penegakan hukum sudah cukup kondusif di Indonesia, khususnya di Jakarta. Alasan ini ngga sepenuhnya masuk akal gue. Tahun 1998 kan sudah reformasi. Dan Portanigra menang tahun 2000. Apakah Portanigra menunggu hasil pilpres tahun 2004? Menurut gue sih Portanigra-nya aja yang ngga mau cari cara sosialisasi kepada warga. Kalo Portanigra bilang menunggu kondisi kepastian dan penegakan hukum yang kondusif, ya akhirnya warga pun merasa kondusif untuk melakukan gugatan perlawanan.

Ada yang bilang, bahwa kenapa Portanigra ‘jadi’ berniat meng-claim kemenangannya karena sejak tahun 2000 itu sampai hari ini Meruya Selatan cukup aman dari dari banjir Jakarta yang katanya punya siklus 5 tahunan itu. Meruya Selatan sudah menjadi lokasi yang cantik dan mahal untuk perumahan. Apalagi dalam planning jalan tol nantinya di belakang kampus Universitas Mercu Buana ada pintu exit Meruya Selatan sebagai bagian dari tol dalam kota yang menghubungkan tol Jakarta – Tangerang dengan tol Bintaro – Serpong. Menurut gue malah ini alasan yang masuk akal! Ekonomi!

Makin dekat tanggal 21 Mei 2007, makin banyak kegiatan di Meruya Selatan. Bang Yos sempat mengumpulkan warga di auditorium Mercu Buana. Bang Yos menyatakan ‘pasang badan’ untuk kasus ini dan mengajukan gugatan ke pengadilan. Nyokap gue hadir di acara ini. Gue sempet kuatir akan ada kericuhan. Tapi ternyata tidak terjadi. Di lain hari anggota komisi di DPR dan DPRD juga sempat ‘mampir’ ke Meruya Selatan.

Situasi semakin memanas menjelang tanggal eksekusi 21 Mei 2007. Sebagian warga mengibarkan bendera merah putih setengah tiang di rumahnya. Di sekitar Meruya Selatan ‘bertebaran’ spanduk kontra eksekusi, termasuk spanduk dukungan dari salah satu ormas betawi yang sebenernya paling gue benci. Meruya Selatan jadi ‘hidup’. Berbagai kalangan mulai melakukan ‘pendekatan’ kepada FMMS, yang menurut gue dengan segala macam interes mereka masing2. Kan gue ngga bisa claim apakah mereka tulus memberikan dukungan atau cuman nampang, atau bahkan lebih parah; cuman cari muka! Tapi ngga apa2 lah, Meruya Selatan menjadi ‘terkenal’. Orang ngga bakalan nanya beberapa kali lagi kalo gue bilang gue tinggal di Meruya Selatan :D

Rencananya warga akan memblokade area Meruya Selatan mulai tangal 20 Mei 2007 malam untuk mengantisipasi eksekusi esok paginya. Istriku ambil cuti untuk tanggal 21 – 22 Mei 2007. Gue ikutan bolos aja lah.

Sejak hari Sabtu 19 Mei 2007, Satpol PP Jakarta Barat dikerahkan di area Meruya Selatan untuk membantu penjagaan kawasan itu dari usaha2 provokasi yang dikhawatirkan terjadi sebelum tanggal eksekusi tanah. Ini hal aneh dan lucu lagi. Biasanya Satpol PP adalah ‘tim’ penggusuran. Sekarang malah jadi pengamanan dari penggusuran.

Tanggal 20 Mei 2007, dengan didampingi Kapolres Jakarta Barat, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat mampir di posko FMMS. Beliaulah yang paling berwenang menanda tangani surat perintah eksekusi. Beliau datang dengan maksud menjenguk dan menenangkan warga, tapi akhirnya malah menanda tangani surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa tanggal 21 Mei 2007 tidak akan ada eksekusi tanah di Meruya Selatan. Saat itu pun terungkap bahwa sebenarnya eksekusi tanggal 21 Mei 2007 adalah baru dalam wacana saja. Entah ini usaha mengelak atau bukan, tapi berita media massa sudah memuat tanggal eksekusi itu sejak tanggal 30 April 2007 yang lalu.

Hari itu blokade masih dalam rencana tapi area di sekitar posko FMMS yang ngga jauh dari rumah gue ditutup. Terpaksa ditutup karena banyak orang ‘penting’ yang datang ke posko FMMS sejak siang hari.

Tapi dengan ditanda tanganinya surat pernyataan tidak akan ada eksekusi tanah, situasi panas di Meruya Selatan mulai mereda. Blokade tidak jadi dilakukan warga. Mobil jemputan kantor gue bisa lewat depan rumah gue seperti hari2 sebelumnya. Tapi gugatan jalan terus.

Tanggal 20 Mei 2007 malam, Boss Cek dan Ricek menggelar temu warga Meruya Selatan dengan tim kuasa hukum untuk menjelaskan langkah2 gugatan. Hadir juga beberapa selebriti termasuk selebriti yang rumahnya juga terancam dieksekusi. Nyokap gue ikutan ke sana dan malah ngobrol dan foto2 dengan beberapa selebritis yang ada. Sebentar diwawancara infotaintment dan terus lanjut foto2. Acaranya jadi selebrasi ringan atas ditundanya eksekusi tanah Meruya Selatan. Dalam acara pertemuan pun jadi banyak seruan dukungan kepada warga Meruya Selatan. Dari acara itu jadi terbuka siapa saja pengacara yang mendukung tim pengacara warga. Semuanya pengacara top, 2 di antaranya pengacara selebritis yang lucunya saat itu mereka ‘berdamai’ setelah sebelumnya ‘berseteru’ dalam sebuah kasus pembunuhan selebritis.

Sekarang kami membiarkan kasus ini bergulir secara hukum. Sudah 2 kali sesi pengadilan dengan kegagalan proses mediasi yang ditawarkan pengadilan. Minggu ini akan digelar pertemuan warga tentang penjelasan proser peradilan gugatan ini oleh tim pengacara. Kemungkinan nyokap bakal hadir di pengadilan untuk pembuktian keabsahan kepemilikian sertifikat tanah rumah kami.

Menurut gue, dalam keluarga kami sudah tidak perlu lagi pusing dalam menghadapi kasus ini. Biar aja pengacaranya yang pusing lah :D Yang jelas kami sudah bisa menerima bahwa di kemudian hari nanti, tanah dan bangunan kami bakal sulit dijual karena mungkin sekali orang2 akan trauma dari kasus sengketa Tanah Meruya Selatan. Kami juga sadar bahwa milik duniawi memang benar2 bukan milik kami selamanya.

Meruya Selatan, 16 Juni 2007

Tidak ada komentar: